Jumat, 29 Maret 2013

Tugas Kesehatan Mental I




I.          Memahami Konsep Sehat
Sebagai makhluk hidup manusia memiliki kesamaan dengan makhluk hidup lainnya, yakni lahir, tumbuh, berkembang, mengalami dinamika stabil – labil, sehat – sakit, normal – abnormal dan berkhir dengan kematian. Berbeda dengan hewan, manusia adalah makhluk yang bisa menjadi subjek dan objek sekalligus, oleh karena itu manusia selalu tertarik untuk membicarakan, menganalisa dan melakukan hal – hal yang diperlukan  diri sendiri. Sebagian besar ilmu pengetahuan dan teknologi yang disusun dan dibangun oleh manusia adalah untuk kepentingan diri manusia itu sendiri, menyangkut kesehatannya, kenyamanannya, kesejahteraannya dan semua hal yang dipandang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Meski demikian, banyak hal yang dilakukan oleh manusia menjadi semakin tidak sehat dan tidak nyaman dalam hidupnya.
Sehari – hari kita menggunakan istilah sehat wal afiat untuk menyebut kondisi kesehatan yang prima, tetapi jika kita merujuk kepada asal istilah itu yakni “ as shihhah waal ‘afiyah “ di situ ada dua dimensi pengertian. Kata ‘sehat’ merujuk pada fungsi, sedangkan kata ‘afiat’ merujuk kepada kesesuaian dengan maksud penciptaan. Mata yang sehat adalah mata yang dapat digunakan untuk melihat tanpa alat bantu, sedangkan mata yang afiat adalah mata yang tidak bisa digunakan untuk melihat sesuatu yang dilarang melihatnya, misalnya ngintip orang mandi, karena maksud Tuhan menciptakan mata adalah sebagai petunjuk pada kebenaran, membedakannya dari yang salah. Tangan yang sehat adalah tangan yang mudah digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang halal, sedangkan tangan yang afiat adalah tangan yang tidak bisa digunakan untuk mengerjakan melakukan sesuatu yang diharamkan, karena maksud diciptakan tangan oleh Tuhan adalah untuk berbuat baik dan mencegah kejahatan (Zulkifli Yunus, 1994: 57)
Kita bukan hanya mengenal kesehatan tubuh, tetapi juga ada kesehatan mental dan bahkan kesehatan masyarakat. Jika kita menengok bangsa kita sekarang, nampaknya bangsa ini memang sedang tidak sehat dan juga tidak afiat. Akibatnya banyak hal menjadi tidak berfungsi. Jika kita sakit gigi, maka kita pergi dokter gigi, jika sakit perut kita pergi ke dokter penyakit dalam. Nah problemnya ada orang yang secara fisik ia sehat tetapi ia mengalami gangguan sehingga fisiknya pun kurang berfungsi. Secara medik ia sehat, tetapi ia merasa tidak sehat sehingga ia tidak bisa berfikir, tidak bisa konsentrasi, tidak bisa tidur. Ada orang penyandang cacat tetapi pikirannya jenih, gagasannya cemerlang dan ia ceria manjalani hidupnya, sementara ada orang yang secara fisik sehat dan memiliki semua kebutuhan fasilitas tetapi justru pikirannya kacau, tindakannya juga kacau, dan ia tidak bisa menikmati hidup ini.
Sering kita mendengar ungkapan bahwa orang itu yang penting hatinya, yang penting jiwanya. Dalam perspektif ini, hakikat manusia adalah jiwanya. Orang gila secara fisiknya adalah manusia, tetapi ia sudah tidak diperhitungkan karena jiwanya sakit ( tidak berfungsi ). Di maki – maki orang gila, orang tidak tersinggung, karena jika tersinggung apalagi membalas maka itu menunjukkan serumpun. Orang gila tidak menyadari sakitnya, tetapi orang yang mengalami gangguan kejiwaan, ia menyadari jiwanya sedang terganggu. Orang gila tak bisa berpikir mengenai dirinya, sedangkan orang yang terganggu kejiwaannya justru selalu berpikir dan bertanya, mengapa aku begini. Dari ini, maka kita mengenal ada rumah sakit umum, rumah sakit jiwa dan lembaga pembimbing mental atau konseling ( El Qudsy 1989: 45).
Sumber:         
Kholil Lur Rochman, S.Ag, M.S.I. 2010. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Fajar Media Press

II.        SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
            Dalam sejarah kehidupan manusia telah dipaparkan tentang kehidupan manusia itu dalam berhubungan dengan dunia sekitarnya. Sebenarnya tersirat pula pembicaraan tentang usaha itu dalam mempertahankan keharmonisannya dalam kehidupan ini. Jadi, sebenarnya sejak dulu kala usaha untuk mewujudkan keharmonisan/keseimbangan kehidupan ini telah ada, hanya bentuknya belum sistematis dan masih sederhana. Mental hygiene disebut juga ilmu kesehatan mental merupakan ilmu pengtahuan yang masih muda. Dulu orang berpendapat gangguan keseimbangan/keharmonisan mental itu disebabkan oleh gangguan roh – roh jahat. Maka usaha penyembuhan terhadap penderita itu dengan jalan mengusir roh – roh jahat tersebut. Caranya dengan memukuli penderita agar supaya roh – roh jahat itu pergi, dengan demikian ia akan sehat kembali. Kemudian timbul usaha kemanusiaan untuk mestudentsite gunadarmangadakan perbaikan/tindakan dalam penyembahan dan pemeliharaan baik penderita gangguan mental maupun terhadap penderita penyakit mental itu. Dorothe Dix (Amerika) seorang wanita sebagai tokoh abad 19 usahanya ialah mengadakan perbaikan kondisi rumah sakit jiwa di Amerika maupun di Eropa. Banyak usahanya yang dijadikan dasar – dasar aktivitas dalam Mental Hygiene, Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Ia penah menderita sakit mental selama 2 tahun dan dirawat di rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri siksaan dan perlakuan yang keras terhadap penderita itu berdasarkan pengalamannya yaitu cara penyembuhan atau pengobatan terhadap penderita, iapun lalu menulis buku yang berjudul: “A mind that found it self”. Beers mengecam terhadap tindakan yang kurang berperikemanusiaan serta menyarankan program – program perbaikan definitive dalam cara – cara penyembuhan serta pemeliharaan terhadap penderita. Ia yakin bahwa penyakit dan gangguan mental dapat disembukan. Maka ia menyusun program nasional sebagai berikut :
1.      Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan terhadap penderita mental,
2.      Kampanye memberikan informasi agar orang – orang bersikap intelligent dan human terhadap penderita.
3.      Memperbanyak research dan menyelidiki sebab – sebab timbulnya penyakit mental beserta terapinya.
4.      Memperbesar usaha educative dan memberi penerangan untuk mencegah timbulnya gangguan maupun penyakit mental.
Adolf Meyer (psychiater) berdasarkan saran Beers, membantu perkembangan gerakan usaha kesehatan mental. Dialah yang mengmukakan istilah “Mental Hygiene”. Di Amerika pada tahun 1908 terbentuk suatu organisasi “ Connectitude Society for Mental Hygiene “. Pada tahun 1909 berdirilah “ The National Committee for Mental Hygiene”. Di Inggris pada tahun 1842 berdirilah organisasi “ The Society for Improving the Condition of the Insane”. Pada tahun 1880 berdirilah pula “The National Association for the Protection of Insane and The Prevention of Insanity”. Akibat perang dunia I dan II banyak terdapat penderita “war neurosis” di kalangan anggota militer, sehingga gerakan Mental Hygiene makin besar usahanya mencari metode yang efisien utnuk mencegah gangguan mental serta mengadakan pembaharuan dalam metode – metode penyembuhan. Maka gerakan mental hygiene itu nampak maju dengan pesat. Mula – mula untuk usaha itu merupakan dorongan untuk menolong penderita mental tapi kemudian meluas memberikan pertolongan kepada siapa saja yang memerlukan pertolongan.
Usaha tersebut meliputi seluruh pribadi seseorang sehingga dasar mempelajari membutuhkan bantuan pengetahuan – pengetahuan lain , antara lain : psychology umum, psychology khusus, sosiologi, psikologi, ilmu kesehatan, teori – teori kepribadian, psychology abnormal, psikologi penyesuaian, beserta metode – metode penyelidikan dan sebagainya. Pada tahun 1909, gerakan penyuluhan dan bimbingan yang dipelopori oleh Frank Parsons. Usahanya ditujukan untuk menolong mengembalikan orang – orang yang terlantar dan kehilangan perkerjaan akibat peperangan, selain itu juga kehilangan kepercayaan pada diri sendiri sehingga mereka tidak dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat yang normal. Perhatian persons terutama ditunjukan terhadap anak – anak yang tidak mempunyai pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Usaha itu disebut : Bimbingan Jabatan (Vocation Guidance) dan akhirnya meluas ke dalam berbagai bidang.
Dr. William Healy (Dokter dari Institute anak – anak Psychopath diChicago). Berusaha agar supaya anak – anak jangan sampai mengalami kesukaran di dalam perkembangan. Menurut dia banyaknya gangguan keseimbangan mental berpangkal kehidupan masa kanak – kanak yang tidak memuaskan atau kurangnya perhatian orang tuanya. Dr. Healy mengusahakan  menolong anak – anak untuk mengatasi problem – problemnya. Menyadarkan orang – orang tua dan calon – calon orang tua bagaimanakah sikap dan cara – cara menghadapi anak – anak sebaik – baiknya (segi preventive). Kemudian usaha Mental Hygiene ini memberi penyuluhan dan bimbingan di lapangan pendidikan di sekolah. Ternyata bahwa kegagalan pendidikan merupakan gangguan perkembangan, berarti gangguan keseimbangan. Drop-out dapat menyebabkan anak manjadi nakal, sebab tidak mendapatkan pemecahan yang tepat. Selanjutnya, usaha ini meluas di bidang – bidang lain. Antara lain bidang industry, pengadilan perdagangan, keagamaan, militer, pemerintah dan sebagainya.
Usaha – usaha tersebut di atas dengan jalan memperhatikan kesejahteraan para anggota atau warganya hingga menimbulkan suasana kerjasama yang baik dan kehidupan bersama yang menyenangkan. Setidak – tidaknya memudahkan pemecahan problem dalam interaksi bersama. Pada tahun 1930 Mental Hygiene mengadakan kongres pertama di Washington D.C tahun 1946 Presiden Amerika Serikat menandatangani undang – undang : “The National Mental Health Act” untuk memajukan kesejahteraan mental rakyat Amerika. Disediakan budget untuk mendirikan “National Institute of Mental Health”. Organisasi – organisasi internasional yang ikut menyelenggarakan program mental hygine antara lain :
  1. W.H.O (World Health Organization) organisasi ini memberi informasi dan penyuluhan – penyuluhan mengenai kesehatan mental kepada segenap anggota UNO (PBB). Mengadakan pengawasan terhadap alkoholisme, pencegahan criminal dan delinquency.
  2. UNESCO (the United Nation Educational Scientific and Cultural Organization). Merupakan biro ada UNO (PBB) untuk menstimulir penukaran masalah informasi kebudayaan antar bangsa. Di dalamnya terdapat satu department yang mengurusi masalah sosial yang mempelajari sebab perang, serta prektik – prektik perwujudan kesehatan mental.
  3. WFMH (World Federation for Mental Health). Didirikan pada tahun 1948. Antara the international committee for mental hygiene dengan the british association for mental health, merupakan kelompok non Govermental Health Agencies membantu kesehatan di dunia.
Di Indonesia masalah mental hygiene ini menjadi salah satu proyek bagi department kesehatan, bekerjasama dengan instansi lain negeri maupun swasta. Misalnya BKKBN, rumah sakit,LSM, dan lain – lainnya.

 Sumber:        
Siti Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta

III.       Pendekatan Kesehatan Mental

  1. Orientasi Klasik
Orientasi klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental.

  1. Orientasi Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri alih  bahasa dari adjustment, yang dilakukan menusia sepanjang hayat. Karena pada dasarnya manusia ingin mempertahankan eksistensinya. Sejak lahir berusaha memenuhi kebutuhannya yaitu kebutuhan fisik, psikis, dan sosial.  Pemenuhan kebutuhan itu kerena adanya dorongan – dorongan yang mengharapkan pemuasan. Bila pemuasan tercapai individu tersebut memperoleh keseimbangan. Sejak kecil individu belajar bertingkah laku, tingkah laku yang berhasil dalam memenuhi kebutuhannya seperti dapat menyesuaikan diri dan mengalami keseimbangan. Sebagaimana dikemukakan Lazarus (1961), adjustment insolves a reaction of the person to demand imposed upon him. Maka, penyesuaian diri termasuk reaksi seseorang karena adanya tuntutan yang dibebankan pada dirinya. Demikian pulan pendapat Thorndike dan Hogen yang disitir oleh Mustafa Fahmi (1977) sebagai berikut : penyesuaian diri merupakan kemampuan individu untuk mrmdapatkan ketenteraman secara internal dan hubunganna dengan dunia sekitarnya. Uraian tersebut, bila tak ada reaksi terasa ada beban dan tidak mendapat ketenteraman batin. Maka, dapat disimpulkan: penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk bereaksi tuntutan dalam memenuhi dorongan / kebutuhan dan mencapai  ketenteraman batin dalam hubungannya dengan sekitar.
            Penyesuaian diri yang berhasil menurut Winarna Surachmad (dalam siti sundari,1986):
1.      Bilamana dengan sempurna memenuhi kebutuhan, tanpa melebihi yang satu dan mengurangi yang lain.
2.       Bilamana tidak menggangu manusia lain dalam mamenuhi kebutuhan yang sejenisnya.
3.     Bilamana bertanggung jawab terhadap masyarakat dimana ia berada (saling menolong secara positif).
            Penyesuaian diri sebagai usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada dirinya dan 
            lingkungannya.      Memenuhi kebutuhan yang orang lain yang memerlukan.
              Macam – macam penyesuaian diri:
1.      Penyesuaian terhadap keluarga/ family adjustment
Keluarga merupakan masyarakat terkecil. Keharmonisan keluarga terwujud bila seluruh anggota keluarga mempunyai kesadaran atau kesanggupan memenuhi fungsinya. Tiap anggota keluarga berusaha mengadakan penyesuaian diri dalam keluarganya antara lain:
a.       Mempunyai relasi yang sehat dengan segenap anggota keluarga
b.    Mempunyai solidaritas dan loyalitas keluarga serta membantu usaha keluarga dalam mencapai tujuan tertentu
c.  Mempunyai kesadaran adanya emansipasi yang gradual serta kemerdekaan dalam taraf kedewasaan
d.      Mempunyai kesadaran adanya ororitas orang tua.
e.  Mempunyai kesadaran bertanggung jawab menjalankan aturan – aturan larangan secara disiplin.
2.      Penyesuaian diri terhadap sosial / Sosial adjustment
Sosial atau masyarakat merupakan sekumpulan individu, keluarga , organisasi dan lain – lain. Agar dalam masyarakat harus ada kesadaran bermasyarakat. Penyesuaian terhadap masyarakat:
a.       Ada kesanggupan mengadakan relasi yang sehat terhadap masyarakat
b.      Ada kesanggupan beraksi secara efektif dan harmonis terhadap kenyataan sosial
c.       Kesanggupan menghargai dan menjalankan hukum tertulis maupun tidak tertulis
d.      Kesanggupan menghargai orang lain mengenai hak – haknya dan pribadinya
e.       Kesanggupan untuk bergaul dengan orang lain dalam bentuk persahabatan
f.     Adanya simpati terhadap kesejahteraanp orang lain. Berupa: memberi  pertolongan anda yang lain, bersikap jujur. Cinta kebenaran, rendah hati dan sejenisnya.

3.      Penyesuaian diri terhadap sekolah / school adjustment
Sekolah merupakan wadah bagi peserta didik dalam mengembangkan potensinya, terutama perkembangan intelegensi maupun pribadinya. Maka, sekolah harus menumbuhkan penyesuaian diri yang baik, bersifat konstuktf, sehingga terwudud.
a.       Disiplin dalam disekolah terhadap peraturan – peraturan yang ada
b.      Pengakuan otoritas guru atau pendidik
c.       Internes terhadap mate pelajaran
d.      Situasi dan fasilitas yang cukup,sehingga tujuan sekolah dapat tercapai.

4.      Penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi / college adjustment
Perguruan tinggi merupakan tempat pendidikan tertinggi, untuk mencapai gelar, tempat yang menyenangkan penuh kenangan. Namun bagi sementara mahasiswa merupakan tempat yang diliputi keraguan, kecemasan bahkan kegagalan. Penyesuaian diri di perguruan tinggi hampir sama di sekolah, tetapi harus ditambah dengan :   
a.     Pengembangan kepribadian yang seimbang yaitu dapat memenuhi tuntutan ilmiah,  jasmani dan rohani yang sehat serta memenuhi tanggung jawab sosial yang masak
b.      Dapat belajar menyesuaikan diri di tempat kelak bekerja
c.       Siap menghadapi persaingan, ulet dalam menghadapi segala persoalan.

5.      Penyesuaian diri terhadap jabatan /  Vocational adjustment
Secara ideal jabatan pekerjaan menunjukkan latar belakang studi seseorang, serta menggambarkan status sosial, status ekonominya. Pemegang jabatan/pekerja seharusnya mempunyai kriteria sebagai berikut :
a.       Sudah masak dalam memegang jabatan
b.      Senang dan mencintai jabatan atau pekerjaannya
c.       Bercita – cita atau berusaha mencapai kemajuan setingkat demi setingkat

6.      Penyesuaian diri terhadap perkawinan /Marriage adjustment
Dalam zaman modern, perkawinan bukan suatu way of life yang harus ditempuh. Kehidupan pria dan wanita secara membujang banyak terjadi. Meraka dapat menikmatik kehidupan dan ikut serta berfungsi di masyarakat. Bagi orang – orang yang melayarkan bahtera perkawinan, harus melakukan penyesuaian dalam perkawinan. Menurut Arkoff (1968), perkawinan yang baik bersifat permanen / permanence dan bersifat kebahagiaan/happiness.
Perkawinan di akhiri dengan  kematian, perceraian (sama – sama masih hidup) merupakan hal yang tidak sopan. Sepanjang perjalanan hidup selalu berusaha melakukan penyesuaian diri. Penyesuaian ini ialah:
a.       Harus ada kesadaran terhadap hakikat perkawinan
b.  Harus ada kesediaan untuk menjaga kelangsungan perkawinan. Saling mengerti, saling memberi dan menerima (to take and to give). Arkoff disitir Siti Sundari (1986).

Sumber:         
Siti Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta


C.           Orientasi Pengembangan Potensi

Victor Frankl dalam buku “Psikologi Pertumbuhan: Kepribadian Sehat untuk Mengembangakan Optimisme” karangan MIF Baihaqi menerangkan Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat yaitu;
1.      Kodrat Orang yang Mengatasi –diri
Dorongan utama yang ada pada seseorang dalam kehidupannya ialah mencari ‘bukan diri’ melainkan ‘arti’. Dalam beberapa hal,  pencarian arti ini menyangkut ‘melupakan’ diri kita. Orang yang sehat secara psikologis telah bergerak ke luar atau melampaui fokus pada diri. Menjadi manusia sepenuhnya berarti mengadakan hubungan dengan seseorang atau sesuatu di luar diri sendiri. Frankl membandingkan kualitas transendensi-diri ini dengan kemampuan mata manusia untuk melihat dunia di luar dirinya yang langsung berhubungan dengan  ketidakmampuan mata untuk melihat sesuatu di dalam dirinya. Sesengguhnya, dalam situasi – situasi dimana mata melihat dirinya –misalnya, ketika mata ditutup oleh katarak yang merupakan satu – satunya hal yang dapat dilihatnya- maka mata tidak mampu melihat sesuatu di luar dirinya. Ini berarti penglihatan seseorang adalah mengatasi-diri; mata harus berurusan hanya dengan sesuatu di luar dirinya supaya ia dapat berfungsi.
Contoh sebagaimana diuraikan diatas, menempatkan pendirian Frankl belawanan dengan ahli – ahli teori yang mengemukakan bahwa tujuan atau dorongan perkembangan manusia yang penuh ialah pemenuhan atau aktualisasi-diri. Frankl menolak perjuangan manusia untuk membangun setiap keadaan atau kondisi di dalam diri, entah itu untuk kekuasaan, kenikmatan, atau aktualisasi. Frankl mengemukakan bahwa pandangan serupa itu menggambarkan orang sebagai system yang tertutup, yang tidak menyangkut interaksi dengan dunia yang nyata atau dengan orang – orang lain, tetapi hanya dengan diri. Frankl juga percaya bahwa mengejar tujuan semata – mata dalam diri adalah merusak diri.
Jika kita memeriksa dua tujuan yang berorientasi kepada diri : kenikmatan dan aktualisasi-diri, apakah kira – kira jawabannya?
Frankl menyatakan bahwa semakin banyak kita dengan sengaja bejuang untuk kesenangan maka mungkin semakin kurang kita menemukannya. Kehidupan yang diarahakan untuk mengejar kebahagiaan tidak pernah akan menemukan kebahagiaan. Semakin kita berpusat pada kebahagiaan sebagai tujuan, maka semakin juga kita tidak akan melihat pertimbangan yang sehat untuk berbahagia. Dalam hal ini Frankl memberi contoh orang – orang yang berpusat pada kenikmatan seksual. Berdasarkan karyanya sendiri dengan pasien – pasien, dia menaksir bahwa lebih dari 95% dari kasus impotensi dan frigiditas disebabkan karena laki – laki dan wanita dengan sengaja berjuang untuk memperlihatkan kapasitas untuk orgasme. Orang –orang itu terlalu aktif mengejar kebahagiaan, bukannya membiarkannya terjadi sebagi hasil sampingan dari usaha mencari arti dalam kehidupan. Memang, kenikmatan dan kebahagiaan itu bisa terjadi dan menambahkan bumbu kesenangan hidup. Kebahagiaan tidak dapat dikerjar dan ditangkap; ia biasanya timbul secara spontan dari pemenuhan arti, dari mencapai tujuan di luar diri.
Hal yang sama terjadi pula jika seseorang mengejar aktualisasi-diri. Semakin banyak kita berjuang secara langsung untuk aktualisasi-diri, maka kita mungkin semakin kurang mencapainya. Aktualisasi-diri berlawanan dengan transendensi-diri dan dapat dicapai hanya sebagai akibat sekunder dari penemuan arti dalam kehidupan. Jadi, menurut Frankl, cara satu – satunya untuk mengaktualisasi-diri ialah melalui pemenuhan arti di luar diri.
Frankl meyakini bahwa pandangannya ini sesuai dengan pemikiran Maslow, bahwa cara yang paling baik untuk mencapai aktualisasi-diri ialah melalui komitmen terhadap pekrjaan, terhadap sesuatu di luar diri. Fokus semata – mata pada aktualisasi-diri merupakan akibat dari kekecewaan terhadap kemauan akan arti. Untuk menerangkan ini, Frankl memakai contoh boomerang. Tujuan boomerang tidak untuk berbalik kepada orang yang melemparkannya; boomerang itu berbalik hanya apabila tidak mencapai sasarannya.
Dalam menerangkan hal ini, pemikiran Frankl memang lumayan agak nyerempet ke tataran filsafat. Menurutnya, orang – orang akan berbalik kepada diri mereka ( fokus pada diri mereka ) apabila mereka tidak dapat melihat arti dan maksud mereka di dunia. Apabila mereka tidak mencapai saasaran ( tugas dan arti mereka ) dan karenanya menggagalkan kemauan akan arti, maka mereka menjadi asyik hanya dengan diri mereka. Menjadi sehat secara psikologis adalah bergerak ke luar fokus pada diri, kemudian mengatasinya, menyerapinya dalam arti dan tujuan seseorang. Maka dengan demikian ‘diri’ akan dipenuhi dan aktualisasikan secara spontan dan wajar.
Di dalam buku – bukunya, Frankl tidak menyajikan suatu daftar dari sifat – sifat kepribadian yang sehat. Akan tetapi dapatlah dikemukakan secara umum, orang – orang macam apakah meraka itu. Sedikitnya ada tujuh sifat yang bisa ditempakkan oleh orang berkepribadian sehat, yaitu :
1)      Mereka bebas memilih langkah tindakan mereka sendiri.
2)      Meraka secara pribadi bertanggung jawab terhadap tingkah laku hidup mereka dan sikaap yang mereka anut terhadap nasibnya.
3)      Mereka tidak ditentukan oleh kekuatan – kekuatan di luar dirinya.
4)      Mereka secara sadar mengontrol kehidupan mereka.
5)      Mereka mampu mengungkapkan nilai – nilai daya cipta, nilai – nilai pengelaman, atau nilai – nilai sikap.
6)      Mereka telah mengatasi perhatian terhadap diri.

Namun begitu, masih ada beberapa sifat lain dari kepribadian yang sehat. Yaitu (a) mereka berorientasi kepada masa depan, diarahkan kepada tujuan – tujuan dan tugas – tugas yang akan datang; (b) mereka komitmen terhadap pekerjaan; (c) mereka memberi dan menerima cinta.
(a)    Orientasi pada masa depan
Menurut Frankl, “ kekhasan manusia ialah dia hanya dapat hidup dengan meliahat ke masa depan.” Frankl mengamati banyak kawannya yang sama – sama ditahan di Auschwitz yang kehilangan pengertian akan masa depan, yang berhenti mengarahkan orientasinya kepada tujuan – tujuan khusus, dan mereka meninggal dalam beberapa hari. Tanpa kepercayaan terhadap masa depan, maka ‘pegangan spiritual’ pada kehidupan akan hilang, akibatnya jiwa dan badan cepat mengalami kebinasaan.
Seseorang harus memiliki alasan untuk meneruskan kehidupan, untuk menyelesaikan tujuan yang akan datang; kalau tidak maka kehidupan akan kehilangan arti. Bayangkanlah, bagimana kehidupan seseorang di dalam tahanan, juga bayangkanlah ketika Frankl di kamp konsentrasi. Dia berada dalam kesakitan, kedinginan, kelaparan dan ketakutan yang mengerikan. Semua masa depan tampaknya hilang. Tetapi kemudian dia memaksa dirinya untuk berpikir tentang sesuatu yang lain – lain, dan tiba – tiba dia memiliki gambaran tantang dirinya dalam suatu ruangan ceramah yang hangat dan menarik, dia berbicara tentang psikologi kamp – kamp konsentrasi. Jiwa yang tertekan bangkit, karena dia memberontak melawan situasinya dan mengatsasi penderitaan dan keputusasaan dari momen tersebut.
(b)   Komitmen pada pekerjaan
Sifat lain dari orang yang mengatasi-diri ialah komitmen terhadap pekrjaan. Salah satu cara untuk memperoleh arti ialah dengan mengungkapkan nilai – nilai daya cipta, dimana nilai – nilai ini dapat di ungkapkan dengan sangat baik melalui pekerjaan atau tugas seseorang. Itulah suatu segi kehidupan yang menempatkan seseorang dalam suatu hubungan yang unik dengan masyarakat. Kita melakukan pekerjaan kita dalam suatu cara yang tidak dilakukan orang lain, dengan demikian kita masing – masing memberikan sumbangan kepada masyarakat.
Segi yang penting dari pekerjaan bukan isi dari pekerjaan tersebut, melainkan cara bagiamana kita melakukannya. Inilah yang memberikan arti kepada kehidupan. Jadi, apa yang penting bukan pekerjaan (kekuatan dari luar), melainkan apa yang kita musukkan dalam pekerjaan berkenaan dengan kepribadian kita sebagai manusia yang unik ( kekuatan dari dalam ). Dalam konteks ini, Frankl memberi contoh seorang wanita yang bekerja sebagai perawat. Setiap hari dia melakukan banyak kegiatan yang penting, tetapi kegiatan – kegiatan itu (syarat – syarat pekerjaan) tidak cukup memberikan arti kepada kehidupannya. Hal itu hanya terjadi kalau perawat itu melakukan sesuatu yang lebih daripada apa yang dituntut oleh tugas – tugasnya, bahwa dia menemukan arti lewat pekerjaannya. Apabila dia menggunakan waktu tambahan untuk menghibur seorang pasien yang putus asa, yang ketakutan, atau mengatakan beberapa kata yang manis kepada seseorang yang mendekati ajanya, maka dia memberikan dirinya di luar struktur pekerjaannya; berfokus kepada seseorang diluar dirinya.
Karena seseorang menemukan arti melalui pekerjaan, dan bukan di dalam pekerjaan itu sendiri, maka ‘arti’ dapat ditemukan melalui hamper setiap macam pekrjaan manapun juga. Frankl percaya bahwa kebanyakan pekerjaan memberikan ungkapan nilai – nilai daya cipta (kecuali perkerjaan – perkerjaan yang sama sekali teratur,seperti misalnya pekerjaan ban berjalan).
(c)    Memberi dan menerima cinta
Sifat lain dari orang – orang yang mengatasi diri ialah kemampuan mereka untuk memberi dan menerima cinta. Cinta adalah tujuan pokok manusia. Keselamatan hidup seseorang adalah melalui cinta dan dalam cinta. Meskipun salah satu cara untuk merealisasikan keunikan kita ialah melalui pekerjaan, namun cara lain ialah melalui ‘dicintai’. Apabila kita dicintai, maka keberadaan kita yang unik dan istimewa diterima oleh orang lain. Bagi orang yang mencintai kita, kita menjadi orang yang sangat diperlukan dan tidak dapat diganti.
Disamping itu, masih ada sisi lain bagi hubungan cinta, yaitu memberi cinta. Dengan memberi cinta (dalam bentuk mencintai) kepada orang lain kita dapat melihat sifat – sifat dan ciri – ciri khas meraka, termasuk yang belum diaktualisasikan. Dengan cinta yang kita miliki, kita dapat membuat orang yang dicintai sanggup merealisasikan potensi – potensi yang belum dimanfaatkan dengan menyadarkan mereka tentang potensinya untuk menjadi apa. Dalam hubungan cinta timbal – balik, kedua pihak beruntung dalam hal pemenuhan dan realisasi yang lebih besar dari potensi mereka untuk menjadi manusia yang lebih penuh.

Sumber:         
MIF Baihaqi. 2008. PSIKOLOGI PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme. Bandung: PT Remaja RosdaKarya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar