Minggu, 30 Juni 2013

RANGKUMAN TULISAN KESEHATAN MENTAL



MATA KULIAH : SOFTSKILL KESEHATAN MENTAL
DOSEN PEMBIMBING : IBU RATNA MAHARANI
DI SUSUN OLEH : INDAR ARDINIANSYAH
NPM : 18511172
KELAS : 2PA07
UNIVERSITAS GUNADARMA
2013

PERTEMUAN I Tanggal 11 Maret 2013
Tulisan 1
I.          Memahami Konsep Sehat
Sebagai makhluk hidup manusia memiliki kesamaan dengan makhluk hidup lainnya, yakni lahir, tumbuh, berkembang, mengalami dinamika stabil – labil, sehat – sakit, normal – abnormal dan berkhir dengan kematian. Berbeda dengan hewan, manusia adalah makhluk yang bisa menjadi subjek dan objek sekalligus, oleh karena itu manusia selalu tertarik untuk membicarakan, menganalisa dan melakukan hal – hal yang diperlukan  diri sendiri. Sebagian besar ilmu pengetahuan dan teknologi yang disusun dan dibangun oleh manusia adalah untuk kepentingan diri manusia itu sendiri, menyangkut kesehatannya, kenyamanannya, kesejahteraannya dan semua hal yang dipandang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Meski demikian, banyak hal yang dilakukan oleh manusia menjadi semakin tidak sehat dan tidak nyaman dalam hidupnya.
Sehari – hari kita menggunakan istilah sehat wal afiat untuk menyebut kondisi kesehatan yang prima, tetapi jika kita merujuk kepada asal istilah itu yakni “ as shihhah waal ‘afiyah “ di situ ada dua dimensi pengertian. Kata ‘sehat’ merujuk pada fungsi, sedangkan kata ‘afiat’ merujuk kepada kesesuaian dengan maksud penciptaan. Mata yang sehat adalah mata yang dapat digunakan untuk melihat tanpa alat bantu, sedangkan mata yang afiat adalah mata yang tidak bisa digunakan untuk melihat sesuatu yang dilarang melihatnya, misalnya ngintip orang mandi, karena maksud Tuhan menciptakan mata adalah sebagai petunjuk pada kebenaran, membedakannya dari yang salah. Tangan yang sehat adalah tangan yang mudah digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang halal, sedangkan tangan yang afiat adalah tangan yang tidak bisa digunakan untuk mengerjakan melakukan sesuatu yang diharamkan, karena maksud diciptakan tangan oleh Tuhan adalah untuk berbuat baik dan mencegah kejahatan (Zulkifli Yunus, 1994: 57)
Kita bukan hanya mengenal kesehatan tubuh, tetapi juga ada kesehatan mental dan bahkan kesehatan masyarakat. Jika kita menengok bangsa kita sekarang, nampaknya bangsa ini memang sedang tidak sehat dan juga tidak afiat. Akibatnya banyak hal menjadi tidak berfungsi. Jika kita sakit gigi, maka kita pergi dokter gigi, jika sakit perut kita pergi ke dokter penyakit dalam. Nah problemnya ada orang yang secara fisik ia sehat tetapi ia mengalami gangguan sehingga fisiknya pun kurang berfungsi. Secara medik ia sehat, tetapi ia merasa tidak sehat sehingga ia tidak bisa berfikir, tidak bisa konsentrasi, tidak bisa tidur. Ada orang penyandang cacat tetapi pikirannya jenih, gagasannya cemerlang dan ia ceria manjalani hidupnya, sementara ada orang yang secara fisik sehat dan memiliki semua kebutuhan fasilitas tetapi justru pikirannya kacau, tindakannya juga kacau, dan ia tidak bisa menikmati hidup ini.
Sumber:         
Kholil Lur Rochman, S.Ag, M.S.I. 2010. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Fajar Media Press
II.        SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
            Dalam sejarah kehidupan manusia telah dipaparkan tentang kehidupan manusia itu dalam berhubungan dengan dunia sekitarnya. Sebenarnya tersirat pula pembicaraan tentang usaha itu dalam mempertahankan keharmonisannya dalam kehidupan ini. Jadi, sebenarnya sejak dulu kala usaha untuk mewujudkan keharmonisan/keseimbangan kehidupan ini telah ada, hanya bentuknya belum sistematis dan masih sederhana. Mental hygiene disebut juga ilmu kesehatan mental merupakan ilmu pengtahuan yang masih muda. Dulu orang berpendapat gangguan keseimbangan/keharmonisan mental itu disebabkan oleh gangguan roh – roh jahat. Maka usaha penyembuhan terhadap penderita itu dengan jalan mengusir roh – roh jahat tersebut. Caranya dengan memukuli penderita agar supaya roh – roh jahat itu pergi, dengan demikian ia akan sehat kembali. Kemudian timbul usaha kemanusiaan untuk mengadakan perbaikan/tindakan dalam penyembahan dan pemeliharaan baik penderita gangguan mental maupun terhadap penderita penyakit mental itu. Dorothe Dix (Amerika) seorang wanita sebagai tokoh abad 19 usahanya ialah mengadakan perbaikan kondisi rumah sakit jiwa di Amerika maupun di Eropa. Banyak usahanya yang dijadikan dasar – dasar aktivitas dalam Mental Hygiene, Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Ia penah menderita sakit mental selama 2 tahun dan dirawat di rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri siksaan dan perlakuan yang keras terhadap penderita itu berdasarkan pengalamannya yaitu cara penyembuhan atau pengobatan terhadap penderita, iapun lalu menulis buku yang berjudul: “A mind that found it self”. Beers mengecam terhadap tindakan yang kurang berperikemanusiaan serta menyarankan program – program perbaikan definitive dalam cara – cara penyembuhan serta pemeliharaan terhadap penderita. Ia yakin bahwa penyakit dan gangguan mental dapat disembukan. Maka ia menyusun program nasional sebagai berikut :
1.      Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan terhadap penderita mental,
2.      Kampanye memberikan informasi agar orang – orang bersikap intelligent dan human terhadap penderita.
3.      Memperbanyak research dan menyelidiki sebab – sebab timbulnya penyakit mental beserta terapinya.
4.      Memperbesar usaha educative dan memberi penerangan untuk mencegah timbulnya gangguan maupun penyakit mental.
Usaha – usaha tersebut di atas dengan jalan memperhatikan kesejahteraan para anggota atau warganya hingga menimbulkan suasana kerjasama yang baik dan kehidupan bersama yang menyenangkan. Setidak – tidaknya memudahkan pemecahan problem dalam interaksi bersama. Pada tahun 1930 Mental Hygiene mengadakan kongres pertama di Washington D.C tahun 1946 Presiden Amerika Serikat menandatangani undang – undang : “The National Mental Health Act” untuk memajukan kesejahteraan mental rakyat Amerika. Disediakan budget untuk mendirikan “National Institute of Mental Health”. Organisasi – organisasi internasional yang ikut menyelenggarakan program mental hygine antara lain :
  1. W.H.O (World Health Organization) organisasi ini memberi informasi dan penyuluhan – penyuluhan mengenai kesehatan mental kepada segenap anggota UNO (PBB). Mengadakan pengawasan terhadap alkoholisme, pencegahan criminal dan delinquency.
  2. UNESCO (the United Nation Educational Scientific and Cultural Organization). Merupakan biro ada UNO (PBB) untuk menstimulir penukaran masalah informasi kebudayaan antar bangsa. Di dalamnya terdapat satu department yang mengurusi masalah sosial yang mempelajari sebab perang, serta prektik – prektik perwujudan kesehatan mental.
  3. WFMH (World Federation for Mental Health). Didirikan pada tahun 1948. Antara the international committee for mental hygiene dengan the british association for mental health, merupakan kelompok non Govermental Health Agencies membantu kesehatan di dunia.
Di Indonesia masalah mental hygiene ini menjadi salah satu proyek bagi department kesehatan, bekerjasama dengan instansi lain negeri maupun swasta. Misalnya BKKBN, rumah sakit,LSM, dan lain – lainnya.
 Sumber:        
Siti Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta

III.       Pendekatan Kesehatan Mental
  1. Orientasi Klasik
Orientasi klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental.
  1. Orientasi Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri alih  bahasa dari adjustment, yang dilakukan menusia sepanjang hayat. Karena pada dasarnya manusia ingin mempertahankan eksistensinya. Sejak lahir berusaha memenuhi kebutuhannya yaitu kebutuhan fisik, psikis, dan sosial.  Pemenuhan kebutuhan itu kerena adanya dorongan – dorongan yang mengharapkan pemuasan. Bila pemuasan tercapai individu tersebut memperoleh keseimbangan. Sejak kecil individu belajar bertingkah laku, tingkah laku yang berhasil dalam memenuhi kebutuhannya seperti dapat menyesuaikan diri dan mengalami keseimbangan. Sebagaimana dikemukakan Lazarus (1961), adjustment insolves a reaction of the person to demand imposed upon him. Maka, penyesuaian diri termasuk reaksi seseorang karena adanya tuntutan yang dibebankan pada dirinya. Demikian pulan pendapat Thorndike dan Hogen yang disitir oleh Mustafa Fahmi (1977) sebagai berikut : penyesuaian diri merupakan kemampuan individu untuk mrmdapatkan ketenteraman secara internal dan hubunganna dengan dunia sekitarnya. Uraian tersebut, bila tak ada reaksi terasa ada beban dan tidak mendapat ketenteraman batin. Maka, dapat disimpulkan: penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk bereaksi tuntutan dalam memenuhi dorongan / kebutuhan dan mencapai  ketenteraman batin dalam hubungannya dengan sekitar.
Penyesuaian diri yang berhasil menurut Winarna Surachmad (dalam siti sundari,1986):
1.       Bilamana dengan sempurna memenuhi kebutuhan, tanpa melebihi yang satu dan mengurangi yang lain.
2.       Bilamana tidak menggangu manusia lain dalam mamenuhi kebutuhan yang sejenisnya.
3.       Bilamana bertanggung jawab terhadap masyarakat dimana ia berada (saling menolong secara positif).
Penyesuaian diri sebagai usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada dirinya dan lingkungannya. Memenuhi kebutuhan yang orang lain yang memerlukan.
Macam – macam penyesuaian diri:
1.      Penyesuaian terhadap keluarga/ family adjustment
2.      Penyesuaian diri terhadap sosial / Sosial adjustment
3.      Penyesuaian diri terhadap sekolah / school adjustment
4.      Penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi / college adjustment
5.      Penyesuaian diri terhadap jabatan /  Vocational adjustment
6.      Penyesuaian diri terhadap perkawinan /Marriage adjustment
Dalam zaman modern, perkawinan bukan suatu way of life yang harus ditempuh. Kehidupan pria dan wanita secara membujang banyak terjadi. Meraka dapat menikmatik kehidupan dan ikut serta berfungsi di masyarakat. Bagi orang – orang yang melayarkan bahtera perkawinan, harus melakukan penyesuaian dalam perkawinan. Menurut Arkoff (1968), perkawinan yang baik bersifat permanen / permanence dan bersifat kebahagiaan/happiness.
Perkawinan di akhiri dengan  kematian, perceraian (sama – sama masih hidup) merupakan hal yang tidak sopan. Sepanjang perjalanan hidup selalu berusaha melakukan penyesuaian diri. Penyesuaian ini ialah:
a.       Harus ada kesadaran terhadap hakikat perkawinan
b.      Harus ada kesediaan untuk menjaga kelangsungan perkawinan. Saling mengerti, saling memberi dan menerima (to take and to give). Arkoff disitir Siti Sundari (1986).
Sumber:   
Siti Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta


C.        Orientasi Pengembangan Potensi
Victor Frankl dalam buku “Psikologi Pertumbuhan: Kepribadian Sehat untuk Mengembangakan Optimisme” karangan MIF Baihaqi menerangkan Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat
Di dalam buku – bukunya, Frankl tidak menyajikan suatu daftar dari sifat – sifat kepribadian yang sehat. Akan tetapi dapatlah dikemukakan secara umum, orang – orang macam apakah meraka itu. Sedikitnya ada tujuh sifat yang bisa ditempakkan oleh orang berkepribadian sehat, yaitu :
1)      Mereka bebas memilih langkah tindakan mereka sendiri.
2)      Meraka secara pribadi bertanggung jawab terhadap tingkah laku hidup mereka dan sikaap yang mereka anut terhadap nasibnya.
3)      Mereka tidak ditentukan oleh kekuatan – kekuatan di luar dirinya.
4)      Mereka secara sadar mengontrol kehidupan mereka.
5)      Mereka mampu mengungkapkan nilai – nilai daya cipta, nilai – nilai pengelaman, atau nilai – nilai sikap.
6)      Mereka telah mengatasi perhatian terhadap diri.
Namun begitu, masih ada beberapa sifat lain dari kepribadian yang sehat. Yaitu (a) mereka berorientasi kepada masa depan, diarahkan kepada tujuan – tujuan dan tugas – tugas yang akan datang; (b) mereka komitmen terhadap pekerjaan; (c) mereka memberi dan menerima cinta.
(a)    Orientasi pada masa depan
(b)   Komitmen pada pekerjaan
(c)    Memberi dan menerima cinta


Sumber:         
MIF Baihaqi. 2008. PSIKOLOGI PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme. Bandung: PT Remaja RosdaKarya

Tulisan 2
TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
1.         Teori Psikoanalisis
Orang yang pertama kali berusaha merumuskan psikologi manusia dengan memperhatikan struktur jiwa manusia adalah Sigmund Freud. Menurut Freud, perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia yang disebutnya id, ego, dan superego ( Heru Basuki : 2008, 12-13; Sumadi Suryabrata: 2003, 34).
Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan  - dorongan biologis manusia, atau disebut juga pusat insting (hawa nafsu). Ada dua insting dominan, yaitu : a) libido; yaitu insting produktif untuk tujuan – tujuan konstruktif. Insting ini disebut juga insting kehidupan/eros, misalnya, dorongan seksual, segala hal yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan pada Tuhan, dan cinta diri/narsisme; b) Thanatos, yaitu insting destruktif dan agresif. Insting ini disebut juga insting kematian. Semua motif manusia adalah gabungan antara eros dan thanatos. Id bergerak berdasakan prinsip kesenangan, ingin segera memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan  kenyataan. Id mempu melahirkan keinginan, tetapi ia tidak mampu memuaskan keinginannya.
Ego berfungsi menjebambatani tuntutan – tuntutan Id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat – hasrat hewani dan tuntutan rasional dan realistic. Ego-lah yang menyebabkan manusia mampu menundukan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud yang rasional. Ego berkerja berdasarkan prinsip realitas. Misalnya, ketika id mendesak supaya anda membalas ejekan dengan ejekan lagi, ego segera memperingatkan anda bahwa lawan anda adalah “Bos” yang dapat memecat anda. Kalau anda mengikuti desakan Id, makan anda akan konyol. Setelah itu anda baru ingat, bahwa bahaya jika sampai berani melawan pimpinan dalam budaya Indonesia.
Superego adalah “polisi kepribadian” yang mewakili dunia ideal. Superego adalah hati nurani (conscience)  yang merupakan internalisasi dari norma – norma sosial dan cultural masyarakatnya. Superego akan memaksa ego untuk menekan hasrat – hasrat yang tidak berlainan ke alam bawah sadar. Baik id maupun superego berada dalam bawah sadar manusia, sedangkan ego berada di tengah, antara memenuhi desakan id dan peraturan superego. Untuk mengatasi ketegangan, ia dapat menyerah pada tuntutan id, tetapi berarti dihukum superego dengan perasaan bersalah. Untuk menghindari ketegangan, konflik, atau frustasi, efo secara sadar lalu menggunakan mekanisme pertahanan ego, yaitu dengan mendistorsi realitas. Secara singkat, dalam psikoanalisis perilaku manusia merupakan interaksi antara komponen sosial (superego), atau unsure animal, rasional, dan moral (hewani , akal , dan nilai) (Bertens,2006:21).
2.         Teori Behavioralisme
Behavioralisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (orang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan – laporan sebjektif ) dan juga psikoanalisis yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak).
Behavioralisme ingin menganalisis hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, teori kaum behaviorlisme lebih dikenal dengan nama teori belajar, kerana menurut meraka seluruh perilaku manusia, kecuali insting, adalah hasil belajar. Behavioralisme tidak mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; kaum behavioralisme hanya ingin mengatahui bagaimana perilakunua dikendalikan oleh factor – factor lingkungan. Dari sinilah timbul konsep “ manusia mesin “ (homo mechanisme). Behavioralisme sangat banyak menentukan perkembangan psikologi, terutama dalam hal eksperimen – eksperimen. Kajian – kajian psikologi seringkali hanya mencerminkan pendekatan ini (Calvin Hall,1993:45).
Pemikiran behavioralisme sebenarnya sedah dikenal sejak Aristoteles yang berpendapat bahwa, pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa – apa semua seperti meja lilin (tabula rasa) yang siap dilukis oleh pengalaman.
Kemudian John Locke meminjam konsep ini, yang dikenal sebagai kaum empirisme. Menurut mereka, pada waktu lahir, manusia tidak mempunyai warna mental. Wanta ini di dapat dari pengalaman. Pengalaman adalah jalan satu – satunya ke arah penguasaan pengetahuan. Secara psikologis, ini bararti bahwa seluruh perilaku manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh pengalaman indrawi. Pikiran dan perasaan bukan penyebab perilaku manusia, tetapi disebabkan oleh perilaku masa lalu. Salah satu kesulitan empirisme dalam menjelaskan gejala psikologis timbul kerika orang membicarakan apa yang mendorong manusia berprilaku tertentu. Hedonism, salah satu paham filsafat etika memandang manusia sebagai mahluk yang bergerak untuk memenuhi kepentingan dirinya, mencari kesenangan dan menghindari penderitaan. Utilitarianisme mencoba mengkaji seluruh perilaku manusia pada prinsip ganjaran dan hukuman. Bila empirisme digabung dengan utilitarisme dan hedonism, maka akan kita temukan behavioralisme (Sumadi,2003:34).
Kaum behavioralisme berpendapat bahwa organisme dilahirkan tanpa sifat – sifat sosial atau psikologis, perilaku adalah hasil pengalaman, dan parilaku digerakkan atau motivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Pelaziman klasik akan menjelaskan bahwa setiap kali anak mambaca, orang tuanya mangmbil bukunya dengan paksa, maka anak akan benci pada buku. Bila kedatangan ana selalu bersamaan dengan datangnya malapetaka, maka kehadiran anda akan membuat orang berdebar – debar.
Memang behavioralisme tidak bisa menjelaskan tentang motivasi. Motivasi memang terjadi dalam diri individu, sedangkan kaum behavioralisme hanya melihat pada peristiwa – peristiwa yang “kasat mata” dalam arti yang dapat diamati atau bersifat eksternal. Perasaan dan pikiran tidak menarik perhatian kaum behavioralisme. Beberapa tarus tahun kemudian barulah psikologi kembali memasuki proses kejiwaan internal. Paradigma baru ini kemudian terkenal sebagai psikologi kognitif.
3.         Teori Humanistik
Psikologi humanistik dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi. Revolusi pertama dan kedua adalah psikoanalisis dan behavioralisme.
Dalam pandangan behavioralisme manusia manjadi robot tanpa jiwa, dan tanpa nilai. Psikologi humanistic mengambil banyak dari psikoanalisis neohumanistic seperti Adler, dan Jung, serta banyak mengambil pemikiran dari fenomenologi dan eksitensialisme (Alwisol,2008:22). Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “ dunia kehidupan “ yang dipersepsi dan diinterprestasi secara subjektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. Alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.
Menurut Alfred Schultz, tokoh fenomenologi, pengalaman subjektif ini dikomunikasikan oleh factor sosial dalam proses intersunjektivitas diungkapkan pada eksisten-sialisme dalam tema dialog, pertemuan, hubungan diri dengan  orang lain. Eksistensialisme menekankan pentingnya kewajiban individu pada sesame manusia. Yang paling penting bukan apa yang didapat dari kehidupan, tetapi apa yang dapat kita berikan untuk kehidupan.
Hidup kita baru bermakna hanya apabila melibatkan nilai – nilai dan pilihan yang konstruktif secara sosial. Jadi intisari dari psikologi humanism adalah bahwa pada keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna, serta kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya. Pandangan psikologi humanism, pada intinya adalah, setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi dimana dia (Sang Aku, Ku atau Diriku / I, Me, atau Myself ) menjadi pusat. Perilaku manusia berpusat pada konsep diri, yaitu persepsi manusia tentang identitas dirinya yang bersifat fleksibel dan berubah – ubah, yang muncul dari suatu medan fenomenal. Manusia berperilaku untuk mempertahankan, maningkatkan, dan mengaktualisasikan diri. Individu bereaksi pada situasi sesuai dengan persepsi tentang dirinya dan dunianya. Dengan perkataan lain, ia bereaksi pada “ realitas “ seperti yang dipersepsikan olehnya dan dengan cara yang sesuai dengan konsep dirinya. Anggapan adanya ancaman terhadap diri akan diikuti oleh pertahanan diri, berupa penyempitan dan pengkakuan persepsi dan perilaku penyesuaian serta penggunaan mekanisme pertahankan ego seperti resionalisasi. Kecenderungan batiniah manusia adalah menuju kesehatan dan keutuhan diri. Dalam kondisi yang normal ia berperilaku rasional dan konstruktif, serta memilih jalan menuju pengembangan dan aktualisasi diri.
Sumber :
Kholil Lur Rochman, S.Ag, M.S.I. 2010. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Fajar Media Press
Tulisan 3
I.          Penyesuaian Diri & Pertumbuhan
Proses Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri yang sempurna sulit diwujudkan karena banyak faktor yang mempengaruhi sehingga seluruh kebutuhan tidak dapat terealisasi. Penyesuaian diri merupakan suatu proses yang terjadi sepanjang kehidupan (life long process). Manusia harus berusaha menemukan dan mengatasi rintangan, tekanan dan tantangan untuk mencapai pribadi yang seimbang. Respon penyesuaian diri selain berupa hal yang baik juga ada yang buruk. Respon baik atau buruk untuk memelihara keseimbangan secara wajar. Individu berusaha menjauhi ketegangan. Penyesuaian diri sebagai suatu proses kea rah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dan eksternal. Contoh bayi membutuhkan asi dan kasih saying. Kerana tak terpenuhi, bayi berusaha mencari pemenuhan kebutuhan yang tidak wajar untuk pengganti respon yaitu menghisap ibu jari.

A.     Penyesuaian Diri yang Positif
Dalam kehidupan sehari – hari manusia selalu melakukan penyesuaian diri agar tercapai keseimbangan. Berhubung kebutuhan manusia sangat banyak dan terjadi dalam berbagai bidang. Wajarlah bila tidak semua penyesuaian berhasil secara positif. Penyesuaian yang positif :
1.      Tidak adanya  ketegangan emosi, bila individu menghadapi problema, emosinya tetap tenang, tidak panik, sehingga dalam memecahkan problem dengan menggunakan rasio dan emosinya terkendali.
2.      Dalam memecahkan masalah tidak menggunakan mekanisme psikologis baik defence mekanisme maupun escape mekanisme, melainkan berdasarkan pertimbangan rasional, mengarah dari masalah yang dihadapi secara langsung dengan segala akibatnya.
3.      Dalam memecahkan masalah bersikap realistis dan objektif. Bila seseorang menghadapi masalah segera dihadapi secara apa adanya, tidak ditunda – tunda. Adapun yang terjadi dihadapi secara wajar, tidak menjadi frustasi, konflik maupun kecemasan.
4.      Mampu belajar ilmu pengetahuan yang mendukung apa yang dihadapi sehingga dengan pengetahuan itu dapat digunakan menanggulangi timbulnya problema.
5.      Dalam menghadapi problem butuh kesanggupan membandingkan pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain. Pengalaman – pengalaman itu tidak sedikit sumbangannya dalam pemecahan problem.

B.     Penyesuaian Diri yang Negatif
Penyesuaian diri yang negatif adalah penyesuaian yang menyimpang dari realita :
1.      Yang bersangkutan tidak dapat mengendalikan emosinya. Bila menghadapi problem menjadi panik, sehingga tindakannya tidak sesuai dengan kenyataan.
2.      Menggunakan pertahanan diri yang berlebihan, karena berulang kali merupakan kebiasaan yang menyimpang dari kenyataan. Karena yang bersangkutan mengalami kegagalan dalam penyesuaian diri memungkinkan mengalami frustrasi, konflik maupun kecemasan atau kegoncangan lain.
II.        Pertumbuhan Personal
Manusia  merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak serta merta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang.
Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat atau sosialpun terdapat norma-norma yang harus dipatuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan individu:
A.     Faktor genetik
1.      Faktor keturunan — masa konsepsi 
2.      Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan 
3.      Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis  kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen. 
4.      Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
B.     Faktor eksternal / lingkungan
1.      Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.
2.      Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.
Dari semua faktor-faktor  di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.
Victor Frankl dalam buku “Psikologi Pertumbuhan: Kepribadian Sehat untuk Mengembangkan Optimisme” karangan MIF Baihaqi menerangkan Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat.Salah satu konsep utama Frankl adalah hati nurani. Menurutnya, hati nurani adalah semacam spiritualitas alam bawah sadar, yang dikatakan oleh Freud. Hati nurani bukan hanya sekedar salah satu faktor di antara bermacam – macam faktor. Hati nurani adalah inti dari keberadaan manusia da merupakan sumber integritas personal manusia. “ Menjadi manusia adalah manjadi bertanggung jawab. Bertanggung jawab secara eksistensial, bertanggung jawab terhadap keberadaannya sendiri di atas dunia. Hati nurani adalah sesuatu yang sangat intuitif dan bersifat pribadi. Dia kembali pada seseorang yang riil yang berada pada situasi yang riil, dan tidak bisa direduksi menjadi sebatas ‘ hukum universal ‘. Hari nurani haruslah sesuatu yang hidup.

Frankl menemukan bukti dari ‘kekosongan eksistensial’ secara besar – besaran dalam banyak kebudayaan, baik bangsa yang berdeologi kapitalis ( semacam Amerika ) maupun berdeologi komunis ( semacam Rusia, sebelum revolusi yang dilakukan oleh Presiden Gorbachev ). Dia percaya bahwa ‘ kekosongan eksistensial’ itu berkembang dengan pesat, khususnya di Negara maju seperti Amerika Serikat. Pemecahan Frenkl terhadap no genic neurosis yang berkembang pesat itu ialah dengan cara : kita masing – masing harus menemukan atau mendapat kembali pengetian yang sangat penting tentang arti dan maksud dalam kehidupan. Kalau tidak, seseorang anak menderita sakit jiwa.
Selanjutnya, logoterapi mengemukakan tiga cara bagaimana seseorang dapat memberi arti bagi kehidupan, yaitu :
(1) dengan memberi kepada dunia lewat suatu ciptaan,
(2) dengan sesuatu yang kita ambil dari dunia dalam pengalaman,
(3) dengan sikap yang kita ambil terhadap penderitaan.

1.      Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat
Hakikat dari eksistensi manusia terdiri dari tiga faktor, yaitu : spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab. Kemudian Frankl merinci tiga faktor eksistensi ini:
1)      Spiritualitas
2)      Kebebasan
3)      Tanggung Jawab
Orang – orang yang sehat akan memikul tanggung jawab ini, yang menggunakan waktu keseharian mereka dengan kegiatan – kegiatan manfaat, dengan penuh tanggung jawab, agar karya – karya meraka tetap berkembang, meskipun kodrat kehidupan manusia singkat dan fana.
Menurut Frankl, apabila kita mati sebelum kita selesai memahat bentuk kehidupan kita, apa yang telah kita kerjakan tidak mungkin ditiadakan. Suatu kehidupan yang penuh arti ditentukan oleh kualitasnya, bukan oleh usia yang panjang. Karya kehidupan yang disesuaikan dibandingkan dengan karya kehidupan yang dimulai dan diteruskan pada suatu tingkat yang lebih tinggi adalah kurang penting. Menurut Frankl, kadang  - kadang ‘karya – karya yang tidak selesai’ berada di antara simponi – simponi yang sangat indah.
Untuk mencapai dan menggunakan spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab tergantung pada kita. Tanpa ketiga – tiganya tidak mungkin seseorang menemukan arti dan maksud dalam  kehidupannya. Pilihan – pilihan benar – benar tergantung hanya pada kita saja.

2.      Dorongan Kepribadian yang Sehat
Jika Freud mendasarkan ‘kehendak terhadap kesenangan’ sebagai sumber segala dorongan, Adler mendasarkan ‘kehendak untuk berkuasa’, maka di dalam system Frankl ada satu dorongan yang dianggapnya fundamental, yaitu kemauan akan arti yang begitu kuat sampai mampu mengalahkan semua dorongan lain pada manusia. Kemauan akan arti sangat penting untuk kesehatan untuk kesehatan psikologis dalam situasi – situasi yang gawat ( seperti yang dihadapi Frankl di Auschwitz ), kemauan akan arti hidup perlu disadarkan bagi orang – orang yang menghadapi kegawatan sekedarnya supaya tetap hidup. Tanpa arti untuk kehidupan, tidak ada alasan untuk meneruskan kehidupan.
Arti kehidupan, tentu saja sungguh – sungguh istimewa, khas dan unik bagi setiap individu. Arti kehidupan berbeda dari satu orang yang satu dengan orang lain, dari momen yang satu dengan momen yang lain, dari kebersamaan orang di dalam seting / lingkungan tertentu dan seting lainnya. Tidak ada hal yang sedemikian rupa bahwa kemauan universal akan arti berlaku secara merata bagi semua manusia.
Jika tugas – tugas dari kehidupan seseorang individu adalah riil (nyata), maka demikian juga dengan arti kehidupan. Tugas – tugas yang dikerjakan seseorang –atau yang kita kerjakan untuk diri kita- akan membentuk nasib, dan hal ini tidak dapat dibandingkan dengnan tugas – tugas dari siapa saja yang lain. Situasi – situasi dimana kita menyadari kesanggupan kita atau situasi – situasi dimana kita berusaha memenuhi tugas – tugas kita, tidak pernah terulang berkali – keli. Kita tidak dapat bertemu dua kali situasi yang sama dalam cara yang sama, karena pengaruh dari pengalaman – pengalaman baru yang terjadi dalam periode di antara dua situasi.
Karena tugas – tugas yang dikerjakan seseorang dan nasib – nasib yang menimpa seseorang adalah unik –bagi setiap individu dan pada periode waktu tertentu- maka setiap orang harus menemukan caranya sendiri untuk memberikan respons. Hal ini sama juga jika kita harus menemukan arti kehidupan yang cocok untuk kita masing – masing. Apalagi kita berhadapan dengan sesuatu situasi yang berbeda untuk diberikan bagi kehidupan, seperti yang dilakukan Frankl ketika situasinya berubah –dari situasi seorang dokter ang aman dan terhormat menjadi orang yang ditawan bernomor 119 dan 104, di Auschwitz. Beberapa situasi menghendaki supaya kita secara aktif membentuk nasib kita, situasi – situasi lain menghendaki supaya kita menerimanya. Setiap situasi adalah baru dan membutuhkan suatu respons tertentu.
Bagi Frankl, jurang pemisah ini berarti bahwa orang – orang sehat selalu memperjuangkan tujuan yang memberikan arti bagi kehidupan. Orang – orang ini terus – menerus berhadapan dengan tantangan untuk memperoleh maksud baru yang harus dipenuhi. Perjuangan yang terus  - menerus ini menghasilkan kehidupan yang penuh semangat dan gembira. Kemungkinan lain –orang itu tidak berusaha mencari- menyebabkan suatu kekosongan eksistensi dan menyebabkan seseorang merasa bosan, masa bodoh, dan tanpa tujuan. Kehidupan tidak mempunyai arti; kita tidak mempunyai alasan untuk meneruskan kehidupan.
Frankl telah mengemukakan sebelumnya tiga cara bagaimana kita dapat memberi arti bagi kehidupan yakni:
(1) apa yang kita berikan bagi dunia berkenaan dengan suatu ciptaan,
(2) apa yang kita ambil dari dunia dalam pengalaman, dan
(3) sikap yang kita ambil terhadap penderitaan. Selanjutnya, Frankl membicarakan hal ini dalam topik yang umum, yakni nilai – nilai.
Nilai – nilai , seperti arti kehidupan yang dituju oleh nilai – nilai itu adalah untuk bagi setiap orang dan situasi. Nilai – nilai itu berubah – ubah dan fleksibel, supaya bisa menyesuaikan diri terhadap bermacam – macam situasi dimana kita menyadari kemampuan kita sendiri. Seseorang harus terus – menerus memilih salah satu nilai yang memberi arti bagi kehidupan dalam setiap situasi.
Menurut Frankl ada tiga system nilai yang fundamental yang berhubungan dengan tiga cara memberi arti kepada kehidupan, yaitu:
(1) nilai – nilai daya cipta atau kreatif
(2) nilai – nilai pengalaman
(3) nilai – nilai sikap.
Dapatlah ditegaskan disini, dengan memasukkan nilai – nilai sikap sebagai cara memberi arti bagi kehidupan, sesungguhnya Frankl ingin memberi kita harapan bahwa kehidupan manusia meskipun dalam keadaan – keadaan gawat, masih dapat bercirikan arti dan maksud. Kehidupan seseorang dapat mengadung arti sampai momen kehidupan yang terakhir. Sejauh kita sadar, kita diwajibkan untuk menyadari nilai – nilai. Itulah tanggung jawab manusia yang tidak dapat dielkkan jika dia ingin memelihara kesehatan psikologis.

Sumber:
MIF Baihaqi. 2008. PSIKOLOGI PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme. Bandung: PT Remaja RosdaKarya
http://smileandsprit.blogspot.com/2011/03/penyesuaian-diri-pertumbuhan-personal.html

PERTEMUAN II Tanggal 8 April 2013
Tulisan 1
TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
I. ALLPORT (CIRI-CIRI KEPRIBADIAN YANG MATANG)
Menurut Allport Watak atau karakter sama, walaupun istilah kepribadian dan watak sering di pergunakn secara bertukar-tukar, namun Allport menunjukan, bahwa biasanya kata watak menunjukan arti normative; dia menyatakan bahwa character is personality evaluated and is charater devaluated’. (Allport 1951, p 52). Sedangkan bagi Allport temperament adalah bagian khusu dari kepribadian yang diberika definisi demikian :
“ Tempramen  adalah gejala karateristik dari pada sifat emosi individu, termasuk juga mudah tidaknya kena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasana hatinya, segala dara daripada fluktuasi dan intensitat Susana hati; gejala ini tergantung kepadsa factor konstitusional, dan karenanya terutama berasal dari keturunan’. (Allport, 1951, p. 54)
1.                  Sifat
Sifat adalah tendens determinasi atau predisposisi dan diberinya definisi demikian  :“Sifat adalah system neudopsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi bermacam-macam perangsang secara sama, memulai serta membimbing tingkah laku adaptif dan ekspresif secara sama” (Allport, 1951, p.  289)
Yang perlu dicatat mengenai definisi ini ialah tekanan terhadap individualitas dan kesimpulan bahwa kencendrungan itu tidak ada hanya terikat kepada sejumlah perangsang atau reaksi, melainkan denganseluruh pribadi manusia. Pernyataan “system neuropsikis” menunjukan jawaban affirmative yang diberikan oleh Allport terhadap pertanyaan apakah  “trait” itu benar-benar ada pada individu.
Dengan mempertentangkan pendirian biososial (yang menganggap bahwa trait atau sifat itu hanya ada dalam pengamatan yang dibuat oleh orang lain) dengan pendirian biofisik (yang menganggap bahwa trait atau sifat itu tidak tergantung kepada pengama tetapi benar-benar mempunyai esksistensi di dalam pribadi ) nyata sekali Allport mengikuti pendirian yang kedua. Dalam kuliah-kuliahnya dia selalu menyatakan bahwa trait adalah kenyataan terakhir dari pada organisasi psikologis; dan dalam tulisannya (Personality) dia menyatakan :
“Sesuatu sifat….. mempunyai lebih dari hanya eksistensi nominal saja; sifat itu tak tergantung kepada pengamat, tetapi nyata-nyata ada pada individu”. (Allport, 1951, p. 289). Jelasnya : Pandangan ini tidak beranggapan bahwa tiap nama sifat mesti mencerminkan suatu sifat, tetapi maksudnya di belakang semua kekaburan istilah itu, di belakang ketidaksepakatan pendapat mengenainya, dan terpisah dari kekhilafan dan kegagalan observasi empiris, ada struktur batin (mental structure)  pada tiap kepribadian yang mencerminkan keselarasan tingkah lakunya. Dalam pada itu perlu pula di jelaskan perbedaan pengertian ini dengan beberapa pengertian lain yang berhubungan.
Perbedaan sifat dengan beberapa pengertian yang lain:
a.         Kebiasaan (habit)
Sifat (trait) dan kebiasaan (habit) kedua-duanya adalah tendens determinasi, akan tetapi sidat itu lebih umum, baik dalam situasi yang dicocokinya, maupun dalam respon yang terjelma darinya.
b.         Sikap (attitude)
Perbedaan pengertian sifat (trait) dan sikap (attitude) sukar diberikan. Bagi Allport kedua-duanya itu adalah predisposisi untuk merenspons, kedua-duanya adlah khas, kedua-duanya dapat memulai atau mebimbing tingkah laku;  kedua-duannya adalah hasil dari factor genesis dan belajar. Namun kalau di teliti ada juga perbedaan di antara kedua hal itu.
Sikap (attitude) itu berhubungan dengan sesuatu obyek, sedangkan sifat (trait) tidak. Jadi sifat umum daripada sifat ialah bahwa sifat itu hamper selalu lebih besar/luas dari pada sikap:  dalam kenyataan nya makin besar jumlah objek yang dikenai sikap it, maka sikap makin mirip dengansifat. Sikap dapat berbeda-beda dari yang lebih khusus ke yang lebih umum, tetapi kalau sifat itu selalu umum
Allport Membedakan antar sifat dan tipe. Menurut dia orang dapat memiliki suatu sifat, tetapi tidak dapat memiliki sesuatu tipe. Tipe adalah kontruksi ideal si pengamat, dan seseorang dapat disesuaikan dengan tipe itu tetapi dengan konsekuensi di abaikan sifat-sifat khas individuinya. Sifat dapat mencerminkan sifat khas pribadi sedangkan tipe menunjukan perbedaan-perbedaan buatan yang tak begitu cocok dengan kenyataan, sedangkan sifat adalah refleksi sebenarnya daripada yang sebenar-benar ada.
                                                                                                  
2.                  Sifat-sifat umum (bersama) dan sifat-sifat individual
Suatu hal yang sangat penting di dalam mempelajari teori Allport ini ialah berusaha mengenai perbedaannya antara sifat-sifat umum (bersama) dan sifat-sifat individualnya. Dia menyatakan bahwa di dalam kenyataan tidak pernah ada dua individu mempunyai sifat-sifat yang benar-benar sama. Walaupun mungkin ada kemiripan dalam struktur sifat namun ada selalu ada corak yang khas mengenai cara bekerjanya sifat-sifat itu pada tiap individu yang yang menyebabkan adanya perbedaan dengan sifat yang sama yang ada pada orang lain. Jadi sebenarnya semua sifat itu adalah sifat individual, artinya khas dan hanya dapat dikenakan kepada satu individu
Walau tidak ada sesuatu sifat yang dapat di amati pada lebih dari satu individu, namun Allport mengakui bahwa karena pengaruh-pengaruh yang sama dari masyarakat dan kesamaan-kesamaan yang mempengaruhi perkembangan individu, ada sejumlah kecil cara-cara penyesuaian diri yang secara kasar (garis besar) dapat dibandingkan. Jadi penyelidik mungkin menyusun ketentuan-ketentuan (ukuran-ukuran) yang menunjukan aspek-aspek yang sama daripada sifat-sifat individual dan yang mempunyai nilai prediktif kasar – inilah sifat umum atau sifat nomothetis. Cara demikian itu tidak dapat dipertahankan kalau dipandang dari segi kekhususan individu tetapi kalau di pandang dari segi kegunaan dapat. Secara singkat Allport menyatakan di atas itu demikian :
“Kalau  diartikan secara teliti definisi sifat itu, hanya sifat individuallah sifat yang sebenarnya, karena  sifat-sifat selalu ada pada individu-individu dan tidak dalam masyarakat, dan
a.       Karena sifat-sifat itu berkembang dan mengumum menjadi disposisi-disposisi dalam cara-cara yang khas sesuai dengan pengalaman masing-masing individu. Sifat umum sama sekali bukanlah sifat yang sebenarnya, melainkan hanyalah aspek-aspek yang dapat diukur dari pada sifat individu yang kompleks”. (Allport, 1951, p.299).
Orang yang mungkin berpendapat bawa sifat-sifat umum itu harus di beri nama yang bebeda, supaya dapat dibedakan dengan sifat individual.  Allport tidak dapat menerima pendapat yang demikian itu karena istilah sifat itu sudah dipergunakan secara luas didalam kedua arti itu serta penggunaan itu menunjukkan kepada penyelidik tentang aspek-aspek kepribadian yang dapat di banding-bandingkan dengan istilah itu. Jadi pada umumnya Allport mengakui bahwa penyelidikan mengenai sifat-sifat umum itu akan berguna dalam konsepsi yang demikian itu mneggambarkan individu setepat-setepatnya.
3.         Sifat pokok, sifat sentral dan sifat sekunder
Di muka suadah dikatakan bahwa sifat-sifat itu merupakan predisposisi-predisposisi umum bagi tingkah laku. Dalam pada itu masih ada satu soal lagi mengenai hal ini, yakni apakah semua sifat itu padapokonya mempunyai taraf keumuman yang sama, dan apabila tidak bagaimanakah cara membedaka-bedakan antara sifat pokok, sifat sentral dan sifat sekunder.
 a.        Sifat pokok atau cardinal trait
Sifat pokok ini demikian menonjolnya (dominannya) sehingga hanya sedikit saja kegiatan-kegiatan yang tak dapat di cari, baik secara langsung maupun tidak langsung bahwa kegiatan itu berlangsung karena pengaruhnya. Tidak ada sifat semacam itu yang lama tersembunyi; individu dikenal dengan sifat itu dan bahwa mungkinmenjadi terkenal dalam sift itu. Kualitas yang demikian dominan pada individu itu sering di sebut “the eminent trait, the ruling passion, the master sentiment, atau the radix of alife”. (Allport, 1951, p. 338). Macam sifat ini relative kurang biasa dan kurang nampak pada tiap orang.
b.         Sifat sentral (central trait)
Sifat-sifat ini lebih khas, dan merupakan kecendrungan-kecendrungan individu yang sangat khas/karakteristik sering berfungsi dan mudah di tandai.
c.         Sifat sekunder (Secondary trait)
Sifat sekunder ini nampaknya berfungsinya lebih terbatas kurang menetukan di dalam deskripsi kepribadian, dan lebih terpusat atau khusus pada response-response yang di dasrnya serta perangsang-perangsang yang d cocokinya
4.         Sifat-sifat ekspresif
Kecuali yang telah dikemukakan itu, masih ada sifat-sifat yang lain; yaitu yang di sebut sifat-sifat ekspresif. Sifat-sifat ekspresif ini merupakan disposisi yang memberi warna atau mempengaruhi bentuk tingkah laku, tetapi yang pada kebanyakan orang tidak mempunyai sifat mendorong. Contoh sifat-sifat ekspresif ini ialah melagak, ulet,  dan sebagainya. Adapun tujuan yang kejar orang sifat-sifat ini dapat bekerja, dapat memberi warna kepada tingkah lakunya.
Persoalan di atas itu menimbulkan persoalan /pertanyaan apakah sifat-sifat hanya berfungsi membimbing dan memberikan arah tingkah laku. Pertanyan ini tidak dapat di jawab dengan sederhana. Beberapa sifat terang lebih mendorong, lebih mempunyai peranan sebagai pendorong yang menentukan daripada yang lain-lain. Jadi, diantara sifat-sifat itu terdapat variasi dalam pengaruh mendorongnya terhadap individu.  Selanjutnya dapat dinyatakan bahwa dalam arti tertentu selalu ada perangsang lebih dahulu yang berhubungan dengan pengaktifan sesuatu sifat misalnya perangsang dari luar atau keadaan dalam arti orang harus mendahului bekerjanya (berfungsinya) sesuatu sifat. Namun jelas selkali bahwa kebanyakan sifat tidak merupaka refflektor dari perangsang-perangsang luar.  Dalam kenyataanya individu aktif mencari perangsang-perangsang yang tepat untuk membuat sifat berfungsi. Seseorang yang mempunyai sufat suka bergaul jelas tidak akan menanti situasi untuk mengeskpresikan sifat itu,  tetapi dia akan menciptakan situasi di man dia dapat bergaul dengan orang-orang lain. 
5.         Kebebasan sifat-sifat
Sejauh mana sifat-sifat itu ada sebagai system tingkah laku yang bekerja tanpa mengingat system-sistem yang lain? Apakah bekerjanya sesuatu sifat tertentu itu selalu di isyaratkan  oleh sifat-sifat yang lain ? Allport berpendapat bahwa sifat-sifat tu dapat di tandai bukan oleh sifat bebasnya yang kaku tetapi terutama oleh kualitas memusatnya. Jadi sifat itu cendrung untuk mempunyai pusat;  disekitar pusat itu lah pengaruhnya berfungsi; tetapi tingkah laku yang di timbulkannya juga secara serempak (simultan) dipengaruhi oleh sifat-sifat yang lainya. Kebebasan sifat-sifat umumnya yang ddefinisikan secara sekehendak seperti dalam sementara penyelidik-penyelidik psikomatris, merupakan salah satu dari kelemahan-kelemahannya sebagai representrasi yang tepat dari pada tingkah laku. Saling pengaruh atau berhubungannya. Bermacam-macam sifat itu juga merupaka salah satu sebab adanya kenyataan bahwa mungkin membuat metode-metode klasifikasi yang benar-benar memuaskan.  
6.         Konsintensi (consistency) sifat-sifat
Jelas bahwa kesimpulan-kesimpulan yang dipergunakan untuk menandai sifat adalah konsistensinya. Jadi sifat itu tidak dapat dikenal hanya keteraturan  atau ketetapannya di dalam individu bertingkah laku. Kenyataanya, bahwa ada banyak sifat-sifat yang saling menutup satu sama lain.  Yang serempak aktif menunjukan, bahwa ketidaktetapan (inconsistency) yang jelas di dalam tingkah laku individu relative akan sering ditemukan. Selanjutnya, kenyataan bahwa sifat-sifat itu mungkin meliputi unsure-unsur yang nampaknya tidak tetap apabila dipandang dari segi normative atau dari luar. Jadi, orang mungkin menyaksikan ketidaktetapan tingkah laku yang sebenarnya mencerminkan batin yang tetap terorganisasi secara khas. Hal ini tidak berarti, bahwa setiap kepribadian itumempunyai integrasi sempurna. Disosiasi damn pendesakan/penekanan mungkin ada dalam tiap kehidupan. Tetapi biasanya ketetapan itu adanya yang sebenarnya lebih dari pada apa yang dapat dicari oleh metode-metode psikologis.
7.         Intensi (intension)
Lebih penting dari penyelidikan mengenai masa lampau ialah penyelidikan mengenai intense atau keinginan individu mengenai masa depannya. Istilah intense di gunakan dalam arti yang meliputi pengertian : harapan-harapan, keinginan-keinginan, ambisi, cita-cita seseorang. Menurut Allport intense ini dapat disejajarkan dengan apa yang disebut Freud Ich ideal dan yang disebut C. Buhler Bestimmung.
Dalam hal inilah terlihat jelas perbedaan Allport dengan lain-lain teori kepribadian dewasa ini. Teori Allport  menunjukan bahwa apa yang akan di coba dlakukan oleh seseorang merupakan kunci dan hal yang akan di coba  dilakukan oleh seseorang merupakan kunci dan hal yang terpenting bagi apa yang dikerjakanya sekarang. Jadi kalau dewasa ini banyak ahli yang mengutamakan  masa lampau, maka pendapat Allport itu mirip sekali dengan pendapat Aldler  dan Jung; Walaupun tidak ada alas an untuk mengatakan adanya pengaruh dari mereka ini.
Sumber:
Sumadi Suryabrata. (2011). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers
II. ROGERS ( PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN)
            Rogers menyebutkan dirinya sebagai orang yang berpandangan humanistik dlam psikologi kontemporer. Psikologi humanistik dari satu pihak menentang apa yang disebut sebagai pesimisme suram dan keputusasaan yang terkandung dalam pandangan psikoanalitik tentang manusia dan di lain pihak menentang konsepsi robot tentang manusia yang digambarkan dala behaviorisme. Psikogi humanistik lebih penuh harapan dan optimistik tentang manusia. Ia yakin bahwa dalam diri setiap orang terdapat potensi-potensi untuk menjadi sehat dan tumbuh secara kreatif. Kegagalan dalam mewujudkan potensi-potensi ini disebabkan oleh pengaruh yang bersifat menjerat dan keliru dari latihan yang diberikan oleh orangtua, serta pengaruh-pengaruh sosial lainnya . Namun pengaruh-pengaruh yang merugikan ini dapat di atasi apabila individu mau menerima tanggung jawab untuk hidupnya sendiri. Rogers yakin apabila tanggung jawab ini diterima, kita segera akan melihat-kalau saja represi dan perbudakan yang meliputi seluruh dunia dapat dicegah -  munbculnya seorang pribadi baru ”yang penuh kesadaran, mengarahkan dirinya sendiri, seorang penjelajah dunia batin lebih daripad dunia luar, yang memandang rendah sikap serba tunduk pada kebiasaan-kebiasaan dan dogma tentang autoritas” (Rogers 1974).
Struktur Kepribadian
            Walaupun Rogers nampaknya tidak mementingkan kontruk-kontruk struktural,  dan lebih senang menaruh perhatian pada perubahan dan perkembangan kepribadian, namun ada dua kontruk yang sangat penting dalam teorinya dan bahkan dapat dianggap sebagai tempat berpijak bagi seluruh teorinya. Kedua kontruk tersebut teorinya adalah organisme dan diri (self).
Organisme
            Secara psikologis, organisme adalah lokus atau tempat dari seluruh pengalaman. Pengalaman meliputi segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadaran organisme pada setiap saat. Keseluruhan pengalama ini merupakan medan fenomenal. Medan fenomenal adalah “frame of reference” dari individu yang hanya dapat diketahui oleh orang itu sendiri. “Medan fenomenal tidak dapat diketahui oleh orang lain kecuali melalui inferensi empatis dan selanjutnya tidak dapat diketahui dengan sempurna” (Rogers, 1959, hlm. 210). Bagaimana individu bertingkahlaku tergantung pada medan fenomenal itu (kenyataan subjektif) dan bukan pada keadaan-keadaan perangsangnya (kenyataan luar).
            Harus dicatat bahwa medan fenomenal tidak indektik dengan medan kesadara. “Kesadaraan adalah perlambangan  dan sebagaian pengalaman kita”  (Rogers, 1959, hlm. 198). Dengan demikian medan penomenal terdiri dari pengalaman sadar (dilambangkan) dan pengalaman tak sadar (tidak dilambangkan). Akan tetapi organisme dapat menbedakan kedua jenis pengalaman tersebut dan bereaksi dengan pengalaman yang tidak dilambangkan. Mengikuti McCleary dan Lazarsus (1949), Rogers menyebutnya peristiwa subsepsi (subception).
            Pengalaman mungkin tidak tepat dilambangkan, akibatnya orang bertingkah laku secara tidak serasi. Akan tetapi orang cendrung mencek pengalaman-pengalaman yang dilambangkandengan dunia sebagimana adanya. Uji terhadap kenyataan ini memberiakn orang pengetahuan yang dapat di andalkan tentang dunia sehingga dengan demikian orang dapat bertingkah laku secara realistis. Akan tetapi, persepsi-persepsi tertentu tetap tidak diuji atau diuji secara kurang memadai, dan pengalaman-pengalaman yang tidak diuji adapat menyebabkan orang bertingkah laku secara tidak realistis, bahkan merugiakn orang itu sendiri. Meskipun Rogers tidak menyinggung isu tentang kenyataan  ”sebenarnya”  namun jelas bahwa orang-orang harus memiliki suatu konsepsi tentang standar kenyataan luar atau impersonal, sebab kalau tidak demikian mereka tidak akan dapat menguji gambar kenyataan kentaan batin (subjektif) denga kenyataan “objektif”. Pertanyaan kemudian timbul, yakni bagaiman orang-orang dapat membedakan antara gambaran sujektif yang tidak merupakan representasi yang tepat dari kenyataan dan gambaran yang benar-benar merupakn representasi dari kentaan. Apakah yang memungkinkan orang membedaka antara fakta dan fiksi dalam dunia sujektinya? Inilah paradoks besar dalam fenomenologi.
            Rogers memecahkan paradoks tersebut dengan menyimapang dari rangka pemikiran fenomenologi murni. Apakah yang dialami atau dipikirkan orang sebenarnya buakanlah kenyataan bagi orang itu: hal itu hanyalah hipotesis sementara  tentang kenyataan yang dapat benar atau salah. Orang menunda keputusannya sampai ia menguji hipotesis tersebut. Apakah yang dimaksud menguji? Menguji berati mencek ketepatan imformasi yang diterima dan yang merupakan dasr dari hipotesisnya dengan sumber-sumber informasi lain. Misalnya, seseorang akan mengarami makanannya berhadapan dengan dua tempat bumbu. Satu diantaranya berisi garam dan yang lainnya berisi merica. Orang tersebut mengira bahwa tempat yang berlubang besar berisi garam, tetapi karena tidak yakin maka ia menuangkan sedikit isinya pada telapak tangannya. Apabila partkel-partikel yang keluar adalah putih dan bukan hitam, maka orang tersebut boleh merasa yakin bahwa itu garam. Orang yang sangat teliti mungkin merasa perlu mencicipinya sedikit sebab bisa jadi itu merica putih, bukan garam. Apa yang di kemukakan dengan contoh ini adalah suatu pengujian ide-ide orang dengan berbagi data inderia. Pengujian tersebut berupa mencek imformasi yang kurangpasti dengan pengetahuan yang lebih lansung. Dalam kasus garam, ujian terakhir adalah rasanya; suatu cita rasa tertentu menetukan bahwa itu garam.
            Tentu saja, contoh yang dkemukkan tadi menggambarkan suatu kondisi ideal. Dalam banyak kasus, orang menerima begitu saja pengalamannya sebagai representasi yang tepat tentang kenyataannya sebagai hipotesis tentang kenyataan. Akibatnya, orang kerapkali menghasilkan banyak komsepsi salah tentang dirinya dan tentang dunia luar. “Priadi yang utuh”, baru-baru ini rogers menulis, “ adalah orang yang sepenuhnya terbuka pada data yang dialami dalam dirinya dan data yang di alaminya dari dunia luar” (1977, hlm. 250).
Diri (self)
            Sebagian dari medan fenomenal lama kelamaan menjadi terpisa. Ini adalah diri. Diri atau konsep-diri merupaka :
Gestalt konseptual yang terorganisasi dan konsisten yang terdiri dari konsepsi-konsepsi tentang sifat-sifat dari ‘ diri subjek ’  atau ‘ diri objek ’ dan persepsi-persepsi tentang hubngan-hubungan antara ‘ diri subjek ’ atau ‘ diri objek ’ dengan orang0orang lain dan dengan berbagai aspek kehidupan beserta nila-nilai yang melekat pad persepsi-persepdi ini. Gestaltlah yang ada dalam kesadaran meskipun tidak harus disadari. Gestalt tersebut bersifat lentur dan berubah-ubah, suatu proses, tetapi pada setiap saat merupakan suatu entitas spesifik (Rogers, 1959), hlm. 200).
            Diri merupakan salah satu konstruk sentral dalam teori Rogers, dan ia telah memberika suatu penjelasan yang menarik bagaimana ini terjadi.
            Berbicara secara pribadi memulai karya saya dengan keyakinan yang mantap bahwa “diri” adalah suatu istilah yang kabur, ambigu atau bermakna ganda, istilah yang tidak berarti secara ilmiah, dan telah hilang dari kamus para psikolog bersama menghilangnya para introspeksionis. Dari sebab iti, saya lambat menyadari bahwa apa bila klien-klien diberi kesempatan untuk mengungkapkan masalah-masalahmereka dan sikap-sikapmereka dalam istilah-istilah mereka sendiri, tampa suatu bimbingan atau interprentasi, ternyata mereka cendrung berbicara tentang diri…..tampaknya jelas,…bahwa diri merupakan suatu unsur penting dalam pengalaman klien, dan aneh karena tujuannya adalah menjadi ‘ diri-sejati ’ –nya (1959, hlm. 200 – 201).
Disamping “diri” sebagaimana adanya (struktur diri), terdapat suatu diri ideal, yakni apa yang diinginkan orang tentang dirinya.
Oragnisme dan Aku  :  Keselarasan dan ketidakselarasan
            Pentingnya konsep-konsep struktural, yakni organisme dan “diri”, dalam teori rogers menjadi jelas dalam pembicaraannya tentang kongruensi dan inkongruensi antara diri sebagaimana tentang kongrensi dan inkongruensi antara diri sebagaimana dipersepsikan dan pengalaman aktual organisme (1959,hlm.203, 205-206.) Apabila pengalaman-pengalaman yang dilambangkan yang membentuk diri benar-benar mencerminkan pengalaman-pengalaman organisme. Maka orang yang bersangkutan disebut berpenyesuain baik, matang, berfungsi sepenuhnya. Orang macam itu menerima seluruh pengalaman organisme tampa merasakan ancaman atau kecemasa. Ia mampu berfikir secara realitis. Inkongruensi antara diri dan organisme menyebabkan individu-individu merasa terancam dan cemas. Mereka bertingkah laku serba defensif dan cara berfikir mereka menjadi sempit dan kaku.
            Dalam teori Rogers secara implisit terdapat dua manifestasi lain dari kongruensi-inkongruensi. Pertama adalah kongruensi atau inkongruensi antar kenyataan subjektif (medan fenomenal) dan kenyataan luar (dunia sebagaimana adanya).  Kedua adalah tingkat kesesuaian antar diri dan diri idea. Apabila perbedaan antara diri dan diri ideal adalah besar, maka oarng merasa tidak puas dan tidak dapat menyesuaikan diri.
            Bagaimana inkongruensi itu terjadi dan bagaimana diri dan organisme dapat dibuat lebih kongruen merupakan keprihatiana utama Rogers, dan untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang sangat penting inilah maka ia telah mencurahkan begitu banyak kehidupan profesionalnya. Bagaimana ia menjawab pertanyaan-pertanyaan ini akan dibicarakan pada bagian tentang perkembangan kepribadian (untuk versi lain tentang kontruk-kontruk stuktural dari teori Rogers, lihat krause, 1964).
Sumber:
Calvin s. Hall & Gardner Lindzey. (1993). Psikologi Kepribadian 2, Teori-teori Holistik (Organismik-Fenomenologis). Yogyakarta: Penerbit Kanisius
III. TEORI ABRAHAM MASLOW
 (HIRARKI KEBUTUHAN MANUSIA   >>AKTUALISASI   DIRI)
            Abraham Maslow dalam banyak tulisan [ khususnya lihat Motivation and personality ( 1954, edisi yang direvisi, 1970), Toward a phsychology of being (1968a), dan the farther reaches of human nature (1971) ] mendukung segi pandangan dinamik, holistik yang banyak kesamaan dengan pandangan Goldtein dan angyal, temaN-teman sekerjanya di Universitas Brandeis. Maslow beranggapan bahwa pendiriannya tergolong dalam bidan psikologi humanistik yang luas   yang disebutnya sebagai “mazhab ketiga” dalam spikologi amerika, dua yang lain nya adalah behaviorisme spikoanalisis.
            Maslow dilahirkan di Brooklyn, New york, pada tanggal 1 April 1908. Semua gelarnya diperoleh di Universitas Wisconsin, tempat ia meneliti tingkah laku ker. Selama 14 tahun (1937 – 1951) ia menjadi staf pengajar brooklyn College. Pada tahun 1951, Maslow pergi ke Universitas Brandeis di mana ia tinggal sampai tahun 1969, ketika ianmenjadi anggota tetap pada Laughlin Foundation di Menlo Park, California. Maslow menderita serangan jantun yang menyebabkan kematiannya pada tanggal 8 juni, tahun 1970.
            Sejak kematiannya, sejumlah buku tentang hidup dan karyanya di terbitkan. Diantaranya adalah sebuah buku kenangan yang berisi kata-kata pujian, beberapa catatan Maslow yang tidak diterbitkan, dan sebuah bibliografi lengkap dari tulisan-tulisannya (B.G. Maslow, 1972) dan sebuah potret intelektual yang di kemukakan oleh pembantu dekatnya (Lowry, 1972a). Lowry (1973b) juga telah menyusun menjadi satu buku, makalah-makalah lepas yang di tulis oleh Maslow. Buku-buku lain tentang Maslow telah ditulis oleh Goble(1970) dan Wilson (1972).
            Kami memilih beberapa segi khusus dari pandangan-pandangan Maslow mengenai kepribadian untuk d bawah. Penting untuk di perhatikan bahwa tidak seperti Goldtein dan Angyal yang meletakan dasar pandangan merekan pada penelitian tentang orang-orang yang mendapat cedera otak dan gangguan jiwa, Maslow menggunakan hasil-hasil penelitian nya tentang orang yang sehat dan kreatif untuk sampai pada perumusan-perumusan tertentu tentang kepribadian.
             
Karena kepribadian berkembang melalui pematangan dalam lingkungan yang menunjang dan usaha-usaha aktif pada pribadi untuk merealisasikaan kodratnya, maka daya-daya kreatif dalam manusia menyatakan dirinya dengan lebih  jelas lagi. Apa bila manusia menderita atau neurotik, maka hali itu di sebabkan karena lingkungan menyebabkan demikian lewat ketidaktauan dan patologi sosial, atau karena mereka telah mendistorsikan pikiran mereka.  Maslow juga berpendapat banyak orang takut akan dan megundurkan diri dari menjadi manusia sepenuhnya. (diri yang teraktualisasikan).  Sifat destruktif dan kekerasan, misalnya, bukan sifat asli manusia. Manusia menjadi destruktif kodrat batinya di belokan, atau disangkal atau dikecewakan.  Maslow (1968b) membedakan kekerasan patologi dan agresi sehat melawan ketidakadilan, prasangka, dan penyakit-penyakit sosial lainnya.
Maslow (1967a) telah mengemukakan suatu teori tentang motivasi manusia yang membedakan antara kebutuhan-kebutuhan dasar (basic needs) dan metakebutuhan-metakebutuhan (metaneeds). Kebutuhan-kebutuhan dasr meliputi lapar, kasih sayang (afeksi), rasa aman, harga diri, dan sebagainya. Metakebutuhan-metakebutuhan meliputi kadilan, kebaikan, keindahan, keteraturan, kesatua, dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan dasar adalah kebutuhan-kebutuhan akibat kekurangan, sedangkan metakebutuhan-metakebutuhan kebutuhan untuk pertumbuhan. Kebutuhan-kebuthan dasar pada umumnya  aneh lebih kuat dari pada metakebutuhan-metakebutuhan dan terssusun secara hirarki kebutuhan-kebutuhan itu sama kuat  dan agak mudah dapat disubstitusikan  satu sama lain. Meta kebutuhan-meta kebutuhan adalah instingtif atau melekat pada manusia seperti kebutuhan-kebutuhan dasar, dan apabila metakebutuhan-metakebutuhan tidak dipenuhi maka orang tersebut dapat menjadi sakit . Metapatologi-metapatologi ini meliputi keadaan-keadaan  seperti alienasi, penderitaan, apati, sinisme.
Maslow yakin bahwa apabila para psikologi hanya mempelajari orang-orang yang lumpuh, kerdil, neurotik maka mereka hanya menghasilkan suatu psikologi yang lumpuh. Untuk mengembangkan suatu ilmu pengetahuan yang lebih lengkap dan luas. Tentang manusia maka para psikolog harus juga mempelajari orang-orang yang telah merealisasikan potensi-potensinya sampai sepenuh-penuhnya. Inilah yang dilakukan Maslow;  ia telah mengadakan penelitian yang intensifdan luas tentang sekelompok orang yang telah mengaktualisasikan-diri. Mereka adalah orang-orang langka sebagaimana didapati Maslow ketika ia mengumpulkan kelompok penelitinya ini. Setelah menemukan orang-orang yang cocok, beberapa di antarang tokoh-tokoh historis seperti Lincoln, Jefferson, Walt Whitman, Thoreau, dan Beethoven, sedangkan tokoh-tokoh lainnya masih hidup pada waktu di teliti, seperti Eleanor Roosevelt, Einstein, dan teman-temanserta kenalan-kenalan peneliti, maka mereka diteliti secara klinis untuk menemukan sifat-sifat man yang menbedakan mereka dari orang-orang biasa. Ternyata inilah ciri-ciri khas mereka :
(1) Mereka berorientasi secara realistik.
(2) Mereka menerima diri mereka sendiri, orang-orang lain, dunia kodrati seperti apa adanya.
(3) Mereka sangat spontan.
(4). Mereka memusatkan diri pada maslah bukan pada diri mereka sendiri.
(5) Mereka mapu membuat jarak dan memiliki kebutuhan akan privasi.
(6) Mereka adalah otonom dan independen atau berdiri sendiri.
(7) Apresiasi mereka terhadap orang-orang dan benda-benda adalah segar, bukan penuh prasangka.
(8) Kebanyakan diantara mereka memiliki pengalaman mistik atau spiritual yang dalam, meskipun  tidak bersifat religius.
(10) Hubungan mereka yang akrab dengan beberapa orang yang di cintai secara khas cendrung mendalam serta sangat emosional, tidak dangkal.
(11) Nilai dan sikap mereka adalah demokratik.
(12) Mereka tidak mencampurkan antara sarana dan tujuan.
(13) Perasaan humor mereka lebih bersifat filosofis dan bukan perasaan humor yang menimbulkan    permusuhan.
(14) Mereka sangat kreatif .
(15) Mereka menentang konformitas terhadap kebudayaan.
(16) Mereka mengatasi lingkungan bukan hanya mengahadapinya.
Maslow juga memiliki sifat dari apa yang disebut “Pengalaman-pengalaman puncak” (peak experiences). Laporan-laporan diperoleh dari jawaban atas permintaan untuk memikirkan pengalaman-pengalaman yang sangat indah dalam kehidupan seseorang. Ditemukan bahwa orang-orang yang mengalami pengalaman-pengalam puncak merasa lebih terintegrasi, lebih bersatu dengan dunia, lebih menjadi raja atas diri mereka sendiri, lebih spontan, kurang menyadari ruang dan waktu, lebih cepat dan mudah mencerap sesuatu dan sebagainya (1968a, Bab 6 dan 7).
Maslow (1966) bersikap kritis terhadap ilmu pengetahuan. Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan mekanistik klasik, seperti dikemukakan behaviorsme, tidak cocok untuk mempelajari seluruh pribadi. Ia menganjurkan suatu ilmu pengetahuan humanistik bukan sebagai alternatif untuk ilmu pengetahuan yang mekanistik, melainkan sebagai pelengkapnya. Ilmu pengetahuan humanistik semacam itu akan menggeluti pertanyaan-pertanyaan tentang nilai, individualitas, kesadaran, tujuan, etika, dan “jangkauan-jangkauan yang lebih tinggidari kodrat manusia”.
Kelihatannay sumbangan yang khas dari Maslow bagi sei pandangan organismik terletak pada perhatiaannya terhadap orang-orang yang sehat bukan orang-orang yang sakit,  dan pendapatnya bahwa penelitian-penelitian tentang dua kelompok ini akan mengahsilkan dua macam teori yang berbeda. Baik Goidstein maupun Angyal, sebagai ahli kedokteran dan psikoterapis, telah banyak mengahadpi orang-orang yang cacat dan kacau, namunwalaupun contoh ini berat sebelah, keduanya telah membuat suatu teori yang mencakupi seluruh organisme, dan yang berlaku baik bagi orang sakit maupun orang yang sehat. Maslow telah memilih jalan yang lebih langsung dengan meneliti orang-orang  sehat yang keseluruhan dan kesatuannya jelas kelihatan. Sebagai orang-orang yang mengaktualisasikan-diri, Orang-orang yang telah diamati Maslow ini merupakan Pengejewantahaan dari teori organismik.
Sumber:
Calvin s. Hall & Gardner Lindzey. (1993). Psikologi Kepribadian 2, Teori-teori Holistik (Organismik-Fenomenologis). Yogyakarta: Penerbit Kanisius
IV. ERICH FROMM ( CIRI-CIRI KEPRIBADIAN SEHAT )
Fromm lahir pada tanggal 23 Maret, 1900, di Frankurt, Jerman. Ia merupakan anak tunggal dari orang tua Yahudi Ortodoks kelas menengah. Ayahnya, Nafhtali Fromm, adalah anak seorang rabi dan cucu dari dua orang rabi. Ibunya,Rosa Krause Fromm, adalah keponakan Ludwig Krause, seorang ahli Talmud yang terpandang. Semasa kanak-kanak, Erich mempelajari Kesaksian Lama dengan beberapa ahli ternama, orang-orang yang dianggap sebagai “humanis dengan toleransi luar biasa” (Landis & Tauber, 1971, hlm, xi). Psikologi humanistis Fromm dapat dilacak melalui ayat-ayat ini, “dengan pandangan mereka akan perdamaian alam semesta dan harmoni serta ajaran mereka bahwa adanya aspek-aspek etis dalam sejarah─bahwa bangsa-bangsa dapat berbuat benar dan salah, dan bahwa sejarah memiliki moralnya sendiri” hlm. X).
            Masa kecil Fromm jauh dari kehidupan ideal. Ia ingat bahwa ia memiliki “orang tua neurotik” dan bahwa ia “kemungkinan seorang anak neurotik yang agak di luar batas” (Evans, 1966, hlm, 56). Ia melihat ayahnya dalam keadaan gusar dan ibunya yan rentan akan depresi. Kemudian, ia tumbuh di dua dunia yang sangat berbeda, salah satunya adalah dunia Yahudi Ortodoks, yang lainnya adalah dunia kapitalis Modern. Eksistensi terpisah itu menciptakan ketegangan yang hampir tak tertahankan lagi, namun mengakibatkan Fromm memiliki kecenderungan untuk melihat peristiwa lebih dari satu sudut pandang (Fromm, 1986; Hausdorff, 1972).
            Pembukaan bab ini menceritakan peristiwa mengejutkan dan membingungkan tentang seorang seniman wanita muda yang menarik yang bunuh diri sehingga ia dapat dikubur bersama ayahnya, yang baru saja meninggal dunia. Bagaimana mungkin wanita muda ini memilih kematian daripada “menikmati kehidupan dan melukis”? (Fromm, 1962, hlm, 4). Pertanyaan ini menghantui Fromm selama sepuluh tahun beriKutnya dan akhirnya membuat tertarik akan Sigmund Freud serta Psikoanalisis. Dengan membaca Freud, ia mulai mempelajari Oedipus Complex dan mengerti bahwa peristiwa bunuh diri tersebut mungkin saja terjadi. Kemudian, Fromm mengartikan ketergantungan irasional akan ayahnya tersebut sebagai hubungan simbiosis nonproduktif, namun pada awalnya ia puas dengan penjelasan Freud.
            Fromm berusia empat belas tahun pada saat pecahnya Perang Dunia I. Ia terlalu muda untuk ikut berjuang, namun tidak terlalu muda untuk terkesan pada irasionalitas nasionalisme bangsa jerman yang ia amati langsung. Ia yakin Inggris dan Prancis juga bertindak irasional dan sekali lagi ia dilanda oleh pertanyaan yang pelik: Bagaimana mungkn orang-orang yang biasanya berlaku rasional dan damai menjadi sangat tergerak oleh ideologi nasional, sangat berniat untuk membunuh, dan sangat siap untuk mati? “Ketika perang berakhir pada tahun 1918, saya adlah seoarang anak muda yang sangat terganggu dan terobsesi dengan pertanyaan bagaimana mungkin terjadi perang, dengan keinginan untuk mengerti irasionalitas tingkah laku manusia secara massal, dengan keinginan mendalam akan perdamaian dan saling pengertian dalam dunia Internasional” (Fromm, 1962, hlm, 9).
            Semasa remaja, Fromm sangat tergerak oleh tulisan Freud dan Karl Marx, namun ia juga terstimulasi oleh perbedaan di antara keduanya. Semakin ia mempelajarinya, ia mulai mempertanyakan validitas kedua sistem tertsebut. “Ketertarikan utama saya jelas terencana secara terperinci. Saya ingin mengerti hukum yang mengatur kehidupan manusia individu dan hukum masyarakat” (Fromm, 1962, hlm, 9).
            Setelah perang Fromm, menjadi seoarang sosialis, walaupun pada saat itu ia tidak mau bergabung dengan partai sosialis. Melainkan, ia berkonsentrasi pada sekolahnya di bidang psikologi, filosofi, dan sosiologi di Universitas Heidelberg di mana ia menerima  gelar Ph.D. dalam ilmu sosiologi saat berusia 22 atau 25 tahun. [Fromm adalah orang yang sangat tertutup sehingga penulis biografinya tisak dapat mencocokkan banyak fakta dalam hidupnya (Hornstein, 2000).]
            Oleh karena ia masih belum percaya diri bahwa pendidikannya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang begitu mengganggu, seperti kasus bunuh diri wanita muda dan kegilaan perang, maka Fromm beralih ke psikoanalis. Ia percaya bahwa psikoanalis menjanjikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaannya tentang motivasi manusia yang tak terjawab di bidang-bidang lain. Dari tahun 1925 sampai 1930, ia mempelajari psikoanalisis, pertama di Munich lalu di Farnkurt dan akhirnya di Berlin Psychoanalytic Institute, di mana ai dianalisis oleh Hanns Sachs, seorang murid Freud. Walaupun Fromm tidak pernah bertemu Freud, sebagian besar gurunya selama bertahun-tahun tersebut adalah pendukung setia teori Freud (Knapp, 1989).
            Pada tahun 1926, tahun yang sama di mana ia keluar dari agama Yahudi Ortodoks, Fromm menikahi Frieda Reichmann (analisanya) yang berusia lebih tua sepuluh tahun darinya. Di kemudian hari, Reichmann memperoleh reputasi internasional untuk hasil kerjanya dengan pasie-pasien skizoprenia. G. P. Knapp (1989) menyatakan bahwa Reichmann jelas figur seorang ibu bagi Fromm dan bahkan secara fisik pun mirip dengan ibunya. Gail Hornstein (2000) menambahkan bahwa Fromm tampak langsung beralih menjadi kesayangan ibunya ke hubungan-hubungan dengan beberapa wanita lebih tua yang menyayanginya. Bagaimanapun, pernikahan Fromm dan istrinya bukan pernikahan yang bahagia. Mereka berpisah pada tahu 1930, namun tidak langsung bercerai sampai tidak lama kemudian, setelah keduanya berhijrah ke Amerika Serikat.
            Pada tahun 1930, Fromm dan beberapa orang lainnya mendirikan South German Institute For Psychoanalytic di Frankurt. Akan tetapi, dengan ancaman Nazi yang semakin kuat, ia segera pindah ke Swiss di mana ia bergabung dengan International Institute of Social Research di Jenewa. Pada tahun 1933, ia menerima undangan untuk mengajar kuliah di Chicago Psychoanalytic Institute. Pada tahun berikutnya, ia hijrah ke Amerika Serikat dan membuka parktik pribadi di kota New York.
            Di Chicago dan New York, Fromm berteman dengan Karen Horney, yang ia kenal di Berlin Psychoanalytic Institute. Horney yang berusia lebih tua lima belas tahun dari Fromm, akhirnya menjadi figur ibu yang kuat dan guru baginya (Knapp, 1989). Pada tahun 1941, Fromm bergabung dengan Asosiasi untuk Perkembangan Psikoanalisis (Association for Advancement of Psychoanalisis-AAP). Walaupun ia dan Horney pernah menjadi sepasang kekasih, mereka menjadi lawan ketika terjadi perpecahan dalam asosiasi pada tahun 1943. Ketika para mahasiswa meminta Fromm, yang tidak bergelar MD, untuk mengajar mata kuliah klinis, organisasi terpecah ketika memutuskan kualifikasinya.
            Dengan Horney di sisi lawan, Fromm bersama Harry Stack Sullivan, Clara Tompson,  dan beberapa anggota lainnya berhenti dari asosiasi dan segera berencana untuk memulai organisasi alternatif (Quinn, 1987). Pada tahun 1946, kelompok orang-orang ini mendirikan William Alanson White Institute of Psychiatry, Psychoanalysis, and Psychology dengan Fromm sebagai dekan fakultas dan ketua komite pelatihan.
            Pada tahun 1944, Fromm menikahi Henny Gurland, seorang wanita yang dua tahun lebih muda darinya dan memiliki minat terhadap agama dan pikiran mistis yang kemudian pindah mendorong hasrat Fromm akan Budhisme Zen lebih jauh. Pada tahun 1951, pasangan ini pindah ke Meksiko, untuk iklim yang lebih bersahabat, demi Gurland yang menderita radang sendi (rheumatoid arthtritis). Fromm kemudian bekerja di National Autonomous University, Mexico City di mana ia mendirikan departemen psikoanalisis di sekolah kedokteran. Setelah istrinya meninggal pada tahun 1952, ia terus tinggal di Meksiko dan pulang pergi antar rumahnya di Cuernavaca dan Amerika Serikat, di mana ia memegang berbagai posisi akademis, termasuk Profesor psikologi di Michigan State University dari tahun 1957 sampai 1961 dan Profesor pembantu di New York University dari tahun 1962 sampai 1970. Di Meksiko dia bertemu Annis Freeman yang ia nikahi pada tahun 1953. Pada tahun 1968, Fromm menderita serangan jantung akut dan terpaksa mengurangi kesibukkannya. Di tahun 1974, dalam keadaan masih sakit, ia dan istrinya pindah ke Muralto, Swiss di mana ia meninggal dunia pada tanggal 18 Maret 1980, beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke 80.
            Dalam teori Fromm, kepribadian tercermin pada orientasi karakter seseorang, yaitu cara relatif manusia yang permansn untuk berhubungan dengan orang atau hal lain. Formm (1947) mendefinisikan kepribadian sebagai “keseluruhan kualitas psikis yang warisi dan di peroleh yang merupakan karakteristikindividu dan menjadikannya individu yang unik”. Kualitas yang diperoleh dan yang terpenting bagi kepribadian adalah karakter, yang didefinisikan sebagai ”sistem yang relatif permanen dari semua dorongan nonistingtif di mana melalui manusia menghubungkan dirinya dengan dunia manusia dan alam” (Fromm,1973, hlm.226). Fromm (1992) percaya bahwa karakter adalah pengganti kurangnya insting. Bukannya bertindak sesuai insting, manusia malah bertindak menurut karakter mereka. Apabila mereka harus berhenti dan memikirkan akibat dari perilaku mereka, maka tindakan mereka akan menjadi tidak efisien dan tidak konsisten.
Sumber:
Jess Feist, Gregory J. Feist. (2011). Teori Kepribadian, Edisi 7, Buku 1. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika
Tulisan 2
PENGERTIAN STRESS
I.          ARTI PENTING STRESS
Terjadinya stres tergantung pada stresor dan tanggapan seseorang terhadap stresor tersebut. Stresor meliputi berbagai hal. Lingkungan fisik bisa menjadi sumber stresor, seperti suhu yang terlalu panas atau dingin, perubahan cuaca, cahaya yang terlalu terang/ gelap, suara yang terlalu bising dan polusi merupakan sumber-sumber potensial yang bisa menjadi stresor. Kepadatan juga bisa mengakibatkan stres. Penduduk yang tinggal di kampung-kampung yang kumuh yang biasanya harus membagi ruang geraknya dengan banyak orang lain,cenderung lebih mudah meledak dibanding dengan penduduk yang tinggal di area yang kurang padat.
Stresor bisa berasal dari individu sendiri. Konflik yang berhubungan dengan peran dan tuntutan tanggung jawab yang dirasakan berat bisa membuat seseorang menjadi tegang. Stresor yang lain berasal dari kelompok seperti :  hubungan dengan teman, hubungan dengan atasan, dan hubungan dengan bawahan. Terakhir, stresor bisa bersumber dari keorganisasian seperti kebijakan yang diambil perusahaan, struktur organisasi yang tidak sesuai, dan partisipasi para anggota yang rendah.
Selain itu tanggapan individu turut memengaruhi apakah suatu sumber stres/stresor itu menjadi stres atau tidak. Stresor yang sama bisa berakibat berbeda pada individu yang berbeda karena adanya perbedaan tanggapan antar individu (individual differences). Perbedaan individu meliputi tingkat usia, jenis kelamin, pendidikan, kesehatan fisik, kepribadian, harga diri, toleransi terhadap kedwiartian, dan lain-lain.Usia berhubungan dengan toleransi seseorang terhadap stres dan jenis stresor yang paling mengganggu. Usia dewasa biasanya lebih mampu mengontrol stres dibanding dengan usia anak-anak dan usia lanjut. Dengan kata lain, orang dewasa biasanya mempunyai toleransi terhadap stresor yang lebih baik.
Wanita biasanya mempunyai daya tahan yang lebih baik terhadap stresor dibanding dengan prig. Secara biologis tubuh wanita lebih lentur dibanding prig sehingga toleransinya terhadap stres lebih baik. Terlebih bila wanita tersebut masih pada usia-usia produktif di mana hormon¬hormon masih bekeda normal.Tingkat pendidikan juga memengaruhi seseorang mudah terkena stres atau tidak. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, toleransi dan pengontrolan terhadap stresor biasanya lebih baik.Tingkat kesehatan seseorang juga memengaruhi mudah tidaknya terkena stres. Orang yang sakit lebih mudah menderita akibat stres dibanding orang yang sehat.
Faktor kepribadian menentukan mudah tidaknya seseorang terkena stres. Orang tipe A cenderung akan lebih mudah terkena penyakit jantung daripada kepribadian tipe B. Harga diri yang rendah juga cenderung membuat efek stres lebih besar dibanding orang yang mempunyai harga diri tinggi.Toleransi terhadap sesuatu yang bersifat Samar juga uga menentukan mudah tidaknya seseorang terkena stres. Orang yang kaku dan memandang segala sesuatu sebagai hitam dan putih biasanya lebih mudah terkena stres dari pada orang yang bisa menerima adanya warna abu-abu dalam kdildupan.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
I.A.      Efek-efek Stress Sindrom Adaptasi Umum (General Adaptation Syndrom)
Teori Sindrom Adaptasi Umum ini dikenalkan oleh Hans Selye. Meskipun teorinya bersifat umum, tapi teori ini cukup membantu untuk memahami reaksi individu terhadap stres. Selye berpendapat bahwa tubuh bereaksi secara sama ketika menghadapi stres, tidak peduli apapun jenis stresornya. Jadi dengan kata lain reaksi pertahanan fisiologis yang dilakukan oleh tubuh ketika menghadapi stresor merupakan pola-pola reaksi yang universal/sama pada setiap orang. Reaksi pertahanan fisiologis ini bertujuan untuk melindungi organisme dan menjaga integritasnya supaya organisme tersebut tetap survive. Asumsi kedua yang dikemukakannya, bila stres berlangsung dalam jangka waktu yang lama sehingga reaksi pertahanan fisiologis juga berangsung dalam waktu yang lama dan bahkan mengalami peningkatan, maka ini akan mengakibatkan terjadinya "penyakit adaptasi", yaitu penyakit/ gangguan yang terjadi sebagai akibat/ harga dari adaptasi yang dilakukan terhadap stres yang berkepanjangan tersebut.
Selanjutnya dijelaskan bahwa tubuh memiliki tingkat resistensi normal, yaitu tingkat resistensi ketika tubuh dalam kondisi biasa (tidak menghadapi stres). Pada saat menghadapi stres, tingkat resistensi ini mengalami perubahan dengan tujuan agar mampu beradaptasi dengan stress yang dialami. Reaksi tubuh terhadap stres bisa dibagi menjadi tiga fase. Fase pertama adalah fase ketika tubuh memberikan reaksi mula-mula ketika terkena stres. Pada tahap awal terjadinya stres ini tubuh mengalami perubahan-perubahan fisiologis sehingga tingkat resistensinya dibawah bawah tingkat normal. Akibatnya individu merasakan gejala-gejala seperti degup jantung yang semakin cepat, Papas yang memburu, keringat dingin, dan sebagainya. Tahap awal ini disebut sebagai fase alarm, fase peringatan bahwa ada stres yang perlu ditangani. Pada tahap ini bila stresomya terlalu kuat (seperti kebakaran berat atau suhu yang terlalu ekstrim, sehingga banyak simpul-simpul saraf receptor yang bereaksi, meskipun kerusakan yang dialami tidak parah) individunya bisa mengalami kematian. Ini disebabkan karena tingkat resistensi individu tersebut memang sedang menurun.
Bila stres berlangsung terus menerus karena stresornya tetap eksis, maka tingkat resistensi tubuh akan mengalami peningkatan di atas tingkat yang normal dengan tujuan untuk melakukan adaptasi terhadap stresor tersebut sehingga individunya bisa berfungsi dengan optimal. Pada tahap ini tanda-tanda ketubuhan (alarm) pada tubuh menghilang karena individunya sudah berhasil melakukan "adaptasi" terhadap stresor. Fase ini disebut fase resistensi. Orang sudah merasa normal kembali meskipun stresnya sebenarya masih ada, namun energi yang dikeluarkan lebih tinggi dari biasanya sehingga tubuh sebenarnya bekerja lebih keras.
Bila stres masih terus berlanjut sehingga tubuh masih terus diminta untuk menyesuaikan diri dengan stresornya, maka pada satu titik tertentu energi yang digunakan tubuh untuk penyesuaian tersebut akan mulai habis. Pada saat ini tingkat resistensi tubuh akhirnya mau tidak mau akan menurun sampai di bawah normal kembali. Fase ini disebut sebagai fase kelelahan. Pada saat ini tanda-tanda ketubuhan seperti pada fase alarm mulai muncul kembali, tetapi karena energi yang digunakan sudah habis, tubuh tidak dapat lagi melakukan adaptasi. Berbagai macam gangguan baik secara fisik maupun psikologis terjadi, menurut teori ini pada dasarnya karena individu yang mengalaminya sudah sampai pada fase ketika ini. Bila stresnya masih terus berlangsung, maka gangguan akan semakin parah dan pada akhimya individu yang bersangkutan akan mengalami kematian.
Perlu diperhatikan, bahwa stresor tidak harus berupa situasi atau sesuatu yang nyata/ril. Stresor juga bisa teriadi secara subjektif berupa pikiran-pikiran/imajinasi-imajinasi. Misalnya, orang yang membayangkan dia akan dimarahi oleh atasannya, sudah mengalami stres, meskipun kejadian aktualnya tidak/belum ada.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI

II.        TIPE-TIPE STRESS
Frustrasi terjadi bila antara harapan yang diinginkan dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai. Putus pacar, perceraian, masalah yang tidak kunjung selesai adalah contoh lain peristiwa yang bisa memunculkan Frustrasi.
Frustrasi juga terjadi bila tujuan yang ingin dicapai mendapatkan rintangan (Atkinson, dkk., 1991). Anda ingin cepat tidur karena badan terasa sangat capai setelah seharian kendaraan Anda mogok sehingga Anda harus membawanya ke bengkel dan rencana yang sudah disusun menjadi berantakan. Setiba di rumah ternyata kondisi rumah tidak seperti yang Anda bayangkan. Anak-anak yang masih kecil mengajak Anda untuk bermain. Ketika Anda melihat istri, istri juga tampaknya sudah bosan bermain dengan anak karena sepanjang hari dia sudah menjagai mereka. Anda mengatakan ingin istirahat, namun. anak-anak yang masih kecil tidak peduli, mereka tidak mengerti kelelahan Anda. Mereka berlari-lari, berteriak-teriak sambil berkejar-kejaran. Anda yang tadinya menginginkan suasana senang menjadi naik pitam. Tiba-tiba Anda membentak anak Anda supaya bermain dengan tenang. Rupanya anak Anda tidak mau mengerti, mereka malah membalas bentakan Anda dengan semakin keras berteriak-teriak. Anda menjadi semakin marah dan sekarang Anda menghampiri anak Anda dan kemudian memukul pantatnya. Anda mengalami frustrasi. Pada contoh terakhir, frustrasi yang Anda alami melahirkan reaksi kemarahan dan akhimya berbuntut tindakan agresi (memukul anak). Tindakan agresi diambil bila individu merasa lebih kuat dari lawannya. Sebaliknya bila individu merasa lebih lemah, maka biasanya tindakan yang diambil ketika terjadi frustrasi adalah menghindar atau melarikan diri.
Frustrasi memiliki dua sisi, yang pertama adalah fakta tidak tercapainya harapan yang diinginkan. Sisi kedua adalah perasaan dan emosi Yang menyertai fakta tersebut. Pada contoh di atas adalah fakta mendapatkan nilai jelek atau dimarahi oleh bos. Perasaan dan emosi yang muncul adalah kesal, marah, dan perasaan-perasaan lainnya yang mungkin muncul. Akibat selanjutnya, bisa memunculkan gejala-gejala ketubuhan yang disebut sebagai psikosomatis. Mengenai psikosomatis ini akan dibahas pada uraian tersendiri. penting untuk dipahami bahwa Frustrasi menimbulkan stres atau tekanan. Bila tidak dikelola dengan baik maka stres atau tekanan akan berakibat merugikan bagi individu.
III.       SYMPTOM REDUCING RESPONSES STRESS
III.A.   RESPON TERHADAP STRESS (menyangkut Defense Mechanism)
Kaitan antara koping dengan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), ada ahli yang melihat defense mechanism sebagai salah satu jenis koping (Lazarus, 1976). Ahli lain melihat antara koping dan mekanisme pertahanan diri sebagai dua hal yang berbeda (Harber & Runyon, 1984 ).
Lazarus membagi koping menjadi dua jenis, yaitu:
1.      Tindakan Langsung (Direct Action)
Koping jenis ini adalah setiap usaha tingkah laku yang dijalankan oleh individu untuk mengatasi kesakitan atau luka, ancaman atau tantangan dengan cara mengubah hubungan yang bermasalah dengan lingkungan. Individu menjalankan koping jenis direct action atau tindakan langsung bila dia melakukan perubahan posisi terhadap masalah yang dialami.
Ada 4 macam koping jenis tindakan langsung :
a.         Mempersiapkan diri untuk menghadapi luka
Individu melakukan langkah aktif dan antisipatif (beraksi) untuk menghilangkan atau mengurangi bahaya dengan cara menempatkan diri secara langsung pada keadaan yang mengancam dan melakukan aksi yang sesuai dengan bahaya tersebut. Misalnya, dalam rangka menghadapi ujian, Tono lalu mempersiapkan diri dengan mulai belajar sedikit demi sedikit tiap-tiap mata kuliah yang diambilnya, sebulan sebelum ujian dimulai. Ini dia lakukan supaya prestasinya lebih baik dibanding dengan semester sebelumnya, karena dia hanya mempersiapkan diri menjelang ujian saja. Contoh dari koping jenis ini lainnya adalah imunisasi. Imunisasi merupakan tindakan yang dilakukan oleh orang tua supaya anak mereka menjadi lebih kebal terhadap kemungkinan mengalami penyakit tertentu.
b.         Agresi
Agresi adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dengan menyerang agen yang dinilai mengancam atau akan melukai. Agresi dilakukan bila individu merasa/menilai dirinya lebih kuat/berkuasa terhadap agen yang mengancam tersebut. Misalnya, tindakan penggusuran yang dilakukan oleh pemerintah Jakarta terhadap penduduk yang berada di pemukiman kumuh. Tindakan tersebut tergolong ke dalam agresi, dan tindakan tersebut bisa dilakukan karena pemerintah memiliki kekuasaan yang lebih besar dibanding dengan penduduk setempat yang digusur.
c.         Penghindaran (Avoidance)
Tindakan ini terjadi bila agen yang mengancam dinilai lebih berkuasa dan berbahaya sehingga individu memilih cara menghindari atau melarikan diri situasi yang mengancam tersebut. Misalnya, penduduk yang melarikan diri dari rumah-rumah mereka karena takut akan menjadi korban pada daerah-daerah konflik seperti di Aceh.
d.         Apati
Jenis koping ini merupakan pola orang yang putus asa. Apati dilakukan dengan cara individu yang bersangkutan tidak bergerak dan menerima begitu saja agen yang melukai dan tidak ada usaha apa-apa untuk melawan ataupun melarikan diri dari situasi yang mengancam tersebut. Misalnya, pada kerusuhan Mei Orang-orang Cina yang menjadi  korban umumnya tutup mulut, tidak melawan dan berlaku pasrah terhadap kejadian biadab yang menimpa mereka. Pola apati tejadi bila baik tindakan mempersiapkan diri menghadapi luka, agresi maupun avoidance sudah tidak memungkinkan lagi dan situasinya terjadi berulang-ulang. Dalam kasus di atas, orang-orang Cina sering kali dan berulang kali menjadi korban ketika terjadi kerusuhan sehingga menimbulkan reaksi apati di kalangan mereka.
2.         Peredaan atau Peringanan (Palliation)
Jenis koping ini mengacu pada mengurangi/ menghilangkan/ menoleransi tekanan-tekanan ketubuhan/ fisik, motorik atau gambaran afeksi dari tekanan emosi yang dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. Atau bisa diartikan bahwa bila individu menggunakan koping jenis ini, posisinya dengan masalah relatif tidak berubah, yang berubah adalah diri individu, yaitu dengan cara merubah persepsi atau reaksi emosinya.
Ada 2 macam koping jenis peredaan/palliation :
a.         Diarahkan psda Gejala (Symptom Directed Modes)
Macam koping ini digunakan bila gejala-gejala gangguan muncul dari diri individu, kemudian individu melakukan tindakan dengan cara mengurangi gangguan yang berhubungan dengan emosi-emosi yang disebabkan oleh tekanan atau ancaman tersebut. Penggunaan obat-obat terlarang, narkotika, merokok, alkohol merupakan bentuk koping dengan cara diarahkan pada gejala. Namun tidak selamanya cara ini bersifat negatif. Melakukan relaksasi, meditasi atau berdoa untuk mengatasi ketegangan juga tergolong ke dalam symptom directed modes tetapi bersifat positif.
B          .Cara Intrapsikis (Intrapsychic Modes)
Koping jenis peredaan dengan cara Intrapsikis adalah cara-cara yang menggunakan perlengkapan-perlengkapan psikologis kita, yang biasa dikenal dengan istilah Defense Mechanism (Mekanisme Pertahanan Diri ).
Macam-macam Defense Mechanism :
1.       Identifikasi
Yaitu menginternalisasi ciri-ciri yang dimiliki oleh orang lain yang berkuasa dan dianggap mengancam. Identifikasi biasanya dilakukan oleh anak terhadap orang tua mereka.
2.       Pengalihan (Displacement)
Yaitu memindahkan reaksi dari objek yang mengancam ke objek yang lain karena objek yang asli tidak ada atau berbahaya bila diagresi secara langsung. Misalnya, seorang bawahan dimarahi oleh atasannya di kantor. Bawahan tersebut kemudian memarahi istrinya di rumah karena tidak berani membantah atasannya. Istri kemudian memarahi anaknya. Ini merupakan contoh klasik dari displacement.
3.      Represi
Yaitu menghalangi impuls-impuls yang ada atau tidak bisa diterima sehingga impuls-impuls tersebut tidak dapat diekspresikan secara sadar/langsung dalam tingkah laku. Misalnya, dorongan seksual karena dianggap tabu lalu ditekan begitu saja ke dalam ketidaksadaran Dorongan tersebut lalu muncul dalam bentuk mimpi.
4.      Denial
Yaitu melakukan bloking atau menolak terhadap, kenyataan yang ada karena kenyataan yang ada dirasa mengancam integritas individu yang bersangkutan. Istri yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya secara mendadak, merasa suaminya masih hidup sehingga tiap sore dia masih membuatkan kopi untuk suaminya seperti biasanya, ini merupakan contoh dari denial. Fanatisme agama dengan menganggap agama/kepercayaan lain merupakan sesuatu yang salah, sedangkan agama/kepercayaan yang dijalani merupakan satu-satunya yang benar merupakan contoh lain mekanisme denial, karena sebenarnya individu yang fanatik tersebut merasa terancam dengan adanya keyakinan lain, yang berpotensi mengancam integritas keyakinannya sendiri.
5.      Reaksi Formasi
Yaitu dorongan yang mengancam diekspresikan dalam bentuk tingkah laku secara terbalik. Contoh klasik dari pertahanan diri jenis ini adalah orang yang sebenarnya mencintai, namun dalam tingkah laku memunculkan tindakan yang seolah-olah membenci orang yang dicintai.
6.      Proyeksi
Yaitu mengatribusikan/menerapkan dorongan - dorongan yang dimiliki pada orang lain karena dorongan-dorongan tersebut mengancam integritas. Misalnya, A mencintai B, namun karena cinta yang dirasakan itu mengancam harga dirinya, lalu A menyatakan bahwa B-lah yang mencintainya.
7.      Rasionalisasi/ Intelektualisasi
Yaitu dua gagasan yang berbeda dijaga supaya tetap terpisahkan karena bila bersama-sama akan mengancam. Misalnya semua orang sepakat bahwa kesejahteraan umat manusia hanya bisa terjadi lewat cara-cara damai, namun tidak sedikit pula orang yang mengakui hal di atas, mendukung jalan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka.
8.      Sublimasi
yaitu dorongan atau impuls yang ditransformasikan menjadi bentuk¬bentuk yang diterima secara sosial sehingga dorongan atau impuls tersebut menjadi sesuatu yang benar-henar berbeda dari dorongan atau impuls aslinya. Contoh sublimasi adalah orang yang memiliki dorongan seks yang kuat lalu menggunakan energi tersebut untuk menjadi sumber dari dorongan religiusnya, sehingga dia mengalami pengalaman mistik dan mampu bekerja bagi kemanusiaan, karena pada dasarnya religiusitas memiliki persamaan/kaitan dengan seksualitas yaitu dalam hal pengalaman penyatuan/peleburan.
Pada dasamya mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) terjadi tanpa disadari dan bersifat membohongi diri sendiri terhadap realita yang ada, baik realita yang ada di luar (fakta/kebenaran) maupun realita yang ada di dalam (dorongan/impuls/nafsu). Defense mechanism bersifat menyaring realita yang ada sehingga individu yang bersangkutan tidak bisa memahami hakekat dari keseluruhan realita yang ada. Ini membuat sebagian besar ahli menyatakan bahwa koping jenis defense mechanism merupakan koping yang tidak sehat (kecuali sublimasi). Defense mechanism yang tidak disadari, akan dapat disadari melalui refleksi diri yang terus menerus Dengan cara begitu individu bisa mengetahui jenis mekanisme pertahanan diri yang biasa dilakukan dan kemudian menggantinya dengan koping yang Iebih konstruktif.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI

III.B.   PENDEKATAN PROBLEM SOLVING
(Strategi koping yang spontan mengatasi stress)
Ada berbagai cara untuk mengatasi stres. Kalau akibat stres  telah memengaruhi fisik dan bahkan menimbulkan penyakit tertentu, peranan obat/medikasi biasanya diperlukan. Namun obat itu sendiri kurang efektif untuk mengatasi stres, dalam jangka panjang. Ada efek negatif bila menggunakan obat terus menerus. Disamping obat-obat tertentu membutuhkan biaya yang mahal, obat juga bisa mengakibatkan ketergantungai dan bahkan membuat orang tertentu kebal terhadap obat tertentu.
Beberapa teknik terapi telah dikembangkan dan dicobakan untuk mengatasi stres ini. Biofeedback adalah salah satu teknik untuk mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres dan kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang cukup rumit, gunanya sebagai feedback atau umpan balik untuk terhadap, bagian tubuh tertentu. Biofeedback agak kurang efektif untuk digunakan secara praktis.
Seringkali istirahat dan melakukan olah raga yang teratur disebut - sebut sebagai salah satu cara yang efektif untuk mencegah dan menyembuhkan stres. Memang cara hidup yang teratur membuat seseorang  tidak mudah terkena stres.
Relaksasi adalah teknik yang paling efektif untuk menyembuhkan stres. Ada berbagai teknik relaksasi, tetapi yang biasa digunakan adalah teknik relaksasi dengan mengendurkan otot-otot seluruh tubuh, kemudian pengendoran dilakukan pada bagian-bagian tubuh yang sering mengalami stres. Semakin lama berlatih teknik relaksasi, orang akan semakin peka dan semakin spontan untuk dapat merasakan bagian tubuh yang mana yang terkena stres dan semakin mudah untuk mengembalikan pada keadaan semula.
Meditasi merupakan teknik yang mulai diminati sebagai salah satu cara mengatasi stres. Selain bisa mencegah stres, meditasi juga memiliki keuntungan lain seperti konsentrasi menjadi lebih tajam dan pikiran menjadi lebih tenang.
Pencegahan terhadap stres bisa dilakukan dengan mengubah sikap hidup. Orang yang terlibat lebih aktif dengan pekerjaan dan kehidupan masyarakat, lebih berorientasi pada tantangan dan perubahan, dan merasa dapat menguasai kejadian-kejadian dalam hidupnya adalah orang yang tidak akan mudah terkena efek negatif stres
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
Tulisan 3
KOPING (COPING) STRESS
I.          PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS KOPING
Koping termasuk konsep sentral dalam memahami kesehatan mental. Koping berasal dari kata coping yang bermakna harafiah pengatasan/ penanggulangan (to cope with = mengatasi, menanggulangi). Namun karena istilah coping merupakan istilah yang sudah jamak dalam psikologi serta memiliki makna yang kaya, maka penggunaan istilah tersebut dipertahankan dan langsung diserap ke dalam bahasa Indonesia untuk membantu memahami bahwa coping (koping) tidak sesederhana makna harafiahnya saja. Koping Bering disamakan dengan adjustment (penyesuaian diri). Koping juga sering dimaknai sebagai cara untuk memecahkan masalah (problem solving). Pengertian koping memang dekat dengan kedua istilah di atas, namun sebenarnya agak berbeda. Pemahaman adjustment biasanya merujuk pada penyesuaian diri menghadapi kehidupan sehari-hari. Pemecahan masalah lebih mengarah pada proses kognitif dan persoalan yang juga bersifat kognitif. Koping itu sendiri dimaknai sebagai apa yang dilakukan oleh individu untuk menguasai situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan/ luka/ kehilangan/ ancaman. Jadi koping lebih mengarah pada yang orang lakukan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan yang penuh tekanan atau yang membangkitkan emosi. Atau dengan kata lain, koping adalah bagaimana reaksi orang ketika menghadapi stres/tekanan.
Kaitan antara koping dengan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), ada ahli yang melihat defense mechanism sebagai salah satu jenis koping (Lazarus, 1976). Ahli lain melihat antara koping dan mekanisme pertahanan diri sebagai dua hal yang berbeda (Harber & Runyon, 1984 ).
Lazarus membagi koping menjadi dua jenis, yaitu:
1.         Tindakan Langsung (Direct Action)
Koping jenis ini adalah setiap usaha tingkah laku yang dijalankan oleh individu untuk mengatasi kesakitan atau luka, ancaman atau tantangan dengan cara mengubah hubungan yang bermasalah dengan lingkungan. Individu menjalankan koping jenis direct action atau tindakan langsung bila dia melakukan perubahan posisi terhadap masalah yang dialami.
Ada 4 macam koping jenis tindakan langsung :
a.         Mempersiapkan diri untuk menghadapi luka
Individu melakukan langkah aktif dan antisipatif (beraksi) untuk menghilangkan atau mengurangi bahaya dengan cara menempatkan diri secara langsung pada keadaan yang mengancam dan melakukan aksi yang sesuai dengan bahaya tersebut. Misalnya, dalam rangka menghadapi ujian, Tono lalu mempersiapkan diri dengan mulai belajar sedikit demi sedikit tiap-tiap mata kuliah yang diambilnya, sebulan sebelum ujian dimulai. Ini dia lakukan supaya prestasinya lebih baik dibanding dengan semester sebelumnya, karena dia hanya mempersiapkan diri menjelang ujian saja. Contoh dari koping jenis ini lainnya adalah imunisasi. Imunisasi merupakan tindakan yang dilakukan oleh orang tua supaya anak mereka menjadi lebih kebal terhadap kemungkinan mengalami penyakit tertentu.
b.         Agresi
Agresi adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dengan menyerang agen yang dinilai mengancam atau akan melukai. Agresi dilakukan bila individu merasa/menilai dirinya lebih kuat/berkuasa terhadap agen yang mengancam tersebut. Misalnya, tindakan penggusuran yang dilakukan oleh pemerintah Jakarta terhadap penduduk yang berada di pemukiman kumuh. Tindakan tersebut tergolong ke dalam agresi, dan tindakan tersebut bisa dilakukan karena pemerintah memiliki kekuasaan yang lebih besar dibanding dengan penduduk setempat yang digusur.
c.         Penghindaran (Avoidance)
Tindakan ini terjadi bila agen yang mengancam dinilai lebih berkuasa dan berbahaya sehingga individu memilih cara menghindari atau melarikan diri situasi yang mengancam tersebut. Misalnya, penduduk yang melarikan diri dari rumah-rumah mereka karena takut akan menjadi korban pada daerah-daerah konflik seperti di Aceh.
d.         Apati
Jenis koping ini merupakan pola orang yang putus asa. Apati dilakukan dengan cara individu yang bersangkutan tidak bergerak dan menerima begitu saja agen yang melukai dan tidak ada usaha apa-apa untuk melawan ataupun melarikan diri dari situasi yang mengancam tersebut. Misalnya, pada kerusuhan Mei Orang-orang Cina yang menjadi  korban umumnya tutup mulut, tidak melawan dan berlaku pasrah terhadap kejadian biadab yang menimpa mereka. Pola apati tejadi bila baik tindakan mempersiapkan diri menghadapi luka, agresi maupun avoidance sudah tidak memungkinkan lagi dan situasinya terjadi berulang-ulang. Dalam kasus di atas, orang-orang Cina sering kali dan berulang kali menjadi korban ketika terjadi kerusuhan sehingga menimbulkan reaksi apati di kalangan mereka.
2.         Peredaan atau Peringanan (Palliation)
Jenis koping ini mengacu pada mengurangi/ menghilangkan/ menoleransi tekanan-tekanan ketubuhan/ fisik, motorik atau gambaran afeksi dari tekanan emosi yang dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. Atau bisa diartikan bahwa bila individu menggunakan koping jenis ini, posisinya dengan masalah relatif tidak berubah, yang berubah adalah diri individu, yaitu dengan cara merubah persepsi atau reaksi emosinya.
Ada 2 macam koping jenis peredaan/palliation :
a.         Diarahkan pada Gejala (Symptom Directed Modes)
Macam koping ini digunakan bila gejala-gejala gangguan muncul dari diri individu, kemudian individu melakukan tindakan dengan cara mengurangi gangguan yang berhubungan dengan emosi-emosi yang disebabkan oleh tekanan atau ancaman tersebut. Penggunaan obat-obat terlarang, narkotika, merokok, alkohol merupakan bentuk koping dengan cara diarahkan pada gejala. Namun tidak selamanya cara ini bersifat negatif. Melakukan relaksasi, meditasi atau berdoa untuk mengatasi ketegangan juga tergolong ke dalam symptom directed modes tetapi bersifat positif.
b.         Cara Intrapsikis (Intrapsychic Modes)
Koping jenis peredaan dengan cara Intrapsikis adalah cara-cara yang menggunakan perlengkapan-perlengkapan psikologis kita, yang biasa dikenal dengan istilah Defense Mechanism (Mekanisme Pertahanan Diri ).
Macam-macam Defense Mechanism :
1.   Identifikasi
Yaitu menginternalisasi ciri-ciri yang dimiliki oleh orang lain yang berkuasa dan dianggap mengancam. Identifikasi biasanya dilakukan oleh anak terhadap orang tua mereka.
      2.   Pengalihan (Displacement)
Yaitu memindahkan reaksi dari objek yang mengancam ke objek yang lain karena objek yang asli tidak ada atau berbahaya bila diagresi secara langsung. Misalnya, seorang bawahan dimarahi oleh atasannya di kantor. Bawahan tersebut kemudian memarahi istrinya di rumah karena tidak berani membantah atasannya. Istri kemudian memarahi anaknya. Ini merupakan contoh klasik dari displacement.
3.   Represi
Yaitu menghalangi impuls-impuls yang ada atau tidak bisa diterima sehingga impuls-impuls tersebut tidak dapat diekspresikan secara sadar/langsung dalam tingkah laku. Misalnya, dorongan seksual karena dianggap tabu lalu ditekan begitu saja ke dalam ketidaksadaran Dorongan tersebut lalu muncul dalam bentuk mimpi.
4.   Denial
Yaitu melakukan bloking atau menolak terhadap, kenyataan yang ada karena kenyataan yang ada dirasa mengancam integritas individu yang bersangkutan. Istri yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya secara mendadak, merasa suaminya masih hidup sehingga tiap sore dia masih membuatkan kopi untuk suaminya seperti biasanya, ini merupakan contoh dari denial. Fanatisme agama dengan menganggap agama/kepercayaan lain merupakan sesuatu yang salah, sedangkan agama/kepercayaan yang dijalani merupakan satu-satunya yang benar merupakan contoh lain mekanisme denial, karena sebenarnya individu yang fanatik tersebut merasa terancam dengan adanya keyakinan lain, yang berpotensi mengancam integritas keyakinannya sendiri.
5.   Reaksi Formasi
Yaitu dorongan yang mengancam diekspresikan dalam bentuk tingkah laku secara terbalik. Contoh klasik dari pertahanan diri jenis ini adalah orang yang sebenarnya mencintai, namun dalam tingkah laku memunculkan tindakan yang seolah-olah membenci orang yang dicintai.
6.   Proyeksi
Yaitu mengatribusikan/menerapkan dorongan - dorongan yang dimiliki pada orang lain karena dorongan-dorongan tersebut mengancam integritas. Misalnya, A mencintai B, namun karena cinta yang dirasakan itu mengancam harga dirinya, lalu A menyatakan bahwa B-lah yang mencintainya.
7.   Rasionalisasi/ Intelektualisasi
Yaitu dua gagasan yang berbeda dijaga supaya tetap terpisahkan karena bila bersama-sama akan mengancam. Misalnya semua orang sepakat bahwa kesejahteraan umat manusia hanya bisa terjadi lewat cara-cara damai, namun tidak sedikit pula orang yang mengakui hal di atas, mendukung jalan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka.
8.   Sublimasi
yaitu dorongan atau impuls yang ditransformasikan menjadi bentuk¬bentuk yang diterima secara sosial sehingga dorongan atau impuls tersebut menjadi sesuatu yang benar-henar berbeda dari dorongan atau impuls aslinya. Contoh sublimasi adalah orang yang memiliki dorongan seks yang kuat lalu menggunakan energi tersebut untuk menjadi sumber dari dorongan religiusnya, sehingga dia mengalami pengalaman mistik dan mampu bekerja bagi kemanusiaan, karena pada dasarnya religiusitas memiliki persamaan/kaitan dengan seksualitas yaitu dalam hal pengalaman penyatuan/peleburan.
Pada dasamya mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) terjadi tanpa disadari dan bersifat membohongi diri sendiri terhadap realita yang ada, baik realita yang ada di luar (fakta/kebenaran) maupun realita yang ada di dalam (dorongan/impuls/nafsu). Defense mechanism bersifat menyaring realita yang ada sehingga individu yang bersangkutan tidak bisa memahami hakekat dari keseluruhan realita yang ada. Ini membuat sebagian besar ahli menyatakan bahwa koping jenis defense mechanism merupakan koping yang tidak sehat (kecuali sublimasi). Defense mechanism yang tidak disadari, akan dapat disadari melalui refleksi diri yang terus menerus Dengan cara begitu individu bisa mengetahui jenis mekanisme pertahanan diri yang biasa dilakukan dan kemudian menggantinya dengan koping yang Iebih konstruktif.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
II.        JENIS-JENIS KOPING YANG KONSTRUKTIF POSITIF (SEHAT)
Harber & Runyon (1984) menyebutkan jenis jenis koping yang dianggap konstruktif, yaitu:
1.      Penalaran (Reasoning)
Yaitu penggunaan kemampuan kognitif untuk mengeksplorasi berbagai macam altenatif pemecahan masalah dan kemudian memilih salah satu alternatif yang dianggap paling menguntungkan. Individu secara sadar mengumpulkan berbagai informasi yang relevan berkaitan dengan persoalan yang dihadapi, kemudian membuat alternatif-alternatif pemecahannya, kemudian memilih alternatif yang paling menguntungkan dimana resiko kerugiannya paling kecil dan keuntungan yang diperoleh paling besar.
2.      Objektifitas
Yaitu kemampuan untuk membedakan antara komponen-komponen emosional dan logis dalam pemikiran, penalaran maupun tingkah laku. Kemampuan ini juga meliputi kemampuan untuk membedakan antara pikiran-pikiran yang berhubungan dengan persoalan dengan yang tidak berkaitan. Kemampuan untuk melakukan koping jenis objektifitas mensyaratkan individu yang bersangkutan memiliki kemampuan untuk mengelola emosinya sehingga individu mampu memilah dan membuat keputusan yang tidak semata didasari oleh pengaruh emosi.
3.      Konsentrasi
Yaitu kemampuan untuk memusatkan perhatian secara penuh pada persoalan yang sedang dihadapi. Konsentrasi memungkinkan individu untuk terhindar dari pikiran-pikiran yang mengganggu ketika berusaha untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi. Pada kenyataanya, justru banyak individu yang tidak mampu berkonsentrasi ketika menghadapi tekanan. Perhatian mereka malah terpecah-pecah dalam berbagai arus pemikiran yang justru membuat persoalan menjadi semakin kabur dan tidak terarah.
4.      Humor
Yaitu kemampuan untuk melihat segi yang lucu dari persoalan yang sedang dihadapi, sehingga perspektif persoalan tersebut menjadi lebih lugas, terang dan tidak dirasa sebagai menekan lagi ketika dihadapi dengan humor. Humor memungkinkan individu yang bersangkutan untuk memandang persoalan dari sudut manusiawinya, sehingga persoalan diartikan secara baru, yaitu sebagai persoalan yang biasa, wajar dan dialami oleh orang lain juga.
5.      Supresi
Yaitu kemampuan untuk menekan reaksi yang mendadak terhadap situasi yang ada sehingga memberikan cukup waktu untuk lebih menyadari dan memberikan reaksi yang lebih konstruktif. Koping supresi juga mengandaikan individu memiliki kemampuan untuk mengelola emosi sehingga pada saat tekanan muncul, pikiran sadarnya tetap bisa melakukan kontrol secara baik. Berhitung satu sampai sepuluh ketika mulai merasakan emosi marah, sehingga kepala menjadi dingin kembali sehingga mampu memikirkan alternatif tindakan yang lebih baik, merupakan contoh supresi.
6.      Toleransi terhadap Kedwiartian atau Ambiguitas
Yaitu kemampuan untuk memahami bahwa banyak hal dalam kehidupan yang bersifat tidak jelas dan oleh karenanya perlu memberikan ruang bagi ketidakjelasan tersebut. Kemampuan melakukan toleransi mengandaikan individu sudah memiliki perspektif hidup yang matang, luas dan memiliki rasa aman yang cukup.
7.      Empati
Yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu dari pandangan orang lain. Empati juga mencakup kemampuan untuk menghayati dan merasakan apa yang dihayati dan dirasakan oleh orang lain. Kemampuan empati ini memungkinkan individu mampu memperluas dirinya dan menghayati perspektif pengalaman orang lain sehingga individu yang bersangkutan menjadi semakin kaya dalam kehidupan batinnya.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI

PERTEMUAN III Tanggal 6 Mei 2013
TULISAN I
PENYESUAIAN DIRI & PERTUMBUHAN
A.PENGERTIAN & KONSEP DIRI
            Penyesuaian diri alih bahasa dari adjusmen, yang dilakukan manusia sepanjang hayat. Karena pada dasarnya manusia ingin mempertahankan eksistensinya, sejak lahir berusaha memenuhi kebutuhannya yaitu kebutuhan fisik, psikis dan sosial. Pemenuhan kebutuhan itu karena adanya dorongan-dorongan yang mengharapkan pemuasan. Bila pemuasan tercapai individu tersebut memperoleh keseimbangan. Sejak kecil individu belajar bertingkah laku, tingkah laku yang berhasil dalam memenuhi kebutuhannya berarti dapat menyesuaikan diri dan mengalami keseimbangan. Sebagaimana dikemukakan Lazarus (1961), adjustment involves a reaction of the person to demand imposed upon him. Maka, penyesuaian diri termasuk reaksi seseorang karena adanya tuntunan yang di bebankan pada dirinya. Demikian pula pendapat Thorndike dan Hogen yang disitir oleh Mustafa Fahmi (1997) sebagai berikut: penyesuaian diri merupakan kemampuan individu untuk mendapatkan ketentraman secara internal dan hubungannya dengan dunia sekitarnya. Uraian tersebut, bila tak ada reaksi terasa ada beban dan tidak mendapatkan ketentraman batin. Maka, dapat disimpulkan: penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk bereaksi karena tuntunan dalam memenuhi  dorongan/kebutuhan dan mencapai ketentraman batin dalam hubungannya dengan sekitar.
I. Penyesuaian Diri yang Berhasil
                     Penyesuaian diri yang berhasil menurut Winarna Surachmad (dalam Siti Sundari, 1986):
1.      Bilamana dengan sempurna memenuhi kebutuhan, tanpa melebihkan yang satu dan   yang mengurangi yang lain.
2.      Bilamana tidak mengganggu manusia lain dalam memenuhi kebutuhan yang sejenisnya.
3.      Bilamana bertanggung jawab terhadap masyarakat dimana ia berada (saling menolong secara positif)
            Penyesuaian diri sendiri sebagai usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada dirinya dan lingkungannya. Memenuhi kebutuhanyang tidak berlebihan tidak merugikan orang lain dan wajib menolong orang lain yang memerlukan.
II.          Macam-Macam Penyesuaian Diri
1.                  Penyesuaian terhadap keluarga/family adjusment
                Keluarga merupakan masyarakat terkecil. Keharmonisan keluarga terwujud bila seluruh anggota keluarga mempunyai kesadaran atau kesanggupan memenuhi fungsinya. Tiap anggota keluarga berusaha mengadakan penyesuaian diri dalam keluarganya antara lain:
a.                  Mempunyai relasi yang sehat dengan segenap anggota keluarga.
b.                  Mempunyai solidaritas dan loyalitas keluarga serta membantu usaha keluarga dalam mencapai tujuan tertentu.
c.                  Mempunyai kesadaran adanya emansipasi yang gradual serta kemerdekaan dalam taraf kedewasaan.
d.                  Mempunyai kesadaran adanya otoritas orangtua.
e.                  Mempuyai kesadaran bertanggungjawab menjalankam aturan-aturan larangan secara disiplin.

2.                  Penyesuaian diri terhadap sosial/Social adjusment
           Sosial atau masyarakat merupakan kumpulan individu, keluarga, organisasi dan lain-lainnya. Agar terjadi keharmonisan dalam masyarakat harus ada kesadaran bermsyarakat. Penyesuaianterhadapmasyarakat:
a.                  Adanya kesanggupan bereaksi mengadakan relasi secara efektif dan harmonis terhadap kenyataan sosial.
b.                  Ada kesanggupan bereaksi secara efektif dan harmonis terhadap kenyataan sosial.
c.                  Kesanggupan menghargai dan menjalankan hukum tertulis maupun tidak tertulis.
d.                  Kesanggupan menghargai orang lain mengenai hak-haknya dan pribadinya.
e.                  Kesanggupan untuk bergaul dengan orang lain dalam bentuk persahabatan.
f.                   Adanya simpati terhadap kesejahteraan orang lain. Berupa: memberi pertolongan pada orang lain, bersikap jujur, cinta kebenaran, rendah hati dan sejenisnya.

3.                  Penyesuaian diri terhadap sekolah/School adjusment
            Sekolah merupakan wadah bagi peserta didik dalam mengembangkan potensinya, terutama perkembangan intelegensi maupun pribadinya. Maka, sekolah harus menumbuhkan penyesuaian diri yang baik, bersifat konstruktif, sehingga terwujud:
a.                  Disiplin dalam sekolah terhadap peraturan-peraturan yang ada.
b.                  Pengakuan otoritas guru atau pendidik
c.                  Onteres terhadao mata pelajaran di sekolah
d.                  Situasi dan fasilitas yang cukup, sehingga tujuan sekolah dapat tercapai.

4.                  Penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi/College adjusment
              Perguruan tinggi merupakan tempat pendidikan tertinggi, untuk mencapai gelar, tempat yang menyenangkan penuh kenangan. Namun bagi sementara mahasiswa merupakan tempat yang diliputi keraguan, kecemasan bahkan kegagalan. Penyesuaian diri diperguruan tinggi hampir sama di sekolah, tetapi harus ditambah dengan:
a.                  Pembangunan kepribadian yang seimbang yaitu dapat memenuhi tuntutan ilmiah, jasmani, dan rohani yang sehat serta tanggung jawab sosial yang masak.
b.                  Dapat belajar menyesuaikan diri di tempat kelak bekerja
c.                  Siap menghadapi persaingan, ulet dalam menghadapi segala persoalan.

5.                  Penyesuaian diri terhadap jabatan/Vocation adjusment
               Secara ideal  jabatan pekerjaan menunjukkan latar belakang studi seseorang, serta menggambarkan status sosial, status ekonominya. Pemegang jabatan/pekerja seharusnya mempunyai kriteria sebagai berikut:
a.                  Sudah masak dalam memegang jabatan.
b.                  Senang dan mencintai jabatan atau pekerjaannya.
c.                  Bercita-cita atau berusaha mencapai kemajuan setingkat demi setingkat.

6.                  Penyesuaian diri terhadap perkawinan/Marriage adjusment
             Dalam zaman modern, perkawinan bukan suatu way of life yang harus ditempuh. Kehidupan pria dan wanita secara membujang banyak terjadi. Mereka dapat menikmati kehidupan dan ikut serta berfungsi di masyarakat. Bagi gorang-orang yang melayarkan bahtera perkawinan, harus melakukan penyesuaian dalam perkawinan. Menurut Arkoff (1968), perkawinan yang baik bersifat permanen/permanence dan bersifat kebahagiaan/happiness.
             Perkawinan diakhiri dengan kematian, perceraian (sama-sama masih hidup) merupakan hal yang tidak sopan. Sepanjang perjalanan hidup selalu berusaha melakukan penyesuaian diri. Penyesuaian ini ialah:
a.                  Harus ada kesadaran terhadap hakikat perkawinan
b.                  Harus ada kesediaan untuk menjaga kelangsungan perkawinan. Saling mengerti, saling memberi dan menerima (to take and to give). Arkoff disitir Siti Sundari (1986).
III.      Proses Penyesuaian Diri
            Penyesuaian diri yang sempurna, sulit diwujudkan karena banyak faktor yang mempengaruhi sehingga seluruh kebutuhan tidakdapat terealisasi. Penyesuaian diri merupakan proses yang terjadi sepanjang kehidupan (lifelong process). Manusia harus berusaha menemukan dan mengatasi rintangan, tekanan dan tantangan untuk mencapai pribadi yang seimbang. Respons penyesuaian diri selain berupa hal yang baik juga ada yang buruk. Respons baik atau buruk untuk memelihara keseimbangan secara wajar. Individu berusaha menjauhi ketegangan. Penyesuaian diri sebagai suatu proses ke arah hubungan yang harmonis antara tunututan internal dan eksternal. Contoh bayi membutuhkan asi dan kasih sayang. Karena tak terpenuhi, bayi berusaha mencari pemenuhan kebutuhan yang tidak wajar untuk pengganti respon yaitu mengisap ibu jari.

a.         Penyesuaian Diri yang Positif
            Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu melakukan penyesuaian diri agar tercapai keseimbangan. Berhubung kebutuhan menusia sangat banyak dan terjadi dalam berbagai bidang. Wajarlah bila tidak semua penyesuaian berhasil secara positif. Penyesuaian yang positif:
1.                  Tidak adanya ketegangan emosi, bila individu menghadapi problema, emosinya tetap tenang, tidak panik, sehingga dalam memecahkan problem dengan menggunakan rasio dan emosinya terkendali.
2.                  Dalam memecahkan masalah tidak menggunakan mekanisme psikologis baik defence mekanisme maupun escape mekanisme, melainkan berdasarkan pertimbangan rasional, mengarah dari masalah yang dihadapi secara langsung dengan segala akibatnya.
3.                  Salam memecahkan masalah bersikap realistis dan objektif. Bila seseorang menghadapi secara apa adanya, tidak ditunda-tunda. Apapun yang terjadi dihadapi secara wajar, tidak menjadi frustasi, konflik maupun kecemasan.
4.                  Mampu belajar ilmu pengetahuan yang mendukun apa yang dihadapi sehingga dengan pengetahuan itu dapat digunakan menanggulangi timbulnya problema.
5.                  Dalam menghadapi problem butuh kesanggupan membandingkan pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain. Pengalaman-pengalaman itu tidak sedikit sumbangannya dalam pemecahan problem.

b.         Penyesuaian Diri yang Negatif
            Penyesuaian diri yang negatif adalah penyesuaian yang menyimpang dari realita:
1.                  Yang bersangkutan tidak dapat mengendalikan emosinya. Bila menghadapi problem menjadi panik, sehingga tindakannya tidak sesuai dengan kenyataan.
2.                  Menggunakan pertahanan diri yang berlebihan, karena keyataan. Karena yang bersangkutan mengalami kegagalan dalam penyasuaian diri memungkinkan mengalami frustasi, konflik maupun kecemasan atau kegincangan lain.
Sumber:
Siti Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta

B. PENGERTIAN PERTUMBUHAN PERSONAL, MELIPUTI:
1.         PENEKANAN PERTUMBUHAN DIRI
Manusia  merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak serta merta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang.
Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat atau sosialpun terdapat norma-norma yang harus dipatuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.
Setiap individu memiliki naluri yang secara tidak langsung individu dapat memperhatikan hal-hal yang berada disekitarnya apakah  hal itu benar atau tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam  masyarakat yang memiliki suatu  norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang tidak disiplin yang dalam menerapkan aturan-aturannya maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang tidak disiplin, begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang cuek maka individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang cuek.
2.VARIASI DALAM PERTUMBUHAN
     Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan individu:
C.     Faktor genetik
5.      Faktor keturunan — masa konsepsi 
6.      Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan 
7.      Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis  kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen. 
8.      Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
D.     Faktor eksternal / lingkungan
3.      Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.
4.      Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.
Dari semua faktor-faktor  di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.
3.         KONDISI-KONDISI UNTUK BERTUMBUH
Victor Frankl dalam buku “Psikologi Pertumbuhan: Kepribadian Sehat untuk Mengembangkan Optimisme” karangan MIF Baihaqi menerangkan Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat. Salah satu konsep utama Frankl adalah hati nurani. Menurutnya, hati nurani adalah semacam spiritualitas alam bawah sadar, yang dikatakan oleh Freud. Hati nurani bukan hanya sekedar salah satu faktor di antara bermacam – macam faktor. Hati nurani adalah inti dari keberadaan manusia da merupakan sumber integritas personal manusia. “ Menjadi manusia adalah manjadi bertanggung jawab. Bertanggung jawab secara eksistensial, bertanggung jawab terhadap keberadaannya sendiri di atas dunia.
Seseorang yang kekurangan arti adalam kehidupannya merupakan suatu bentuk neurosis; dan kondisi ini dinamakan oleh Frankl sebagai no genic neurosis.  Inilah suatu keadaan yang bercirikan: ‘tanpa arti, tanpa maksud, tanpa tujuan, hidup hampa’. Frankl menulis tentang keadaan kawan – kawannya yang ada di dalam tahanan, “ Celakalah dia yang tidak lagi melihat arti dalam kehidupannya, tidak lagi melihat tujuan, tidak lagi melihat maksud, dan karena itu tidak ada sesuatu yang dibawa serta. Dia akan segera kehilangan ‘makna hidup’. Karena tidak merasa adanya kehidupan yang penuh dan gairah, maka orang semacam ini berada dalam ‘ kekosongan eksistensial’ ( existensial vacuum ), suatu kondisi yang menurut kayakinan Frankl adalah lumrah / lazim dalam zaman kita yang modern.
Perhatikanlah kehidupan orang – orang dalam kesehariannya. Banyak di antara meraka menderita kebosanan dan masa bodoh terhadap no genic neurosis sebagai akibat dari dua kondisi.
·         Kondisi pertama :
Ketika manusia berkembang dari pola kehidupan binatang yang lebih rendah, mereka kehilangan insting – insting alamiah yang menghubungkan mereka dengan alam. Karena hal ini telah membebaskan kita dari tekanan – tekanan tertentu, ini berarti bahwa tingkah laku seseorang tidak dibimbing oleh insting – instingnya; kita harus secara aktif memilih apa yang harus kita lakukan.
·         Kondisi kedua :
Pada akhir abad ke-20 kita memiliki beberapa adat kebiasaan, tradisi – tradisi, dan nilai – nilai untuk menentukan tingkah laku kita. Karana kekuatan – kekuatan agama yang teratur dan adat kebiasaan sosial menyusut, maka orang dibiarkan lebih bersandar pada dirinya sendiri. Kita dihadapkan pada membuat keputusan kita sendiri dan bertanggung jawab terhadap keputusan – keputusan tersebut.

Frankl menemukan bukti dari ‘kekosongan eksistensial’ secara besar – besaran dalam banyak kebudayaan, baik bangsa yang berdeologi kapitalis (semacam Amerika) maupun berdeologi komunis ( semacam Rusia, sebelum revolusi yang dilakukan oleh Presiden Gorbachev ). Dia percaya bahwa ‘ kekosongan eksistensial’ itu berkembang dengan pesat, khususnya di Negara maju seperti Amerika Serikat. Pemecahan Frenkl terhadap no genic neurosis yang berkembang pesat itu ialah dengan cara : kita masing – masing harus menemukan atau mendapat kembali pengetian yang sangat penting tentang arti dan maksud dalam kehidupan. Kalau tidak, seseorang anak menderita sakit jiwa.

Sumber:
           
Siti Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta
MIF Baihaqi. 2008. PSIKOLOGI PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme. Bandung: PT Remaja RosdaKarya

TULISAN 2
HUBUNGAN INTERPERSONAL
I.          MODEL-MODEL HUBUNGAN INTERPERSONAL
Model Peran,Konflik Dan Adequacy Peran Serta Autentisitas Dalam Hubungan Peran
Peran didasarkan pada preskripsi ( ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai
panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya. Menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan peranannya.Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara duaorang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi.Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut
                        Kesehatan mental merupakan ilmu pengetahuan yang praktis sebagai pengetrapan ilmu jiwa di dalam pergaulan hidup. Pandangan terhadap ilmu kesehatan mental ini agak berbeda-beda dengan lapangan hidup, keahlian dan kepentingan masing-masing.
            Misalnya psychiatrist dalam menangani dan menggunakan ilmu pengetahuan kesehatan mental, menitik beratkan terhadap bahayapada sikap pribadi yang merugikan atau yang kurang wajar. Misalnya, senang melamun, gelisah, mengasingkan diri, takut yang sedang para pendidik/paedagoog lebih menitik beratkan pandangannya terhadap bahaya-bahaya yang melanggar norma-norma sosial, tata tertib, norma susila, dan sejenisnya.
                        Demikian pula lapangan-lapangan hidup lainnya. Maka di sini akan disajikan beberapa hubungan itu.
a.      Hubungan Kesehatan Mental dengan Kesehatan Fisik
                        Antara mental dan fisik mempunyai hubungan yang sangat erat, tetapi seberapa jauh eratnya dapat diketahui secara past. Contoh: fisik yang sedang menderita sakit, mental dalam menghadapi problema berbedadengan pada waktu fisiknya sehat. Yaitu antara lain mudah tersinggung. Demikian pula fisik yang sedang sakit, tetapi sikap mentalnya selalu optimis penuh harapan sembuh, maka derita sakit akan lebih ringan dan lekas sembuh. Sedangkan bagi mereka yang pesimis lebih sulit/lama disembuhkan. Misalnya takut mati takut penyakitnya menjadi parah. Maka tepatlah kiranya bahwa pasien diberikan penjelasan mengenai penyakitnya serta bahayanya agar yang bersangkutan menyadari dan optimis.
b.      Hubungan Kesehatan Mental dengan Kehidupan Spiritual
                        Selain kehidupan materialistis masih ada kehidupan spiritual yaitu kehidupan kerohanian. Kebutuhan manusia selain kebutuhan biologis, sosial juga mempunyai kebutuhan spiritual/kerohanian, yaitu kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Sang Maha Ada, Sang Maha Kuasa.
                        Dengan menyerahkan diri kepadanya-Nya dengan kepercayaan bersujud dengan caranya sendiri-sendiri dengan kepercayaan (agama) masing-masing niscaya akan mendapat ketentraman. Segala derita atau kesusahan disertakan kepada-Nya. Bagi yang baru menderita dapat rela menerima kenyataan sebagaimana takdir-Nya dapat memperoleh keseimbangan mental.
c.      Hubungan Kesehatan Mental dengan Pendidikan
                        Keluarga merupakan tempat pertama anak mendapatkan pendidikan. Orang rua pada umumnya memberikan pelayanan kepada putri dan putranya sesuai dengan kebutuhan mereka. Ada kalanya orang-orang tua sangat memanjakan, ada pula yang bertindak keras. Namun demikian, bagi mendidik putra-putrinya sesuai dengan perkembangan kemampuan dan kesenangan kepuasan mereka.
                        Sekolah merupakan masyaarakat yang lebih besar dari keluarga. Sekolah bukan hanya sekedar memberikan pelajaran, tetapi juga berusaha memberikan pendidikan sesuai dengan perkembangan, berusaha agar anak didik mengembangkan potensinya secara puas dan senang serta mempunyai pribadi yang integral. Memang telah diakui bahwa pendidikan sekolah kelanjutan pendidikan didalam keluarga, dan merupakan community sentered, tetapi kalau pendidikan mau mengerti secara mendalam mengenai masalah anak didik, kedepanmempunyai kecakapan dan teknik dalam melayani anak didik, mempunyai kecakapan dan teknik dalam melayani anak didik, mempunyai pandangan yang luas, melaksanakan prinsip-prinsip yang sesuai dengan ilmu kesehatan mental
d.      Hubungan Kesehatan Mental dengan Kehidupan Berkeluarga
                        Kurang adanya saling pengertian dari suami istri sering menimbulkan kegoncangan, ketidakseimbangan keluarga. Kehidupan berkeluarga merupakan pengalaman baru. Apalagi bagi suami istri yang berasal dari keluarga yang berlainanlatar belakangnnya. Tetapi tidak berarti perbedaan pribadi, perbedaan kebiasaan dan sifat-sifat tertentu menyebabkan goncangnya/pecahnya keluarga tetapi kadang-kandang justru perbedaan  atau saling berlawanan malah akhirnya menjadi sejahtera, asal kondisi masing-masing disadari selanjutnya saling menempatkan diri sesuai dengan fungsinya. Masing-masing siap sedia untuk mengadakan penyesuaian (adjustment). Sebagaimana peribahasa Jawa yang mengatakan: tumbu oleh tutup. Bakul yang mendapat tutup. Tumbu dan tutup yang bentuknya berbeda kalau disatukan menjadi serasi dan harmonis.
                        Jadi, yang penting bagi anggota keluarga dalam melaksanakan kehidupan berumah tangga menjalaknan perinsip-perinsio kesehatan mental, yaitu saling berusaha dan bersedia berkorban untuk menjaga keutuhan keluarga itu.
e.      Hubungan Kesehatan Mental dengan Perusahaan
                        Peran pengusaha sangat penting memperlihatkan kesejahteraan seluruh karyawannya. Kesejahteraan lahir batin akan menjamin keberhasilan, perusahaan, kesejahteraan lahir batin akan menjamin jaminan sosial, jaminan hari tua, tunjangan keluarga, hak cuti, rekreasi, hadiah sikap ramah dan kekeluargaan. Usaha terwujudnya kesejahteraan itu akan mengurangi/menghilangkan kesenangan, kelesuan, dan kepuasan serta rasa tanggung jawab para karyawan. Maka usaha kesehatan mental dalam perusahaan selain kewajiban pokok pimpinan pengusaha juga agar seluruh karyawan mendapat penerangan bahwa perlu menjaga keseimbangan/ketentraman lahir batin masing-masing sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan mental.
f.       Hubungan Kesehatan Mental dengan Lapangan Hukum
                        Pada zaman dahulu para pelanggar hukum mendapat hukuman kerena kesalahannya. Dengan hukuman diharapkan agar jera/takut berbuat pelanggaran lagi. Tetapi pandangan sekarang/zaman modern, pelanggaran-pelanggaran hukum dianggap sebagai individu-individu yang sedang terganggu keseimbangannya, maksudnya mereka sedang mengalami kegagalan dalam kegagalan dalam penyesuaian diri terhadap sosial dalam batas-batas hukum baik perdata dan pidana. Itulah sebabnya mereka tidak dilakukan sebagai tahanan/pesakitan melainkan dianggap sebagai manusia yang sedang menderita gangguan sosial yang perlu dibimbing/dididik dan dibantu agar supaya kembali ke dalam kehidupan sosial sesuai dengan hukum yang berlaku. Kecuali itu agar keseimbangan jiwanya kembali, sadar akan perbuatannya serta  tak akan melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum lagi.
g.      Hubungan Kesehatan Mental dengan Kebudayaan
                        Manusia dikatakan sebagai makhluk tertinggi, kerena mempunyai budaya. Kebudayaan merupakanhasil buah budi manusiam dapat disaksikan, dirasakan dalam kehidupan. Peninggalan-peninggalan hasil budaya ditemukan berupa tulisan/gambaran dibatu, dinding gua, candi dengan ukiran kisah masa lampau. Tata cara kehidupan dapat dipelajari dan dirasakan menfaatnya. Semua itu merupakan bukti bahwa manusia sejak dulu hingga sekarang menggeluti kancah budaya. Hasil karya seni ternyata meliputi berbagai bidang dengan berbagai variasi, misalnya seni tari, mencakup musik/gamelan , suara disamping seni gerak. Seni dalam karya tulis, termasuk novel, cerpen buku sejarah dan ilmiah yang menpunyai corak sendiri-sendiri. Semua bidang kehidupan mempunyai nilai seninya. Para pencipta budaya khususnya seni sambil mencipta juga menikmati hasilnya. Sedang begi orang-orang yang tak mampu mencipta dapat menikmati dan memanfaatkan dalam kehidupan. Dengan menikmati kehidupan mengalir rasa kagum, bahagia, sehingga mengenyahkan, setidaknya mengurangi rasa sedih dan kecewa.
Sumber:
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri
 Model Pertukaran Sosial Dan Analisis Transaksional
Salah satu teori sosial yang mempelajari bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain , kemudian seseorang itu menentukan keseimbangan antara pengorbanan dan keuntungan yang didapatkan dari hubungan itu . Setelah seseorang menentukan keseimbangannya , ia akan menentukan jenis hubungan dan kesempatan memperbaiki hubungan / tidak sama sekali. Ketika kita berinteraksi dengan orang lain tanpa terasa ada hubungan resiprok didalamnya. Paling tidak ada 3 hal yang kita pertukarkan :
Ganjaran , Pengorbanan, Keuntungan.
Analisis Transaksional (AT) adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional. AT dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Pendekatan ini menekankan pada aspek perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian ini tujuan dan arah proses terapi dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses terapi ini menekankan pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien. Maka proses terapi mengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dan keputusan baru, guna kemajuan hidupnya sendiri.

2.         MEMULAI HUBUNGAN
Pembentukan Kesan Dan Ketertarikan Interpersonal Dalam Memulai Hubungan

Ellen Berscheid (Berscheid, 1985; Berscheid & Peplau 1983; Berscheid & Reis, 1998) menyatakan bahwa apa yang membuat orang-orang dari berbagai usia merasa bahagia, dari daftar jawaban yang ada, yang tertinggi atau mendekati tertinggi adalah membangun dan mengelola persahabatan dan memiliki hubungan yang positif serta hangat. Tiadanya hubungan yang bermakna dengan orang-orang lain membuat individu merasa kesepian, kurang berharga, putus asa, tak berdaya, dan keterasingan. Ahli Psikologi Sosial, Arthur Aron menyatakan bahwa motivasi utama manusia adalah ’ekspresi diri’ (self expression).
Penyebab ketertarikan, dimulai dari awal rasa suka hingga cinta berkembang dalam hubungan yang erat meliputi :
a.        Aspek kedekatan
b.      Kesamaan
c.        Kesukaan timbal balik
d.       Ktertarikan fisik dan kesukaan

3.         Intimasi Dan Hubungan Pribadi
Kebutuhan intimacy merupakan suatu kebutuhan akan hubungan dengan ornglain dan merupakan kebutuhan terdalam pada diri setiap manusia untuk mengetahui seseorang secara lebih dekat, seperti merasa dihargai, diperhatikan, saling bertukar pendapat, keinginan untuk selalu berbagi dan menerima serta perasaan saling memiliki sehingga terjalin keterikatan yang semakin kuat dan erat.
Faktor penyebab intimacy :
a.       Keluasan : seberapa banyak aktifitas yg dilakukan bersama
b.      Keterbukaan : adanya saling keterbukaan diri
c.       Kedalaman : saling berbagi
Proses terbentukan intimacy :
Penerimaan  dir,i  ­  Saling  berinteraksi,  ­  Memberi  respon  atau 
tanggapan – Perhatian, ­ Rasa percaya,  ­ Kasih sayang. ­ Mempunyai 
minat yang sama ­ Berhubungan seksual.

4.         Intimasi Dan Pertumbuhan
Keintiman adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan kita. Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita. Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin diterima, dihargai, dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita menginginkan hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita berbeban.
Tempat dimana belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita adalah penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita. Hal ini dapat disebabkan karena :
1.         Kita tidak mengenal dan tidak menerima siapa diri kita secara utuh;
2.         Kita tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah persiapan memasuki pernikahan;
3.         Kita tidak percaya pasangan kita sebagai orang yang dapat dipercaya untuk memegang rahasia;
4.         Kita dibentuk menjadi orang yang berkepribadian tertutup;
5.         Kita memulai pacaran bukan dengan cinta yang tulus . Dalam hal inilah keutamaan cinta     dibutuhkan.
                                                     
Sumber :

TULISAN 3
CINTA & PERKAWINAN
A.        BAGAIMANA MEMILIH PASANGAN
Seluruh umat manusia didunia ini pasti membutuhkan partner ataupun teman dalam hidupnya. Karena, manusia diciptakan dan dikodratkan sebagai makhluk sosial. Makhluk yang tentunya tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Mau dia orang kaya, Yang punya kedudukan tinggi sampe Presiden sekalipun. Tentu mereka perlu seseorang disampingnya setidaknya membantu didalam hidupnya. Salah satu teman hidup selain teman, keluarga atau saudara adalah Istri maupun suami.
Memilih pasangan hidup yang tepat adalah salah satu bagian terpenting dalam hidup dengan banyak aspek dan faktor kriteria pemilihan yang harus dihitung dengan matang. Gadis atau janda , Duda atau Lajang, semua sama saja di mana anda harus melakukan penjajakan yang cukup sebelum melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Bisa dikatakan bahwa pasangan hidup adalah suatu yang penting dalam menentukan masa depan kita. Oleh karena itu bisa dikatakan juga bahwa pemilihannya pun juga sangat penting. Jodoh memang di tangan Tuhan, namun tetaplah menjadi tanggung jawab bagi manusia untuk mencarinya. Jodoh tentu seperti rejeki, tidak akan datang ketika anda tidak mencarinya. Perkawinan adalah proses penyatuan dua hati, tidak hanya secara fisik saja. Hal ini dilakukan untuk mencari dan membentuk keserasian dan keseimbangan dalam membuat hidup menjadi lebih baik dan lebih indah.
Tips Memilih Pasangan Hidup Bagi Yang Serius Ingin Menikah
Tentu semua orang ingin menikah satu kali selama hidupnya, agar keinginan ini terwujud perlulah seseorang itu memilah milih pasangan,agar suatu saat jika ada masalah yang bisa mengakibatkan perceraian atau perpisahan bisa dihindari. Mau lihat tips memilih pasangan hidup? Simak beberapa pemaparan kami :
1.         Rajin Beribadah
Ini hal yang penting bagi masa depan keluarga anda. Carilah calon suami maupun istri yang taat beribadah. Mengapa? Karena selain bisa menjaga hubungan yang selalu baik karena cinta dilandaskan kepada tuhan. Anak, akan terbimbing dengan baik. Baik ibu dan bapak sama-sama memiliki peran dalam pengajaran agama yang baik dikeluarga. Agar anak ini akan menjadi generasi yang tentuny bisa membanggakan kedua orang tuanya kelak. Jadi ini salah satu yang harus diperhatikan.
2.         Tidak Matrealis
Sebenarnya Matre itu wajar, karena memang hidup dijaman sekarang yang apa-apa susah didapat menjadi kriteria yang penting. Terutama bagi seorang wanita. Mengapa ? bagaimana bisa seorang istri tampil cantik, bila suaminya tidak pernah membelikan istrinya sebuah alat rias. Dan ia pasti akan berfikir untuk masa depan anaknya nanti, jika sang calon suami tidak memiliki penghasilan. Bagaimana ia bisa merawat anak dengan baik. Tapi, tentu saja matre yang kami definisikan tadi adalah yang positif. Bukan Matre yang memfoya-foyakan uang dengan hal tidak berguna. Jika pasangan anda suka memfoya-foyakan uang dan sedikit-sedikit minta uang, anda bisa mundur untuk tidak memilihnya sebagai pasangan hidup.
3.         Sehat Jasmani maupun Rohani
Pilihlah yang dari segi fisik dan mental / jasmani dan rohani yang sehat walafiat. Pilih yang sehat, cerah, gesit, kuat, dan tidak mudah sakit. Dari segi kesuburan pun juga penting jika anda ingin punya keturunan. Jika belum yakin maka sebaiknya anda melakukan pemeriksaan kesehatan berdua saat pranikah. Perhatikan pula keluarganya apakah ada yang punya riwayat penyakit yang dapat menurun dan bisa berakibat fatal. Terkadang suatu penyakit dapat diturunkan ke anak dan atau cucu.
4.         Saling Jujur / Tidak Suka Bohong, Cinta Dan Setia
Mana ada orang yang suka dibohongi. Pilihlah pasangan yang dapat dipegang kata-katanya dan hanya akan berbohong untuk kepentingan keluarga yang positif. Jika suka bohong anda akan dibuat pusing sama pasangan anda kelak. Pasangan yang setia pada anda akan selalu mencintai anda dan akan selalu berada di samping anda ke mana pun anda pergi dan dalam kondisi apa pun.
Kehidupan rumah tangga yang harmonis tentu menjadi idaman banyak pasangan. Tapi tentu saja tidak ada yang sempurna dalam suatu hubungan. Tingal anda saja memilih sikap. Agar anda tidak memunculkan pertengkaran yang berakhir dengan perceraian
5.         Pasangan Yang Selalu Mensuport anda
Cari pasangan yang sealu membantu anda dalam mengukuhkan imej diri anda dan mendukung semangat dan menyakinkan diri anda, sebab. Itulah gunanya pasangan hidup baik itu suami maupun istri. Tanpa adanya saling suport. Hubungan suami dan istri pasti akan renggang dan bisa saja perceraian terjadi. Karena merasa saling tidak cocok.
Demikian Tips dari kami tentang memilih pasangan hidup. Tentu diatas itu yang paling diutamakan adalah rasa saling cinta dan percaya serta restu dari kedua orang Tua. Tanpa itu, tentu hubungan suami dan istri akan mendapat banyak masalah. Pilihlah pasangan sesuai dengan yang anda ingin kan dan saling Cinta. Selamat memilih pasangan hidup.
Sumber:
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri
http://undangankipas.blogdetik.com/2013/01/05/tips-memilih-pasangan-hidup-bagi-yang-serius-ingin-menikah/
B.         SELUK BELUK HUBUNGAN DALAM PERKAWINAN
           
                        Persatuan suami istri merupakan senjata ampuh dalam menghadapi segala pengaruh yang menghambat tercapainya kesejahteraan keluarga. Memang diakui bahwa berbagai macam pengaruh luar selalu menimbulkan masalah-masalah pula di dalam keluarga. Sebaliknya, bantuan dari luar pun sering diperlukan untuk mengatasi masalah di dalam keluarga.
                        Agaknya sudah bukan hal aneh bahwa seseorang yang berada dalam kesulitan dan menghadapi masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri memerlukan bantuan. Di beberapa negara, orang dapat meminta bantuan melalui telepon. Terlihat iklan-iklan terpancang di tembok jalan-jalan kereta api di bawah tanah, yang di antaranya terbaca: “Bila Anda berbahagia karena sedang mengandung, itu baik. Bila tidak, teleponlah nomor…”.
                        Ada pula biro khusus untuk membangunkan orang melalui telepon, yang memang perlu untuk “belajar disiplin waktu”. Hal ini tentu sulit dilaksanakan bila telepon itu belum merupakan alat yang mudah dipakai setiap orang.
                        Adanya biro-biro konsultasi dalam bidang masalah keluarga dan pernikahan menunjukkan bahwa memang masalah-masalah tersebut memerulkan bentuan dalam rangka penyelesaian atau mencari jalan keluar, dan tidak bboleh diremehkan.
                        Tidak ada pernikahan tanpa masalah, baik kecil maupun besar. Pada setiap pernikahan, walaupun sudah matang dipersiapkan dan cukup mendalam di bidang perkenalan pribad, juga tidak luput dari perselisihan paham atau pertengkara. Karena itu, alasan-alasan untuk mempropagandakan “perkawinan percobaan atau percobaan hidup bersama” untuk mencapaipernikahan yang ideal tentu tidak dapat dibenarkan. Beberapa pendapat mengemukakan semacam masa percobaan pernikahan untuk melihat dan menguji dulu apakah dalam hidup bersama itu mereka dapat mencapai keserasian dalam segala segi hidup mereka, yang juga meliputi aspek seksual, supaya bila tidak ada keserasian mereka dapat dengan mudah mencari partner lain, sampai mendapatkan yang cocok. Ternyata, tujuan yang ingin dicapai melalui “perkawinan percobaan” akhirnya hanya terwujud dalam hubungan seks bebas atau “free-sex”.
                        Banyak yang mengikuti angin baru ini, memasuki masa pernikahan percobaan, hanya untuk jangka waktu pendek, kemudian dilanjutkan dengan suatu masa percobaan dengan lain partner dan seterusnya. Hal ini akan terulang berkali-kali tanpa ditemukannya seorang partner yang benar-benar merupakan pasangan hidupnya, karena ternyata tidak akan ada partner yang cocok secara sempurna. Banyak ahli berpendapat bahwa free-sex tidak akan member kesejahteraan, tetapi sebaliknya memberikan penderitaan jiwa. Free-sex dianggap menyalahi kemanusiaan dan mengakibatkan perasaan putus asa karena tidak memenuhi kebutuhan dasar psikis. Mereka tidak akan memperoleh rasa aman dan tertampung maupun terlindung. Mereka hanya mendapat kepuasan seksual sementara yang cepat berlalu dan mulailah kegelisahan-kegelisahan yang akan menimbulkan perasaan jiwa yang tersiksa. Frustasi karena tidak tercapainya kebutuhan akan rasa aman inilah yang menjadi pendorong dari perbuatan-perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ikatan dalam pernikahan sangat perlu untuk menjaga terpenuhinya kebutuhan dasar psikis, supaya kedua individu yang telah disahkan perjanjian mereka beserta anak-anaknya dapat memperoleh perasaan aman dan terlindung.
                        Daya upaya apapun yang dijalankan untuk mempersiapkan pernikahan supaya memungkinkan tercapainya pernikahan tanpa permasalahan tidak akan berasil. Bagaimana juga, hidup berkeluarga, hidup bersama maupun hidup sendiri, akan membawa persoalan yang harus dihadapi dan di atasi. Dengan mengakui adanya masalah-masalah dan menyadari adanya tantangan hidup yang harus diatasi, sebenarnya sudah dimulai pengarahan ke penyelesaiannya.
                        Telah dikemukakan sebelumnya bahwa dua individu yang memasuki hidup bersama dalam pernikahan dengan membawa pandangan, pendapat, dan kebiasaan sehari-hari. Walaupun mereka sudah saling mengenal sebelumnya, tetapi perbedaan-perbedaan kecil dalam bentuk kebiasaan masing-masing dapat menjadi sumber kekesalan, pertengkaran, dan menimbulkan masalah. Mengingat masalah pertengkaran tidak dapat dihindari maka daya upaya harus ditunjukan untuk mengurangi meruncingnya situasi rumah yang dapat merusak suasana keluarga pada umumnya. Dengan menjaga agar keadaan tidak sampai meruncing maka akan berkurang pula sebab-sebab yang menimbulkan permasalahan.
Dalam memilih pasangan kita wajib mencari yang terbaik untuk menjalaninya. Cara memilih pasangan yang baik antara lain:
-          Saling jujur dan setia
-          Dari segi penampilan
-          Taat beribadah
-          Pandai/pintar
-          Tidak materialistis
-          Tidak mudah emosi
-          Sehat jasmani dan rohani
-          Persetujuan orang tua,keluarga
-           Menerima apa adanya

Inilah puncak dari segalanya, setelah melewati  masa pacaran dengan baik. Dengan saling mengikarkan janji suci untuk sehidup semati baik dalam sehat maupun dalam sakit, dalam keadaan kaya atau miskin dan hanya maut yang bisa memisahkan mereka. Sehingga ikrar suci pernikahan itu, mereka bukan lagi dua tetapi telah menjadi satu. Tahap ini memulainya sebuah babak baru, relasi yang ditandai dengan munculnya komitmen tanpa syarat untuk saling mencintai dan memiliki. Kalau tahap perkenalan merupakan sebuah pintu gerbang menuju ke tingkat pacaran, maka tahap pernikahan merupakan puncak dari tingkat hubungan paling akrab dan mulia yang dilakukan.

Sumber :
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri

C.        Penyesuaian Dan Pertumbuhan Dalam Perkawinan

Daya upaya apapun yang dijalankan untuk mempersiapkan pernikahan supaya memungkinkan tercapainya pernikahan tanpa permasalahan tidak akan berasil. Bagaimana juga, hidup berkeluarga, hidup bersama maupun hidup sendiri, akan membawa persoalan yang harus dihadapi dan di atasi. Dengan mengakui adanya masalah-masalah dan menyadari adanya tantangan hidup yang harus diatasi, sebenarnya sudah dimulai pengarahan ke penyelesaiannya.
Telah dikemukakan sebelumnya bahwa dua individu yang memasuki hidup bersama dalam pernikahan dengan membawa pandangan, pendapat, dan kebiasaan sehari-hari. Walaupun mereka sudah saling mengenal sebelumnya, tetapi perbedaan-perbedaan kecil dalam bentuk kebiasaan masing-masing dapat menjadi sumber kekesalan, pertengkaran, dan menimbulkan masalah. Mengingat masalah pertengkaran tidak dapat dihindari maka daya upaya harus ditunjukan untuk mengurangi meruncingnya situasi rumah yang dapat merusak suasana keluarga pada umumnya. Dengan menjaga agar keadaan tidak sampai meruncing maka akan berkurang pula sebab-sebab yang menimbulkan permasalahan
Dwan J.Lipthrott,LCSW mengatakan bahwa ada 5 tahap perkembangan dalam kehidupan perkawinan.Bisa jadi antara pasangan suami istri yang satu dengan yang lain,memiliki waktu berbeda saat menghadapi melalui tahapannya.
Tahap 1:          Romantic love
Saat ini adalah saat anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu.
            Tahap 2:          Dissapointment of Distress
Di tahap ini pasangan suami istri kerap saling menyalahkan,memiliki rasa marah dan kecewa pda pasangan,berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya.
            Tahap 3:          Knowledge and awareness
Bahwa pasangan suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan diri pasangannya
Tahap 4:          Transformation
Suami istri di tahap ini akan mencoba tingkah laku yang berkenan dihati pasangannya.
Tahap5:                       Real love
Anda akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan dan kebersamaan dengan pasangan.

Sumber :
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri



D.        Perceraian Dan Pernikahan Kembali

                                    Apabila segala macam permasalahan dalam pernikahan dikumpulkan, masalah-masalah tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok berikut ini.
a.      Masalah pribadi suami istri yang meliputi masa lampau mereka dan masa depan yang akan dijalani bersama.
                        Pada umumnya, baik suami maupun istri telah mengalami suatu masa lampau yang tidak sepenuhnya diketahui oleh partnernya. Tidak semua hal, yang mengingatkan pada masa lampau, yang tidak dialami bersama menyenangkan bagi yang lainnya. Misalnya, teman-teman khusus di masa lampau dapat menjadi sumber permasalahan bila hubungan-hubungan dengan teman-teman khusus tersebut diteruskan tanpa persetujuan, walaupun hubungan itu sudah tidak bersifat khusus lagi. Hobi atau cara rekreasi sebelum menikah yang dilanjutkan tanpa mengikut sertakan pasangan hidup atau tidak meminta persetujuannya.
b.      Masalah pribadi suami istri ang saling memasuki lingkungan keluarga baru: mertua, ipar, kakek, nenek, dan lain-lain.
                        Di negara-negara di mana ikatan keluarga besar masih cukup kuat, maka pengaruh keluarga besar tetap menimbulkan masalah. Biasanya pernikahan antara dua pribadi berarti bertambahnya anggota baru dalam keluarga besar. Seolah-olah bukan saja dua pribadi yang memegang peranan, melainkan seluruh keluarga dari kedua belah pihak turut berperan dengan keinginan masing-masing dan mesti ada campur tangan mereka.
                        Perlu diingat bahwa pada ikatan keluarga besar, setiap orangtua masih merasa mempunyai hak atas anaknya yang telah menikah. Anak yang dianggap sebagai bagian dari dirinya harus mengingat jasa-jasa orangtua dalam membesarkannya sampai berhasil mencapai kedudukan tertentu. Di sisi lain, sang mertua mengharapkan menantunya ingat pula akan jasa-jasa mertuanya. Mertua merasa hak-hak atas anaknya direbut oleh menantunya sehingga sering terjadi perebutan “cinta kasih” antara mertua dan menantu. Persaingan ini bisa meruncing sekali sehingga perlu ditentukan dengan jelas kedudukan dan tempat masing-masing.
                        Persoalan ini sering berlarut-larut dengan lahirnya anak dan campur tangan kakek-nenek dalam hal pendidikan anak, yang sering terwujud dalam sikap pemanjaan yang berlebihan terhadap cucu. Dalam hal ini harus diusahakan terciptanya keseragaman pendapat antara suami istri terhadap semua anggota keluarga, khususnya yang tinggal serumah.
c.      Masalah yang berhubungan dengan keluarga baru dan rencana-rencananya yang akan dibentuk, meliputi hari depan perkembangan dan pendidikan anak.
                        Dengan lahirnya seorang anak tentu masalah akan bertambah pula. Pertama, masalah ekonomi, yang berarti bertambahnya pengeluaran yang harus pula diimbangi dengan pemasukan yang lebih besar, sedangkan sumber nafkah biasanya justru berkurang, karena istri mengurangi waktu bekerjanya demi mengurus anak.
                        Keadaan juga mengalami perubahan, karena berubahnya jadwal harian dan perhatian yang tidak lagi sepenuhnya dicurahkan ke hubungan suami istri, melainkan kepada si bayi. Perubahan keadaan ini memerlukan pengertian dari suami istri. Timbul persoalan apakah lebih baik mengambil seorang perawat atau pengasuh untuk pemeliharaan bayi, sebab adanya suatu pribadi dari luar lingkungan keluarga, mungkin akan membawa kesulitan bagi suami istri.
                        Anak dalam perkembangannya terus-menerus mengalami perubahan, yang juga menurut penyesuaian terus-menerus dai kedua orangtuanya. Dengan bertambahnya anak berarti bertambah pula pribadi-pribadi yang terus-menerus mengalami perubahan. Perubahan-perubahan pada setiap anak menuntut sikap yang berbeda-beda sesuai dengan pribadi masing-masing.
d.      Akibat Frustasi dan Konflik yang Bertahan
                        Frustasi yang tidak mencapai tahap penyelisaian, antara lain yang de=isebabkan konflik yang tidak mengalami menangnya salah satu motif, akan menimbulkan penderitaan. Penderitaan ini akan bersifat ringan bila tidak meliputi motif-motif yang mendalam dan kuat.
                        Sebaliknya, pederitaan akan bertambah berat bila frustasi meliputi kebutuhan-kebutuhan dasar yang tidak mungkin dihindari. Penderitaan berat ini dapat memengaruhi keseimbangan psikis. Bahkan tidak jarang pula mengganggu keseimbangan fisik, yang akhirnya tecetus dalam salah satu penyakit psikosomatis.
-          Acap  kali dijumpai seorang calon yang harus menempuh ujian, tiba-tiba menderita sakit   perut.
-          Seorang ibu yang sakit kepala karena tidak tahu lagi cara-cara mengatur biaya hidup di dalam kekurangannya.
                        Sering pula keadaan menderita yang disebabkan oleh frustasi dan konflik di dalam pribadi itu sendiri mendorongnya untuk mencari cara-cara dalam mempertahankan dirinya. Usaha pertahanan diri ini sering disebut sebagai mekanisme pertahanan. Setiap orang tidak bebas dari salah satu atau beberapa bentuk usaha pertahanan diri ataupun perbuatan-perbuatan kompensasi diri. Akan tetapi, justru tergantung dari seringnya dan derajat penggunaan pertahanan diri inilah yang dapat menentukan orang tersebut masih dapat diterima oleh umum atau harus mengalami perawatan khusus.
Perceraian merupakan terputusnya hubungan antara suami istri  adalah cerai hidup yang disebabkan oleh kegagalan suami atau istri dalam menjalankan obligasi peran masing-masing. Dimana perceraian dipahami sebagai akhir dari ketidakstabilan perkawinan antara suami istri yang selanjutnya hidup secara terpisah dan diakui secara sah berdasarkan hukum yang berlaku.

Sumber :
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri

E.         Single Life
Fenomena hidup membujang sepanjang usia bukanlah satu hal yang baru muncul pada zaman pasca moden ini. Umat Islam yang hidup pada abad-abad awal Islam sebenarnya sudahpun menikmati hidup bujang ini. Terdapat beberapa ulama terkenal yang telah menghabiskan usia hidup tanpa berkahwin, sebagai contoh Muhammad b. Jarir al-Tabari (m. 313/925). Beliau sangat terkenal dalam bidang tafsir al-Qur’an, pengarang kitab sejarah yang terkemuka dan pengasas sebuah mazhab fiqh pada zamannya. Demikian juga dengan Mahmud b. ‘Umar al-Zamakhshari (m. 538/1144), seorang ulama dan pengarang kitab tafsir; dan Ahmad b. ‘Abd al-Halim Ibn Taymiyyah (m. 727/1328). Tiga tokoh yang disebutkan ini ialah antara ulama besar dalam bidang tafsir dan perundangan Islam. Ratusan penyelidikan telah dilakukan tentang sejarah dan sumbangan pemikiran mereka dan berjaya pula menghasilkan tesis-tesis sarjana atau doktor falsafah.

Ramai ulama berpandangan bahwa khwin membunuh cita-cita sebagai seorang ilmuan. Umar b. al-Khattab (m. 23/644), misalannya pernah menasihati muridnya supaya belajar bersungguh-sungguh sebelum kahwin. Begitu juga dengan Imam Abu Hanifah (m. 150/767) pernah menasihati Abu Yusuf (m. 182/798) agar jangan berkahwin di usia muda. Setelah berkahwin, masa akan tertumpu kepada keluarga, tidak lagi kepada pelajaran. Ulama yang memilih hidup tanpa kahwin tentu ada sebab-sebabnya sama ada peribadi atau lain-lain. Kebiasaannya para ulama memilih hidup bujang disebabkan tanggungjawab mereka yang besar terhadap umat Islam. Mereka hidup sepenuh masa dengan berbakti kepada ilmu pengetahuan, menjadi ahli ibadat, ulat buku, pengarang buku dan lain-lain. Sebagai bayarannya, mereka rela hidup tanpa kahwin sepanjang usia.

            Beberapa  Bentuk Tingkah Laku Pertahanan Diri
1.      Bermimpi. Menurut beberapa ahli, asal mula mimpi bersumber pada suatu persoalan  pribadi. Bila persoalan tersebut belum mencapai penyelesaian, maka dalam mimpilah usaha mencari pemecahan persoalan itu diteruskan. Menurut Freud, seorang ahli psikoanalisis, selain merupakan suatu pengabulan keinginan, mimpi juga merupakan alas pelindung terhadap gangguan-gangguan yang mengganggu kelangsungan tidur. Misalnya, orang yang harus bangun dan bekemas-kemas untuk pergi ke pekarjaannya, akan bermimpi sedang melaksanakan pekerjaan di kantornya. Atau, seorang ibu yang harus menyiapkan makanan untuk sarapan, akan bermimpi sedang menanak nasi.
            Alhasil, dengan mimpi ini mereka tidak akan terbangun dan dapat tidur terns.
2.      Fantasi. Dengan fantasi diartikan suatu perbuatan yang dilakukan dalam khayalan. Bahaya dari cara pertahanan dengan fantasi ini adalah kepuasan yang diperolehnya dengan penyelesaian yang tidak ada. Bila cara ini dipakai seseorang secara berlebihan maka akan mencapai keadaan di mana hidup delam kenyataan tidak memuaskan lagi. Akhirnya, ia akan menarik diri dari arus kehidupan, mengasingkan diri dan hidup dalam alam fantasinya. Akhirnya, mungkin akan tercapai saat dimana usaha untuk mempertahankan hidupnya pun dilalaikannya dan kelangsungan hidupnua akan tergantung pada perawatan orang lain.
3.      Kompensasi. Cara ini sering dipilih untuk mengatasi frustasi yang dialami karena kekurangan pada salah satu aspek dalam diri sendiri. Dengan kompensasi, usaha ditujukan kepada penyaluran motif yang dapat disalurkan bila ada motif-motif yang tidak mungkin tersalurkan. Misalnya, seorang anak mengetahui dirinya tidak mempu mencapai prestasi tinggi di sekolah. Ia akan menunjukan kebiasaannya dalam bidang olahraga. Disini terlihat pula bahwa objek tujuan tadi telah diganti.
4.      Over kompensasi. Kompensasi dilakukan dengan berlebihan sebagai usaha untuk mengatasi perasaan rendah diri dan ancaman akan hilangnya penghargaan dari orang lain terhadap dirinya.
5.      Rasionalisasi. Rasionalisasi ini merupakan cara berpikir yang salah, kepalsuan dalam cara berpikir yang bertujuan untuk mempertahankan harga diri. Misalnya, seorang laki-laki yang mempunyai hubungan dengan seorang perempuandiluar pernikahannya. Ia akan membenarkan perbuatannya dengan mengmukakan alasan bahwa pasa hakikatnya laki-laki bersifat poligami. Sebaliknya, gagasan untuk mengaku secara terus terang kepada istrinya pun akan ditolaknya dengan dalih “istrinya akan lebih bahagia, tanpa mengetahui seluk-beluk hubungan-hubungan suaminya.” Setiap alasan yang dikemukakanmerupakan alasan untuk membenarkan peruatannya dan mempertahankan harga dirinya.
6.      Represi. Usaha untuk melupakan segala hal yang dapat mengingatkan kembali akan kegagalan atau frustasi yang pernah di-alami secara mendalam. Bila pertahanannya cukup kuat maka tidak akan terjadi keguncangan apa pun. Sebaliknya, bila melemah, maka mungkin terjadi luapan emosi atau cara-cara reaksi kembali ke tingkat perkembangan yang sudah dilaluinya. Misalnya, dengan bertingkah laku kekanak-kanakan (regresi).
7.      Subtitusi. Subtitusi aktivitas. Sumblimasi. Subtitusi aktivitas dengan aktivitas yang mempunyai arti sosial.
8.      Displacement. Pengalihan objek aktivitas dengan penyaluran aktivitas ke objek pengganti.
            Dengan demikian, jelaslah bahwa perjuangan hidup manusia selalu berintikan pada mempertahakan diri, baik secara fisik maupun psikis.
Sumber :
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri