Senin, 29 April 2013

TULISAN II


PENGERTIAN STRESS
I.          ARTI PENTING STRESS
Terjadinya stres tergantung pada stresor dan tanggapan seseorang terhadap stresor tersebut. Stresor meliputi berbagai hal. Lingkungan fisik bisa menjadi sumber stresor, seperti suhu yang terlalu panas atau dingin, perubahan cuaca, cahaya yang terlalu terang/ gelap, suara yang terlalu bising dan polusi merupakan sumber-sumber potensial yang bisa menjadi stresor. Kepadatan juga bisa mengakibatkan stres. Penduduk yang tinggal di kampung-kampung yang kumuh yang biasanya harus membagi ruang geraknya dengan banyak orang lain,cenderung lebih mudah meledak dibanding dengan penduduk yang tinggal di area yang kurang padat.
Stresor bisa berasal dari individu sendiri. Konflik yang berhubungan dengan peran dan tuntutan tanggung jawab yang dirasakan berat bisa membuat seseorang menjadi tegang. Stresor yang lain berasal dari kelompok seperti :  hubungan dengan teman, hubungan dengan atasan, dan hubungan dengan bawahan. Terakhir, stresor bisa bersumber dari keorganisasian seperti kebijakan yang diambil perusahaan, struktur organisasi yang tidak sesuai, dan partisipasi para anggota yang rendah.
Selain itu tanggapan individu turut memengaruhi apakah suatu sumber stres/stresor itu menjadi stres atau tidak. Stresor yang sama bisa berakibat berbeda pada individu yang berbeda karena adanya perbedaan tanggapan antar individu (individual differences). Perbedaan individu meliputi tingkat usia, jenis kelamin, pendidikan, kesehatan fisik, kepribadian, harga diri, toleransi terhadap kedwiartian, dan lain-lain.Usia berhubungan dengan toleransi seseorang terhadap stres dan jenis stresor yang paling mengganggu. Usia dewasa biasanya lebih mampu mengontrol stres dibanding dengan usia anak-anak dan usia lanjut. Dengan kata lain, orang dewasa biasanya mempunyai toleransi terhadap stresor yang lebih baik.
Wanita biasanya mempunyai daya tahan yang lebih baik terhadap stresor dibanding dengan prig. Secara biologis tubuh wanita lebih lentur dibanding prig sehingga toleransinya terhadap stres lebih baik. Terlebih bila wanita tersebut masih pada usia-usia produktif di mana hormon¬hormon masih bekeda normal.Tingkat pendidikan juga memengaruhi seseorang mudah terkena stres atau tidak. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, toleransi dan pengontrolan terhadap stresor biasanya lebih baik.Tingkat kesehatan seseorang juga memengaruhi mudah tidaknya terkena stres. Orang yang sakit lebih mudah menderita akibat stres dibanding orang yang sehat.
Faktor kepribadian menentukan mudah tidaknya seseorang terkena stres. Orang tipe A cenderung akan lebih mudah terkena penyakit jantung daripada kepribadian tipe B. Harga diri yang rendah juga cenderung membuat efek stres lebih besar dibanding orang yang mempunyai harga diri tinggi.Toleransi terhadap sesuatu yang bersifat Samar juga uga menentukan mudah tidaknya seseorang terkena stres. Orang yang kaku dan memandang segala sesuatu sebagai hitam dan putih biasanya lebih mudah terkena stres dari pada orang yang bisa menerima adanya warna abu-abu dalam kdildupan.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
I.A.      Efek-efek Stress Sindrom Adaptasi Umum (General Adaptation Syndrom)
Teori Sindrom Adaptasi Umum ini dikenalkan oleh Hans Selye. Meskipun teorinya bersifat umum, tapi teori ini cukup membantu untuk memahami reaksi individu terhadap stres. Selye berpendapat bahwa tubuh bereaksi secara sama ketika menghadapi stres, tidak peduli apapun jenis stresornya. Jadi dengan kata lain reaksi pertahanan fisiologis yang dilakukan oleh tubuh ketika menghadapi stresor merupakan pola-pola reaksi yang universal/sama pada setiap orang. Reaksi pertahanan fisiologis ini bertujuan untuk melindungi organisme dan menjaga integritasnya supaya organisme tersebut tetap survive. Asumsi kedua yang dikemukakannya, bila stres berlangsung dalam jangka waktu yang lama sehingga reaksi pertahanan fisiologis juga berangsung dalam waktu yang lama dan bahkan mengalami peningkatan, maka ini akan mengakibatkan terjadinya "penyakit adaptasi", yaitu penyakit/ gangguan yang terjadi sebagai akibat/ harga dari adaptasi yang dilakukan terhadap stres yang berkepanjangan tersebut.
Selanjutnya dijelaskan bahwa tubuh memiliki tingkat resistensi normal, yaitu tingkat resistensi ketika tubuh dalam kondisi biasa (tidak menghadapi stres). Pada saat menghadapi stres, tingkat resistensi ini mengalami perubahan dengan tujuan agar mampu beradaptasi dengan stress yang dialami. Reaksi tubuh terhadap stres bisa dibagi menjadi tiga fase. Fase pertama adalah fase ketika tubuh memberikan reaksi mula-mula ketika terkena stres. Pada tahap awal terjadinya stres ini tubuh mengalami perubahan-perubahan fisiologis sehingga tingkat resistensinya dibawah bawah tingkat normal. Akibatnya individu merasakan gejala-gejala seperti degup jantung yang semakin cepat, Papas yang memburu, keringat dingin, dan sebagainya. Tahap awal ini disebut sebagai fase alarm, fase peringatan bahwa ada stres yang perlu ditangani. Pada tahap ini bila stresomya terlalu kuat (seperti kebakaran berat atau suhu yang terlalu ekstrim, sehingga banyak simpul-simpul saraf receptor yang bereaksi, meskipun kerusakan yang dialami tidak parah) individunya bisa mengalami kematian. Ini disebabkan karena tingkat resistensi individu tersebut memang sedang menurun.
Bila stres berlangsung terus menerus karena stresornya tetap eksis, maka tingkat resistensi tubuh akan mengalami peningkatan di atas tingkat yang normal dengan tujuan untuk melakukan adaptasi terhadap stresor tersebut sehingga individunya bisa berfungsi dengan optimal. Pada tahap ini tanda-tanda ketubuhan (alarm) pada tubuh menghilang karena individunya sudah berhasil melakukan "adaptasi" terhadap stresor. Fase ini disebut fase resistensi. Orang sudah merasa normal kembali meskipun stresnya sebenarya masih ada, namun energi yang dikeluarkan lebih tinggi dari biasanya sehingga tubuh sebenarnya bekerja lebih keras.
Bila stres masih terus berlanjut sehingga tubuh masih terus diminta untuk menyesuaikan diri dengan stresornya, maka pada satu titik tertentu energi yang digunakan tubuh untuk penyesuaian tersebut akan mulai habis. Pada saat ini tingkat resistensi tubuh akhirnya mau tidak mau akan menurun sampai di bawah normal kembali. Fase ini disebut sebagai fase kelelahan. Pada saat ini tanda-tanda ketubuhan seperti pada fase alarm mulai muncul kembali, tetapi karena energi yang digunakan sudah habis, tubuh tidak dapat lagi melakukan adaptasi. Berbagai macam gangguan baik secara fisik maupun psikologis terjadi, menurut teori ini pada dasarnya karena individu yang mengalaminya sudah sampai pada fase ketika ini. Bila stresnya masih terus berlangsung, maka gangguan akan semakin parah dan pada akhimya individu yang bersangkutan akan mengalami kematian.
Perlu diperhatikan, bahwa stresor tidak harus berupa situasi atau sesuatu yang nyata/ril. Stresor juga bisa teriadi secara subjektif berupa pikiran-pikiran/imajinasi-imajinasi. Misalnya, orang yang membayangkan dia akan dimarahi oleh atasannya, sudah mengalami stres, meskipun kejadian aktualnya tidak/belum ada.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI

II.        TIPE-TIPE STRESS
Frustrasi terjadi bila antara harapan yang diinginkan dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai. Putus pacar, perceraian, masalah yang tidak kunjung selesai adalah contoh lain peristiwa yang bisa memunculkan Frustrasi.
Frustrasi juga terjadi bila tujuan yang ingin dicapai mendapatkan rintangan (Atkinson, dkk., 1991). Anda ingin cepat tidur karena badan terasa sangat capai setelah seharian kendaraan Anda mogok sehingga Anda harus membawanya ke bengkel dan rencana yang sudah disusun menjadi berantakan. Setiba di rumah ternyata kondisi rumah tidak seperti yang Anda bayangkan. Anak-anak yang masih kecil mengajak Anda untuk bermain. Ketika Anda melihat istri, istri juga tampaknya sudah bosan bermain dengan anak karena sepanjang hari dia sudah menjagai mereka. Anda mengatakan ingin istirahat, namun. anak-anak yang masih kecil tidak peduli, mereka tidak mengerti kelelahan Anda. Mereka berlari-lari, berteriak-teriak sambil berkejar-kejaran. Anda yang tadinya menginginkan suasana senang menjadi naik pitam. Tiba-tiba Anda membentak anak Anda supaya bermain dengan tenang. Rupanya anak Anda tidak mau mengerti, mereka malah membalas bentakan Anda dengan semakin keras berteriak-teriak. Anda menjadi semakin marah dan sekarang Anda menghampiri anak Anda dan kemudian memukul pantatnya. Anda mengalami frustrasi. Pada contoh terakhir, frustrasi yang Anda alami melahirkan reaksi kemarahan dan akhimya berbuntut tindakan agresi (memukul anak). Tindakan agresi diambil bila individu merasa lebih kuat dari lawannya. Sebaliknya bila individu merasa lebih lemah, maka biasanya tindakan yang diambil ketika terjadi frustrasi adalah menghindar atau melarikan diri.
Frustrasi memiliki dua sisi, yang pertama adalah fakta tidak tercapainya harapan yang diinginkan. Sisi kedua adalah perasaan dan emosi Yang menyertai fakta tersebut. Pada contoh di atas adalah fakta mendapatkan nilai jelek atau dimarahi oleh bos. Perasaan dan emosi yang muncul adalah kesal, marah, dan perasaan-perasaan lainnya yang mungkin muncul. Akibat selanjutnya, bisa memunculkan gejala-gejala ketubuhan yang disebut sebagai psikosomatis. Mengenai psikosomatis ini akan dibahas pada uraian tersendiri. penting untuk dipahami bahwa Frustrasi menimbulkan stres atau tekanan. Bila tidak dikelola dengan baik maka stres atau tekanan akan berakibat merugikan bagi individu.
III.       SYMTOM REDUCING RESPONSES STRESS
III.A.   RESPON TERHADAP STRESS (menyangkut Defense Mechanism)
Kaitan antara koping dengan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), ada ahli yang melihat defense mechanism sebagai salah satu jenis koping (Lazarus, 1976). Ahli lain melihat antara koping dan mekanisme pertahanan diri sebagai dua hal yang berbeda (Harber & Runyon, 1984 ).
Lazarus membagi koping menjadi dua jenis, yaitu:
1.      Tindakan Langsung (Direct Action)
Koping jenis ini adalah setiap usaha tingkah laku yang dijalankan oleh individu untuk mengatasi kesakitan atau luka, ancaman atau tantangan dengan cara mengubah hubungan yang bermasalah dengan lingkungan. Individu menjalankan koping jenis direct action atau tindakan langsung bila dia melakukan perubahan posisi terhadap masalah yang dialami.
Ada 4 macam koping jenis tindakan langsung :
a. Mempersiapkan diri untuk menghadapi luka
Individu melakukan langkah aktif dan antisipatif (beraksi) untuk menghilangkan atau mengurangi bahaya dengan cara menempatkan diri secara langsung pada keadaan yang mengancam dan melakukan aksi yang sesuai dengan bahaya tersebut. Misalnya, dalam rangka menghadapi ujian, Tono lalu mempersiapkan diri dengan mulai belajar sedikit demi sedikit tiap-tiap mata kuliah yang diambilnya, sebulan sebelum ujian dimulai. Ini dia lakukan supaya prestasinya lebih baik dibanding dengan semester sebelumnya, karena dia hanya mempersiapkan diri menjelang ujian saja. Contoh dari koping jenis ini lainnya adalah imunisasi. Imunisasi merupakan tindakan yang dilakukan oleh orang tua supaya anak mereka menjadi lebih kebal terhadap kemungkinan mengalami penyakit tertentu.
b. Agresi
Agresi adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dengan menyerang agen yang dinilai mengancam atau akan melukai. Agresi dilakukan bila individu merasa/menilai dirinya lebih kuat/berkuasa terhadap agen yang mengancam tersebut. Misalnya, tindakan penggusuran yang dilakukan oleh pemerintah Jakarta terhadap penduduk yang berada di pemukiman kumuh. Tindakan tersebut tergolong ke dalam agresi, dan tindakan tersebut bisa dilakukan karena pemerintah memiliki kekuasaan yang lebih besar dibanding dengan penduduk setempat yang digusur.
c. Penghindaran (Avoidance)
Tindakan ini terjadi bila agen yang mengancam dinilai lebih berkuasa dan berbahaya sehingga individu memilih cara menghindari atau melarikan diri situasi yang mengancam tersebut. Misalnya, penduduk yang melarikan diri dari rumah-rumah mereka karena takut akan menjadi korban pada daerah-daerah konflik seperti di Aceh.
d.  Apati
Jenis koping ini merupakan pola orang yang putus asa. Apati dilakukan dengan cara individu yang bersangkutan tidak bergerak dan menerima begitu saja agen yang melukai dan tidak ada usaha apa-apa untuk melawan ataupun melarikan diri dari situasi yang mengancam tersebut. Misalnya, pada kerusuhan Mei Orang-orang Cina yang menjadi  korban umumnya tutup mulut, tidak melawan dan berlaku pasrah terhadap kejadian biadab yang menimpa mereka. Pola apati tejadi bila baik tindakan mempersiapkan diri menghadapi luka, agresi maupun avoidance sudah tidak memungkinkan lagi dan situasinya terjadi berulang-ulang. Dalam kasus di atas, orang-orang Cina sering kali dan berulang kali menjadi korban ketika terjadi kerusuhan sehingga menimbulkan reaksi apati di kalangan mereka.
2. Peredaan atau Peringanan (Palliation)
Jenis koping ini mengacu pada mengurangi/ menghilangkan/ menoleransi tekanan-tekanan ketubuhan/ fisik, motorik atau gambaran afeksi dari tekanan emosi yang dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. Atau bisa diartikan bahwa bila individu menggunakan koping jenis ini, posisinya dengan masalah relatif tidak berubah, yang berubah adalah diri individu, yaitu dengan cara merubah persepsi atau reaksi emosinya.
Ada 2 macam koping jenis peredaan/palliation :
a.Diarahkan psda Gejala (Symptom Directed Modes)
Macam koping ini digunakan bila gejala-gejala gangguan muncul dari diri individu, kemudian individu melakukan tindakan dengan cara mengurangi gangguan yang berhubungan dengan emosi-emosi yang disebabkan oleh tekanan atau ancaman tersebut. Penggunaan obat-obat terlarang, narkotika, merokok, alkohol merupakan bentuk koping dengan cara diarahkan pada gejala. Namun tidak selamanya cara ini bersifat negatif. Melakukan relaksasi, meditasi atau berdoa untuk mengatasi ketegangan juga tergolong ke dalam symptom directed modes tetapi bersifat positif.
b.Cara Intrapsikis (Intrapsychic Modes)
Koping jenis peredaan dengan cara Intrapsikis adalah cara-cara yang menggunakan perlengkapan-perlengkapan psikologis kita, yang biasa dikenal dengan istilah Defense Mechanism (Mekanisme Pertahanan Diri ).
Macam-macam Defense Mechanism :
1.       Identifikasi
Yaitu menginternalisasi ciri-ciri yang dimiliki oleh orang lain yang berkuasa dan dianggap mengancam. Identifikasi biasanya dilakukan oleh anak terhadap orang tua mereka.
2.       Pengalihan (Displacement)
Yaitu memindahkan reaksi dari objek yang mengancam ke objek yang lain karena objek yang asli tidak ada atau berbahaya bila diagresi secara langsung. Misalnya, seorang bawahan dimarahi oleh atasannya di kantor. Bawahan tersebut kemudian memarahi istrinya di rumah karena tidak berani membantah atasannya. Istri kemudian memarahi anaknya. Ini merupakan contoh klasik dari displacement.
3.      Represi
Yaitu menghalangi impuls-impuls yang ada atau tidak bisa diterima sehingga impuls-impuls tersebut tidak dapat diekspresikan secara sadar/langsung dalam tingkah laku. Misalnya, dorongan seksual karena dianggap tabu lalu ditekan begitu saja ke dalam ketidaksadaran Dorongan tersebut lalu muncul dalam bentuk mimpi.
4.      Denial
Yaitu melakukan bloking atau menolak terhadap, kenyataan yang ada karena kenyataan yang ada dirasa mengancam integritas individu yang bersangkutan. Istri yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya secara mendadak, merasa suaminya masih hidup sehingga tiap sore dia masih membuatkan kopi untuk suaminya seperti biasanya, ini merupakan contoh dari denial. Fanatisme agama dengan menganggap agama/kepercayaan lain merupakan sesuatu yang salah, sedangkan agama/kepercayaan yang dijalani merupakan satu-satunya yang benar merupakan contoh lain mekanisme denial, karena sebenarnya individu yang fanatik tersebut merasa terancam dengan adanya keyakinan lain, yang berpotensi mengancam integritas keyakinannya sendiri.
5.      Reaksi Formasi
Yaitu dorongan yang mengancam diekspresikan dalam bentuk tingkah laku secara terbalik. Contoh klasik dari pertahanan diri jenis ini adalah orang yang sebenarnya mencintai, namun dalam tingkah laku memunculkan tindakan yang seolah-olah membenci orang yang dicintai.
6.      Proyeksi
Yaitu mengatribusikan/menerapkan dorongan - dorongan yang dimiliki pada orang lain karena dorongan-dorongan tersebut mengancam integritas. Misalnya, A mencintai B, namun karena cinta yang dirasakan itu mengancam harga dirinya, lalu A menyatakan bahwa B-lah yang mencintainya.
7.      Rasionalisasi/ Intelektualisasi
Yaitu dua gagasan yang berbeda dijaga supaya tetap terpisahkan karena bila bersama-sama akan mengancam. Misalnya semua orang sepakat bahwa kesejahteraan umat manusia hanya bisa terjadi lewat cara-cara damai, namun tidak sedikit pula orang yang mengakui hal di atas, mendukung jalan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka.
8.      Sublimasi
yaitu dorongan atau impuls yang ditransformasikan menjadi bentuk¬bentuk yang diterima secara sosial sehingga dorongan atau impuls tersebut menjadi sesuatu yang benar-henar berbeda dari dorongan atau impuls aslinya. Contoh sublimasi adalah orang yang memiliki dorongan seks yang kuat lalu menggunakan energi tersebut untuk menjadi sumber dari dorongan religiusnya, sehingga dia mengalami pengalaman mistik dan mampu bekerja bagi kemanusiaan, karena pada dasarnya religiusitas memiliki persamaan/kaitan dengan seksualitas yaitu dalam hal pengalaman penyatuan/peleburan.
Pada dasamya mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) terjadi tanpa disadari dan bersifat membohongi diri sendiri terhadap realita yang ada, baik realita yang ada di luar (fakta/kebenaran) maupun realita yang ada di dalam (dorongan/impuls/nafsu). Defense mechanism bersifat menyaring realita yang ada sehingga individu yang bersangkutan tidak bisa memahami hakekat dari keseluruhan realita yang ada. Ini membuat sebagian besar ahli menyatakan bahwa koping jenis defense mechanism merupakan koping yang tidak sehat (kecuali sublimasi). Defense mechanism yang tidak disadari, akan dapat disadari melalui refleksi diri yang terus menerus Dengan cara begitu individu bisa mengetahui jenis mekanisme pertahanan diri yang biasa dilakukan dan kemudian menggantinya dengan koping yang Iebih konstruktif.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI

III.B.   PENDEKATAN PROBLEM SOLVING
(Strategi koping yang spontan mengatasi stress)
Ada berbagai cara untuk mengatasi stres. Kalau akibat stres  telah memengaruhi fisik dan bahkan menimbulkan penyakit tertentu, peranan obat/medikasi biasanya diperlukan. Namun obat itu sendiri kurang efektif untuk mengatasi stres, dalam jangka panjang. Ada efek negatif bila menggunakan obat terus menerus. Disamping obat-obat tertentu membutuhkan biaya yang mahal, obat juga bisa mengakibatkan ketergantungai dan bahkan membuat orang tertentu kebal terhadap obat tertentu.
Beberapa teknik terapi telah dikembangkan dan dicobakan untuk mengatasi stres ini. Biofeedback adalah salah satu teknik untuk mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres dan kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang cukup rumit, gunanya sebagai feedback atau umpan balik untuk terhadap, bagian tubuh tertentu. Biofeedback agak kurang efektif untuk digunakan secara praktis.
Seringkali istirahat dan melakukan olah raga yang teratur disebut - sebut sebagai salah satu cara yang efektif untuk mencegah dan menyembuhkan stres. Memang cara hidup yang teratur membuat seseorang  tidak mudah terkena stres.
Relaksasi adalah teknik yang paling efektif untuk menyembuhkan stres. Ada berbagai teknik relaksasi, tetapi yang biasa digunakan adalah teknik relaksasi dengan mengendurkan otot-otot seluruh tubuh, kemudian pengendoran dilakukan pada bagian-bagian tubuh yang sering mengalami stres. Semakin lama berlatih teknik relaksasi, orang akan semakin peka dan semakin spontan untuk dapat merasakan bagian tubuh yang mana yang terkena stres dan semakin mudah untuk mengembalikan pada keadaan semula.
Meditasi merupakan teknik yang mulai diminati sebagai salah satu cara mengatasi stres. Selain bisa mencegah stres, meditasi juga memiliki keuntungan lain seperti konsentrasi menjadi lebih tajam dan pikiran menjadi lebih tenang.
Pencegahan terhadap stres bisa dilakukan dengan mengubah sikap hidup. Orang yang terlibat lebih aktif dengan pekerjaan dan kehidupan masyarakat, lebih berorientasi pada tantangan dan perubahan, dan merasa dapat menguasai kejadian-kejadian dalam hidupnya adalah orang yang tidak akan mudah terkena efek negatif stres
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI

TULISAN III


KOPING (COPING) STRESS
I.          PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS KOPING
Koping termasuk konsep sentral dalam memahami kesehatan mental. Koping berasal dari kata coping yang bermakna harafiah pengatasan/ penanggulangan (to cope with = mengatasi, menanggulangi). Namun karena istilah coping merupakan istilah yang sudah jamak dalam psikologi serta memiliki makna yang kaya, maka penggunaan istilah tersebut dipertahankan dan langsung diserap ke dalam bahasa Indonesia untuk membantu memahami bahwa coping (koping) tidak sesederhana makna harafiahnya saja. Koping Bering disamakan dengan adjustment (penyesuaian diri). Koping juga sering dimaknai sebagai cara untuk memecahkan masalah (problem solving). Pengertian koping memang dekat dengan kedua istilah di atas, namun sebenarnya agak berbeda. Pemahaman adjustment biasanya merujuk pada penyesuaian diri menghadapi kehidupan sehari-hari. Pemecahan masalah lebih mengarah pada proses kognitif dan persoalan yang juga bersifat kognitif. Koping itu sendiri dimaknai sebagai apa yang dilakukan oleh individu untuk menguasai situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan/ luka/ kehilangan/ ancaman. Jadi koping lebih mengarah pada yang orang lakukan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan yang penuh tekanan atau yang membangkitkan emosi. Atau dengan kata lain, koping adalah bagaimana reaksi orang ketika menghadapi stres/tekanan.
Kaitan antara koping dengan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), ada ahli yang melihat defense mechanism sebagai salah satu jenis koping (Lazarus, 1976). Ahli lain melihat antara koping dan mekanisme pertahanan diri sebagai dua hal yang berbeda (Harber & Runyon, 1984 ).
Lazarus membagi koping menjadi dua jenis, yaitu:
1.      Tindakan Langsung (Direct Action)
Koping jenis ini adalah setiap usaha tingkah laku yang dijalankan oleh individu untuk mengatasi kesakitan atau luka, ancaman atau tantangan dengan cara mengubah hubungan yang bermasalah dengan lingkungan. Individu menjalankan koping jenis direct action atau tindakan langsung bila dia melakukan perubahan posisi terhadap masalah yang dialami.
Ada 4 macam koping jenis tindakan langsung :
a. Mempersiapkan diri untuk menghadapi luka
Individu melakukan langkah aktif dan antisipatif (beraksi) untuk menghilangkan atau mengurangi bahaya dengan cara menempatkan diri secara langsung pada keadaan yang mengancam dan melakukan aksi yang sesuai dengan bahaya tersebut. Misalnya, dalam rangka menghadapi ujian, Tono lalu mempersiapkan diri dengan mulai belajar sedikit demi sedikit tiap-tiap mata kuliah yang diambilnya, sebulan sebelum ujian dimulai. Ini dia lakukan supaya prestasinya lebih baik dibanding dengan semester sebelumnya, karena dia hanya mempersiapkan diri menjelang ujian saja. Contoh dari koping jenis ini lainnya adalah imunisasi. Imunisasi merupakan tindakan yang dilakukan oleh orang tua supaya anak mereka menjadi lebih kebal terhadap kemungkinan mengalami penyakit tertentu.
b. Agresi
Agresi adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dengan menyerang agen yang dinilai mengancam atau akan melukai. Agresi dilakukan bila individu merasa/menilai dirinya lebih kuat/berkuasa terhadap agen yang mengancam tersebut. Misalnya, tindakan penggusuran yang dilakukan oleh pemerintah Jakarta terhadap penduduk yang berada di pemukiman kumuh. Tindakan tersebut tergolong ke dalam agresi, dan tindakan tersebut bisa dilakukan karena pemerintah memiliki kekuasaan yang lebih besar dibanding dengan penduduk setempat yang digusur.
c. Penghindaran (Avoidance)
Tindakan ini terjadi bila agen yang mengancam dinilai lebih berkuasa dan berbahaya sehingga individu memilih cara menghindari atau melarikan diri situasi yang mengancam tersebut. Misalnya, penduduk yang melarikan diri dari rumah-rumah mereka karena takut akan menjadi korban pada daerah-daerah konflik seperti di Aceh.
d.  Apati
Jenis koping ini merupakan pola orang yang putus asa. Apati dilakukan dengan cara individu yang bersangkutan tidak bergerak dan menerima begitu saja agen yang melukai dan tidak ada usaha apa-apa untuk melawan ataupun melarikan diri dari situasi yang mengancam tersebut. Misalnya, pada kerusuhan Mei Orang-orang Cina yang menjadi  korban umumnya tutup mulut, tidak melawan dan berlaku pasrah terhadap kejadian biadab yang menimpa mereka. Pola apati tejadi bila baik tindakan mempersiapkan diri menghadapi luka, agresi maupun avoidance sudah tidak memungkinkan lagi dan situasinya terjadi berulang-ulang. Dalam kasus di atas, orang-orang Cina sering kali dan berulang kali menjadi korban ketika terjadi kerusuhan sehingga menimbulkan reaksi apati di kalangan mereka.
2. Peredaan atau Peringanan (Palliation)
Jenis koping ini mengacu pada mengurangi/ menghilangkan/ menoleransi tekanan-tekanan ketubuhan/ fisik, motorik atau gambaran afeksi dari tekanan emosi yang dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. Atau bisa diartikan bahwa bila individu menggunakan koping jenis ini, posisinya dengan masalah relatif tidak berubah, yang berubah adalah diri individu, yaitu dengan cara merubah persepsi atau reaksi emosinya.
Ada 2 macam koping jenis peredaan/palliation :
a.Diarahkan psda Gejala (Symptom Directed Modes)
Macam koping ini digunakan bila gejala-gejala gangguan muncul dari diri individu, kemudian individu melakukan tindakan dengan cara mengurangi gangguan yang berhubungan dengan emosi-emosi yang disebabkan oleh tekanan atau ancaman tersebut. Penggunaan obat-obat terlarang, narkotika, merokok, alkohol merupakan bentuk koping dengan cara diarahkan pada gejala. Namun tidak selamanya cara ini bersifat negatif. Melakukan relaksasi, meditasi atau berdoa untuk mengatasi ketegangan juga tergolong ke dalam symptom directed modes tetapi bersifat positif.
b.Cara Intrapsikis (Intrapsychic Modes)
Koping jenis peredaan dengan cara Intrapsikis adalah cara-cara yang menggunakan perlengkapan-perlengkapan psikologis kita, yang biasa dikenal dengan istilah Defense Mechanism (Mekanisme Pertahanan Diri ).
Macam-macam Defense Mechanism :
1.       Identifikasi
Yaitu menginternalisasi ciri-ciri yang dimiliki oleh orang lain yang berkuasa dan dianggap mengancam. Identifikasi biasanya dilakukan oleh anak terhadap orang tua mereka.
2.       Pengalihan (Displacement)
Yaitu memindahkan reaksi dari objek yang mengancam ke objek yang lain karena objek yang asli tidak ada atau berbahaya bila diagresi secara langsung. Misalnya, seorang bawahan dimarahi oleh atasannya di kantor. Bawahan tersebut kemudian memarahi istrinya di rumah karena tidak berani membantah atasannya. Istri kemudian memarahi anaknya. Ini merupakan contoh klasik dari displacement.
3.      Represi
Yaitu menghalangi impuls-impuls yang ada atau tidak bisa diterima sehingga impuls-impuls tersebut tidak dapat diekspresikan secara sadar/langsung dalam tingkah laku. Misalnya, dorongan seksual karena dianggap tabu lalu ditekan begitu saja ke dalam ketidaksadaran Dorongan tersebut lalu muncul dalam bentuk mimpi.
4.      Denial
Yaitu melakukan bloking atau menolak terhadap, kenyataan yang ada karena kenyataan yang ada dirasa mengancam integritas individu yang bersangkutan. Istri yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya secara mendadak, merasa suaminya masih hidup sehingga tiap sore dia masih membuatkan kopi untuk suaminya seperti biasanya, ini merupakan contoh dari denial. Fanatisme agama dengan menganggap agama/kepercayaan lain merupakan sesuatu yang salah, sedangkan agama/kepercayaan yang dijalani merupakan satu-satunya yang benar merupakan contoh lain mekanisme denial, karena sebenarnya individu yang fanatik tersebut merasa terancam dengan adanya keyakinan lain, yang berpotensi mengancam integritas keyakinannya sendiri.

5.      Reaksi Formasi
Yaitu dorongan yang mengancam diekspresikan dalam bentuk tingkah laku secara terbalik. Contoh klasik dari pertahanan diri jenis ini adalah orang yang sebenarnya mencintai, namun dalam tingkah laku memunculkan tindakan yang seolah-olah membenci orang yang dicintai.
6.      Proyeksi
Yaitu mengatribusikan/menerapkan dorongan - dorongan yang dimiliki pada orang lain karena dorongan-dorongan tersebut mengancam integritas. Misalnya, A mencintai B, namun karena cinta yang dirasakan itu mengancam harga dirinya, lalu A menyatakan bahwa B-lah yang mencintainya.
7.      Rasionalisasi/ Intelektualisasi
Yaitu dua gagasan yang berbeda dijaga supaya tetap terpisahkan karena bila bersama-sama akan mengancam. Misalnya semua orang sepakat bahwa kesejahteraan umat manusia hanya bisa terjadi lewat cara-cara damai, namun tidak sedikit pula orang yang mengakui hal di atas, mendukung jalan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka.
8.      Sublimasi
yaitu dorongan atau impuls yang ditransformasikan menjadi bentuk¬bentuk yang diterima secara sosial sehingga dorongan atau impuls tersebut menjadi sesuatu yang benar-henar berbeda dari dorongan atau impuls aslinya. Contoh sublimasi adalah orang yang memiliki dorongan seks yang kuat lalu menggunakan energi tersebut untuk menjadi sumber dari dorongan religiusnya, sehingga dia mengalami pengalaman mistik dan mampu bekerja bagi kemanusiaan, karena pada dasarnya religiusitas memiliki persamaan/kaitan dengan seksualitas yaitu dalam hal pengalaman penyatuan/peleburan.
Pada dasamya mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) terjadi tanpa disadari dan bersifat membohongi diri sendiri terhadap realita yang ada, baik realita yang ada di luar (fakta/kebenaran) maupun realita yang ada di dalam (dorongan/impuls/nafsu). Defense mechanism bersifat menyaring realita yang ada sehingga individu yang bersangkutan tidak bisa memahami hakekat dari keseluruhan realita yang ada. Ini membuat sebagian besar ahli menyatakan bahwa koping jenis defense mechanism merupakan koping yang tidak sehat (kecuali sublimasi). Defense mechanism yang tidak disadari, akan dapat disadari melalui refleksi diri yang terus menerus Dengan cara begitu individu bisa mengetahui jenis mekanisme pertahanan diri yang biasa dilakukan dan kemudian menggantinya dengan koping yang Iebih konstruktif.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
II.        JENIS-JENIS KOPING YANG KONSTRUKTIF POSITIF (SEHAT)
Harber & Runyon (1984) menyebutkan jenis jenis koping yang dianggap konstruktif, yaitu:
1.      Penalaran (Reasoning)
Yaitu penggunaan kemampuan kognitif untuk mengeksplorasi berbagai macam altenatif pemecahan masalah dan kemudian memilih salah satu alternatif yang dianggap paling menguntungkan. Individu secara sadar mengumpulkan berbagai informasi yang relevan berkaitan dengan persoalan yang dihadapi, kemudian membuat alternatif-alternatif pemecahannya, kemudian memilih alternatif yang paling menguntungkan dimana resiko kerugiannya paling kecil dan keuntungan yang diperoleh paling besar.
2.      Objektifitas
Yaitu kemampuan untuk membedakan antara komponen-komponen emosional dan logis dalam pemikiran, penalaran maupun tingkah laku. Kemampuan ini juga meliputi kemampuan untuk membedakan antara pikiran-pikiran yang berhubungan dengan persoalan dengan yang tidak berkaitan. Kemampuan untuk melakukan koping jenis objektifitas mensyaratkan individu yang bersangkutan memiliki kemampuan untuk mengelola emosinya sehingga individu mampu memilah dan membuat keputusan yang tidak semata didasari oleh pengaruh emosi.
3.      Konsentrasi
Yaitu kemampuan untuk memusatkan perhatian secara penuh pada persoalan yang sedang dihadapi. Konsentrasi memungkinkan individu untuk terhindar dari pikiran-pikiran yang mengganggu ketika berusaha untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi. Pada kenyataanya, justru banyak individu yang tidak mampu berkonsentrasi ketika menghadapi tekanan. Perhatian mereka malah terpecah-pecah dalam berbagai arus pemikiran yang justru membuat persoalan menjadi semakin kabur dan tidak terarah.
4.      Humor
Yaitu kemampuan untuk melihat segi yang lucu dari persoalan yang sedang dihadapi, sehingga perspektif persoalan tersebut menjadi lebih lugas, terang dan tidak dirasa sebagai menekan lagi ketika dihadapi dengan humor. Humor memungkinkan individu yang bersangkutan untuk memandang persoalan dari sudut manusiawinya, sehingga persoalan diartikan secara baru, yaitu sebagai persoalan yang biasa, wajar dan dialami oleh orang lain juga.
5.      Supresi
Yaitu kemampuan untuk menekan reaksi yang mendadak terhadap situasi yang ada sehingga memberikan cukup waktu untuk lebih menyadari dan memberikan reaksi yang lebih konstruktif. Koping supresi juga mengandaikan individu memiliki kemampuan untuk mengelola emosi sehingga pada saat tekanan muncul, pikiran sadarnya tetap bisa melakukan kontrol secara baik. Berhitung satu sampai sepuluh ketika mulai merasakan emosi marah, sehingga kepala menjadi dingin kembali sehingga mampu memikirkan alternatif tindakan yang lebih baik, merupakan contoh supresi.
6.      Toleransi terhadap Kedwiartian atau Ambiguitas
Yaitu kemampuan untuk memahami bahwa banyak hal dalam kehidupan yang bersifat tidak jelas dan oleh karenanya perlu memberikan ruang bagi ketidakjelasan tersebut. Kemampuan melakukan toleransi mengandaikan individu sudah memiliki perspektif hidup yang matang, luas dan memiliki rasa aman yang cukup.
7.      Empati
Yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu dari pandangan orang lain. Empati juga mencakup kemampuan untuk menghayati dan merasakan apa yang dihayati dan dirasakan oleh orang lain. Kemampuan empati ini memungkinkan individu mampu memperluas dirinya dan menghayati perspektif pengalaman orang lain sehingga individu yang bersangkutan menjadi semakin kaya dalam kehidupan batinnya.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI