PENGERTIAN STRESS
I. ARTI PENTING STRESS
Terjadinya stres tergantung pada
stresor dan tanggapan seseorang terhadap stresor tersebut. Stresor meliputi
berbagai hal. Lingkungan fisik bisa menjadi sumber stresor, seperti suhu yang
terlalu panas atau dingin, perubahan cuaca, cahaya yang terlalu terang/ gelap,
suara yang terlalu bising dan polusi merupakan sumber-sumber potensial yang
bisa menjadi stresor. Kepadatan juga bisa mengakibatkan stres. Penduduk yang
tinggal di kampung-kampung yang kumuh yang biasanya harus membagi ruang
geraknya dengan banyak orang lain,cenderung lebih mudah meledak dibanding
dengan penduduk yang tinggal di area yang kurang padat.
Stresor bisa berasal dari
individu sendiri. Konflik yang berhubungan dengan peran dan tuntutan tanggung jawab
yang dirasakan berat bisa membuat seseorang menjadi tegang. Stresor yang lain
berasal dari kelompok seperti : hubungan
dengan teman, hubungan dengan atasan, dan hubungan dengan bawahan. Terakhir,
stresor bisa bersumber dari keorganisasian seperti kebijakan yang diambil
perusahaan, struktur organisasi yang tidak sesuai, dan partisipasi para anggota
yang rendah.
Selain itu tanggapan individu
turut memengaruhi apakah suatu sumber stres/stresor itu menjadi stres atau
tidak. Stresor yang sama bisa berakibat berbeda pada individu yang berbeda
karena adanya perbedaan tanggapan antar individu (individual differences).
Perbedaan individu meliputi tingkat usia, jenis kelamin, pendidikan, kesehatan
fisik, kepribadian, harga diri, toleransi terhadap kedwiartian, dan
lain-lain.Usia berhubungan dengan toleransi seseorang terhadap stres dan jenis
stresor yang paling mengganggu. Usia dewasa biasanya lebih mampu mengontrol
stres dibanding dengan usia anak-anak dan usia lanjut. Dengan kata lain, orang
dewasa biasanya mempunyai toleransi terhadap stresor yang lebih baik.
Wanita biasanya mempunyai daya
tahan yang lebih baik terhadap stresor dibanding dengan prig. Secara biologis
tubuh wanita lebih lentur dibanding prig sehingga toleransinya terhadap stres
lebih baik. Terlebih bila wanita tersebut masih pada usia-usia produktif di
mana hormon¬hormon masih bekeda normal.Tingkat pendidikan juga memengaruhi
seseorang mudah terkena stres atau tidak. Semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang, toleransi dan pengontrolan terhadap stresor biasanya lebih
baik.Tingkat kesehatan seseorang juga memengaruhi mudah tidaknya terkena stres.
Orang yang sakit lebih mudah menderita akibat stres dibanding orang yang sehat.
Faktor kepribadian menentukan
mudah tidaknya seseorang terkena stres. Orang tipe A cenderung akan lebih mudah
terkena penyakit jantung daripada kepribadian tipe B. Harga diri yang rendah
juga cenderung membuat efek stres lebih besar dibanding orang yang mempunyai
harga diri tinggi.Toleransi terhadap sesuatu yang bersifat Samar juga uga
menentukan mudah tidaknya seseorang terkena stres. Orang yang kaku dan
memandang segala sesuatu sebagai hitam dan putih biasanya lebih mudah terkena
stres dari pada orang yang bisa menerima adanya warna abu-abu dalam kdildupan.
Sumber:
Siswanto.2007.
Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
I.A. Efek-efek Stress Sindrom Adaptasi Umum
(General Adaptation Syndrom)
Teori Sindrom Adaptasi Umum ini
dikenalkan oleh Hans Selye. Meskipun teorinya bersifat umum, tapi teori ini
cukup membantu untuk memahami reaksi individu terhadap stres. Selye berpendapat
bahwa tubuh bereaksi secara sama ketika menghadapi stres, tidak peduli apapun
jenis stresornya. Jadi dengan kata lain reaksi pertahanan fisiologis yang
dilakukan oleh tubuh ketika menghadapi stresor merupakan pola-pola reaksi yang
universal/sama pada setiap orang. Reaksi pertahanan fisiologis ini bertujuan
untuk melindungi organisme dan menjaga integritasnya supaya organisme tersebut
tetap survive. Asumsi kedua yang dikemukakannya, bila stres berlangsung dalam
jangka waktu yang lama sehingga reaksi pertahanan fisiologis juga berangsung
dalam waktu yang lama dan bahkan mengalami peningkatan, maka ini akan
mengakibatkan terjadinya "penyakit adaptasi", yaitu penyakit/ gangguan
yang terjadi sebagai akibat/ harga dari adaptasi yang dilakukan terhadap stres
yang berkepanjangan tersebut.
Selanjutnya dijelaskan bahwa
tubuh memiliki tingkat resistensi normal, yaitu tingkat resistensi ketika tubuh
dalam kondisi biasa (tidak menghadapi stres). Pada saat menghadapi stres,
tingkat resistensi ini mengalami perubahan dengan tujuan agar mampu beradaptasi
dengan stress yang dialami. Reaksi tubuh terhadap stres bisa dibagi menjadi
tiga fase. Fase pertama adalah fase ketika tubuh memberikan reaksi mula-mula
ketika terkena stres. Pada tahap awal terjadinya stres ini tubuh mengalami
perubahan-perubahan fisiologis sehingga tingkat resistensinya dibawah bawah
tingkat normal. Akibatnya individu merasakan gejala-gejala seperti degup
jantung yang semakin cepat, Papas yang memburu, keringat dingin, dan
sebagainya. Tahap awal ini disebut sebagai fase alarm, fase peringatan bahwa
ada stres yang perlu ditangani. Pada tahap ini bila stresomya terlalu kuat
(seperti kebakaran berat atau suhu yang terlalu ekstrim, sehingga banyak
simpul-simpul saraf receptor yang bereaksi, meskipun kerusakan yang dialami
tidak parah) individunya bisa mengalami kematian. Ini disebabkan karena tingkat
resistensi individu tersebut memang sedang menurun.
Bila stres berlangsung terus
menerus karena stresornya tetap eksis, maka tingkat resistensi tubuh akan
mengalami peningkatan di atas tingkat yang normal dengan tujuan untuk melakukan
adaptasi terhadap stresor tersebut sehingga individunya bisa berfungsi dengan
optimal. Pada tahap ini tanda-tanda ketubuhan (alarm) pada tubuh menghilang
karena individunya sudah berhasil melakukan "adaptasi" terhadap
stresor. Fase ini disebut fase resistensi. Orang sudah merasa normal kembali
meskipun stresnya sebenarya masih ada, namun energi yang dikeluarkan lebih
tinggi dari biasanya sehingga tubuh sebenarnya bekerja lebih keras.
Bila stres masih terus berlanjut
sehingga tubuh masih terus diminta untuk menyesuaikan diri dengan stresornya,
maka pada satu titik tertentu energi yang digunakan tubuh untuk penyesuaian
tersebut akan mulai habis. Pada saat ini tingkat resistensi tubuh akhirnya mau
tidak mau akan menurun sampai di bawah normal kembali. Fase ini disebut sebagai
fase kelelahan. Pada saat ini tanda-tanda ketubuhan seperti pada fase alarm mulai
muncul kembali, tetapi karena energi yang digunakan sudah habis, tubuh tidak
dapat lagi melakukan adaptasi. Berbagai macam gangguan baik secara fisik maupun
psikologis terjadi, menurut teori ini pada dasarnya karena individu yang
mengalaminya sudah sampai pada fase ketika ini. Bila stresnya masih terus
berlangsung, maka gangguan akan semakin parah dan pada akhimya individu yang
bersangkutan akan mengalami kematian.
Perlu diperhatikan, bahwa stresor
tidak harus berupa situasi atau sesuatu yang nyata/ril. Stresor juga bisa
teriadi secara subjektif berupa pikiran-pikiran/imajinasi-imajinasi. Misalnya,
orang yang membayangkan dia akan dimarahi oleh atasannya, sudah mengalami
stres, meskipun kejadian aktualnya tidak/belum ada.
Sumber:
Siswanto.2007.
Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
II. TIPE-TIPE STRESS
Frustrasi terjadi bila antara
harapan yang diinginkan dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai. Putus pacar,
perceraian, masalah yang tidak kunjung selesai adalah contoh lain peristiwa
yang bisa memunculkan Frustrasi.
Frustrasi juga terjadi bila
tujuan yang ingin dicapai mendapatkan rintangan (Atkinson, dkk., 1991). Anda
ingin cepat tidur karena badan terasa sangat capai setelah seharian kendaraan
Anda mogok sehingga Anda harus membawanya ke bengkel dan rencana yang sudah
disusun menjadi berantakan. Setiba di rumah ternyata kondisi rumah tidak
seperti yang Anda bayangkan. Anak-anak yang masih kecil mengajak Anda untuk
bermain. Ketika Anda melihat istri, istri juga tampaknya sudah bosan bermain
dengan anak karena sepanjang hari dia sudah menjagai mereka. Anda mengatakan
ingin istirahat, namun. anak-anak yang masih kecil tidak peduli, mereka tidak
mengerti kelelahan Anda. Mereka berlari-lari, berteriak-teriak sambil berkejar-kejaran.
Anda yang tadinya menginginkan suasana senang menjadi naik pitam. Tiba-tiba
Anda membentak anak Anda supaya bermain dengan tenang. Rupanya anak Anda tidak
mau mengerti, mereka malah membalas bentakan Anda dengan semakin keras
berteriak-teriak. Anda menjadi semakin marah dan sekarang Anda menghampiri anak
Anda dan kemudian memukul pantatnya. Anda mengalami frustrasi. Pada contoh
terakhir, frustrasi yang Anda alami melahirkan reaksi kemarahan dan akhimya
berbuntut tindakan agresi (memukul anak). Tindakan agresi diambil bila individu
merasa lebih kuat dari lawannya. Sebaliknya bila individu merasa lebih lemah,
maka biasanya tindakan yang diambil ketika terjadi frustrasi adalah menghindar
atau melarikan diri.
Frustrasi memiliki dua sisi, yang
pertama adalah fakta tidak tercapainya harapan yang diinginkan. Sisi kedua
adalah perasaan dan emosi Yang menyertai fakta tersebut. Pada contoh di atas
adalah fakta mendapatkan nilai jelek atau dimarahi oleh bos. Perasaan dan emosi
yang muncul adalah kesal, marah, dan perasaan-perasaan lainnya yang mungkin
muncul. Akibat selanjutnya, bisa memunculkan gejala-gejala ketubuhan yang
disebut sebagai psikosomatis. Mengenai psikosomatis ini akan dibahas pada
uraian tersendiri. penting untuk dipahami bahwa Frustrasi menimbulkan stres
atau tekanan. Bila tidak dikelola dengan baik maka stres atau tekanan akan
berakibat merugikan bagi individu.
III. SYMTOM REDUCING RESPONSES STRESS
III.A. RESPON TERHADAP STRESS (menyangkut Defense
Mechanism)
Kaitan antara koping dengan
mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), ada ahli yang melihat defense
mechanism sebagai salah satu jenis koping (Lazarus, 1976). Ahli lain melihat
antara koping dan mekanisme pertahanan diri sebagai dua hal yang berbeda
(Harber & Runyon, 1984 ).
Lazarus
membagi koping menjadi dua jenis, yaitu:
1. Tindakan
Langsung (Direct Action)
Koping jenis ini adalah setiap
usaha tingkah laku yang dijalankan oleh individu untuk mengatasi kesakitan atau
luka, ancaman atau tantangan dengan cara mengubah hubungan yang bermasalah
dengan lingkungan. Individu menjalankan koping jenis direct action atau
tindakan langsung bila dia melakukan perubahan posisi terhadap masalah yang
dialami.
Ada
4 macam koping jenis tindakan langsung :
a. Mempersiapkan
diri untuk menghadapi luka
Individu melakukan langkah aktif
dan antisipatif (beraksi) untuk menghilangkan atau mengurangi bahaya dengan
cara menempatkan diri secara langsung pada keadaan yang mengancam dan melakukan
aksi yang sesuai dengan bahaya tersebut. Misalnya, dalam rangka menghadapi
ujian, Tono lalu mempersiapkan diri dengan mulai belajar sedikit demi sedikit
tiap-tiap mata kuliah yang diambilnya, sebulan sebelum ujian dimulai. Ini dia
lakukan supaya prestasinya lebih baik dibanding dengan semester sebelumnya,
karena dia hanya mempersiapkan diri menjelang ujian saja. Contoh dari koping
jenis ini lainnya adalah imunisasi. Imunisasi merupakan tindakan yang dilakukan
oleh orang tua supaya anak mereka menjadi lebih kebal terhadap kemungkinan
mengalami penyakit tertentu.
b. Agresi
Agresi adalah tindakan yang
dilakukan oleh individu dengan menyerang agen yang dinilai mengancam atau akan
melukai. Agresi dilakukan bila individu merasa/menilai dirinya lebih
kuat/berkuasa terhadap agen yang mengancam tersebut. Misalnya, tindakan
penggusuran yang dilakukan oleh pemerintah Jakarta terhadap penduduk yang
berada di pemukiman kumuh. Tindakan tersebut tergolong ke dalam agresi, dan
tindakan tersebut bisa dilakukan karena pemerintah memiliki kekuasaan yang
lebih besar dibanding dengan penduduk setempat yang digusur.
c. Penghindaran
(Avoidance)
Tindakan ini terjadi bila agen
yang mengancam dinilai lebih berkuasa dan berbahaya sehingga individu memilih
cara menghindari atau melarikan diri situasi yang mengancam tersebut. Misalnya,
penduduk yang melarikan diri dari rumah-rumah mereka karena takut akan menjadi
korban pada daerah-daerah konflik seperti di Aceh.
d. Apati
Jenis koping ini merupakan pola
orang yang putus asa. Apati dilakukan dengan cara individu yang bersangkutan
tidak bergerak dan menerima begitu saja agen yang melukai dan tidak ada usaha
apa-apa untuk melawan ataupun melarikan diri dari situasi yang mengancam
tersebut. Misalnya, pada kerusuhan Mei Orang-orang Cina yang menjadi korban umumnya tutup mulut, tidak melawan dan
berlaku pasrah terhadap kejadian biadab yang menimpa mereka. Pola apati tejadi
bila baik tindakan mempersiapkan diri menghadapi luka, agresi maupun avoidance
sudah tidak memungkinkan lagi dan situasinya terjadi berulang-ulang. Dalam
kasus di atas, orang-orang Cina sering kali dan berulang kali menjadi korban
ketika terjadi kerusuhan sehingga menimbulkan reaksi apati di kalangan mereka.
2.
Peredaan atau Peringanan (Palliation)
Jenis koping ini mengacu pada
mengurangi/ menghilangkan/ menoleransi tekanan-tekanan ketubuhan/ fisik,
motorik atau gambaran afeksi dari tekanan emosi yang dibangkitkan oleh
lingkungan yang bermasalah. Atau bisa diartikan bahwa bila individu menggunakan
koping jenis ini, posisinya dengan masalah relatif tidak berubah, yang berubah
adalah diri individu, yaitu dengan cara merubah persepsi atau reaksi emosinya.
Ada
2 macam koping jenis peredaan/palliation :
a.Diarahkan psda
Gejala (Symptom Directed Modes)
Macam koping ini digunakan bila
gejala-gejala gangguan muncul dari diri individu, kemudian individu melakukan
tindakan dengan cara mengurangi gangguan yang berhubungan dengan emosi-emosi
yang disebabkan oleh tekanan atau ancaman tersebut. Penggunaan obat-obat
terlarang, narkotika, merokok, alkohol merupakan bentuk koping dengan cara
diarahkan pada gejala. Namun tidak selamanya cara ini bersifat negatif.
Melakukan relaksasi, meditasi atau berdoa untuk mengatasi ketegangan juga
tergolong ke dalam symptom directed modes
tetapi bersifat positif.
b.Cara Intrapsikis
(Intrapsychic Modes)
Koping jenis peredaan dengan cara
Intrapsikis adalah cara-cara yang menggunakan perlengkapan-perlengkapan
psikologis kita, yang biasa dikenal dengan istilah Defense Mechanism (Mekanisme Pertahanan Diri ).
Macam-macam
Defense Mechanism :
1. Identifikasi
Yaitu menginternalisasi ciri-ciri
yang dimiliki oleh orang lain yang berkuasa dan dianggap mengancam.
Identifikasi biasanya dilakukan oleh anak terhadap orang tua mereka.
2. Pengalihan (Displacement)
Yaitu memindahkan reaksi dari
objek yang mengancam ke objek yang lain karena objek yang asli tidak ada atau
berbahaya bila diagresi secara langsung. Misalnya, seorang bawahan dimarahi
oleh atasannya di kantor. Bawahan tersebut kemudian memarahi istrinya di rumah
karena tidak berani membantah atasannya. Istri kemudian memarahi anaknya. Ini
merupakan contoh klasik dari displacement.
3. Represi
Yaitu menghalangi impuls-impuls
yang ada atau tidak bisa diterima sehingga impuls-impuls tersebut tidak dapat
diekspresikan secara sadar/langsung dalam tingkah laku. Misalnya, dorongan
seksual karena dianggap tabu lalu ditekan begitu saja ke dalam ketidaksadaran
Dorongan tersebut lalu muncul dalam bentuk mimpi.
4. Denial
Yaitu melakukan bloking atau
menolak terhadap, kenyataan yang ada karena kenyataan yang ada dirasa mengancam
integritas individu yang bersangkutan. Istri yang baru saja ditinggal mati oleh
suaminya secara mendadak, merasa suaminya masih hidup sehingga tiap sore dia
masih membuatkan kopi untuk suaminya seperti biasanya, ini merupakan contoh
dari denial. Fanatisme agama dengan menganggap agama/kepercayaan lain merupakan
sesuatu yang salah, sedangkan agama/kepercayaan yang dijalani merupakan
satu-satunya yang benar merupakan contoh lain mekanisme denial, karena
sebenarnya individu yang fanatik tersebut merasa terancam dengan adanya
keyakinan lain, yang berpotensi mengancam integritas keyakinannya sendiri.
5. Reaksi Formasi
Yaitu dorongan yang mengancam
diekspresikan dalam bentuk tingkah laku secara terbalik. Contoh klasik dari
pertahanan diri jenis ini adalah orang yang sebenarnya mencintai, namun dalam
tingkah laku memunculkan tindakan yang seolah-olah membenci orang yang
dicintai.
6. Proyeksi
Yaitu mengatribusikan/menerapkan
dorongan - dorongan yang dimiliki pada orang lain karena dorongan-dorongan
tersebut mengancam integritas. Misalnya, A mencintai B, namun karena cinta yang
dirasakan itu mengancam harga dirinya, lalu A menyatakan bahwa B-lah yang
mencintainya.
7. Rasionalisasi/ Intelektualisasi
Yaitu dua gagasan yang berbeda
dijaga supaya tetap terpisahkan karena bila bersama-sama akan mengancam.
Misalnya semua orang sepakat bahwa kesejahteraan umat manusia hanya bisa
terjadi lewat cara-cara damai, namun tidak sedikit pula orang yang mengakui hal
di atas, mendukung jalan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka.
8. Sublimasi
yaitu dorongan atau impuls yang
ditransformasikan menjadi bentuk¬bentuk yang diterima secara sosial sehingga
dorongan atau impuls tersebut menjadi sesuatu yang benar-henar berbeda dari
dorongan atau impuls aslinya. Contoh sublimasi adalah orang yang memiliki
dorongan seks yang kuat lalu menggunakan energi tersebut untuk menjadi sumber
dari dorongan religiusnya, sehingga dia mengalami pengalaman mistik dan mampu
bekerja bagi kemanusiaan, karena pada dasarnya religiusitas memiliki
persamaan/kaitan dengan seksualitas yaitu dalam hal pengalaman penyatuan/peleburan.
Pada dasamya mekanisme pertahanan
diri (defense mechanism) terjadi tanpa disadari dan bersifat membohongi diri
sendiri terhadap realita yang ada, baik realita yang ada di luar
(fakta/kebenaran) maupun realita yang ada di dalam (dorongan/impuls/nafsu).
Defense mechanism bersifat menyaring realita yang ada sehingga individu yang
bersangkutan tidak bisa memahami hakekat dari keseluruhan realita yang ada. Ini
membuat sebagian besar ahli menyatakan bahwa koping jenis defense mechanism
merupakan koping yang tidak sehat (kecuali sublimasi). Defense mechanism yang tidak disadari, akan dapat disadari melalui
refleksi diri yang terus menerus Dengan cara begitu individu bisa mengetahui
jenis mekanisme pertahanan diri yang biasa dilakukan dan kemudian menggantinya
dengan koping yang Iebih konstruktif.
Sumber:
Siswanto.2007.
Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
III.B. PENDEKATAN PROBLEM SOLVING
(Strategi
koping yang spontan mengatasi stress)
Ada berbagai cara untuk mengatasi
stres. Kalau akibat stres telah
memengaruhi fisik dan bahkan menimbulkan penyakit tertentu, peranan
obat/medikasi biasanya diperlukan. Namun obat itu sendiri kurang efektif untuk
mengatasi stres, dalam jangka panjang. Ada efek negatif bila menggunakan obat
terus menerus. Disamping obat-obat tertentu membutuhkan biaya yang mahal, obat
juga bisa mengakibatkan ketergantungai dan bahkan membuat orang tertentu kebal
terhadap obat tertentu.
Beberapa teknik terapi telah
dikembangkan dan dicobakan untuk mengatasi stres ini. Biofeedback adalah salah satu teknik untuk mengetahui bagian-bagian
tubuh mana yang terkena stres dan kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik
ini menggunakan serangkaian alat yang cukup rumit, gunanya sebagai feedback
atau umpan balik untuk terhadap, bagian tubuh tertentu. Biofeedback agak kurang
efektif untuk digunakan secara praktis.
Seringkali istirahat dan
melakukan olah raga yang teratur disebut - sebut sebagai salah satu cara yang
efektif untuk mencegah dan menyembuhkan stres. Memang cara hidup yang teratur
membuat seseorang tidak mudah terkena
stres.
Relaksasi adalah teknik yang
paling efektif untuk menyembuhkan stres. Ada berbagai teknik relaksasi, tetapi
yang biasa digunakan adalah teknik relaksasi dengan mengendurkan otot-otot
seluruh tubuh, kemudian pengendoran dilakukan pada bagian-bagian tubuh yang
sering mengalami stres. Semakin lama berlatih teknik relaksasi, orang akan
semakin peka dan semakin spontan untuk dapat merasakan bagian tubuh yang mana
yang terkena stres dan semakin mudah untuk mengembalikan pada keadaan semula.
Meditasi merupakan teknik yang
mulai diminati sebagai salah satu cara mengatasi stres. Selain bisa mencegah
stres, meditasi juga memiliki keuntungan lain seperti konsentrasi menjadi lebih
tajam dan pikiran menjadi lebih tenang.
Pencegahan terhadap stres bisa
dilakukan dengan mengubah sikap hidup. Orang yang terlibat lebih aktif dengan
pekerjaan dan kehidupan masyarakat, lebih berorientasi pada tantangan dan
perubahan, dan merasa dapat menguasai kejadian-kejadian dalam hidupnya adalah
orang yang tidak akan mudah terkena efek negatif stres
Sumber:
Siswanto.2007.
Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI