MATA KULIAH :
SOFTSKILL KESEHATAN MENTAL
DOSEN PEMBIMBING
: IBU RATNA MAHARANI
DI SUSUN OLEH :
INDAR ARDINIANSYAH
NPM : 18511172
KELAS : 2PA07
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2013
PERTEMUAN I Tanggal 11 Maret 2013
Tulisan 1
I. Memahami
Konsep Sehat
Sebagai makhluk hidup
manusia memiliki kesamaan dengan makhluk hidup
lainnya, yakni lahir, tumbuh, berkembang, mengalami dinamika stabil – labil,
sehat – sakit, normal – abnormal dan berkhir dengan kematian. Berbeda dengan
hewan, manusia adalah makhluk yang bisa menjadi subjek dan objek sekalligus,
oleh karena itu manusia selalu tertarik untuk membicarakan, menganalisa dan
melakukan hal – hal yang diperlukan diri
sendiri. Sebagian besar ilmu pengetahuan dan teknologi yang disusun dan dibangun
oleh manusia adalah untuk kepentingan diri manusia itu sendiri, menyangkut
kesehatannya, kenyamanannya, kesejahteraannya dan semua hal yang dipandang
dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Meski demikian, banyak hal yang dilakukan
oleh
manusia menjadi semakin tidak sehat dan tidak nyaman dalam hidupnya.
Sehari – hari kita
menggunakan istilah sehat wal afiat untuk
menyebut kondisi kesehatan yang prima, tetapi jika kita merujuk kepada asal
istilah itu yakni “ as shihhah waal
‘afiyah “ di situ ada dua dimensi
pengertian. Kata ‘sehat’ merujuk pada fungsi, sedangkan kata ‘afiat’ merujuk
kepada kesesuaian dengan maksud penciptaan. Mata yang sehat adalah mata yang
dapat digunakan untuk melihat tanpa alat bantu, sedangkan mata yang afiat
adalah mata yang tidak bisa digunakan untuk melihat sesuatu yang dilarang
melihatnya, misalnya ngintip orang mandi, karena maksud Tuhan menciptakan mata
adalah sebagai petunjuk pada kebenaran, membedakannya dari yang salah. Tangan
yang sehat adalah tangan yang mudah digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang
halal, sedangkan tangan yang afiat adalah tangan yang tidak bisa digunakan
untuk mengerjakan melakukan sesuatu yang diharamkan, karena maksud diciptakan
tangan oleh Tuhan adalah untuk berbuat baik dan mencegah kejahatan (Zulkifli
Yunus, 1994: 57)
Kita bukan hanya
mengenal kesehatan tubuh, tetapi juga ada kesehatan mental dan bahkan kesehatan
masyarakat. Jika kita menengok bangsa kita sekarang, nampaknya bangsa ini
memang sedang tidak sehat dan juga tidak afiat. Akibatnya banyak hal menjadi
tidak berfungsi. Jika kita sakit gigi, maka kita pergi dokter gigi, jika sakit
perut kita pergi ke dokter penyakit dalam. Nah problemnya ada orang yang secara
fisik ia sehat tetapi ia mengalami gangguan sehingga fisiknya pun kurang berfungsi.
Secara medik
ia sehat, tetapi ia merasa tidak sehat sehingga ia tidak bisa berfikir, tidak
bisa konsentrasi, tidak bisa tidur. Ada orang penyandang cacat tetapi
pikirannya jenih, gagasannya cemerlang dan ia ceria manjalani hidupnya,
sementara ada orang yang secara fisik sehat dan memiliki semua kebutuhan
fasilitas tetapi justru pikirannya kacau, tindakannya juga kacau, dan ia tidak
bisa menikmati hidup ini.
Sumber:
Kholil Lur Rochman, S.Ag, M.S.I. 2010. Kesehatan Mental.
Yogyakarta: Fajar Media Press
II. SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN
MENTAL
Dalam
sejarah kehidupan manusia telah dipaparkan tentang kehidupan manusia itu dalam
berhubungan dengan dunia sekitarnya. Sebenarnya tersirat pula pembicaraan
tentang usaha itu dalam mempertahankan keharmonisannya dalam kehidupan ini.
Jadi, sebenarnya sejak dulu kala usaha untuk mewujudkan
keharmonisan/keseimbangan kehidupan ini telah ada, hanya bentuknya belum
sistematis dan masih sederhana. Mental hygiene
disebut juga ilmu kesehatan mental merupakan ilmu pengtahuan yang masih
muda. Dulu orang berpendapat gangguan keseimbangan/keharmonisan mental itu
disebabkan oleh gangguan roh – roh jahat. Maka usaha penyembuhan terhadap
penderita itu dengan jalan mengusir roh – roh jahat tersebut. Caranya dengan
memukuli penderita agar supaya roh – roh jahat itu pergi, dengan demikian ia
akan sehat kembali. Kemudian timbul usaha kemanusiaan untuk mengadakan
perbaikan/tindakan dalam penyembahan dan pemeliharaan baik penderita gangguan
mental maupun terhadap penderita penyakit mental itu. Dorothe Dix (Amerika)
seorang wanita sebagai tokoh abad 19 usahanya ialah mengadakan perbaikan
kondisi rumah sakit jiwa di Amerika maupun di Eropa. Banyak usahanya yang
dijadikan dasar – dasar aktivitas dalam Mental Hygiene,
Clifford
Whittingham Beers (1876-1943). Ia penah menderita sakit mental selama 2 tahun
dan dirawat di rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri siksaan dan perlakuan
yang keras terhadap penderita itu berdasarkan pengalamannya yaitu cara
penyembuhan atau pengobatan terhadap penderita, iapun lalu menulis buku yang
berjudul: “A mind that found it self”.
Beers mengecam
terhadap tindakan yang kurang berperikemanusiaan serta menyarankan program –
program perbaikan definitive dalam cara – cara penyembuhan serta pemeliharaan
terhadap penderita. Ia yakin bahwa penyakit dan gangguan mental dapat
disembukan. Maka ia menyusun program nasional sebagai berikut :
1.
Perbaikan
dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan terhadap penderita mental,
2.
Kampanye
memberikan informasi agar orang – orang bersikap intelligent dan human terhadap
penderita.
3.
Memperbanyak
research dan menyelidiki sebab –
sebab timbulnya penyakit mental beserta terapinya.
4.
Memperbesar
usaha educative dan memberi
penerangan untuk mencegah timbulnya gangguan maupun penyakit mental.
Usaha – usaha tersebut
di atas dengan jalan memperhatikan kesejahteraan para anggota atau warganya
hingga menimbulkan suasana kerjasama yang baik dan kehidupan bersama yang
menyenangkan. Setidak – tidaknya memudahkan pemecahan problem dalam interaksi
bersama. Pada tahun 1930 Mental Hygiene mengadakan kongres pertama di
Washington D.C tahun 1946 Presiden Amerika Serikat menandatangani undang –
undang : “The National Mental Health Act”
untuk memajukan kesejahteraan mental rakyat Amerika. Disediakan budget untuk
mendirikan “National Institute of
Mental Health”.
Organisasi – organisasi internasional yang ikut menyelenggarakan program mental
hygine antara lain :
- W.H.O (World Health Organization) organisasi ini memberi informasi dan penyuluhan – penyuluhan mengenai kesehatan mental kepada segenap anggota UNO (PBB). Mengadakan pengawasan terhadap alkoholisme, pencegahan criminal dan delinquency.
- UNESCO (the United Nation Educational Scientific and Cultural Organization). Merupakan biro ada UNO (PBB) untuk menstimulir penukaran masalah informasi kebudayaan antar bangsa. Di dalamnya terdapat satu department yang mengurusi masalah sosial yang mempelajari sebab perang, serta prektik – prektik perwujudan kesehatan mental.
- WFMH (World Federation for Mental Health). Didirikan pada tahun 1948. Antara the international committee for mental hygiene dengan the british association for mental health, merupakan kelompok non Govermental Health Agencies membantu kesehatan di dunia.
Di Indonesia masalah
mental hygiene ini menjadi salah satu proyek bagi department kesehatan,
bekerjasama dengan instansi lain negeri maupun swasta. Misalnya BKKBN, rumah
sakit,LSM, dan lain – lainnya.
Sumber:
Siti
Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta
III. Pendekatan Kesehatan Mental
- Orientasi Klasik
Orientasi
klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan
sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat
adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya.
Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak
ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak
menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan
jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang
seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran dan
tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi
klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi
kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat atau
tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan
penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental.
Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak
sehat mental.
- Orientasi Penyesuaian Diri
Penyesuaian
diri alih bahasa dari adjustment, yang
dilakukan menusia sepanjang hayat.
Karena pada dasarnya manusia ingin mempertahankan eksistensinya. Sejak lahir
berusaha memenuhi kebutuhannya yaitu kebutuhan fisik, psikis, dan sosial. Pemenuhan kebutuhan itu kerena adanya
dorongan – dorongan yang mengharapkan pemuasan. Bila pemuasan tercapai individu
tersebut memperoleh keseimbangan. Sejak kecil individu belajar bertingkah laku,
tingkah laku yang berhasil dalam memenuhi kebutuhannya seperti dapat
menyesuaikan diri dan mengalami keseimbangan. Sebagaimana dikemukakan Lazarus
(1961), adjustment insolves a reaction of the person to demand imposed upon
him. Maka, penyesuaian diri termasuk reaksi seseorang karena adanya tuntutan
yang dibebankan pada dirinya. Demikian pulan pendapat Thorndike dan Hogen yang
disitir oleh Mustafa Fahmi (1977) sebagai berikut : penyesuaian diri merupakan
kemampuan individu untuk mrmdapatkan ketenteraman secara internal dan
hubunganna dengan dunia sekitarnya. Uraian tersebut, bila tak ada reaksi terasa
ada beban dan tidak mendapat ketenteraman batin. Maka, dapat disimpulkan:
penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk bereaksi tuntutan dalam
memenuhi dorongan / kebutuhan dan mencapai
ketenteraman batin dalam hubungannya dengan sekitar.
Penyesuaian diri yang berhasil menurut
Winarna Surachmad (dalam siti sundari,1986):
1. Bilamana dengan
sempurna memenuhi kebutuhan, tanpa melebihi yang satu dan mengurangi yang lain.
2. Bilamana tidak
menggangu manusia lain dalam mamenuhi kebutuhan yang sejenisnya.
3. Bilamana bertanggung
jawab terhadap masyarakat dimana ia berada (saling menolong secara positif).
Penyesuaian diri
sebagai usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada dirinya dan
lingkungannya. Memenuhi kebutuhan yang orang lain yang memerlukan.
Macam – macam
penyesuaian diri:
1.
Penyesuaian
terhadap keluarga/ family
adjustment
2.
Penyesuaian
diri terhadap sosial / Sosial adjustment
3.
Penyesuaian
diri terhadap sekolah / school adjustment
4.
Penyesuaian
diri terhadap perguruan tinggi / college adjustment
5.
Penyesuaian
diri terhadap jabatan / Vocational
adjustment
6.
Penyesuaian
diri terhadap perkawinan /Marriage adjustment
Dalam zaman modern, perkawinan bukan suatu way of
life yang harus ditempuh. Kehidupan pria dan wanita secara membujang banyak
terjadi. Meraka dapat menikmatik kehidupan dan ikut serta berfungsi di
masyarakat. Bagi orang – orang yang melayarkan bahtera perkawinan, harus
melakukan penyesuaian dalam perkawinan. Menurut Arkoff (1968), perkawinan yang
baik bersifat permanen / permanence dan bersifat kebahagiaan/happiness.
Perkawinan
di akhiri dengan kematian, perceraian
(sama – sama masih hidup) merupakan hal yang tidak sopan. Sepanjang perjalanan
hidup selalu berusaha melakukan penyesuaian diri. Penyesuaian ini ialah:
a. Harus ada kesadaran
terhadap hakikat perkawinan
b. Harus ada kesediaan
untuk menjaga kelangsungan perkawinan. Saling mengerti, saling memberi dan
menerima (to take and to give). Arkoff disitir Siti Sundari (1986).
Sumber:
Siti
Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta
C. Orientasi Pengembangan
Potensi
Victor Frankl dalam buku “Psikologi Pertumbuhan: Kepribadian Sehat untuk
Mengembangakan Optimisme” karangan MIF Baihaqi menerangkan Kodrat Eksistensi
Manusia yang Sehat
Di dalam
buku – bukunya, Frankl tidak menyajikan suatu daftar dari sifat – sifat
kepribadian yang sehat. Akan tetapi dapatlah dikemukakan secara umum, orang –
orang macam apakah meraka itu. Sedikitnya ada tujuh sifat yang bisa ditempakkan
oleh orang berkepribadian sehat, yaitu :
1)
Mereka
bebas memilih langkah tindakan mereka sendiri.
2)
Meraka
secara pribadi bertanggung jawab terhadap tingkah laku hidup mereka dan sikaap
yang mereka anut terhadap nasibnya.
3)
Mereka
tidak ditentukan oleh kekuatan – kekuatan di luar dirinya.
4)
Mereka
secara sadar mengontrol kehidupan mereka.
5)
Mereka
mampu mengungkapkan nilai – nilai daya cipta, nilai – nilai pengelaman, atau
nilai – nilai sikap.
6)
Mereka
telah mengatasi perhatian terhadap diri.
Namun begitu, masih ada
beberapa sifat lain dari
kepribadian yang sehat. Yaitu (a) mereka berorientasi kepada masa depan,
diarahkan kepada tujuan – tujuan dan tugas – tugas yang akan datang; (b) mereka
komitmen terhadap pekerjaan; (c) mereka memberi dan menerima cinta.
(a)
Orientasi pada masa
depan
(b)
Komitmen pada
pekerjaan
(c)
Memberi dan menerima
cinta
Sumber:
MIF Baihaqi.
2008. PSIKOLOGI PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme.
Bandung: PT Remaja RosdaKarya
Tulisan 2
TEORI
KEPRIBADIAN SEHAT
1. Teori
Psikoanalisis
Orang
yang pertama kali berusaha merumuskan psikologi manusia dengan memperhatikan
struktur jiwa manusia adalah Sigmund Freud. Menurut Freud, perilaku manusia
merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia yang
disebutnya id, ego, dan superego ( Heru Basuki : 2008, 12-13;
Sumadi Suryabrata: 2003, 34).
Id
adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan - dorongan biologis manusia, atau disebut
juga pusat insting (hawa nafsu). Ada dua insting dominan, yaitu : a) libido; yaitu insting produktif untuk
tujuan – tujuan konstruktif. Insting ini disebut juga insting kehidupan/eros,
misalnya, dorongan seksual, segala hal yang mendatangkan kenikmatan termasuk
kasih ibu, pemujaan pada Tuhan, dan cinta diri/narsisme; b) Thanatos, yaitu insting destruktif dan
agresif. Insting ini disebut juga insting kematian. Semua motif manusia adalah
gabungan antara eros dan thanatos. Id bergerak berdasakan prinsip kesenangan,
ingin segera memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan
tidak mau tahu dengan kenyataan. Id
mempu melahirkan keinginan, tetapi ia tidak mampu memuaskan keinginannya.
Ego
berfungsi menjebambatani tuntutan – tuntutan Id dengan realitas di dunia luar.
Ego adalah mediator antara hasrat – hasrat hewani dan tuntutan rasional dan
realistic. Ego-lah yang menyebabkan manusia mampu menundukan hasrat hewaninya
dan hidup sebagai wujud yang rasional. Ego berkerja berdasarkan prinsip
realitas. Misalnya, ketika id mendesak supaya anda membalas ejekan dengan
ejekan lagi, ego segera memperingatkan anda bahwa lawan anda adalah “Bos” yang
dapat memecat anda. Kalau anda mengikuti desakan Id, makan anda akan konyol.
Setelah itu anda baru ingat, bahwa bahaya jika sampai berani melawan pimpinan
dalam budaya Indonesia.
Superego
adalah “polisi kepribadian” yang mewakili dunia ideal. Superego adalah hati
nurani (conscience) yang
merupakan internalisasi dari norma – norma sosial dan cultural masyarakatnya.
Superego akan memaksa ego untuk menekan hasrat – hasrat yang tidak berlainan ke
alam bawah sadar. Baik id maupun superego berada dalam bawah sadar manusia,
sedangkan ego berada di tengah, antara memenuhi
desakan id dan peraturan superego. Untuk mengatasi ketegangan, ia dapat
menyerah pada tuntutan id, tetapi berarti dihukum superego dengan perasaan
bersalah. Untuk menghindari ketegangan, konflik, atau frustasi, efo secara
sadar lalu menggunakan mekanisme pertahanan ego, yaitu dengan mendistorsi
realitas. Secara singkat, dalam psikoanalisis perilaku manusia merupakan
interaksi antara komponen sosial (superego), atau unsure animal, rasional, dan
moral (hewani , akal , dan nilai) (Bertens,2006:21).
2. Teori
Behavioralisme
Behavioralisme
lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (orang menganalisis jiwa manusia
berdasarkan laporan – laporan sebjektif ) dan juga psikoanalisis yang berbicara
tentang alam bawah sadar yang tidak tampak).
Behavioralisme
ingin menganalisis hanya perilaku yang nampak
saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, teori kaum
behaviorlisme lebih dikenal dengan nama teori belajar, kerana menurut meraka
seluruh perilaku manusia, kecuali insting, adalah hasil belajar. Behavioralisme
tidak mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional;
kaum behavioralisme hanya ingin mengatahui bagaimana perilakunua dikendalikan
oleh factor – factor lingkungan. Dari sinilah timbul konsep “ manusia mesin “
(homo mechanisme). Behavioralisme sangat banyak menentukan perkembangan
psikologi, terutama dalam hal eksperimen – eksperimen. Kajian – kajian
psikologi seringkali hanya mencerminkan pendekatan ini (Calvin Hall,1993:45).
Pemikiran
behavioralisme sebenarnya sedah dikenal sejak Aristoteles yang berpendapat
bahwa, pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa – apa semua seperti
meja lilin (tabula rasa) yang siap dilukis oleh pengalaman.
Kemudian
John Locke meminjam konsep ini, yang dikenal sebagai kaum empirisme. Menurut
mereka, pada waktu lahir, manusia tidak mempunyai warna mental. Wanta ini di
dapat dari pengalaman. Pengalaman adalah jalan satu – satunya ke arah
penguasaan pengetahuan. Secara psikologis, ini bararti bahwa seluruh perilaku
manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh pengalaman indrawi. Pikiran
dan perasaan bukan penyebab perilaku manusia, tetapi disebabkan oleh perilaku
masa lalu. Salah satu kesulitan empirisme dalam menjelaskan gejala psikologis
timbul kerika orang membicarakan apa yang mendorong manusia berprilaku
tertentu. Hedonism, salah satu paham filsafat etika memandang manusia sebagai
mahluk yang bergerak untuk memenuhi kepentingan dirinya, mencari kesenangan dan
menghindari penderitaan. Utilitarianisme mencoba mengkaji seluruh perilaku
manusia pada prinsip ganjaran dan hukuman. Bila empirisme digabung dengan
utilitarisme dan hedonism, maka akan kita temukan behavioralisme
(Sumadi,2003:34).
Kaum
behavioralisme berpendapat bahwa organisme dilahirkan tanpa sifat – sifat
sosial atau psikologis, perilaku adalah hasil pengalaman, dan parilaku
digerakkan atau motivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan
mengurangi penderitaan. Pelaziman klasik akan menjelaskan bahwa setiap kali
anak mambaca, orang tuanya mangmbil bukunya dengan paksa, maka anak akan benci
pada buku. Bila kedatangan ana selalu bersamaan dengan datangnya malapetaka,
maka kehadiran anda akan membuat orang berdebar – debar.
Memang
behavioralisme tidak bisa menjelaskan tentang motivasi. Motivasi memang terjadi
dalam diri individu, sedangkan kaum behavioralisme hanya melihat pada peristiwa
– peristiwa yang “kasat mata” dalam arti yang dapat diamati atau bersifat
eksternal. Perasaan dan pikiran tidak menarik perhatian kaum behavioralisme.
Beberapa tarus tahun kemudian barulah psikologi kembali memasuki proses
kejiwaan internal. Paradigma baru ini kemudian terkenal sebagai psikologi
kognitif.
3. Teori
Humanistik
Psikologi
humanistik
dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi. Revolusi pertama dan kedua
adalah psikoanalisis dan behavioralisme.
Dalam
pandangan behavioralisme manusia manjadi robot tanpa jiwa, dan tanpa nilai.
Psikologi humanistic mengambil banyak dari psikoanalisis neohumanistic seperti
Adler, dan Jung, serta banyak mengambil pemikiran dari fenomenologi dan
eksitensialisme (Alwisol,2008:22). Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “
dunia kehidupan “ yang dipersepsi dan diinterprestasi secara subjektif. Setiap
orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. Alam pengalaman setiap orang
berbeda dari alam pengalaman orang lain.
Menurut
Alfred Schultz, tokoh fenomenologi, pengalaman subjektif ini dikomunikasikan
oleh factor sosial dalam proses intersunjektivitas diungkapkan pada
eksisten-sialisme dalam tema dialog, pertemuan, hubungan diri dengan orang lain. Eksistensialisme menekankan
pentingnya kewajiban individu pada sesame manusia. Yang paling penting bukan
apa yang didapat dari kehidupan, tetapi apa yang dapat kita berikan untuk
kehidupan.
Hidup
kita baru bermakna hanya apabila melibatkan nilai – nilai dan pilihan yang
konstruktif secara sosial. Jadi intisari dari psikologi humanism adalah bahwa
pada keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna, serta kemampuan manusia
untuk mengembangkan dirinya. Pandangan psikologi humanism, pada intinya adalah,
setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi dimana dia
(Sang Aku, Ku atau Diriku / I, Me, atau Myself ) menjadi pusat. Perilaku
manusia berpusat pada konsep diri, yaitu persepsi manusia tentang identitas
dirinya yang bersifat fleksibel dan berubah – ubah, yang muncul dari suatu
medan fenomenal. Manusia berperilaku untuk mempertahankan, maningkatkan, dan
mengaktualisasikan diri. Individu bereaksi pada situasi sesuai dengan persepsi
tentang dirinya dan dunianya. Dengan perkataan lain, ia bereaksi pada “
realitas “ seperti yang dipersepsikan olehnya dan dengan cara yang sesuai
dengan konsep dirinya. Anggapan adanya ancaman terhadap diri akan diikuti oleh
pertahanan diri, berupa penyempitan dan pengkakuan persepsi dan perilaku
penyesuaian serta penggunaan mekanisme pertahankan ego seperti resionalisasi.
Kecenderungan batiniah manusia adalah menuju kesehatan dan keutuhan diri. Dalam
kondisi yang normal ia berperilaku rasional dan konstruktif, serta memilih
jalan menuju pengembangan dan aktualisasi diri.
Sumber :
Kholil Lur Rochman, S.Ag, M.S.I. 2010. Kesehatan Mental.
Yogyakarta: Fajar Media Press
Tulisan 3
I. Penyesuaian
Diri & Pertumbuhan
Proses Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri yang
sempurna sulit diwujudkan karena banyak faktor yang mempengaruhi sehingga
seluruh kebutuhan tidak dapat terealisasi. Penyesuaian diri merupakan suatu
proses yang terjadi sepanjang kehidupan (life long process). Manusia harus
berusaha menemukan dan mengatasi rintangan, tekanan dan tantangan untuk
mencapai pribadi yang seimbang. Respon penyesuaian diri selain berupa hal yang
baik juga ada yang buruk. Respon baik atau buruk untuk memelihara keseimbangan
secara wajar. Individu berusaha menjauhi ketegangan. Penyesuaian diri sebagai
suatu proses kea rah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dan
eksternal. Contoh bayi membutuhkan asi dan kasih saying. Kerana tak terpenuhi,
bayi berusaha mencari pemenuhan kebutuhan yang tidak wajar untuk pengganti
respon yaitu menghisap ibu jari.
A.
Penyesuaian
Diri yang Positif
Dalam kehidupan sehari – hari manusia selalu
melakukan penyesuaian diri agar tercapai keseimbangan. Berhubung kebutuhan
manusia sangat banyak dan terjadi dalam berbagai bidang. Wajarlah bila tidak
semua penyesuaian berhasil secara positif. Penyesuaian yang positif :
1.
Tidak
adanya ketegangan emosi, bila individu
menghadapi problema, emosinya tetap tenang, tidak panik, sehingga dalam
memecahkan problem dengan menggunakan rasio dan emosinya terkendali.
2.
Dalam
memecahkan masalah tidak menggunakan mekanisme psikologis baik defence
mekanisme maupun escape mekanisme, melainkan berdasarkan pertimbangan rasional,
mengarah dari masalah yang dihadapi secara langsung dengan segala akibatnya.
3.
Dalam
memecahkan masalah bersikap realistis dan objektif. Bila seseorang menghadapi
masalah segera dihadapi secara apa adanya, tidak ditunda – tunda. Adapun yang
terjadi dihadapi secara wajar, tidak menjadi frustasi, konflik maupun
kecemasan.
4.
Mampu
belajar ilmu pengetahuan yang mendukung apa yang dihadapi sehingga dengan
pengetahuan itu dapat digunakan menanggulangi timbulnya problema.
5.
Dalam
menghadapi problem butuh kesanggupan membandingkan pengalaman diri sendiri
maupun pengalaman orang lain. Pengalaman – pengalaman itu tidak sedikit
sumbangannya dalam pemecahan problem.
B.
Penyesuaian
Diri yang Negatif
Penyesuaian diri yang
negatif adalah penyesuaian yang menyimpang dari realita :
1.
Yang
bersangkutan tidak dapat mengendalikan emosinya. Bila menghadapi problem
menjadi panik, sehingga tindakannya tidak sesuai dengan kenyataan.
2.
Menggunakan
pertahanan diri yang berlebihan, karena berulang kali merupakan kebiasaan yang
menyimpang dari kenyataan. Karena yang bersangkutan mengalami kegagalan dalam
penyesuaian diri memungkinkan mengalami frustrasi, konflik maupun kecemasan
atau kegoncangan lain.
II. Pertumbuhan
Personal
Manusia
merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila
tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan
bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah
seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam
lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap
dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak serta
merta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit
dan melalui proses yang panjang.
Setiap
individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal
tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi
pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan
sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga
adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga.
Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma
tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal individu. Bukan
hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat atau sosialpun
terdapat norma-norma yang harus dipatuhi dan hal itu juga mempengaruhi
pertumbuhan individu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan dan pertumbuhan individu:
A.
Faktor genetik
1. Faktor keturunan — masa
konsepsi
2. Bersifat tetap atau tidak berubah
sepanjang kehidupan
3. Menentukan beberapa karakteristik
seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap
tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen.
4. Potensi genetik yang bermutu
hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh
hasil akhir yang optimal.
B.
Faktor eksternal / lingkungan
1.
Mempengaruhi
individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat
menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.
2.
Faktor
eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan,
sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.
Dari semua faktor-faktor di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar
seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu
individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan
dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.
Victor Frankl dalam buku “Psikologi Pertumbuhan:
Kepribadian Sehat untuk Mengembangkan Optimisme” karangan MIF Baihaqi
menerangkan Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat.Salah satu konsep utama Frankl
adalah hati nurani. Menurutnya, hati
nurani adalah semacam spiritualitas alam bawah sadar, yang dikatakan oleh
Freud. Hati nurani bukan hanya sekedar salah satu faktor di antara bermacam –
macam faktor. Hati nurani adalah inti dari keberadaan manusia da merupakan
sumber integritas personal manusia. “ Menjadi manusia adalah manjadi
bertanggung jawab. Bertanggung jawab secara eksistensial, bertanggung jawab
terhadap keberadaannya sendiri di atas dunia. Hati nurani adalah sesuatu yang sangat
intuitif dan bersifat pribadi. Dia kembali pada seseorang yang riil yang berada
pada situasi yang riil, dan tidak bisa direduksi menjadi sebatas ‘ hukum
universal ‘. Hari nurani haruslah sesuatu yang hidup.
Frankl menemukan bukti
dari ‘kekosongan eksistensial’ secara besar – besaran dalam banyak kebudayaan,
baik bangsa yang berdeologi kapitalis ( semacam Amerika ) maupun berdeologi
komunis ( semacam Rusia, sebelum revolusi yang dilakukan oleh Presiden
Gorbachev ). Dia percaya bahwa ‘ kekosongan eksistensial’ itu berkembang dengan
pesat, khususnya di Negara maju seperti Amerika Serikat. Pemecahan Frenkl
terhadap no genic neurosis yang
berkembang pesat itu ialah dengan cara : kita masing – masing harus menemukan
atau mendapat kembali pengetian yang sangat penting tentang arti dan maksud
dalam kehidupan. Kalau tidak, seseorang anak menderita sakit jiwa.
Selanjutnya,
logoterapi mengemukakan tiga cara bagaimana seseorang dapat memberi arti bagi
kehidupan, yaitu :
(1) dengan memberi kepada dunia
lewat suatu ciptaan,
(2) dengan sesuatu yang kita
ambil dari dunia dalam pengalaman,
(3) dengan sikap yang kita ambil
terhadap penderitaan.
1.
Kodrat
Eksistensi Manusia yang Sehat
Hakikat dari
eksistensi manusia terdiri dari tiga faktor, yaitu : spiritualitas, kebebasan,
dan tanggung jawab. Kemudian Frankl merinci tiga faktor eksistensi ini:
1)
Spiritualitas
2)
Kebebasan
3)
Tanggung
Jawab
Orang – orang yang
sehat akan memikul tanggung jawab ini, yang menggunakan waktu keseharian mereka
dengan kegiatan – kegiatan manfaat, dengan penuh tanggung jawab, agar karya –
karya meraka tetap berkembang, meskipun kodrat kehidupan manusia singkat dan
fana.
Menurut Frankl,
apabila kita mati sebelum kita selesai memahat bentuk kehidupan kita, apa yang
telah kita kerjakan tidak mungkin ditiadakan. Suatu kehidupan yang penuh arti
ditentukan oleh kualitasnya, bukan oleh usia yang panjang. Karya kehidupan yang
disesuaikan dibandingkan dengan karya kehidupan yang dimulai dan diteruskan
pada suatu tingkat yang lebih tinggi adalah kurang penting. Menurut Frankl,
kadang - kadang ‘karya – karya yang
tidak selesai’ berada di antara simponi – simponi yang sangat indah.
Untuk mencapai dan
menggunakan spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab tergantung pada kita.
Tanpa ketiga – tiganya tidak mungkin seseorang menemukan arti dan maksud
dalam kehidupannya. Pilihan – pilihan
benar – benar tergantung hanya pada kita saja.
2.
Dorongan
Kepribadian yang Sehat
Jika Freud mendasarkan
‘kehendak terhadap kesenangan’ sebagai sumber segala dorongan, Adler mendasarkan
‘kehendak untuk berkuasa’, maka di dalam system Frankl ada satu dorongan yang
dianggapnya fundamental, yaitu kemauan
akan arti yang begitu kuat sampai mampu mengalahkan semua dorongan lain
pada manusia. Kemauan akan arti sangat penting untuk kesehatan untuk kesehatan
psikologis dalam situasi – situasi yang gawat ( seperti yang dihadapi Frankl di
Auschwitz ), kemauan akan arti hidup perlu disadarkan bagi orang – orang yang
menghadapi kegawatan sekedarnya supaya tetap hidup. Tanpa arti untuk kehidupan,
tidak ada alasan untuk meneruskan kehidupan.
Arti kehidupan, tentu
saja sungguh – sungguh istimewa, khas dan unik bagi setiap individu. Arti
kehidupan berbeda dari satu orang yang satu dengan orang lain, dari momen yang
satu dengan momen yang lain, dari kebersamaan orang di dalam seting /
lingkungan tertentu dan seting lainnya. Tidak ada hal yang sedemikian rupa
bahwa kemauan universal akan arti berlaku secara merata bagi semua manusia.
Jika tugas – tugas
dari kehidupan seseorang individu adalah riil (nyata), maka demikian juga
dengan arti kehidupan. Tugas – tugas yang dikerjakan seseorang –atau yang kita
kerjakan untuk diri kita- akan membentuk nasib, dan hal ini tidak dapat
dibandingkan dengnan tugas – tugas dari siapa saja yang lain. Situasi – situasi
dimana kita menyadari kesanggupan kita atau situasi – situasi dimana kita
berusaha memenuhi tugas – tugas kita, tidak pernah terulang berkali – keli.
Kita tidak dapat bertemu dua kali situasi yang sama dalam cara yang sama,
karena pengaruh dari pengalaman – pengalaman baru yang terjadi dalam periode di
antara dua situasi.
Karena tugas – tugas
yang dikerjakan seseorang dan nasib – nasib yang menimpa seseorang adalah unik
–bagi setiap individu dan pada periode waktu tertentu- maka setiap orang harus
menemukan caranya sendiri untuk memberikan respons. Hal ini sama juga jika kita
harus menemukan arti kehidupan yang cocok untuk kita masing – masing. Apalagi
kita berhadapan dengan sesuatu situasi yang berbeda untuk diberikan bagi
kehidupan, seperti yang dilakukan Frankl ketika situasinya berubah –dari
situasi seorang dokter ang aman dan terhormat menjadi orang yang ditawan
bernomor 119 dan 104, di Auschwitz. Beberapa situasi menghendaki supaya kita
secara aktif membentuk nasib kita, situasi – situasi lain menghendaki supaya
kita menerimanya. Setiap situasi adalah baru dan membutuhkan suatu respons
tertentu.
Bagi Frankl, jurang
pemisah ini berarti bahwa orang – orang sehat selalu memperjuangkan tujuan yang
memberikan arti bagi kehidupan. Orang – orang ini terus – menerus berhadapan
dengan tantangan untuk memperoleh maksud baru yang harus dipenuhi. Perjuangan
yang terus - menerus ini menghasilkan
kehidupan yang penuh semangat dan gembira. Kemungkinan lain –orang itu tidak
berusaha mencari- menyebabkan suatu kekosongan eksistensi dan menyebabkan
seseorang merasa bosan, masa bodoh, dan tanpa tujuan. Kehidupan tidak mempunyai
arti; kita tidak mempunyai alasan untuk meneruskan kehidupan.
Frankl telah
mengemukakan sebelumnya tiga cara bagaimana kita dapat memberi arti bagi kehidupan
yakni:
(1) apa yang kita berikan bagi
dunia berkenaan dengan suatu ciptaan,
(2) apa yang kita ambil dari
dunia dalam pengalaman, dan
(3) sikap yang kita ambil
terhadap penderitaan. Selanjutnya, Frankl membicarakan hal ini dalam topik yang
umum, yakni nilai – nilai.
Nilai – nilai , seperti arti
kehidupan yang dituju oleh nilai – nilai itu adalah untuk bagi setiap orang dan
situasi. Nilai – nilai itu berubah – ubah dan fleksibel, supaya bisa
menyesuaikan diri terhadap bermacam – macam situasi dimana kita menyadari
kemampuan kita sendiri. Seseorang harus terus – menerus memilih salah satu
nilai yang memberi arti bagi kehidupan dalam setiap situasi.
Menurut Frankl ada
tiga system nilai yang fundamental yang berhubungan dengan tiga cara memberi
arti kepada kehidupan, yaitu:
(1) nilai – nilai daya cipta atau
kreatif
(2) nilai – nilai pengalaman
(3) nilai – nilai sikap.
Dapatlah ditegaskan
disini, dengan memasukkan nilai – nilai
sikap sebagai cara memberi arti bagi kehidupan, sesungguhnya Frankl ingin
memberi kita harapan bahwa kehidupan manusia meskipun dalam keadaan – keadaan
gawat, masih dapat bercirikan arti dan maksud. Kehidupan seseorang dapat
mengadung arti sampai momen kehidupan yang terakhir. Sejauh kita sadar, kita
diwajibkan untuk menyadari nilai – nilai. Itulah tanggung jawab manusia yang
tidak dapat dielkkan jika dia ingin memelihara kesehatan psikologis.
Sumber:
MIF Baihaqi. 2008.
PSIKOLOGI PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme. Bandung:
PT Remaja RosdaKarya
http://smileandsprit.blogspot.com/2011/03/penyesuaian-diri-pertumbuhan-personal.html
PERTEMUAN II Tanggal 8 April 2013
Tulisan 1
TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
I. ALLPORT (CIRI-CIRI KEPRIBADIAN YANG MATANG)
Menurut Allport Watak
atau karakter sama, walaupun istilah kepribadian dan watak sering di pergunakn
secara bertukar-tukar, namun Allport menunjukan, bahwa biasanya kata watak
menunjukan arti normative; dia menyatakan bahwa character is personality
evaluated and is charater devaluated’. (Allport 1951, p 52). Sedangkan bagi Allport
temperament adalah bagian khusu dari kepribadian yang diberika definisi
demikian :
“ Tempramen adalah gejala karateristik dari pada sifat
emosi individu, termasuk juga mudah tidaknya kena rangsangan emosi, kekuatan
serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasana hatinya, segala dara
daripada fluktuasi dan intensitat Susana hati; gejala ini tergantung kepadsa
factor konstitusional, dan karenanya terutama berasal dari keturunan’.
(Allport, 1951, p. 54)
1.
Sifat
Sifat
adalah tendens determinasi atau predisposisi dan diberinya definisi
demikian :“Sifat adalah system
neudopsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk
menghadapi bermacam-macam perangsang secara sama, memulai serta membimbing
tingkah laku adaptif dan ekspresif secara sama” (Allport, 1951, p. 289)
Yang
perlu dicatat mengenai definisi ini ialah tekanan terhadap individualitas dan
kesimpulan bahwa kencendrungan itu tidak ada hanya terikat kepada sejumlah
perangsang atau reaksi, melainkan denganseluruh pribadi manusia. Pernyataan
“system neuropsikis” menunjukan jawaban affirmative yang diberikan oleh Allport
terhadap pertanyaan apakah “trait” itu
benar-benar ada pada individu.
Dengan
mempertentangkan pendirian biososial (yang menganggap bahwa trait atau sifat
itu hanya ada dalam pengamatan yang dibuat oleh orang lain) dengan pendirian
biofisik (yang menganggap bahwa trait atau sifat itu tidak tergantung kepada
pengama tetapi benar-benar mempunyai esksistensi di dalam pribadi ) nyata
sekali Allport mengikuti pendirian yang kedua. Dalam kuliah-kuliahnya dia
selalu menyatakan bahwa trait adalah kenyataan terakhir dari pada organisasi
psikologis; dan dalam tulisannya (Personality) dia menyatakan :
“Sesuatu
sifat….. mempunyai lebih dari hanya eksistensi nominal saja; sifat itu tak
tergantung kepada pengamat, tetapi nyata-nyata ada pada individu”. (Allport,
1951, p. 289). Jelasnya : Pandangan ini tidak beranggapan bahwa tiap nama sifat
mesti mencerminkan suatu sifat, tetapi maksudnya di belakang semua kekaburan
istilah itu, di belakang ketidaksepakatan pendapat mengenainya, dan terpisah
dari kekhilafan dan kegagalan observasi empiris, ada struktur batin (mental structure) pada tiap kepribadian yang mencerminkan
keselarasan tingkah lakunya. Dalam pada itu perlu pula di jelaskan perbedaan
pengertian ini dengan beberapa pengertian lain yang berhubungan.
Perbedaan sifat dengan beberapa pengertian yang lain:
a. Kebiasaan (habit)
Sifat (trait) dan kebiasaan (habit) kedua-duanya
adalah tendens determinasi, akan tetapi sidat itu lebih umum, baik dalam
situasi yang dicocokinya, maupun dalam respon yang terjelma darinya.
b. Sikap (attitude)
Perbedaan pengertian sifat (trait) dan sikap
(attitude) sukar diberikan. Bagi Allport kedua-duanya itu adalah predisposisi
untuk merenspons, kedua-duanya adlah khas, kedua-duanya dapat memulai atau
mebimbing tingkah laku; kedua-duannya
adalah hasil dari factor genesis dan belajar. Namun kalau di teliti ada juga
perbedaan di antara kedua hal itu.
Sikap (attitude) itu berhubungan dengan sesuatu
obyek, sedangkan sifat (trait) tidak. Jadi sifat umum daripada sifat ialah
bahwa sifat itu hamper selalu lebih besar/luas dari pada sikap: dalam kenyataan nya makin besar jumlah objek
yang dikenai sikap it, maka sikap makin mirip dengansifat. Sikap dapat berbeda-beda
dari yang lebih khusus ke yang lebih umum, tetapi kalau sifat itu selalu umum
Allport Membedakan antar sifat dan tipe. Menurut dia
orang dapat memiliki suatu sifat, tetapi tidak dapat memiliki sesuatu tipe.
Tipe adalah kontruksi ideal si pengamat, dan seseorang dapat disesuaikan dengan
tipe itu tetapi dengan konsekuensi di abaikan sifat-sifat khas individuinya.
Sifat dapat mencerminkan sifat khas pribadi sedangkan tipe menunjukan
perbedaan-perbedaan buatan yang tak begitu cocok dengan kenyataan, sedangkan
sifat adalah refleksi sebenarnya daripada yang sebenar-benar ada.
2.
Sifat-sifat
umum (bersama) dan sifat-sifat individual
Suatu
hal yang sangat penting di dalam mempelajari teori Allport ini ialah berusaha
mengenai perbedaannya antara sifat-sifat umum (bersama) dan sifat-sifat
individualnya. Dia menyatakan bahwa di dalam kenyataan tidak pernah ada dua
individu mempunyai sifat-sifat yang benar-benar sama. Walaupun mungkin ada
kemiripan dalam struktur sifat namun ada selalu ada corak yang khas mengenai cara
bekerjanya sifat-sifat itu pada tiap individu yang yang menyebabkan adanya
perbedaan dengan sifat yang sama yang ada pada orang lain. Jadi sebenarnya
semua sifat itu adalah sifat individual, artinya khas dan hanya dapat dikenakan
kepada satu individu
Walau
tidak ada sesuatu sifat yang dapat di amati pada lebih dari satu individu,
namun Allport mengakui bahwa karena pengaruh-pengaruh yang sama dari masyarakat
dan kesamaan-kesamaan yang mempengaruhi perkembangan individu, ada sejumlah
kecil cara-cara penyesuaian diri yang secara kasar (garis besar) dapat
dibandingkan. Jadi penyelidik mungkin menyusun ketentuan-ketentuan
(ukuran-ukuran) yang menunjukan aspek-aspek yang sama daripada sifat-sifat
individual dan yang mempunyai nilai prediktif kasar – inilah sifat umum atau
sifat nomothetis. Cara demikian itu tidak dapat dipertahankan kalau dipandang
dari segi kekhususan individu tetapi kalau di pandang dari segi kegunaan dapat.
Secara singkat Allport menyatakan di atas itu demikian :
“Kalau diartikan secara teliti definisi sifat itu,
hanya sifat individuallah sifat yang sebenarnya, karena sifat-sifat selalu ada pada individu-individu dan
tidak dalam masyarakat, dan
a.
Karena
sifat-sifat itu berkembang dan mengumum menjadi disposisi-disposisi dalam
cara-cara yang khas sesuai dengan pengalaman masing-masing individu. Sifat umum
sama sekali bukanlah sifat yang sebenarnya, melainkan hanyalah aspek-aspek yang
dapat diukur dari pada sifat individu yang kompleks”. (Allport, 1951, p.299).
Orang
yang mungkin berpendapat bawa sifat-sifat umum itu harus di beri nama yang
bebeda, supaya dapat dibedakan dengan sifat individual. Allport tidak dapat menerima pendapat yang
demikian itu karena istilah sifat itu sudah dipergunakan secara luas didalam
kedua arti itu serta penggunaan itu menunjukkan kepada penyelidik tentang
aspek-aspek kepribadian yang dapat di banding-bandingkan dengan istilah itu.
Jadi pada umumnya Allport mengakui bahwa penyelidikan mengenai sifat-sifat umum
itu akan berguna dalam konsepsi yang demikian itu mneggambarkan individu
setepat-setepatnya.
3. Sifat pokok, sifat
sentral dan sifat sekunder
Di muka suadah
dikatakan bahwa sifat-sifat itu merupakan predisposisi-predisposisi umum bagi
tingkah laku. Dalam pada itu masih ada satu soal lagi mengenai hal ini, yakni
apakah semua sifat itu padapokonya mempunyai taraf keumuman yang sama, dan
apabila tidak bagaimanakah cara membedaka-bedakan antara sifat pokok, sifat
sentral dan sifat sekunder.
a. Sifat pokok atau cardinal trait
Sifat
pokok ini demikian menonjolnya (dominannya) sehingga hanya sedikit saja
kegiatan-kegiatan yang tak dapat di cari, baik secara langsung maupun tidak
langsung bahwa kegiatan itu berlangsung karena pengaruhnya. Tidak ada sifat
semacam itu yang lama tersembunyi; individu dikenal dengan sifat itu dan bahwa
mungkinmenjadi terkenal dalam sift itu. Kualitas yang demikian dominan pada
individu itu sering di sebut “the eminent trait, the ruling passion, the master
sentiment, atau the radix of alife”. (Allport, 1951, p. 338). Macam sifat ini
relative kurang biasa dan kurang nampak pada tiap orang.
b. Sifat sentral (central trait)
Sifat-sifat
ini lebih khas, dan merupakan kecendrungan-kecendrungan individu yang sangat
khas/karakteristik sering berfungsi dan mudah di tandai.
c. Sifat sekunder
(Secondary trait)
Sifat
sekunder ini nampaknya berfungsinya lebih terbatas kurang menetukan di dalam
deskripsi kepribadian, dan lebih terpusat atau khusus pada response-response
yang di dasrnya serta perangsang-perangsang yang d cocokinya
4. Sifat-sifat ekspresif
Kecuali
yang telah dikemukakan itu, masih ada sifat-sifat yang lain; yaitu yang di
sebut sifat-sifat ekspresif. Sifat-sifat ekspresif ini merupakan disposisi yang
memberi warna atau mempengaruhi bentuk tingkah laku, tetapi yang pada
kebanyakan orang tidak mempunyai sifat mendorong. Contoh sifat-sifat ekspresif
ini ialah melagak, ulet, dan sebagainya.
Adapun tujuan yang kejar orang sifat-sifat ini dapat bekerja, dapat memberi
warna kepada tingkah lakunya.
Persoalan
di atas itu menimbulkan persoalan /pertanyaan apakah sifat-sifat hanya
berfungsi membimbing dan memberikan arah tingkah laku. Pertanyan ini tidak
dapat di jawab dengan sederhana. Beberapa sifat terang lebih mendorong, lebih
mempunyai peranan sebagai pendorong yang menentukan daripada yang lain-lain. Jadi,
diantara sifat-sifat itu terdapat variasi dalam pengaruh mendorongnya terhadap
individu. Selanjutnya dapat dinyatakan
bahwa dalam arti tertentu selalu ada perangsang lebih dahulu yang berhubungan
dengan pengaktifan sesuatu sifat misalnya perangsang dari luar atau keadaan
dalam arti orang harus mendahului bekerjanya (berfungsinya) sesuatu sifat.
Namun jelas selkali bahwa kebanyakan sifat tidak merupaka refflektor dari
perangsang-perangsang luar. Dalam
kenyataanya individu aktif mencari perangsang-perangsang yang tepat untuk
membuat sifat berfungsi. Seseorang yang mempunyai sufat suka bergaul jelas
tidak akan menanti situasi untuk mengeskpresikan sifat itu, tetapi dia akan menciptakan situasi di man
dia dapat bergaul dengan orang-orang lain.
5. Kebebasan sifat-sifat
Sejauh
mana sifat-sifat itu ada sebagai system tingkah laku yang bekerja tanpa
mengingat system-sistem yang lain? Apakah bekerjanya sesuatu sifat tertentu itu
selalu di isyaratkan oleh sifat-sifat
yang lain ? Allport berpendapat bahwa sifat-sifat tu dapat di tandai bukan oleh
sifat bebasnya yang kaku tetapi terutama oleh kualitas memusatnya. Jadi sifat
itu cendrung untuk mempunyai pusat;
disekitar pusat itu lah pengaruhnya berfungsi; tetapi tingkah laku yang
di timbulkannya juga secara serempak (simultan) dipengaruhi oleh sifat-sifat
yang lainya. Kebebasan sifat-sifat umumnya yang ddefinisikan secara sekehendak
seperti dalam sementara penyelidik-penyelidik psikomatris, merupakan salah satu
dari kelemahan-kelemahannya sebagai representrasi yang tepat dari pada tingkah
laku. Saling pengaruh atau berhubungannya. Bermacam-macam sifat itu juga
merupaka salah satu sebab adanya kenyataan bahwa mungkin membuat metode-metode
klasifikasi yang benar-benar memuaskan.
6. Konsintensi
(consistency) sifat-sifat
Jelas
bahwa kesimpulan-kesimpulan yang dipergunakan untuk menandai sifat adalah
konsistensinya. Jadi sifat itu tidak dapat dikenal hanya keteraturan atau ketetapannya di dalam individu
bertingkah laku. Kenyataanya, bahwa ada banyak sifat-sifat yang saling menutup
satu sama lain. Yang serempak aktif
menunjukan, bahwa ketidaktetapan (inconsistency) yang jelas di dalam tingkah
laku individu relative akan sering ditemukan. Selanjutnya, kenyataan bahwa
sifat-sifat itu mungkin meliputi unsure-unsur yang nampaknya tidak tetap
apabila dipandang dari segi normative atau dari luar. Jadi, orang mungkin
menyaksikan ketidaktetapan tingkah laku yang sebenarnya mencerminkan batin yang
tetap terorganisasi secara khas. Hal ini tidak berarti, bahwa setiap kepribadian
itumempunyai integrasi sempurna. Disosiasi damn pendesakan/penekanan mungkin
ada dalam tiap kehidupan. Tetapi biasanya ketetapan itu adanya yang sebenarnya
lebih dari pada apa yang dapat dicari oleh metode-metode psikologis.
7. Intensi (intension)
Lebih
penting dari penyelidikan mengenai masa lampau ialah penyelidikan mengenai
intense atau keinginan individu mengenai masa depannya. Istilah intense di
gunakan dalam arti yang meliputi pengertian : harapan-harapan,
keinginan-keinginan, ambisi, cita-cita seseorang. Menurut Allport intense ini
dapat disejajarkan dengan apa yang disebut Freud Ich ideal dan yang disebut C.
Buhler Bestimmung.
Dalam hal inilah
terlihat jelas perbedaan Allport dengan lain-lain teori kepribadian dewasa ini.
Teori Allport menunjukan bahwa apa yang
akan di coba dlakukan oleh seseorang merupakan kunci dan hal yang akan di
coba dilakukan oleh seseorang merupakan
kunci dan hal yang terpenting bagi apa yang dikerjakanya sekarang. Jadi kalau
dewasa ini banyak ahli yang mengutamakan
masa lampau, maka pendapat Allport itu mirip sekali dengan pendapat
Aldler dan Jung; Walaupun tidak ada alas
an untuk mengatakan adanya pengaruh dari mereka ini.
Sumber:
Sumadi Suryabrata. (2011).
Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers
II. ROGERS ( PERKEMBANGAN
KEPRIBADIAN)
Rogers
menyebutkan dirinya sebagai orang yang berpandangan humanistik dlam psikologi
kontemporer. Psikologi humanistik dari satu pihak menentang apa yang disebut
sebagai pesimisme suram dan keputusasaan yang terkandung dalam pandangan
psikoanalitik tentang manusia dan di lain pihak menentang konsepsi robot
tentang manusia yang digambarkan dala behaviorisme. Psikogi humanistik lebih
penuh harapan dan optimistik tentang manusia. Ia yakin bahwa dalam diri setiap
orang terdapat potensi-potensi untuk menjadi sehat dan tumbuh secara kreatif.
Kegagalan dalam mewujudkan potensi-potensi ini disebabkan oleh pengaruh yang
bersifat menjerat dan keliru dari latihan yang diberikan oleh orangtua, serta
pengaruh-pengaruh sosial lainnya . Namun pengaruh-pengaruh yang merugikan ini
dapat di atasi apabila individu mau menerima tanggung jawab untuk hidupnya
sendiri. Rogers yakin apabila tanggung jawab ini diterima, kita segera akan
melihat-kalau saja represi dan perbudakan yang meliputi seluruh dunia dapat
dicegah - munbculnya seorang pribadi
baru ”yang penuh kesadaran, mengarahkan dirinya sendiri, seorang penjelajah
dunia batin lebih daripad dunia luar, yang memandang rendah sikap serba tunduk
pada kebiasaan-kebiasaan dan dogma tentang autoritas” (Rogers 1974).
Struktur Kepribadian
Walaupun Rogers nampaknya tidak
mementingkan kontruk-kontruk struktural,
dan lebih senang menaruh perhatian pada perubahan dan perkembangan
kepribadian, namun ada dua kontruk yang sangat penting dalam teorinya dan bahkan
dapat dianggap sebagai tempat berpijak bagi seluruh teorinya. Kedua kontruk
tersebut teorinya adalah organisme
dan diri (self).
Organisme
Secara
psikologis, organisme adalah lokus atau tempat dari seluruh pengalaman.
Pengalaman meliputi segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam
kesadaran organisme pada setiap saat. Keseluruhan pengalama ini merupakan medan fenomenal. Medan fenomenal adalah
“frame of reference” dari individu yang hanya dapat diketahui oleh orang itu
sendiri. “Medan fenomenal tidak dapat diketahui oleh orang lain kecuali melalui
inferensi empatis dan selanjutnya tidak dapat diketahui dengan sempurna”
(Rogers, 1959, hlm. 210). Bagaimana individu bertingkahlaku tergantung pada
medan fenomenal itu (kenyataan subjektif) dan bukan pada keadaan-keadaan
perangsangnya (kenyataan luar).
Harus
dicatat bahwa medan fenomenal tidak indektik dengan medan kesadara. “Kesadaraan
adalah perlambangan dan sebagaian
pengalaman kita” (Rogers, 1959, hlm.
198). Dengan demikian medan penomenal terdiri dari pengalaman sadar
(dilambangkan) dan pengalaman tak sadar (tidak dilambangkan). Akan tetapi
organisme dapat menbedakan kedua jenis pengalaman tersebut dan bereaksi dengan
pengalaman yang tidak dilambangkan. Mengikuti McCleary dan Lazarsus (1949),
Rogers menyebutnya peristiwa subsepsi
(subception).
Pengalaman
mungkin tidak tepat dilambangkan, akibatnya orang bertingkah laku secara tidak
serasi. Akan tetapi orang cendrung mencek pengalaman-pengalaman yang
dilambangkandengan dunia sebagimana adanya. Uji terhadap kenyataan ini
memberiakn orang pengetahuan yang dapat di andalkan tentang dunia sehingga
dengan demikian orang dapat bertingkah laku secara realistis. Akan tetapi,
persepsi-persepsi tertentu tetap tidak diuji atau diuji secara kurang memadai,
dan pengalaman-pengalaman yang tidak diuji adapat menyebabkan orang bertingkah
laku secara tidak realistis, bahkan merugiakn orang itu sendiri. Meskipun
Rogers tidak menyinggung isu tentang kenyataan
”sebenarnya” namun jelas bahwa
orang-orang harus memiliki suatu konsepsi tentang standar kenyataan luar atau
impersonal, sebab kalau tidak demikian mereka tidak akan dapat menguji gambar
kenyataan kentaan batin (subjektif) denga kenyataan “objektif”. Pertanyaan
kemudian timbul, yakni bagaiman orang-orang dapat membedakan antara gambaran
sujektif yang tidak merupakan representasi yang tepat dari kenyataan dan
gambaran yang benar-benar merupakn representasi dari kentaan. Apakah yang
memungkinkan orang membedaka antara fakta dan fiksi dalam dunia sujektinya?
Inilah paradoks besar dalam fenomenologi.
Rogers
memecahkan paradoks tersebut dengan menyimapang dari rangka pemikiran
fenomenologi murni. Apakah yang dialami atau dipikirkan orang sebenarnya
buakanlah kenyataan bagi orang itu: hal itu hanyalah hipotesis sementara tentang kenyataan yang dapat benar atau
salah. Orang menunda keputusannya sampai ia menguji hipotesis tersebut. Apakah
yang dimaksud menguji? Menguji berati mencek ketepatan imformasi yang diterima
dan yang merupakan dasr dari hipotesisnya dengan sumber-sumber informasi lain.
Misalnya, seseorang akan mengarami makanannya berhadapan dengan dua tempat
bumbu. Satu diantaranya berisi garam dan yang lainnya berisi merica. Orang
tersebut mengira bahwa tempat yang berlubang besar berisi garam, tetapi karena
tidak yakin maka ia menuangkan sedikit isinya pada telapak tangannya. Apabila
partkel-partikel yang keluar adalah putih dan bukan hitam, maka orang tersebut
boleh merasa yakin bahwa itu garam. Orang yang sangat teliti mungkin merasa
perlu mencicipinya sedikit sebab bisa jadi itu merica putih, bukan garam. Apa
yang di kemukakan dengan contoh ini adalah suatu pengujian ide-ide orang dengan
berbagi data inderia. Pengujian tersebut berupa mencek imformasi yang
kurangpasti dengan pengetahuan yang lebih lansung. Dalam kasus garam, ujian
terakhir adalah rasanya; suatu cita rasa tertentu menetukan bahwa itu garam.
Tentu
saja, contoh yang dkemukkan tadi menggambarkan suatu kondisi ideal. Dalam
banyak kasus, orang menerima begitu saja pengalamannya sebagai representasi
yang tepat tentang kenyataannya sebagai hipotesis tentang kenyataan. Akibatnya,
orang kerapkali menghasilkan banyak komsepsi salah tentang dirinya dan tentang
dunia luar. “Priadi yang utuh”, baru-baru ini rogers menulis, “ adalah orang
yang sepenuhnya terbuka pada data yang dialami dalam dirinya dan data yang di
alaminya dari dunia luar” (1977, hlm. 250).
Diri
(self)
Sebagian
dari medan fenomenal lama kelamaan menjadi terpisa. Ini adalah diri. Diri atau konsep-diri merupaka :
Gestalt konseptual
yang terorganisasi dan konsisten yang terdiri dari konsepsi-konsepsi tentang
sifat-sifat dari ‘ diri subjek ’ atau ‘
diri objek ’ dan persepsi-persepsi tentang hubngan-hubungan antara ‘ diri subjek ’ atau ‘ diri objek ’ dengan orang0orang lain
dan dengan berbagai aspek kehidupan beserta nila-nilai yang melekat pad
persepsi-persepdi ini. Gestaltlah yang ada dalam kesadaran meskipun tidak harus
disadari. Gestalt tersebut bersifat lentur dan berubah-ubah, suatu proses,
tetapi pada setiap saat merupakan suatu entitas spesifik (Rogers, 1959), hlm.
200).
Diri
merupakan salah satu konstruk sentral dalam teori Rogers, dan ia telah
memberika suatu penjelasan yang menarik bagaimana ini terjadi.
Berbicara
secara pribadi memulai karya saya dengan keyakinan yang mantap bahwa “diri” adalah
suatu istilah yang kabur, ambigu atau bermakna ganda, istilah yang tidak
berarti secara ilmiah, dan telah hilang dari kamus para psikolog bersama
menghilangnya para introspeksionis. Dari sebab iti, saya lambat menyadari bahwa
apa bila klien-klien diberi kesempatan untuk mengungkapkan
masalah-masalahmereka dan sikap-sikapmereka dalam istilah-istilah mereka
sendiri, tampa suatu bimbingan atau interprentasi, ternyata mereka cendrung
berbicara tentang diri…..tampaknya
jelas,…bahwa diri merupakan suatu unsur penting dalam pengalaman klien, dan
aneh karena tujuannya adalah menjadi ‘ diri-sejati ’ –nya (1959, hlm. 200 –
201).
Disamping “diri” sebagaimana adanya (struktur diri), terdapat suatu diri
ideal, yakni apa yang diinginkan orang tentang dirinya.
Oragnisme
dan Aku : Keselarasan dan ketidakselarasan
Pentingnya konsep-konsep
struktural, yakni organisme dan “diri”, dalam teori rogers menjadi jelas dalam
pembicaraannya tentang kongruensi dan inkongruensi antara diri sebagaimana
tentang kongrensi dan inkongruensi antara diri sebagaimana dipersepsikan dan
pengalaman aktual organisme (1959,hlm.203, 205-206.) Apabila
pengalaman-pengalaman yang dilambangkan yang membentuk diri benar-benar
mencerminkan pengalaman-pengalaman organisme. Maka orang yang bersangkutan
disebut berpenyesuain baik, matang, berfungsi sepenuhnya. Orang macam itu
menerima seluruh pengalaman organisme tampa merasakan ancaman atau kecemasa. Ia
mampu berfikir secara realitis. Inkongruensi antara diri dan organisme
menyebabkan individu-individu merasa terancam dan cemas. Mereka bertingkah laku
serba defensif dan cara berfikir mereka menjadi sempit dan kaku.
Dalam
teori Rogers secara implisit terdapat dua manifestasi lain dari
kongruensi-inkongruensi. Pertama adalah kongruensi atau inkongruensi antar
kenyataan subjektif (medan fenomenal) dan kenyataan luar (dunia sebagaimana
adanya). Kedua adalah tingkat kesesuaian
antar diri dan diri idea. Apabila perbedaan antara diri dan diri ideal adalah
besar, maka oarng merasa tidak puas dan tidak dapat menyesuaikan diri.
Bagaimana
inkongruensi itu terjadi dan bagaimana diri dan organisme dapat dibuat lebih
kongruen merupakan keprihatiana utama Rogers, dan untuk menjelaskan
pertanyaan-pertanyaan yang sangat penting inilah maka ia telah mencurahkan
begitu banyak kehidupan profesionalnya. Bagaimana ia menjawab
pertanyaan-pertanyaan ini akan dibicarakan pada bagian tentang perkembangan
kepribadian (untuk versi lain tentang kontruk-kontruk stuktural dari teori
Rogers, lihat krause, 1964).
Sumber:
Calvin s. Hall & Gardner
Lindzey. (1993). Psikologi Kepribadian 2, Teori-teori Holistik
(Organismik-Fenomenologis). Yogyakarta: Penerbit Kanisius
III. TEORI ABRAHAM MASLOW
(HIRARKI
KEBUTUHAN MANUSIA >>AKTUALISASI
DIRI)
Abraham Maslow dalam banyak
tulisan [ khususnya lihat Motivation and personality ( 1954, edisi yang
direvisi, 1970), Toward a phsychology of being (1968a), dan the farther reaches
of human nature (1971) ] mendukung segi pandangan dinamik, holistik yang banyak
kesamaan dengan pandangan Goldtein dan angyal, temaN-teman sekerjanya di
Universitas Brandeis. Maslow beranggapan bahwa pendiriannya tergolong dalam
bidan psikologi humanistik yang luas
yang disebutnya sebagai “mazhab ketiga” dalam spikologi amerika, dua
yang lain nya adalah behaviorisme spikoanalisis.
Maslow
dilahirkan di Brooklyn, New york, pada tanggal 1 April 1908. Semua gelarnya
diperoleh di Universitas Wisconsin, tempat ia meneliti tingkah laku ker. Selama
14 tahun (1937 – 1951) ia menjadi staf pengajar brooklyn College. Pada tahun
1951, Maslow pergi ke Universitas Brandeis di mana ia tinggal sampai tahun
1969, ketika ianmenjadi anggota tetap pada Laughlin Foundation di Menlo Park,
California. Maslow menderita serangan jantun yang menyebabkan kematiannya pada
tanggal 8 juni, tahun 1970.
Sejak
kematiannya, sejumlah buku tentang hidup dan karyanya di terbitkan. Diantaranya
adalah sebuah buku kenangan yang berisi kata-kata pujian, beberapa catatan
Maslow yang tidak diterbitkan, dan sebuah bibliografi lengkap dari
tulisan-tulisannya (B.G. Maslow, 1972) dan sebuah potret intelektual yang di
kemukakan oleh pembantu dekatnya (Lowry, 1972a). Lowry (1973b) juga telah
menyusun menjadi satu buku, makalah-makalah lepas yang di tulis oleh Maslow.
Buku-buku lain tentang Maslow telah ditulis oleh Goble(1970) dan Wilson (1972).
Kami
memilih beberapa segi khusus dari pandangan-pandangan Maslow mengenai
kepribadian untuk d bawah. Penting untuk di perhatikan bahwa tidak seperti
Goldtein dan Angyal yang meletakan dasar pandangan merekan pada penelitian
tentang orang-orang yang mendapat cedera otak dan gangguan jiwa, Maslow
menggunakan hasil-hasil penelitian nya tentang orang yang sehat dan kreatif
untuk sampai pada perumusan-perumusan tertentu tentang kepribadian.
Karena kepribadian
berkembang melalui pematangan dalam lingkungan yang menunjang dan usaha-usaha
aktif pada pribadi untuk merealisasikaan kodratnya, maka daya-daya kreatif
dalam manusia menyatakan dirinya dengan lebih
jelas lagi. Apa bila manusia menderita atau neurotik, maka hali itu di
sebabkan karena lingkungan menyebabkan demikian lewat ketidaktauan dan patologi
sosial, atau karena mereka telah mendistorsikan pikiran mereka. Maslow juga berpendapat banyak orang takut
akan dan megundurkan diri dari menjadi manusia sepenuhnya. (diri yang teraktualisasikan). Sifat destruktif dan kekerasan, misalnya,
bukan sifat asli manusia. Manusia menjadi destruktif kodrat batinya di belokan,
atau disangkal atau dikecewakan. Maslow (1968b)
membedakan kekerasan patologi dan agresi sehat melawan ketidakadilan, prasangka,
dan penyakit-penyakit sosial lainnya.
Maslow (1967a) telah
mengemukakan suatu teori tentang motivasi manusia yang membedakan antara
kebutuhan-kebutuhan dasar (basic needs) dan metakebutuhan-metakebutuhan
(metaneeds). Kebutuhan-kebutuhan dasr meliputi lapar, kasih sayang (afeksi),
rasa aman, harga diri, dan sebagainya. Metakebutuhan-metakebutuhan meliputi
kadilan, kebaikan, keindahan, keteraturan, kesatua, dan sebagainya.
Kebutuhan-kebutuhan dasar adalah kebutuhan-kebutuhan akibat kekurangan, sedangkan
metakebutuhan-metakebutuhan kebutuhan untuk pertumbuhan. Kebutuhan-kebuthan
dasar pada umumnya aneh lebih kuat dari
pada metakebutuhan-metakebutuhan dan terssusun secara hirarki
kebutuhan-kebutuhan itu sama kuat dan
agak mudah dapat disubstitusikan satu
sama lain. Meta kebutuhan-meta kebutuhan adalah instingtif atau melekat pada
manusia seperti kebutuhan-kebutuhan dasar, dan apabila
metakebutuhan-metakebutuhan tidak dipenuhi maka orang tersebut dapat menjadi sakit
. Metapatologi-metapatologi ini meliputi keadaan-keadaan seperti alienasi, penderitaan, apati,
sinisme.
Maslow yakin bahwa
apabila para psikologi hanya mempelajari orang-orang yang lumpuh, kerdil,
neurotik maka mereka hanya menghasilkan suatu psikologi yang lumpuh. Untuk
mengembangkan suatu ilmu pengetahuan yang lebih lengkap dan luas. Tentang
manusia maka para psikolog harus juga mempelajari orang-orang yang telah
merealisasikan potensi-potensinya sampai sepenuh-penuhnya. Inilah yang
dilakukan Maslow; ia telah mengadakan
penelitian yang intensifdan luas tentang sekelompok orang yang telah
mengaktualisasikan-diri. Mereka adalah orang-orang langka sebagaimana didapati
Maslow ketika ia mengumpulkan kelompok penelitinya ini. Setelah menemukan
orang-orang yang cocok, beberapa di antarang tokoh-tokoh historis seperti
Lincoln, Jefferson, Walt Whitman, Thoreau, dan Beethoven, sedangkan tokoh-tokoh
lainnya masih hidup pada waktu di teliti, seperti Eleanor Roosevelt, Einstein,
dan teman-temanserta kenalan-kenalan peneliti, maka mereka diteliti secara
klinis untuk menemukan sifat-sifat man yang menbedakan mereka dari orang-orang
biasa. Ternyata inilah ciri-ciri khas mereka :
(1) Mereka berorientasi secara
realistik.
(2) Mereka menerima diri mereka
sendiri, orang-orang lain, dunia kodrati seperti apa adanya.
(3) Mereka sangat spontan.
(4). Mereka memusatkan diri pada
maslah bukan pada diri mereka sendiri.
(5) Mereka mapu membuat jarak dan
memiliki kebutuhan akan privasi.
(6) Mereka adalah otonom dan
independen atau berdiri sendiri.
(7) Apresiasi mereka terhadap
orang-orang dan benda-benda adalah segar, bukan penuh prasangka.
(8) Kebanyakan diantara mereka
memiliki pengalaman mistik atau spiritual yang dalam, meskipun tidak bersifat religius.
(10) Hubungan mereka yang akrab
dengan beberapa orang yang di cintai secara khas cendrung mendalam serta sangat
emosional, tidak dangkal.
(11) Nilai dan sikap mereka
adalah demokratik.
(12) Mereka tidak mencampurkan
antara sarana dan tujuan.
(13) Perasaan humor mereka lebih
bersifat filosofis dan bukan perasaan humor yang menimbulkan permusuhan.
(14) Mereka sangat kreatif .
(15) Mereka menentang konformitas
terhadap kebudayaan.
(16) Mereka mengatasi lingkungan
bukan hanya mengahadapinya.
Maslow juga memiliki
sifat dari apa yang disebut “Pengalaman-pengalaman puncak” (peak experiences).
Laporan-laporan diperoleh dari jawaban atas permintaan untuk memikirkan
pengalaman-pengalaman yang sangat indah dalam kehidupan seseorang. Ditemukan
bahwa orang-orang yang mengalami pengalaman-pengalam puncak merasa lebih
terintegrasi, lebih bersatu dengan dunia, lebih menjadi raja atas diri mereka
sendiri, lebih spontan, kurang menyadari ruang dan waktu, lebih cepat dan mudah
mencerap sesuatu dan sebagainya (1968a, Bab 6 dan 7).
Maslow (1966) bersikap
kritis terhadap ilmu pengetahuan. Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan
mekanistik klasik, seperti dikemukakan behaviorsme, tidak cocok untuk
mempelajari seluruh pribadi. Ia menganjurkan suatu ilmu pengetahuan humanistik
bukan sebagai alternatif untuk ilmu pengetahuan yang mekanistik, melainkan
sebagai pelengkapnya. Ilmu pengetahuan humanistik semacam itu akan menggeluti
pertanyaan-pertanyaan tentang nilai, individualitas, kesadaran, tujuan, etika,
dan “jangkauan-jangkauan yang lebih tinggidari kodrat manusia”.
Kelihatannay sumbangan
yang khas dari Maslow bagi sei pandangan organismik terletak pada perhatiaannya
terhadap orang-orang yang sehat bukan orang-orang yang sakit, dan pendapatnya bahwa penelitian-penelitian
tentang dua kelompok ini akan mengahsilkan dua macam teori yang berbeda. Baik
Goidstein maupun Angyal, sebagai ahli kedokteran dan psikoterapis, telah banyak
mengahadpi orang-orang yang cacat dan kacau, namunwalaupun contoh ini berat
sebelah, keduanya telah membuat suatu teori yang mencakupi seluruh organisme,
dan yang berlaku baik bagi orang sakit maupun orang yang sehat. Maslow telah
memilih jalan yang lebih langsung dengan meneliti orang-orang sehat yang keseluruhan dan kesatuannya jelas
kelihatan. Sebagai orang-orang yang mengaktualisasikan-diri, Orang-orang yang
telah diamati Maslow ini merupakan Pengejewantahaan dari teori organismik.
Sumber:
Calvin s. Hall & Gardner
Lindzey. (1993). Psikologi Kepribadian 2, Teori-teori Holistik
(Organismik-Fenomenologis). Yogyakarta: Penerbit Kanisius
IV.
ERICH FROMM ( CIRI-CIRI
KEPRIBADIAN SEHAT )
Fromm lahir pada
tanggal 23 Maret, 1900, di Frankurt, Jerman. Ia merupakan anak tunggal dari
orang tua Yahudi Ortodoks kelas menengah. Ayahnya, Nafhtali Fromm, adalah anak
seorang rabi dan cucu dari dua orang rabi. Ibunya,Rosa Krause Fromm, adalah
keponakan Ludwig Krause, seorang ahli Talmud yang terpandang. Semasa
kanak-kanak, Erich mempelajari Kesaksian Lama dengan beberapa ahli ternama,
orang-orang yang dianggap sebagai “humanis dengan toleransi luar biasa” (Landis
& Tauber, 1971, hlm, xi). Psikologi humanistis Fromm dapat dilacak melalui
ayat-ayat ini, “dengan pandangan mereka akan perdamaian alam semesta dan
harmoni serta ajaran mereka bahwa adanya aspek-aspek etis dalam sejarah─bahwa
bangsa-bangsa dapat berbuat benar dan salah, dan bahwa sejarah memiliki
moralnya sendiri” hlm. X).
Masa
kecil Fromm jauh dari kehidupan ideal. Ia ingat bahwa ia memiliki “orang tua
neurotik” dan bahwa ia “kemungkinan seorang anak neurotik yang agak di luar
batas” (Evans, 1966, hlm, 56). Ia melihat ayahnya dalam keadaan gusar dan
ibunya yan rentan akan depresi. Kemudian, ia tumbuh di dua dunia yang sangat
berbeda, salah satunya adalah dunia Yahudi Ortodoks, yang lainnya adalah dunia
kapitalis Modern. Eksistensi terpisah itu menciptakan ketegangan yang hampir
tak tertahankan lagi, namun mengakibatkan Fromm memiliki kecenderungan untuk
melihat peristiwa lebih dari satu sudut pandang (Fromm, 1986; Hausdorff, 1972).
Pembukaan
bab ini menceritakan peristiwa mengejutkan dan membingungkan tentang seorang
seniman wanita muda yang menarik yang bunuh diri sehingga ia dapat dikubur
bersama ayahnya, yang baru saja meninggal dunia. Bagaimana mungkin wanita muda
ini memilih kematian daripada “menikmati kehidupan dan melukis”? (Fromm, 1962,
hlm, 4). Pertanyaan ini menghantui Fromm selama sepuluh tahun beriKutnya dan
akhirnya membuat tertarik akan Sigmund Freud serta Psikoanalisis. Dengan
membaca Freud, ia mulai mempelajari Oedipus
Complex dan mengerti bahwa peristiwa bunuh diri tersebut mungkin saja
terjadi. Kemudian, Fromm mengartikan ketergantungan irasional akan ayahnya
tersebut sebagai hubungan simbiosis nonproduktif, namun pada awalnya ia puas
dengan penjelasan Freud.
Fromm
berusia empat belas tahun pada saat pecahnya Perang Dunia I. Ia terlalu muda
untuk ikut berjuang, namun tidak terlalu muda untuk terkesan pada irasionalitas
nasionalisme bangsa jerman yang ia amati langsung. Ia yakin Inggris dan Prancis
juga bertindak irasional dan sekali lagi ia dilanda oleh pertanyaan yang pelik:
Bagaimana mungkn orang-orang yang biasanya berlaku rasional dan damai menjadi
sangat tergerak oleh ideologi nasional, sangat berniat untuk membunuh, dan
sangat siap untuk mati? “Ketika perang berakhir pada tahun 1918, saya adlah
seoarang anak muda yang sangat terganggu dan terobsesi dengan pertanyaan
bagaimana mungkin terjadi perang, dengan keinginan untuk mengerti irasionalitas
tingkah laku manusia secara massal, dengan keinginan mendalam akan perdamaian
dan saling pengertian dalam dunia Internasional” (Fromm, 1962, hlm, 9).
Semasa
remaja, Fromm sangat tergerak oleh tulisan Freud dan Karl Marx, namun ia juga
terstimulasi oleh perbedaan di antara keduanya. Semakin ia mempelajarinya, ia
mulai mempertanyakan validitas kedua sistem tertsebut. “Ketertarikan utama saya
jelas terencana secara terperinci. Saya ingin mengerti hukum yang mengatur
kehidupan manusia individu dan hukum masyarakat” (Fromm, 1962, hlm, 9).
Setelah
perang Fromm, menjadi seoarang sosialis, walaupun pada saat itu ia tidak mau
bergabung dengan partai sosialis. Melainkan, ia berkonsentrasi pada sekolahnya
di bidang psikologi, filosofi, dan sosiologi di Universitas Heidelberg di mana
ia menerima gelar Ph.D. dalam ilmu
sosiologi saat berusia 22 atau 25 tahun. [Fromm adalah orang yang sangat
tertutup sehingga penulis biografinya tisak dapat mencocokkan banyak fakta
dalam hidupnya (Hornstein, 2000).]
Oleh
karena ia masih belum percaya diri bahwa pendidikannya dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang begitu mengganggu, seperti kasus bunuh diri wanita
muda dan kegilaan perang, maka Fromm beralih ke psikoanalis. Ia percaya bahwa
psikoanalis menjanjikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaannya tentang motivasi
manusia yang tak terjawab di bidang-bidang lain. Dari tahun 1925 sampai 1930,
ia mempelajari psikoanalisis, pertama di Munich lalu di Farnkurt dan akhirnya
di Berlin Psychoanalytic Institute, di mana ai dianalisis oleh Hanns Sachs,
seorang murid Freud. Walaupun Fromm tidak pernah bertemu Freud, sebagian besar
gurunya selama bertahun-tahun tersebut adalah pendukung setia teori Freud
(Knapp, 1989).
Pada
tahun 1926, tahun yang sama di mana ia keluar dari agama Yahudi Ortodoks, Fromm
menikahi Frieda Reichmann (analisanya) yang berusia lebih tua sepuluh tahun
darinya. Di kemudian hari, Reichmann memperoleh reputasi internasional untuk
hasil kerjanya dengan pasie-pasien skizoprenia. G. P. Knapp (1989) menyatakan
bahwa Reichmann jelas figur seorang ibu bagi Fromm dan bahkan secara fisik pun
mirip dengan ibunya. Gail Hornstein (2000) menambahkan bahwa Fromm tampak
langsung beralih menjadi kesayangan ibunya ke hubungan-hubungan dengan beberapa
wanita lebih tua yang menyayanginya. Bagaimanapun, pernikahan Fromm dan
istrinya bukan pernikahan yang bahagia. Mereka berpisah pada tahu 1930, namun
tidak langsung bercerai sampai tidak lama kemudian, setelah keduanya berhijrah
ke Amerika Serikat.
Pada
tahun 1930, Fromm dan beberapa orang lainnya mendirikan South German Institute
For Psychoanalytic di Frankurt. Akan tetapi, dengan ancaman Nazi yang semakin
kuat, ia segera pindah ke Swiss di mana ia bergabung dengan International
Institute of Social Research di Jenewa. Pada tahun 1933, ia menerima undangan
untuk mengajar kuliah di Chicago Psychoanalytic Institute. Pada tahun
berikutnya, ia hijrah ke Amerika Serikat dan membuka parktik pribadi di kota
New York.
Di
Chicago dan New York, Fromm berteman dengan Karen Horney, yang ia kenal di
Berlin Psychoanalytic Institute. Horney yang berusia lebih tua lima belas tahun
dari Fromm, akhirnya menjadi figur ibu yang kuat dan guru baginya (Knapp,
1989). Pada tahun 1941, Fromm bergabung dengan Asosiasi untuk Perkembangan
Psikoanalisis (Association for Advancement of Psychoanalisis-AAP). Walaupun ia
dan Horney pernah menjadi sepasang kekasih, mereka menjadi lawan ketika terjadi
perpecahan dalam asosiasi pada tahun 1943. Ketika para mahasiswa meminta Fromm,
yang tidak bergelar MD, untuk mengajar mata kuliah klinis, organisasi terpecah
ketika memutuskan kualifikasinya.
Dengan
Horney di sisi lawan, Fromm bersama Harry Stack Sullivan, Clara Tompson, dan beberapa anggota lainnya berhenti dari
asosiasi dan segera berencana untuk memulai organisasi alternatif (Quinn,
1987). Pada tahun 1946, kelompok orang-orang ini mendirikan William Alanson
White Institute of Psychiatry, Psychoanalysis, and Psychology dengan Fromm
sebagai dekan fakultas dan ketua komite pelatihan.
Pada
tahun 1944, Fromm menikahi Henny Gurland, seorang wanita yang dua tahun lebih
muda darinya dan memiliki minat terhadap agama dan pikiran mistis yang kemudian
pindah mendorong hasrat Fromm akan Budhisme Zen lebih jauh. Pada tahun 1951,
pasangan ini pindah ke Meksiko, untuk iklim yang lebih bersahabat, demi Gurland
yang menderita radang sendi (rheumatoid
arthtritis). Fromm kemudian bekerja di National Autonomous University,
Mexico City di mana ia mendirikan departemen psikoanalisis di sekolah
kedokteran. Setelah istrinya meninggal pada tahun 1952, ia terus tinggal di
Meksiko dan pulang pergi antar rumahnya di Cuernavaca dan Amerika Serikat, di
mana ia memegang berbagai posisi akademis, termasuk Profesor psikologi di
Michigan State University dari tahun 1957 sampai 1961 dan Profesor pembantu di
New York University dari tahun 1962 sampai 1970. Di Meksiko dia bertemu Annis
Freeman yang ia nikahi pada tahun 1953. Pada tahun 1968, Fromm menderita
serangan jantung akut dan terpaksa mengurangi kesibukkannya. Di tahun 1974,
dalam keadaan masih sakit, ia dan istrinya pindah ke Muralto, Swiss di mana ia
meninggal dunia pada tanggal 18 Maret 1980, beberapa hari setelah ulang
tahunnya yang ke 80.
Dalam teori Fromm, kepribadian
tercermin pada orientasi karakter seseorang, yaitu cara relatif manusia yang
permansn untuk berhubungan dengan orang atau hal lain. Formm (1947)
mendefinisikan kepribadian sebagai “keseluruhan kualitas psikis yang warisi dan
di peroleh yang merupakan karakteristikindividu dan menjadikannya individu yang
unik”. Kualitas yang diperoleh dan yang terpenting bagi kepribadian adalah
karakter, yang didefinisikan sebagai ”sistem yang relatif permanen dari semua
dorongan nonistingtif di mana melalui manusia menghubungkan dirinya dengan
dunia manusia dan alam” (Fromm,1973, hlm.226). Fromm (1992) percaya bahwa
karakter adalah pengganti kurangnya insting. Bukannya bertindak sesuai insting,
manusia malah bertindak menurut karakter mereka. Apabila mereka harus berhenti
dan memikirkan akibat dari perilaku mereka, maka tindakan mereka akan menjadi
tidak efisien dan tidak konsisten.
Sumber:
Jess Feist, Gregory J. Feist.
(2011). Teori Kepribadian, Edisi 7, Buku 1. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika
Tulisan 2
PENGERTIAN STRESS
I. ARTI PENTING STRESS
Terjadinya stres
tergantung pada stresor dan tanggapan seseorang terhadap stresor tersebut.
Stresor meliputi berbagai hal. Lingkungan fisik bisa menjadi sumber stresor,
seperti suhu yang terlalu panas atau dingin, perubahan cuaca, cahaya yang
terlalu terang/ gelap, suara yang terlalu bising dan polusi merupakan
sumber-sumber potensial yang bisa menjadi stresor. Kepadatan juga bisa
mengakibatkan stres. Penduduk yang tinggal di kampung-kampung yang kumuh yang
biasanya harus membagi ruang geraknya dengan banyak orang lain,cenderung lebih
mudah meledak dibanding dengan penduduk yang tinggal di area yang kurang padat.
Stresor bisa berasal
dari individu sendiri. Konflik yang berhubungan dengan peran dan tuntutan
tanggung jawab yang dirasakan berat bisa membuat seseorang menjadi tegang.
Stresor yang lain berasal dari kelompok seperti : hubungan dengan teman, hubungan dengan
atasan, dan hubungan dengan bawahan. Terakhir, stresor bisa bersumber dari
keorganisasian seperti kebijakan yang diambil perusahaan, struktur organisasi
yang tidak sesuai, dan partisipasi para anggota yang rendah.
Selain itu tanggapan
individu turut memengaruhi apakah suatu sumber stres/stresor itu menjadi stres
atau tidak. Stresor yang sama bisa berakibat berbeda pada individu yang berbeda
karena adanya perbedaan tanggapan antar individu (individual differences).
Perbedaan individu meliputi tingkat usia, jenis kelamin, pendidikan, kesehatan
fisik, kepribadian, harga diri, toleransi terhadap kedwiartian, dan
lain-lain.Usia berhubungan dengan toleransi seseorang terhadap stres dan jenis
stresor yang paling mengganggu. Usia dewasa biasanya lebih mampu mengontrol
stres dibanding dengan usia anak-anak dan usia lanjut. Dengan kata lain, orang
dewasa biasanya mempunyai toleransi terhadap stresor yang lebih baik.
Wanita biasanya
mempunyai daya tahan yang lebih baik terhadap stresor dibanding dengan prig.
Secara biologis tubuh wanita lebih lentur dibanding prig sehingga toleransinya
terhadap stres lebih baik. Terlebih bila wanita tersebut masih pada usia-usia
produktif di mana hormon¬hormon masih bekeda normal.Tingkat pendidikan juga
memengaruhi seseorang mudah terkena stres atau tidak. Semakin tinggi tingkat
pendidikan seseorang, toleransi dan pengontrolan terhadap stresor biasanya
lebih baik.Tingkat kesehatan seseorang juga memengaruhi mudah tidaknya terkena
stres. Orang yang sakit lebih mudah menderita akibat stres dibanding orang yang
sehat.
Faktor kepribadian
menentukan mudah tidaknya seseorang terkena stres. Orang tipe A cenderung akan
lebih mudah terkena penyakit jantung daripada kepribadian tipe B. Harga diri
yang rendah juga cenderung membuat efek stres lebih besar dibanding orang yang
mempunyai harga diri tinggi.Toleransi terhadap sesuatu yang bersifat Samar juga
uga menentukan mudah tidaknya seseorang terkena stres. Orang yang kaku dan
memandang segala sesuatu sebagai hitam dan putih biasanya lebih mudah terkena
stres dari pada orang yang bisa menerima adanya warna abu-abu dalam kdildupan.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental
Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
I.A. Efek-efek Stress Sindrom Adaptasi Umum
(General Adaptation Syndrom)
Teori Sindrom Adaptasi
Umum ini dikenalkan oleh Hans Selye. Meskipun teorinya bersifat umum, tapi
teori ini cukup membantu untuk memahami reaksi individu terhadap stres. Selye
berpendapat bahwa tubuh bereaksi secara sama ketika menghadapi stres, tidak
peduli apapun jenis stresornya. Jadi dengan kata lain reaksi pertahanan
fisiologis yang dilakukan oleh tubuh ketika menghadapi stresor merupakan
pola-pola reaksi yang universal/sama pada setiap orang. Reaksi pertahanan
fisiologis ini bertujuan untuk melindungi organisme dan menjaga integritasnya
supaya organisme tersebut tetap survive. Asumsi kedua yang dikemukakannya, bila
stres berlangsung dalam jangka waktu yang lama sehingga reaksi pertahanan
fisiologis juga berangsung dalam waktu yang lama dan bahkan mengalami
peningkatan, maka ini akan mengakibatkan terjadinya "penyakit
adaptasi", yaitu penyakit/ gangguan yang terjadi sebagai akibat/ harga
dari adaptasi yang dilakukan terhadap stres yang berkepanjangan tersebut.
Selanjutnya dijelaskan
bahwa tubuh memiliki tingkat resistensi normal, yaitu tingkat resistensi ketika
tubuh dalam kondisi biasa (tidak menghadapi stres). Pada saat menghadapi stres,
tingkat resistensi ini mengalami perubahan dengan tujuan agar mampu beradaptasi
dengan stress yang dialami. Reaksi tubuh terhadap stres bisa dibagi menjadi
tiga fase. Fase pertama adalah fase ketika tubuh memberikan reaksi mula-mula
ketika terkena stres. Pada tahap awal terjadinya stres ini tubuh mengalami
perubahan-perubahan fisiologis sehingga tingkat resistensinya dibawah bawah
tingkat normal. Akibatnya individu merasakan gejala-gejala seperti degup
jantung yang semakin cepat, Papas yang memburu, keringat dingin, dan
sebagainya. Tahap awal ini disebut sebagai fase alarm, fase peringatan bahwa
ada stres yang perlu ditangani. Pada tahap ini bila stresomya terlalu kuat (seperti
kebakaran berat atau suhu yang terlalu ekstrim, sehingga banyak simpul-simpul
saraf receptor yang bereaksi, meskipun kerusakan yang dialami tidak parah)
individunya bisa mengalami kematian. Ini disebabkan karena tingkat resistensi
individu tersebut memang sedang menurun.
Bila stres berlangsung
terus menerus karena stresornya tetap eksis, maka tingkat resistensi tubuh akan
mengalami peningkatan di atas tingkat yang normal dengan tujuan untuk melakukan
adaptasi terhadap stresor tersebut sehingga individunya bisa berfungsi dengan
optimal. Pada tahap ini tanda-tanda ketubuhan (alarm) pada tubuh menghilang
karena individunya sudah berhasil melakukan "adaptasi" terhadap
stresor. Fase ini disebut fase resistensi. Orang sudah merasa normal kembali
meskipun stresnya sebenarya masih ada, namun energi yang dikeluarkan lebih
tinggi dari biasanya sehingga tubuh sebenarnya bekerja lebih keras.
Bila stres masih terus
berlanjut sehingga tubuh masih terus diminta untuk menyesuaikan diri dengan
stresornya, maka pada satu titik tertentu energi yang digunakan tubuh untuk
penyesuaian tersebut akan mulai habis. Pada saat ini tingkat resistensi tubuh
akhirnya mau tidak mau akan menurun sampai di bawah normal kembali. Fase ini
disebut sebagai fase kelelahan. Pada saat ini tanda-tanda ketubuhan seperti
pada fase alarm mulai muncul kembali, tetapi karena energi yang digunakan sudah
habis, tubuh tidak dapat lagi melakukan adaptasi. Berbagai macam gangguan baik
secara fisik maupun psikologis terjadi, menurut teori ini pada dasarnya karena
individu yang mengalaminya sudah sampai pada fase ketika ini. Bila stresnya
masih terus berlangsung, maka gangguan akan semakin parah dan pada akhimya
individu yang bersangkutan akan mengalami kematian.
Perlu diperhatikan,
bahwa stresor tidak harus berupa situasi atau sesuatu yang nyata/ril. Stresor
juga bisa teriadi secara subjektif berupa pikiran-pikiran/imajinasi-imajinasi.
Misalnya, orang yang membayangkan dia akan dimarahi oleh atasannya, sudah
mengalami stres, meskipun kejadian aktualnya tidak/belum ada.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental
Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
II. TIPE-TIPE STRESS
Frustrasi terjadi bila
antara harapan yang diinginkan dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai. Putus
pacar, perceraian, masalah yang tidak kunjung selesai adalah contoh lain
peristiwa yang bisa memunculkan Frustrasi.
Frustrasi juga terjadi
bila tujuan yang ingin dicapai mendapatkan rintangan (Atkinson, dkk., 1991).
Anda ingin cepat tidur karena badan terasa sangat capai setelah seharian
kendaraan Anda mogok sehingga Anda harus membawanya ke bengkel dan rencana yang
sudah disusun menjadi berantakan. Setiba di rumah ternyata kondisi rumah tidak
seperti yang Anda bayangkan. Anak-anak yang masih kecil mengajak Anda untuk bermain.
Ketika Anda melihat istri, istri juga tampaknya sudah bosan bermain dengan anak
karena sepanjang hari dia sudah menjagai mereka. Anda mengatakan ingin
istirahat, namun. anak-anak yang masih kecil tidak peduli, mereka tidak
mengerti kelelahan Anda. Mereka berlari-lari, berteriak-teriak sambil
berkejar-kejaran. Anda yang tadinya menginginkan suasana senang menjadi naik
pitam. Tiba-tiba Anda membentak anak Anda supaya bermain dengan tenang. Rupanya
anak Anda tidak mau mengerti, mereka malah membalas bentakan Anda dengan
semakin keras berteriak-teriak. Anda menjadi semakin marah dan sekarang Anda
menghampiri anak Anda dan kemudian memukul pantatnya. Anda mengalami frustrasi.
Pada contoh terakhir, frustrasi yang Anda alami melahirkan reaksi kemarahan dan
akhimya berbuntut tindakan agresi (memukul anak). Tindakan agresi diambil bila
individu merasa lebih kuat dari lawannya. Sebaliknya bila individu merasa lebih
lemah, maka biasanya tindakan yang diambil ketika terjadi frustrasi adalah
menghindar atau melarikan diri.
Frustrasi memiliki dua
sisi, yang pertama adalah fakta tidak tercapainya harapan yang diinginkan. Sisi
kedua adalah perasaan dan emosi Yang menyertai fakta tersebut. Pada contoh di
atas adalah fakta mendapatkan nilai jelek atau dimarahi oleh bos. Perasaan dan
emosi yang muncul adalah kesal, marah, dan perasaan-perasaan lainnya yang
mungkin muncul. Akibat selanjutnya, bisa memunculkan gejala-gejala ketubuhan
yang disebut sebagai psikosomatis. Mengenai psikosomatis ini akan dibahas pada
uraian tersendiri. penting untuk dipahami bahwa Frustrasi menimbulkan stres
atau tekanan. Bila tidak dikelola dengan baik maka stres atau tekanan akan
berakibat merugikan bagi individu.
III. SYMPTOM REDUCING RESPONSES STRESS
III.A. RESPON TERHADAP STRESS (menyangkut Defense
Mechanism)
Kaitan antara koping
dengan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), ada ahli yang melihat
defense mechanism sebagai salah satu jenis koping (Lazarus, 1976). Ahli lain
melihat antara koping dan mekanisme pertahanan diri sebagai dua hal yang
berbeda (Harber & Runyon, 1984 ).
Lazarus membagi koping menjadi
dua jenis, yaitu:
1. Tindakan
Langsung (Direct Action)
Koping jenis ini
adalah setiap usaha tingkah laku yang dijalankan oleh individu untuk mengatasi
kesakitan atau luka, ancaman atau tantangan dengan cara mengubah hubungan yang
bermasalah dengan lingkungan. Individu menjalankan koping jenis direct action
atau tindakan langsung bila dia melakukan perubahan posisi terhadap masalah
yang dialami.
Ada 4 macam koping jenis tindakan
langsung :
a. Mempersiapkan
diri untuk menghadapi luka
Individu
melakukan langkah aktif dan antisipatif (beraksi) untuk menghilangkan atau
mengurangi bahaya dengan cara menempatkan diri secara langsung pada keadaan
yang mengancam dan melakukan aksi yang sesuai dengan bahaya tersebut. Misalnya,
dalam rangka menghadapi ujian, Tono lalu mempersiapkan diri dengan mulai
belajar sedikit demi sedikit tiap-tiap mata kuliah yang diambilnya, sebulan
sebelum ujian dimulai. Ini dia lakukan supaya prestasinya lebih baik dibanding
dengan semester sebelumnya, karena dia hanya mempersiapkan diri menjelang ujian
saja. Contoh dari koping jenis ini lainnya adalah imunisasi. Imunisasi
merupakan tindakan yang dilakukan oleh orang tua supaya anak mereka menjadi
lebih kebal terhadap kemungkinan mengalami penyakit tertentu.
b. Agresi
Agresi
adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dengan menyerang agen yang dinilai
mengancam atau akan melukai. Agresi dilakukan bila individu merasa/menilai
dirinya lebih kuat/berkuasa terhadap agen yang mengancam tersebut. Misalnya,
tindakan penggusuran yang dilakukan oleh pemerintah Jakarta terhadap penduduk
yang berada di pemukiman kumuh. Tindakan tersebut tergolong ke dalam agresi,
dan tindakan tersebut bisa dilakukan karena pemerintah memiliki kekuasaan yang
lebih besar dibanding dengan penduduk setempat yang digusur.
c. Penghindaran
(Avoidance)
Tindakan
ini terjadi bila agen yang mengancam dinilai lebih berkuasa dan berbahaya
sehingga individu memilih cara menghindari atau melarikan diri situasi yang mengancam
tersebut. Misalnya, penduduk yang melarikan diri dari rumah-rumah mereka karena
takut akan menjadi korban pada daerah-daerah konflik seperti di Aceh.
d. Apati
Jenis
koping ini merupakan pola orang yang putus asa. Apati dilakukan dengan cara individu
yang bersangkutan tidak bergerak dan menerima begitu saja agen yang melukai dan
tidak ada usaha apa-apa untuk melawan ataupun melarikan diri dari situasi yang
mengancam tersebut. Misalnya, pada kerusuhan Mei Orang-orang Cina yang menjadi korban umumnya tutup mulut, tidak melawan dan
berlaku pasrah terhadap kejadian biadab yang menimpa mereka. Pola apati tejadi
bila baik tindakan mempersiapkan diri menghadapi luka, agresi maupun avoidance
sudah tidak memungkinkan lagi dan situasinya terjadi berulang-ulang. Dalam
kasus di atas, orang-orang Cina sering kali dan berulang kali menjadi korban
ketika terjadi kerusuhan sehingga menimbulkan reaksi apati di kalangan mereka.
2. Peredaan
atau Peringanan (Palliation)
Jenis
koping ini mengacu pada mengurangi/ menghilangkan/ menoleransi tekanan-tekanan
ketubuhan/ fisik, motorik atau gambaran afeksi dari tekanan emosi yang
dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. Atau bisa diartikan bahwa bila
individu menggunakan koping jenis ini, posisinya dengan masalah relatif tidak
berubah, yang berubah adalah diri individu, yaitu dengan cara merubah persepsi
atau reaksi emosinya.
Ada 2 macam koping
jenis peredaan/palliation :
a. Diarahkan
psda Gejala (Symptom Directed Modes)
Macam koping ini
digunakan bila gejala-gejala gangguan muncul dari diri individu, kemudian
individu melakukan tindakan dengan cara mengurangi gangguan yang berhubungan
dengan emosi-emosi yang disebabkan oleh tekanan atau ancaman tersebut.
Penggunaan obat-obat terlarang, narkotika, merokok, alkohol merupakan bentuk
koping dengan cara diarahkan pada gejala. Namun tidak selamanya cara ini
bersifat negatif. Melakukan relaksasi, meditasi atau berdoa untuk mengatasi
ketegangan juga tergolong ke dalam symptom
directed modes tetapi bersifat positif.
B .Cara
Intrapsikis (Intrapsychic Modes)
Koping
jenis peredaan dengan cara Intrapsikis adalah cara-cara yang menggunakan
perlengkapan-perlengkapan psikologis kita, yang biasa dikenal dengan istilah Defense Mechanism (Mekanisme Pertahanan
Diri ).
Macam-macam Defense
Mechanism :
1.
Identifikasi
Yaitu
menginternalisasi ciri-ciri yang dimiliki oleh orang lain yang berkuasa dan
dianggap mengancam. Identifikasi biasanya dilakukan oleh anak terhadap orang
tua mereka.
2.
Pengalihan (Displacement)
Yaitu memindahkan
reaksi dari objek yang mengancam ke objek yang lain karena objek yang asli
tidak ada atau berbahaya bila diagresi secara langsung. Misalnya, seorang
bawahan dimarahi oleh atasannya di kantor. Bawahan tersebut kemudian memarahi
istrinya di rumah karena tidak berani membantah atasannya. Istri kemudian
memarahi anaknya. Ini merupakan contoh klasik dari displacement.
3.
Represi
Yaitu menghalangi
impuls-impuls yang ada atau tidak bisa diterima sehingga impuls-impuls tersebut
tidak dapat diekspresikan secara sadar/langsung dalam tingkah laku. Misalnya,
dorongan seksual karena dianggap tabu lalu ditekan begitu saja ke dalam
ketidaksadaran Dorongan tersebut lalu muncul dalam bentuk mimpi.
4.
Denial
Yaitu melakukan
bloking atau menolak terhadap, kenyataan yang ada karena kenyataan yang ada
dirasa mengancam integritas individu yang bersangkutan. Istri yang baru saja
ditinggal mati oleh suaminya secara mendadak, merasa suaminya masih hidup
sehingga tiap sore dia masih membuatkan kopi untuk suaminya seperti biasanya,
ini merupakan contoh dari denial. Fanatisme agama dengan menganggap
agama/kepercayaan lain merupakan sesuatu yang salah, sedangkan
agama/kepercayaan yang dijalani merupakan satu-satunya yang benar merupakan
contoh lain mekanisme denial, karena sebenarnya individu yang fanatik tersebut
merasa terancam dengan adanya keyakinan lain, yang berpotensi mengancam
integritas keyakinannya sendiri.
5.
Reaksi
Formasi
Yaitu dorongan yang
mengancam diekspresikan dalam bentuk tingkah laku secara terbalik. Contoh
klasik dari pertahanan diri jenis ini adalah orang yang sebenarnya mencintai,
namun dalam tingkah laku memunculkan tindakan yang seolah-olah membenci orang
yang dicintai.
6.
Proyeksi
Yaitu
mengatribusikan/menerapkan dorongan - dorongan yang dimiliki pada orang lain
karena dorongan-dorongan tersebut mengancam integritas. Misalnya, A mencintai
B, namun karena cinta yang dirasakan itu mengancam harga dirinya, lalu A
menyatakan bahwa B-lah yang mencintainya.
7.
Rasionalisasi/
Intelektualisasi
Yaitu dua gagasan yang
berbeda dijaga supaya tetap terpisahkan karena bila bersama-sama akan
mengancam. Misalnya semua orang sepakat bahwa kesejahteraan umat manusia hanya
bisa terjadi lewat cara-cara damai, namun tidak sedikit pula orang yang
mengakui hal di atas, mendukung jalan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka.
8.
Sublimasi
yaitu dorongan atau impuls yang
ditransformasikan menjadi bentuk¬bentuk yang diterima secara sosial sehingga
dorongan atau impuls tersebut menjadi sesuatu yang benar-henar berbeda dari
dorongan atau impuls aslinya. Contoh sublimasi adalah orang yang memiliki
dorongan seks yang kuat lalu menggunakan energi tersebut untuk menjadi sumber
dari dorongan religiusnya, sehingga dia mengalami pengalaman mistik dan mampu
bekerja bagi kemanusiaan, karena pada dasarnya religiusitas memiliki
persamaan/kaitan dengan seksualitas yaitu dalam hal pengalaman
penyatuan/peleburan.
Pada
dasamya mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) terjadi tanpa disadari
dan bersifat membohongi diri sendiri terhadap realita yang ada, baik realita
yang ada di luar (fakta/kebenaran) maupun realita yang ada di dalam
(dorongan/impuls/nafsu). Defense mechanism bersifat menyaring realita yang ada
sehingga individu yang bersangkutan tidak bisa memahami hakekat dari
keseluruhan realita yang ada. Ini membuat sebagian besar ahli menyatakan bahwa
koping jenis defense mechanism merupakan koping yang tidak sehat (kecuali
sublimasi). Defense mechanism yang
tidak disadari, akan dapat disadari melalui refleksi diri yang terus menerus
Dengan cara begitu individu bisa mengetahui jenis mekanisme pertahanan diri
yang biasa dilakukan dan kemudian menggantinya dengan koping yang Iebih
konstruktif.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental
Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
III.B. PENDEKATAN PROBLEM SOLVING
(Strategi
koping yang spontan mengatasi stress)
Ada
berbagai cara untuk mengatasi stres. Kalau akibat stres telah memengaruhi fisik dan bahkan
menimbulkan penyakit tertentu, peranan obat/medikasi biasanya diperlukan. Namun
obat itu sendiri kurang efektif untuk mengatasi stres, dalam jangka panjang.
Ada efek negatif bila menggunakan obat terus menerus. Disamping obat-obat
tertentu membutuhkan biaya yang mahal, obat juga bisa mengakibatkan
ketergantungai dan bahkan membuat orang tertentu kebal terhadap obat tertentu.
Beberapa
teknik terapi telah dikembangkan dan dicobakan untuk mengatasi stres ini. Biofeedback adalah salah satu teknik
untuk mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres dan kemudian
belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang cukup
rumit, gunanya sebagai feedback atau umpan balik untuk terhadap, bagian tubuh
tertentu. Biofeedback agak kurang efektif untuk digunakan secara praktis.
Seringkali
istirahat dan melakukan olah raga yang teratur disebut - sebut sebagai salah satu
cara yang efektif untuk mencegah dan menyembuhkan stres. Memang cara hidup yang
teratur membuat seseorang tidak mudah
terkena stres.
Relaksasi
adalah teknik yang paling efektif untuk menyembuhkan stres. Ada berbagai teknik
relaksasi, tetapi yang biasa digunakan adalah teknik relaksasi dengan
mengendurkan otot-otot seluruh tubuh, kemudian pengendoran dilakukan pada
bagian-bagian tubuh yang sering mengalami stres. Semakin lama berlatih teknik
relaksasi, orang akan semakin peka dan semakin spontan untuk dapat merasakan
bagian tubuh yang mana yang terkena stres dan semakin mudah untuk mengembalikan
pada keadaan semula.
Meditasi
merupakan teknik yang mulai diminati sebagai salah satu cara mengatasi stres.
Selain bisa mencegah stres, meditasi juga memiliki keuntungan lain seperti
konsentrasi menjadi lebih tajam dan pikiran menjadi lebih tenang.
Pencegahan
terhadap stres bisa dilakukan dengan mengubah sikap hidup. Orang yang terlibat
lebih aktif dengan pekerjaan dan kehidupan masyarakat, lebih berorientasi pada
tantangan dan perubahan, dan merasa dapat menguasai kejadian-kejadian dalam
hidupnya adalah orang yang tidak akan mudah terkena efek negatif stres
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental
Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
Tulisan 3
KOPING (COPING) STRESS
I. PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS KOPING
Koping
termasuk konsep sentral dalam memahami kesehatan mental. Koping berasal dari
kata coping yang bermakna harafiah pengatasan/ penanggulangan (to cope with =
mengatasi, menanggulangi). Namun karena istilah coping merupakan istilah yang
sudah jamak dalam psikologi serta memiliki makna yang kaya, maka penggunaan
istilah tersebut dipertahankan dan langsung diserap ke dalam bahasa Indonesia
untuk membantu memahami bahwa coping (koping) tidak sesederhana makna
harafiahnya saja. Koping Bering disamakan dengan adjustment (penyesuaian diri).
Koping juga sering dimaknai sebagai cara untuk memecahkan masalah (problem
solving). Pengertian koping memang dekat dengan kedua istilah di atas, namun
sebenarnya agak berbeda. Pemahaman adjustment biasanya merujuk pada penyesuaian
diri menghadapi kehidupan sehari-hari. Pemecahan masalah lebih mengarah pada
proses kognitif dan persoalan yang juga bersifat kognitif. Koping itu sendiri
dimaknai sebagai apa yang dilakukan oleh individu untuk menguasai situasi yang
dinilai sebagai suatu tantangan/ luka/ kehilangan/ ancaman. Jadi koping lebih
mengarah pada yang orang lakukan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan yang penuh
tekanan atau yang membangkitkan emosi. Atau dengan kata lain, koping adalah
bagaimana reaksi orang ketika menghadapi stres/tekanan.
Kaitan
antara koping dengan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), ada ahli
yang melihat defense mechanism sebagai salah satu jenis koping (Lazarus, 1976).
Ahli lain melihat antara koping dan mekanisme pertahanan diri sebagai dua hal
yang berbeda (Harber & Runyon, 1984 ).
Lazarus membagi koping
menjadi dua jenis, yaitu:
1. Tindakan
Langsung (Direct Action)
Koping
jenis ini adalah setiap usaha tingkah laku yang dijalankan oleh individu untuk
mengatasi kesakitan atau luka, ancaman atau tantangan dengan cara mengubah
hubungan yang bermasalah dengan lingkungan. Individu menjalankan koping jenis
direct action atau tindakan langsung bila dia melakukan perubahan posisi terhadap
masalah yang dialami.
Ada 4 macam koping
jenis tindakan langsung :
a. Mempersiapkan
diri untuk menghadapi luka
Individu
melakukan langkah aktif dan antisipatif (beraksi) untuk menghilangkan atau
mengurangi bahaya dengan cara menempatkan diri secara langsung pada keadaan
yang mengancam dan melakukan aksi yang sesuai dengan bahaya tersebut. Misalnya,
dalam rangka menghadapi ujian, Tono lalu mempersiapkan diri dengan mulai
belajar sedikit demi sedikit tiap-tiap mata kuliah yang diambilnya, sebulan
sebelum ujian dimulai. Ini dia lakukan supaya prestasinya lebih baik dibanding
dengan semester sebelumnya, karena dia hanya mempersiapkan diri menjelang ujian
saja. Contoh dari koping jenis ini lainnya adalah imunisasi. Imunisasi
merupakan tindakan yang dilakukan oleh orang tua supaya anak mereka menjadi
lebih kebal terhadap kemungkinan mengalami penyakit tertentu.
b. Agresi
Agresi
adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dengan menyerang agen yang dinilai
mengancam atau akan melukai. Agresi dilakukan bila individu merasa/menilai
dirinya lebih kuat/berkuasa terhadap agen yang mengancam tersebut. Misalnya,
tindakan penggusuran yang dilakukan oleh pemerintah Jakarta terhadap penduduk
yang berada di pemukiman kumuh. Tindakan tersebut tergolong ke dalam agresi, dan
tindakan tersebut bisa dilakukan karena pemerintah memiliki kekuasaan yang
lebih besar dibanding dengan penduduk setempat yang digusur.
c. Penghindaran
(Avoidance)
Tindakan
ini terjadi bila agen yang mengancam dinilai lebih berkuasa dan berbahaya
sehingga individu memilih cara menghindari atau melarikan diri situasi yang
mengancam tersebut. Misalnya, penduduk yang melarikan diri dari rumah-rumah
mereka karena takut akan menjadi korban pada daerah-daerah konflik seperti di
Aceh.
d. Apati
Jenis
koping ini merupakan pola orang yang putus asa. Apati dilakukan dengan cara
individu yang bersangkutan tidak bergerak dan menerima begitu saja agen yang
melukai dan tidak ada usaha apa-apa untuk melawan ataupun melarikan diri dari
situasi yang mengancam tersebut. Misalnya, pada kerusuhan Mei Orang-orang Cina
yang menjadi korban umumnya tutup mulut,
tidak melawan dan berlaku pasrah terhadap kejadian biadab yang menimpa mereka.
Pola apati tejadi bila baik tindakan mempersiapkan diri menghadapi luka, agresi
maupun avoidance sudah tidak memungkinkan lagi dan situasinya terjadi
berulang-ulang. Dalam kasus di atas, orang-orang Cina sering kali dan berulang
kali menjadi korban ketika terjadi kerusuhan sehingga menimbulkan reaksi apati
di kalangan mereka.
2. Peredaan
atau Peringanan (Palliation)
Jenis
koping ini mengacu pada mengurangi/ menghilangkan/ menoleransi tekanan-tekanan
ketubuhan/ fisik, motorik atau gambaran afeksi dari tekanan emosi yang
dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. Atau bisa diartikan bahwa bila
individu menggunakan koping jenis ini, posisinya dengan masalah relatif tidak
berubah, yang berubah adalah diri individu, yaitu dengan cara merubah persepsi
atau reaksi emosinya.
Ada 2 macam koping
jenis peredaan/palliation :
a. Diarahkan
pada
Gejala (Symptom Directed Modes)
Macam
koping ini digunakan bila gejala-gejala gangguan muncul dari diri individu,
kemudian individu melakukan tindakan dengan cara mengurangi gangguan yang
berhubungan dengan emosi-emosi yang disebabkan oleh tekanan atau ancaman tersebut.
Penggunaan obat-obat terlarang, narkotika, merokok, alkohol merupakan bentuk
koping dengan cara diarahkan pada gejala. Namun tidak selamanya cara ini
bersifat negatif. Melakukan relaksasi, meditasi atau berdoa untuk mengatasi
ketegangan juga tergolong ke dalam symptom
directed modes tetapi bersifat positif.
b. Cara
Intrapsikis (Intrapsychic Modes)
Koping
jenis peredaan dengan cara Intrapsikis adalah cara-cara yang menggunakan
perlengkapan-perlengkapan psikologis kita, yang biasa dikenal dengan istilah Defense Mechanism (Mekanisme Pertahanan
Diri ).
Macam-macam Defense
Mechanism :
1. Identifikasi
Yaitu menginternalisasi ciri-ciri
yang dimiliki oleh orang lain yang berkuasa dan dianggap mengancam.
Identifikasi biasanya dilakukan oleh anak terhadap orang tua mereka.
2. Pengalihan (Displacement)
Yaitu memindahkan
reaksi dari objek yang mengancam ke objek yang lain karena objek yang asli
tidak ada atau berbahaya bila diagresi secara langsung. Misalnya, seorang
bawahan dimarahi oleh atasannya di kantor. Bawahan tersebut kemudian memarahi
istrinya di rumah karena tidak berani membantah atasannya. Istri kemudian
memarahi anaknya. Ini merupakan contoh klasik dari displacement.
3. Represi
Yaitu menghalangi
impuls-impuls yang ada atau tidak bisa diterima sehingga impuls-impuls tersebut
tidak dapat diekspresikan secara sadar/langsung dalam tingkah laku. Misalnya,
dorongan seksual karena dianggap tabu lalu ditekan begitu saja ke dalam
ketidaksadaran Dorongan tersebut lalu muncul dalam bentuk mimpi.
4. Denial
Yaitu melakukan
bloking atau menolak terhadap, kenyataan yang ada karena kenyataan yang ada
dirasa mengancam integritas individu yang bersangkutan. Istri yang baru saja
ditinggal mati oleh suaminya secara mendadak, merasa suaminya masih hidup
sehingga tiap sore dia masih membuatkan kopi untuk suaminya seperti biasanya,
ini merupakan contoh dari denial. Fanatisme agama dengan menganggap
agama/kepercayaan lain merupakan sesuatu yang salah, sedangkan
agama/kepercayaan yang dijalani merupakan satu-satunya yang benar merupakan
contoh lain mekanisme denial, karena sebenarnya individu yang fanatik tersebut
merasa terancam dengan adanya keyakinan lain, yang berpotensi mengancam
integritas keyakinannya sendiri.
5. Reaksi Formasi
Yaitu dorongan yang
mengancam diekspresikan dalam bentuk tingkah laku secara terbalik. Contoh
klasik dari pertahanan diri jenis ini adalah orang yang sebenarnya mencintai,
namun dalam tingkah laku memunculkan tindakan yang seolah-olah membenci orang
yang dicintai.
6. Proyeksi
Yaitu mengatribusikan/menerapkan
dorongan - dorongan yang dimiliki pada orang lain karena dorongan-dorongan
tersebut mengancam integritas. Misalnya, A mencintai B, namun karena cinta yang
dirasakan itu mengancam harga dirinya, lalu A menyatakan bahwa B-lah yang
mencintainya.
7. Rasionalisasi/
Intelektualisasi
Yaitu dua gagasan yang
berbeda dijaga supaya tetap terpisahkan karena bila bersama-sama akan
mengancam. Misalnya semua orang sepakat bahwa kesejahteraan umat manusia hanya
bisa terjadi lewat cara-cara damai, namun tidak sedikit pula orang yang
mengakui hal di atas, mendukung jalan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka.
8. Sublimasi
yaitu dorongan atau impuls yang
ditransformasikan menjadi bentuk¬bentuk yang diterima secara sosial sehingga
dorongan atau impuls tersebut menjadi sesuatu yang benar-henar berbeda dari
dorongan atau impuls aslinya. Contoh sublimasi adalah orang yang memiliki
dorongan seks yang kuat lalu menggunakan energi tersebut untuk menjadi sumber
dari dorongan religiusnya, sehingga dia mengalami pengalaman mistik dan mampu
bekerja bagi kemanusiaan, karena pada dasarnya religiusitas memiliki
persamaan/kaitan dengan seksualitas yaitu dalam hal pengalaman
penyatuan/peleburan.
Pada
dasamya mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) terjadi tanpa disadari
dan bersifat membohongi diri sendiri terhadap realita yang ada, baik realita
yang ada di luar (fakta/kebenaran) maupun realita yang ada di dalam
(dorongan/impuls/nafsu). Defense mechanism bersifat menyaring realita yang ada
sehingga individu yang bersangkutan tidak bisa memahami hakekat dari
keseluruhan realita yang ada. Ini membuat sebagian besar ahli menyatakan bahwa
koping jenis defense mechanism merupakan koping yang tidak sehat (kecuali
sublimasi). Defense mechanism yang
tidak disadari, akan dapat disadari melalui refleksi diri yang terus menerus
Dengan cara begitu individu bisa mengetahui jenis mekanisme pertahanan diri
yang biasa dilakukan dan kemudian menggantinya dengan koping yang Iebih
konstruktif.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental
Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
II. JENIS-JENIS KOPING YANG KONSTRUKTIF POSITIF (SEHAT)
Harber & Runyon (1984)
menyebutkan jenis jenis koping yang dianggap konstruktif, yaitu:
1.
Penalaran
(Reasoning)
Yaitu penggunaan
kemampuan kognitif untuk mengeksplorasi berbagai macam altenatif pemecahan
masalah dan kemudian memilih salah satu alternatif yang dianggap paling
menguntungkan. Individu secara sadar mengumpulkan berbagai informasi yang
relevan berkaitan dengan persoalan yang dihadapi, kemudian membuat
alternatif-alternatif pemecahannya, kemudian memilih alternatif yang paling
menguntungkan dimana resiko kerugiannya paling kecil dan keuntungan yang
diperoleh paling besar.
2.
Objektifitas
Yaitu kemampuan untuk
membedakan antara komponen-komponen emosional dan logis dalam pemikiran,
penalaran maupun tingkah laku. Kemampuan ini juga meliputi kemampuan untuk
membedakan antara pikiran-pikiran yang berhubungan dengan persoalan dengan yang
tidak berkaitan. Kemampuan untuk melakukan koping jenis objektifitas
mensyaratkan individu yang bersangkutan memiliki kemampuan untuk mengelola
emosinya sehingga individu mampu memilah dan membuat keputusan yang tidak
semata didasari oleh pengaruh emosi.
3.
Konsentrasi
Yaitu kemampuan untuk
memusatkan perhatian secara penuh pada persoalan yang sedang dihadapi.
Konsentrasi memungkinkan individu untuk terhindar dari pikiran-pikiran yang
mengganggu ketika berusaha untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi.
Pada kenyataanya, justru banyak individu yang tidak mampu berkonsentrasi ketika
menghadapi tekanan. Perhatian mereka malah terpecah-pecah dalam berbagai arus
pemikiran yang justru membuat persoalan menjadi semakin kabur dan tidak
terarah.
4.
Humor
Yaitu kemampuan untuk
melihat segi yang lucu dari persoalan yang sedang dihadapi, sehingga perspektif
persoalan tersebut menjadi lebih lugas, terang dan tidak dirasa sebagai menekan
lagi ketika dihadapi dengan humor. Humor memungkinkan individu yang
bersangkutan untuk memandang persoalan dari sudut manusiawinya, sehingga
persoalan diartikan secara baru, yaitu sebagai persoalan yang biasa, wajar dan
dialami oleh orang lain juga.
5.
Supresi
Yaitu kemampuan untuk
menekan reaksi yang mendadak terhadap situasi yang ada sehingga memberikan
cukup waktu untuk lebih menyadari dan memberikan reaksi yang lebih konstruktif.
Koping supresi juga mengandaikan individu memiliki kemampuan untuk mengelola
emosi sehingga pada saat tekanan muncul, pikiran sadarnya tetap bisa melakukan
kontrol secara baik. Berhitung satu sampai sepuluh ketika mulai merasakan emosi
marah, sehingga kepala menjadi dingin kembali sehingga mampu memikirkan
alternatif tindakan yang lebih baik, merupakan contoh supresi.
6.
Toleransi
terhadap Kedwiartian atau Ambiguitas
Yaitu kemampuan untuk
memahami bahwa banyak hal dalam kehidupan yang bersifat tidak jelas dan oleh
karenanya perlu memberikan ruang bagi ketidakjelasan tersebut. Kemampuan
melakukan toleransi mengandaikan individu sudah memiliki perspektif hidup yang
matang, luas dan memiliki rasa aman yang cukup.
7.
Empati
Yaitu kemampuan untuk melihat
sesuatu dari pandangan orang lain. Empati juga mencakup kemampuan untuk
menghayati dan merasakan apa yang dihayati dan dirasakan oleh orang lain.
Kemampuan empati ini memungkinkan individu mampu memperluas dirinya dan
menghayati perspektif pengalaman orang lain sehingga individu yang bersangkutan
menjadi semakin kaya dalam kehidupan batinnya.
Sumber:
Siswanto.2007. Kesehatan Mental
Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI
PERTEMUAN
III Tanggal 6 Mei 2013
TULISAN
I
PENYESUAIAN
DIRI & PERTUMBUHAN
A.PENGERTIAN
& KONSEP DIRI
Penyesuaian
diri alih bahasa dari adjusmen, yang
dilakukan manusia sepanjang hayat. Karena pada dasarnya manusia ingin
mempertahankan eksistensinya, sejak lahir berusaha memenuhi kebutuhannya yaitu
kebutuhan fisik, psikis dan sosial. Pemenuhan kebutuhan itu karena adanya
dorongan-dorongan yang mengharapkan pemuasan. Bila pemuasan tercapai individu
tersebut memperoleh keseimbangan. Sejak kecil individu belajar bertingkah laku,
tingkah laku yang berhasil dalam memenuhi kebutuhannya berarti dapat
menyesuaikan diri dan mengalami keseimbangan. Sebagaimana dikemukakan Lazarus
(1961), adjustment involves a reaction of
the person to demand imposed upon him. Maka, penyesuaian diri termasuk
reaksi seseorang karena adanya tuntunan yang di bebankan pada dirinya. Demikian
pula pendapat Thorndike dan Hogen yang disitir oleh Mustafa Fahmi (1997)
sebagai berikut: penyesuaian diri merupakan kemampuan individu untuk
mendapatkan ketentraman secara internal dan hubungannya dengan dunia
sekitarnya. Uraian tersebut, bila tak ada reaksi terasa ada beban dan tidak
mendapatkan ketentraman batin. Maka, dapat disimpulkan: penyesuaian diri adalah
kemampuan individu untuk bereaksi karena tuntunan dalam memenuhi dorongan/kebutuhan dan mencapai ketentraman
batin dalam hubungannya dengan sekitar.
I.
Penyesuaian Diri yang Berhasil
Penyesuaian diri yang berhasil
menurut Winarna Surachmad (dalam Siti Sundari, 1986):
1. Bilamana dengan
sempurna memenuhi kebutuhan, tanpa melebihkan yang satu dan yang mengurangi yang lain.
2. Bilamana tidak
mengganggu manusia lain dalam memenuhi kebutuhan yang sejenisnya.
3. Bilamana bertanggung
jawab terhadap masyarakat dimana ia berada (saling menolong secara positif)
Penyesuaian diri sendiri sebagai usaha manusia untuk mencapai
keharmonisan pada dirinya dan lingkungannya. Memenuhi kebutuhanyang tidak
berlebihan tidak merugikan orang lain dan wajib menolong orang lain yang
memerlukan.
II. Macam-Macam
Penyesuaian Diri
1.
Penyesuaian
terhadap keluarga/family adjusment
Keluarga merupakan
masyarakat terkecil. Keharmonisan keluarga terwujud bila seluruh anggota
keluarga mempunyai kesadaran atau kesanggupan memenuhi fungsinya. Tiap anggota
keluarga berusaha mengadakan penyesuaian diri dalam keluarganya antara lain:
a.
Mempunyai
relasi yang sehat dengan segenap anggota keluarga.
b.
Mempunyai
solidaritas dan loyalitas keluarga serta membantu usaha keluarga dalam mencapai
tujuan tertentu.
c.
Mempunyai
kesadaran adanya emansipasi yang gradual serta kemerdekaan dalam taraf
kedewasaan.
d.
Mempunyai
kesadaran adanya otoritas orangtua.
e.
Mempuyai
kesadaran bertanggungjawab menjalankam aturan-aturan larangan secara disiplin.
2.
Penyesuaian
diri terhadap sosial/Social adjusment
Sosial atau masyarakat merupakan
kumpulan individu, keluarga, organisasi dan lain-lainnya. Agar terjadi
keharmonisan dalam masyarakat harus ada kesadaran bermsyarakat.
Penyesuaianterhadapmasyarakat:
a.
Adanya
kesanggupan bereaksi mengadakan relasi secara efektif dan harmonis terhadap
kenyataan sosial.
b.
Ada
kesanggupan bereaksi secara efektif dan harmonis terhadap kenyataan sosial.
c.
Kesanggupan
menghargai dan menjalankan hukum tertulis maupun tidak tertulis.
d.
Kesanggupan
menghargai orang lain mengenai hak-haknya dan pribadinya.
e.
Kesanggupan
untuk bergaul dengan orang lain dalam bentuk persahabatan.
f.
Adanya
simpati terhadap kesejahteraan orang lain. Berupa: memberi pertolongan pada
orang lain, bersikap jujur, cinta kebenaran, rendah hati dan sejenisnya.
3.
Penyesuaian
diri terhadap sekolah/School adjusment
Sekolah merupakan wadah bagi
peserta didik dalam mengembangkan potensinya, terutama perkembangan intelegensi
maupun pribadinya. Maka, sekolah harus menumbuhkan penyesuaian diri yang baik,
bersifat konstruktif, sehingga terwujud:
a.
Disiplin
dalam sekolah terhadap peraturan-peraturan yang ada.
b.
Pengakuan
otoritas guru atau pendidik
c.
Onteres
terhadao mata pelajaran di sekolah
d.
Situasi
dan fasilitas yang cukup, sehingga tujuan sekolah dapat tercapai.
4.
Penyesuaian
diri terhadap perguruan tinggi/College adjusment
Perguruan tinggi merupakan tempat
pendidikan tertinggi, untuk mencapai gelar, tempat yang menyenangkan penuh
kenangan. Namun bagi sementara mahasiswa merupakan tempat yang diliputi
keraguan, kecemasan bahkan kegagalan. Penyesuaian diri diperguruan tinggi
hampir sama di sekolah, tetapi harus ditambah dengan:
a.
Pembangunan
kepribadian yang seimbang yaitu dapat memenuhi tuntutan ilmiah, jasmani, dan
rohani yang sehat serta tanggung jawab sosial yang masak.
b.
Dapat
belajar menyesuaikan diri di tempat kelak bekerja
c.
Siap
menghadapi persaingan, ulet dalam menghadapi segala persoalan.
5.
Penyesuaian
diri terhadap jabatan/Vocation adjusment
Secara ideal jabatan pekerjaan menunjukkan latar belakang
studi seseorang, serta menggambarkan status sosial, status ekonominya. Pemegang
jabatan/pekerja seharusnya mempunyai kriteria sebagai berikut:
a.
Sudah
masak dalam memegang jabatan.
b.
Senang
dan mencintai jabatan atau pekerjaannya.
c.
Bercita-cita
atau berusaha mencapai kemajuan setingkat demi setingkat.
6.
Penyesuaian
diri terhadap perkawinan/Marriage adjusment
Dalam zaman modern, perkawinan
bukan suatu way of life yang harus
ditempuh. Kehidupan pria dan wanita secara membujang banyak terjadi. Mereka
dapat menikmati kehidupan dan ikut serta berfungsi di masyarakat. Bagi
gorang-orang yang melayarkan bahtera perkawinan, harus melakukan penyesuaian
dalam perkawinan. Menurut Arkoff (1968), perkawinan yang baik bersifat
permanen/permanence dan bersifat
kebahagiaan/happiness.
Perkawinan diakhiri dengan
kematian, perceraian (sama-sama masih hidup) merupakan hal yang tidak sopan.
Sepanjang perjalanan hidup selalu berusaha melakukan penyesuaian diri.
Penyesuaian ini ialah:
a.
Harus
ada kesadaran terhadap hakikat perkawinan
b.
Harus
ada kesediaan untuk menjaga kelangsungan perkawinan. Saling mengerti, saling
memberi dan menerima (to take and to give).
Arkoff disitir Siti Sundari (1986).
III. Proses
Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri yang sempurna,
sulit diwujudkan karena banyak faktor yang mempengaruhi sehingga seluruh
kebutuhan tidakdapat terealisasi. Penyesuaian diri merupakan proses yang
terjadi sepanjang kehidupan (lifelong
process). Manusia harus berusaha menemukan dan mengatasi rintangan, tekanan
dan tantangan untuk mencapai pribadi yang seimbang. Respons penyesuaian diri
selain berupa hal yang baik juga ada yang buruk. Respons baik atau buruk untuk
memelihara keseimbangan secara wajar. Individu berusaha menjauhi ketegangan.
Penyesuaian diri sebagai suatu proses ke arah hubungan yang harmonis antara
tunututan internal dan eksternal. Contoh bayi membutuhkan asi dan kasih sayang.
Karena tak terpenuhi, bayi berusaha mencari pemenuhan kebutuhan yang tidak
wajar untuk pengganti respon yaitu mengisap ibu jari.
a. Penyesuaian
Diri yang Positif
Dalam kehidupan
sehari-hari manusia selalu melakukan penyesuaian diri agar tercapai
keseimbangan. Berhubung kebutuhan menusia sangat banyak dan terjadi dalam
berbagai bidang. Wajarlah bila tidak semua penyesuaian berhasil secara positif.
Penyesuaian yang positif:
1.
Tidak
adanya ketegangan emosi, bila individu menghadapi problema, emosinya tetap
tenang, tidak panik, sehingga dalam memecahkan problem dengan menggunakan rasio
dan emosinya terkendali.
2.
Dalam
memecahkan masalah tidak menggunakan mekanisme psikologis baik defence mekanisme maupun escape mekanisme, melainkan berdasarkan
pertimbangan rasional, mengarah dari masalah yang dihadapi secara langsung
dengan segala akibatnya.
3.
Salam
memecahkan masalah bersikap realistis dan objektif. Bila seseorang menghadapi
secara apa adanya, tidak ditunda-tunda. Apapun yang terjadi dihadapi secara
wajar, tidak menjadi frustasi, konflik maupun kecemasan.
4.
Mampu
belajar ilmu pengetahuan yang mendukun apa yang dihadapi sehingga dengan
pengetahuan itu dapat digunakan menanggulangi timbulnya problema.
5.
Dalam
menghadapi problem butuh kesanggupan membandingkan pengalaman diri sendiri
maupun pengalaman orang lain. Pengalaman-pengalaman itu tidak sedikit
sumbangannya dalam pemecahan problem.
b. Penyesuaian
Diri yang Negatif
Penyesuaian diri yang negatif adalah
penyesuaian yang menyimpang dari realita:
1.
Yang
bersangkutan tidak dapat mengendalikan emosinya. Bila menghadapi problem
menjadi panik, sehingga tindakannya tidak sesuai dengan kenyataan.
2.
Menggunakan
pertahanan diri yang berlebihan, karena keyataan. Karena yang bersangkutan
mengalami kegagalan dalam penyasuaian diri memungkinkan mengalami frustasi,
konflik maupun kecemasan atau kegincangan lain.
Sumber:
Siti Sundari, HS.
2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta
B.
PENGERTIAN PERTUMBUHAN PERSONAL, MELIPUTI:
1. PENEKANAN
PERTUMBUHAN DIRI
Manusia
merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila
tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan
bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah
seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam
lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap
dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak serta
merta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit
dan melalui proses yang panjang.
Setiap
individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal
tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang
mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor
utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan
karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama
dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang
mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal
individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat
atau sosialpun terdapat norma-norma yang harus dipatuhi dan hal itu juga
mempengaruhi pertumbuhan individu.
Setiap
individu memiliki naluri yang secara tidak langsung individu dapat
memperhatikan hal-hal yang berada disekitarnya apakah hal itu benar atau
tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam masyarakat yang memiliki
suatu norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan
akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada
di lingkungan masyarakat yang tidak disiplin yang dalam menerapkan
aturan-aturannya maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian
sehingga menjadi kepribadian yang tidak disiplin, begitupun dalam lingkungan
keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang cuek maka
individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang cuek.
2.VARIASI
DALAM PERTUMBUHAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan dan pertumbuhan individu:
C.
Faktor genetik
5.
Faktor
keturunan — masa konsepsi
6.
Bersifat
tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan
7.
Menentukan
beberapa karakteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata,
pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti
temperamen.
8.
Potensi
genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara
positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
D.
Faktor eksternal / lingkungan
3.
Mempengaruhi
individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat
menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.
4.
Faktor
eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan,
sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.
Dari semua faktor-faktor di atas dan pengaruh
dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan
pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah
individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.
3. KONDISI-KONDISI
UNTUK BERTUMBUH
Victor
Frankl dalam buku “Psikologi Pertumbuhan: Kepribadian Sehat untuk Mengembangkan
Optimisme” karangan MIF Baihaqi menerangkan Kodrat Eksistensi Manusia yang
Sehat. Salah satu konsep utama Frankl adalah hati nurani. Menurutnya, hati nurani adalah semacam spiritualitas
alam bawah sadar, yang dikatakan oleh Freud. Hati nurani bukan hanya sekedar
salah satu faktor di antara bermacam – macam faktor. Hati nurani adalah inti
dari keberadaan manusia da merupakan sumber integritas personal manusia. “
Menjadi manusia adalah manjadi bertanggung jawab. Bertanggung jawab secara
eksistensial, bertanggung jawab terhadap keberadaannya sendiri di atas dunia.
Seseorang yang
kekurangan arti adalam kehidupannya merupakan suatu bentuk neurosis; dan
kondisi ini dinamakan oleh Frankl sebagai no
genic neurosis. Inilah suatu keadaan
yang bercirikan: ‘tanpa arti, tanpa maksud, tanpa tujuan, hidup hampa’. Frankl
menulis tentang keadaan kawan – kawannya yang ada di dalam tahanan, “ Celakalah
dia yang tidak lagi melihat arti dalam kehidupannya, tidak lagi melihat tujuan,
tidak lagi melihat maksud, dan karena itu tidak ada sesuatu yang dibawa serta.
Dia akan segera kehilangan ‘makna hidup’. Karena tidak merasa adanya kehidupan
yang penuh dan gairah, maka orang semacam ini berada dalam ‘ kekosongan
eksistensial’ ( existensial vacuum ), suatu
kondisi yang menurut kayakinan Frankl adalah lumrah / lazim dalam zaman kita
yang modern.
Perhatikanlah kehidupan orang –
orang dalam kesehariannya. Banyak di antara meraka menderita kebosanan dan masa
bodoh terhadap no genic neurosis sebagai
akibat dari dua kondisi.
·
Kondisi
pertama :
Ketika manusia berkembang dari
pola kehidupan binatang yang lebih rendah, mereka kehilangan insting – insting
alamiah yang menghubungkan mereka dengan alam. Karena hal ini telah membebaskan
kita dari tekanan – tekanan tertentu, ini berarti bahwa tingkah laku seseorang
tidak dibimbing oleh insting – instingnya; kita harus secara aktif memilih apa
yang harus kita lakukan.
·
Kondisi
kedua :
Pada akhir abad ke-20 kita
memiliki beberapa adat kebiasaan, tradisi – tradisi, dan nilai – nilai untuk
menentukan tingkah laku kita. Karana kekuatan – kekuatan agama yang teratur dan
adat kebiasaan sosial menyusut, maka orang dibiarkan lebih bersandar pada
dirinya sendiri. Kita dihadapkan pada membuat keputusan kita sendiri dan
bertanggung jawab terhadap keputusan – keputusan tersebut.
Frankl menemukan bukti
dari ‘kekosongan eksistensial’ secara besar – besaran dalam banyak kebudayaan,
baik bangsa yang berdeologi kapitalis (semacam Amerika) maupun berdeologi
komunis ( semacam Rusia, sebelum revolusi yang dilakukan oleh Presiden Gorbachev
). Dia percaya bahwa ‘ kekosongan eksistensial’ itu berkembang dengan pesat,
khususnya di Negara maju seperti Amerika Serikat. Pemecahan Frenkl terhadap no genic neurosis yang berkembang pesat
itu ialah dengan cara : kita masing – masing harus menemukan atau mendapat
kembali pengetian yang sangat penting tentang arti dan maksud dalam kehidupan.
Kalau tidak, seseorang anak menderita sakit jiwa.
Sumber:
Siti Sundari, HS.
2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta
MIF Baihaqi. 2008. PSIKOLOGI
PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme. Bandung: PT Remaja
RosdaKarya
TULISAN
2
HUBUNGAN
INTERPERSONAL
I. MODEL-MODEL
HUBUNGAN INTERPERSONAL
Model
Peran,Konflik Dan Adequacy Peran Serta Autentisitas Dalam Hubungan Peran
Peran
didasarkan pada preskripsi ( ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa
yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat
memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut
peran-peran tersebut.
Model
peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai
panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya. Menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan peranannya.Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara duaorang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi.Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut
panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya. Menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan peranannya.Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara duaorang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi.Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut
Kesehatan
mental merupakan ilmu pengetahuan yang praktis sebagai pengetrapan ilmu jiwa di
dalam pergaulan hidup. Pandangan terhadap ilmu kesehatan mental ini agak
berbeda-beda dengan lapangan hidup, keahlian dan kepentingan masing-masing.
Misalnya psychiatrist dalam menangani dan menggunakan ilmu pengetahuan
kesehatan mental, menitik beratkan terhadap bahayapada sikap pribadi yang
merugikan atau yang kurang wajar. Misalnya, senang melamun, gelisah,
mengasingkan diri, takut yang sedang para pendidik/paedagoog lebih menitik
beratkan pandangannya terhadap bahaya-bahaya yang melanggar norma-norma sosial,
tata tertib, norma susila, dan sejenisnya.
Demikian
pula lapangan-lapangan hidup lainnya. Maka di sini akan disajikan beberapa
hubungan itu.
a.
Hubungan
Kesehatan Mental dengan Kesehatan Fisik
Antara
mental dan fisik mempunyai hubungan yang sangat erat, tetapi seberapa jauh
eratnya dapat diketahui secara past. Contoh: fisik yang sedang menderita sakit,
mental dalam menghadapi problema berbedadengan pada waktu fisiknya sehat. Yaitu
antara lain mudah tersinggung. Demikian pula fisik yang sedang sakit, tetapi
sikap mentalnya selalu optimis penuh harapan sembuh, maka derita sakit akan
lebih ringan dan lekas sembuh. Sedangkan bagi mereka yang pesimis lebih sulit/lama
disembuhkan. Misalnya takut mati takut penyakitnya menjadi parah. Maka tepatlah
kiranya bahwa pasien diberikan penjelasan mengenai penyakitnya serta bahayanya
agar yang bersangkutan menyadari dan optimis.
b.
Hubungan
Kesehatan Mental dengan Kehidupan Spiritual
Selain
kehidupan materialistis masih ada kehidupan spiritual yaitu kehidupan
kerohanian. Kebutuhan manusia selain kebutuhan biologis, sosial juga mempunyai
kebutuhan spiritual/kerohanian, yaitu kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
Sang Maha Ada, Sang Maha Kuasa.
Dengan
menyerahkan diri kepadanya-Nya dengan kepercayaan bersujud dengan caranya
sendiri-sendiri dengan kepercayaan (agama) masing-masing niscaya akan mendapat
ketentraman. Segala derita atau kesusahan disertakan kepada-Nya. Bagi yang baru
menderita dapat rela menerima kenyataan sebagaimana takdir-Nya dapat memperoleh
keseimbangan mental.
c.
Hubungan Kesehatan Mental dengan Pendidikan
Keluarga
merupakan tempat pertama anak mendapatkan pendidikan. Orang rua pada umumnya
memberikan pelayanan kepada putri dan putranya sesuai dengan kebutuhan mereka.
Ada kalanya orang-orang tua sangat memanjakan, ada pula yang bertindak keras.
Namun demikian, bagi mendidik putra-putrinya sesuai dengan perkembangan
kemampuan dan kesenangan kepuasan mereka.
Sekolah
merupakan masyaarakat yang lebih besar dari keluarga. Sekolah bukan hanya
sekedar memberikan pelajaran, tetapi juga berusaha memberikan pendidikan sesuai
dengan perkembangan, berusaha agar anak didik mengembangkan potensinya secara
puas dan senang serta mempunyai pribadi yang integral. Memang telah diakui
bahwa pendidikan sekolah kelanjutan pendidikan didalam keluarga, dan merupakan community sentered, tetapi kalau
pendidikan mau mengerti secara mendalam mengenai masalah anak didik, kedepanmempunyai
kecakapan dan teknik dalam melayani anak didik, mempunyai kecakapan dan teknik
dalam melayani anak didik, mempunyai pandangan yang luas, melaksanakan
prinsip-prinsip yang sesuai dengan ilmu kesehatan mental
d.
Hubungan
Kesehatan Mental dengan Kehidupan Berkeluarga
Kurang
adanya saling pengertian dari suami istri sering menimbulkan kegoncangan,
ketidakseimbangan keluarga. Kehidupan berkeluarga merupakan pengalaman baru.
Apalagi bagi suami istri yang berasal dari keluarga yang berlainanlatar
belakangnnya. Tetapi tidak berarti perbedaan pribadi, perbedaan kebiasaan dan
sifat-sifat tertentu menyebabkan goncangnya/pecahnya keluarga tetapi
kadang-kandang justru perbedaan atau
saling berlawanan malah akhirnya menjadi sejahtera, asal kondisi masing-masing
disadari selanjutnya saling menempatkan diri sesuai dengan fungsinya.
Masing-masing siap sedia untuk mengadakan penyesuaian (adjustment). Sebagaimana
peribahasa Jawa yang mengatakan: tumbu
oleh tutup. Bakul yang mendapat tutup. Tumbu dan tutup yang bentuknya berbeda
kalau disatukan menjadi serasi dan harmonis.
Jadi,
yang penting bagi anggota keluarga dalam melaksanakan kehidupan berumah tangga
menjalaknan perinsip-perinsio kesehatan mental, yaitu saling berusaha dan
bersedia berkorban untuk menjaga keutuhan keluarga itu.
e.
Hubungan
Kesehatan Mental dengan Perusahaan
Peran pengusaha sangat
penting memperlihatkan kesejahteraan seluruh karyawannya. Kesejahteraan lahir
batin akan menjamin keberhasilan, perusahaan, kesejahteraan lahir batin akan
menjamin jaminan sosial, jaminan hari tua, tunjangan keluarga, hak cuti,
rekreasi, hadiah sikap ramah dan kekeluargaan. Usaha terwujudnya kesejahteraan
itu akan mengurangi/menghilangkan kesenangan, kelesuan, dan kepuasan serta rasa
tanggung jawab para karyawan. Maka usaha kesehatan mental dalam perusahaan
selain kewajiban pokok pimpinan pengusaha juga agar seluruh karyawan mendapat
penerangan bahwa perlu menjaga keseimbangan/ketentraman lahir batin
masing-masing sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan mental.
f.
Hubungan
Kesehatan Mental dengan Lapangan Hukum
Pada
zaman dahulu para pelanggar hukum mendapat hukuman kerena kesalahannya. Dengan
hukuman diharapkan agar jera/takut berbuat pelanggaran lagi. Tetapi pandangan
sekarang/zaman modern, pelanggaran-pelanggaran hukum dianggap sebagai
individu-individu yang sedang terganggu keseimbangannya, maksudnya mereka
sedang mengalami kegagalan dalam kegagalan dalam penyesuaian diri terhadap
sosial dalam batas-batas hukum baik perdata dan pidana. Itulah sebabnya mereka
tidak dilakukan sebagai tahanan/pesakitan melainkan dianggap sebagai manusia
yang sedang menderita gangguan sosial yang perlu dibimbing/dididik dan dibantu
agar supaya kembali ke dalam kehidupan sosial sesuai dengan hukum yang berlaku.
Kecuali itu agar keseimbangan jiwanya kembali, sadar akan perbuatannya
serta tak akan melakukan
pelanggaran-pelanggaran hukum lagi.
g.
Hubungan
Kesehatan Mental dengan Kebudayaan
Manusia
dikatakan sebagai makhluk tertinggi, kerena mempunyai budaya. Kebudayaan
merupakanhasil buah budi manusiam dapat disaksikan, dirasakan dalam kehidupan.
Peninggalan-peninggalan hasil budaya ditemukan berupa tulisan/gambaran dibatu,
dinding gua, candi dengan ukiran kisah masa lampau. Tata cara kehidupan dapat
dipelajari dan dirasakan menfaatnya. Semua itu merupakan bukti bahwa manusia
sejak dulu hingga sekarang menggeluti kancah budaya. Hasil karya seni ternyata
meliputi berbagai bidang dengan berbagai variasi, misalnya seni tari, mencakup
musik/gamelan , suara disamping seni gerak. Seni dalam karya tulis, termasuk
novel, cerpen buku sejarah dan ilmiah yang menpunyai corak sendiri-sendiri.
Semua bidang kehidupan mempunyai nilai seninya. Para pencipta budaya khususnya
seni sambil mencipta juga menikmati hasilnya. Sedang begi orang-orang yang tak
mampu mencipta dapat menikmati dan memanfaatkan dalam kehidupan. Dengan
menikmati kehidupan mengalir rasa kagum, bahagia, sehingga mengenyahkan,
setidaknya mengurangi rasa sedih dan kecewa.
Sumber:
Yulia Singgih D,
Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri
Model
Pertukaran Sosial Dan Analisis Transaksional
Salah satu teori sosial yang mempelajari bagaimana seseorang berhubungan
dengan orang lain , kemudian seseorang itu menentukan keseimbangan antara
pengorbanan dan keuntungan yang didapatkan dari hubungan itu . Setelah
seseorang menentukan keseimbangannya , ia akan menentukan jenis hubungan dan
kesempatan memperbaiki hubungan / tidak sama sekali. Ketika kita berinteraksi
dengan orang lain tanpa terasa ada hubungan resiprok didalamnya. Paling tidak
ada 3 hal yang kita pertukarkan :
Ganjaran , Pengorbanan, Keuntungan.
Analisis Transaksional (AT) adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang
menekankan pada hubungan interaksional. AT dapat dipergunakan untuk terapi
individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Pendekatan ini
menekankan pada aspek perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian ini tujuan
dan arah proses terapi dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses
terapi ini menekankan pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien.
Maka proses terapi mengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan
sendiri, dan keputusan baru, guna kemajuan hidupnya sendiri.
2. MEMULAI
HUBUNGAN
Pembentukan Kesan Dan Ketertarikan Interpersonal Dalam
Memulai Hubungan
Ellen Berscheid
(Berscheid, 1985; Berscheid & Peplau 1983; Berscheid & Reis, 1998)
menyatakan bahwa apa yang membuat orang-orang dari berbagai usia merasa
bahagia, dari daftar jawaban yang ada, yang tertinggi atau mendekati tertinggi
adalah membangun dan mengelola persahabatan dan memiliki hubungan yang positif
serta hangat. Tiadanya hubungan yang bermakna dengan orang-orang lain membuat
individu merasa kesepian, kurang berharga, putus asa, tak berdaya, dan
keterasingan. Ahli Psikologi Sosial, Arthur Aron menyatakan bahwa motivasi
utama manusia adalah ’ekspresi diri’ (self expression).
Penyebab
ketertarikan, dimulai dari awal rasa suka hingga cinta berkembang dalam
hubungan yang erat meliputi :
a. Aspek kedekatan
b. Kesamaan
c. Kesukaan timbal balik
d. Ktertarikan fisik dan kesukaan
3.
Intimasi Dan
Hubungan Pribadi
Kebutuhan intimacy merupakan suatu kebutuhan akan hubungan dengan ornglain dan merupakan kebutuhan terdalam pada diri setiap manusia untuk mengetahui seseorang
secara lebih dekat, seperti merasa dihargai, diperhatikan, saling bertukar pendapat, keinginan untuk selalu berbagi dan menerima serta perasaan saling memiliki sehingga terjalin keterikatan yang semakin kuat dan erat.
Faktor penyebab intimacy :
a. Keluasan : seberapa banyak aktifitas yg dilakukan bersama
b. Keterbukaan : adanya saling keterbukaan diri
c. Kedalaman : saling berbagi
Proses terbentukan intimacy :
Penerimaan dir,i Saling
berinteraksi, Memberi respon atau
tanggapan – Perhatian, Rasa percaya,
Kasih sayang. Mempunyai
minat yang sama Berhubungan seksual.
4. Intimasi Dan
Pertumbuhan
Keintiman
adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng
kita kepada pasangan kita. Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita
sesungguhnya kepada orang lain. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang,
kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada
pasangan kita. Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin
diterima, dihargai, dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita
menginginkan hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita
berbeban.
Tempat
dimana belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita
adalah penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita. Hal ini dapat
disebabkan karena :
1. Kita tidak
mengenal dan tidak menerima siapa diri kita secara utuh;
2. Kita tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah
persiapan memasuki pernikahan;
3. Kita tidak percaya pasangan kita sebagai orang yang
dapat dipercaya untuk memegang rahasia;
4. Kita dibentuk menjadi orang yang berkepribadian
tertutup;
5. Kita memulai pacaran bukan dengan cinta yang tulus .
Dalam hal inilah keutamaan cinta
dibutuhkan.
Sumber :
TULISAN
3
CINTA
& PERKAWINAN
A. BAGAIMANA
MEMILIH PASANGAN
Seluruh umat manusia
didunia ini pasti membutuhkan partner ataupun teman dalam hidupnya. Karena,
manusia diciptakan dan dikodratkan sebagai makhluk sosial. Makhluk yang
tentunya tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Mau dia orang kaya,
Yang punya kedudukan tinggi sampe Presiden sekalipun. Tentu mereka perlu
seseorang disampingnya setidaknya membantu didalam hidupnya. Salah satu teman
hidup selain teman, keluarga atau saudara adalah Istri maupun suami.
Memilih pasangan hidup
yang tepat adalah salah satu bagian terpenting dalam hidup dengan banyak aspek
dan faktor kriteria pemilihan yang harus dihitung dengan matang. Gadis atau
janda , Duda atau Lajang, semua sama saja di mana anda harus melakukan
penjajakan yang cukup sebelum melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Bisa dikatakan bahwa pasangan hidup adalah suatu yang
penting dalam menentukan masa depan kita. Oleh karena itu bisa dikatakan juga
bahwa pemilihannya pun juga sangat penting. Jodoh memang di tangan Tuhan, namun
tetaplah menjadi tanggung jawab bagi manusia untuk mencarinya. Jodoh tentu
seperti rejeki, tidak akan datang ketika anda tidak mencarinya. Perkawinan
adalah proses penyatuan dua hati, tidak hanya secara fisik saja. Hal ini
dilakukan untuk mencari dan membentuk keserasian dan keseimbangan dalam membuat
hidup menjadi lebih baik dan lebih indah.
Tips Memilih Pasangan Hidup Bagi Yang Serius Ingin Menikah
Tentu semua orang ingin menikah satu kali selama
hidupnya, agar keinginan ini terwujud perlulah seseorang itu memilah milih
pasangan,agar suatu saat jika ada masalah yang bisa mengakibatkan perceraian
atau perpisahan bisa dihindari. Mau lihat tips memilih pasangan hidup? Simak
beberapa pemaparan kami :
1. Rajin
Beribadah
Ini hal yang penting bagi masa depan keluarga anda.
Carilah calon suami maupun istri yang taat beribadah. Mengapa? Karena selain
bisa menjaga hubungan yang selalu baik karena cinta dilandaskan kepada tuhan.
Anak, akan terbimbing dengan baik. Baik ibu dan bapak sama-sama memiliki peran
dalam pengajaran agama yang baik dikeluarga. Agar anak ini akan menjadi
generasi yang tentuny bisa membanggakan kedua orang tuanya kelak. Jadi ini
salah satu yang harus diperhatikan.
2. Tidak Matrealis
Sebenarnya Matre itu wajar, karena memang hidup
dijaman sekarang yang apa-apa susah didapat menjadi kriteria yang penting.
Terutama bagi seorang wanita. Mengapa ? bagaimana bisa seorang istri tampil
cantik, bila suaminya tidak pernah membelikan istrinya sebuah alat rias. Dan ia
pasti akan berfikir untuk masa depan anaknya nanti, jika sang calon suami tidak
memiliki penghasilan. Bagaimana ia bisa merawat anak dengan baik. Tapi, tentu
saja matre yang kami definisikan tadi adalah yang positif. Bukan Matre yang
memfoya-foyakan uang dengan hal tidak berguna. Jika pasangan anda suka
memfoya-foyakan uang dan sedikit-sedikit minta uang, anda bisa mundur untuk
tidak memilihnya sebagai pasangan hidup.
3. Sehat Jasmani maupun Rohani
Pilihlah yang dari segi fisik dan mental / jasmani dan
rohani yang sehat walafiat. Pilih yang sehat, cerah, gesit, kuat, dan tidak
mudah sakit. Dari segi kesuburan pun juga penting jika anda ingin punya
keturunan. Jika belum yakin maka sebaiknya anda melakukan pemeriksaan kesehatan
berdua saat pranikah. Perhatikan pula keluarganya apakah ada yang punya riwayat
penyakit yang dapat menurun dan bisa berakibat fatal. Terkadang suatu penyakit
dapat diturunkan ke anak dan atau cucu.
4. Saling Jujur / Tidak Suka Bohong,
Cinta Dan Setia
Mana ada orang yang suka dibohongi. Pilihlah pasangan
yang dapat dipegang kata-katanya dan hanya akan berbohong untuk kepentingan
keluarga yang positif. Jika suka bohong anda akan dibuat pusing sama pasangan
anda kelak. Pasangan yang setia pada anda akan selalu mencintai anda dan akan
selalu berada di samping anda ke mana pun anda pergi dan dalam kondisi apa pun.
Kehidupan rumah tangga yang harmonis
tentu menjadi idaman banyak pasangan. Tapi tentu saja tidak ada yang sempurna
dalam suatu hubungan. Tingal anda saja memilih sikap. Agar anda tidak
memunculkan pertengkaran yang berakhir dengan perceraian
5. Pasangan Yang Selalu Mensuport anda
Cari pasangan yang sealu membantu anda dalam
mengukuhkan imej diri anda dan mendukung semangat dan menyakinkan diri anda,
sebab. Itulah gunanya pasangan hidup baik itu suami maupun istri. Tanpa adanya
saling suport. Hubungan suami dan istri pasti akan renggang dan bisa saja
perceraian terjadi. Karena merasa saling tidak cocok.
Demikian Tips dari kami tentang memilih pasangan hidup.
Tentu diatas itu yang paling diutamakan adalah rasa saling cinta dan percaya
serta restu dari kedua orang Tua. Tanpa itu, tentu hubungan suami dan istri
akan mendapat banyak masalah. Pilihlah pasangan sesuai dengan yang anda ingin
kan dan saling Cinta. Selamat memilih pasangan hidup.
Sumber:
Yulia
Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta :
Penerbit Libri
http://undangankipas.blogdetik.com/2013/01/05/tips-memilih-pasangan-hidup-bagi-yang-serius-ingin-menikah/
B. SELUK BELUK
HUBUNGAN DALAM PERKAWINAN
Persatuan
suami istri merupakan senjata ampuh dalam menghadapi segala pengaruh yang
menghambat tercapainya kesejahteraan keluarga. Memang diakui bahwa berbagai
macam pengaruh luar selalu menimbulkan masalah-masalah pula di dalam keluarga.
Sebaliknya, bantuan dari luar pun sering diperlukan untuk mengatasi masalah di
dalam keluarga.
Agaknya
sudah bukan hal aneh bahwa seseorang yang berada dalam kesulitan dan menghadapi
masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri memerlukan bantuan. Di beberapa
negara, orang dapat meminta bantuan melalui telepon. Terlihat iklan-iklan
terpancang di tembok jalan-jalan kereta api di bawah tanah, yang di antaranya
terbaca: “Bila Anda berbahagia karena sedang mengandung, itu baik. Bila tidak,
teleponlah nomor…”.
Ada
pula biro khusus untuk membangunkan orang melalui telepon, yang memang perlu
untuk “belajar disiplin waktu”. Hal ini tentu sulit dilaksanakan bila telepon
itu belum merupakan alat yang mudah dipakai setiap orang.
Adanya
biro-biro konsultasi dalam bidang masalah keluarga dan pernikahan menunjukkan
bahwa memang masalah-masalah tersebut memerulkan bentuan dalam rangka
penyelesaian atau mencari jalan keluar, dan tidak bboleh diremehkan.
Tidak
ada pernikahan tanpa masalah, baik kecil maupun besar. Pada setiap pernikahan,
walaupun sudah matang dipersiapkan dan cukup mendalam di bidang perkenalan
pribad, juga tidak luput dari perselisihan paham atau pertengkara. Karena itu,
alasan-alasan untuk mempropagandakan “perkawinan percobaan atau percobaan hidup
bersama” untuk mencapaipernikahan yang ideal tentu tidak dapat dibenarkan.
Beberapa pendapat mengemukakan semacam masa percobaan pernikahan untuk melihat
dan menguji dulu apakah dalam hidup bersama itu mereka dapat mencapai
keserasian dalam segala segi hidup mereka, yang juga meliputi aspek seksual,
supaya bila tidak ada keserasian mereka dapat dengan mudah mencari partner
lain, sampai mendapatkan yang cocok. Ternyata, tujuan yang ingin dicapai
melalui “perkawinan percobaan” akhirnya hanya terwujud dalam hubungan seks
bebas atau “free-sex”.
Banyak
yang mengikuti angin baru ini, memasuki masa pernikahan percobaan, hanya untuk
jangka waktu pendek, kemudian dilanjutkan dengan suatu masa percobaan dengan
lain partner dan seterusnya. Hal ini akan terulang berkali-kali tanpa
ditemukannya seorang partner yang benar-benar merupakan pasangan hidupnya,
karena ternyata tidak akan ada partner yang cocok secara sempurna. Banyak ahli
berpendapat bahwa free-sex tidak akan
member kesejahteraan, tetapi sebaliknya memberikan penderitaan jiwa. Free-sex dianggap menyalahi kemanusiaan
dan mengakibatkan perasaan putus asa karena tidak memenuhi kebutuhan dasar
psikis. Mereka tidak akan memperoleh rasa aman dan tertampung maupun
terlindung. Mereka hanya mendapat kepuasan seksual sementara yang cepat berlalu
dan mulailah kegelisahan-kegelisahan yang akan menimbulkan perasaan jiwa yang
tersiksa. Frustasi karena tidak tercapainya kebutuhan akan rasa aman inilah
yang menjadi pendorong dari perbuatan-perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Ikatan dalam pernikahan sangat perlu untuk menjaga terpenuhinya kebutuhan dasar
psikis, supaya kedua individu yang telah disahkan perjanjian mereka beserta
anak-anaknya dapat memperoleh perasaan aman dan terlindung.
Daya
upaya apapun yang dijalankan untuk mempersiapkan pernikahan supaya memungkinkan
tercapainya pernikahan tanpa permasalahan tidak akan berasil. Bagaimana juga,
hidup berkeluarga, hidup bersama maupun hidup sendiri, akan membawa persoalan
yang harus dihadapi dan di atasi. Dengan mengakui adanya masalah-masalah dan
menyadari adanya tantangan hidup yang harus diatasi, sebenarnya sudah dimulai
pengarahan ke penyelesaiannya.
Telah
dikemukakan sebelumnya bahwa dua individu yang memasuki hidup bersama dalam
pernikahan dengan membawa pandangan, pendapat, dan kebiasaan sehari-hari.
Walaupun mereka sudah saling mengenal sebelumnya, tetapi perbedaan-perbedaan
kecil dalam bentuk kebiasaan masing-masing dapat menjadi sumber kekesalan,
pertengkaran, dan menimbulkan masalah. Mengingat masalah pertengkaran tidak
dapat dihindari maka daya upaya harus ditunjukan untuk mengurangi meruncingnya
situasi rumah yang dapat merusak suasana keluarga pada umumnya. Dengan menjaga
agar keadaan tidak sampai meruncing maka akan berkurang pula sebab-sebab yang
menimbulkan permasalahan.
Dalam
memilih pasangan kita wajib mencari yang terbaik untuk menjalaninya. Cara memilih pasangan yang baik
antara lain:
-
Saling jujur
dan setia
-
Dari segi
penampilan
-
Taat
beribadah
-
Pandai/pintar
-
Tidak
materialistis
-
Tidak mudah
emosi
-
Sehat
jasmani dan rohani
-
Persetujuan
orang tua,keluarga
-
Menerima apa adanya
Inilah
puncak dari segalanya, setelah melewati masa pacaran dengan baik. Dengan
saling mengikarkan janji suci untuk sehidup semati baik dalam sehat maupun
dalam sakit, dalam keadaan kaya atau miskin dan hanya maut yang bisa memisahkan
mereka. Sehingga ikrar suci pernikahan itu, mereka bukan lagi dua tetapi telah
menjadi satu. Tahap ini memulainya sebuah babak baru, relasi yang
ditandai dengan munculnya komitmen tanpa syarat untuk saling mencintai dan
memiliki. Kalau tahap perkenalan merupakan sebuah pintu gerbang menuju ke
tingkat pacaran, maka tahap pernikahan merupakan puncak dari tingkat hubungan
paling akrab dan mulia yang dilakukan.
Sumber :
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI
UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri
C. Penyesuaian Dan Pertumbuhan Dalam
Perkawinan
Daya upaya apapun yang
dijalankan untuk mempersiapkan pernikahan supaya memungkinkan tercapainya
pernikahan tanpa permasalahan tidak akan berasil. Bagaimana juga, hidup
berkeluarga, hidup bersama maupun hidup sendiri, akan membawa persoalan yang
harus dihadapi dan di atasi. Dengan mengakui adanya masalah-masalah dan
menyadari adanya tantangan hidup yang harus diatasi, sebenarnya sudah dimulai
pengarahan ke penyelesaiannya.
Telah
dikemukakan sebelumnya bahwa dua individu yang memasuki hidup bersama dalam
pernikahan dengan membawa pandangan, pendapat, dan kebiasaan sehari-hari.
Walaupun mereka sudah saling mengenal sebelumnya, tetapi perbedaan-perbedaan
kecil dalam bentuk kebiasaan masing-masing dapat menjadi sumber kekesalan,
pertengkaran, dan menimbulkan masalah. Mengingat masalah pertengkaran tidak
dapat dihindari maka daya upaya harus ditunjukan untuk mengurangi meruncingnya
situasi rumah yang dapat merusak suasana keluarga pada umumnya. Dengan menjaga
agar keadaan tidak sampai meruncing maka akan berkurang pula sebab-sebab yang
menimbulkan permasalahan
Dwan
J.Lipthrott,LCSW mengatakan bahwa ada 5 tahap perkembangan dalam kehidupan
perkawinan.Bisa jadi antara pasangan suami istri yang satu dengan yang
lain,memiliki waktu berbeda saat menghadapi melalui tahapannya.
Tahap 1: Romantic
love
Saat ini
adalah saat anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu.
Tahap 2: Dissapointment of
Distress
Di tahap ini
pasangan suami istri kerap saling menyalahkan,memiliki rasa marah dan kecewa
pda pasangan,berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya.
Tahap 3: Knowledge and
awareness
Bahwa
pasangan suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana
posisi dan diri pasangannya
Tahap 4: Transformation
Suami istri
di tahap ini akan mencoba tingkah laku yang berkenan dihati pasangannya.
Tahap5: Real love
Anda akan
kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan dan
kebersamaan dengan pasangan.
Sumber :
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI
UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri
D. Perceraian Dan Pernikahan Kembali
Apabila segala macam permasalahan dalam pernikahan
dikumpulkan, masalah-masalah tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa
kelompok berikut ini.
a.
Masalah
pribadi suami istri yang meliputi masa lampau mereka dan masa depan yang akan
dijalani bersama.
Pada
umumnya, baik suami maupun istri telah mengalami suatu masa lampau yang tidak
sepenuhnya diketahui oleh partnernya. Tidak semua hal, yang mengingatkan pada
masa lampau, yang tidak dialami bersama menyenangkan bagi yang lainnya.
Misalnya, teman-teman khusus di masa lampau dapat menjadi sumber permasalahan
bila hubungan-hubungan dengan teman-teman khusus tersebut diteruskan tanpa
persetujuan, walaupun hubungan itu sudah tidak bersifat khusus lagi. Hobi atau
cara rekreasi sebelum menikah yang dilanjutkan tanpa mengikut sertakan pasangan
hidup atau tidak meminta persetujuannya.
b.
Masalah
pribadi suami istri ang saling memasuki lingkungan keluarga baru: mertua, ipar,
kakek, nenek, dan lain-lain.
Di negara-negara di mana
ikatan keluarga besar masih cukup kuat, maka pengaruh keluarga besar tetap
menimbulkan masalah. Biasanya pernikahan antara dua pribadi berarti
bertambahnya anggota baru dalam keluarga besar. Seolah-olah bukan saja dua
pribadi yang memegang peranan, melainkan seluruh keluarga dari kedua belah
pihak turut berperan dengan keinginan masing-masing dan mesti ada campur tangan
mereka.
Perlu
diingat bahwa pada ikatan keluarga besar, setiap orangtua masih merasa
mempunyai hak atas anaknya yang telah menikah. Anak yang dianggap sebagai
bagian dari dirinya harus mengingat jasa-jasa orangtua dalam membesarkannya
sampai berhasil mencapai kedudukan tertentu. Di sisi lain, sang mertua
mengharapkan menantunya ingat pula akan jasa-jasa mertuanya. Mertua merasa
hak-hak atas anaknya direbut oleh menantunya sehingga sering terjadi perebutan
“cinta kasih” antara mertua dan menantu. Persaingan ini bisa meruncing sekali
sehingga perlu ditentukan dengan jelas kedudukan dan tempat masing-masing.
Persoalan
ini sering berlarut-larut dengan lahirnya anak dan campur tangan kakek-nenek
dalam hal pendidikan anak, yang sering terwujud dalam sikap pemanjaan yang
berlebihan terhadap cucu. Dalam hal ini harus diusahakan terciptanya
keseragaman pendapat antara suami istri terhadap semua anggota keluarga,
khususnya yang tinggal serumah.
c.
Masalah
yang berhubungan dengan keluarga baru dan rencana-rencananya yang akan
dibentuk, meliputi hari depan perkembangan dan pendidikan anak.
Dengan
lahirnya seorang anak tentu masalah akan bertambah pula. Pertama, masalah
ekonomi, yang berarti bertambahnya pengeluaran yang harus pula diimbangi dengan
pemasukan yang lebih besar, sedangkan sumber nafkah biasanya justru berkurang,
karena istri mengurangi waktu bekerjanya demi mengurus anak.
Keadaan
juga mengalami perubahan, karena berubahnya jadwal harian dan perhatian yang
tidak lagi sepenuhnya dicurahkan ke hubungan suami istri, melainkan kepada si
bayi. Perubahan keadaan ini memerlukan pengertian dari suami istri. Timbul
persoalan apakah lebih baik mengambil seorang perawat atau pengasuh untuk
pemeliharaan bayi, sebab adanya suatu pribadi dari luar lingkungan keluarga,
mungkin akan membawa kesulitan bagi suami istri.
Anak
dalam perkembangannya terus-menerus mengalami perubahan, yang juga menurut
penyesuaian terus-menerus dai kedua orangtuanya. Dengan bertambahnya anak
berarti bertambah pula pribadi-pribadi yang terus-menerus mengalami perubahan.
Perubahan-perubahan pada setiap anak menuntut sikap yang berbeda-beda sesuai
dengan pribadi masing-masing.
d.
Akibat
Frustasi dan Konflik yang Bertahan
Frustasi
yang tidak mencapai tahap penyelisaian, antara lain yang de=isebabkan konflik
yang tidak mengalami menangnya salah satu motif, akan menimbulkan penderitaan.
Penderitaan ini akan bersifat ringan bila tidak meliputi motif-motif yang
mendalam dan kuat.
Sebaliknya,
pederitaan akan bertambah berat bila frustasi meliputi kebutuhan-kebutuhan
dasar yang tidak mungkin dihindari. Penderitaan berat ini dapat memengaruhi
keseimbangan psikis. Bahkan tidak jarang pula mengganggu keseimbangan fisik,
yang akhirnya tecetus dalam salah satu penyakit psikosomatis.
-
Acap kali dijumpai seorang calon yang harus
menempuh ujian, tiba-tiba menderita sakit
perut.
-
Seorang
ibu yang sakit kepala karena tidak tahu lagi cara-cara mengatur biaya hidup di
dalam kekurangannya.
Sering
pula keadaan menderita yang disebabkan oleh frustasi dan konflik di dalam
pribadi itu sendiri mendorongnya untuk mencari cara-cara dalam mempertahankan
dirinya. Usaha pertahanan diri ini sering disebut sebagai mekanisme pertahanan.
Setiap orang tidak bebas dari salah satu atau beberapa bentuk usaha pertahanan
diri ataupun perbuatan-perbuatan kompensasi diri. Akan tetapi, justru
tergantung dari seringnya dan derajat penggunaan pertahanan diri inilah yang
dapat menentukan orang tersebut masih dapat diterima oleh umum atau harus
mengalami perawatan khusus.
Perceraian
merupakan terputusnya hubungan antara suami istri adalah cerai hidup yang disebabkan oleh
kegagalan suami atau istri dalam menjalankan obligasi peran masing-masing. Dimana perceraian dipahami sebagai akhir dari
ketidakstabilan perkawinan antara suami istri yang selanjutnya hidup secara
terpisah dan diakui secara sah berdasarkan hukum yang berlaku.
Sumber :
Yulia Singgih D,
Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri
E. Single Life
Fenomena
hidup membujang sepanjang usia bukanlah satu hal yang baru muncul pada zaman
pasca moden ini. Umat Islam yang hidup pada abad-abad awal Islam sebenarnya
sudahpun menikmati hidup bujang ini. Terdapat beberapa ulama terkenal yang
telah menghabiskan usia hidup tanpa berkahwin, sebagai contoh Muhammad b. Jarir
al-Tabari (m. 313/925). Beliau sangat terkenal dalam bidang tafsir al-Qur’an,
pengarang kitab sejarah yang terkemuka dan pengasas sebuah mazhab fiqh pada
zamannya. Demikian juga dengan Mahmud b. ‘Umar al-Zamakhshari (m. 538/1144),
seorang ulama dan pengarang kitab tafsir; dan Ahmad b. ‘Abd al-Halim Ibn
Taymiyyah (m. 727/1328). Tiga tokoh yang disebutkan ini ialah antara ulama
besar dalam bidang tafsir dan perundangan Islam. Ratusan penyelidikan telah
dilakukan tentang sejarah dan sumbangan pemikiran mereka dan berjaya pula
menghasilkan tesis-tesis sarjana atau doktor falsafah.
Ramai ulama
berpandangan bahwa khwin membunuh cita-cita sebagai seorang ilmuan. Umar b.
al-Khattab (m. 23/644), misalannya pernah menasihati muridnya supaya belajar
bersungguh-sungguh sebelum kahwin. Begitu juga dengan Imam Abu Hanifah (m. 150/767)
pernah menasihati Abu Yusuf (m. 182/798) agar jangan berkahwin di usia muda.
Setelah berkahwin, masa akan tertumpu kepada keluarga, tidak lagi kepada
pelajaran. Ulama yang memilih hidup tanpa kahwin tentu ada sebab-sebabnya sama
ada peribadi atau lain-lain. Kebiasaannya para ulama memilih hidup bujang
disebabkan tanggungjawab mereka yang besar terhadap umat Islam. Mereka hidup
sepenuh masa dengan berbakti kepada ilmu pengetahuan, menjadi ahli ibadat, ulat
buku, pengarang buku dan lain-lain. Sebagai bayarannya, mereka rela hidup tanpa
kahwin sepanjang usia.
Beberapa Bentuk Tingkah Laku Pertahanan Diri
1. Bermimpi. Menurut beberapa
ahli, asal mula mimpi bersumber pada suatu persoalan pribadi. Bila persoalan tersebut belum
mencapai penyelesaian, maka dalam mimpilah usaha mencari pemecahan persoalan
itu diteruskan. Menurut Freud, seorang ahli psikoanalisis, selain merupakan
suatu pengabulan keinginan, mimpi juga merupakan alas pelindung terhadap
gangguan-gangguan yang mengganggu kelangsungan tidur. Misalnya, orang yang
harus bangun dan bekemas-kemas untuk pergi ke pekarjaannya, akan bermimpi
sedang melaksanakan pekerjaan di kantornya. Atau, seorang ibu yang harus
menyiapkan makanan untuk sarapan, akan bermimpi sedang menanak nasi.
Alhasil, dengan mimpi ini mereka tidak
akan terbangun dan dapat tidur terns.
2.
Fantasi. Dengan fantasi
diartikan suatu perbuatan yang dilakukan dalam khayalan. Bahaya dari cara
pertahanan dengan fantasi ini adalah kepuasan yang diperolehnya dengan
penyelesaian yang tidak ada. Bila cara ini dipakai seseorang secara berlebihan
maka akan mencapai keadaan di mana hidup delam kenyataan tidak memuaskan lagi.
Akhirnya, ia akan menarik diri dari arus kehidupan, mengasingkan diri dan hidup
dalam alam fantasinya. Akhirnya, mungkin akan tercapai saat dimana usaha untuk
mempertahankan hidupnya pun dilalaikannya dan kelangsungan hidupnua akan
tergantung pada perawatan orang lain.
3.
Kompensasi. Cara ini sering
dipilih untuk mengatasi frustasi yang dialami karena kekurangan pada salah satu
aspek dalam diri sendiri. Dengan kompensasi, usaha ditujukan kepada penyaluran
motif yang dapat disalurkan bila ada motif-motif yang tidak mungkin
tersalurkan. Misalnya, seorang anak mengetahui dirinya tidak mempu mencapai
prestasi tinggi di sekolah. Ia akan menunjukan kebiasaannya dalam bidang
olahraga. Disini terlihat pula bahwa objek tujuan tadi telah diganti.
4.
Over kompensasi. Kompensasi dilakukan
dengan berlebihan sebagai usaha untuk mengatasi perasaan rendah diri dan
ancaman akan hilangnya penghargaan dari orang lain terhadap dirinya.
5.
Rasionalisasi. Rasionalisasi ini
merupakan cara berpikir yang salah, kepalsuan dalam cara berpikir yang
bertujuan untuk mempertahankan harga diri. Misalnya, seorang laki-laki yang
mempunyai hubungan dengan seorang perempuandiluar pernikahannya. Ia akan
membenarkan perbuatannya dengan mengmukakan alasan bahwa pasa hakikatnya
laki-laki bersifat poligami. Sebaliknya, gagasan untuk mengaku secara terus
terang kepada istrinya pun akan ditolaknya dengan dalih “istrinya akan lebih bahagia,
tanpa mengetahui seluk-beluk hubungan-hubungan suaminya.” Setiap alasan yang
dikemukakanmerupakan alasan untuk membenarkan peruatannya dan mempertahankan
harga dirinya.
6.
Represi. Usaha untuk melupakan
segala hal yang dapat mengingatkan kembali akan kegagalan atau frustasi yang
pernah di-alami secara mendalam. Bila pertahanannya cukup kuat maka tidak akan
terjadi keguncangan apa pun. Sebaliknya, bila melemah, maka mungkin terjadi
luapan emosi atau cara-cara reaksi kembali ke tingkat perkembangan yang sudah
dilaluinya. Misalnya, dengan bertingkah laku kekanak-kanakan (regresi).
7.
Subtitusi. Subtitusi aktivitas. Sumblimasi. Subtitusi aktivitas dengan
aktivitas yang mempunyai arti sosial.
8.
Displacement. Pengalihan objek aktivitas dengan
penyaluran aktivitas ke objek pengganti.
Dengan demikian, jelaslah bahwa
perjuangan hidup manusia selalu berintikan pada mempertahakan diri, baik secara
fisik maupun psikis.
Sumber :
Yulia Singgih D,
Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri
http://arsip.uii.ac.id/files//2012/08/05.2-bab-2137.pdfhttp://psikologi.or.id/mycontents/uploads/2010/11/hubinterpersonal.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar