I. Penyesuaian Diri &
Pertumbuhan
Proses Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri yang sempurna sulit
diwujudkan karena banyak faktor yang mempengaruhi sehingga seluruh kebutuhan
tidak dapat terealisasi. Penyesuaian diri merupakan suatu proses yang terjadi
sepanjang kehidupan (life long process). Manusia harus berusaha menemukan dan
mengatasi rintangan, tekanan dan tantangan untuk mencapai pribadi yang
seimbang. Respon penyesuaian diri selain berupa hal yang baik juga ada yang
buruk. Respon baik atau buruk untuk memelihara keseimbangan secara wajar.
Individu berusaha menjauhi ketegangan. Penyesuaian diri sebagai suatu proses
kea rah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dan eksternal. Contoh
bayi membutuhkan asi dan kasih saying. Kerana tak terpenuhi, bayi berusaha
mencari pemenuhan kebutuhan yang tidak wajar untuk pengganti respon yaitu
menghisap ibu jari.
A.
Penyesuaian
Diri yang Positif
Dalam
kehidupan sehari – hari manusia selalu melakukan penyesuaian diri agar tercapai
keseimbangan. Berhubung kebutuhan manusia sangat banyak dan terjadi dalam
berbagai bidang. Wajarlah bila tidak semua penyesuaian berhasil secara positif.
Penyesuaian yang positif :
1.
Tidak
adanya ketegangan emosi, bila individu
menghadapi problema, emosinya tetap tenang, tidak panik, sehingga dalam
memecahkan problem dengan menggunakan rasio dan emosinya terkendali.
2. Dalam
memecahkan masalah tidak menggunakan mekanisme psikologis baik defence
mekanisme maupun escape mekanisme, melainkan berdasarkan pertimbangan rasional,
mengarah dari masalah yang dihadapi secara langsung dengan segala akibatnya.
3. Dalam
memecahkan masalah bersikap realistis dan objektif. Bila seseorang menghadapi
masalah segera dihadapi secara apa adanya, tidak ditunda – tunda. Adapun yang
terjadi dihadapi secara wajar, tidak menjadi frustasi, konflik maupun
kecemasan.
4. Mampu
belajar ilmu pengetahuan yang mendukung apa yang dihadapi sehingga dengan
pengetahuan itu dapat digunakan menanggulangi timbulnya problema.
5. Dalam
menghadapi problem butuh kesanggupan membandingkan pengalaman diri sendiri
maupun pengalaman orang lain. Pengalaman – pengalaman itu tidak sedikit
sumbangannya dalam pemecahan problem.
B.
Penyesuaian
Diri yang Negatif
Penyesuaian diri yang negatif
adalah penyesuaian yang menyimpang dari realita :
1.
Yang
bersangkutan tidak dapat mengendalikan emosinya. Bila menghadapi problem
menjadi panik, sehingga tindakannya tidak sesuai dengan kenyataan.
2.
Menggunakan
pertahanan diri yang berlebihan, karena berulang kali merupakan kebiasaan yang
menyimpang dari kenyataan. Karena yang bersangkutan mengalami kegagalan dalam
penyesuaian diri memungkinkan mengalami frustrasi, konflik maupun kecemasan
atau kegoncangan lain.
II.
Pertumbuhan Personal
Manusia merupakan makhluk
individu. Manusia disebut sebagai individu apabila tingkah lakunya spesifik
atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan bertingkah laku secara umum atau
seperti orang lain. Jadi individu adalah seorang manusia yang tidak hanya
memiliki peranan-peranan yang khas dalam lingkup sosial tetapi mempunyai
kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap dirinya didalam lingkup sosial
tersebut. Kepribadian suatu individu tidak serta merta langsung terbentuk, akan
tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang
panjang.
Setiap individu pasti akan mengalami
pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang
sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan
kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat
mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah
kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga. Setiap
keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma
tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal individu. Bukan
hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat atau sosialpun terdapat
norma-norma yang harus dipatuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan
individu.
Setiap individu memiliki naluri yang
secara tidak langsung individu dapat memperhatikan hal-hal yang berada
disekitarnya apakah hal itu benar atau tidak, dan ketika suatu individu
berada di dalam masyarakat yang memiliki suatu norma-norma yang
berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan memberikan suatu pengaruh
dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang
tidak disiplin yang dalam menerapkan aturan-aturannya maka lama-kelamaan pasti
akan mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang tidak
disiplin, begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal suatu individu berada di
lingkup keluarga yang cuek maka individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi
yang cuek.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan individu:
A.
Faktor genetik
1. Faktor keturunan — masa konsepsi
2. Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang
kehidupan
3. Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis
kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa
keunikan psikologis seperti temperamen.
4. Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat
berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir
yang optimal.
B. Faktor
eksternal / lingkungan
1. Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi
sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi
bawaan.
2. Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan
tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.
Dari semua
faktor-faktor di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti
keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu.
Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat
menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.
Victor Frankl dalam buku
“Psikologi Pertumbuhan: Kepribadian Sehat untuk Mengembangkan Optimisme”
karangan MIF Baihaqi menerangkan Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat.Salah satu konsep utama Frankl
adalah hati nurani. Menurutnya, hati
nurani adalah semacam spiritualitas alam bawah sadar, yang dikatakan oleh
Freud. Hati nurani bukan hanya sekedar salah satu faktor di antara bermacam –
macam faktor. Hati nurani adalah inti dari keberadaan manusia da merupakan
sumber integritas personal manusia. “ Menjadi manusia adalah manjadi
bertanggung jawab. Bertanggung jawab secara eksistensial, bertanggung jawab
terhadap keberadaannya sendiri di atas dunia. Hati nurani adalah sesuatu yang
sangat intuitif dan bersifat pribadi. Dia kembali pada seseorang yang riil yang
berada pada situasi yang riil, dan tidak bisa direduksi menjadi sebatas ‘ hukum
universal ‘. Hari nurani haruslah sesuatu yang hidup.
Bagi Frankl, hati nurani bisa
bermakna tiga, yaitu:
(a) merupakan pemahaman diri yang
bersifat prareflektif dan ontologis,
(b) merupakan kearifan hati,
(c) merupakan sesuatu yang lebih
sensitive disbanding kesensitifan rasio.
Hati nurani itulah yang ‘
menghirup udara dan memberi makna pada hidup yang kita jalani.
Seperti halnya Erich Fromm,
Frankl juga berpendapat bahwa binatang memiliki insting – insting yang
membimbing mereka. Dalam masyarakat tradisional, manusia menukar insting hewani
ini dengan tradisi – tradisi sosial. Pada saat sekarang, kita tidak memiliki
tradisi itu lagi. Kita hanya berusaha menemukan tuntunan dalam bentuk kompromi
– kompromi dan konvensi – konvensi. Tetapi, yang membuat kita kesulitan adalah
kenyataan bahwa saat ini kita memiliki kebebasan dan tanggung jawab untuk
menemukan sendiri pilihan hidup kita, untuk menemukan sendiri makna hidup kita.
Berbicara ‘ makna ‘, Frankl
meyakini bahwa “…makna harus ditemukan, dan bukan diberikan oleh pihak lain “
kata dia, “ makna bagaikan tertawa”. Anda tidak akan bisa memaksa orang
tertawa, anda harus memberikan mereka lawakan! Hal yang sama juga berlaku pada
keimanan, harapan, dan cinta –semua ini tidak bisa ditawarkan oleh suatu
kehendak, baik dari kita sendiri maupun oleh orang lain.
Makna kehidupan seharusnya
ditemukan, bukan diciptakan. Makna ini memiliki realitas sendiri, tidak terikat
dengan pikiran kita. Makna hidup bagaikan sebuah gambar, yang tampak, yang ada untuk
dilihat. Makna hidup bukanlah citraan yang diciptakan imajinasi kita. Kita
mungkin tidak akan selalu berhasil menangkap citraan –atau makna- tetapi hal
itu tetap ada. Kata Frankl, makna adalah fenomena yang murni bersifat
perseptual.
Tradisi natural dan nilai – nilai
tradisional yang sebelumnya melekat pada kehidupan masyarakat, ternyata dengan
cepat lenyap dari kehidupan manusia saat ini. Walau kenyataan ini sulit
dihadapi, tapi itu bukan berarti akhir dari segala – galanya, karena makna
tidak terikat dengan nilai – nilai masyarakat. Sebaliknya, setiap masyarakat
hanya berusaha menyarikan kebermaknaan hidup ke dalam tata aturan dan norma –
norma sosial mereka, sedangkan makna tetap merupakan milik setiap individu.
Oleh karena itu, Frankl
menegaskan “ Manusia seharusnya dilengkapi dengan kemampuan mendengar dan
mematuhi ribuan perintah dan aturan yang tersembunyi di balik ribuan situasi
yang terdapat di dalam hidup yang menghadangnya.” Hal itu adalah tugas kita
sebagai fisikawan, terapis, pendidik, untuk membantu orang lain mendewasakan
hari nurani dan menemukan serta memenuhi makna kehidupan mereka masing –
masing.
Pendekatan
Frankl Terhadap Kepribadian
Pandangan
Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti. Tentu saja ini merupakan kerangka dasar, karena
di dalamnya segala sesuatu yang lain juga diatur. Pertama – tama, marilah kita
membicarakan nama yang telah diberikan kepada sistemnya, yakni logoterapi (
logotheraphy ), diambil dari kata Yunani logos,
yang bisa berarti pelajaran, kata, ruh,
Tuhan, atau makna. Frankl lebih memilih ‘ makna ‘ atau ‘ arti ‘ ( meaning).
Pengertian
logos sebagai ‘ makna’ inilah yang jadi titik tekan Frankl, walaupun pengertian
– pengertian lainnya tidak terlalu berbeda jauh dengan apa yang dia maksudkan.
Ketika membandingkan dirinya dengan psikiater – psikiater lain di Wina, seperti
Freud dan Adler, dia mendaparkan jawaban sementara, bahwa :
· Freud
mempostulatkan ‘kehendak terhadap kesenangan’ sebagai sumber segala dorongan
dalam diri manusia.
·
Adler
mempostulatkan ‘kehendak untuk berkuasa’
· Dia
dengan logoterapinya mempostulatkan ‘kehendak untuk makna’ sebagai sumber utama
motivasi manusia.
Frankl juga menggunakan kata
Yunani lain, noos, yang berarti
pikiran atau jiwa. Dalam psikologi tradisional, kita terlalu terfokus pada
‘psikodinamik’, yang mengganggap manusia selalu berusaha mengatasi dan
mengurangi ketegangan psikologis mereka. Sedangkan menurut Frankl, kita
seharusnya lebih memperhatikan noodinamik,
dimana ketegangan manjadi unsur penting bagi keseimbangan dan kesehatan
jiwa, setidaknya jika ketegangan tersebut memiliki arti tersendiri bagi
seseorang. Bagaimanapun, orang tetap menginginkan adanya ketegangan ketika
mereka berusaha mencapai tujuan.
Kemudian logoterapi berbicara tentang
‘arti dari eksistensi manusia’ dan ‘kebutuhan manusia akan arti’, serta teknik
– teknik terapeutis khusus untuk menemukan arti dalam kehidupan. Sebagaimana
pembahasan pada bab – bab lain, di sini saya hanya memusatkan perhatian pada
teori kepribadian, bukan pada teknik – teknik yang dipakai oleh ahli teori
untuk mengubah kepribadian.
Seperti telah diketahui,
logoterapi pada awalnya adalah suatu metode psikoterapi untuk menangani orang –
orang yang kehidupannya kehilangana arti. Logoterapi lebih merupakan teknik
daripada teori. Akan tetapi sesuatu yang tidak berdasakan teori tentang kodrat
manusia dan filsafat kehidupan tidak dapat menjadi bentuk psikoterapi. Teori
tentang ‘kodrat manusia’ yang berasal dari logoterapi dibangun atas tiga pilar,
yaitu : kebebasan kemauan, kemauan akan arti, dan arti kehidupan.
Frankl sangat menantang pendirian
– pendirian dalam psikologi dan psikiatri yang memberi ciri kepada kondisi
manusia sebagai yang ditentukan oleh instink – instink biologis atau konflk –
konflik masa kanak – kanak atau suatu kekuatan lain dari luar. Menurutnya,
meskipun kita tunduk kepada kondisi – kondisi dari luar yang mempengaruhi
kehidupan kita –seperti yang terjadi pada dirinya di Auschwitz- namun kita
bebas memilih reaksi kita terhadap kondisi -
kondisi yang muncul. Kita tidak dapat bertahan terhadap kekuatan –
kekuatan dari luar, karena kalau dibiarkan kekuatan – kekuatan tersebut dapat
dan benar – benar mengubah keadaan kita. Karenanya, kita bebas mengambil sikap
kita sendiri dalam menangani kekuatan – kekuatan itu. Hal demikian memberi kita
kebebasan terakhir untuk mengatasi keadaan – keadaan dan nasib.
Pilar – pilar lain –yaitu kemauan akan arti dan arti kehidupan- adalah kebutuhan kita
yang terus - menerus mencari bukan diri
kita, melainkan suatu arti untuk memberi suatu maksud bagi eksistensi kita.
Semakin kita mampu mengatasi diri kita, misalnya mengarahkan diri kita kepada
suatu tujuan; atau semakin kita mampu memberikan sesuatu kepada seseorang ;
maka kita semakin menjadi manusia sepenuhnya. Ini menjadi kriteria terkhir
untuk perkembangan kepribadian yang sehat, yaitu kita terbenam dalam seseorang
atau suatu hal yang melampaui diri kita. Hanya dalam cara ini kita benar –
benar manjadi diri kita.
Arti yang dicari oleh seseorang
memerlukan tanggung jawab pribadi. Tidak
ada orang atau sesuatu yang lain –apakah itu orangtua, partner, atau bangsa-
dapat memberi pengertian tentang arti dan maksud dalam kehidupan seseorang.
Tanggung jawab kitalah untuk menemukan cara kita sendiri dan tetap bertahan di
dalamnya segera setelah ditemukan. Seperti yang dilakukan Frankl sendiri, kita
harus manghadapi kondisi – kondisi eksistensi kita secara bertanggung jawab dan
bebas menemukan dalam kondisi – kondisi itu suatu tujuan hidup. Kehidupan terus
– menerus menantang seseorang dan respons kita tidak dapat dilakukan dengan
berbicara atau berkontemplasi, melainkan dengan perbuatan – perbuatan, yang
mengungkapkan dengan arti yang kita peroleh dalam kehidupan kita.
Seseorang yang kekurangan arti
adalam kehidupannya merupakan suatu bentuk neurosis; dan kondisi ini dinamakan
oleh Frankl sebagai no genic neurosis. Inilah suatu keadaan yang bercirikan: ‘tanpa
arti, tanpa maksud, tanpa tujuan, hidup hampa’. Frankl menulis tentang keadaan
kawan – kawannya yang ada di dalam tahanan, “ Celakalah dia yang tidak lagi
melihat arti dalam kehidupannya, tidak lagi melihat tujuan, tidak lagi melihat
maksud, dan karena itu tidak ada sesuatu yang dibawa serta. Dia akan segera
kehilangan ‘makna hidup’. Karena tidak merasa adanya kehidupan yang penuh dan
gairah, maka orang semacam ini berada dalam ‘ kekosongan eksistensial’ ( existensial vacuum ), suatu kondisi yang
menurut kayakinan Frankl adalah lumrah / lazim dalam zaman kita yang modern.
Perhatikanlah kehidupan orang –
orang dalam kesehariannya. Banyak di antara meraka menderita kebosanan dan masa
bodoh terhadap no genic neurosis sebagai
akibat dari dua kondisi.
·
Kondisi
pertama :
Ketika manusia berkembang dari
pola kehidupan binatang yang lebih rendah, mereka kehilangan insting – insting
alamiah yang menghubungkan mereka dengan alam. Karena hal ini telah membebaskan
kita dari tekanan – tekanan tertentu, ini berarti bahwa tingkah laku seseorang
tidak dibimbing oleh insting – instingnya; kita harus secara aktif memilih apa
yang harus kita lakukan.
·
Kondisi
kedua :
Pada akhir abad ke-20 kita
memiliki beberapa adat kebiasaan, tradisi – tradisi, dan nilai – nilai untuk
menentukan tingkah laku kita. Karana kekuatan – kekuatan agama yang teratur dan
adat kebiasaan sosial menyusut, maka orang dibiarkan lebih bersandar pada
dirinya sendiri. Kita dihadapkan pada membuat keputusan kita sendiri dan
bertanggung jawab terhadap keputusan – keputusan tersebut.
Frankl menemukan bukti dari
‘kekosongan eksistensial’ secara besar – besaran dalam banyak kebudayaan, baik
bangsa yang berdeologi kapitalis ( semacam Amerika ) maupun berdeologi komunis
( semacam Rusia, sebelum revolusi yang dilakukan oleh Presiden Gorbachev ). Dia
percaya bahwa ‘ kekosongan eksistensial’ itu berkembang dengan pesat, khususnya
di Negara maju seperti Amerika Serikat. Pemecahan Frenkl terhadap no genic neurosis yang berkembang pesat
itu ialah dengan cara : kita masing – masing harus menemukan atau mendapat
kembali pengetian yang sangat penting tentang arti dan maksud dalam kehidupan.
Kalau tidak, seseorang anak menderita sakit jiwa.
Selanjutnya, logoterapi
mengemukakan tiga cara bagaimana seseorang dapat memberi arti bagi kehidupan,
yaitu :
(1) dengan memberi kepada dunia
lewat suatu ciptaan,
(2) dengan sesuatu yang kita
ambil dari dunia dalam pengalaman,
(3) dengan sikap yang kita ambil
terhadap penderitaan.
1. Kodrat Eksistensi Manusia yang
Sehat
Hakikat dari eksistensi manusia
terdiri dari tiga faktor, yaitu : spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab.
Kemudian Frankl merinci tiga faktor eksistensi ini:
1) Spiritualitas
Spiritualitas adalah suatu konsep
yang sulit dirumuskan. Spiritualitas tidak dapat diredukasikan. Bahkan,
spiritualitas tidak dapat diterangkan dengan istilah – istilah material. Meskipun
spiritualitas dapat dipengaruhi oleh dunia material, namun ia ada tidak
disebabkan atau dihasilkan oleh dunia material itu. Mungkin paling baik kita
dapat memikirkannya sebagai roh atau jiwa.
2) Kebebasan
Mengenai faktor kebebasan, kita
tidak didikte oleh faktor – faktor nonspiritual, semacam insting, warisan nilai
yang khusus, atau kondisi – kondisi dari lingkungan kita. Mengapa? Karena kita
memiliki dan harus menggunakan kebebasan kita
untuk memilih bagaimana kita akan bertingkah laku jika kita menjadi sehat
secara psikologis. Orang – orang yang tidak mengalami kebebasan ini adalah
mereka yang kadang – kadang berprasangka karena kepercayaan determinisme atau
mereka yang sangat neurotis. Orang – orang neurotis akan menghambat pemenuhan
potensi – potensi mereka sendiri, dengan demikian mengganggu perkembangan
kemanusiaan mereka yang penuh.
3) Tanggung Jawab
Seseorang tidak cukup hanya
merasa bebas untuk memilih, tetapi harus juga menerima tanggung jawab terhadap pilihannya. Logoterapi memperingatkan kita
akan tanggung jawab kita dengan cara ini, “ Hiduplah seolah – olah Anda hidup
untuk kedua kalinya; dan bertindak salah untuk pertama kalinya, seolah – olah
demikian Anda bertindak sekarang.” Frankl percaya bahwa jika kita berhadapan
dengan situasi ini, kita akan tetap menyadari tanggung jawab berat yang kita
miliki untuk setiap waktu, baik dalam hitungan jam, hari, ataupun minggu.
Orang – orang yang sehat akan
memikul tanggung jawab ini, yang menggunakan waktu keseharian mereka dengan
kegiatan – kegiatan manfaat, dengan penuh tanggung jawab, agar karya – karya
meraka tetap berkembang, meskipun kodrat kehidupan manusia singkat dan fana.
Menurut Frankl, apabila kita mati
sebelum kita selesai memahat bentuk kehidupan kita, apa yang telah kita
kerjakan tidak mungkin ditiadakan. Suatu kehidupan yang penuh arti ditentukan
oleh kualitasnya, bukan oleh usia yang panjang. Karya kehidupan yang
disesuaikan dibandingkan dengan karya kehidupan yang dimulai dan diteruskan
pada suatu tingkat yang lebih tinggi adalah kurang penting. Menurut Frankl,
kadang - kadang ‘karya – karya yang
tidak selesai’ berada di antara simponi – simponi yang sangat indah.
Untuk mencapai dan menggunakan
spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab tergantung pada kita. Tanpa ketiga
– tiganya tidak mungkin seseorang menemukan arti dan maksud dalam kehidupannya. Pilihan – pilihan benar – benar
tergantung hanya pada kita saja.
2. Dorongan Kepribadian yang Sehat
Jika Freud mendasarkan ‘kehendak
terhadap kesenangan’ sebagai sumber segala dorongan, Adler mendasarkan
‘kehendak untuk berkuasa’, maka di dalam system Frankl ada satu dorongan yang
dianggapnya fundamental, yaitu kemauan
akan arti yang begitu kuat sampai mampu mengalahkan semua dorongan lain
pada manusia. Kemauan akan arti sangat penting untuk kesehatan untuk kesehatan
psikologis dalam situasi – situasi yang gawat ( seperti yang dihadapi Frankl di
Auschwitz ), kemauan akan arti hidup perlu disadarkan bagi orang – orang yang
menghadapi kegawatan sekedarnya supaya tetap hidup. Tanpa arti untuk kehidupan,
tidak ada alasan untuk meneruskan kehidupan.
Arti kehidupan, tentu saja
sungguh – sungguh istimewa, khas dan unik bagi setiap individu. Arti kehidupan
berbeda dari satu orang yang satu dengan orang lain, dari momen yang satu
dengan momen yang lain, dari kebersamaan orang di dalam seting / lingkungan
tertentu dan seting lainnya. Tidak ada hal yang sedemikian rupa bahwa kemauan
universal akan arti berlaku secara merata bagi semua manusia.
Jika tugas – tugas dari kehidupan
seseorang individu adalah riil (nyata), maka demikian juga dengan arti
kehidupan. Tugas – tugas yang dikerjakan seseorang –atau yang kita kerjakan
untuk diri kita- akan membentuk nasib, dan hal ini tidak dapat dibandingkan
dengnan tugas – tugas dari siapa saja yang lain. Situasi – situasi dimana kita
menyadari kesanggupan kita atau situasi – situasi dimana kita berusaha memenuhi
tugas – tugas kita, tidak pernah terulang berkali – keli. Kita tidak dapat
bertemu dua kali situasi yang sama dalam cara yang sama, karena pengaruh dari
pengalaman – pengalaman baru yang terjadi dalam periode di antara dua situasi.
Karena tugas – tugas yang
dikerjakan seseorang dan nasib – nasib yang menimpa seseorang adalah unik –bagi
setiap individu dan pada periode waktu tertentu- maka setiap orang harus
menemukan caranya sendiri untuk memberikan respons. Hal ini sama juga jika kita
harus menemukan arti kehidupan yang cocok untuk kita masing – masing. Apalagi
kita berhadapan dengan sesuatu situasi yang berbeda untuk diberikan bagi
kehidupan, seperti yang dilakukan Frankl ketika situasinya berubah –dari
situasi seorang dokter ang aman dan terhormat menjadi orang yang ditawan
bernomor 119 dan 104, di Auschwitz. Beberapa situasi menghendaki supaya kita
secara aktif membentuk nasib kita, situasi – situasi lain menghendaki supaya
kita menerimanya. Setiap situasi adalah baru dan membutuhkan suatu respons
tertentu.
Meskipun dari pengamatanya
terhadap berbagai pengalaman orang ada variasi dalam hal – hal tertentu yang
memberi arti bagi kehidupan, namun Frankl tetap mempertahankan bahwa hanya ada
satu jawaban terhadap setiap situasi. Masalahnya bagi kita ialah ‘bukanya
situasi – situasi itu tidak mempunyai arti’ –karena semua situasi mempunyai
arti- tetapi yang menjadi masalah adalah ‘bagaimana menemukan arti tersebut’.
Mencari arti dapat merupakan tugas yang
membingunkan dan menantang, prosesnya berupa menambah dan bukan mereduksikan
tegangan batin. Sesungguhnya, Frankl melihat peningkatan tegangan ini sebagai
prasyarat untuk kesehatan psikologis. Suatu kehidupan tanpa tegangan, suatu
kehidupan yang diarahkan kepada stabilitas dan keseimbangan tegangan batin,
akan tersiksa dalam no genic neurosis ; yang maknanya sepadan
dengan ‘kehidupan ini kekurangan arti’. Suatu kepribadian yang sehat mengandung
tingkat tegangan tertentu antara ‘apa yang telah dicapai atau diselesaikan’ dan
‘apa yang harus dicapai atau diselesaikan’, suatu jurang pemisah antara ‘siapa
kita’ dan bagaimana ‘seharusnya kita’.
Bagi Frankl, jurang pemisah ini
berarti bahwa orang – orang sehat selalu memperjuangkan tujuan yang memberikan
arti bagi kehidupan. Orang – orang ini terus – menerus berhadapan dengan
tantangan untuk memperoleh maksud baru yang harus dipenuhi. Perjuangan yang
terus - menerus ini menghasilkan kehidupan
yang penuh semangat dan gembira. Kemungkinan lain –orang itu tidak berusaha
mencari- menyebabkan suatu kekosongan eksistensi dan menyebabkan seseorang
merasa bosan, masa bodoh, dan tanpa tujuan. Kehidupan tidak mempunyai arti;
kita tidak mempunyai alasan untuk meneruskan kehidupan.
Frankl telah mengemukakan
sebelumnya tiga cara bagaimana kita dapat memberi arti bagi kehidupan yakni:
(1) apa yang kita berikan bagi
dunia berkenaan dengan suatu ciptaan,
(2) apa yang kita ambil dari
dunia dalam pengalaman, dan
(3) sikap yang kita ambil
terhadap penderitaan. Selanjutnya, Frankl membicarakan hal ini dalam topik yang
umum, yakni nilai – nilai.
Nilai – nilai , seperti arti kehidupan yang
dituju oleh nilai – nilai itu adalah untuk bagi setiap orang dan situasi. Nilai
– nilai itu berubah – ubah dan fleksibel, supaya bisa menyesuaikan diri
terhadap bermacam – macam situasi dimana kita menyadari kemampuan kita sendiri.
Seseorang harus terus – menerus memilih salah satu nilai yang memberi arti bagi
kehidupan dalam setiap situasi.
Menurut Frankl ada tiga system
nilai yang fundamental yang berhubungan dengan tiga cara memberi arti kepada
kehidupan, yaitu:
(1) nilai – nilai daya cipta atau
kreatif
(2) nilai – nilai pengalaman
(3) nilai – nilai sikap.
(1) Nilai
– nilai daya cipta
Nilai daya cipta ini diwujudkan
dalam aktivitas yang kreatif dan produktif. Biasanya hal ini berkenaan dengan
suatu macam pekerjaan dan tuntutan ‘kerja kreatif’ dalam menangani pekerjaan
itu. Namun demikian, nilai – nilai daya cipta dapat diungkapkan dalam semua
bidang kehidupan. Sebuah arti diberikan kepada kehidupan melalui tindakan yang
menciptakan suatu hasil yang kelihatan atau suatu ide yang tidak kelihatan,
atau dengan melayani orang – orang lain yang merupakan suatu ungkapan individu.
Untuk memberikan gambaran pada
contoh nilai daya cipta, kita bisa melihat bagaimana seniman I Nyoman Nuarte
menata galeri Nu Art di lingkungan Setra Duta Bandung secara
harmonis. Dia melakukan penataan keseimbangan lingkungan antara tanah,
tetumbuhan rumput, gemericik air, pepohonan pinus, dan lenggak – lenggok
sungai, dengan karya – karya patung besi berukuran besar yang tersebar di taman
galerinya. Sebuah daya cipta yang indah. Contoh lain adalah galeri seni di
Bandung Utara semisal Selasar Sunaryo, yang
memadukan kemiringan tebing dengan sebuah panggung berbentuk lingkaran di alam
terbuka, musholla mini, café kopi, dan ruang pamer rupa ang sangat indah.
(2) Nilai – nilai pengalaman
Jika nilai – nilai daya cipta
menyangkut pemberian kepada dunia, maka nilai – nilai pengalaman menyangkut
penerimaan dari dunia. Penerimaan ini dapat memberi arti sebanyak seperti
kreativitas. Nilai – nilai pengalaman diungkapkan dengan menyerahkan diri
sendiri kepada keindahan dalam dunia alam atau seni. Ada kemungkinan, seseorang
memenuhi arti kehidupan dengan mengalami beberapa segi kehidupan secara
intensif, walaupun individu tidak melakukan suatu tindakan yang positif.
Sebagai gambaran pada contoh
nilai pengalaman ini, Frankl mencontohkan seorang pecinta musik yang
memperhatikan pertunjukan muisk yang dicintainya. Misalkan saja, anda melihat
composer Erwin Gautawa mengiringi Pagelaran Chrisye atau Pagelaran Ruth
Sahanaya. Pada saat kemudian, Anda sungguh – sungguh hanyut dalam suatu bentuk
keindahan tata musik yang memukau. Andai –kata ada seseorang menanyakan kepada
Anda, ‘ apakah kehidupan anda mempunyai arti?’, Frankl percaya Anda akan
menjawab, bahwa “ hidup itu bermanfaat
jika hanya mengalami momen estetis seperti ini. Karena meskipun hanya satu
momen yang dibicarakan, namun kebesaran kehidupan itu diukur oleh kebesaran momen
itu.”
Dengen contoh tersebut, Frankl
ingin mengemukakan segi lain untuk arti kehidupan, yakni arti dapat ada pada
saat – saat tertentu saja. Dengan kata lain, kita tidak dapat selalu menemukan
arti dalam semua momen kehidupan. Akan tetapi, fakta bahwa arti dapat terjadi
hanya secara sporadis, tidak mengurangi seluruh arti kehidupan. Frankl
mengungkapkannya dengan sebuah kiasan, “ sama seperti tingginya suatu deretan
pegunungan tidak dilukiskan dengan permukaan lembah – lembah, melainkan oleh
puncak yang tinggi. Demikian juga kita melukiskan kepenuhan arti dari suatu
kehidupan oleh puncaknya, bukan oleh lembah – lembahnya. Suatu momen puncak
dari nilai pengalaman dapat mengisi seluruh kehidupan seseorang dengan arti.
Faktor yang menentukan rupanya
bukan berapa banyak puncak yang kita capai atau berapa lama kita tinggal di
tingkat tersebut, melainkan intensitas yang kita alami terhadap hal – hal yang
kita miliki.
(3) Nilai – nilai sikap
Untuk memberikan gambaran
mengenai nilai – nilai sikap, Frankl percaya bahwa nasib kita yang objektif
tidaklah menyenangkan secara terus – menerus, juga tidaklah mengecewakan secara
terus – menerus, juga tidaklah mengcewakan secara terus – menerus; tetapi
berganti – ganti. Situasi – situasi yang sangat buruk, yang menimbulkan keputusasaan
dan tampaknya tidak ada harapan, dilihat Frankl sebagai situasi – situasi yang
memberikan kita kesempatan yang sangat besar untuk menemukan arti. Situasi –
situasi semacam itu sangat menuntut kita supaya arti dapat ditemukan.
Memang , nilai – nilai daya cipta
dan nilai – nilai pengalaman sepertinya berbicara tentang beragam pengalaman
menusia yang kaya, penuh inisiatif, positif, suatu kepenuhan hidup dengan
menciptakan atau mengalami. Tetapi kehidupan tidak hanya mempertinggi derajat
dan memperkaya pengalaman. Ada kenyataan lain, ada sisi lain, yaitu kekuatan –
kekuatan dan peristiwa – peristiwa yang memaksa kehidupan kita : misalnya
sakit, kecelakaan, bencana, kematian, atau semacam situasi yang dialimi Frankl
di kamp Auschwitz. Bagaimana kita dapat menemukan arti dalam kondisi – kondisi
negatif semacam itu, apabila tidak ada keindahan yang dialami atau tidak ada
kesempatan untuk mengungkapkan daya cipta. Nah, disinilah kelompok nilai yang
ketiga –yaitu nilai – nilai sikap- mulai berperan.
Frankl percaya, bahwa situasi –
situasi yang menimbulkan nilai – nilai sikap ialah situasi – situasi di mana
kita tak mampu untuk mengubahnya atau menghindarinya –karena kondisi – kondisi
nasib yang tidak dapat diubah. Apabila kita berhadapan dengan situasi tersebut,
satu – satunya cara yang rasional untuk memberikan respons kepadanya adalah
menerimanya. Cara bagimana kita menarima nasib kita, keberanian kita dalam
menahan penderitaan, keagungan yang kita perlihatkan ketika berhadapan dengan
bencana; merupakan ujian dan ukuran yang terakhir dari pemenuhan kita sebagai
manusia.
Dapatlah ditegaskan disini,
dengan memasukkan nilai – nilai sikap
sebagai cara memberi arti bagi kehidupan, sesungguhnya Frankl ingin memberi
kita harapan bahwa kehidupan manusia meskipun dalam keadaan – keadaan gawat,
masih dapat bercirikan arti dan maksud. Kehidupan seseorang dapat mengadung
arti sampai momen kehidupan yang terakhir. Sejauh kita sadar, kita diwajibkan
untuk menyadari nilai – nilai. Itulah tanggung jawab manusia yang tidak dapat
dielkkan jika dia ingin memelihara kesehatan psikologis.
Sumber:
MIF Baihaqi. 2008. PSIKOLOGI
PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme. Bandung: PT Remaja
RosdaKarya
http://smileandsprit.blogspot.com/2011/03/penyesuaian-diri-pertumbuhan-personal.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar