TULISAN 3
CINTA & PERKAWINAN
A. BAGAIMANA
MEMILIH PASANGAN
Seluruh umat manusia didunia ini pasti membutuhkan partner ataupun
teman dalam hidupnya. Karena, manusia diciptakan dan dikodratkan sebagai
makhluk sosial. Makhluk yang tentunya tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan
orang lain. Mau dia orang kaya, Yang punya kedudukan tinggi sampe Presiden
sekalipun. Tentu mereka perlu seseorang disampingnya setidaknya membantu
didalam hidupnya. Salah satu teman hidup selain teman, keluarga atau saudara
adalah Istri maupun suami.
Memilih pasangan hidup yang tepat adalah salah satu bagian
terpenting dalam hidup dengan banyak aspek dan faktor kriteria pemilihan yang
harus dihitung dengan matang. Gadis atau janda , Duda atau Lajang, semua sama
saja di mana anda harus melakukan penjajakan yang cukup sebelum melangkah ke
jenjang yang lebih tinggi.
Bisa dikatakan bahwa pasangan hidup adalah suatu yang
penting dalam menentukan masa depan kita. Oleh karena itu bisa dikatakan juga
bahwa pemilihannya pun juga sangat penting. Jodoh memang di tangan Tuhan, namun
tetaplah menjadi tanggung jawab bagi manusia untuk mencarinya. Jodoh tentu seperti
rejeki, tidak akan datang ketika anda tidak mencarinya. Perkawinan adalah
proses penyatuan dua hati, tidak hanya secara fisik saja. Hal ini dilakukan
untuk mencari dan membentuk keserasian dan keseimbangan dalam membuat hidup
menjadi lebih baik dan lebih indah.
Tips Memilih
Pasangan Hidup Bagi Yang Serius Ingin Menikah
Tentu semua orang ingin menikah satu kali selama
hidupnya, agar keinginan ini terwujud perlulah seseorang itu memilah milih
pasangan,agar suatu saat jika ada masalah yang bisa mengakibatkan perceraian
atau perpisahan bisa dihindari. Mau lihat tips memilih pasangan hidup? Simak
beberapa pemaparan kami :
1. Rajin Beribadah
Ini hal yang penting bagi masa depan keluarga anda.
Carilah calon suami maupun istri yang taat beribadah. Mengapa? Karena selain
bisa menjaga hubungan yang selalu baik karena cinta dilandaskan kepada tuhan.
Anak, akan terbimbing dengan baik. Baik ibu dan bapak sama-sama memiliki peran
dalam pengajaran agama yang baik dikeluarga. Agar anak ini akan menjadi
generasi yang tentuny bisa membanggakan kedua orang tuanya kelak. Jadi ini
salah satu yang harus diperhatikan.
2. Tidak Matrealis
Sebenarnya Matre itu wajar, karena memang hidup
dijaman sekarang yang apa-apa susah didapat menjadi kriteria yang penting.
Terutama bagi seorang wanita. Mengapa ? bagaimana bisa seorang istri tampil
cantik, bila suaminya tidak pernah membelikan istrinya sebuah alat rias. Dan ia
pasti akan berfikir untuk masa depan anaknya nanti, jika sang calon suami tidak
memiliki penghasilan. Bagaimana ia bisa merawat anak dengan baik. Tapi, tentu
saja matre yang kami definisikan tadi adalah yang positif. Bukan Matre yang
memfoya-foyakan uang dengan hal tidak berguna. Jika pasangan anda suka
memfoya-foyakan uang dan sedikit-sedikit minta uang, anda bisa mundur untuk
tidak memilihnya sebagai pasangan hidup.
3.Sehat Jasmani maupun Rohani
Pilihlah yang dari segi fisik dan mental / jasmani dan
rohani yang sehat walafiat. Pilih yang sehat, cerah, gesit, kuat, dan tidak
mudah sakit. Dari segi kesuburan pun juga penting jika anda ingin punya
keturunan. Jika belum yakin maka sebaiknya anda melakukan pemeriksaan kesehatan
berdua saat pranikah. Perhatikan pula keluarganya apakah ada yang punya riwayat
penyakit yang dapat menurun dan bisa berakibat fatal. Terkadang suatu penyakit
dapat diturunkan ke anak dan atau cucu.
4. Saling Jujur / Tidak Suka Bohong, Cinta Dan Setia
Mana ada orang yang suka dibohongi. Pilihlah pasangan
yang dapat dipegang kata-katanya dan hanya akan berbohong untuk kepentingan
keluarga yang positif. Jika suka bohong anda akan dibuat pusing sama pasangan
anda kelak. Pasangan yang setia pada anda akan selalu mencintai anda dan akan
selalu berada di samping anda ke mana pun anda pergi dan dalam kondisi apa pun.
Kehidupan rumah tangga yang harmonis tentu menjadi idaman banyak pasangan.
Tapi tentu saja tidak ada yang sempurna dalam suatu hubungan. Tingal anda saja
memilih sikap. Agar anda tidak memunculkan pertengkaran yang berakhir dengan
perceraian
5. Pasangan Yang Selalu Mensuport anda
Cari pasangan yang sealu membantu anda dalam
mengukuhkan imej diri anda dan mendukung semangat dan menyakinkan diri anda,
sebab. Itulah gunanya pasangan hidup baik itu suami maupun istri. Tanpa adanya
saling suport. Hubungan suami dan istri pasti akan renggang dan bisa saja
perceraian terjadi. Karena merasa saling tidak cocok.
Demikian Tips dari kami tentang memilih pasangan
hidup. Tentu diatas itu yang paling diutamakan adalah rasa saling cinta dan
percaya serta restu dari kedua orang Tua. Tanpa itu, tentu hubungan suami dan
istri akan mendapat banyak masalah. Pilihlah pasangan sesuai dengan yang anda
ingin kan dan saling Cinta. Selamat memilih pasangan hidup.
Sumber:
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK
KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri
http://undangankipas.blogdetik.com/2013/01/05/tips-memilih-pasangan-hidup-bagi-yang-serius-ingin-menikah/
B.
SELUK BELUK HUBUNGAN DALAM PERKAWINAN
Persatuan suami istri merupakan
senjata ampuh dalam menghadapi segala pengaruh yang menghambat tercapainya
kesejahteraan keluarga. Memang diakui bahwa berbagai macam pengaruh luar selalu
menimbulkan masalah-masalah pula di dalam keluarga. Sebaliknya, bantuan dari
luar pun sering diperlukan untuk mengatasi masalah di dalam keluarga.
Agaknya sudah bukan hal aneh
bahwa seseorang yang berada dalam kesulitan dan menghadapi masalah yang tidak
dapat diatasinya sendiri memerlukan bantuan. Di beberapa negara, orang dapat
meminta bantuan melalui telepon. Terlihat iklan-iklan terpancang di tembok
jalan-jalan kereta api di bawah tanah, yang di antaranya terbaca: “Bila Anda
berbahagia karena sedang mengandung, itu baik. Bila tidak, teleponlah nomor…”.
Ada pula biro khusus untuk
membangunkan orang melalui telepon, yang memang perlu untuk “belajar disiplin
waktu”. Hal ini tentu sulit dilaksanakan bila telepon itu belum merupakan alat
yang mudah dipakai setiap orang.
Adanya biro-biro konsultasi
dalam bidang masalah keluarga dan pernikahan menunjukkan bahwa memang
masalah-masalah tersebut memerulkan bentuan dalam rangka penyelesaian atau
mencari jalan keluar, dan tidak bboleh diremehkan.
Tidak ada pernikahan tanpa
masalah, baik kecil maupun besar. Pada setiap pernikahan, walaupun sudah matang
dipersiapkan dan cukup mendalam di bidang perkenalan pribad, juga tidak luput
dari perselisihan paham atau pertengkara. Karena itu, alasan-alasan untuk
mempropagandakan “perkawinan percobaan atau percobaan hidup bersama” untuk
mencapaipernikahan yang ideal tentu tidak dapat dibenarkan. Beberapa pendapat
mengemukakan semacam masa percobaan pernikahan untuk melihat dan menguji dulu
apakah dalam hidup bersama itu mereka dapat mencapai keserasian dalam segala
segi hidup mereka, yang juga meliputi aspek seksual, supaya bila tidak ada
keserasian mereka dapat dengan mudah mencari partner lain, sampai mendapatkan
yang cocok. Ternyata, tujuan yang ingin dicapai melalui “perkawinan percobaan”
akhirnya hanya terwujud dalam hubungan seks bebas atau “free-sex”.
Banyak yang mengikuti angin baru
ini, memasuki masa pernikahan percobaan, hanya untuk jangka waktu pendek,
kemudian dilanjutkan dengan suatu masa percobaan dengan lain partner dan
seterusnya. Hal ini akan terulang berkali-kali tanpa ditemukannya seorang
partner yang benar-benar merupakan pasangan hidupnya, karena ternyata tidak akan
ada partner yang cocok secara sempurna. Banyak ahli berpendapat bahwa free-sex tidak akan member
kesejahteraan, tetapi sebaliknya memberikan penderitaan jiwa. Free-sex dianggap menyalahi kemanusiaan
dan mengakibatkan perasaan putus asa karena tidak memenuhi kebutuhan dasar
psikis. Mereka tidak akan memperoleh rasa aman dan tertampung maupun
terlindung. Mereka hanya mendapat kepuasan seksual sementara yang cepat berlalu
dan mulailah kegelisahan-kegelisahan yang akan menimbulkan perasaan jiwa yang
tersiksa. Frustasi karena tidak tercapainya kebutuhan akan rasa aman inilah
yang menjadi pendorong dari perbuatan-perbuatan yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan. Ikatan dalam pernikahan sangat perlu untuk menjaga
terpenuhinya kebutuhan dasar psikis, supaya kedua individu yang telah disahkan
perjanjian mereka beserta anak-anaknya dapat memperoleh perasaan aman dan
terlindung.
Daya upaya apapun yang
dijalankan untuk mempersiapkan pernikahan supaya memungkinkan tercapainya
pernikahan tanpa permasalahan tidak akan berasil. Bagaimana juga, hidup
berkeluarga, hidup bersama maupun hidup sendiri, akan membawa persoalan yang
harus dihadapi dan di atasi. Dengan mengakui adanya masalah-masalah dan
menyadari adanya tantangan hidup yang harus diatasi, sebenarnya sudah dimulai
pengarahan ke penyelesaiannya.
Telah dikemukakan sebelumnya
bahwa dua individu yang memasuki hidup bersama dalam pernikahan dengan membawa
pandangan, pendapat, dan kebiasaan sehari-hari. Walaupun mereka sudah saling
mengenal sebelumnya, tetapi perbedaan-perbedaan kecil dalam bentuk kebiasaan
masing-masing dapat menjadi sumber kekesalan, pertengkaran, dan menimbulkan
masalah. Mengingat masalah pertengkaran tidak dapat dihindari maka daya upaya
harus ditunjukan untuk mengurangi meruncingnya situasi rumah yang dapat merusak
suasana keluarga pada umumnya. Dengan menjaga agar keadaan tidak sampai
meruncing maka akan berkurang pula sebab-sebab yang menimbulkan permasalahan.
Dalam memilih pasangan kita wajib mencari yang terbaik untuk
menjalaninya.Cara memilih pasangan yang baik antara lain:
·
Saling jujur dan setia
·
Dari segi penampilan
·
Taat beribadah
·
Pandai/pintar
·
Tidak materialistis
·
Tidak mudah emosi
·
Sehat jasmani dan rohani
·
Persetujuan orang tua,keluarga
·
Menerima apa adanya
Inilah puncak dari segalanya, setelah melewati masa pacaran dengan
baik. Dengan saling mengikarkan janji suci untuk sehidup semati baik dalam
sehat maupun dalam sakit, dalam keadaan kaya atau miskin dan hanya maut yang
bisa memisahkan mereka. Sehingga ikrar suci pernikahan itu, mereka bukan lagi
dua tetapi telah menjadi satu. Tahap ini memulainya sebuah babak baru,
relasi yang ditandai dengan munculnya komitmen tanpa syarat untuk saling
mencintai dan memiliki. Kalau tahap perkenalan merupakan sebuah pintu gerbang
menuju ke tingkat pacaran, maka tahap pernikahan merupakan puncak dari tingkat
hubungan paling akrab dan mulia yang dilakukan.
Sumber :
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012.
PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri
C.
Penyesuaian Dan Pertumbuhan
Dalam Perkawinan
Daya upaya apapun yang dijalankan untuk mempersiapkan
pernikahan supaya memungkinkan tercapainya pernikahan tanpa permasalahan tidak
akan berasil. Bagaimana juga, hidup berkeluarga, hidup bersama maupun hidup
sendiri, akan membawa persoalan yang harus dihadapi dan di atasi. Dengan
mengakui adanya masalah-masalah dan menyadari adanya tantangan hidup yang harus
diatasi, sebenarnya sudah dimulai pengarahan ke penyelesaiannya.
Telah
dikemukakan sebelumnya bahwa dua individu yang memasuki hidup bersama dalam
pernikahan dengan membawa pandangan, pendapat, dan kebiasaan sehari-hari.
Walaupun mereka sudah saling mengenal sebelumnya, tetapi perbedaan-perbedaan
kecil dalam bentuk kebiasaan masing-masing dapat menjadi sumber kekesalan,
pertengkaran, dan menimbulkan masalah. Mengingat masalah pertengkaran tidak
dapat dihindari maka daya upaya harus ditunjukan untuk mengurangi meruncingnya
situasi rumah yang dapat merusak suasana keluarga pada umumnya. Dengan menjaga
agar keadaan tidak sampai meruncing maka akan berkurang pula sebab-sebab yang
menimbulkan permasalahan
Dwan J.Lipthrott,LCSW
mengatakan bahwa ada 5 tahap perkembangan dalam kehidupan perkawinan.Bisa jadi
antara pasangan suami istri yang satu dengan yang lain,memiliki waktu berbeda
saat menghadapi melalui tahapannya.
Tahap 1: Romantic love
Saat ini adalah saat anda dan pasangan merasakan
gelora cinta yang menggebu-gebu.
Tahap 2: Dissapointment of Distress
Di tahap ini pasangan suami istri kerap saling
menyalahkan,memiliki rasa marah dan kecewa pda pasangan,berusaha menang atau
lebih benar dari pasangannya.
Tahap 3: Knowledge and awareness
Bahwa pasangan suami istri yang sampai pada
tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan diri pasangannya
Tahap 4: Transformation
Suami istri di tahap ini akan mencoba tingkah
laku yang berkenan dihati pasangannya.
Tahap5: Real love
Anda akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan dan kebersamaan dengan pasangan.
Sumber :
Yulia Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012.
PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta : Penerbit Libri
D.
Perceraian Dan Pernikahan
Kembali
Apabila
segala macam permasalahan dalam pernikahan dikumpulkan, masalah-masalah
tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok berikut ini.
a.
Masalah pribadi suami istri yang meliputi masa
lampau mereka dan masa depan yang akan dijalani bersama.
Pada umumnya, baik suami maupun
istri telah mengalami suatu masa lampau yang tidak sepenuhnya diketahui oleh partnernya.
Tidak semua hal, yang mengingatkan pada masa lampau, yang tidak dialami bersama
menyenangkan bagi yang lainnya. Misalnya, teman-teman khusus di masa lampau
dapat menjadi sumber permasalahan bila hubungan-hubungan dengan teman-teman
khusus tersebut diteruskan tanpa persetujuan, walaupun hubungan itu sudah tidak
bersifat khusus lagi. Hobi atau cara rekreasi sebelum menikah yang dilanjutkan
tanpa mengikut sertakan pasangan hidup atau tidak meminta persetujuannya.
b.
Masalah pribadi suami istri ang saling
memasuki lingkungan keluarga baru: mertua, ipar, kakek, nenek, dan lain-lain.
Dinegara-negara di mana ikatan
keluarga besar masih cukup kuat, maka pengaruh keluarga besar tetap menimbulkan
masalah. Biasanya pernikahan antara dua pribadi berarti bertambahnya anggota
baru dalam keluarga besar. Seolah-olah bukan saja dua pribadi yang memegang
peranan, melainkan seluruh keluarga dari kedua belah pihak turut berperan
dengan keinginan masing-masing dan mesti ada campur tangan mereka.
Perlu diingat bahwa pada ikatan
keluarga besar, setiap orangtua masih merasa mempunyai hak atas anaknya yang
telah menikah. Anak yang dianggap sebagai bagian dari dirinya harus mengingat
jasa-jasa orangtua dalam membesarkannya sampai berhasil mencapai kedudukan
tertentu. Di sisi lain, sang mertua mengharapkan menantunya ingat pula akan
jasa-jasa mertuanya. Mertua merasa hak-hak atas anaknya direbut oleh menantunya
sehingga sering terjadi perebutan “cinta kasih” antara mertua dan menantu.
Persaingan ini bisa meruncing sekali sehingga perlu ditentukan dengan jelas
kedudukan dan tempat masing-masing.
Persoalan ini sering
berlarut-larut dengan lahirnya anak dan campur tangan kakek-nenek dalam hal
pendidikan anak, yang sering terwujud dalam sikap pemanjaan yang berlebihan
terhadap cucu. Dalam hal ini harus diusahakan terciptanya keseragaman pendapat
antara suami istri terhadap semua anggota keluarga, khususnya yang tinggal
serumah.
c.
Masalah yang berhubungan dengan keluarga baru
dan rencana-rencananya yang akan dibentuk, meliputi hari depan perkembangan dan
pendidikan anak.
Dengan lahirnya seorang anak
tentu masalah akan bertambah pula. Pertama, masalah ekonomi, yang berarti
bertambahnya pengeluaran yang harus pula diimbangi dengan pemasukan yang lebih
besar, sedangkan sumber nafkah biasanya justru berkurang, karena istri
mengurangi waktu bekerjanya demi mengurus anak.
Keadaan juga mengalami
perubahan, karena berubahnya jadwal harian dan perhatian yang tidak lagi
sepenuhnya dicurahkan ke hubungan suami istri, melainkan kepada si bayi.
Perubahan keadaan ini memerlukan pengertian dari suami istri. Timbul persoalan
apakah lebih baik mengambil seorang perawat atau pengasuh untuk pemeliharaan
bayi, sebab adanya suatu pribadi dari luar lingkungan keluarga, mungkin akan
membawa kesulitan bagi suami istri.
Anak dalam perkembangannya
terus-menerus mengalami perubahan, yang juga menurut penyesuaian terus-menerus
dai kedua orangtuanya. Dengan bertambahnya anak berarti bertambah pula
pribadi-pribadi yang terus-menerus mengalami perubahan. Perubahan-perubahan
pada setiap anak menuntut sikap yang berbeda-beda sesuai dengan pribadi
masing-masing.
d.
Akibat Frustasi dan Konflik yang Bertahan
Frustasi yang tidak mencapai
tahap penyelisaian, antara lain yang de=isebabkan konflik yang tidak mengalami
menangnya salah satu motif, akan menimbulkan penderitaan. Penderitaan ini akan
bersifat ringan bila tidak meliputi motif-motif yang mendalam dan kuat.
Sebaliknya, pederitaan akan bertambah
berat bila frustasi meliputi kebutuhan-kebutuhan dasar yang tidak mungkin
dihindari. Penderitaan berat ini dapat memengaruhi keseimbangan psikis. Bahkan
tidak jarang pula mengganggu keseimbangan fisik, yang akhirnya tecetus dalam
salah satu penyakit psikosomatis.
·
Acap
kali dijumpai seorang calon yang harus menempuh ujian, tiba-tiba
menderita sakit perut.
·
Seorang ibu yang sakit kepala karena tidak
tahu lagi cara-cara mengatur biaya hidup di dalam kekurangannya.
Sering pula keadaan menderita
yang disebabkan oleh frustasi dan konflik di dalam pribadi itu sendiri
mendorongnya untuk mencari cara-cara dalam mempertahankan dirinya. Usaha
pertahanan diri ini sering disebut sebagai mekanisme pertahanan. Setiap orang
tidak bebas dari salah satu atau beberapa bentuk usaha pertahanan diri ataupun
perbuatan-perbuatan kompensasi diri. Akan tetapi, justru tergantung dari
seringnya dan derajat penggunaan pertahanan diri inilah yang dapat menentukan
orang tersebut masih dapat diterima oleh umum atau harus mengalami perawatan
khusus.
Perceraian merupakan terputusnya hubungan antara suami istri adalah cerai hidup yang disebabkan oleh
kegagalan suami atau istri dalam menjalankan obligasi peran masing-masing
.Dimana perceraian dipahami sebagai akhir dari ketidakstabilan perkawinan
antara suami istri yang selanjutnya hidup secara terpisah dan diakui secara sah
berdasarkan hukum yang berlaku.
Sumber :
Yulia
Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta :
Penerbit Libri
E.
Single Life
Ø Fenomena hidup
membujang sepanjang usia bukanlah satu hal yang baru muncul pada zaman pasca
moden ini. Umat Islam yang hidup pada abad-abad awal Islam sebenarnya sudahpun
menikmati hidup bujang ini. Terdapat beberapa ulama terkenal yang telah
menghabiskan usia hidup tanpa berkahwin, sebagai contoh Muhammad b. Jarir
al-Tabari (m. 313/925). Beliau sangat terkenal dalam bidang tafsir al-Qur’an,
pengarang kitab sejarah yang terkemuka dan pengasas sebuah mazhab fiqh pada
zamannya. Demikian juga dengan Mahmud b. ‘Umar al-Zamakhshari (m. 538/1144),
seorang ulama dan pengarang kitab tafsir; dan Ahmad b. ‘Abd al-Halim Ibn
Taymiyyah (m. 727/1328). Tiga tokoh yang disebutkan ini ialah antara ulama
besar dalam bidang tafsir dan perundangan Islam. Ratusan penyelidikan telah
dilakukan tentang sejarah dan sumbangan pemikiran mereka dan berjaya pula
menghasilkan tesis-tesis sarjana atau doktor falsafah.
Ramai ulama
berpandangan bahwa khwin membunuh cita-cita sebagai seorang ilmuan. Umar b.
al-Khattab (m. 23/644), misalannya pernah menasihati muridnya supaya belajar
bersungguh-sungguh sebelum kahwin. Begitu juga dengan Imam Abu Hanifah (m.
150/767) pernah menasihati Abu Yusuf (m. 182/798) agar jangan berkahwin di usia
muda. Setelah berkahwin, masa akan tertumpu kepada keluarga, tidak lagi kepada
pelajaran. Ulama yang memilih hidup tanpa kahwin tentu ada sebab-sebabnya sama
ada peribadi atau lain-lain. Kebiasaannya para ulama memilih hidup bujang
disebabkan tanggungjawab mereka yang besar terhadap umat Islam. Mereka hidup
sepenuh masa dengan berbakti kepada ilmu pengetahuan, menjadi ahli ibadat, ulat
buku, pengarang buku dan lain-lain. Sebagai bayarannya, mereka rela hidup tanpa
kahwin sepanjang usia.
Beberapa Bentuk Tingkah Laku Pertahanan Diri
1. Bermimpi. Menurut beberapa ahli, asal mula
mimpi bersumber pada suatu persoalan pribadi.
Bila persoalan tersebut belum mencapai penyelesaian, maka dalam mimpilah usaha
mencari pemecahan persoalan itu diteruskan. Menurut Freud, seorang ahli
psikoanalisis, selain merupakan suatu pengabulan keinginan, mimpi juga
merupakan alas pelindung terhadap gangguan-gangguan yang mengganggu
kelangsungan tidur. Misalnya, orang yang harus bangun dan bekemas-kemas untuk
pergi ke pekarjaannya, akan bermimpi sedang melaksanakan pekerjaan di
kantornya. Atau, seorang ibu yang harus menyiapkan makanan untuk sarapan, akan
bermimpi sedang menanak nasi.
Alhasil, dengan mimpi ini
mereka tidak akan terbangun dan dapat tidur terns.
2.
Fantasi. Dengan
fantasi diartikan suatu perbuatan yang dilakukan dalam khayalan. Bahaya dari
cara pertahanan dengan fantasi ini adalah kepuasan yang diperolehnya dengan
penyelesaian yang tidak ada. Bila cara ini dipakai seseorang secara berlebihan
maka akan mencapai keadaan di mana hidup delam kenyataan tidak memuaskan lagi.
Akhirnya, ia akan menarik diri dari arus kehidupan, mengasingkan diri dan hidup
dalam alam fantasinya. Akhirnya, mungkin akan tercapai saat dimana usaha untuk
mempertahankan hidupnya pun dilalaikannya dan kelangsungan hidupnua akan
tergantung pada perawatan orang lain.
3.
Kompensasi.
Cara
ini sering dipilih untuk mengatasi frustasi yang dialami karena kekurangan pada
salah satu aspek dalam diri sendiri. Dengan kompensasi, usaha ditujukan kepada penyaluran
motif yang dapat disalurkan bila ada motif-motif yang tidak mungkin
tersalurkan. Misalnya, seorang anak mengetahui dirinya tidak mempu mencapai
prestasi tinggi di sekolah. Ia akan menunjukan kebiasaannya dalam bidang
olahraga. Disini terlihat pula bahwa objek tujuan tadi telah diganti.
4.
Over
kompensasi. Kompensasi dilakukan dengan berlebihan sebagai usaha untuk
mengatasi perasaan rendah diri dan ancaman akan hilangnya penghargaan dari
orang lain terhadap dirinya.
5.
Rasionalisasi.
Rasionalisasi ini merupakan cara berpikir yang salah, kepalsuan dalam cara
berpikir yang bertujuan untuk mempertahankan harga diri. Misalnya, seorang
laki-laki yang mempunyai hubungan dengan seorang perempuandiluar pernikahannya.
Ia akan membenarkan perbuatannya dengan mengmukakan alasan bahwa pasa
hakikatnya laki-laki bersifat poligami. Sebaliknya, gagasan untuk mengaku
secara terus terang kepada istrinya pun akan ditolaknya dengan dalih “istrinya
akan lebih bahagia, tanpa mengetahui seluk-beluk hubungan-hubungan suaminya.”
Setiap alasan yang dikemukakanmerupakan alasan untuk membenarkan peruatannya
dan mempertahankan harga dirinya.
6.
Represi. Usaha
untuk melupakan segala hal yang dapat mengingatkan kembali akan kegagalan atau
frustasi yang pernah di-alami secara mendalam. Bila pertahanannya cukup kuat
maka tidak akan terjadi keguncangan apa pun. Sebaliknya, bila melemah, maka
mungkin terjadi luapan emosi atau cara-cara reaksi kembali ke tingkat
perkembangan yang sudah dilaluinya. Misalnya, dengan bertingkah laku
kekanak-kanakan (regresi).
7.
Subtitusi. Subtitusi
aktivitas. Sumblimasi. Subtitusi
aktivitas dengan aktivitas yang mempunyai arti sosial.
8.
Displacement. Pengalihan objek aktivitas
dengan penyaluran aktivitas ke objek pengganti.
Dengan
demikian, jelaslah bahwa perjuangan hidup manusia selalu berintikan pada
mempertahakan diri, baik secara fisik maupun psikis.
Sumber :
Yulia
Singgih D, Singgih D. Gunarsa, 2012. PSIKOLOGI UNTUK KELUARGA. Jakarta :
Penerbit Libri
http://arsip.uii.ac.id/files//2012/08/05.2-bab-2137.pdfhttp://psikologi.or.id/mycontents/uploads/2010/11/hubinterpersonal.pdf
http://www.psychologymania.com/2013/04/teori-hubungan-interpersonal.html