Kamis, 30 Mei 2013

TUGAS PERTEMUAN KE III TULISAN 3



TULISAN 3

CINTA & PERKAWINAN

A.    BAGAIMANA MEMILIH PASANGAN
Seluruh umat manusia didunia ini pasti membutuhkan partner ataupun teman dalam hidupnya. Karena, manusia diciptakan dan dikodratkan sebagai makhluk sosial. Makhluk yang tentunya tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Mau dia orang kaya, Yang punya kedudukan tinggi sampe Presiden sekalipun. Tentu mereka perlu seseorang disampingnya setidaknya membantu didalam hidupnya. Salah satu teman hidup selain teman, keluarga atau saudara adalah Istri maupun suami.
Memilih pasangan hidup yang tepat adalah salah satu bagian terpenting dalam hidup dengan banyak aspek dan faktor kriteria pemilihan yang harus dihitung dengan matang. Gadis atau janda , Duda atau Lajang, semua sama saja di mana anda harus melakukan penjajakan yang cukup sebelum melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Bisa dikatakan bahwa pasangan hidup adalah suatu yang penting dalam menentukan masa depan kita. Oleh karena itu bisa dikatakan juga bahwa pemilihannya pun juga sangat penting. Jodoh memang di tangan Tuhan, namun tetaplah menjadi tanggung jawab bagi manusia untuk mencarinya. Jodoh tentu seperti rejeki, tidak akan datang ketika anda tidak mencarinya. Perkawinan adalah proses penyatuan dua hati, tidak hanya secara fisik saja. Hal ini dilakukan untuk mencari dan membentuk keserasian dan keseimbangan dalam membuat hidup menjadi lebih baik dan lebih indah.

Tips Memilih Pasangan Hidup Bagi Yang Serius Ingin Menikah
Tentu semua orang ingin menikah satu kali selama hidupnya, agar keinginan ini terwujud perlulah seseorang itu memilah milih pasangan,agar suatu saat jika ada masalah yang bisa mengakibatkan perceraian atau perpisahan bisa dihindari. Mau lihat tips memilih pasangan hidup? Simak beberapa pemaparan kami :
1. Rajin Beribadah
Ini hal yang penting bagi masa depan keluarga anda. Carilah calon suami maupun istri yang taat beribadah. Mengapa? Karena selain bisa menjaga hubungan yang selalu baik karena cinta dilandaskan kepada tuhan. Anak, akan terbimbing dengan baik. Baik ibu dan bapak sama-sama memiliki peran dalam pengajaran agama yang baik dikeluarga. Agar anak ini akan menjadi generasi yang tentuny bisa membanggakan kedua orang tuanya kelak. Jadi ini salah satu yang harus diperhatikan.
2. Tidak Matrealis
Sebenarnya Matre itu wajar, karena memang hidup dijaman sekarang yang apa-apa susah didapat menjadi kriteria yang penting. Terutama bagi seorang wanita. Mengapa ? bagaimana bisa seorang istri tampil cantik, bila suaminya tidak pernah membelikan istrinya sebuah alat rias. Dan ia pasti akan berfikir untuk masa depan anaknya nanti, jika sang calon suami tidak memiliki penghasilan. Bagaimana ia bisa merawat anak dengan baik. Tapi, tentu saja matre yang kami definisikan tadi adalah yang positif. Bukan Matre yang memfoya-foyakan uang dengan hal tidak berguna. Jika pasangan anda suka memfoya-foyakan uang dan sedikit-sedikit minta uang, anda bisa mundur untuk tidak memilihnya sebagai pasangan hidup.
3.Sehat Jasmani maupun Rohani
Pilihlah yang dari segi fisik dan mental / jasmani dan rohani yang sehat walafiat. Pilih yang sehat, cerah, gesit, kuat, dan tidak mudah sakit. Dari segi kesuburan pun juga penting jika anda ingin punya keturunan. Jika belum yakin maka sebaiknya anda melakukan pemeriksaan kesehatan berdua saat pranikah. Perhatikan pula keluarganya apakah ada yang punya riwayat penyakit yang dapat menurun dan bisa berakibat fatal. Terkadang suatu penyakit dapat diturunkan ke anak dan atau cucu.
4. Saling Jujur / Tidak Suka Bohong, Cinta Dan Setia
Mana ada orang yang suka dibohongi. Pilihlah pasangan yang dapat dipegang kata-katanya dan hanya akan berbohong untuk kepentingan keluarga yang positif. Jika suka bohong anda akan dibuat pusing sama pasangan anda kelak. Pasangan yang setia pada anda akan selalu mencintai anda dan akan selalu berada di samping anda ke mana pun anda pergi dan dalam kondisi apa pun.
Kehidupan rumah tangga yang harmonis tentu menjadi idaman banyak pasangan. Tapi tentu saja tidak ada yang sempurna dalam suatu hubungan. Tingal anda saja memilih sikap. Agar anda tidak memunculkan pertengkaran yang berakhir dengan perceraian
5. Pasangan Yang Selalu Mensuport anda
Cari pasangan yang sealu membantu anda dalam mengukuhkan imej diri anda dan mendukung semangat dan menyakinkan diri anda, sebab. Itulah gunanya pasangan hidup baik itu suami maupun istri. Tanpa adanya saling suport. Hubungan suami dan istri pasti akan renggang dan bisa saja perceraian terjadi. Karena merasa saling tidak cocok.
Demikian Tips dari kami tentang memilih pasangan hidup. Tentu diatas itu yang paling diutamakan adalah rasa saling cinta dan percaya serta restu dari kedua orang Tua. Tanpa itu, tentu hubungan suami dan istri akan mendapat banyak masalah. Pilihlah pasangan sesuai dengan yang anda ingin kan dan saling Cinta. Selamat memilih pasangan hidup.
Sumber:
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri

http://undangankipas.blogdetik.com/2013/01/05/tips-memilih-pasangan-hidup-bagi-yang-serius-ingin-menikah/

B.    SELUK BELUK HUBUNGAN DALAM PERKAWINAN
               
                Persatuan suami istri merupakan senjata ampuh dalam menghadapi segala pengaruh yang menghambat tercapainya kesejahteraan keluarga. Memang diakui bahwa berbagai macam pengaruh luar selalu menimbulkan masalah-masalah pula di dalam keluarga. Sebaliknya, bantuan dari luar pun sering diperlukan untuk mengatasi masalah di dalam keluarga.
                Agaknya sudah bukan hal aneh bahwa seseorang yang berada dalam kesulitan dan menghadapi masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri memerlukan bantuan. Di beberapa negara, orang dapat meminta bantuan melalui telepon. Terlihat iklan-iklan terpancang di tembok jalan-jalan kereta api di bawah tanah, yang di antaranya terbaca: “Bila Anda berbahagia karena sedang mengandung, itu baik. Bila tidak, teleponlah nomor…”.
                Ada pula biro khusus untuk membangunkan orang melalui telepon, yang memang perlu untuk “belajar disiplin waktu”. Hal ini tentu sulit dilaksanakan bila telepon itu belum merupakan alat yang mudah dipakai setiap orang.
                Adanya biro-biro konsultasi dalam bidang masalah keluarga dan pernikahan menunjukkan bahwa memang masalah-masalah tersebut memerulkan bentuan dalam rangka penyelesaian atau mencari jalan keluar, dan tidak bboleh diremehkan.
                Tidak ada pernikahan tanpa masalah, baik kecil maupun besar. Pada setiap pernikahan, walaupun sudah matang dipersiapkan dan cukup mendalam di bidang perkenalan pribad, juga tidak luput dari perselisihan paham atau pertengkara. Karena itu, alasan-alasan untuk mempropagandakan “perkawinan percobaan atau percobaan hidup bersama” untuk mencapaipernikahan yang ideal tentu tidak dapat dibenarkan. Beberapa pendapat mengemukakan semacam masa percobaan pernikahan untuk melihat dan menguji dulu apakah dalam hidup bersama itu mereka dapat mencapai keserasian dalam segala segi hidup mereka, yang juga meliputi aspek seksual, supaya bila tidak ada keserasian mereka dapat dengan mudah mencari partner lain, sampai mendapatkan yang cocok. Ternyata, tujuan yang ingin dicapai melalui “perkawinan percobaan” akhirnya hanya terwujud dalam hubungan seks bebas atau “free-sex”.
                Banyak yang mengikuti angin baru ini, memasuki masa pernikahan percobaan, hanya untuk jangka waktu pendek, kemudian dilanjutkan dengan suatu masa percobaan dengan lain partner dan seterusnya. Hal ini akan terulang berkali-kali tanpa ditemukannya seorang partner yang benar-benar merupakan pasangan hidupnya, karena ternyata tidak akan ada partner yang cocok secara sempurna. Banyak ahli berpendapat bahwa free-sex tidak akan member kesejahteraan, tetapi sebaliknya memberikan penderitaan jiwa. Free-sex dianggap menyalahi kemanusiaan dan mengakibatkan perasaan putus asa karena tidak memenuhi kebutuhan dasar psikis. Mereka tidak akan memperoleh rasa aman dan tertampung maupun terlindung. Mereka hanya mendapat kepuasan seksual sementara yang cepat berlalu dan mulailah kegelisahan-kegelisahan yang akan menimbulkan perasaan jiwa yang tersiksa. Frustasi karena tidak tercapainya kebutuhan akan rasa aman inilah yang menjadi pendorong dari perbuatan-perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ikatan dalam pernikahan sangat perlu untuk menjaga terpenuhinya kebutuhan dasar psikis, supaya kedua individu yang telah disahkan perjanjian mereka beserta anak-anaknya dapat memperoleh perasaan aman dan terlindung.
                Daya upaya apapun yang dijalankan untuk mempersiapkan pernikahan supaya memungkinkan tercapainya pernikahan tanpa permasalahan tidak akan berasil. Bagaimana juga, hidup berkeluarga, hidup bersama maupun hidup sendiri, akan membawa persoalan yang harus dihadapi dan di atasi. Dengan mengakui adanya masalah-masalah dan menyadari adanya tantangan hidup yang harus diatasi, sebenarnya sudah dimulai pengarahan ke penyelesaiannya.
                Telah dikemukakan sebelumnya bahwa dua individu yang memasuki hidup bersama dalam pernikahan dengan membawa pandangan, pendapat, dan kebiasaan sehari-hari. Walaupun mereka sudah saling mengenal sebelumnya, tetapi perbedaan-perbedaan kecil dalam bentuk kebiasaan masing-masing dapat menjadi sumber kekesalan, pertengkaran, dan menimbulkan masalah. Mengingat masalah pertengkaran tidak dapat dihindari maka daya upaya harus ditunjukan untuk mengurangi meruncingnya situasi rumah yang dapat merusak suasana keluarga pada umumnya. Dengan menjaga agar keadaan tidak sampai meruncing maka akan berkurang pula sebab-sebab yang menimbulkan permasalahan.
Dalam memilih pasangan kita wajib mencari yang terbaik untuk menjalaninya.Cara memilih pasangan yang baik antara lain:
·         Saling jujur dan setia
·         Dari segi penampilan
·         Taat beribadah
·         Pandai/pintar
·         Tidak materialistis
·         Tidak mudah emosi
·         Sehat jasmani dan rohani
·         Persetujuan orang tua,keluarga
·         Menerima apa adanya

Inilah puncak dari segalanya, setelah melewati  masa pacaran dengan baik. Dengan saling mengikarkan janji suci untuk sehidup semati baik dalam sehat maupun dalam sakit, dalam keadaan kaya atau miskin dan hanya maut yang bisa memisahkan mereka. Sehingga ikrar suci pernikahan itu, mereka bukan lagi dua tetapi telah menjadi satu. Tahap ini memulainya sebuah babak baru, relasi yang ditandai dengan munculnya komitmen tanpa syarat untuk saling mencintai dan memiliki. Kalau tahap perkenalan merupakan sebuah pintu gerbang menuju ke tingkat pacaran, maka tahap pernikahan merupakan puncak dari tingkat hubungan paling akrab dan mulia yang dilakukan.

Sumber :
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri

C.     Penyesuaian Dan Pertumbuhan Dalam Perkawinan

Daya upaya apapun yang dijalankan untuk mempersiapkan pernikahan supaya memungkinkan tercapainya pernikahan tanpa permasalahan tidak akan berasil. Bagaimana juga, hidup berkeluarga, hidup bersama maupun hidup sendiri, akan membawa persoalan yang harus dihadapi dan di atasi. Dengan mengakui adanya masalah-masalah dan menyadari adanya tantangan hidup yang harus diatasi, sebenarnya sudah dimulai pengarahan ke penyelesaiannya.
        Telah dikemukakan sebelumnya bahwa dua individu yang memasuki hidup bersama dalam pernikahan dengan membawa pandangan, pendapat, dan kebiasaan sehari-hari. Walaupun mereka sudah saling mengenal sebelumnya, tetapi perbedaan-perbedaan kecil dalam bentuk kebiasaan masing-masing dapat menjadi sumber kekesalan, pertengkaran, dan menimbulkan masalah. Mengingat masalah pertengkaran tidak dapat dihindari maka daya upaya harus ditunjukan untuk mengurangi meruncingnya situasi rumah yang dapat merusak suasana keluarga pada umumnya. Dengan menjaga agar keadaan tidak sampai meruncing maka akan berkurang pula sebab-sebab yang menimbulkan permasalahan
Dwan J.Lipthrott,LCSW mengatakan bahwa ada 5 tahap perkembangan dalam kehidupan perkawinan.Bisa jadi antara pasangan suami istri yang satu dengan yang lain,memiliki waktu berbeda saat menghadapi melalui tahapannya.
Tahap 1:              Romantic love
Saat ini adalah saat anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu.
Tahap 2:               Dissapointment of Distress
Di tahap ini pasangan suami istri kerap saling menyalahkan,memiliki rasa marah dan kecewa pda pasangan,berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya.
Tahap 3:              Knowledge and awareness
Bahwa pasangan suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan diri pasangannya
Tahap 4:               Transformation
Suami istri di tahap ini akan mencoba tingkah laku yang berkenan dihati pasangannya.
Tahap5:                                Real love
Anda akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan dan kebersamaan dengan pasangan.

Sumber :
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri


D.    Perceraian Dan Pernikahan Kembali

Apabila segala macam permasalahan dalam pernikahan dikumpulkan, masalah-masalah tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok berikut ini.
a.      Masalah pribadi suami istri yang meliputi masa lampau mereka dan masa depan yang akan dijalani bersama.
                Pada umumnya, baik suami maupun istri telah mengalami suatu masa lampau yang tidak sepenuhnya diketahui oleh partnernya. Tidak semua hal, yang mengingatkan pada masa lampau, yang tidak dialami bersama menyenangkan bagi yang lainnya. Misalnya, teman-teman khusus di masa lampau dapat menjadi sumber permasalahan bila hubungan-hubungan dengan teman-teman khusus tersebut diteruskan tanpa persetujuan, walaupun hubungan itu sudah tidak bersifat khusus lagi. Hobi atau cara rekreasi sebelum menikah yang dilanjutkan tanpa mengikut sertakan pasangan hidup atau tidak meminta persetujuannya.
b.      Masalah pribadi suami istri ang saling memasuki lingkungan keluarga baru: mertua, ipar, kakek, nenek, dan lain-lain.
                Dinegara-negara di mana ikatan keluarga besar masih cukup kuat, maka pengaruh keluarga besar tetap menimbulkan masalah. Biasanya pernikahan antara dua pribadi berarti bertambahnya anggota baru dalam keluarga besar. Seolah-olah bukan saja dua pribadi yang memegang peranan, melainkan seluruh keluarga dari kedua belah pihak turut berperan dengan keinginan masing-masing dan mesti ada campur tangan mereka.
                Perlu diingat bahwa pada ikatan keluarga besar, setiap orangtua masih merasa mempunyai hak atas anaknya yang telah menikah. Anak yang dianggap sebagai bagian dari dirinya harus mengingat jasa-jasa orangtua dalam membesarkannya sampai berhasil mencapai kedudukan tertentu. Di sisi lain, sang mertua mengharapkan menantunya ingat pula akan jasa-jasa mertuanya. Mertua merasa hak-hak atas anaknya direbut oleh menantunya sehingga sering terjadi perebutan “cinta kasih” antara mertua dan menantu. Persaingan ini bisa meruncing sekali sehingga perlu ditentukan dengan jelas kedudukan dan tempat masing-masing.
                Persoalan ini sering berlarut-larut dengan lahirnya anak dan campur tangan kakek-nenek dalam hal pendidikan anak, yang sering terwujud dalam sikap pemanjaan yang berlebihan terhadap cucu. Dalam hal ini harus diusahakan terciptanya keseragaman pendapat antara suami istri terhadap semua anggota keluarga, khususnya yang tinggal serumah.
c.       Masalah yang berhubungan dengan keluarga baru dan rencana-rencananya yang akan dibentuk, meliputi hari depan perkembangan dan pendidikan anak.
                Dengan lahirnya seorang anak tentu masalah akan bertambah pula. Pertama, masalah ekonomi, yang berarti bertambahnya pengeluaran yang harus pula diimbangi dengan pemasukan yang lebih besar, sedangkan sumber nafkah biasanya justru berkurang, karena istri mengurangi waktu bekerjanya demi mengurus anak.
                Keadaan juga mengalami perubahan, karena berubahnya jadwal harian dan perhatian yang tidak lagi sepenuhnya dicurahkan ke hubungan suami istri, melainkan kepada si bayi. Perubahan keadaan ini memerlukan pengertian dari suami istri. Timbul persoalan apakah lebih baik mengambil seorang perawat atau pengasuh untuk pemeliharaan bayi, sebab adanya suatu pribadi dari luar lingkungan keluarga, mungkin akan membawa kesulitan bagi suami istri.
                Anak dalam perkembangannya terus-menerus mengalami perubahan, yang juga menurut penyesuaian terus-menerus dai kedua orangtuanya. Dengan bertambahnya anak berarti bertambah pula pribadi-pribadi yang terus-menerus mengalami perubahan. Perubahan-perubahan pada setiap anak menuntut sikap yang berbeda-beda sesuai dengan pribadi masing-masing.
d.      Akibat Frustasi dan Konflik yang Bertahan
                Frustasi yang tidak mencapai tahap penyelisaian, antara lain yang de=isebabkan konflik yang tidak mengalami menangnya salah satu motif, akan menimbulkan penderitaan. Penderitaan ini akan bersifat ringan bila tidak meliputi motif-motif yang mendalam dan kuat.
                Sebaliknya, pederitaan akan bertambah berat bila frustasi meliputi kebutuhan-kebutuhan dasar yang tidak mungkin dihindari. Penderitaan berat ini dapat memengaruhi keseimbangan psikis. Bahkan tidak jarang pula mengganggu keseimbangan fisik, yang akhirnya tecetus dalam salah satu penyakit psikosomatis.
·                    Acap  kali dijumpai seorang calon yang harus menempuh ujian, tiba-tiba menderita sakit   perut.
·                    Seorang ibu yang sakit kepala karena tidak tahu lagi cara-cara mengatur biaya hidup di dalam kekurangannya.
                Sering pula keadaan menderita yang disebabkan oleh frustasi dan konflik di dalam pribadi itu sendiri mendorongnya untuk mencari cara-cara dalam mempertahankan dirinya. Usaha pertahanan diri ini sering disebut sebagai mekanisme pertahanan. Setiap orang tidak bebas dari salah satu atau beberapa bentuk usaha pertahanan diri ataupun perbuatan-perbuatan kompensasi diri. Akan tetapi, justru tergantung dari seringnya dan derajat penggunaan pertahanan diri inilah yang dapat menentukan orang tersebut masih dapat diterima oleh umum atau harus mengalami perawatan khusus.
Perceraian merupakan terputusnya hubungan antara suami istri  adalah cerai hidup yang disebabkan oleh kegagalan suami atau istri dalam menjalankan obligasi peran masing-masing .Dimana perceraian dipahami sebagai akhir dari ketidakstabilan perkawinan antara suami istri yang selanjutnya hidup secara terpisah dan diakui secara sah berdasarkan hukum yang berlaku.

Sumber :
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri

E.       Single Life

Ø                     Fenomena hidup membujang sepanjang usia bukanlah satu hal yang baru muncul pada zaman pasca moden ini. Umat Islam yang hidup pada abad-abad awal Islam sebenarnya sudahpun menikmati hidup bujang ini. Terdapat beberapa ulama terkenal yang telah menghabiskan usia hidup tanpa berkahwin, sebagai contoh Muhammad b. Jarir al-Tabari (m. 313/925). Beliau sangat terkenal dalam bidang tafsir al-Qur’an, pengarang kitab sejarah yang terkemuka dan pengasas sebuah mazhab fiqh pada zamannya. Demikian juga dengan Mahmud b. ‘Umar al-Zamakhshari (m. 538/1144), seorang ulama dan pengarang kitab tafsir; dan Ahmad b. ‘Abd al-Halim Ibn Taymiyyah (m. 727/1328). Tiga tokoh yang disebutkan ini ialah antara ulama besar dalam bidang tafsir dan perundangan Islam. Ratusan penyelidikan telah dilakukan tentang sejarah dan sumbangan pemikiran mereka dan berjaya pula menghasilkan tesis-tesis sarjana atau doktor falsafah.

Ramai ulama berpandangan bahwa khwin membunuh cita-cita sebagai seorang ilmuan. Umar b. al-Khattab (m. 23/644), misalannya pernah menasihati muridnya supaya belajar bersungguh-sungguh sebelum kahwin. Begitu juga dengan Imam Abu Hanifah (m. 150/767) pernah menasihati Abu Yusuf (m. 182/798) agar jangan berkahwin di usia muda. Setelah berkahwin, masa akan tertumpu kepada keluarga, tidak lagi kepada pelajaran. Ulama yang memilih hidup tanpa kahwin tentu ada sebab-sebabnya sama ada peribadi atau lain-lain. Kebiasaannya para ulama memilih hidup bujang disebabkan tanggungjawab mereka yang besar terhadap umat Islam. Mereka hidup sepenuh masa dengan berbakti kepada ilmu pengetahuan, menjadi ahli ibadat, ulat buku, pengarang buku dan lain-lain. Sebagai bayarannya, mereka rela hidup tanpa kahwin sepanjang usia.

Beberapa  Bentuk Tingkah Laku Pertahanan Diri
1.      Bermimpi. Menurut beberapa ahli, asal mula mimpi bersumber pada suatu persoalan  pribadi. Bila persoalan tersebut belum mencapai penyelesaian, maka dalam mimpilah usaha mencari pemecahan persoalan itu diteruskan. Menurut Freud, seorang ahli psikoanalisis, selain merupakan suatu pengabulan keinginan, mimpi juga merupakan alas pelindung terhadap gangguan-gangguan yang mengganggu kelangsungan tidur. Misalnya, orang yang harus bangun dan bekemas-kemas untuk pergi ke pekarjaannya, akan bermimpi sedang melaksanakan pekerjaan di kantornya. Atau, seorang ibu yang harus menyiapkan makanan untuk sarapan, akan bermimpi sedang menanak nasi.
                Alhasil, dengan mimpi ini mereka tidak akan terbangun dan dapat tidur terns.
2.      Fantasi. Dengan fantasi diartikan suatu perbuatan yang dilakukan dalam khayalan. Bahaya dari cara pertahanan dengan fantasi ini adalah kepuasan yang diperolehnya dengan penyelesaian yang tidak ada. Bila cara ini dipakai seseorang secara berlebihan maka akan mencapai keadaan di mana hidup delam kenyataan tidak memuaskan lagi. Akhirnya, ia akan menarik diri dari arus kehidupan, mengasingkan diri dan hidup dalam alam fantasinya. Akhirnya, mungkin akan tercapai saat dimana usaha untuk mempertahankan hidupnya pun dilalaikannya dan kelangsungan hidupnua akan tergantung pada perawatan orang lain.
3.      Kompensasi. Cara ini sering dipilih untuk mengatasi frustasi yang dialami karena kekurangan pada salah satu aspek dalam diri sendiri. Dengan kompensasi, usaha ditujukan kepada penyaluran motif yang dapat disalurkan bila ada motif-motif yang tidak mungkin tersalurkan. Misalnya, seorang anak mengetahui dirinya tidak mempu mencapai prestasi tinggi di sekolah. Ia akan menunjukan kebiasaannya dalam bidang olahraga. Disini terlihat pula bahwa objek tujuan tadi telah diganti.
4.      Over kompensasi. Kompensasi dilakukan dengan berlebihan sebagai usaha untuk mengatasi perasaan rendah diri dan ancaman akan hilangnya penghargaan dari orang lain terhadap dirinya.
5.      Rasionalisasi. Rasionalisasi ini merupakan cara berpikir yang salah, kepalsuan dalam cara berpikir yang bertujuan untuk mempertahankan harga diri. Misalnya, seorang laki-laki yang mempunyai hubungan dengan seorang perempuandiluar pernikahannya. Ia akan membenarkan perbuatannya dengan mengmukakan alasan bahwa pasa hakikatnya laki-laki bersifat poligami. Sebaliknya, gagasan untuk mengaku secara terus terang kepada istrinya pun akan ditolaknya dengan dalih “istrinya akan lebih bahagia, tanpa mengetahui seluk-beluk hubungan-hubungan suaminya.” Setiap alasan yang dikemukakanmerupakan alasan untuk membenarkan peruatannya dan mempertahankan harga dirinya.
6.      Represi. Usaha untuk melupakan segala hal yang dapat mengingatkan kembali akan kegagalan atau frustasi yang pernah di-alami secara mendalam. Bila pertahanannya cukup kuat maka tidak akan terjadi keguncangan apa pun. Sebaliknya, bila melemah, maka mungkin terjadi luapan emosi atau cara-cara reaksi kembali ke tingkat perkembangan yang sudah dilaluinya. Misalnya, dengan bertingkah laku kekanak-kanakan (regresi).
7.      Subtitusi. Subtitusi aktivitas. Sumblimasi. Subtitusi aktivitas dengan aktivitas yang mempunyai arti sosial.
8.      Displacement. Pengalihan objek aktivitas dengan penyaluran aktivitas ke objek pengganti.
Dengan demikian, jelaslah bahwa perjuangan hidup manusia selalu berintikan pada mempertahakan diri, baik secara fisik maupun psikis.

Sumber :
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri
http://www.psychologymania.com/2013/04/teori-hubungan-interpersonal.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar