Kamis, 30 Mei 2013

TUGAS PERTEMUAN KE III TULISAN KE 2



TULISAN 2
HUBUNGAN INTERPERSONAL
I.                   MODEL-MODEL HUBUNGAN INTERPERSONAL
 Model Peran,Konflik Dan Adequacy Peran Serta Autentisitas Dalam Hubungan Peran
 Peran didasarkan pada preskripsi ( ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai
panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai
dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya. Menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan peranannya.Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara duaorang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi.Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut
                Kesehatan mental merupakan ilmu pengetahuan yang praktis sebagai pengetrapan ilmu jiwa di dalam pergaulan hidup. Pandangan terhadap ilmu kesehatan mental ini agak berbeda-beda dengan lapangan hidup, keahlian dan kepentingan masing-masing.
                Misalnya psychiatrist dalam menangani dan menggunakan ilmu pengetahuan kesehatan mental, menitik beratkan terhadap bahayapada sikap pribadi yang merugikan atau yang kurang wajar. Misalnya, senang melamun, gelisah, mengasingkan diri, takut yang sedang para pendidik/paedagoog lebih menitik beratkan pandangannya terhadap bahaya-bahaya yang melanggar norma-norma sosial, tata tertib, norma susila, dan sejenisnya.
                Demikian pula lapangan-lapangan hidup lainnya. Maka di sini akan disajikan beberapa hubungan itu.
a.      Hubungan Kesehatan Mental dengan Kesehatan Fisik
                Antara mental dan fisik mempunyai hubungan yang sangat erat, tetapi seberapa jauh eratnya dapat diketahui secara past. Contoh: fisik yang sedang menderita sakit, mental dalam menghadapi problema berbedadengan pada waktu fisiknya sehat. Yaitu antara lain mudah tersinggung. Demikian pula fisik yang sedang sakit, tetapi sikap mentalnya selalu optimis penuh harapan sembuh, maka derita sakit akan lebih ringan dan lekas sembuh. Sedangkan bagi mereka yang pesimis lebih sulit/lama disembuhkan. Misalnya takut mati takut penyakitnya menjadi parah. Maka tepatlah kiranya bahwa pasien diberikan penjelasan mengenai penyakitnya serta bahayanya agar yang bersangkutan menyadari dan optimis.
b.      Hubungan Kesehatan Mental dengan Kehidupan Spiritual
                Selain kehidupan materialistis masih ada kehidupan spiritual yaitu kehidupan kerohanian. Kebutuhan manusia selain kebutuhan biologis, sosial juga mempunyai kebutuhan spiritual/kerohanian, yaitu kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Sang Maha Ada, Sang Maha Kuasa.
                Dengan menyerahkan diri kepadanya-Nya dengan kepercayaan bersujud dengan caranya sendiri-sendiri dengan kepercayaan (agama) masing-masing niscaya akan mendapat ketentraman. Segala derita atau kesusahan disertakan kepada-Nya. Bagi yang baru menderita dapat rela menerima kenyataan sebagaimana takdir-Nya dapat memperoleh keseimbangan mental.
c.     Hubungan Kesehatan Mental dengan Pendidikan
                Keluarga merupakan tempat pertama anak mendapatkan pendidikan. Orang rua pada umumnya memberikan pelayanan kepada putri dan putranya sesuai dengan kebutuhan mereka. Ada kalanya orang-orang tua sangat memanjakan, ada pula yang bertindak keras. Namun demikian, bagi mendidik putra-putrinya sesuai dengan perkembangan kemampuan dan kesenangan kepuasan mereka.
                Sekolah merupakan masyaarakat yang lebih besar dari keluarga. Sekolah bukan hanya sekedar memberikan pelajaran, tetapi juga berusaha memberikan pendidikan sesuai dengan perkembangan, berusaha agar anak didik mengembangkan potensinya secara puas dan senang serta mempunyai pribadi yang integral. Memang telah diakui bahwa pendidikan sekolah kelanjutan pendidikan didalam keluarga, dan merupakan community sentered, tetapi kalau pendidikan mau mengerti secara mendalam mengenai masalah anak didik, kedepanmempunyai kecakapan dan teknik dalam melayani anak didik, mempunyai kecakapan dan teknik dalam melayani anak didik, mempunyai pandangan yang luas, melaksanakan prinsip-prinsip yang sesuai dengan ilmu kesehatan mental
d.      Hubungan Kesehatan Mental dengan Kehidupan Berkeluarga
                Kurang adanya saling pengertian dari suami istri sering menimbulkan kegoncangan, ketidakseimbangan keluarga. Kehidupan berkeluarga merupakan pengalaman baru. Apalagi bagi suami istri yang berasal dari keluarga yang berlainanlatar belakangnnya. Tetapi tidak berarti perbedaan pribadi, perbedaan kebiasaan dan sifat-sifat tertentu menyebabkan goncangnya/pecahnya keluarga tetapi kadang-kandang justru perbedaan  atau saling berlawanan malah akhirnya menjadi sejahtera, asal kondisi masing-masing disadari selanjutnya saling menempatkan diri sesuai dengan fungsinya. Masing-masing siap sedia untuk mengadakan penyesuaian (adjustment). Sebagaimana peribahasa Jawa yang mengatakan: tumbu oleh tutup. Bakul yang mendapat tutup. Tumbu dan tutup yang bentuknya berbeda kalau disatukan menjadi serasi dan harmonis.
                Jadi, yang penting bagi anggota keluarga dalam melaksanakan kehidupan berumah tangga menjalaknan perinsip-perinsio kesehatan mental, yaitu saling berusaha dan bersedia berkorban untuk menjaga keutuhan keluarga itu.
e.      Hubungan Kesehatan Mental dengan Perusahaan
                Pera pengusaha sangat penting memperlihatkan kesejahteraan seluruh karyawannya. Kesejahteraan lahir batin akan menjamin keberhasilan, perusahaan, kesejahteraan lahir batin akan menjamin jaminan sosial, jaminan hari tua, tunjangan keluarga, hak cuti, rekreasi, hadiah sikap ramah dan kekeluargaan. Usaha terwujudnya kesejahteraan itu akan mengurangi/menghilangkan kesenangan, kelesuan, dan kepuasan serta rasa tanggung jawab para karyawan. Maka usaha kesehatan mental dalam perusahaan selain kewajiban pokok pimpinan pengusaha juga agar seluruh karyawan mendapat penerangan bahwa perlu menjaga keseimbangan/ketentraman lahir batin masing-masing sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan mental.
f.       Hubungan Kesehatan Mental dengan Lapangan Hukum
                Pada zaman dahulu para pelanggar hukum mendapat hukuman kerena kesalahannya. Dengan hukuman diharapkan agar jera/takut berbuat pelanggaran lagi. Tetapi pandangan sekarang/zaman modern, pelanggaran-pelanggaran hukum dianggap sebagai individu-individu yang sedang terganggu keseimbangannya, maksudnya mereka sedang mengalami kegagalan dalam kegagalan dalam penyesuaian diri terhadap sosial dalam batas-batas hukum baik perdata dan pidana. Itulah sebabnya mereka tidak dilakukan sebagai tahanan/pesakitan melainkan dianggap sebagai manusia yang sedang menderita gangguan sosial yang perlu dibimbing/dididik dan dibantu agar supaya kembali ke dalam kehidupan sosial sesuai dengan hukum yang berlaku. Kecuali itu agar keseimbangan jiwanya kembali, sadar akan perbuatannya serta  tak akan melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum lagi.
g.      Hubungan Kesehatan Mental dengan Kebudayaan
                Manusia dikatakan sebagai makhluk tertinggi, kerena mempunyai budaya. Kebudayaan merupakanhasil buah budi manusiam dapat disaksikan, dirasakan dalam kehidupan. Peninggalan-peninggalan hasil budaya ditemukan berupa tulisan/gambaran dibatu, dinding gua, candi dengan ukiran kisah masa lampau. Tata cara kehidupan dapat dipelajari dan dirasakan menfaatnya. Semua itu merupakan bukti bahwa manusia sejak dulu hingga sekarang menggeluti kancah budaya. Hasil karya seni ternyata meliputi berbagai bidang dengan berbagai variasi, misalnya seni tari, mencakup musik/gamelan , suara disamping seni gerak. Seni dalam karya tulis, termasuk novel, cerpen buku sejarah dan ilmiah yang menpunyai corak sendiri-sendiri. Semua bidang kehidupan mempunyai nilai seninya. Para pencipta budaya khususnya seni sambil mencipta juga menikmati hasilnya. Sedang begi orang-orang yang tak mampu mencipta dapat menikmati dan memanfaatkan dalam kehidupan. Dengan menikmati kehidupan mengalir rasa kagum, bahagia, sehingga mengenyahkan, setidaknya mengurangi rasa sedih dan kecewa.
Sumber:
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri
  Model Pertukaran Sosial Dan Analisis Transaksional
 Salah satu teori sosial yang mempelajari bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain , kemudian seseorang itu menentukan keseimbangan antara pengorbanan dan keuntungan yang didapatkan dari hubungan itu . Setelah seseorang menentukan keseimbangannya , ia akan menentukan jenis hubungan dan kesempatan memperbaiki hubungan / tidak sama sekali. Ketika kita berinteraksi dengan orang lain tanpa terasa ada hubungan resiprok didalamnya. Paling tidak ada 3 hal yang kita pertukarkan :
Ganjaran , Pengorbanan, Keuntungan.
Analisis Transaksional (AT) adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional. AT dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Pendekatan ini menekankan pada aspek perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian ini tujuan dan arah proses terapi dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses terapi ini menekankan pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien. Maka proses terapi mengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dan keputusan baru, guna kemajuan hidupnya sendiri.

2. MEMULAI HUBUNGAN
Pembentukan Kesan Dan Ketertarikan Interpersonal Dalam Memulai Hubungan

Ellen Berscheid (Berscheid, 1985; Berscheid & Peplau 1983; Berscheid & Reis, 1998) menyatakan bahwa apa yang membuat orang-orang dari berbagai usia merasa bahagia, dari daftar jawaban yang ada, yang tertinggi atau mendekati tertinggi adalah membangun dan mengelola persahabatan dan memiliki hubungan yang positif serta hangat. Tiadanya hubungan yang bermakna dengan orang-orang lain membuat individu merasa kesepian, kurang berharga, putus asa, tak berdaya, dan keterasingan. Ahli Psikologi Sosial, Arthur Aron menyatakan bahwa motivasi utama manusia adalah ’ekspresi diri’ (self expression).
Penyebab ketertarikan, dimulai dari awal rasa suka hingga cinta berkembang dalam hubungan yang erat meliputi :
a.       Aspek kedekatan
b.      Kesamaan
c.        Kesukaan timbal balik
d.       Ktertarikan fisik dan kesukaan

3.  Intimasi Dan Hubungan Pribadi
Kebutuhan intimacy merupakan suatu kebutuhan akan hubungan dengan ornglain dan merupakan kebutuhan terdalam pada diri setiap manusia untuk mengetahui seseorang secara lebih dekat, seperti merasa dihargai, diperhatikan, saling bertukar pendapat, keinginan untuk selalu berbagi dan menerima serta perasaan saling memiliki sehingga terjalin keterikatan yang semakin kuat dan erat.
Faktor penyebab intimacy :
a.      Keluasan : seberapa banyak aktifitas yg dilakukan bersama
b.      Keterbukaan : adanya saling keterbukaan diri
c.       Kedalaman : saling berbagi
Proses terbentukan intimacy :
Penerimaan  dir,i  ­  Saling  berinteraksi,  ­  Memberi  respon  atau 
tanggapan – Perhatian, ­ Rasa percaya,  ­ Kasih sayang. ­ Mempunyai 
minat yang sama ­ Berhubungan seksual.

4. Intimasi Dan Pertumbuhan
Keintiman adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan kita. Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita. Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin diterima, dihargai, dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita menginginkan hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita berbeban.
Tempat dimana belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita adalah penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita. Hal ini dapat disebabkan karena :
1. Kita tidak mengenal dan tidak menerima siapa diri kita secara utuh;
2. Kita tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah persiapan memasuki pernikahan;
3. Kita tidak percaya pasangan kita sebagai orang yang dapat dipercaya untuk memegang rahasia;
4. Kita dibentuk menjadi orang yang berkepribadian tertutup;
5. Kita memulai pacaran bukan dengan cinta yang tulus . Dalam hal inilah keutamaan cinta     dibutuhkan.
                                                     
Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar