I. Memahami
Konsep Sehat
Sebagai makhluk hidup
manusia memiliki kesamaan dengan makhluk hidup
lainnya, yakni lahir, tumbuh, berkembang, mengalami dinamika stabil – labil,
sehat – sakit, normal – abnormal dan berkhir dengan kematian. Berbeda dengan
hewan, manusia adalah makhluk yang bisa menjadi subjek dan objek sekalligus,
oleh karena itu manusia selalu tertarik untuk membicarakan, menganalisa dan
melakukan hal – hal yang diperlukan diri
sendiri. Sebagian besar ilmu pengetahuan dan teknologi yang disusun dan
dibangun oleh manusia adalah untuk kepentingan diri manusia itu sendiri,
menyangkut kesehatannya, kenyamanannya, kesejahteraannya dan semua hal yang
dipandang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Meski demikian, banyak hal yang
dilakukan oleh
manusia menjadi semakin tidak sehat dan tidak nyaman dalam hidupnya.
Sehari – hari kita
menggunakan istilah sehat wal afiat untuk
menyebut kondisi kesehatan yang prima, tetapi jika kita merujuk kepada asal
istilah itu yakni “ as shihhah waal
‘afiyah “ di situ ada dua dimensi
pengertian. Kata ‘sehat’ merujuk pada fungsi, sedangkan kata ‘afiat’ merujuk
kepada kesesuaian dengan maksud penciptaan. Mata yang sehat adalah mata yang
dapat digunakan untuk melihat tanpa alat bantu, sedangkan mata yang afiat
adalah mata yang tidak bisa digunakan untuk melihat sesuatu yang dilarang
melihatnya, misalnya ngintip orang mandi, karena maksud Tuhan menciptakan mata
adalah sebagai petunjuk pada kebenaran, membedakannya dari yang salah. Tangan
yang sehat adalah tangan yang mudah digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang
halal, sedangkan tangan yang afiat adalah tangan yang tidak bisa digunakan
untuk mengerjakan melakukan sesuatu yang diharamkan, karena maksud diciptakan
tangan oleh Tuhan adalah untuk berbuat baik dan mencegah kejahatan (Zulkifli
Yunus, 1994: 57)
Kita bukan hanya
mengenal kesehatan tubuh, tetapi juga ada kesehatan mental dan bahkan kesehatan
masyarakat. Jika kita menengok bangsa kita sekarang, nampaknya bangsa ini
memang sedang tidak sehat dan juga tidak afiat. Akibatnya banyak hal menjadi
tidak berfungsi. Jika kita sakit gigi, maka kita pergi dokter gigi, jika sakit
perut kita pergi ke dokter penyakit dalam. Nah problemnya ada orang yang secara
fisik ia sehat tetapi ia mengalami gangguan sehingga fisiknya pun kurang
berfungsi. Secara medik
ia sehat, tetapi ia merasa tidak sehat sehingga ia tidak bisa berfikir, tidak
bisa konsentrasi, tidak bisa tidur. Ada orang penyandang cacat tetapi
pikirannya jenih, gagasannya cemerlang dan ia ceria manjalani hidupnya,
sementara ada orang yang secara fisik sehat dan memiliki semua kebutuhan
fasilitas tetapi justru pikirannya kacau, tindakannya juga kacau, dan ia tidak
bisa menikmati hidup ini.
Sering kita mendengar
ungkapan bahwa orang itu yang penting hatinya, yang penting jiwanya. Dalam
perspektif ini, hakikat manusia adalah jiwanya. Orang gila secara fisiknya
adalah manusia, tetapi ia sudah tidak diperhitungkan karena jiwanya sakit (
tidak berfungsi ). Di maki – maki orang gila, orang tidak tersinggung, karena
jika tersinggung apalagi membalas maka itu menunjukkan serumpun. Orang gila
tidak menyadari sakitnya, tetapi orang yang mengalami gangguan kejiwaan, ia
menyadari jiwanya sedang terganggu. Orang gila tak bisa berpikir mengenai
dirinya, sedangkan orang yang terganggu kejiwaannya justru selalu berpikir dan
bertanya, mengapa aku begini. Dari ini, maka kita mengenal ada rumah sakit
umum, rumah sakit jiwa dan lembaga pembimbing mental atau konseling ( El Qudsy
1989: 45).
Sumber:
Kholil Lur Rochman, S.Ag, M.S.I. 2010. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Fajar
Media Press
II. SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN
MENTAL
Dalam
sejarah kehidupan manusia telah dipaparkan tentang kehidupan manusia itu dalam
berhubungan dengan dunia sekitarnya. Sebenarnya tersirat pula pembicaraan
tentang usaha itu dalam mempertahankan keharmonisannya dalam kehidupan ini.
Jadi, sebenarnya sejak dulu kala usaha untuk mewujudkan
keharmonisan/keseimbangan kehidupan ini telah ada, hanya bentuknya belum
sistematis dan masih sederhana. Mental hygiene
disebut juga ilmu kesehatan mental merupakan ilmu pengtahuan yang masih
muda. Dulu orang berpendapat gangguan keseimbangan/keharmonisan mental itu
disebabkan oleh gangguan roh – roh jahat. Maka usaha penyembuhan terhadap
penderita itu dengan jalan mengusir roh – roh jahat tersebut. Caranya dengan
memukuli penderita agar supaya roh – roh jahat itu pergi, dengan demikian ia
akan sehat kembali. Kemudian timbul usaha kemanusiaan untuk mestudentsite gunadarmangadakan
perbaikan/tindakan dalam penyembahan dan pemeliharaan baik penderita gangguan
mental maupun terhadap penderita penyakit mental itu. Dorothe Dix (Amerika)
seorang wanita sebagai tokoh abad 19 usahanya ialah mengadakan perbaikan
kondisi rumah sakit jiwa di Amerika maupun di Eropa. Banyak usahanya yang
dijadikan dasar – dasar aktivitas dalam Mental Hygiene,
Clifford
Whittingham Beers (1876-1943). Ia penah menderita sakit mental selama 2 tahun
dan dirawat di rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri siksaan dan perlakuan
yang keras terhadap penderita itu berdasarkan pengalamannya yaitu cara
penyembuhan atau pengobatan terhadap penderita, iapun lalu menulis buku yang
berjudul: “A mind that found it self”.
Beers mengecam
terhadap tindakan yang kurang berperikemanusiaan serta menyarankan program –
program perbaikan definitive dalam cara – cara penyembuhan serta pemeliharaan
terhadap penderita. Ia yakin bahwa penyakit dan gangguan mental dapat
disembukan. Maka ia menyusun program nasional sebagai berikut :
1.
Perbaikan
dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan terhadap penderita mental,
2.
Kampanye
memberikan informasi agar orang – orang bersikap intelligent dan human terhadap
penderita.
3.
Memperbanyak
research dan menyelidiki sebab –
sebab timbulnya penyakit mental beserta terapinya.
4.
Memperbesar
usaha educative dan memberi
penerangan untuk mencegah timbulnya gangguan maupun penyakit mental.
Adolf Meyer (psychiater) berdasarkan saran Beers,
membantu perkembangan gerakan usaha kesehatan mental. Dialah yang mengmukakan
istilah “Mental Hygiene”. Di Amerika
pada tahun 1908 terbentuk suatu organisasi “
Connectitude Society for Mental Hygiene “. Pada tahun 1909 berdirilah “ The National Committee for Mental Hygiene”.
Di Inggris
pada tahun 1842 berdirilah organisasi “ The
Society for Improving the Condition of the Insane”. Pada tahun 1880
berdirilah pula “The National Association
for the Protection of Insane and The Prevention of Insanity”. Akibat perang
dunia I dan II banyak terdapat penderita “war neurosis” di kalangan anggota
militer, sehingga gerakan Mental Hygiene makin besar usahanya mencari metode
yang efisien utnuk mencegah gangguan mental serta mengadakan pembaharuan dalam
metode – metode penyembuhan. Maka gerakan mental hygiene itu nampak maju dengan
pesat. Mula – mula untuk usaha itu merupakan dorongan untuk menolong penderita mental
tapi kemudian meluas memberikan pertolongan kepada siapa saja yang memerlukan
pertolongan.
Usaha tersebut
meliputi seluruh pribadi seseorang sehingga dasar mempelajari membutuhkan
bantuan pengetahuan – pengetahuan lain , antara lain : psychology umum,
psychology khusus, sosiologi, psikologi, ilmu kesehatan, teori – teori
kepribadian, psychology abnormal, psikologi penyesuaian, beserta metode –
metode penyelidikan dan sebagainya. Pada tahun 1909, gerakan penyuluhan dan bimbingan yang
dipelopori oleh Frank Parsons. Usahanya ditujukan untuk menolong mengembalikan
orang – orang yang terlantar dan kehilangan perkerjaan akibat peperangan,
selain itu juga kehilangan kepercayaan pada diri sendiri sehingga mereka tidak
dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat yang normal. Perhatian persons
terutama ditunjukan terhadap anak – anak yang tidak mempunyai pekerjaan yang
sesuai dengan kemampuannya. Usaha itu disebut : Bimbingan Jabatan (Vocation
Guidance) dan akhirnya meluas ke dalam berbagai bidang.
Dr. William Healy
(Dokter dari Institute anak – anak Psychopath diChicago). Berusaha agar supaya
anak – anak jangan sampai
mengalami kesukaran di dalam perkembangan. Menurut dia banyaknya gangguan
keseimbangan mental berpangkal kehidupan masa kanak – kanak yang tidak
memuaskan atau kurangnya perhatian orang tuanya. Dr. Healy mengusahakan menolong anak – anak untuk mengatasi problem –
problemnya. Menyadarkan orang – orang tua dan calon – calon orang tua
bagaimanakah sikap dan cara – cara menghadapi anak – anak sebaik – baiknya
(segi preventive). Kemudian usaha Mental Hygiene ini memberi penyuluhan dan
bimbingan di lapangan pendidikan di sekolah. Ternyata bahwa kegagalan
pendidikan merupakan gangguan perkembangan, berarti gangguan keseimbangan.
Drop-out dapat menyebabkan anak manjadi nakal, sebab tidak mendapatkan
pemecahan yang tepat. Selanjutnya, usaha ini meluas di bidang – bidang lain.
Antara lain bidang industry, pengadilan perdagangan, keagamaan, militer,
pemerintah dan sebagainya.
Usaha – usaha tersebut
di atas dengan jalan memperhatikan kesejahteraan para anggota atau warganya
hingga menimbulkan suasana kerjasama yang baik dan kehidupan bersama yang
menyenangkan. Setidak – tidaknya memudahkan pemecahan problem dalam interaksi
bersama. Pada tahun 1930 Mental Hygiene mengadakan kongres pertama di
Washington D.C tahun 1946 Presiden Amerika Serikat menandatangani undang –
undang : “The National Mental Health Act”
untuk memajukan kesejahteraan mental rakyat Amerika. Disediakan budget untuk
mendirikan “National Institute of
Mental Health”.
Organisasi – organisasi internasional yang ikut menyelenggarakan program mental
hygine antara lain :
- W.H.O (World Health Organization) organisasi ini memberi informasi dan penyuluhan – penyuluhan mengenai kesehatan mental kepada segenap anggota UNO (PBB). Mengadakan pengawasan terhadap alkoholisme, pencegahan criminal dan delinquency.
- UNESCO (the United Nation Educational Scientific and Cultural Organization). Merupakan biro ada UNO (PBB) untuk menstimulir penukaran masalah informasi kebudayaan antar bangsa. Di dalamnya terdapat satu department yang mengurusi masalah sosial yang mempelajari sebab perang, serta prektik – prektik perwujudan kesehatan mental.
- WFMH (World Federation for Mental Health). Didirikan pada tahun 1948. Antara the international committee for mental hygiene dengan the british association for mental health, merupakan kelompok non Govermental Health Agencies membantu kesehatan di dunia.
Di Indonesia masalah
mental hygiene ini menjadi salah satu proyek bagi department kesehatan,
bekerjasama dengan instansi lain negeri maupun swasta. Misalnya BKKBN, rumah
sakit,LSM, dan lain – lainnya.
Sumber:
Siti Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka
Cipta
III. Pendekatan Kesehatan Mental
- Orientasi Klasik
Orientasi klasik
yang umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat
sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat
adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya.
Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak
ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak
menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami
gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas.
Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang
kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental
dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi.
Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat
atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh
kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental.
Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak
sehat mental.
- Orientasi Penyesuaian Diri
Penyesuaian
diri alih bahasa dari adjustment, yang
dilakukan menusia sepanjang hayat.
Karena pada dasarnya manusia ingin mempertahankan eksistensinya. Sejak lahir
berusaha memenuhi kebutuhannya yaitu kebutuhan fisik, psikis, dan sosial. Pemenuhan kebutuhan itu kerena adanya
dorongan – dorongan yang mengharapkan pemuasan. Bila pemuasan tercapai individu
tersebut memperoleh keseimbangan. Sejak kecil individu belajar bertingkah laku,
tingkah laku yang berhasil dalam memenuhi kebutuhannya seperti dapat
menyesuaikan diri dan mengalami keseimbangan. Sebagaimana dikemukakan Lazarus
(1961), adjustment insolves a reaction of the person to demand imposed upon
him. Maka, penyesuaian diri termasuk reaksi seseorang karena adanya tuntutan
yang dibebankan pada dirinya. Demikian pulan pendapat Thorndike dan Hogen yang
disitir oleh Mustafa Fahmi (1977) sebagai berikut : penyesuaian diri merupakan
kemampuan individu untuk mrmdapatkan ketenteraman secara internal dan
hubunganna dengan dunia sekitarnya. Uraian tersebut, bila tak ada reaksi terasa
ada beban dan tidak mendapat ketenteraman batin. Maka, dapat disimpulkan:
penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk bereaksi tuntutan dalam
memenuhi dorongan / kebutuhan dan mencapai
ketenteraman batin dalam hubungannya dengan sekitar.
Penyesuaian diri yang berhasil
menurut Winarna Surachmad (dalam siti sundari,1986):
1. Bilamana dengan
sempurna memenuhi kebutuhan, tanpa melebihi yang satu dan mengurangi yang lain.
2. Bilamana tidak
menggangu manusia lain dalam mamenuhi kebutuhan yang sejenisnya.
3. Bilamana bertanggung
jawab terhadap masyarakat dimana ia berada (saling menolong secara positif).
Penyesuaian diri
sebagai usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada dirinya dan
lingkungannya. Memenuhi kebutuhan yang orang lain yang memerlukan.
Macam – macam
penyesuaian diri:
1.
Penyesuaian
terhadap keluarga/ family
adjustment
Keluarga merupakan masyarakat terkecil. Keharmonisan
keluarga terwujud bila seluruh anggota keluarga mempunyai kesadaran atau
kesanggupan memenuhi fungsinya. Tiap anggota keluarga berusaha mengadakan
penyesuaian diri dalam keluarganya antara lain:
a.
Mempunyai
relasi yang sehat dengan segenap anggota keluarga
b. Mempunyai
solidaritas dan loyalitas keluarga serta membantu usaha keluarga dalam mencapai
tujuan tertentu
c. Mempunyai
kesadaran adanya emansipasi yang gradual serta kemerdekaan dalam taraf
kedewasaan
d.
Mempunyai
kesadaran adanya ororitas orang tua.
e. Mempunyai
kesadaran bertanggung jawab menjalankan aturan – aturan larangan secara
disiplin.
2.
Penyesuaian
diri terhadap sosial / Sosial adjustment
Sosial atau masyarakat merupakan sekumpulan
individu, keluarga , organisasi dan lain – lain. Agar dalam masyarakat harus
ada kesadaran bermasyarakat. Penyesuaian terhadap masyarakat:
a.
Ada
kesanggupan mengadakan
relasi yang sehat terhadap masyarakat
b.
Ada
kesanggupan beraksi secara efektif dan harmonis terhadap kenyataan sosial
c.
Kesanggupan
menghargai dan menjalankan hukum tertulis maupun tidak tertulis
d.
Kesanggupan
menghargai orang lain mengenai hak – haknya dan pribadinya
e.
Kesanggupan
untuk bergaul dengan orang lain dalam bentuk persahabatan
f. Adanya
simpati terhadap kesejahteraanp orang lain. Berupa: memberi pertolongan anda yang lain, bersikap jujur.
Cinta kebenaran, rendah hati dan sejenisnya.
3.
Penyesuaian
diri terhadap sekolah / school adjustment
Sekolah merupakan wadah bagi peserta didik dalam
mengembangkan potensinya, terutama perkembangan intelegensi maupun pribadinya.
Maka, sekolah harus menumbuhkan penyesuaian diri yang baik, bersifat konstuktf,
sehingga terwudud.
a.
Disiplin
dalam disekolah terhadap peraturan – peraturan yang ada
b.
Pengakuan
otoritas guru atau pendidik
c.
Internes
terhadap mate pelajaran
d.
Situasi
dan fasilitas yang cukup,sehingga tujuan sekolah dapat tercapai.
4.
Penyesuaian
diri terhadap perguruan tinggi / college adjustment
Perguruan tinggi merupakan tempat pendidikan
tertinggi, untuk mencapai gelar, tempat yang menyenangkan penuh kenangan. Namun
bagi sementara mahasiswa merupakan tempat yang diliputi keraguan, kecemasan
bahkan kegagalan. Penyesuaian diri di perguruan tinggi hampir sama di sekolah,
tetapi harus ditambah
dengan :
a.
Pengembangan
kepribadian yang seimbang yaitu dapat memenuhi tuntutan ilmiah, jasmani dan rohani yang sehat serta memenuhi
tanggung jawab sosial yang masak
b.
Dapat
belajar menyesuaikan diri di tempat kelak bekerja
c.
Siap
menghadapi persaingan, ulet dalam menghadapi segala persoalan.
5.
Penyesuaian
diri terhadap jabatan / Vocational
adjustment
Secara ideal jabatan pekerjaan menunjukkan latar belakang
studi seseorang, serta menggambarkan
status sosial, status ekonominya. Pemegang jabatan/pekerja seharusnya mempunyai
kriteria sebagai berikut :
a.
Sudah
masak dalam memegang jabatan
b.
Senang
dan mencintai jabatan atau pekerjaannya
c.
Bercita
– cita atau berusaha mencapai kemajuan setingkat demi setingkat
6.
Penyesuaian
diri terhadap perkawinan /Marriage adjustment
Dalam zaman modern, perkawinan bukan suatu way of
life yang harus ditempuh. Kehidupan pria dan wanita secara membujang banyak
terjadi. Meraka dapat menikmatik kehidupan dan ikut serta berfungsi di
masyarakat. Bagi orang – orang yang melayarkan bahtera perkawinan, harus
melakukan penyesuaian dalam perkawinan. Menurut Arkoff (1968), perkawinan yang
baik bersifat permanen / permanence dan bersifat kebahagiaan/happiness.
Perkawinan
di akhiri dengan kematian, perceraian
(sama – sama masih hidup) merupakan hal yang tidak sopan. Sepanjang perjalanan
hidup selalu berusaha melakukan penyesuaian diri. Penyesuaian ini ialah:
a. Harus ada kesadaran
terhadap hakikat perkawinan
b. Harus ada kesediaan
untuk menjaga kelangsungan perkawinan. Saling mengerti, saling memberi dan
menerima (to take and to give). Arkoff disitir Siti Sundari (1986).
Sumber:
Siti Sundari, HS. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka
Cipta
C. Orientasi Pengembangan Potensi
Victor Frankl dalam buku “Psikologi Pertumbuhan:
Kepribadian Sehat untuk Mengembangakan Optimisme” karangan MIF Baihaqi
menerangkan Kodrat Eksistensi Manusia yang Sehat yaitu;
1.
Kodrat
Orang yang Mengatasi –diri
Dorongan utama yang
ada pada seseorang dalam kehidupannya ialah mencari ‘bukan diri’ melainkan
‘arti’. Dalam beberapa hal, pencarian
arti ini menyangkut ‘melupakan’ diri kita. Orang yang sehat secara psikologis
telah bergerak ke luar atau melampaui fokus pada diri. Menjadi manusia
sepenuhnya berarti mengadakan hubungan dengan seseorang atau sesuatu di luar
diri sendiri. Frankl membandingkan kualitas transendensi-diri ini dengan
kemampuan mata manusia untuk melihat dunia di luar dirinya yang langsung
berhubungan dengan ketidakmampuan mata
untuk melihat sesuatu di dalam dirinya. Sesengguhnya, dalam situasi – situasi
dimana mata melihat dirinya –misalnya, ketika mata ditutup oleh katarak yang
merupakan satu – satunya hal yang dapat dilihatnya- maka mata tidak mampu
melihat sesuatu di luar dirinya. Ini berarti penglihatan seseorang adalah
mengatasi-diri; mata harus berurusan hanya dengan sesuatu di luar dirinya supaya
ia dapat berfungsi.
Contoh sebagaimana diuraikan
diatas, menempatkan pendirian Frankl belawanan dengan ahli – ahli teori yang
mengemukakan bahwa tujuan atau dorongan perkembangan manusia yang penuh ialah
pemenuhan atau aktualisasi-diri. Frankl menolak perjuangan manusia untuk
membangun setiap keadaan atau kondisi di dalam diri, entah itu untuk kekuasaan,
kenikmatan, atau aktualisasi. Frankl mengemukakan bahwa pandangan serupa itu
menggambarkan orang sebagai system yang tertutup, yang tidak menyangkut interaksi
dengan dunia yang nyata atau dengan orang – orang lain, tetapi hanya dengan
diri. Frankl juga percaya bahwa mengejar tujuan semata – mata dalam diri adalah
merusak diri.
Jika kita memeriksa dua tujuan
yang berorientasi kepada diri : kenikmatan dan aktualisasi-diri, apakah kira –
kira jawabannya?
Frankl menyatakan
bahwa semakin banyak kita dengan sengaja bejuang untuk kesenangan maka mungkin
semakin kurang kita menemukannya. Kehidupan yang diarahakan untuk mengejar
kebahagiaan tidak pernah akan menemukan kebahagiaan. Semakin kita berpusat pada
kebahagiaan sebagai tujuan, maka semakin juga kita tidak akan melihat
pertimbangan yang sehat untuk berbahagia. Dalam hal ini Frankl memberi contoh
orang – orang yang berpusat pada kenikmatan seksual. Berdasarkan karyanya
sendiri dengan pasien – pasien, dia menaksir bahwa lebih dari 95% dari kasus
impotensi dan frigiditas disebabkan karena laki – laki dan wanita dengan
sengaja berjuang untuk memperlihatkan kapasitas untuk orgasme. Orang –orang itu
terlalu aktif mengejar kebahagiaan, bukannya membiarkannya terjadi sebagi hasil
sampingan dari usaha mencari arti dalam kehidupan. Memang, kenikmatan dan
kebahagiaan itu bisa terjadi dan menambahkan bumbu kesenangan hidup.
Kebahagiaan tidak dapat dikerjar dan ditangkap; ia biasanya timbul secara
spontan dari pemenuhan arti, dari mencapai tujuan di luar diri.
Hal yang sama terjadi
pula jika seseorang mengejar aktualisasi-diri. Semakin banyak kita berjuang
secara langsung untuk aktualisasi-diri, maka kita mungkin semakin kurang
mencapainya. Aktualisasi-diri berlawanan dengan transendensi-diri dan dapat
dicapai hanya sebagai akibat sekunder dari penemuan arti dalam kehidupan. Jadi,
menurut Frankl, cara satu – satunya untuk mengaktualisasi-diri ialah melalui
pemenuhan arti di luar diri.
Frankl meyakini bahwa
pandangannya ini sesuai dengan pemikiran Maslow, bahwa cara yang paling baik
untuk mencapai aktualisasi-diri ialah melalui komitmen terhadap pekrjaan,
terhadap sesuatu di luar diri. Fokus semata – mata pada aktualisasi-diri
merupakan akibat dari kekecewaan terhadap kemauan akan arti. Untuk menerangkan
ini, Frankl memakai contoh boomerang. Tujuan boomerang tidak untuk berbalik
kepada orang yang melemparkannya; boomerang itu berbalik hanya apabila tidak
mencapai sasarannya.
Dalam menerangkan hal
ini, pemikiran Frankl memang lumayan agak nyerempet ke tataran filsafat.
Menurutnya, orang – orang akan berbalik kepada diri mereka ( fokus pada diri
mereka ) apabila mereka tidak dapat melihat arti dan maksud mereka di dunia.
Apabila mereka tidak mencapai saasaran ( tugas dan arti mereka ) dan karenanya
menggagalkan kemauan akan arti, maka mereka menjadi asyik hanya dengan diri
mereka. Menjadi sehat secara psikologis adalah bergerak ke luar fokus pada
diri, kemudian mengatasinya, menyerapinya dalam arti dan tujuan seseorang. Maka
dengan demikian ‘diri’ akan dipenuhi dan aktualisasikan secara spontan dan
wajar.
Di dalam buku –
bukunya, Frankl tidak menyajikan suatu daftar dari sifat – sifat kepribadian
yang sehat. Akan tetapi dapatlah dikemukakan secara umum, orang – orang macam
apakah meraka itu. Sedikitnya ada tujuh sifat yang bisa ditempakkan oleh orang
berkepribadian sehat, yaitu :
1)
Mereka
bebas memilih langkah tindakan mereka sendiri.
2)
Meraka
secara pribadi bertanggung jawab terhadap tingkah laku hidup mereka dan sikaap
yang mereka anut terhadap nasibnya.
3)
Mereka
tidak ditentukan oleh kekuatan – kekuatan di luar dirinya.
4)
Mereka
secara sadar mengontrol kehidupan mereka.
5)
Mereka
mampu mengungkapkan nilai – nilai daya cipta, nilai – nilai pengelaman, atau
nilai – nilai sikap.
6)
Mereka
telah mengatasi perhatian terhadap diri.
Namun begitu, masih ada
beberapa sifat lain dari
kepribadian yang sehat. Yaitu (a) mereka berorientasi kepada masa depan,
diarahkan kepada tujuan – tujuan dan tugas – tugas yang akan datang; (b) mereka
komitmen terhadap pekerjaan; (c) mereka memberi dan menerima cinta.
(a)
Orientasi pada masa
depan
Menurut Frankl, “
kekhasan manusia ialah dia hanya dapat hidup dengan meliahat ke masa depan.”
Frankl mengamati banyak kawannya yang sama – sama ditahan di Auschwitz yang
kehilangan pengertian akan masa depan, yang berhenti mengarahkan orientasinya
kepada tujuan – tujuan khusus, dan mereka meninggal dalam beberapa hari. Tanpa
kepercayaan terhadap masa depan, maka ‘pegangan spiritual’ pada kehidupan akan
hilang, akibatnya jiwa dan badan cepat mengalami kebinasaan.
Seseorang harus
memiliki alasan untuk meneruskan kehidupan, untuk menyelesaikan tujuan yang
akan datang; kalau tidak maka kehidupan akan kehilangan arti. Bayangkanlah,
bagimana kehidupan seseorang di dalam tahanan, juga bayangkanlah ketika Frankl
di kamp konsentrasi. Dia berada dalam kesakitan, kedinginan, kelaparan dan
ketakutan yang mengerikan. Semua masa depan tampaknya hilang. Tetapi kemudian
dia memaksa dirinya untuk berpikir tentang sesuatu yang lain – lain, dan tiba –
tiba dia memiliki gambaran tantang dirinya dalam suatu ruangan ceramah yang
hangat dan menarik, dia berbicara tentang psikologi kamp – kamp konsentrasi.
Jiwa yang tertekan bangkit, karena dia memberontak melawan situasinya dan
mengatsasi penderitaan dan keputusasaan dari momen tersebut.
(b)
Komitmen pada
pekerjaan
Sifat lain dari orang
yang mengatasi-diri ialah komitmen terhadap pekrjaan. Salah satu cara untuk
memperoleh arti ialah dengan mengungkapkan nilai – nilai daya cipta, dimana
nilai – nilai ini dapat di ungkapkan dengan sangat baik melalui pekerjaan atau
tugas seseorang. Itulah suatu segi kehidupan yang menempatkan seseorang dalam
suatu hubungan yang unik dengan masyarakat. Kita melakukan pekerjaan kita dalam
suatu cara yang tidak dilakukan orang lain, dengan demikian kita masing –
masing memberikan sumbangan kepada masyarakat.
Segi yang penting dari
pekerjaan bukan isi dari pekerjaan tersebut, melainkan cara bagiamana kita
melakukannya. Inilah yang memberikan arti kepada kehidupan. Jadi, apa yang
penting bukan pekerjaan (kekuatan dari luar), melainkan apa yang kita musukkan
dalam pekerjaan berkenaan dengan kepribadian kita sebagai manusia yang unik (
kekuatan dari dalam ). Dalam konteks ini, Frankl memberi contoh seorang wanita
yang bekerja sebagai perawat. Setiap hari dia melakukan banyak kegiatan yang
penting, tetapi kegiatan – kegiatan itu (syarat – syarat pekerjaan) tidak cukup
memberikan arti kepada kehidupannya. Hal itu hanya terjadi kalau perawat itu
melakukan sesuatu yang lebih daripada apa yang dituntut oleh tugas – tugasnya,
bahwa dia menemukan arti lewat pekerjaannya. Apabila dia menggunakan waktu
tambahan untuk menghibur seorang pasien yang putus asa, yang ketakutan, atau
mengatakan beberapa kata yang manis kepada seseorang yang mendekati ajanya,
maka dia memberikan dirinya di luar struktur pekerjaannya; berfokus kepada
seseorang diluar dirinya.
Karena seseorang
menemukan arti melalui pekerjaan, dan
bukan di dalam pekerjaan itu sendiri, maka ‘arti’ dapat ditemukan melalui
hamper setiap macam pekrjaan manapun juga. Frankl percaya bahwa kebanyakan
pekerjaan memberikan ungkapan nilai – nilai daya cipta (kecuali perkerjaan –
perkerjaan yang sama sekali teratur,seperti misalnya pekerjaan ban berjalan).
(c)
Memberi dan menerima
cinta
Sifat lain dari orang
– orang yang mengatasi diri ialah kemampuan mereka untuk memberi dan menerima
cinta. Cinta adalah tujuan pokok manusia. Keselamatan hidup seseorang adalah
melalui cinta dan dalam cinta. Meskipun salah satu cara untuk merealisasikan
keunikan kita ialah melalui pekerjaan, namun cara lain ialah melalui
‘dicintai’. Apabila kita dicintai, maka keberadaan kita yang unik dan istimewa
diterima oleh orang lain. Bagi orang yang mencintai kita, kita menjadi orang
yang sangat diperlukan dan tidak dapat diganti.
Disamping itu, masih
ada sisi lain bagi hubungan cinta, yaitu memberi cinta. Dengan memberi cinta
(dalam bentuk mencintai) kepada orang lain kita dapat melihat sifat – sifat dan
ciri – ciri khas meraka, termasuk yang belum diaktualisasikan. Dengan cinta
yang kita miliki, kita dapat membuat orang yang dicintai sanggup merealisasikan
potensi – potensi yang belum dimanfaatkan dengan menyadarkan mereka tentang
potensinya untuk menjadi apa. Dalam hubungan cinta timbal – balik, kedua pihak
beruntung dalam hal pemenuhan dan realisasi yang lebih besar dari potensi
mereka untuk menjadi manusia yang lebih penuh.
Sumber:
MIF Baihaqi.
2008. PSIKOLOGI PERTUMBUHAN Kepribadian Sehat untuk Mengembangan Optimisme.
Bandung: PT Remaja RosdaKarya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar