Minggu, 06 April 2014

PSIKOTERAPI

TUGAS PSIKOTERAPI

NAMA    : INDAR ARDINIANSYAH
NPM       : 18511172
KELAS   : 3PA07

PENGERTIAN PSIKOTERAPI



Psikoterapi adalah suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis yang menggunakan prinsip-prinsip psikologis untuk mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dan hidup agar berkembang sebagai seorang individu.
Dalam psikoterapi kita menemukan sekelompok tujuan yang beraneka ragam, termasuk penyusunan kembali kepribadian, penemuan makna dalam hidup, penyembuhan gangguan emosional, penyesuaian terhadap masyarakat, pencapaian kebahagiaan dan kepuasan, pencapaian aktualisasi diri, peredaan kecemasan, serta penghapus tingkah laku maladaptif dan belajar pola-pola tingkah laku adaptif. Adakah suatu penyebut bersama dalam kumpulan tujuan-tujuan yang beraneka ragam itu? Dapatkah diciptakan suatu integrasi dari berbagai titik pandang teoritis tentang tujuan-tujuan itu?
            Masalah keanekaragaman tujuan bisa disederhanakan dengan memandang persoalan dari sudut tingkah generalitas dan spesifitas tujuan-tujuan. Tujuan-tujuan bisa dilihat berada pada suatu kontinum dari tujuan-tujuan yang umum, global, dan jangka panjang kepada tujuan-tujuan yang spesifik, kongkret, dan jangka pendek. Terapi-terapi humanistik, atau yang berorientasi kepada hubungan terapis-klien, cenderung menekankan tujuan-tujuan kategori pertama, sedangkan terapi tingkah laku cenderung menekankan tujuan-tujuan kategori kedua. Tujuan-tujuan yang berada di ujung-ujung kontinum itu tidak perlu saling bertentangan, itu hanya soal bagaimana secara spesifik tujuan-tujuan didefinisikan.
            Beberapa penulis telah mencatat bahwa integrasi tujuan-tujuan terapi tingkah laku dengan tujuan-tujuan terapi berpendekatan humanistik adalah suatu hal yang mungkin dan diharapkan. Truax dan Carkhuff (1967) menyatakan bahwa terapi tingkah laku tidak perlu antagonistik, tetapi bisa komplementer, dengan pendekatan-pendekatan humanistik. Mereka mencatat bukti yang menunjukan bahwa teknik-teknik terapi tingkah laku dapat diterapkan pada psikoterapi pada umumnya dan pada terapi client-centered pada khususnya. Patterson (1973, hlm. 534) menulis bahwa “tidak ada pertentangan mendasar antara terapi tingkah laku dan terapi yang berorientasi pada hubungan. Yang satu menekankan pembentukan atau pengubahan aspek-aspek tingkah laku yang spesifik dengan ganjaran-ganjaran atau pemerkuat-pemerkuat yang spesifik. Yang lainnya menekankan pengubahan tingkah laku yang lebih umum yang dicapai dengan menggunakan pemerkuat-pemerkuat yang digeneralisasikan. Ia menyatakan bahwa kedua pendekatan berlandaskan prinsip-prinsip belajar, terapi tingkah laku menggunakan suatu pendekatan yang lebih sempit yang menekankan pengondisian, dan terapi yang berorientasi pada hubungan lebih luas berlandaskan pendekatan belajar sosial. Patterson menandaskan bahwa kedua pendekatan tampaknya sampai pada kesimpulan yang sama, yang satu dari peneliti pengalaman dan laboratorium dengan pengondisian, dan yang lainnya dari penelitian pengalaman klinis dan terapi. Wrenn (1966) menganggap mungkin “dua dunia psikologi” itu digabungkan. Bagi konselor yang berpraktek, Ia mengajukan pernyataan : Haruskah pempraktek menerima pendekatan yang satu dan menolak yang lainnya? Menurut pandangannya, terapi yang terorientasi pada hubungan bisa memberikan sumbangan untuk menentukan tujuan-tujuan yang bermakna dalam konseling, dan pendekatan behavioral bisa menyumbangkan metodologi-metodologi untuk menghasilkan perubahan-perubahan tingkah laku dan sikap yang diinginkan.

Sumber:
Gerald, Corey. (2013). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: Penerbit PT Refika Aditama