TULISAN I
PENYESUAIAN DIRI & PERTUMBUHAN
A.PENGERTIAN & KONSEP DIRI
Penyesuaian
diri alih bahasa dari adjusmen, yang
dilakukan manusia sepanjang hayat. Karena pada dasarnya manusia ingin
mempertahankan eksistensinya, sejak lahir berusaha memenuhi kebutuhannya yaitu
kebutuhan fisik, psikis dan sosial. Pemenuhan kebutuhan itu karena adanya
dorongan-dorongan yang mengharapkan pemuasan. Bila pemuasan tercapai individu
tersebut memperoleh keseimbangan. Sejak kecil individu belajar bertingkah laku,
tingkah laku yang berhasil dalam memenuhi kebutuhannya berarti dapat
menyesuaikan diri dan mengalami keseimbangan. Sebagaimana dikemukakan Lazarus
(1961), adjustment involves a reaction of
the person to demand imposed upon him. Maka, penyesuaian diri termasuk
reaksi seseorang karena adanya tuntunan yang di bebankan pada dirinya. Demikian
pula pendapat Thorndike dan Hogen yang disitir oleh Mustafa Fahmi (1997)
sebagai berikut: penyesuaian diri merupakan kemampuan individu untuk
mendapatkan ketentraman secara internal dan hubungannya dengan dunia
sekitarnya. Uraian tersebut, bila tak ada reaksi terasa ada beban dan tidak
mendapatkan ketentraman batin. Maka, dapat disimpulkan: penyesuaian diri adalah
kemampuan individu untuk bereaksi karena tuntunan dalam memenuhi dorongan/kebutuhan dan mencapai ketentraman
batin dalam hubungannya dengan sekitar.
I. Penyesuaian Diri yang Berhasil
Penyesuaian diri yang berhasil menurut
Winarna Surachmad (dalam Siti Sundari, 1986):
1.
Bilamana dengan sempurna memenuhi kebutuhan,
tanpa melebihkan yang satu dan yang
mengurangi yang lain.
2.
Bilamana tidak mengganggu manusia lain dalam
memenuhi kebutuhan yang sejenisnya.
3.
Bilamana bertanggung jawab terhadap masyarakat
dimana ia berada (saling menolong secara positif)
Penyesuaian diri sendiri sebagai usaha manusia untuk mencapai keharmonisan
pada dirinya dan lingkungannya. Memenuhi kebutuhanyang tidak berlebihan tidak
merugikan orang lain dan wajib menolong orang lain yang memerlukan.
II.Macam-Macam Penyesuaian Diri
1.
Penyesuaian terhadap keluarga/family adjusment
Keluarga
merupakan masyarakat terkecil. Keharmonisan keluarga terwujud bila seluruh
anggota keluarga mempunyai kesadaran atau kesanggupan memenuhi fungsinya. Tiap
anggota keluarga berusaha mengadakan penyesuaian diri dalam keluarganya antara
lain:
a.
Mempunyai relasi yang sehat dengan segenap
anggota keluarga.
b.
Mempunyai solidaritas dan loyalitas keluarga
serta membantu usaha keluarga dalam mencapai tujuan tertentu.
c.
Mempunyai kesadaran adanya emansipasi yang
gradual serta kemerdekaan dalam taraf kedewasaan.
d.
Mempunyai kesadaran adanya otoritas orangtua.
e.
Mempuyai kesadaran bertanggungjawab
menjalankam aturan-aturan larangan secara disiplin.
2.
Penyesuaian diri terhadap sosial/Social
adjusment
Sosial atau masyarakat merupakan kumpulan
individu, keluarga, organisasi dan lain-lainnya. Agar terjadi keharmonisan
dalam masyarakat harus ada kesadaran bermsyarakat. Penyesuaianterhadapmasyarakat:
a.
Adanya kesanggupan bereaksi mengadakan relasi
secara efektif dan harmonis terhadap kenyataan sosial.
b.
Ada kesanggupan bereaksi secara efektif dan
harmonis terhadap kenyataan sosial.
c.
Kesanggupan menghargai dan menjalankan hukum
tertulis maupun tidak tertulis.
d.
Kesanggupan menghargai orang lain mengenai
hak-haknya dan pribadinya.
e.
Kesanggupan untuk bergaul dengan orang lain
dalam bentuk persahabatan.
f.
Adanya simpati terhadap kesejahteraan orang
lain. Berupa: memberi pertolongan pada orang lain, bersikap jujur, cinta
kebenaran, rendah hati dan sejenisnya.
3.
Penyesuaian diri terhadap sekolah/School
adjusment
Sekolah merupakan wadah bagi
peserta didik dalam mengembangkan potensinya, terutama perkembangan intelegensi
maupun pribadinya. Maka, sekolah harus menumbuhkan penyesuaian diri yang baik,
bersifat konstruktif, sehingga terwujud:
a.
Disiplin dalam sekolah terhadap
peraturan-peraturan yang ada.
b.
Pengakuan otoritas guru atau pendidik
c.
Onteres terhadao mata pelajaran di sekolah
d.
Situasi dan fasilitas yang cukup, sehingga
tujuan sekolah dapat tercapai.
4.
Penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi/College
adjusment
Perguruan tinggi merupakan tempat
pendidikan tertinggi, untuk mencapai gelar, tempat yang menyenangkan penuh
kenangan. Namun bagi sementara mahasiswa merupakan tempat yang diliputi
keraguan, kecemasan bahkan kegagalan. Penyesuaian diri diperguruan tinggi
hampir sama di sekolah, tetapi harus ditambah dengan:
a.
Pembangunan kepribadian yang seimbang yaitu
dapat memenuhi tuntutan ilmiah, jasmani, dan rohani yang sehat serta tanggung
jawab sosial yang masak.
b.
Dapat belajar menyesuaikan diri di tempat
kelak bekerja
c.
Siap menghadapi persaingan, ulet dalam
menghadapi segala persoalan.
5.
Penyesuaian diri terhadap jabatan/Vocation
adjusment
Secara ideal jabatan pekerjaan menunjukkan latar belakang
studi seseorang, serta menggambarkan status sosial, status ekonominya. Pemegang
jabatan/pekerja seharusnya mempunyai kriteria sebagai berikut:
a.
Sudah masak dalam memegang jabatan.
b.
Senang dan mencintai jabatan atau
pekerjaannya.
c.
Bercita-cita atau berusaha mencapai kemajuan
setingkat demi setingkat.
6.
Penyesuaian diri terhadap perkawinan/Marriage
adjusment
Dalam
zaman modern, perkawinan bukan suatu way
of life yang harus ditempuh. Kehidupan pria dan wanita secara membujang
banyak terjadi. Mereka dapat menikmati kehidupan dan ikut serta berfungsi di
masyarakat. Bagi gorang-orang yang melayarkan bahtera perkawinan, harus
melakukan penyesuaian dalam perkawinan. Menurut Arkoff (1968), perkawinan yang
baik bersifat permanen/permanence dan
bersifat kebahagiaan/happiness.
Perkawinan diakhiri dengan
kematian, perceraian (sama-sama masih hidup) merupakan hal yang tidak sopan.
Sepanjang perjalanan hidup selalu berusaha melakukan penyesuaian diri.
Penyesuaian ini ialah:
a.
Harus ada kesadaran terhadap hakikat
perkawinan
b.
Harus ada kesediaan untuk menjaga kelangsungan
perkawinan. Saling mengerti, saling memberi dan menerima (to take and to give). Arkoff disitir Siti Sundari (1986).
III.Proses Penyesuaian Diri
Penyesuaian
diri yang sempurna, sulit diwujudkan karena banyak faktor yang mempengaruhi
sehingga seluruh kebutuhan tidakdapat terealisasi. Penyesuaian diri merupakan
proses yang terjadi sepanjang kehidupan (lifelong
process). Manusia harus berusaha menemukan dan mengatasi rintangan, tekanan
dan tantangan untuk mencapai pribadi yang seimbang. Respons penyesuaian diri
selain berupa hal yang baik juga ada yang buruk. Respons baik atau buruk untuk
memelihara keseimbangan secara wajar. Individu berusaha menjauhi ketegangan.
Penyesuaian diri sebagai suatu proses ke arah hubungan yang harmonis antara
tunututan internal dan eksternal. Contoh bayi membutuhkan asi dan kasih sayang.
Karena tak terpenuhi, bayi berusaha mencari pemenuhan kebutuhan yang tidak
wajar untuk pengganti respon yaitu mengisap ibu jari.
a.Penyesuaian
Diri yang Positif
Dalam
kehidupan sehari-hari manusia selalu melakukan penyesuaian diri agar tercapai
keseimbangan. Berhubung kebutuhan menusia sangat banyak dan terjadi dalam
berbagai bidang. Wajarlah bila tidak semua penyesuaian berhasil secara positif.
Penyesuaian yang positif:
1.
Tidak adanya ketegangan emosi, bila individu
menghadapi problema, emosinya tetap tenang, tidak panik, sehingga dalam
memecahkan problem dengan menggunakan rasio dan emosinya terkendali.
2.
Dalam memecahkan masalah tidak menggunakan
mekanisme psikologis baik defence
mekanisme maupun escape mekanisme,
melainkan berdasarkan pertimbangan rasional, mengarah dari masalah yang
dihadapi secara langsung dengan segala akibatnya.
3.
Salam memecahkan masalah bersikap realistis
dan objektif. Bila seseorang menghadapi secara apa adanya, tidak ditunda-tunda.
Apapun yang terjadi dihadapi secara wajar, tidak menjadi frustasi, konflik maupun
kecemasan.
4.
Mampu belajar ilmu pengetahuan yang mendukun
apa yang dihadapi sehingga dengan pengetahuan itu dapat digunakan menanggulangi
timbulnya problema.
5.
Dalam menghadapi problem butuh kesanggupan
membandingkan pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain.
Pengalaman-pengalaman itu tidak sedikit sumbangannya dalam pemecahan problem.
b.Penyesuaian
Diri yang Negatif
Penyesuaian
diri yang negatif adalah penyesuaian yang menyimpang dari realita:
1.
Yang bersangkutan tidak dapat mengendalikan
emosinya. Bila menghadapi problem menjadi panik, sehingga tindakannya tidak
sesuai dengan kenyataan.
2.
Menggunakan pertahanan diri yang berlebihan,
karena keyataan. Karena yang bersangkutan mengalami kegagalan dalam penyasuaian
diri memungkinkan mengalami frustasi, konflik maupun kecemasan atau kegincangan
lain.
Sumber:
Siti
Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta
B. PENGERTIAN
PERTUMBUHAN PERSONAL, MELIPUTI:
1.PENEKANAN
PERTUMBUHAN DIRI
Manusia
merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila
tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan
bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah
seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam
lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap
dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak serta
merta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit
dan melalui proses yang panjang.
Setiap individu pasti
akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut
membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang
mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor
utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan
karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama
dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang
mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal
individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat
atau sosialpun terdapat norma-norma yang harus dipatuhi dan hal itu juga
mempengaruhi pertumbuhan individu.
Setiap individu
memiliki naluri yang secara tidak langsung individu dapat memperhatikan hal-hal
yang berada disekitarnya apakah hal itu benar atau tidak, dan ketika
suatu individu berada di dalam masyarakat yang memiliki suatu
norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan
memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di
lingkungan masyarakat yang tidak disiplin yang dalam menerapkan
aturan-aturannya maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian
sehingga menjadi kepribadian yang tidak disiplin, begitupun dalam lingkungan
keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang cuek maka
individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang cuek.
2.VARIASI DALAM PERTUMBUHAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan dan pertumbuhan individu:
A. Faktor genetik
1.
Faktor keturunan — masa konsepsi
2.
Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan
3.
Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut,
warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis
seperti temperamen.
4.
Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan
secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
B. Faktor eksternal / lingkungan
1.
Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan
sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.
2.
Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi
bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.
Dari semua
faktor-faktor di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti
keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu.
Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat
menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.
3.KONDISI-KONDISI UNTUK BERTUMBUH
Victor
Frankl dalam buku “Psikologi Pertumbuhan: Kepribadian Sehat untuk Mengembangkan
Optimisme” karangan MIF Baihaqi menerangkan Kodrat Eksistensi Manusia yang
Sehat. Salah satu konsep utama Frankl adalah hati nurani. Menurutnya, hati nurani adalah semacam spiritualitas
alam bawah sadar, yang dikatakan oleh Freud. Hati nurani bukan hanya sekedar
salah satu faktor di antara bermacam – macam faktor. Hati nurani adalah inti
dari keberadaan manusia da merupakan sumber integritas personal manusia. “
Menjadi manusia adalah manjadi bertanggung jawab. Bertanggung jawab secara
eksistensial, bertanggung jawab terhadap keberadaannya sendiri di atas dunia.
Seseorang yang kekurangan arti adalam
kehidupannya merupakan suatu bentuk neurosis; dan kondisi ini dinamakan oleh
Frankl sebagai no genic neurosis. Inilah suatu keadaan yang bercirikan: ‘tanpa
arti, tanpa maksud, tanpa tujuan, hidup hampa’. Frankl menulis tentang keadaan
kawan – kawannya yang ada di dalam tahanan, “ Celakalah dia yang tidak lagi
melihat arti dalam kehidupannya, tidak lagi melihat tujuan, tidak lagi melihat
maksud, dan karena itu tidak ada sesuatu yang dibawa serta. Dia akan segera
kehilangan ‘makna hidup’. Karena tidak merasa adanya kehidupan yang penuh dan
gairah, maka orang semacam ini berada dalam ‘ kekosongan eksistensial’ ( existensial vacuum ), suatu kondisi yang
menurut kayakinan Frankl adalah lumrah / lazim dalam zaman kita yang modern.
Perhatikanlah kehidupan orang – orang dalam
kesehariannya. Banyak di antara meraka menderita kebosanan dan masa bodoh
terhadap no genic neurosis sebagai
akibat dari dua kondisi.
·
Kondisi pertama :
Ketika
manusia berkembang dari pola kehidupan binatang yang lebih rendah, mereka
kehilangan insting – insting alamiah yang menghubungkan mereka dengan alam.
Karena hal ini telah membebaskan kita dari tekanan – tekanan tertentu, ini
berarti bahwa tingkah laku seseorang tidak dibimbing oleh insting – instingnya;
kita harus secara aktif memilih apa yang harus kita lakukan.
·
Kondisi kedua :
Pada akhir
abad ke-20 kita memiliki beberapa adat kebiasaan, tradisi – tradisi, dan nilai
– nilai untuk menentukan tingkah laku kita. Karana kekuatan – kekuatan agama
yang teratur dan adat kebiasaan sosial menyusut, maka orang dibiarkan lebih bersandar
pada dirinya sendiri. Kita dihadapkan pada membuat keputusan kita sendiri dan
bertanggung jawab terhadap keputusan – keputusan tersebut.
Frankl menemukan bukti dari ‘kekosongan
eksistensial’ secara besar – besaran dalam banyak kebudayaan, baik bangsa yang
berdeologi kapitalis ( semacam Amerika ) maupun berdeologi komunis ( semacam
Rusia, sebelum revolusi yang dilakukan oleh Presiden Gorbachev ). Dia percaya
bahwa ‘ kekosongan eksistensial’ itu berkembang dengan pesat, khususnya di
Negara maju seperti Amerika Serikat. Pemecahan Frenkl terhadap no genic neurosis yang berkembang pesat
itu ialah dengan cara : kita masing – masing harus menemukan atau mendapat
kembali pengetian yang sangat penting tentang arti dan maksud dalam kehidupan.
Kalau tidak, seseorang anak menderita sakit jiwa.
Sumber:
Siti
Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta
MIF Baihaqi. 2008. PSIKOLOGI
PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme. Bandung: PT Remaja
RosdaKarya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar