Jumat, 29 Maret 2013

Tugas Kesehatan Mental III


I.                 Penyesuaian Diri & Pertumbuhan

Proses Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri yang sempurna sulit diwujudkan karena banyak faktor yang mempengaruhi sehingga seluruh kebutuhan tidak dapat terealisasi. Penyesuaian diri merupakan suatu proses yang terjadi sepanjang kehidupan (life long process). Manusia harus berusaha menemukan dan mengatasi rintangan, tekanan dan tantangan untuk mencapai pribadi yang seimbang. Respon penyesuaian diri selain berupa hal yang baik juga ada yang buruk. Respon baik atau buruk untuk memelihara keseimbangan secara wajar. Individu berusaha menjauhi ketegangan. Penyesuaian diri sebagai suatu proses kea rah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dan eksternal. Contoh bayi membutuhkan asi dan kasih saying. Kerana tak terpenuhi, bayi berusaha mencari pemenuhan kebutuhan yang tidak wajar untuk pengganti respon yaitu menghisap ibu jari.

A.     Penyesuaian Diri yang Positif
  Dalam kehidupan sehari – hari manusia selalu melakukan penyesuaian diri agar tercapai keseimbangan. Berhubung kebutuhan manusia sangat banyak dan terjadi dalam berbagai bidang. Wajarlah bila tidak semua penyesuaian berhasil secara positif. Penyesuaian yang positif :
1.      Tidak adanya  ketegangan emosi, bila individu menghadapi problema, emosinya tetap tenang, tidak panik, sehingga dalam memecahkan problem dengan menggunakan rasio dan emosinya terkendali.
2.  Dalam memecahkan masalah tidak menggunakan mekanisme psikologis baik defence mekanisme maupun escape mekanisme, melainkan berdasarkan pertimbangan rasional, mengarah dari masalah yang dihadapi secara langsung dengan segala akibatnya.
3.   Dalam memecahkan masalah bersikap realistis dan objektif. Bila seseorang menghadapi masalah segera dihadapi secara apa adanya, tidak ditunda – tunda. Adapun yang terjadi dihadapi secara wajar, tidak menjadi frustasi, konflik maupun kecemasan.
4.  Mampu belajar ilmu pengetahuan yang mendukung apa yang dihadapi sehingga dengan pengetahuan itu dapat digunakan menanggulangi timbulnya problema.
5.   Dalam menghadapi problem butuh kesanggupan membandingkan pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain. Pengalaman – pengalaman itu tidak sedikit sumbangannya dalam pemecahan problem.

B.     Penyesuaian Diri yang Negatif
Penyesuaian diri yang negatif adalah penyesuaian yang menyimpang dari realita :
1.      Yang bersangkutan tidak dapat mengendalikan emosinya. Bila menghadapi problem menjadi panik, sehingga tindakannya tidak sesuai dengan kenyataan.
2.      Menggunakan pertahanan diri yang berlebihan, karena berulang kali merupakan kebiasaan yang menyimpang dari kenyataan. Karena yang bersangkutan mengalami kegagalan dalam penyesuaian diri memungkinkan mengalami frustrasi, konflik maupun kecemasan atau kegoncangan lain.


II.                  Pertumbuhan Personal
Manusia  merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak serta merta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang.
Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat atau sosialpun terdapat norma-norma yang harus dipatuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.
Setiap individu memiliki naluri yang secara tidak langsung individu dapat memperhatikan hal-hal yang berada disekitarnya apakah  hal itu benar atau tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam  masyarakat yang memiliki suatu  norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang tidak disiplin yang dalam menerapkan aturan-aturannya maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang tidak disiplin, begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang cuek maka individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang cuek.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan individu:
A.     Faktor genetik
1.      Faktor keturunan — masa konsepsi 
2.      Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan 
3.      Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis  kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen. 
4.      Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
B.     Faktor eksternal / lingkungan
1.      Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.
2.      Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.
Dari semua faktor-faktor  di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.

Victor Frankl dalam buku “Psikologi Pertumbuhan: Kepribadian Sehat untuk Mengembangkan Optimisme” karangan MIF Baihaqi menerangkan Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat.Salah satu konsep utama Frankl adalah hati nurani. Menurutnya, hati nurani adalah semacam spiritualitas alam bawah sadar, yang dikatakan oleh Freud. Hati nurani bukan hanya sekedar salah satu faktor di antara bermacam – macam faktor. Hati nurani adalah inti dari keberadaan manusia da merupakan sumber integritas personal manusia. “ Menjadi manusia adalah manjadi bertanggung jawab. Bertanggung jawab secara eksistensial, bertanggung jawab terhadap keberadaannya sendiri di atas dunia. Hati nurani adalah sesuatu yang sangat intuitif dan bersifat pribadi. Dia kembali pada seseorang yang riil yang berada pada situasi yang riil, dan tidak bisa direduksi menjadi sebatas ‘ hukum universal ‘. Hari nurani haruslah sesuatu yang hidup.
Bagi Frankl, hati nurani bisa bermakna tiga, yaitu:
(a) merupakan pemahaman diri yang bersifat prareflektif dan ontologis,
(b) merupakan kearifan hati,
(c) merupakan sesuatu yang lebih sensitive disbanding kesensitifan rasio.
Hati nurani itulah yang ‘ menghirup udara dan memberi makna pada hidup yang kita jalani.
Seperti halnya Erich Fromm, Frankl juga berpendapat bahwa binatang memiliki insting – insting yang membimbing mereka. Dalam masyarakat tradisional, manusia menukar insting hewani ini dengan tradisi – tradisi sosial. Pada saat sekarang, kita tidak memiliki tradisi itu lagi. Kita hanya berusaha menemukan tuntunan dalam bentuk kompromi – kompromi dan konvensi – konvensi. Tetapi, yang membuat kita kesulitan adalah kenyataan bahwa saat ini kita memiliki kebebasan dan tanggung jawab untuk menemukan sendiri pilihan hidup kita, untuk menemukan sendiri makna hidup kita.
Berbicara ‘ makna ‘, Frankl meyakini bahwa “…makna harus ditemukan, dan bukan diberikan oleh pihak lain “ kata dia, “ makna bagaikan tertawa”. Anda tidak akan bisa memaksa orang tertawa, anda harus memberikan mereka lawakan! Hal yang sama juga berlaku pada keimanan, harapan, dan cinta –semua ini tidak bisa ditawarkan oleh suatu kehendak, baik dari kita sendiri maupun oleh orang lain.
Makna kehidupan seharusnya ditemukan, bukan diciptakan. Makna ini memiliki realitas sendiri, tidak terikat dengan pikiran kita. Makna hidup bagaikan sebuah gambar, yang tampak, yang ada untuk dilihat. Makna hidup bukanlah citraan yang diciptakan imajinasi kita. Kita mungkin tidak akan selalu berhasil menangkap citraan –atau makna- tetapi hal itu tetap ada. Kata Frankl, makna adalah fenomena yang murni bersifat perseptual.
Tradisi natural dan nilai – nilai tradisional yang sebelumnya melekat pada kehidupan masyarakat, ternyata dengan cepat lenyap dari kehidupan manusia saat ini. Walau kenyataan ini sulit dihadapi, tapi itu bukan berarti akhir dari segala – galanya, karena makna tidak terikat dengan nilai – nilai masyarakat. Sebaliknya, setiap masyarakat hanya berusaha menyarikan kebermaknaan hidup ke dalam tata aturan dan norma – norma sosial mereka, sedangkan makna tetap merupakan milik setiap individu.
Oleh karena itu, Frankl menegaskan “ Manusia seharusnya dilengkapi dengan kemampuan mendengar dan mematuhi ribuan perintah dan aturan yang tersembunyi di balik ribuan situasi yang terdapat di dalam hidup yang menghadangnya.” Hal itu adalah tugas kita sebagai fisikawan, terapis, pendidik, untuk membantu orang lain mendewasakan hari nurani dan menemukan serta memenuhi makna kehidupan mereka masing – masing.
     Pendekatan Frankl Terhadap Kepribadian
Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti. Tentu saja ini merupakan kerangka dasar, karena di dalamnya segala sesuatu yang lain juga diatur. Pertama – tama, marilah kita membicarakan nama yang telah diberikan kepada sistemnya, yakni logoterapi ( logotheraphy ), diambil dari kata Yunani logos, yang bisa berarti pelajaran, kata, ruh, Tuhan, atau makna. Frankl lebih memilih ‘ makna ‘ atau ‘ arti ‘ ( meaning).
Pengertian logos sebagai ‘ makna’ inilah yang jadi titik tekan Frankl, walaupun pengertian – pengertian lainnya tidak terlalu berbeda jauh dengan apa yang dia maksudkan. Ketika membandingkan dirinya dengan psikiater – psikiater lain di Wina, seperti Freud dan Adler, dia mendaparkan jawaban sementara, bahwa :
·       Freud mempostulatkan ‘kehendak terhadap kesenangan’ sebagai sumber segala dorongan dalam diri manusia.
·         Adler mempostulatkan ‘kehendak untuk berkuasa’
·       Dia dengan logoterapinya mempostulatkan ‘kehendak untuk makna’ sebagai sumber utama motivasi manusia.
Frankl juga menggunakan kata Yunani lain, noos, yang berarti pikiran atau jiwa. Dalam psikologi tradisional, kita terlalu terfokus pada ‘psikodinamik’, yang mengganggap manusia selalu berusaha mengatasi dan mengurangi ketegangan psikologis mereka. Sedangkan menurut Frankl, kita seharusnya lebih memperhatikan noodinamik, dimana ketegangan manjadi unsur penting bagi keseimbangan dan kesehatan jiwa, setidaknya jika ketegangan tersebut memiliki arti tersendiri bagi seseorang. Bagaimanapun, orang tetap menginginkan adanya ketegangan ketika mereka berusaha mencapai tujuan.
     Kemudian logoterapi berbicara tentang ‘arti dari eksistensi manusia’ dan ‘kebutuhan manusia akan arti’, serta teknik – teknik terapeutis khusus untuk menemukan arti dalam kehidupan. Sebagaimana pembahasan pada bab – bab lain, di sini saya hanya memusatkan perhatian pada teori kepribadian, bukan pada teknik – teknik yang dipakai oleh ahli teori untuk mengubah kepribadian.
Seperti telah diketahui, logoterapi pada awalnya adalah suatu metode psikoterapi untuk menangani orang – orang yang kehidupannya kehilangana arti. Logoterapi lebih merupakan teknik daripada teori. Akan tetapi sesuatu yang tidak berdasakan teori tentang kodrat manusia dan filsafat kehidupan tidak dapat menjadi bentuk psikoterapi. Teori tentang ‘kodrat manusia’ yang berasal dari logoterapi dibangun atas tiga pilar, yaitu : kebebasan kemauan, kemauan akan arti, dan arti kehidupan.
Frankl sangat menantang pendirian – pendirian dalam psikologi dan psikiatri yang memberi ciri kepada kondisi manusia sebagai yang ditentukan oleh instink – instink biologis atau konflk – konflik masa kanak – kanak atau suatu kekuatan lain dari luar. Menurutnya, meskipun kita tunduk kepada kondisi – kondisi dari luar yang mempengaruhi kehidupan kita –seperti yang terjadi pada dirinya di Auschwitz- namun kita bebas memilih reaksi kita terhadap kondisi -  kondisi yang muncul. Kita tidak dapat bertahan terhadap kekuatan – kekuatan dari luar, karena kalau dibiarkan kekuatan – kekuatan tersebut dapat dan benar – benar mengubah keadaan kita. Karenanya, kita bebas mengambil sikap kita sendiri dalam menangani kekuatan – kekuatan itu. Hal demikian memberi kita kebebasan terakhir untuk mengatasi keadaan – keadaan dan nasib.
Pilar – pilar lain –yaitu kemauan akan arti dan arti kehidupan- adalah kebutuhan kita yang terus -  menerus mencari bukan diri kita, melainkan suatu arti untuk memberi suatu maksud bagi eksistensi kita. Semakin kita mampu mengatasi diri kita, misalnya mengarahkan diri kita kepada suatu tujuan; atau semakin kita mampu memberikan sesuatu kepada seseorang ; maka kita semakin menjadi manusia sepenuhnya. Ini menjadi kriteria terkhir untuk perkembangan kepribadian yang sehat, yaitu kita terbenam dalam seseorang atau suatu hal yang melampaui diri kita. Hanya dalam cara ini kita benar – benar manjadi diri kita.
Arti yang dicari oleh seseorang memerlukan tanggung jawab pribadi. Tidak ada orang atau sesuatu yang lain –apakah itu orangtua, partner, atau bangsa- dapat memberi pengertian tentang arti dan maksud dalam kehidupan seseorang. Tanggung jawab kitalah untuk menemukan cara kita sendiri dan tetap bertahan di dalamnya segera setelah ditemukan. Seperti yang dilakukan Frankl sendiri, kita harus manghadapi kondisi – kondisi eksistensi kita secara bertanggung jawab dan bebas menemukan dalam kondisi – kondisi itu suatu tujuan hidup. Kehidupan terus – menerus menantang seseorang dan respons kita tidak dapat dilakukan dengan berbicara atau berkontemplasi, melainkan dengan perbuatan – perbuatan, yang mengungkapkan dengan arti yang kita peroleh dalam kehidupan kita.
Seseorang yang kekurangan arti adalam kehidupannya merupakan suatu bentuk neurosis; dan kondisi ini dinamakan oleh Frankl sebagai no genic neurosis.  Inilah suatu keadaan yang bercirikan: ‘tanpa arti, tanpa maksud, tanpa tujuan, hidup hampa’. Frankl menulis tentang keadaan kawan – kawannya yang ada di dalam tahanan, “ Celakalah dia yang tidak lagi melihat arti dalam kehidupannya, tidak lagi melihat tujuan, tidak lagi melihat maksud, dan karena itu tidak ada sesuatu yang dibawa serta. Dia akan segera kehilangan ‘makna hidup’. Karena tidak merasa adanya kehidupan yang penuh dan gairah, maka orang semacam ini berada dalam ‘ kekosongan eksistensial’ ( existensial vacuum ), suatu kondisi yang menurut kayakinan Frankl adalah lumrah / lazim dalam zaman kita yang modern.
Perhatikanlah kehidupan orang – orang dalam kesehariannya. Banyak di antara meraka menderita kebosanan dan masa bodoh terhadap no genic neurosis sebagai akibat dari dua kondisi.
·         Kondisi pertama :
Ketika manusia berkembang dari pola kehidupan binatang yang lebih rendah, mereka kehilangan insting – insting alamiah yang menghubungkan mereka dengan alam. Karena hal ini telah membebaskan kita dari tekanan – tekanan tertentu, ini berarti bahwa tingkah laku seseorang tidak dibimbing oleh insting – instingnya; kita harus secara aktif memilih apa yang harus kita lakukan.
·         Kondisi kedua :
Pada akhir abad ke-20 kita memiliki beberapa adat kebiasaan, tradisi – tradisi, dan nilai – nilai untuk menentukan tingkah laku kita. Karana kekuatan – kekuatan agama yang teratur dan adat kebiasaan sosial menyusut, maka orang dibiarkan lebih bersandar pada dirinya sendiri. Kita dihadapkan pada membuat keputusan kita sendiri dan bertanggung jawab terhadap keputusan – keputusan tersebut.

Frankl menemukan bukti dari ‘kekosongan eksistensial’ secara besar – besaran dalam banyak kebudayaan, baik bangsa yang berdeologi kapitalis ( semacam Amerika ) maupun berdeologi komunis ( semacam Rusia, sebelum revolusi yang dilakukan oleh Presiden Gorbachev ). Dia percaya bahwa ‘ kekosongan eksistensial’ itu berkembang dengan pesat, khususnya di Negara maju seperti Amerika Serikat. Pemecahan Frenkl terhadap no genic neurosis yang berkembang pesat itu ialah dengan cara : kita masing – masing harus menemukan atau mendapat kembali pengetian yang sangat penting tentang arti dan maksud dalam kehidupan. Kalau tidak, seseorang anak menderita sakit jiwa.
Selanjutnya, logoterapi mengemukakan tiga cara bagaimana seseorang dapat memberi arti bagi kehidupan, yaitu :
(1) dengan memberi kepada dunia lewat suatu ciptaan,
(2) dengan sesuatu yang kita ambil dari dunia dalam pengalaman,
(3) dengan sikap yang kita ambil terhadap penderitaan.

1.      Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat
Hakikat dari eksistensi manusia terdiri dari tiga faktor, yaitu : spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab. Kemudian Frankl merinci tiga faktor eksistensi ini:
1)      Spiritualitas
Spiritualitas adalah suatu konsep yang sulit dirumuskan. Spiritualitas tidak dapat diredukasikan. Bahkan, spiritualitas tidak dapat diterangkan dengan istilah – istilah material. Meskipun spiritualitas dapat dipengaruhi oleh dunia material, namun ia ada tidak disebabkan atau dihasilkan oleh dunia material itu. Mungkin paling baik kita dapat memikirkannya sebagai roh atau jiwa.
2)      Kebebasan
Mengenai faktor kebebasan, kita tidak didikte oleh faktor – faktor nonspiritual, semacam insting, warisan nilai yang khusus, atau kondisi – kondisi dari lingkungan kita. Mengapa? Karena kita memiliki dan harus menggunakan kebebasan kita untuk memilih bagaimana kita akan bertingkah laku jika kita menjadi sehat secara psikologis. Orang – orang yang tidak mengalami kebebasan ini adalah mereka yang kadang – kadang berprasangka karena kepercayaan determinisme atau mereka yang sangat neurotis. Orang – orang neurotis akan menghambat pemenuhan potensi – potensi mereka sendiri, dengan demikian mengganggu perkembangan kemanusiaan mereka yang penuh.
3)      Tanggung Jawab
Seseorang tidak cukup hanya merasa bebas untuk memilih, tetapi harus juga menerima tanggung jawab terhadap pilihannya. Logoterapi memperingatkan kita akan tanggung jawab kita dengan cara ini, “ Hiduplah seolah – olah Anda hidup untuk kedua kalinya; dan bertindak salah untuk pertama kalinya, seolah – olah demikian Anda bertindak sekarang.” Frankl percaya bahwa jika kita berhadapan dengan situasi ini, kita akan tetap menyadari tanggung jawab berat yang kita miliki untuk setiap waktu, baik dalam hitungan jam, hari, ataupun minggu.
Orang – orang yang sehat akan memikul tanggung jawab ini, yang menggunakan waktu keseharian mereka dengan kegiatan – kegiatan manfaat, dengan penuh tanggung jawab, agar karya – karya meraka tetap berkembang, meskipun kodrat kehidupan manusia singkat dan fana.
Menurut Frankl, apabila kita mati sebelum kita selesai memahat bentuk kehidupan kita, apa yang telah kita kerjakan tidak mungkin ditiadakan. Suatu kehidupan yang penuh arti ditentukan oleh kualitasnya, bukan oleh usia yang panjang. Karya kehidupan yang disesuaikan dibandingkan dengan karya kehidupan yang dimulai dan diteruskan pada suatu tingkat yang lebih tinggi adalah kurang penting. Menurut Frankl, kadang  - kadang ‘karya – karya yang tidak selesai’ berada di antara simponi – simponi yang sangat indah.
Untuk mencapai dan menggunakan spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab tergantung pada kita. Tanpa ketiga – tiganya tidak mungkin seseorang menemukan arti dan maksud dalam  kehidupannya. Pilihan – pilihan benar – benar tergantung hanya pada kita saja.

2.      Dorongan Kepribadian yang Sehat
Jika Freud mendasarkan ‘kehendak terhadap kesenangan’ sebagai sumber segala dorongan, Adler mendasarkan ‘kehendak untuk berkuasa’, maka di dalam system Frankl ada satu dorongan yang dianggapnya fundamental, yaitu kemauan akan arti yang begitu kuat sampai mampu mengalahkan semua dorongan lain pada manusia. Kemauan akan arti sangat penting untuk kesehatan untuk kesehatan psikologis dalam situasi – situasi yang gawat ( seperti yang dihadapi Frankl di Auschwitz ), kemauan akan arti hidup perlu disadarkan bagi orang – orang yang menghadapi kegawatan sekedarnya supaya tetap hidup. Tanpa arti untuk kehidupan, tidak ada alasan untuk meneruskan kehidupan.
Arti kehidupan, tentu saja sungguh – sungguh istimewa, khas dan unik bagi setiap individu. Arti kehidupan berbeda dari satu orang yang satu dengan orang lain, dari momen yang satu dengan momen yang lain, dari kebersamaan orang di dalam seting / lingkungan tertentu dan seting lainnya. Tidak ada hal yang sedemikian rupa bahwa kemauan universal akan arti berlaku secara merata bagi semua manusia.
Jika tugas – tugas dari kehidupan seseorang individu adalah riil (nyata), maka demikian juga dengan arti kehidupan. Tugas – tugas yang dikerjakan seseorang –atau yang kita kerjakan untuk diri kita- akan membentuk nasib, dan hal ini tidak dapat dibandingkan dengnan tugas – tugas dari siapa saja yang lain. Situasi – situasi dimana kita menyadari kesanggupan kita atau situasi – situasi dimana kita berusaha memenuhi tugas – tugas kita, tidak pernah terulang berkali – keli. Kita tidak dapat bertemu dua kali situasi yang sama dalam cara yang sama, karena pengaruh dari pengalaman – pengalaman baru yang terjadi dalam periode di antara dua situasi.
Karena tugas – tugas yang dikerjakan seseorang dan nasib – nasib yang menimpa seseorang adalah unik –bagi setiap individu dan pada periode waktu tertentu- maka setiap orang harus menemukan caranya sendiri untuk memberikan respons. Hal ini sama juga jika kita harus menemukan arti kehidupan yang cocok untuk kita masing – masing. Apalagi kita berhadapan dengan sesuatu situasi yang berbeda untuk diberikan bagi kehidupan, seperti yang dilakukan Frankl ketika situasinya berubah –dari situasi seorang dokter ang aman dan terhormat menjadi orang yang ditawan bernomor 119 dan 104, di Auschwitz. Beberapa situasi menghendaki supaya kita secara aktif membentuk nasib kita, situasi – situasi lain menghendaki supaya kita menerimanya. Setiap situasi adalah baru dan membutuhkan suatu respons tertentu.
Meskipun dari pengamatanya terhadap berbagai pengalaman orang ada variasi dalam hal – hal tertentu yang memberi arti bagi kehidupan, namun Frankl tetap mempertahankan bahwa hanya ada satu jawaban terhadap setiap situasi. Masalahnya bagi kita ialah ‘bukanya situasi – situasi itu tidak mempunyai arti’ –karena semua situasi mempunyai arti- tetapi yang menjadi masalah adalah ‘bagaimana menemukan arti tersebut’.
Mencari arti dapat merupakan tugas yang membingunkan dan menantang, prosesnya berupa menambah dan bukan mereduksikan tegangan batin. Sesungguhnya, Frankl melihat peningkatan tegangan ini sebagai prasyarat untuk kesehatan psikologis. Suatu kehidupan tanpa tegangan, suatu kehidupan yang diarahkan kepada stabilitas dan keseimbangan tegangan batin, akan tersiksa dalam  no genic neurosis ; yang maknanya sepadan dengan ‘kehidupan ini kekurangan arti’. Suatu kepribadian yang sehat mengandung tingkat tegangan tertentu antara ‘apa yang telah dicapai atau diselesaikan’ dan ‘apa yang harus dicapai atau diselesaikan’, suatu jurang pemisah antara ‘siapa kita’ dan bagaimana ‘seharusnya kita’.
Bagi Frankl, jurang pemisah ini berarti bahwa orang – orang sehat selalu memperjuangkan tujuan yang memberikan arti bagi kehidupan. Orang – orang ini terus – menerus berhadapan dengan tantangan untuk memperoleh maksud baru yang harus dipenuhi. Perjuangan yang terus  - menerus ini menghasilkan kehidupan yang penuh semangat dan gembira. Kemungkinan lain –orang itu tidak berusaha mencari- menyebabkan suatu kekosongan eksistensi dan menyebabkan seseorang merasa bosan, masa bodoh, dan tanpa tujuan. Kehidupan tidak mempunyai arti; kita tidak mempunyai alasan untuk meneruskan kehidupan.
Frankl telah mengemukakan sebelumnya tiga cara bagaimana kita dapat memberi arti bagi kehidupan yakni:
(1) apa yang kita berikan bagi dunia berkenaan dengan suatu ciptaan,
(2) apa yang kita ambil dari dunia dalam pengalaman, dan
(3) sikap yang kita ambil terhadap penderitaan. Selanjutnya, Frankl membicarakan hal ini dalam topik yang umum, yakni nilai – nilai.
Nilai – nilai , seperti arti kehidupan yang dituju oleh nilai – nilai itu adalah untuk bagi setiap orang dan situasi. Nilai – nilai itu berubah – ubah dan fleksibel, supaya bisa menyesuaikan diri terhadap bermacam – macam situasi dimana kita menyadari kemampuan kita sendiri. Seseorang harus terus – menerus memilih salah satu nilai yang memberi arti bagi kehidupan dalam setiap situasi.
Menurut Frankl ada tiga system nilai yang fundamental yang berhubungan dengan tiga cara memberi arti kepada kehidupan, yaitu:
(1) nilai – nilai daya cipta atau kreatif
(2) nilai – nilai pengalaman
(3) nilai – nilai sikap.
(1)   Nilai – nilai daya cipta
Nilai daya cipta ini diwujudkan dalam aktivitas yang kreatif dan produktif. Biasanya hal ini berkenaan dengan suatu macam pekerjaan dan tuntutan ‘kerja kreatif’ dalam menangani pekerjaan itu. Namun demikian, nilai – nilai daya cipta dapat diungkapkan dalam semua bidang kehidupan. Sebuah arti diberikan kepada kehidupan melalui tindakan yang menciptakan suatu hasil yang kelihatan atau suatu ide yang tidak kelihatan, atau dengan melayani orang – orang lain yang merupakan suatu ungkapan individu.
Untuk memberikan gambaran pada contoh nilai daya cipta, kita bisa melihat bagaimana seniman I Nyoman Nuarte menata galeri Nu Art  di lingkungan Setra Duta Bandung secara harmonis. Dia melakukan penataan keseimbangan lingkungan antara tanah, tetumbuhan rumput, gemericik air, pepohonan pinus, dan lenggak – lenggok sungai, dengan karya – karya patung besi berukuran besar yang tersebar di taman galerinya. Sebuah daya cipta yang indah. Contoh lain adalah galeri seni di Bandung Utara semisal Selasar Sunaryo, yang memadukan kemiringan tebing dengan sebuah panggung berbentuk lingkaran di alam terbuka, musholla mini, café kopi, dan ruang pamer rupa ang sangat indah.
(2)   Nilai – nilai pengalaman
Jika nilai – nilai daya cipta menyangkut pemberian kepada dunia, maka nilai – nilai pengalaman menyangkut penerimaan dari dunia. Penerimaan ini dapat memberi arti sebanyak seperti kreativitas. Nilai – nilai pengalaman diungkapkan dengan menyerahkan diri sendiri kepada keindahan dalam dunia alam atau seni. Ada kemungkinan, seseorang memenuhi arti kehidupan dengan mengalami beberapa segi kehidupan secara intensif, walaupun individu tidak melakukan suatu tindakan yang positif.
Sebagai gambaran pada contoh nilai pengalaman ini, Frankl mencontohkan seorang pecinta musik yang memperhatikan pertunjukan muisk yang dicintainya. Misalkan saja, anda melihat composer Erwin Gautawa mengiringi Pagelaran Chrisye atau Pagelaran Ruth Sahanaya. Pada saat kemudian, Anda sungguh – sungguh hanyut dalam suatu bentuk keindahan tata musik yang memukau. Andai –kata ada seseorang menanyakan kepada Anda, ‘ apakah kehidupan anda mempunyai arti?’, Frankl percaya Anda akan menjawab,  bahwa “ hidup itu bermanfaat jika hanya mengalami momen estetis seperti ini. Karena meskipun hanya satu momen yang dibicarakan, namun kebesaran kehidupan itu diukur oleh kebesaran momen itu.”
Dengen contoh tersebut, Frankl ingin mengemukakan segi lain untuk arti kehidupan, yakni arti dapat ada pada saat – saat tertentu saja. Dengan kata lain, kita tidak dapat selalu menemukan arti dalam semua momen kehidupan. Akan tetapi, fakta bahwa arti dapat terjadi hanya secara sporadis, tidak mengurangi seluruh arti kehidupan. Frankl mengungkapkannya dengan sebuah kiasan, “ sama seperti tingginya suatu deretan pegunungan tidak dilukiskan dengan permukaan lembah – lembah, melainkan oleh puncak yang tinggi. Demikian juga kita melukiskan kepenuhan arti dari suatu kehidupan oleh puncaknya, bukan oleh lembah – lembahnya. Suatu momen puncak dari nilai pengalaman dapat mengisi seluruh kehidupan seseorang dengan arti.
Faktor yang menentukan rupanya bukan berapa banyak puncak yang kita capai atau berapa lama kita tinggal di tingkat tersebut, melainkan intensitas yang kita alami terhadap hal – hal yang kita miliki.
(3)   Nilai – nilai sikap
Untuk memberikan gambaran mengenai nilai – nilai sikap, Frankl percaya bahwa nasib kita yang objektif tidaklah menyenangkan secara terus – menerus, juga tidaklah mengecewakan secara terus – menerus, juga tidaklah mengcewakan secara terus – menerus; tetapi berganti – ganti. Situasi – situasi yang sangat buruk, yang menimbulkan keputusasaan dan tampaknya tidak ada harapan, dilihat Frankl sebagai situasi – situasi yang memberikan kita kesempatan yang sangat besar untuk menemukan arti. Situasi – situasi semacam itu sangat menuntut kita supaya arti dapat ditemukan.
Memang , nilai – nilai daya cipta dan nilai – nilai pengalaman sepertinya berbicara tentang beragam pengalaman menusia yang kaya, penuh inisiatif, positif, suatu kepenuhan hidup dengan menciptakan atau mengalami. Tetapi kehidupan tidak hanya mempertinggi derajat dan memperkaya pengalaman. Ada kenyataan lain, ada sisi lain, yaitu kekuatan – kekuatan dan peristiwa – peristiwa yang memaksa kehidupan kita : misalnya sakit, kecelakaan, bencana, kematian, atau semacam situasi yang dialimi Frankl di kamp Auschwitz. Bagaimana kita dapat menemukan arti dalam kondisi – kondisi negatif semacam itu, apabila tidak ada keindahan yang dialami atau tidak ada kesempatan untuk mengungkapkan daya cipta. Nah, disinilah kelompok nilai yang ketiga –yaitu nilai – nilai sikap- mulai berperan.
Frankl percaya, bahwa situasi – situasi yang menimbulkan nilai – nilai sikap ialah situasi – situasi di mana kita tak mampu untuk mengubahnya atau menghindarinya –karena kondisi – kondisi nasib yang tidak dapat diubah. Apabila kita berhadapan dengan situasi tersebut, satu – satunya cara yang rasional untuk memberikan respons kepadanya adalah menerimanya. Cara bagimana kita menarima nasib kita, keberanian kita dalam menahan penderitaan, keagungan yang kita perlihatkan ketika berhadapan dengan bencana; merupakan ujian dan ukuran yang terakhir dari pemenuhan kita sebagai manusia.
Dapatlah ditegaskan disini, dengan memasukkan nilai – nilai sikap sebagai cara memberi arti bagi kehidupan, sesungguhnya Frankl ingin memberi kita harapan bahwa kehidupan manusia meskipun dalam keadaan – keadaan gawat, masih dapat bercirikan arti dan maksud. Kehidupan seseorang dapat mengadung arti sampai momen kehidupan yang terakhir. Sejauh kita sadar, kita diwajibkan untuk menyadari nilai – nilai. Itulah tanggung jawab manusia yang tidak dapat dielkkan jika dia ingin memelihara kesehatan psikologis.

Sumber:

MIF Baihaqi. 2008. PSIKOLOGI PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme. Bandung: PT Remaja RosdaKarya

http://smileandsprit.blogspot.com/2011/03/penyesuaian-diri-pertumbuhan-personal.html

Tugas Kesehatan Mental I




I.          Memahami Konsep Sehat
Sebagai makhluk hidup manusia memiliki kesamaan dengan makhluk hidup lainnya, yakni lahir, tumbuh, berkembang, mengalami dinamika stabil – labil, sehat – sakit, normal – abnormal dan berkhir dengan kematian. Berbeda dengan hewan, manusia adalah makhluk yang bisa menjadi subjek dan objek sekalligus, oleh karena itu manusia selalu tertarik untuk membicarakan, menganalisa dan melakukan hal – hal yang diperlukan  diri sendiri. Sebagian besar ilmu pengetahuan dan teknologi yang disusun dan dibangun oleh manusia adalah untuk kepentingan diri manusia itu sendiri, menyangkut kesehatannya, kenyamanannya, kesejahteraannya dan semua hal yang dipandang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Meski demikian, banyak hal yang dilakukan oleh manusia menjadi semakin tidak sehat dan tidak nyaman dalam hidupnya.
Sehari – hari kita menggunakan istilah sehat wal afiat untuk menyebut kondisi kesehatan yang prima, tetapi jika kita merujuk kepada asal istilah itu yakni “ as shihhah waal ‘afiyah “ di situ ada dua dimensi pengertian. Kata ‘sehat’ merujuk pada fungsi, sedangkan kata ‘afiat’ merujuk kepada kesesuaian dengan maksud penciptaan. Mata yang sehat adalah mata yang dapat digunakan untuk melihat tanpa alat bantu, sedangkan mata yang afiat adalah mata yang tidak bisa digunakan untuk melihat sesuatu yang dilarang melihatnya, misalnya ngintip orang mandi, karena maksud Tuhan menciptakan mata adalah sebagai petunjuk pada kebenaran, membedakannya dari yang salah. Tangan yang sehat adalah tangan yang mudah digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang halal, sedangkan tangan yang afiat adalah tangan yang tidak bisa digunakan untuk mengerjakan melakukan sesuatu yang diharamkan, karena maksud diciptakan tangan oleh Tuhan adalah untuk berbuat baik dan mencegah kejahatan (Zulkifli Yunus, 1994: 57)
Kita bukan hanya mengenal kesehatan tubuh, tetapi juga ada kesehatan mental dan bahkan kesehatan masyarakat. Jika kita menengok bangsa kita sekarang, nampaknya bangsa ini memang sedang tidak sehat dan juga tidak afiat. Akibatnya banyak hal menjadi tidak berfungsi. Jika kita sakit gigi, maka kita pergi dokter gigi, jika sakit perut kita pergi ke dokter penyakit dalam. Nah problemnya ada orang yang secara fisik ia sehat tetapi ia mengalami gangguan sehingga fisiknya pun kurang berfungsi. Secara medik ia sehat, tetapi ia merasa tidak sehat sehingga ia tidak bisa berfikir, tidak bisa konsentrasi, tidak bisa tidur. Ada orang penyandang cacat tetapi pikirannya jenih, gagasannya cemerlang dan ia ceria manjalani hidupnya, sementara ada orang yang secara fisik sehat dan memiliki semua kebutuhan fasilitas tetapi justru pikirannya kacau, tindakannya juga kacau, dan ia tidak bisa menikmati hidup ini.
Sering kita mendengar ungkapan bahwa orang itu yang penting hatinya, yang penting jiwanya. Dalam perspektif ini, hakikat manusia adalah jiwanya. Orang gila secara fisiknya adalah manusia, tetapi ia sudah tidak diperhitungkan karena jiwanya sakit ( tidak berfungsi ). Di maki – maki orang gila, orang tidak tersinggung, karena jika tersinggung apalagi membalas maka itu menunjukkan serumpun. Orang gila tidak menyadari sakitnya, tetapi orang yang mengalami gangguan kejiwaan, ia menyadari jiwanya sedang terganggu. Orang gila tak bisa berpikir mengenai dirinya, sedangkan orang yang terganggu kejiwaannya justru selalu berpikir dan bertanya, mengapa aku begini. Dari ini, maka kita mengenal ada rumah sakit umum, rumah sakit jiwa dan lembaga pembimbing mental atau konseling ( El Qudsy 1989: 45).
Sumber:         
Kholil Lur Rochman, S.Ag, M.S.I. 2010. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Fajar Media Press

II.        SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
            Dalam sejarah kehidupan manusia telah dipaparkan tentang kehidupan manusia itu dalam berhubungan dengan dunia sekitarnya. Sebenarnya tersirat pula pembicaraan tentang usaha itu dalam mempertahankan keharmonisannya dalam kehidupan ini. Jadi, sebenarnya sejak dulu kala usaha untuk mewujudkan keharmonisan/keseimbangan kehidupan ini telah ada, hanya bentuknya belum sistematis dan masih sederhana. Mental hygiene disebut juga ilmu kesehatan mental merupakan ilmu pengtahuan yang masih muda. Dulu orang berpendapat gangguan keseimbangan/keharmonisan mental itu disebabkan oleh gangguan roh – roh jahat. Maka usaha penyembuhan terhadap penderita itu dengan jalan mengusir roh – roh jahat tersebut. Caranya dengan memukuli penderita agar supaya roh – roh jahat itu pergi, dengan demikian ia akan sehat kembali. Kemudian timbul usaha kemanusiaan untuk mestudentsite gunadarmangadakan perbaikan/tindakan dalam penyembahan dan pemeliharaan baik penderita gangguan mental maupun terhadap penderita penyakit mental itu. Dorothe Dix (Amerika) seorang wanita sebagai tokoh abad 19 usahanya ialah mengadakan perbaikan kondisi rumah sakit jiwa di Amerika maupun di Eropa. Banyak usahanya yang dijadikan dasar – dasar aktivitas dalam Mental Hygiene, Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Ia penah menderita sakit mental selama 2 tahun dan dirawat di rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri siksaan dan perlakuan yang keras terhadap penderita itu berdasarkan pengalamannya yaitu cara penyembuhan atau pengobatan terhadap penderita, iapun lalu menulis buku yang berjudul: “A mind that found it self”. Beers mengecam terhadap tindakan yang kurang berperikemanusiaan serta menyarankan program – program perbaikan definitive dalam cara – cara penyembuhan serta pemeliharaan terhadap penderita. Ia yakin bahwa penyakit dan gangguan mental dapat disembukan. Maka ia menyusun program nasional sebagai berikut :
1.      Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan terhadap penderita mental,
2.      Kampanye memberikan informasi agar orang – orang bersikap intelligent dan human terhadap penderita.
3.      Memperbanyak research dan menyelidiki sebab – sebab timbulnya penyakit mental beserta terapinya.
4.      Memperbesar usaha educative dan memberi penerangan untuk mencegah timbulnya gangguan maupun penyakit mental.
Adolf Meyer (psychiater) berdasarkan saran Beers, membantu perkembangan gerakan usaha kesehatan mental. Dialah yang mengmukakan istilah “Mental Hygiene”. Di Amerika pada tahun 1908 terbentuk suatu organisasi “ Connectitude Society for Mental Hygiene “. Pada tahun 1909 berdirilah “ The National Committee for Mental Hygiene”. Di Inggris pada tahun 1842 berdirilah organisasi “ The Society for Improving the Condition of the Insane”. Pada tahun 1880 berdirilah pula “The National Association for the Protection of Insane and The Prevention of Insanity”. Akibat perang dunia I dan II banyak terdapat penderita “war neurosis” di kalangan anggota militer, sehingga gerakan Mental Hygiene makin besar usahanya mencari metode yang efisien utnuk mencegah gangguan mental serta mengadakan pembaharuan dalam metode – metode penyembuhan. Maka gerakan mental hygiene itu nampak maju dengan pesat. Mula – mula untuk usaha itu merupakan dorongan untuk menolong penderita mental tapi kemudian meluas memberikan pertolongan kepada siapa saja yang memerlukan pertolongan.
Usaha tersebut meliputi seluruh pribadi seseorang sehingga dasar mempelajari membutuhkan bantuan pengetahuan – pengetahuan lain , antara lain : psychology umum, psychology khusus, sosiologi, psikologi, ilmu kesehatan, teori – teori kepribadian, psychology abnormal, psikologi penyesuaian, beserta metode – metode penyelidikan dan sebagainya. Pada tahun 1909, gerakan penyuluhan dan bimbingan yang dipelopori oleh Frank Parsons. Usahanya ditujukan untuk menolong mengembalikan orang – orang yang terlantar dan kehilangan perkerjaan akibat peperangan, selain itu juga kehilangan kepercayaan pada diri sendiri sehingga mereka tidak dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat yang normal. Perhatian persons terutama ditunjukan terhadap anak – anak yang tidak mempunyai pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Usaha itu disebut : Bimbingan Jabatan (Vocation Guidance) dan akhirnya meluas ke dalam berbagai bidang.
Dr. William Healy (Dokter dari Institute anak – anak Psychopath diChicago). Berusaha agar supaya anak – anak jangan sampai mengalami kesukaran di dalam perkembangan. Menurut dia banyaknya gangguan keseimbangan mental berpangkal kehidupan masa kanak – kanak yang tidak memuaskan atau kurangnya perhatian orang tuanya. Dr. Healy mengusahakan  menolong anak – anak untuk mengatasi problem – problemnya. Menyadarkan orang – orang tua dan calon – calon orang tua bagaimanakah sikap dan cara – cara menghadapi anak – anak sebaik – baiknya (segi preventive). Kemudian usaha Mental Hygiene ini memberi penyuluhan dan bimbingan di lapangan pendidikan di sekolah. Ternyata bahwa kegagalan pendidikan merupakan gangguan perkembangan, berarti gangguan keseimbangan. Drop-out dapat menyebabkan anak manjadi nakal, sebab tidak mendapatkan pemecahan yang tepat. Selanjutnya, usaha ini meluas di bidang – bidang lain. Antara lain bidang industry, pengadilan perdagangan, keagamaan, militer, pemerintah dan sebagainya.
Usaha – usaha tersebut di atas dengan jalan memperhatikan kesejahteraan para anggota atau warganya hingga menimbulkan suasana kerjasama yang baik dan kehidupan bersama yang menyenangkan. Setidak – tidaknya memudahkan pemecahan problem dalam interaksi bersama. Pada tahun 1930 Mental Hygiene mengadakan kongres pertama di Washington D.C tahun 1946 Presiden Amerika Serikat menandatangani undang – undang : “The National Mental Health Act” untuk memajukan kesejahteraan mental rakyat Amerika. Disediakan budget untuk mendirikan “National Institute of Mental Health”. Organisasi – organisasi internasional yang ikut menyelenggarakan program mental hygine antara lain :
  1. W.H.O (World Health Organization) organisasi ini memberi informasi dan penyuluhan – penyuluhan mengenai kesehatan mental kepada segenap anggota UNO (PBB). Mengadakan pengawasan terhadap alkoholisme, pencegahan criminal dan delinquency.
  2. UNESCO (the United Nation Educational Scientific and Cultural Organization). Merupakan biro ada UNO (PBB) untuk menstimulir penukaran masalah informasi kebudayaan antar bangsa. Di dalamnya terdapat satu department yang mengurusi masalah sosial yang mempelajari sebab perang, serta prektik – prektik perwujudan kesehatan mental.
  3. WFMH (World Federation for Mental Health). Didirikan pada tahun 1948. Antara the international committee for mental hygiene dengan the british association for mental health, merupakan kelompok non Govermental Health Agencies membantu kesehatan di dunia.
Di Indonesia masalah mental hygiene ini menjadi salah satu proyek bagi department kesehatan, bekerjasama dengan instansi lain negeri maupun swasta. Misalnya BKKBN, rumah sakit,LSM, dan lain – lainnya.

 Sumber:        
Siti Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta

III.       Pendekatan Kesehatan Mental

  1. Orientasi Klasik
Orientasi klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental.

  1. Orientasi Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri alih  bahasa dari adjustment, yang dilakukan menusia sepanjang hayat. Karena pada dasarnya manusia ingin mempertahankan eksistensinya. Sejak lahir berusaha memenuhi kebutuhannya yaitu kebutuhan fisik, psikis, dan sosial.  Pemenuhan kebutuhan itu kerena adanya dorongan – dorongan yang mengharapkan pemuasan. Bila pemuasan tercapai individu tersebut memperoleh keseimbangan. Sejak kecil individu belajar bertingkah laku, tingkah laku yang berhasil dalam memenuhi kebutuhannya seperti dapat menyesuaikan diri dan mengalami keseimbangan. Sebagaimana dikemukakan Lazarus (1961), adjustment insolves a reaction of the person to demand imposed upon him. Maka, penyesuaian diri termasuk reaksi seseorang karena adanya tuntutan yang dibebankan pada dirinya. Demikian pulan pendapat Thorndike dan Hogen yang disitir oleh Mustafa Fahmi (1977) sebagai berikut : penyesuaian diri merupakan kemampuan individu untuk mrmdapatkan ketenteraman secara internal dan hubunganna dengan dunia sekitarnya. Uraian tersebut, bila tak ada reaksi terasa ada beban dan tidak mendapat ketenteraman batin. Maka, dapat disimpulkan: penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk bereaksi tuntutan dalam memenuhi dorongan / kebutuhan dan mencapai  ketenteraman batin dalam hubungannya dengan sekitar.
            Penyesuaian diri yang berhasil menurut Winarna Surachmad (dalam siti sundari,1986):
1.      Bilamana dengan sempurna memenuhi kebutuhan, tanpa melebihi yang satu dan mengurangi yang lain.
2.       Bilamana tidak menggangu manusia lain dalam mamenuhi kebutuhan yang sejenisnya.
3.     Bilamana bertanggung jawab terhadap masyarakat dimana ia berada (saling menolong secara positif).
            Penyesuaian diri sebagai usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada dirinya dan 
            lingkungannya.      Memenuhi kebutuhan yang orang lain yang memerlukan.
              Macam – macam penyesuaian diri:
1.      Penyesuaian terhadap keluarga/ family adjustment
Keluarga merupakan masyarakat terkecil. Keharmonisan keluarga terwujud bila seluruh anggota keluarga mempunyai kesadaran atau kesanggupan memenuhi fungsinya. Tiap anggota keluarga berusaha mengadakan penyesuaian diri dalam keluarganya antara lain:
a.       Mempunyai relasi yang sehat dengan segenap anggota keluarga
b.    Mempunyai solidaritas dan loyalitas keluarga serta membantu usaha keluarga dalam mencapai tujuan tertentu
c.  Mempunyai kesadaran adanya emansipasi yang gradual serta kemerdekaan dalam taraf kedewasaan
d.      Mempunyai kesadaran adanya ororitas orang tua.
e.  Mempunyai kesadaran bertanggung jawab menjalankan aturan – aturan larangan secara disiplin.
2.      Penyesuaian diri terhadap sosial / Sosial adjustment
Sosial atau masyarakat merupakan sekumpulan individu, keluarga , organisasi dan lain – lain. Agar dalam masyarakat harus ada kesadaran bermasyarakat. Penyesuaian terhadap masyarakat:
a.       Ada kesanggupan mengadakan relasi yang sehat terhadap masyarakat
b.      Ada kesanggupan beraksi secara efektif dan harmonis terhadap kenyataan sosial
c.       Kesanggupan menghargai dan menjalankan hukum tertulis maupun tidak tertulis
d.      Kesanggupan menghargai orang lain mengenai hak – haknya dan pribadinya
e.       Kesanggupan untuk bergaul dengan orang lain dalam bentuk persahabatan
f.     Adanya simpati terhadap kesejahteraanp orang lain. Berupa: memberi  pertolongan anda yang lain, bersikap jujur. Cinta kebenaran, rendah hati dan sejenisnya.

3.      Penyesuaian diri terhadap sekolah / school adjustment
Sekolah merupakan wadah bagi peserta didik dalam mengembangkan potensinya, terutama perkembangan intelegensi maupun pribadinya. Maka, sekolah harus menumbuhkan penyesuaian diri yang baik, bersifat konstuktf, sehingga terwudud.
a.       Disiplin dalam disekolah terhadap peraturan – peraturan yang ada
b.      Pengakuan otoritas guru atau pendidik
c.       Internes terhadap mate pelajaran
d.      Situasi dan fasilitas yang cukup,sehingga tujuan sekolah dapat tercapai.

4.      Penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi / college adjustment
Perguruan tinggi merupakan tempat pendidikan tertinggi, untuk mencapai gelar, tempat yang menyenangkan penuh kenangan. Namun bagi sementara mahasiswa merupakan tempat yang diliputi keraguan, kecemasan bahkan kegagalan. Penyesuaian diri di perguruan tinggi hampir sama di sekolah, tetapi harus ditambah dengan :   
a.     Pengembangan kepribadian yang seimbang yaitu dapat memenuhi tuntutan ilmiah,  jasmani dan rohani yang sehat serta memenuhi tanggung jawab sosial yang masak
b.      Dapat belajar menyesuaikan diri di tempat kelak bekerja
c.       Siap menghadapi persaingan, ulet dalam menghadapi segala persoalan.

5.      Penyesuaian diri terhadap jabatan /  Vocational adjustment
Secara ideal jabatan pekerjaan menunjukkan latar belakang studi seseorang, serta menggambarkan status sosial, status ekonominya. Pemegang jabatan/pekerja seharusnya mempunyai kriteria sebagai berikut :
a.       Sudah masak dalam memegang jabatan
b.      Senang dan mencintai jabatan atau pekerjaannya
c.       Bercita – cita atau berusaha mencapai kemajuan setingkat demi setingkat

6.      Penyesuaian diri terhadap perkawinan /Marriage adjustment
Dalam zaman modern, perkawinan bukan suatu way of life yang harus ditempuh. Kehidupan pria dan wanita secara membujang banyak terjadi. Meraka dapat menikmatik kehidupan dan ikut serta berfungsi di masyarakat. Bagi orang – orang yang melayarkan bahtera perkawinan, harus melakukan penyesuaian dalam perkawinan. Menurut Arkoff (1968), perkawinan yang baik bersifat permanen / permanence dan bersifat kebahagiaan/happiness.
Perkawinan di akhiri dengan  kematian, perceraian (sama – sama masih hidup) merupakan hal yang tidak sopan. Sepanjang perjalanan hidup selalu berusaha melakukan penyesuaian diri. Penyesuaian ini ialah:
a.       Harus ada kesadaran terhadap hakikat perkawinan
b.  Harus ada kesediaan untuk menjaga kelangsungan perkawinan. Saling mengerti, saling memberi dan menerima (to take and to give). Arkoff disitir Siti Sundari (1986).

Sumber:         
Siti Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta


C.           Orientasi Pengembangan Potensi

Victor Frankl dalam buku “Psikologi Pertumbuhan: Kepribadian Sehat untuk Mengembangakan Optimisme” karangan MIF Baihaqi menerangkan Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat yaitu;
1.      Kodrat Orang yang Mengatasi –diri
Dorongan utama yang ada pada seseorang dalam kehidupannya ialah mencari ‘bukan diri’ melainkan ‘arti’. Dalam beberapa hal,  pencarian arti ini menyangkut ‘melupakan’ diri kita. Orang yang sehat secara psikologis telah bergerak ke luar atau melampaui fokus pada diri. Menjadi manusia sepenuhnya berarti mengadakan hubungan dengan seseorang atau sesuatu di luar diri sendiri. Frankl membandingkan kualitas transendensi-diri ini dengan kemampuan mata manusia untuk melihat dunia di luar dirinya yang langsung berhubungan dengan  ketidakmampuan mata untuk melihat sesuatu di dalam dirinya. Sesengguhnya, dalam situasi – situasi dimana mata melihat dirinya –misalnya, ketika mata ditutup oleh katarak yang merupakan satu – satunya hal yang dapat dilihatnya- maka mata tidak mampu melihat sesuatu di luar dirinya. Ini berarti penglihatan seseorang adalah mengatasi-diri; mata harus berurusan hanya dengan sesuatu di luar dirinya supaya ia dapat berfungsi.
Contoh sebagaimana diuraikan diatas, menempatkan pendirian Frankl belawanan dengan ahli – ahli teori yang mengemukakan bahwa tujuan atau dorongan perkembangan manusia yang penuh ialah pemenuhan atau aktualisasi-diri. Frankl menolak perjuangan manusia untuk membangun setiap keadaan atau kondisi di dalam diri, entah itu untuk kekuasaan, kenikmatan, atau aktualisasi. Frankl mengemukakan bahwa pandangan serupa itu menggambarkan orang sebagai system yang tertutup, yang tidak menyangkut interaksi dengan dunia yang nyata atau dengan orang – orang lain, tetapi hanya dengan diri. Frankl juga percaya bahwa mengejar tujuan semata – mata dalam diri adalah merusak diri.
Jika kita memeriksa dua tujuan yang berorientasi kepada diri : kenikmatan dan aktualisasi-diri, apakah kira – kira jawabannya?
Frankl menyatakan bahwa semakin banyak kita dengan sengaja bejuang untuk kesenangan maka mungkin semakin kurang kita menemukannya. Kehidupan yang diarahakan untuk mengejar kebahagiaan tidak pernah akan menemukan kebahagiaan. Semakin kita berpusat pada kebahagiaan sebagai tujuan, maka semakin juga kita tidak akan melihat pertimbangan yang sehat untuk berbahagia. Dalam hal ini Frankl memberi contoh orang – orang yang berpusat pada kenikmatan seksual. Berdasarkan karyanya sendiri dengan pasien – pasien, dia menaksir bahwa lebih dari 95% dari kasus impotensi dan frigiditas disebabkan karena laki – laki dan wanita dengan sengaja berjuang untuk memperlihatkan kapasitas untuk orgasme. Orang –orang itu terlalu aktif mengejar kebahagiaan, bukannya membiarkannya terjadi sebagi hasil sampingan dari usaha mencari arti dalam kehidupan. Memang, kenikmatan dan kebahagiaan itu bisa terjadi dan menambahkan bumbu kesenangan hidup. Kebahagiaan tidak dapat dikerjar dan ditangkap; ia biasanya timbul secara spontan dari pemenuhan arti, dari mencapai tujuan di luar diri.
Hal yang sama terjadi pula jika seseorang mengejar aktualisasi-diri. Semakin banyak kita berjuang secara langsung untuk aktualisasi-diri, maka kita mungkin semakin kurang mencapainya. Aktualisasi-diri berlawanan dengan transendensi-diri dan dapat dicapai hanya sebagai akibat sekunder dari penemuan arti dalam kehidupan. Jadi, menurut Frankl, cara satu – satunya untuk mengaktualisasi-diri ialah melalui pemenuhan arti di luar diri.
Frankl meyakini bahwa pandangannya ini sesuai dengan pemikiran Maslow, bahwa cara yang paling baik untuk mencapai aktualisasi-diri ialah melalui komitmen terhadap pekrjaan, terhadap sesuatu di luar diri. Fokus semata – mata pada aktualisasi-diri merupakan akibat dari kekecewaan terhadap kemauan akan arti. Untuk menerangkan ini, Frankl memakai contoh boomerang. Tujuan boomerang tidak untuk berbalik kepada orang yang melemparkannya; boomerang itu berbalik hanya apabila tidak mencapai sasarannya.
Dalam menerangkan hal ini, pemikiran Frankl memang lumayan agak nyerempet ke tataran filsafat. Menurutnya, orang – orang akan berbalik kepada diri mereka ( fokus pada diri mereka ) apabila mereka tidak dapat melihat arti dan maksud mereka di dunia. Apabila mereka tidak mencapai saasaran ( tugas dan arti mereka ) dan karenanya menggagalkan kemauan akan arti, maka mereka menjadi asyik hanya dengan diri mereka. Menjadi sehat secara psikologis adalah bergerak ke luar fokus pada diri, kemudian mengatasinya, menyerapinya dalam arti dan tujuan seseorang. Maka dengan demikian ‘diri’ akan dipenuhi dan aktualisasikan secara spontan dan wajar.
Di dalam buku – bukunya, Frankl tidak menyajikan suatu daftar dari sifat – sifat kepribadian yang sehat. Akan tetapi dapatlah dikemukakan secara umum, orang – orang macam apakah meraka itu. Sedikitnya ada tujuh sifat yang bisa ditempakkan oleh orang berkepribadian sehat, yaitu :
1)      Mereka bebas memilih langkah tindakan mereka sendiri.
2)      Meraka secara pribadi bertanggung jawab terhadap tingkah laku hidup mereka dan sikaap yang mereka anut terhadap nasibnya.
3)      Mereka tidak ditentukan oleh kekuatan – kekuatan di luar dirinya.
4)      Mereka secara sadar mengontrol kehidupan mereka.
5)      Mereka mampu mengungkapkan nilai – nilai daya cipta, nilai – nilai pengelaman, atau nilai – nilai sikap.
6)      Mereka telah mengatasi perhatian terhadap diri.

Namun begitu, masih ada beberapa sifat lain dari kepribadian yang sehat. Yaitu (a) mereka berorientasi kepada masa depan, diarahkan kepada tujuan – tujuan dan tugas – tugas yang akan datang; (b) mereka komitmen terhadap pekerjaan; (c) mereka memberi dan menerima cinta.
(a)    Orientasi pada masa depan
Menurut Frankl, “ kekhasan manusia ialah dia hanya dapat hidup dengan meliahat ke masa depan.” Frankl mengamati banyak kawannya yang sama – sama ditahan di Auschwitz yang kehilangan pengertian akan masa depan, yang berhenti mengarahkan orientasinya kepada tujuan – tujuan khusus, dan mereka meninggal dalam beberapa hari. Tanpa kepercayaan terhadap masa depan, maka ‘pegangan spiritual’ pada kehidupan akan hilang, akibatnya jiwa dan badan cepat mengalami kebinasaan.
Seseorang harus memiliki alasan untuk meneruskan kehidupan, untuk menyelesaikan tujuan yang akan datang; kalau tidak maka kehidupan akan kehilangan arti. Bayangkanlah, bagimana kehidupan seseorang di dalam tahanan, juga bayangkanlah ketika Frankl di kamp konsentrasi. Dia berada dalam kesakitan, kedinginan, kelaparan dan ketakutan yang mengerikan. Semua masa depan tampaknya hilang. Tetapi kemudian dia memaksa dirinya untuk berpikir tentang sesuatu yang lain – lain, dan tiba – tiba dia memiliki gambaran tantang dirinya dalam suatu ruangan ceramah yang hangat dan menarik, dia berbicara tentang psikologi kamp – kamp konsentrasi. Jiwa yang tertekan bangkit, karena dia memberontak melawan situasinya dan mengatsasi penderitaan dan keputusasaan dari momen tersebut.
(b)   Komitmen pada pekerjaan
Sifat lain dari orang yang mengatasi-diri ialah komitmen terhadap pekrjaan. Salah satu cara untuk memperoleh arti ialah dengan mengungkapkan nilai – nilai daya cipta, dimana nilai – nilai ini dapat di ungkapkan dengan sangat baik melalui pekerjaan atau tugas seseorang. Itulah suatu segi kehidupan yang menempatkan seseorang dalam suatu hubungan yang unik dengan masyarakat. Kita melakukan pekerjaan kita dalam suatu cara yang tidak dilakukan orang lain, dengan demikian kita masing – masing memberikan sumbangan kepada masyarakat.
Segi yang penting dari pekerjaan bukan isi dari pekerjaan tersebut, melainkan cara bagiamana kita melakukannya. Inilah yang memberikan arti kepada kehidupan. Jadi, apa yang penting bukan pekerjaan (kekuatan dari luar), melainkan apa yang kita musukkan dalam pekerjaan berkenaan dengan kepribadian kita sebagai manusia yang unik ( kekuatan dari dalam ). Dalam konteks ini, Frankl memberi contoh seorang wanita yang bekerja sebagai perawat. Setiap hari dia melakukan banyak kegiatan yang penting, tetapi kegiatan – kegiatan itu (syarat – syarat pekerjaan) tidak cukup memberikan arti kepada kehidupannya. Hal itu hanya terjadi kalau perawat itu melakukan sesuatu yang lebih daripada apa yang dituntut oleh tugas – tugasnya, bahwa dia menemukan arti lewat pekerjaannya. Apabila dia menggunakan waktu tambahan untuk menghibur seorang pasien yang putus asa, yang ketakutan, atau mengatakan beberapa kata yang manis kepada seseorang yang mendekati ajanya, maka dia memberikan dirinya di luar struktur pekerjaannya; berfokus kepada seseorang diluar dirinya.
Karena seseorang menemukan arti melalui pekerjaan, dan bukan di dalam pekerjaan itu sendiri, maka ‘arti’ dapat ditemukan melalui hamper setiap macam pekrjaan manapun juga. Frankl percaya bahwa kebanyakan pekerjaan memberikan ungkapan nilai – nilai daya cipta (kecuali perkerjaan – perkerjaan yang sama sekali teratur,seperti misalnya pekerjaan ban berjalan).
(c)    Memberi dan menerima cinta
Sifat lain dari orang – orang yang mengatasi diri ialah kemampuan mereka untuk memberi dan menerima cinta. Cinta adalah tujuan pokok manusia. Keselamatan hidup seseorang adalah melalui cinta dan dalam cinta. Meskipun salah satu cara untuk merealisasikan keunikan kita ialah melalui pekerjaan, namun cara lain ialah melalui ‘dicintai’. Apabila kita dicintai, maka keberadaan kita yang unik dan istimewa diterima oleh orang lain. Bagi orang yang mencintai kita, kita menjadi orang yang sangat diperlukan dan tidak dapat diganti.
Disamping itu, masih ada sisi lain bagi hubungan cinta, yaitu memberi cinta. Dengan memberi cinta (dalam bentuk mencintai) kepada orang lain kita dapat melihat sifat – sifat dan ciri – ciri khas meraka, termasuk yang belum diaktualisasikan. Dengan cinta yang kita miliki, kita dapat membuat orang yang dicintai sanggup merealisasikan potensi – potensi yang belum dimanfaatkan dengan menyadarkan mereka tentang potensinya untuk menjadi apa. Dalam hubungan cinta timbal – balik, kedua pihak beruntung dalam hal pemenuhan dan realisasi yang lebih besar dari potensi mereka untuk menjadi manusia yang lebih penuh.

Sumber:         
MIF Baihaqi. 2008. PSIKOLOGI PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme. Bandung: PT Remaja RosdaKarya