Jumat, 29 Maret 2013

Tugas Kesehatan Mental III


I.                 Penyesuaian Diri & Pertumbuhan

Proses Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri yang sempurna sulit diwujudkan karena banyak faktor yang mempengaruhi sehingga seluruh kebutuhan tidak dapat terealisasi. Penyesuaian diri merupakan suatu proses yang terjadi sepanjang kehidupan (life long process). Manusia harus berusaha menemukan dan mengatasi rintangan, tekanan dan tantangan untuk mencapai pribadi yang seimbang. Respon penyesuaian diri selain berupa hal yang baik juga ada yang buruk. Respon baik atau buruk untuk memelihara keseimbangan secara wajar. Individu berusaha menjauhi ketegangan. Penyesuaian diri sebagai suatu proses kea rah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dan eksternal. Contoh bayi membutuhkan asi dan kasih saying. Kerana tak terpenuhi, bayi berusaha mencari pemenuhan kebutuhan yang tidak wajar untuk pengganti respon yaitu menghisap ibu jari.

A.     Penyesuaian Diri yang Positif
  Dalam kehidupan sehari – hari manusia selalu melakukan penyesuaian diri agar tercapai keseimbangan. Berhubung kebutuhan manusia sangat banyak dan terjadi dalam berbagai bidang. Wajarlah bila tidak semua penyesuaian berhasil secara positif. Penyesuaian yang positif :
1.      Tidak adanya  ketegangan emosi, bila individu menghadapi problema, emosinya tetap tenang, tidak panik, sehingga dalam memecahkan problem dengan menggunakan rasio dan emosinya terkendali.
2.  Dalam memecahkan masalah tidak menggunakan mekanisme psikologis baik defence mekanisme maupun escape mekanisme, melainkan berdasarkan pertimbangan rasional, mengarah dari masalah yang dihadapi secara langsung dengan segala akibatnya.
3.   Dalam memecahkan masalah bersikap realistis dan objektif. Bila seseorang menghadapi masalah segera dihadapi secara apa adanya, tidak ditunda – tunda. Adapun yang terjadi dihadapi secara wajar, tidak menjadi frustasi, konflik maupun kecemasan.
4.  Mampu belajar ilmu pengetahuan yang mendukung apa yang dihadapi sehingga dengan pengetahuan itu dapat digunakan menanggulangi timbulnya problema.
5.   Dalam menghadapi problem butuh kesanggupan membandingkan pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain. Pengalaman – pengalaman itu tidak sedikit sumbangannya dalam pemecahan problem.

B.     Penyesuaian Diri yang Negatif
Penyesuaian diri yang negatif adalah penyesuaian yang menyimpang dari realita :
1.      Yang bersangkutan tidak dapat mengendalikan emosinya. Bila menghadapi problem menjadi panik, sehingga tindakannya tidak sesuai dengan kenyataan.
2.      Menggunakan pertahanan diri yang berlebihan, karena berulang kali merupakan kebiasaan yang menyimpang dari kenyataan. Karena yang bersangkutan mengalami kegagalan dalam penyesuaian diri memungkinkan mengalami frustrasi, konflik maupun kecemasan atau kegoncangan lain.


II.                  Pertumbuhan Personal
Manusia  merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak serta merta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang.
Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat atau sosialpun terdapat norma-norma yang harus dipatuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.
Setiap individu memiliki naluri yang secara tidak langsung individu dapat memperhatikan hal-hal yang berada disekitarnya apakah  hal itu benar atau tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam  masyarakat yang memiliki suatu  norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang tidak disiplin yang dalam menerapkan aturan-aturannya maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang tidak disiplin, begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang cuek maka individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang cuek.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan individu:
A.     Faktor genetik
1.      Faktor keturunan — masa konsepsi 
2.      Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan 
3.      Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis  kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen. 
4.      Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
B.     Faktor eksternal / lingkungan
1.      Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan.
2.      Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.
Dari semua faktor-faktor  di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.

Victor Frankl dalam buku “Psikologi Pertumbuhan: Kepribadian Sehat untuk Mengembangkan Optimisme” karangan MIF Baihaqi menerangkan Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat.Salah satu konsep utama Frankl adalah hati nurani. Menurutnya, hati nurani adalah semacam spiritualitas alam bawah sadar, yang dikatakan oleh Freud. Hati nurani bukan hanya sekedar salah satu faktor di antara bermacam – macam faktor. Hati nurani adalah inti dari keberadaan manusia da merupakan sumber integritas personal manusia. “ Menjadi manusia adalah manjadi bertanggung jawab. Bertanggung jawab secara eksistensial, bertanggung jawab terhadap keberadaannya sendiri di atas dunia. Hati nurani adalah sesuatu yang sangat intuitif dan bersifat pribadi. Dia kembali pada seseorang yang riil yang berada pada situasi yang riil, dan tidak bisa direduksi menjadi sebatas ‘ hukum universal ‘. Hari nurani haruslah sesuatu yang hidup.
Bagi Frankl, hati nurani bisa bermakna tiga, yaitu:
(a) merupakan pemahaman diri yang bersifat prareflektif dan ontologis,
(b) merupakan kearifan hati,
(c) merupakan sesuatu yang lebih sensitive disbanding kesensitifan rasio.
Hati nurani itulah yang ‘ menghirup udara dan memberi makna pada hidup yang kita jalani.
Seperti halnya Erich Fromm, Frankl juga berpendapat bahwa binatang memiliki insting – insting yang membimbing mereka. Dalam masyarakat tradisional, manusia menukar insting hewani ini dengan tradisi – tradisi sosial. Pada saat sekarang, kita tidak memiliki tradisi itu lagi. Kita hanya berusaha menemukan tuntunan dalam bentuk kompromi – kompromi dan konvensi – konvensi. Tetapi, yang membuat kita kesulitan adalah kenyataan bahwa saat ini kita memiliki kebebasan dan tanggung jawab untuk menemukan sendiri pilihan hidup kita, untuk menemukan sendiri makna hidup kita.
Berbicara ‘ makna ‘, Frankl meyakini bahwa “…makna harus ditemukan, dan bukan diberikan oleh pihak lain “ kata dia, “ makna bagaikan tertawa”. Anda tidak akan bisa memaksa orang tertawa, anda harus memberikan mereka lawakan! Hal yang sama juga berlaku pada keimanan, harapan, dan cinta –semua ini tidak bisa ditawarkan oleh suatu kehendak, baik dari kita sendiri maupun oleh orang lain.
Makna kehidupan seharusnya ditemukan, bukan diciptakan. Makna ini memiliki realitas sendiri, tidak terikat dengan pikiran kita. Makna hidup bagaikan sebuah gambar, yang tampak, yang ada untuk dilihat. Makna hidup bukanlah citraan yang diciptakan imajinasi kita. Kita mungkin tidak akan selalu berhasil menangkap citraan –atau makna- tetapi hal itu tetap ada. Kata Frankl, makna adalah fenomena yang murni bersifat perseptual.
Tradisi natural dan nilai – nilai tradisional yang sebelumnya melekat pada kehidupan masyarakat, ternyata dengan cepat lenyap dari kehidupan manusia saat ini. Walau kenyataan ini sulit dihadapi, tapi itu bukan berarti akhir dari segala – galanya, karena makna tidak terikat dengan nilai – nilai masyarakat. Sebaliknya, setiap masyarakat hanya berusaha menyarikan kebermaknaan hidup ke dalam tata aturan dan norma – norma sosial mereka, sedangkan makna tetap merupakan milik setiap individu.
Oleh karena itu, Frankl menegaskan “ Manusia seharusnya dilengkapi dengan kemampuan mendengar dan mematuhi ribuan perintah dan aturan yang tersembunyi di balik ribuan situasi yang terdapat di dalam hidup yang menghadangnya.” Hal itu adalah tugas kita sebagai fisikawan, terapis, pendidik, untuk membantu orang lain mendewasakan hari nurani dan menemukan serta memenuhi makna kehidupan mereka masing – masing.
     Pendekatan Frankl Terhadap Kepribadian
Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti. Tentu saja ini merupakan kerangka dasar, karena di dalamnya segala sesuatu yang lain juga diatur. Pertama – tama, marilah kita membicarakan nama yang telah diberikan kepada sistemnya, yakni logoterapi ( logotheraphy ), diambil dari kata Yunani logos, yang bisa berarti pelajaran, kata, ruh, Tuhan, atau makna. Frankl lebih memilih ‘ makna ‘ atau ‘ arti ‘ ( meaning).
Pengertian logos sebagai ‘ makna’ inilah yang jadi titik tekan Frankl, walaupun pengertian – pengertian lainnya tidak terlalu berbeda jauh dengan apa yang dia maksudkan. Ketika membandingkan dirinya dengan psikiater – psikiater lain di Wina, seperti Freud dan Adler, dia mendaparkan jawaban sementara, bahwa :
·       Freud mempostulatkan ‘kehendak terhadap kesenangan’ sebagai sumber segala dorongan dalam diri manusia.
·         Adler mempostulatkan ‘kehendak untuk berkuasa’
·       Dia dengan logoterapinya mempostulatkan ‘kehendak untuk makna’ sebagai sumber utama motivasi manusia.
Frankl juga menggunakan kata Yunani lain, noos, yang berarti pikiran atau jiwa. Dalam psikologi tradisional, kita terlalu terfokus pada ‘psikodinamik’, yang mengganggap manusia selalu berusaha mengatasi dan mengurangi ketegangan psikologis mereka. Sedangkan menurut Frankl, kita seharusnya lebih memperhatikan noodinamik, dimana ketegangan manjadi unsur penting bagi keseimbangan dan kesehatan jiwa, setidaknya jika ketegangan tersebut memiliki arti tersendiri bagi seseorang. Bagaimanapun, orang tetap menginginkan adanya ketegangan ketika mereka berusaha mencapai tujuan.
     Kemudian logoterapi berbicara tentang ‘arti dari eksistensi manusia’ dan ‘kebutuhan manusia akan arti’, serta teknik – teknik terapeutis khusus untuk menemukan arti dalam kehidupan. Sebagaimana pembahasan pada bab – bab lain, di sini saya hanya memusatkan perhatian pada teori kepribadian, bukan pada teknik – teknik yang dipakai oleh ahli teori untuk mengubah kepribadian.
Seperti telah diketahui, logoterapi pada awalnya adalah suatu metode psikoterapi untuk menangani orang – orang yang kehidupannya kehilangana arti. Logoterapi lebih merupakan teknik daripada teori. Akan tetapi sesuatu yang tidak berdasakan teori tentang kodrat manusia dan filsafat kehidupan tidak dapat menjadi bentuk psikoterapi. Teori tentang ‘kodrat manusia’ yang berasal dari logoterapi dibangun atas tiga pilar, yaitu : kebebasan kemauan, kemauan akan arti, dan arti kehidupan.
Frankl sangat menantang pendirian – pendirian dalam psikologi dan psikiatri yang memberi ciri kepada kondisi manusia sebagai yang ditentukan oleh instink – instink biologis atau konflk – konflik masa kanak – kanak atau suatu kekuatan lain dari luar. Menurutnya, meskipun kita tunduk kepada kondisi – kondisi dari luar yang mempengaruhi kehidupan kita –seperti yang terjadi pada dirinya di Auschwitz- namun kita bebas memilih reaksi kita terhadap kondisi -  kondisi yang muncul. Kita tidak dapat bertahan terhadap kekuatan – kekuatan dari luar, karena kalau dibiarkan kekuatan – kekuatan tersebut dapat dan benar – benar mengubah keadaan kita. Karenanya, kita bebas mengambil sikap kita sendiri dalam menangani kekuatan – kekuatan itu. Hal demikian memberi kita kebebasan terakhir untuk mengatasi keadaan – keadaan dan nasib.
Pilar – pilar lain –yaitu kemauan akan arti dan arti kehidupan- adalah kebutuhan kita yang terus -  menerus mencari bukan diri kita, melainkan suatu arti untuk memberi suatu maksud bagi eksistensi kita. Semakin kita mampu mengatasi diri kita, misalnya mengarahkan diri kita kepada suatu tujuan; atau semakin kita mampu memberikan sesuatu kepada seseorang ; maka kita semakin menjadi manusia sepenuhnya. Ini menjadi kriteria terkhir untuk perkembangan kepribadian yang sehat, yaitu kita terbenam dalam seseorang atau suatu hal yang melampaui diri kita. Hanya dalam cara ini kita benar – benar manjadi diri kita.
Arti yang dicari oleh seseorang memerlukan tanggung jawab pribadi. Tidak ada orang atau sesuatu yang lain –apakah itu orangtua, partner, atau bangsa- dapat memberi pengertian tentang arti dan maksud dalam kehidupan seseorang. Tanggung jawab kitalah untuk menemukan cara kita sendiri dan tetap bertahan di dalamnya segera setelah ditemukan. Seperti yang dilakukan Frankl sendiri, kita harus manghadapi kondisi – kondisi eksistensi kita secara bertanggung jawab dan bebas menemukan dalam kondisi – kondisi itu suatu tujuan hidup. Kehidupan terus – menerus menantang seseorang dan respons kita tidak dapat dilakukan dengan berbicara atau berkontemplasi, melainkan dengan perbuatan – perbuatan, yang mengungkapkan dengan arti yang kita peroleh dalam kehidupan kita.
Seseorang yang kekurangan arti adalam kehidupannya merupakan suatu bentuk neurosis; dan kondisi ini dinamakan oleh Frankl sebagai no genic neurosis.  Inilah suatu keadaan yang bercirikan: ‘tanpa arti, tanpa maksud, tanpa tujuan, hidup hampa’. Frankl menulis tentang keadaan kawan – kawannya yang ada di dalam tahanan, “ Celakalah dia yang tidak lagi melihat arti dalam kehidupannya, tidak lagi melihat tujuan, tidak lagi melihat maksud, dan karena itu tidak ada sesuatu yang dibawa serta. Dia akan segera kehilangan ‘makna hidup’. Karena tidak merasa adanya kehidupan yang penuh dan gairah, maka orang semacam ini berada dalam ‘ kekosongan eksistensial’ ( existensial vacuum ), suatu kondisi yang menurut kayakinan Frankl adalah lumrah / lazim dalam zaman kita yang modern.
Perhatikanlah kehidupan orang – orang dalam kesehariannya. Banyak di antara meraka menderita kebosanan dan masa bodoh terhadap no genic neurosis sebagai akibat dari dua kondisi.
·         Kondisi pertama :
Ketika manusia berkembang dari pola kehidupan binatang yang lebih rendah, mereka kehilangan insting – insting alamiah yang menghubungkan mereka dengan alam. Karena hal ini telah membebaskan kita dari tekanan – tekanan tertentu, ini berarti bahwa tingkah laku seseorang tidak dibimbing oleh insting – instingnya; kita harus secara aktif memilih apa yang harus kita lakukan.
·         Kondisi kedua :
Pada akhir abad ke-20 kita memiliki beberapa adat kebiasaan, tradisi – tradisi, dan nilai – nilai untuk menentukan tingkah laku kita. Karana kekuatan – kekuatan agama yang teratur dan adat kebiasaan sosial menyusut, maka orang dibiarkan lebih bersandar pada dirinya sendiri. Kita dihadapkan pada membuat keputusan kita sendiri dan bertanggung jawab terhadap keputusan – keputusan tersebut.

Frankl menemukan bukti dari ‘kekosongan eksistensial’ secara besar – besaran dalam banyak kebudayaan, baik bangsa yang berdeologi kapitalis ( semacam Amerika ) maupun berdeologi komunis ( semacam Rusia, sebelum revolusi yang dilakukan oleh Presiden Gorbachev ). Dia percaya bahwa ‘ kekosongan eksistensial’ itu berkembang dengan pesat, khususnya di Negara maju seperti Amerika Serikat. Pemecahan Frenkl terhadap no genic neurosis yang berkembang pesat itu ialah dengan cara : kita masing – masing harus menemukan atau mendapat kembali pengetian yang sangat penting tentang arti dan maksud dalam kehidupan. Kalau tidak, seseorang anak menderita sakit jiwa.
Selanjutnya, logoterapi mengemukakan tiga cara bagaimana seseorang dapat memberi arti bagi kehidupan, yaitu :
(1) dengan memberi kepada dunia lewat suatu ciptaan,
(2) dengan sesuatu yang kita ambil dari dunia dalam pengalaman,
(3) dengan sikap yang kita ambil terhadap penderitaan.

1.      Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat
Hakikat dari eksistensi manusia terdiri dari tiga faktor, yaitu : spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab. Kemudian Frankl merinci tiga faktor eksistensi ini:
1)      Spiritualitas
Spiritualitas adalah suatu konsep yang sulit dirumuskan. Spiritualitas tidak dapat diredukasikan. Bahkan, spiritualitas tidak dapat diterangkan dengan istilah – istilah material. Meskipun spiritualitas dapat dipengaruhi oleh dunia material, namun ia ada tidak disebabkan atau dihasilkan oleh dunia material itu. Mungkin paling baik kita dapat memikirkannya sebagai roh atau jiwa.
2)      Kebebasan
Mengenai faktor kebebasan, kita tidak didikte oleh faktor – faktor nonspiritual, semacam insting, warisan nilai yang khusus, atau kondisi – kondisi dari lingkungan kita. Mengapa? Karena kita memiliki dan harus menggunakan kebebasan kita untuk memilih bagaimana kita akan bertingkah laku jika kita menjadi sehat secara psikologis. Orang – orang yang tidak mengalami kebebasan ini adalah mereka yang kadang – kadang berprasangka karena kepercayaan determinisme atau mereka yang sangat neurotis. Orang – orang neurotis akan menghambat pemenuhan potensi – potensi mereka sendiri, dengan demikian mengganggu perkembangan kemanusiaan mereka yang penuh.
3)      Tanggung Jawab
Seseorang tidak cukup hanya merasa bebas untuk memilih, tetapi harus juga menerima tanggung jawab terhadap pilihannya. Logoterapi memperingatkan kita akan tanggung jawab kita dengan cara ini, “ Hiduplah seolah – olah Anda hidup untuk kedua kalinya; dan bertindak salah untuk pertama kalinya, seolah – olah demikian Anda bertindak sekarang.” Frankl percaya bahwa jika kita berhadapan dengan situasi ini, kita akan tetap menyadari tanggung jawab berat yang kita miliki untuk setiap waktu, baik dalam hitungan jam, hari, ataupun minggu.
Orang – orang yang sehat akan memikul tanggung jawab ini, yang menggunakan waktu keseharian mereka dengan kegiatan – kegiatan manfaat, dengan penuh tanggung jawab, agar karya – karya meraka tetap berkembang, meskipun kodrat kehidupan manusia singkat dan fana.
Menurut Frankl, apabila kita mati sebelum kita selesai memahat bentuk kehidupan kita, apa yang telah kita kerjakan tidak mungkin ditiadakan. Suatu kehidupan yang penuh arti ditentukan oleh kualitasnya, bukan oleh usia yang panjang. Karya kehidupan yang disesuaikan dibandingkan dengan karya kehidupan yang dimulai dan diteruskan pada suatu tingkat yang lebih tinggi adalah kurang penting. Menurut Frankl, kadang  - kadang ‘karya – karya yang tidak selesai’ berada di antara simponi – simponi yang sangat indah.
Untuk mencapai dan menggunakan spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab tergantung pada kita. Tanpa ketiga – tiganya tidak mungkin seseorang menemukan arti dan maksud dalam  kehidupannya. Pilihan – pilihan benar – benar tergantung hanya pada kita saja.

2.      Dorongan Kepribadian yang Sehat
Jika Freud mendasarkan ‘kehendak terhadap kesenangan’ sebagai sumber segala dorongan, Adler mendasarkan ‘kehendak untuk berkuasa’, maka di dalam system Frankl ada satu dorongan yang dianggapnya fundamental, yaitu kemauan akan arti yang begitu kuat sampai mampu mengalahkan semua dorongan lain pada manusia. Kemauan akan arti sangat penting untuk kesehatan untuk kesehatan psikologis dalam situasi – situasi yang gawat ( seperti yang dihadapi Frankl di Auschwitz ), kemauan akan arti hidup perlu disadarkan bagi orang – orang yang menghadapi kegawatan sekedarnya supaya tetap hidup. Tanpa arti untuk kehidupan, tidak ada alasan untuk meneruskan kehidupan.
Arti kehidupan, tentu saja sungguh – sungguh istimewa, khas dan unik bagi setiap individu. Arti kehidupan berbeda dari satu orang yang satu dengan orang lain, dari momen yang satu dengan momen yang lain, dari kebersamaan orang di dalam seting / lingkungan tertentu dan seting lainnya. Tidak ada hal yang sedemikian rupa bahwa kemauan universal akan arti berlaku secara merata bagi semua manusia.
Jika tugas – tugas dari kehidupan seseorang individu adalah riil (nyata), maka demikian juga dengan arti kehidupan. Tugas – tugas yang dikerjakan seseorang –atau yang kita kerjakan untuk diri kita- akan membentuk nasib, dan hal ini tidak dapat dibandingkan dengnan tugas – tugas dari siapa saja yang lain. Situasi – situasi dimana kita menyadari kesanggupan kita atau situasi – situasi dimana kita berusaha memenuhi tugas – tugas kita, tidak pernah terulang berkali – keli. Kita tidak dapat bertemu dua kali situasi yang sama dalam cara yang sama, karena pengaruh dari pengalaman – pengalaman baru yang terjadi dalam periode di antara dua situasi.
Karena tugas – tugas yang dikerjakan seseorang dan nasib – nasib yang menimpa seseorang adalah unik –bagi setiap individu dan pada periode waktu tertentu- maka setiap orang harus menemukan caranya sendiri untuk memberikan respons. Hal ini sama juga jika kita harus menemukan arti kehidupan yang cocok untuk kita masing – masing. Apalagi kita berhadapan dengan sesuatu situasi yang berbeda untuk diberikan bagi kehidupan, seperti yang dilakukan Frankl ketika situasinya berubah –dari situasi seorang dokter ang aman dan terhormat menjadi orang yang ditawan bernomor 119 dan 104, di Auschwitz. Beberapa situasi menghendaki supaya kita secara aktif membentuk nasib kita, situasi – situasi lain menghendaki supaya kita menerimanya. Setiap situasi adalah baru dan membutuhkan suatu respons tertentu.
Meskipun dari pengamatanya terhadap berbagai pengalaman orang ada variasi dalam hal – hal tertentu yang memberi arti bagi kehidupan, namun Frankl tetap mempertahankan bahwa hanya ada satu jawaban terhadap setiap situasi. Masalahnya bagi kita ialah ‘bukanya situasi – situasi itu tidak mempunyai arti’ –karena semua situasi mempunyai arti- tetapi yang menjadi masalah adalah ‘bagaimana menemukan arti tersebut’.
Mencari arti dapat merupakan tugas yang membingunkan dan menantang, prosesnya berupa menambah dan bukan mereduksikan tegangan batin. Sesungguhnya, Frankl melihat peningkatan tegangan ini sebagai prasyarat untuk kesehatan psikologis. Suatu kehidupan tanpa tegangan, suatu kehidupan yang diarahkan kepada stabilitas dan keseimbangan tegangan batin, akan tersiksa dalam  no genic neurosis ; yang maknanya sepadan dengan ‘kehidupan ini kekurangan arti’. Suatu kepribadian yang sehat mengandung tingkat tegangan tertentu antara ‘apa yang telah dicapai atau diselesaikan’ dan ‘apa yang harus dicapai atau diselesaikan’, suatu jurang pemisah antara ‘siapa kita’ dan bagaimana ‘seharusnya kita’.
Bagi Frankl, jurang pemisah ini berarti bahwa orang – orang sehat selalu memperjuangkan tujuan yang memberikan arti bagi kehidupan. Orang – orang ini terus – menerus berhadapan dengan tantangan untuk memperoleh maksud baru yang harus dipenuhi. Perjuangan yang terus  - menerus ini menghasilkan kehidupan yang penuh semangat dan gembira. Kemungkinan lain –orang itu tidak berusaha mencari- menyebabkan suatu kekosongan eksistensi dan menyebabkan seseorang merasa bosan, masa bodoh, dan tanpa tujuan. Kehidupan tidak mempunyai arti; kita tidak mempunyai alasan untuk meneruskan kehidupan.
Frankl telah mengemukakan sebelumnya tiga cara bagaimana kita dapat memberi arti bagi kehidupan yakni:
(1) apa yang kita berikan bagi dunia berkenaan dengan suatu ciptaan,
(2) apa yang kita ambil dari dunia dalam pengalaman, dan
(3) sikap yang kita ambil terhadap penderitaan. Selanjutnya, Frankl membicarakan hal ini dalam topik yang umum, yakni nilai – nilai.
Nilai – nilai , seperti arti kehidupan yang dituju oleh nilai – nilai itu adalah untuk bagi setiap orang dan situasi. Nilai – nilai itu berubah – ubah dan fleksibel, supaya bisa menyesuaikan diri terhadap bermacam – macam situasi dimana kita menyadari kemampuan kita sendiri. Seseorang harus terus – menerus memilih salah satu nilai yang memberi arti bagi kehidupan dalam setiap situasi.
Menurut Frankl ada tiga system nilai yang fundamental yang berhubungan dengan tiga cara memberi arti kepada kehidupan, yaitu:
(1) nilai – nilai daya cipta atau kreatif
(2) nilai – nilai pengalaman
(3) nilai – nilai sikap.
(1)   Nilai – nilai daya cipta
Nilai daya cipta ini diwujudkan dalam aktivitas yang kreatif dan produktif. Biasanya hal ini berkenaan dengan suatu macam pekerjaan dan tuntutan ‘kerja kreatif’ dalam menangani pekerjaan itu. Namun demikian, nilai – nilai daya cipta dapat diungkapkan dalam semua bidang kehidupan. Sebuah arti diberikan kepada kehidupan melalui tindakan yang menciptakan suatu hasil yang kelihatan atau suatu ide yang tidak kelihatan, atau dengan melayani orang – orang lain yang merupakan suatu ungkapan individu.
Untuk memberikan gambaran pada contoh nilai daya cipta, kita bisa melihat bagaimana seniman I Nyoman Nuarte menata galeri Nu Art  di lingkungan Setra Duta Bandung secara harmonis. Dia melakukan penataan keseimbangan lingkungan antara tanah, tetumbuhan rumput, gemericik air, pepohonan pinus, dan lenggak – lenggok sungai, dengan karya – karya patung besi berukuran besar yang tersebar di taman galerinya. Sebuah daya cipta yang indah. Contoh lain adalah galeri seni di Bandung Utara semisal Selasar Sunaryo, yang memadukan kemiringan tebing dengan sebuah panggung berbentuk lingkaran di alam terbuka, musholla mini, café kopi, dan ruang pamer rupa ang sangat indah.
(2)   Nilai – nilai pengalaman
Jika nilai – nilai daya cipta menyangkut pemberian kepada dunia, maka nilai – nilai pengalaman menyangkut penerimaan dari dunia. Penerimaan ini dapat memberi arti sebanyak seperti kreativitas. Nilai – nilai pengalaman diungkapkan dengan menyerahkan diri sendiri kepada keindahan dalam dunia alam atau seni. Ada kemungkinan, seseorang memenuhi arti kehidupan dengan mengalami beberapa segi kehidupan secara intensif, walaupun individu tidak melakukan suatu tindakan yang positif.
Sebagai gambaran pada contoh nilai pengalaman ini, Frankl mencontohkan seorang pecinta musik yang memperhatikan pertunjukan muisk yang dicintainya. Misalkan saja, anda melihat composer Erwin Gautawa mengiringi Pagelaran Chrisye atau Pagelaran Ruth Sahanaya. Pada saat kemudian, Anda sungguh – sungguh hanyut dalam suatu bentuk keindahan tata musik yang memukau. Andai –kata ada seseorang menanyakan kepada Anda, ‘ apakah kehidupan anda mempunyai arti?’, Frankl percaya Anda akan menjawab,  bahwa “ hidup itu bermanfaat jika hanya mengalami momen estetis seperti ini. Karena meskipun hanya satu momen yang dibicarakan, namun kebesaran kehidupan itu diukur oleh kebesaran momen itu.”
Dengen contoh tersebut, Frankl ingin mengemukakan segi lain untuk arti kehidupan, yakni arti dapat ada pada saat – saat tertentu saja. Dengan kata lain, kita tidak dapat selalu menemukan arti dalam semua momen kehidupan. Akan tetapi, fakta bahwa arti dapat terjadi hanya secara sporadis, tidak mengurangi seluruh arti kehidupan. Frankl mengungkapkannya dengan sebuah kiasan, “ sama seperti tingginya suatu deretan pegunungan tidak dilukiskan dengan permukaan lembah – lembah, melainkan oleh puncak yang tinggi. Demikian juga kita melukiskan kepenuhan arti dari suatu kehidupan oleh puncaknya, bukan oleh lembah – lembahnya. Suatu momen puncak dari nilai pengalaman dapat mengisi seluruh kehidupan seseorang dengan arti.
Faktor yang menentukan rupanya bukan berapa banyak puncak yang kita capai atau berapa lama kita tinggal di tingkat tersebut, melainkan intensitas yang kita alami terhadap hal – hal yang kita miliki.
(3)   Nilai – nilai sikap
Untuk memberikan gambaran mengenai nilai – nilai sikap, Frankl percaya bahwa nasib kita yang objektif tidaklah menyenangkan secara terus – menerus, juga tidaklah mengecewakan secara terus – menerus, juga tidaklah mengcewakan secara terus – menerus; tetapi berganti – ganti. Situasi – situasi yang sangat buruk, yang menimbulkan keputusasaan dan tampaknya tidak ada harapan, dilihat Frankl sebagai situasi – situasi yang memberikan kita kesempatan yang sangat besar untuk menemukan arti. Situasi – situasi semacam itu sangat menuntut kita supaya arti dapat ditemukan.
Memang , nilai – nilai daya cipta dan nilai – nilai pengalaman sepertinya berbicara tentang beragam pengalaman menusia yang kaya, penuh inisiatif, positif, suatu kepenuhan hidup dengan menciptakan atau mengalami. Tetapi kehidupan tidak hanya mempertinggi derajat dan memperkaya pengalaman. Ada kenyataan lain, ada sisi lain, yaitu kekuatan – kekuatan dan peristiwa – peristiwa yang memaksa kehidupan kita : misalnya sakit, kecelakaan, bencana, kematian, atau semacam situasi yang dialimi Frankl di kamp Auschwitz. Bagaimana kita dapat menemukan arti dalam kondisi – kondisi negatif semacam itu, apabila tidak ada keindahan yang dialami atau tidak ada kesempatan untuk mengungkapkan daya cipta. Nah, disinilah kelompok nilai yang ketiga –yaitu nilai – nilai sikap- mulai berperan.
Frankl percaya, bahwa situasi – situasi yang menimbulkan nilai – nilai sikap ialah situasi – situasi di mana kita tak mampu untuk mengubahnya atau menghindarinya –karena kondisi – kondisi nasib yang tidak dapat diubah. Apabila kita berhadapan dengan situasi tersebut, satu – satunya cara yang rasional untuk memberikan respons kepadanya adalah menerimanya. Cara bagimana kita menarima nasib kita, keberanian kita dalam menahan penderitaan, keagungan yang kita perlihatkan ketika berhadapan dengan bencana; merupakan ujian dan ukuran yang terakhir dari pemenuhan kita sebagai manusia.
Dapatlah ditegaskan disini, dengan memasukkan nilai – nilai sikap sebagai cara memberi arti bagi kehidupan, sesungguhnya Frankl ingin memberi kita harapan bahwa kehidupan manusia meskipun dalam keadaan – keadaan gawat, masih dapat bercirikan arti dan maksud. Kehidupan seseorang dapat mengadung arti sampai momen kehidupan yang terakhir. Sejauh kita sadar, kita diwajibkan untuk menyadari nilai – nilai. Itulah tanggung jawab manusia yang tidak dapat dielkkan jika dia ingin memelihara kesehatan psikologis.

Sumber:

MIF Baihaqi. 2008. PSIKOLOGI PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme. Bandung: PT Remaja RosdaKarya

http://smileandsprit.blogspot.com/2011/03/penyesuaian-diri-pertumbuhan-personal.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar