TULISAN 2
HUBUNGAN INTERPERSONAL
I.
MODEL-MODEL
HUBUNGAN INTERPERSONAL
Model Peran,Konflik
Dan Adequacy Peran Serta Autentisitas Dalam Hubungan Peran
Peran didasarkan pada preskripsi ( ketentuan )
dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan
dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri
atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.
Model peranan menganggap
hubungan interpersonal sebagai
panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya. Menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan peranannya.Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara duaorang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi.Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut
panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya. Menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan peranannya.Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara duaorang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi.Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut
Kesehatan
mental merupakan ilmu pengetahuan yang praktis sebagai pengetrapan ilmu jiwa di
dalam pergaulan hidup. Pandangan terhadap ilmu kesehatan mental ini agak
berbeda-beda dengan lapangan hidup, keahlian dan kepentingan masing-masing.
Misalnya
psychiatrist dalam menangani dan
menggunakan ilmu pengetahuan kesehatan mental, menitik beratkan terhadap
bahayapada sikap pribadi yang merugikan atau yang kurang wajar. Misalnya,
senang melamun, gelisah, mengasingkan diri, takut yang sedang para
pendidik/paedagoog lebih menitik beratkan pandangannya terhadap bahaya-bahaya
yang melanggar norma-norma sosial, tata tertib, norma susila, dan sejenisnya.
Demikian
pula lapangan-lapangan hidup lainnya. Maka di sini akan disajikan beberapa
hubungan itu.
a. Hubungan
Kesehatan Mental dengan Kesehatan Fisik
Antara
mental dan fisik mempunyai hubungan yang sangat erat, tetapi seberapa jauh
eratnya dapat diketahui secara past. Contoh: fisik yang sedang menderita sakit,
mental dalam menghadapi problema berbedadengan pada waktu fisiknya sehat. Yaitu
antara lain mudah tersinggung. Demikian pula fisik yang sedang sakit, tetapi
sikap mentalnya selalu optimis penuh harapan sembuh, maka derita sakit akan
lebih ringan dan lekas sembuh. Sedangkan bagi mereka yang pesimis lebih
sulit/lama disembuhkan. Misalnya takut mati takut penyakitnya menjadi parah.
Maka tepatlah kiranya bahwa pasien diberikan penjelasan mengenai penyakitnya
serta bahayanya agar yang bersangkutan menyadari dan optimis.
b. Hubungan
Kesehatan Mental dengan Kehidupan Spiritual
Selain
kehidupan materialistis masih ada kehidupan spiritual yaitu kehidupan kerohanian.
Kebutuhan manusia selain kebutuhan biologis, sosial juga mempunyai kebutuhan
spiritual/kerohanian, yaitu kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Sang Maha
Ada, Sang Maha Kuasa.
Dengan
menyerahkan diri kepadanya-Nya dengan kepercayaan bersujud dengan caranya
sendiri-sendiri dengan kepercayaan (agama) masing-masing niscaya akan mendapat
ketentraman. Segala derita atau kesusahan disertakan kepada-Nya. Bagi yang baru
menderita dapat rela menerima kenyataan sebagaimana takdir-Nya dapat memperoleh
keseimbangan mental.
c.
Hubungan Kesehatan Mental
dengan Pendidikan
Keluarga
merupakan tempat pertama anak mendapatkan pendidikan. Orang rua pada umumnya
memberikan pelayanan kepada putri dan putranya sesuai dengan kebutuhan mereka.
Ada kalanya orang-orang tua sangat memanjakan, ada pula yang bertindak keras.
Namun demikian, bagi mendidik putra-putrinya sesuai dengan perkembangan
kemampuan dan kesenangan kepuasan mereka.
Sekolah
merupakan masyaarakat yang lebih besar dari keluarga. Sekolah bukan hanya
sekedar memberikan pelajaran, tetapi juga berusaha memberikan pendidikan sesuai
dengan perkembangan, berusaha agar anak didik mengembangkan potensinya secara
puas dan senang serta mempunyai pribadi yang integral. Memang telah diakui
bahwa pendidikan sekolah kelanjutan pendidikan didalam keluarga, dan merupakan community sentered, tetapi kalau
pendidikan mau mengerti secara mendalam mengenai masalah anak didik,
kedepanmempunyai kecakapan dan teknik dalam melayani anak didik, mempunyai kecakapan
dan teknik dalam melayani anak didik, mempunyai pandangan yang luas,
melaksanakan prinsip-prinsip yang sesuai dengan ilmu kesehatan mental
d. Hubungan
Kesehatan Mental dengan Kehidupan Berkeluarga
Kurang
adanya saling pengertian dari suami istri sering menimbulkan kegoncangan,
ketidakseimbangan keluarga. Kehidupan berkeluarga merupakan pengalaman baru.
Apalagi bagi suami istri yang berasal dari keluarga yang berlainanlatar
belakangnnya. Tetapi tidak berarti perbedaan pribadi, perbedaan kebiasaan dan
sifat-sifat tertentu menyebabkan goncangnya/pecahnya keluarga tetapi
kadang-kandang justru perbedaan atau
saling berlawanan malah akhirnya menjadi sejahtera, asal kondisi masing-masing
disadari selanjutnya saling menempatkan diri sesuai dengan fungsinya.
Masing-masing siap sedia untuk mengadakan penyesuaian (adjustment). Sebagaimana
peribahasa Jawa yang mengatakan: tumbu
oleh tutup. Bakul yang mendapat tutup. Tumbu dan tutup yang bentuknya
berbeda kalau disatukan menjadi serasi dan harmonis.
Jadi,
yang penting bagi anggota keluarga dalam melaksanakan kehidupan berumah tangga
menjalaknan perinsip-perinsio kesehatan mental, yaitu saling berusaha dan
bersedia berkorban untuk menjaga keutuhan keluarga itu.
e. Hubungan
Kesehatan Mental dengan Perusahaan
Pera
pengusaha sangat penting memperlihatkan kesejahteraan seluruh karyawannya.
Kesejahteraan lahir batin akan menjamin keberhasilan, perusahaan, kesejahteraan
lahir batin akan menjamin jaminan sosial, jaminan hari tua, tunjangan keluarga,
hak cuti, rekreasi, hadiah sikap ramah dan kekeluargaan. Usaha terwujudnya
kesejahteraan itu akan mengurangi/menghilangkan kesenangan, kelesuan, dan
kepuasan serta rasa tanggung jawab para karyawan. Maka usaha kesehatan mental
dalam perusahaan selain kewajiban pokok pimpinan pengusaha juga agar seluruh
karyawan mendapat penerangan bahwa perlu menjaga keseimbangan/ketentraman lahir
batin masing-masing sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan mental.
f. Hubungan
Kesehatan Mental dengan Lapangan Hukum
Pada
zaman dahulu para pelanggar hukum mendapat hukuman kerena kesalahannya. Dengan hukuman
diharapkan agar jera/takut berbuat pelanggaran lagi. Tetapi pandangan
sekarang/zaman modern, pelanggaran-pelanggaran hukum dianggap sebagai
individu-individu yang sedang terganggu keseimbangannya, maksudnya mereka
sedang mengalami kegagalan dalam kegagalan dalam penyesuaian diri terhadap
sosial dalam batas-batas hukum baik perdata dan pidana. Itulah sebabnya mereka
tidak dilakukan sebagai tahanan/pesakitan melainkan dianggap sebagai manusia
yang sedang menderita gangguan sosial yang perlu dibimbing/dididik dan dibantu
agar supaya kembali ke dalam kehidupan sosial sesuai dengan hukum yang berlaku.
Kecuali itu agar keseimbangan jiwanya kembali, sadar akan perbuatannya
serta tak akan melakukan
pelanggaran-pelanggaran hukum lagi.
g. Hubungan
Kesehatan Mental dengan Kebudayaan
Manusia
dikatakan sebagai makhluk tertinggi, kerena mempunyai budaya. Kebudayaan
merupakanhasil buah budi manusiam dapat disaksikan, dirasakan dalam kehidupan.
Peninggalan-peninggalan hasil budaya ditemukan berupa tulisan/gambaran dibatu,
dinding gua, candi dengan ukiran kisah masa lampau. Tata cara kehidupan dapat
dipelajari dan dirasakan menfaatnya. Semua itu merupakan bukti bahwa manusia
sejak dulu hingga sekarang menggeluti kancah budaya. Hasil karya seni ternyata
meliputi berbagai bidang dengan berbagai variasi, misalnya seni tari, mencakup
musik/gamelan , suara disamping seni gerak. Seni dalam karya tulis, termasuk
novel, cerpen buku sejarah dan ilmiah yang menpunyai corak sendiri-sendiri.
Semua bidang kehidupan mempunyai nilai seninya. Para pencipta budaya khususnya
seni sambil mencipta juga menikmati hasilnya. Sedang begi orang-orang yang tak
mampu mencipta dapat menikmati dan memanfaatkan dalam kehidupan. Dengan
menikmati kehidupan mengalir rasa kagum, bahagia, sehingga mengenyahkan,
setidaknya mengurangi rasa sedih dan kecewa.
Sumber:
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012.
PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri
Model Pertukaran
Sosial Dan Analisis Transaksional
Salah satu teori sosial yang mempelajari bagaimana
seseorang berhubungan dengan orang lain , kemudian seseorang itu menentukan
keseimbangan antara pengorbanan dan keuntungan yang didapatkan dari hubungan
itu . Setelah seseorang menentukan keseimbangannya , ia akan menentukan jenis
hubungan dan kesempatan memperbaiki hubungan / tidak sama sekali. Ketika kita
berinteraksi dengan orang lain tanpa terasa ada hubungan resiprok didalamnya.
Paling tidak ada 3 hal yang kita pertukarkan :
Ganjaran , Pengorbanan, Keuntungan.
Analisis
Transaksional (AT) adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan
pada hubungan interaksional. AT dapat dipergunakan untuk terapi individual,
tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Pendekatan ini menekankan pada aspek
perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian ini tujuan dan arah proses terapi
dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses terapi ini menekankan
pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien. Maka proses terapi
mengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dan keputusan
baru, guna kemajuan hidupnya sendiri.
2. MEMULAI HUBUNGAN
Pembentukan Kesan Dan Ketertarikan Interpersonal Dalam
Memulai Hubungan
Ellen Berscheid
(Berscheid, 1985; Berscheid & Peplau 1983; Berscheid & Reis, 1998)
menyatakan bahwa apa yang membuat orang-orang dari berbagai usia merasa
bahagia, dari daftar jawaban yang ada, yang tertinggi atau mendekati tertinggi
adalah membangun dan mengelola persahabatan dan memiliki hubungan yang positif
serta hangat. Tiadanya hubungan yang bermakna dengan orang-orang lain membuat
individu merasa kesepian, kurang berharga, putus asa, tak berdaya, dan keterasingan.
Ahli Psikologi Sosial, Arthur Aron menyatakan bahwa motivasi utama manusia
adalah ’ekspresi diri’ (self expression).
Penyebab ketertarikan, dimulai dari awal rasa
suka hingga cinta berkembang dalam hubungan yang erat meliputi :
a. Aspek kedekatan
b.
Kesamaan
c.
Kesukaan
timbal balik
d. Ktertarikan fisik dan kesukaan
3. Intimasi Dan Hubungan Pribadi
Kebutuhan intimacy merupakan suatu kebutuhan akan hubungan dengan ornglain dan merupakan kebutuhan terdalam pada diri setiap manusia untuk mengetahui seseorang secara lebih dekat, seperti merasa dihargai, diperhatikan, saling bertukar pendapat, keinginan untuk selalu berbagi dan menerima serta perasaan saling memiliki sehingga terjalin keterikatan yang semakin kuat dan erat.
Faktor penyebab intimacy :
a. Keluasan : seberapa banyak aktifitas yg dilakukan bersama
b.
Keterbukaan : adanya saling keterbukaan diri
c. Kedalaman : saling berbagi
Proses terbentukan
intimacy :
Penerimaan dir,i
Saling berinteraksi, Memberi respon
atau
tanggapan – Perhatian, Rasa percaya,
Kasih sayang. Mempunyai
minat yang sama Berhubungan seksual.
4. Intimasi Dan
Pertumbuhan
Keintiman adalah
kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita
kepada pasangan kita. Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita
sesungguhnya kepada orang lain. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang,
kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada
pasangan kita. Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin
diterima, dihargai, dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita
menginginkan hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita
berbeban.
Tempat dimana belas
kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita adalah penolakan
untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita. Hal ini dapat disebabkan karena :
1. Kita tidak mengenal dan tidak menerima
siapa diri kita secara utuh;
2. Kita tidak menyadari bahwa hubungan pacaran
adalah persiapan memasuki pernikahan;
3. Kita tidak percaya pasangan kita sebagai
orang yang dapat dipercaya untuk memegang rahasia;
4. Kita dibentuk menjadi orang yang
berkepribadian tertutup;
5. Kita memulai pacaran bukan dengan cinta
yang tulus . Dalam hal inilah keutamaan cinta dibutuhkan.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar