Kamis, 30 Mei 2013

TUGAS PERTEMUAN KE III



TULISAN I
PENYESUAIAN DIRI & PERTUMBUHAN
A.PENGERTIAN & KONSEP DIRI
                Penyesuaian diri alih bahasa dari adjusmen, yang dilakukan manusia sepanjang hayat. Karena pada dasarnya manusia ingin mempertahankan eksistensinya, sejak lahir berusaha memenuhi kebutuhannya yaitu kebutuhan fisik, psikis dan sosial. Pemenuhan kebutuhan itu karena adanya dorongan-dorongan yang mengharapkan pemuasan. Bila pemuasan tercapai individu tersebut memperoleh keseimbangan. Sejak kecil individu belajar bertingkah laku, tingkah laku yang berhasil dalam memenuhi kebutuhannya berarti dapat menyesuaikan diri dan mengalami keseimbangan. Sebagaimana dikemukakan Lazarus (1961), adjustment involves a reaction of the person to demand imposed upon him. Maka, penyesuaian diri termasuk reaksi seseorang karena adanya tuntunan yang di bebankan pada dirinya. Demikian pula pendapat Thorndike dan Hogen yang disitir oleh Mustafa Fahmi (1997) sebagai berikut: penyesuaian diri merupakan kemampuan individu untuk mendapatkan ketentraman secara internal dan hubungannya dengan dunia sekitarnya. Uraian tersebut, bila tak ada reaksi terasa ada beban dan tidak mendapatkan ketentraman batin. Maka, dapat disimpulkan: penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk bereaksi karena tuntunan dalam memenuhi  dorongan/kebutuhan dan mencapai ketentraman batin dalam hubungannya dengan sekitar.
I. Penyesuaian Diri yang Berhasil
                         Penyesuaian diri yang berhasil menurut Winarna Surachmad (dalam Siti Sundari, 1986):
1.      Bilamana dengan sempurna memenuhi kebutuhan, tanpa melebihkan yang satu dan   yang mengurangi yang lain.
2.      Bilamana tidak mengganggu manusia lain dalam memenuhi kebutuhan yang sejenisnya.
3.      Bilamana bertanggung jawab terhadap masyarakat dimana ia berada (saling menolong secara positif)
             Penyesuaian diri sendiri sebagai usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada dirinya dan lingkungannya. Memenuhi kebutuhanyang tidak berlebihan tidak merugikan orang lain dan wajib menolong orang lain yang memerlukan.
II.Macam-Macam Penyesuaian Diri
1.                  Penyesuaian terhadap keluarga/family adjusment
                Keluarga merupakan masyarakat terkecil. Keharmonisan keluarga terwujud bila seluruh anggota keluarga mempunyai kesadaran atau kesanggupan memenuhi fungsinya. Tiap anggota keluarga berusaha mengadakan penyesuaian diri dalam keluarganya antara lain:
a.                  Mempunyai relasi yang sehat dengan segenap anggota keluarga.
b.                  Mempunyai solidaritas dan loyalitas keluarga serta membantu usaha keluarga dalam mencapai tujuan tertentu.
c.                   Mempunyai kesadaran adanya emansipasi yang gradual serta kemerdekaan dalam taraf kedewasaan.
d.                  Mempunyai kesadaran adanya otoritas orangtua.
e.                  Mempuyai kesadaran bertanggungjawab menjalankam aturan-aturan larangan secara disiplin.

2.                  Penyesuaian diri terhadap sosial/Social adjusment
           Sosial atau masyarakat merupakan kumpulan individu, keluarga, organisasi dan lain-lainnya. Agar terjadi keharmonisan dalam masyarakat harus ada kesadaran bermsyarakat. Penyesuaianterhadapmasyarakat:
a.                  Adanya kesanggupan bereaksi mengadakan relasi secara efektif dan harmonis terhadap kenyataan sosial.
b.                  Ada kesanggupan bereaksi secara efektif dan harmonis terhadap kenyataan sosial.
c.                   Kesanggupan menghargai dan menjalankan hukum tertulis maupun tidak tertulis.
d.                  Kesanggupan menghargai orang lain mengenai hak-haknya dan pribadinya.
e.                  Kesanggupan untuk bergaul dengan orang lain dalam bentuk persahabatan.
f.                   Adanya simpati terhadap kesejahteraan orang lain. Berupa: memberi pertolongan pada orang lain, bersikap jujur, cinta kebenaran, rendah hati dan sejenisnya.

3.                  Penyesuaian diri terhadap sekolah/School adjusment
            Sekolah merupakan wadah bagi peserta didik dalam mengembangkan potensinya, terutama perkembangan intelegensi maupun pribadinya. Maka, sekolah harus menumbuhkan penyesuaian diri yang baik, bersifat konstruktif, sehingga terwujud:
a.                  Disiplin dalam sekolah terhadap peraturan-peraturan yang ada.
b.                  Pengakuan otoritas guru atau pendidik
c.                   Onteres terhadao mata pelajaran di sekolah
d.                  Situasi dan fasilitas yang cukup, sehingga tujuan sekolah dapat tercapai.

4.                  Penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi/College adjusment
              Perguruan tinggi merupakan tempat pendidikan tertinggi, untuk mencapai gelar, tempat yang menyenangkan penuh kenangan. Namun bagi sementara mahasiswa merupakan tempat yang diliputi keraguan, kecemasan bahkan kegagalan. Penyesuaian diri diperguruan tinggi hampir sama di sekolah, tetapi harus ditambah dengan:
a.                  Pembangunan kepribadian yang seimbang yaitu dapat memenuhi tuntutan ilmiah, jasmani, dan rohani yang sehat serta tanggung jawab sosial yang masak.
b.                  Dapat belajar menyesuaikan diri di tempat kelak bekerja
c.                   Siap menghadapi persaingan, ulet dalam menghadapi segala persoalan.

5.                  Penyesuaian diri terhadap jabatan/Vocation adjusment
               Secara ideal  jabatan pekerjaan menunjukkan latar belakang studi seseorang, serta menggambarkan status sosial, status ekonominya. Pemegang jabatan/pekerja seharusnya mempunyai kriteria sebagai berikut:
a.                  Sudah masak dalam memegang jabatan.
b.                  Senang dan mencintai jabatan atau pekerjaannya.
c.                   Bercita-cita atau berusaha mencapai kemajuan setingkat demi setingkat.

6.                  Penyesuaian diri terhadap perkawinan/Marriage adjusment
             Dalam zaman modern, perkawinan bukan suatu way of life yang harus ditempuh. Kehidupan pria dan wanita secara membujang banyak terjadi. Mereka dapat menikmati kehidupan dan ikut serta berfungsi di masyarakat. Bagi gorang-orang yang melayarkan bahtera perkawinan, harus melakukan penyesuaian dalam perkawinan. Menurut Arkoff (1968), perkawinan yang baik bersifat permanen/permanence dan bersifat kebahagiaan/happiness.
             Perkawinan diakhiri dengan kematian, perceraian (sama-sama masih hidup) merupakan hal yang tidak sopan. Sepanjang perjalanan hidup selalu berusaha melakukan penyesuaian diri. Penyesuaian ini ialah:
a.                  Harus ada kesadaran terhadap hakikat perkawinan
b.                  Harus ada kesediaan untuk menjaga kelangsungan perkawinan. Saling mengerti, saling memberi dan menerima (to take and to give). Arkoff disitir Siti Sundari (1986).
III.Proses Penyesuaian Diri
                Penyesuaian diri yang sempurna, sulit diwujudkan karena banyak faktor yang mempengaruhi sehingga seluruh kebutuhan tidakdapat terealisasi. Penyesuaian diri merupakan proses yang terjadi sepanjang kehidupan (lifelong process). Manusia harus berusaha menemukan dan mengatasi rintangan, tekanan dan tantangan untuk mencapai pribadi yang seimbang. Respons penyesuaian diri selain berupa hal yang baik juga ada yang buruk. Respons baik atau buruk untuk memelihara keseimbangan secara wajar. Individu berusaha menjauhi ketegangan. Penyesuaian diri sebagai suatu proses ke arah hubungan yang harmonis antara tunututan internal dan eksternal. Contoh bayi membutuhkan asi dan kasih sayang. Karena tak terpenuhi, bayi berusaha mencari pemenuhan kebutuhan yang tidak wajar untuk pengganti respon yaitu mengisap ibu jari.

a.Penyesuaian Diri yang Positif
                Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu melakukan penyesuaian diri agar tercapai keseimbangan. Berhubung kebutuhan menusia sangat banyak dan terjadi dalam berbagai bidang. Wajarlah bila tidak semua penyesuaian berhasil secara positif. Penyesuaian yang positif:
1.                  Tidak adanya ketegangan emosi, bila individu menghadapi problema, emosinya tetap tenang, tidak panik, sehingga dalam memecahkan problem dengan menggunakan rasio dan emosinya terkendali.
2.                  Dalam memecahkan masalah tidak menggunakan mekanisme psikologis baik defence mekanisme maupun escape mekanisme, melainkan berdasarkan pertimbangan rasional, mengarah dari masalah yang dihadapi secara langsung dengan segala akibatnya.
3.                  Salam memecahkan masalah bersikap realistis dan objektif. Bila seseorang menghadapi secara apa adanya, tidak ditunda-tunda. Apapun yang terjadi dihadapi secara wajar, tidak menjadi frustasi, konflik maupun kecemasan.
4.                  Mampu belajar ilmu pengetahuan yang mendukun apa yang dihadapi sehingga dengan pengetahuan itu dapat digunakan menanggulangi timbulnya problema.
5.                  Dalam menghadapi problem butuh kesanggupan membandingkan pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain. Pengalaman-pengalaman itu tidak sedikit sumbangannya dalam pemecahan problem.

b.Penyesuaian Diri yang Negatif
                Penyesuaian diri yang negatif adalah penyesuaian yang menyimpang dari realita:
1.                  Yang bersangkutan tidak dapat mengendalikan emosinya. Bila menghadapi problem menjadi panik, sehingga tindakannya tidak sesuai dengan kenyataan.
2.                  Menggunakan pertahanan diri yang berlebihan, karena keyataan. Karena yang bersangkutan mengalami kegagalan dalam penyasuaian diri memungkinkan mengalami frustasi, konflik maupun kecemasan atau kegincangan lain.
Sumber:
Siti Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta

B. PENGERTIAN PERTUMBUHAN PERSONAL, MELIPUTI:
1.PENEKANAN PERTUMBUHAN DIRI
Manusia  merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak serta merta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang.
Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat atau sosialpun terdapat norma-norma yang harus dipatuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.
Setiap individu memiliki naluri yang secara tidak langsung individu dapat memperhatikan hal-hal yang berada disekitarnya apakah  hal itu benar atau tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam  masyarakat yang memiliki suatu  norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang tidak disiplin yang dalam menerapkan aturan-aturannya maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang tidak disiplin, begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang cuek maka individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang cuek.
2.VARIASI DALAM PERTUMBUHAN
     Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan individu:
A.      Faktor genetik
1.       Faktor keturunan — masa konsepsi 
2.       Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan 
3.       Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis  kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen. 
4.       Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
B.      Faktor eksternal / lingkungan
1.       Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.
2.       Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.
Dari semua faktor-faktor  di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.
3.KONDISI-KONDISI UNTUK BERTUMBUH
Victor Frankl dalam buku “Psikologi Pertumbuhan: Kepribadian Sehat untuk Mengembangkan Optimisme” karangan MIF Baihaqi menerangkan Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat. Salah satu konsep utama Frankl adalah hati nurani. Menurutnya, hati nurani adalah semacam spiritualitas alam bawah sadar, yang dikatakan oleh Freud. Hati nurani bukan hanya sekedar salah satu faktor di antara bermacam – macam faktor. Hati nurani adalah inti dari keberadaan manusia da merupakan sumber integritas personal manusia. “ Menjadi manusia adalah manjadi bertanggung jawab. Bertanggung jawab secara eksistensial, bertanggung jawab terhadap keberadaannya sendiri di atas dunia.
Seseorang yang kekurangan arti adalam kehidupannya merupakan suatu bentuk neurosis; dan kondisi ini dinamakan oleh Frankl sebagai no genic neurosis.  Inilah suatu keadaan yang bercirikan: ‘tanpa arti, tanpa maksud, tanpa tujuan, hidup hampa’. Frankl menulis tentang keadaan kawan – kawannya yang ada di dalam tahanan, “ Celakalah dia yang tidak lagi melihat arti dalam kehidupannya, tidak lagi melihat tujuan, tidak lagi melihat maksud, dan karena itu tidak ada sesuatu yang dibawa serta. Dia akan segera kehilangan ‘makna hidup’. Karena tidak merasa adanya kehidupan yang penuh dan gairah, maka orang semacam ini berada dalam ‘ kekosongan eksistensial’ ( existensial vacuum ), suatu kondisi yang menurut kayakinan Frankl adalah lumrah / lazim dalam zaman kita yang modern.
Perhatikanlah kehidupan orang – orang dalam kesehariannya. Banyak di antara meraka menderita kebosanan dan masa bodoh terhadap no genic neurosis sebagai akibat dari dua kondisi.
·         Kondisi pertama :
Ketika manusia berkembang dari pola kehidupan binatang yang lebih rendah, mereka kehilangan insting – insting alamiah yang menghubungkan mereka dengan alam. Karena hal ini telah membebaskan kita dari tekanan – tekanan tertentu, ini berarti bahwa tingkah laku seseorang tidak dibimbing oleh insting – instingnya; kita harus secara aktif memilih apa yang harus kita lakukan.
·         Kondisi kedua :
Pada akhir abad ke-20 kita memiliki beberapa adat kebiasaan, tradisi – tradisi, dan nilai – nilai untuk menentukan tingkah laku kita. Karana kekuatan – kekuatan agama yang teratur dan adat kebiasaan sosial menyusut, maka orang dibiarkan lebih bersandar pada dirinya sendiri. Kita dihadapkan pada membuat keputusan kita sendiri dan bertanggung jawab terhadap keputusan – keputusan tersebut.

Frankl menemukan bukti dari ‘kekosongan eksistensial’ secara besar – besaran dalam banyak kebudayaan, baik bangsa yang berdeologi kapitalis ( semacam Amerika ) maupun berdeologi komunis ( semacam Rusia, sebelum revolusi yang dilakukan oleh Presiden Gorbachev ). Dia percaya bahwa ‘ kekosongan eksistensial’ itu berkembang dengan pesat, khususnya di Negara maju seperti Amerika Serikat. Pemecahan Frenkl terhadap no genic neurosis yang berkembang pesat itu ialah dengan cara : kita masing – masing harus menemukan atau mendapat kembali pengetian yang sangat penting tentang arti dan maksud dalam kehidupan. Kalau tidak, seseorang anak menderita sakit jiwa.

Sumber:
               
Siti Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta
MIF Baihaqi. 2008. PSIKOLOGI PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme. Bandung: PT Remaja RosdaKarya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar