Senin, 29 April 2013

KESEHATAN MENTAL

TULISAN I


TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
I.          ALLPORT
CIRI-CIRI KEPRIBADIAN YANG MATANG
Menurut Allport Watak atau karakter sama, walaupun istilah kepribadian dan watak sering di pergunakn secara bertukar-tukar, namun Allport menunjukan, bahwa biasanya kata watak menunjukan arti normative; dia menyatakan bahwa character is personality evaluated and is charater devaluated’. (Allport 1951, p 52). Sedangkan bagi Allport temperament adalah bagian khusu dari kepribadian yang diberika definisi demikian :
Tempramen  adalah gejala karateristik dari pada sifat emosi individu, termasuk juga mudah tidaknya kena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasana hatinya, segala dara daripada fluktuasi dan intensitat Susana hati; gejala ini tergantung kepadsa factor konstitusional, dan karenanya terutama berasal dari keturunan. (Allport, 1951, p. 54)
a.                  Sifat (Trait)
1.                  Sifat
Sifat adalah tendens determinasi atau predisposisi dan diberinya definisi demikian  :“Sifat adalah system neudopsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi bermacam-macam perangsang secara sama, memulai serta membimbing tingkah laku adaptif dan ekspresif secara sama” (Allport, 1951, p.  289)
Yang perlu dicatat mengenai definisi ini ialah tekanan terhadap individualitas dan kesimpulan bahwa kencendrungan itu tidak ada hanya terikat kepada sejumlah perangsang atau reaksi, melainkan denganseluruh pribadi manusia. Pernyataan “system neuropsikis” menunjukan jawaban affirmative yang diberikan oleh Allport terhadap pertanyaan apakah  “trait” itu benar-benar ada pada individu.
Dengan mempertentangkan pendirian biososial (yang menganggap bahwa trait atau sifat itu hanya ada dalam pengamatan yang dibuat oleh orang lain) dengan pendirian biofisik (yang menganggap bahwa trait atau sifat itu tidak tergantung kepada pengama tetapi benar-benar mempunyai esksistensi di dalam pribadi ) nyata sekali Allport mengikuti pendirian yang kedua. Dalam kuliah-kuliahnya dia selalu menyatakan bahwa trait adalah kenyataan terakhir dari pada organisasi psikologis; dan dalam tulisannya (Personality) dia menyatakan :
“Sesuatu sifat….. mempunyai lebih dari hanya eksistensi nominal saja; sifat itu tak tergantung kepada pengamat, tetapi nyata-nyata ada pada individu”. (Allport, 1951, p. 289). Jelasnya : Pandangan ini tidak beranggapan bahwa tiap nama sifat mesti mencerminkan suatu sifat, tetapi maksudnya di belakang semua kekaburan istilah itu, di belakang ketidaksepakatan pendapat mengenainya, dan terpisah dari kekhilafan dan kegagalan observasi empiris, ada struktur batin (mental structure)  pada tiap kepribadian yang mencerminkan keselarasan tingkah lakunya. Dalam pada itu perlu pula di jelaskan perbedaan pengertian ini dengan beberapa pengertian lain yang berhubungan.
2.                  Perbedaan sifat dengan beberapa pengertian yang lain
(a)                Kebiasaan (habit)
Sifat (trait) dan kebiasaan (habit) kedua-duanya adalah tendens determinasi, akan tetapi sidat itu lebih umum, baik dalam situasi yang dicocokinya, maupun dalam respone yang terjelma darinya.
(b)               Sikap (attitude)
Perbedaan pengertian sifat (trait) dan sikap (attitude) sukar diberikan. Bagi Allport kedua-duanya itu adalah predisposisi untuk merenspons, kedua-duanya adlah khas, kedua-duanya dapat memulai atau mebimbing tingkah laku;  kedua-duannya adalah hasil dari factor genesis dan belajar. Namun kalau di teliti ada juga perbedaan di antara kedua hal itu.
(1)               Sikap (attitude) itu berhubungan dengan sesuatu obyek, sedangkan sifat (trait) tidak. Jadi sifat umum daripada sifat ialah bahwa sifat itu hamper selalu lebih besar/luas dari pada sikap:  dalam kenyataan nya makin besar jumlah objek yang dikenai sikap it, maka sikap makin mirip dengansifat. Sikap dapat berbeda-beda dari yang lebih khusus ke yang lebih umum, tetapi kalau sifat itu selalu umum
(2)               Tipe
Allport Membedakan antar sifat dan tipe. Menurut dia orang dapat memiliki suatu sifat, tetapi tidak dapat memiliki sesuatu tipe. Tipe adalah kontruksi ideal si pengamat, dan seseorang dapat disesuaikan dengan tipe itu tetapi dengan konsekuensi di abaikan sifat-sifat khas individuinya. Sifat dapat mencerminkan sifat khas pribadi sedangkan tipe menunjukan perbedaan-perbedaan buatan yang tak begitu cocok dengan kenyataan, sedangkan sifat adalah refleksi sebenarnya daripada yang sebenar-benar ada.
                                                                                                  
3.                  Sifat-sifat umum (bersama) dan sifat-sifat individual
Suatu hal yang sangat penting di dalam mempelajari teori Allport ini ialah berusaha mengenai perbedaannya antara sifat-sifat umum (bersama) dan sifat-sifat individualnya. Dia menyatakan bahwa di dalam kenyataan tidak pernah ada dua individu mempunyai sifat-sifat yang benar-benar sama. Walaupun mungkin ada kemiripan dalam struktur sifat namun ada selalu ada corak yang khas mengenai cara bekerjanya sifat-sifat itu pada tiap individu yang yang menyebabkan adanya perbedaan dengan sifat yang sama yang ada pada orang lain. Jadi sebenarnya semua sifat itu adalah sifat individual, artinya khas dan hanya dapat dikenakan kepada satu individu
Walau tidak ada sesuatu sifat yang dapat di amati pada lebih dari satu individu, namun Allport mengakui bahwa karena pengaruh-pengaruh yang sama dari masyarakat dan kesamaan-kesamaan yang mempengaruhi perkembangan individu, ada sejumlah kecil cara-cara penyesuaian diri yang secara kasar (garis besar) dapat dibandingkan. Jadi penyelidik mungkin menyusun ketentuan-ketentuan (ukuran-ukuran) yang menunjukan aspek-aspek yang sama daripada sifat-sifat individual dan yang mempunyai nilai prediktif kasar – inilah sifat umum atau sifat nomothetis. Cara demikian itu tidak dapat dipertahankan kalau dipandang dari segi kekhususan individu tetapi kalau di pandang dari segi kegunaan dapat. Secara singkat Allport menyatakan di atas itu demikian :
“Kalau  diartikan secara teliti definisi sifat itu, hanya sifat individuallah sifat yang sebenarnya, karena
(a)                 Sifat-sifat selalu ada pada individu-individu dan tidak dalam masyarakat, dan
(b)               Karena sifat-sifat itu berkembang dan mengumum menjadi disposisi-disposisi dalam cara-cara yang khas sesuai dengan pengalaman masing-masing individu. Sifat umum sama sekali bukanlah sifat yang sebenarnya, melainkan hanyalah aspek-aspek yang dapat diukur dari pada sifat individu yang kompleks”. (Allport, 1951, p.299).
Orang yang mungkin berpendapat bawa sifat-sifat umum itu harus di beri nama yang bebeda, supaya dapat dibedakan dengan sifat individual.  Allport tidak dapat menerima pendapat yang demikian itu karena istilah sifat itu sudah dipergunakan secara luas didalam kedua arti itu serta penggunaan itu menunjukkan kepada penyelidik tentang aspek-aspek kepribadian yang dapat di banding-bandingkan dengan istilah itu. Jadi pada umumnya Allport mengakui bahwa penyelidikan mengenai sifat-sifat umum itu akan berguna dalam konsepsi yang demikian itu mneggambarkan individu setepat-setepatnya.
4.                  Sifat pokok, sifat sentral dan sifat sekunder
Di muka suadah dikatakan bahwa sifat-sifat itu merupakan predisposisi-predisposisi umum bagi tingkah laku. Dalam pada itu masih ada satu soal lagi mengenai hal ini, yakni apakah semua sifat itu padapokonya mempunyai taraf keumuman yang sama, dan apabila tidak bagaimanakah cara membedaka-bedakan antara sifat pokok, sifat sentral dan sifat sekunder.
(a)                 Sifat pokok atau cardinal trait
Sifat pokok ini demikian menonjolnya (dominannya) sehingga hanya sedikit saja kegiatan-kegiatan yang tak dapat di cari, baik secara langsung maupun tidak langsung bahwa kegiatan itu berlangsung karena pengaruhnya. Tidak ada sifat semacam itu yang lama tersembunyi; individu dikenal dengan sifat itu dan bahwa mungkinmenjadi terkenal dalam sift itu. Kualitas yang demikian dominan pada individu itu sering di sebut “the eminent trait, the ruling passion, the master sentiment, atau the radix of alife”. (Allport, 1951, p. 338). Macam sifat ini relative kurang biasa dan kurang nampak pada tiap orang.
(b)               Sifat sentral (central trait)
Sifat-sifat ini lebih khas, dan merupakan kecendrungan-kecendrungan individu yang sangat khas/karakteristik sering berfungsi dan mudah di tandai.
(c)                Sifat sekunder (Secondary trait)
Sifat sekunder ini nampaknya berfungsinya lebih terbatas kurang menetukan di dalam deskripsi kepribadian, dan lebih terpusat atau khusus pada response-response yang di dasrnya serta perangsang-perangsang yang d cocokinya
5.                  Sifat-sifat ekspresif
Kecuali yang telah dikemukakan itu, masih ada sifat-sifat yang lain; yaitu yang di sebut sifat-sifat ekspresif. Sifat-sifat ekspresif ini merupakan disposisi yang memberi warna atau mempengaruhi bentuk tingkah laku, tetapi yang pada kebanyakan orang tidak mempunyai sifat mendorong. Contoh sifat-sifat ekspresif ini ialah melagak, ulet,  dan sebagainya. Adapun tujuan yang kejar orang sifat-sifat ini dapat bekerja, dapat memberi warna kepada tingkah lakunya.
Persoalan di atas itu menimbulkan persoalan /pertanyaan apakah sifat-sifat hanya berfungsi membimbing dan memberikan arah tingkah laku. Pertanyan ini tidak dapat di jawab dengan sederhana. Beberapa sifat terang lebih mendorong, lebih mempunyai peranan sebagai pendorong yang menentukan daripada yang lain-lain. Jadi, diantara sifat-sifat itu terdapat variasi dalam pengaruh mendorongnya terhadap individu.  Selanjutnya dapat dinyatakan bahwa dalam arti tertentu selalu ada perangsang lebih dahulu yang berhubungan dengan pengaktifan sesuatu sifat misalnya perangsang dari luar atau keadaan dalam arti orang harus mendahului bekerjanya (berfungsinya) sesuatu sifat. Namun jelas selkali bahwa kebanyakan sifat tidak merupaka refflektor dari perangsang-perangsang luar.  Dalam kenyataanya individu aktif mencari perangsang-perangsang yang tepat untuk membuat sifat berfungsi. Seseorang yang mempunyai sufat suka bergaul jelas tidak akan menanti situasi untuk mengeskpresikan sifat itu,  tetapi dia akan menciptakan situasi di man dia dapat bergaul dengan orang-orang lain. 
6.                  Kebebasan sifat-sifat
Sejauh mana sifat-sifat itu ada sebagai system tingkah laku yang bekerja tanpa mengingat system-sistem yang lain? Apakah bekerjanya sesuatu sifat tertentu itu selalu di isyaratkan  oleh sifat-sifat yang lain ? Allport berpendapat bahwa sifat-sifat tu dapat di tandai bukan oleh sifat bebasnya yang kaku tetapi terutama oleh kualitas memusatnya. Jadi sifat itu cendrung untuk mempunyai pusat;  disekitar pusat itu lah pengaruhnya berfungsi; tetapi tingkah laku yang di timbulkannya juga secara serempak (simultan) dipengaruhi oleh sifat-sifat yang lainya. Kebebasan sifat-sifat umumnya yang ddefinisikan secara sekehendak seperti dalam sementara penyelidik-penyelidik psikomatris, merupakan salah satu dari kelemahan-kelemahannya sebagai representrasi yang tepat dari pada tingkah laku. Saling pengaruh atau berhubungannya. Bermacam-macam sifat itu juga merupaka salah satu sebab adanya kenyataan bahwa mungkin membuat metode-metode klasifikasi yang benar-benar memuaskan.  
7.                  Konsintensi (consistency) sifat-sifat
Jelas bahwa kesimpulan-kesimpulan yang dipergunakan untuk menandai sifat adalah konsistensinya. Jadi sifat itu tidak dapat dikenal hanya keteraturan  atau ketetapannya di dalam individu bertingkah laku. Kenyataanya, bahwa ada banyak sifat-sifat yang saling menutup satu sama lain.  Yang serempak aktif menunjukan, bahwa ketidaktetapan (inconsistency) yang jelas di dalam tingkah laku individu relative akan sering ditemukan. Selanjutnya, kenyataan bahwa sifat-sifat itu mungkin meliputi unsure-unsur yang nampaknya tidak tetap apabila dipandang dari segi normative atau dari luar. Jadi, orang mungkin menyaksikan ketidaktetapan tingkah laku yang sebenarnya mencerminkan batin yang tetap terorganisasi secara khas. Hal ini tidak berarti, bahwa setiap kepribadian itumempunyai integrasi sempurna. Disosiasi damn pendesakan/penekanan mungkin ada dalam tiap kehidupan. Tetapi biasanya ketetapan itu adanya yang sebenarnya lebih dari pada apa yang dapat dicari oleh metode-metode psikologis.
8.                  Intensi (intension)
Lebih penting dari penyelidikan mengenai masa lampau ialah penyelidikan mengenai intense atau keinginan individu mengenai masa depannya. Istilah intense di gunakan dalam arti yang meliputi pengertian : harapan-harapan, keinginan-keinginan, ambisi, cita-cita seseorang. Menurut Allport intense ini dapat disejajarkan dengan apa yang disebut Freud Ich ideal dan yang disebut C. Buhler Bestimmung.
Dalam hal inilah terlihat jelas perbedaan Allport dengan lain-lain teori kepribadian dewasa ini. Teori Allport  menunjukan bahwa apa yang akan di coba dlakukan oleh seseorang merupakan kunci dan hal yang akan di coba  dilakukan oleh seseorang merupakan kunci dan hal yang terpenting bagi apa yang dikerjakanya sekarang. Jadi kalau dewasa ini banyak ahli yang mengutamakan  masa lampau, maka pendapat Allport itu mirip sekali dengan pendapat Aldler  dan Jung; Walaupun tidak ada alas an untuk mengatakan adanya pengaruh dari mereka ini.
Sumber
Sumadi Suryabrata. (2011). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers
II.        ROGERS
PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
            Rogers menyebutkan dirinya sebagai orang yang berpandangan humanistik dlam psikologi kontemporer. Psikologi humanistik dari satu pihak menentang apa yang disebut sebagai pesimisme suram dan keputusasaan yang terkandung dalam pandangan psikoanalitik tentang manusia dan di lain pihak menentang konsepsi robot tentang manusia yang digambarkan dala behaviorisme. Psikogi humanistik lebih penuh harapan dan optimistik tentang manusia. Ia yakin bahwa dalam diri setiap orang terdapat potensi-potensi untuk menjadi sehat dan tumbuh secara kreatif. Kegagalan dalam mewujudkan potensi-potensi ini disebabkan oleh pengaruh yang bersifat menjerat dan keliru dari latihan yang diberikan oleh orangtua, serta pengaruh-pengaruh sosial lainnya . Namun pengaruh-pengaruh yang merugikan ini dapat di atasi apabila individu mau menerima tanggung jawab untuk hidupnya sendiri. Rogers yakin apabila tanggung jawab ini diterima, kita segera akan melihat-kalau saja represi dan perbudakan yang meliputi seluruh dunia dapat dicegah -  munbculnya seorang pribadi baru ”yang penuh kesadaran, mengarahkan dirinya sendiri, seorang penjelajah dunia batin lebih daripad dunia luar, yang memandang rendah sikap serba tunduk pada kebiasaan-kebiasaan dan dogma tentang autoritas” (Rogers 1974).
Struktur Kepribadian
            Walaupun Rogers nampaknya tidak mementingkan kontruk-kontruk struktural,  dan lebih senang menaruh perhatian pada perubahan dan perkembangan kepribadian, namun ada dua kontruk yang sangat penting dalam teorinya dan bahkan dapat dianggap sebagai tempat berpijak bagi seluruh teorinya. Kedua kontruk tersebut teorinya adalah organisme dan diri (self).
Organisme
            Secara psikologis, organisme adalah lokus atau tempat dari seluruh pengalaman. Pengalaman meliputi segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadaran organisme pada setiap saat. Keseluruhan pengalama ini merupakan medan fenomenal. Medan fenomenal adalah “frame of reference” dari individu yang hanya dapat diketahui oleh orang itu sendiri. “Medan fenomenal tidak dapat diketahui oleh orang lain kecuali melalui inferensi empatis dan selanjutnya tidak dapat diketahui dengan sempurna” (Rogers, 1959, hlm. 210). Bagaimana individu bertingkahlaku tergantung pada medan fenomenal itu (kenyataan subjektif) dan bukan pada keadaan-keadaan perangsangnya (kenyataan luar).
            Harus dicatat bahwa medan fenomenal tidak indektik dengan medan kesadara. “Kesadaraan adalah perlambangan  dan sebagaian pengalaman kita”  (Rogers, 1959, hlm. 198). Dengan demikian medan penomenal terdiri dari pengalaman sadar (dilambangkan) dan pengalaman tak sadar (tidak dilambangkan). Akan tetapi organisme dapat menbedakan kedua jenis pengalaman tersebut dan bereaksi dengan pengalaman yang tidak dilambangkan. Mengikuti McCleary dan Lazarsus (1949), Rogers menyebutnya peristiwa subsepsi (subception).
            Pengalaman mungkin tidak tepat dilambangkan, akibatnya orang bertingkah laku secara tidak serasi. Akan tetapi orang cendrung mencek pengalaman-pengalaman yang dilambangkandengan dunia sebagimana adanya. Uji terhadap kenyataan ini memberiakn orang pengetahuan yang dapat di andalkan tentang dunia sehingga dengan demikian orang dapat bertingkah laku secara realistis. Akan tetapi, persepsi-persepsi tertentu tetap tidak diuji atau diuji secara kurang memadai, dan pengalaman-pengalaman yang tidak diuji adapat menyebabkan orang bertingkah laku secara tidak realistis, bahkan merugiakn orang itu sendiri. Meskipun Rogers tidak menyinggung isu tentang kenyataan  ”sebenarnya”  namun jelas bahwa orang-orang harus memiliki suatu konsepsi tentang standar kenyataan luar atau impersonal, sebab kalau tidak demikian mereka tidak akan dapat menguji gambar kenyataan kentaan batin (subjektif) denga kenyataan “objektif”. Pertanyaan kemudian timbul, yakni bagaiman orang-orang dapat membedakan antara gambaran sujektif yang tidak merupakan representasi yang tepat dari kenyataan dan gambaran yang benar-benar merupakn representasi dari kentaan. Apakah yang memungkinkan orang membedaka antara fakta dan fiksi dalam dunia sujektinya? Inilah paradoks besar dalam fenomenologi.
            Rogers memecahkan paradoks tersebut dengan menyimapang dari rangka pemikiran fenomenologi murni. Apakah yang dialami atau dipikirkan orang sebenarnya buakanlah kenyataan bagi orang itu: hal itu hanyalah hipotesis sementara  tentang kenyataan yang dapat benar atau salah. Orang menunda keputusannya sampai ia menguji hipotesis tersebut. Apakah yang dimaksud menguji? Menguji berati mencek ketepatan imformasi yang diterima dan yang merupakan dasr dari hipotesisnya dengan sumber-sumber informasi lain. Misalnya, seseorang akan mengarami makanannya berhadapan dengan dua tempat bumbu. Satu diantaranya berisi garam dan yang lainnya berisi merica. Orang tersebut mengira bahwa tempat yang berlubang besar berisi garam, tetapi karena tidak yakin maka ia menuangkan sedikit isinya pada telapak tangannya. Apabila partkel-partikel yang keluar adalah putih dan bukan hitam, maka orang tersebut boleh merasa yakin bahwa itu garam. Orang yang sangat teliti mungkin merasa perlu mencicipinya sedikit sebab bisa jadi itu merica putih, bukan garam. Apa yang di kemukakan dengan contoh ini adalah suatu pengujian ide-ide orang dengan berbagi data inderia. Pengujian tersebut berupa mencek imformasi yang kurangpasti dengan pengetahuan yang lebih lansung. Dalam kasus garam, ujian terakhir adalah rasanya; suatu cita rasa tertentu menetukan bahwa itu garam.
            Tentu saja, contoh yang dkemukkan tadi menggambarkan suatu kondisi ideal. Dalam banyak kasus, orang menerima begitu saja pengalamannya sebagai representasi yang tepat tentang kenyataannya sebagai hipotesis tentang kenyataan. Akibatnya, orang kerapkali menghasilkan banyak komsepsi salah tentang dirinya dan tentang dunia luar. “Priadi yang utuh”, baru-baru ini rogers menulis, “ adalah orang yang sepenuhnya terbuka pada data yang dialami dalam dirinya dan data yang di alaminya dari dunia luar” (1977, hlm. 250).
Diri (self)
            Sebagian dari medan fenomenal lama kelamaan menjadi terpisa. Ini adalah diri. Diri atau konsep-diri merupaka :
Gestalt konseptual yang terorganisasi dan konsisten yang terdiri dari konsepsi-konsepsi tentang sifat-sifat dari ‘ diri subjek ’  atau ‘ diri objek ’ dan persepsi-persepsi tentang hubngan-hubungan antara ‘ diri subjek ’ atau ‘ diri objek ’ dengan orang0orang lain dan dengan berbagai aspek kehidupan beserta nila-nilai yang melekat pad persepsi-persepdi ini. Gestaltlah yang ada dalam kesadaran meskipun tidak harus disadari. Gestalt tersebut bersifat lentur dan berubah-ubah, suatu proses, tetapi pada setiap saat merupakan suatu entitas spesifik (Rogers, 1959), hlm. 200).
            Diri merupakan salah satu konstruk sentral dalam teori Rogers, dan ia telah memberika suatu penjelasan yang menarik bagaimana ini terjadi.
            Berbicara secara pribadi sya memulai karya saya dengan keyakinan yasng mantap bahwa “diri” adalah suatu istilah yang kabur, ambigu atau bermakna ganda, istilah yang tidak berarti secara ilmiah, dan telah hilang dari kamus para psikolog bersama menghilangnya para introspeksionis. Dari sebab iti, saya lambat menyadari bahwa apa bila klien-klien diberi kesempatan untuk mengungkapkan masalah-masalahmereka dan sikap-sikapmereka dalam istilah-istilah mereka sendiri, tampa suatu bimbingan atau interprentasi, ternyata mereka cendrung berbicara tentang diri…..tampaknya jelas,…bahwa diri merupakan suatu unsur penting dalam pengalaman klien, dan aneh karena tujuannya adalah menjadi ‘ diri-sejati ’ –nya (1959, hlm. 200 – 201).
Disamping “diri” sebagaimana adanya (struktur diri), terdapat suatu diri ideal, yakni apa yang diinginkan orang tentang dirinya.
Oragnisme dan Aku  :  Keselarasan dan ketidakselarasan
            Pentingnya konsep-konsep struktural, yakni organisme dan “diri”, dalam teori rogers menjadi jelas dalam pembicaraannya tentang kongruensi dan inkongruensi antara diri sebagaimana tentang kongrensi dan inkongruensi antara diri sebagaimana dipersepsikan dan pengalaman aktual organisme (1959,hlm.203, 205-206.) Apabila pengalaman-pengalaman yang dilambangkan yang membentuk diri benar-benar mencerminkan pengalaman-pengalaman organisme. Maka orang yang bersangkutan disebut berpenyesuain baik, matang, berfungsi sepenuhnya. Orang macam itu menerima seluruh pengalaman organisme tampa merasakan ancaman atau kecemasa. Ia mampu berfikir secara realitis. Inkongruensi antara diri dan organisme menyebabkan individu-individu merasa terancam dan cemas. Mereka bertingkah laku serba defensif dan cara berfikir mereka menjadi sempit dan kaku.
            Dalam teori Rogers secara implisit terdapat dua manifestasi lain dari kongruensi-inkongruensi. Pertama adalah kongruensi atau inkongruensi antar kenyataan subjektif (medan fenomenal) dan kenyataan luar (dunia sebagaimana adanya).  Kedua adalah tingkat kesesuaian antar diri dan diri idea. Apabila perbedaan antara diri dan diri ideal adalah besar, maka oarng merasa tidak puas dan tidak dapat menyesuaikan diri.
            Bagaimana inkongruensi itu terjadi dan bagaimana diri dan organisme dapat dibuat lebih kongruen merupakan keprihatiana utama Rogers, dan untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang sangat penting inilah maka ia telah mencurahkan begitu banyak kehidupan profesionalnya. Bagaimana ia menjawab pertanyaan-pertanyaan ini akan dibicarakan pada bagian tentang perkembangan kepribadian (untuk versi lain tentang kontruk-kontruk stuktural dari teori Rogers, lihat krause, 1964).
Sumber:
Calvin s. Hall & Gardner Lindzey. (1993). Psikologi Kepribadian 2, Teori-teori Holistik (Organismik-Fenomenologis). Yogyakarta: Penerbit Kanisius
III.       TEORI ABRAHAM MASLOW
HIRARKI KEBUTUHAN MANUSIA (AKTUALISASI DIRI)
            Abraham Maslow dalam banyak tulisan [ khususnya lihat Motivation and personality ( 1954, edisi yang direvisi, 1970), Toward a phsychology of being (1968a), dan the farther reaches of human nature (1971) ] mendukung segi pandangan dinamik, holistik yang banyak kesamaan dengan pandangan Goldtein dan angyal, temaN-teman sekerjanya di Universitas Brandeis. Maslow beranggapan bahwa pendiriannya tergolong dalam bidan psikologi humanistik yang luas   yang disebutnya sebagai “mazhab ketiga” dalam spikologi amerika, dua yang lain nya adalah behaviorisme spikoanalisis.
            Maslow dilahirkan di Brooklyn, New york, pada tanggal 1 April 1908. Semua gelarnya diperoleh di Universitas Wisconsin, tempat ia meneliti tingkah laku ker. Selama 14 tahun (1937 – 1951) ia menjadi staf pengajar brooklyn College. Pada tahun 1951, Maslow pergi ke Universitas Brandeis di mana ia tinggal sampai tahun 1969, ketika ianmenjadi anggota tetap pada Laughlin Foundation di Menlo Park, California. Maslow menderita serangan jantun yang menyebabkan kematiannya pada tanggal 8 juni, tahun 1970.
            Sejak kematiannya, sejumlah buku tentang hidup dan karyanya di terbitkan. Diantaranya adalah sebuah buku kenangan yang berisi kata-kata pujian, beberapa catatan Maslow yang tidak diterbitkan, dan sebuah bibliografi lengkap dari tulisan-tulisannya (B.G. Maslow, 1972) dan sebuah potret intelektual yang di kemukakan oleh pembantu dekatnya (Lowry, 1972a). Lowry (1973b) juga telah menyusun menjadi satu buku, makalah-makalah lepas yang di tulis oleh Maslow. Buku-buku lain tentang Maslow telah ditulis oleh Goble(1970) dan Wilson (1972).
            Kami memilih beberapa segi khusus dari pandangan-pandangan Maslow mengenai kepribadian untuk d bawah. Penting untuk di perhatikan bahwa tidak seperti Goldtein dan Angyal yang meletakan dasar pandangan merekan pada penelitian tentang orang-orang yang mendapat cedera otak dan gangguan jiwa, Maslow menggunakan hasil-hasil penelitian nya tentang orang yang sehat dan kreatif untuk sampai pada perumusan-perumusan tertentu tentang kepribadian.
            Maslow mencela psikologi karena “konsepsinya yang pesimistik, negatif, dan terbatas” tentang manusia. Ia berpendapat bahwa psikolkogi lebih banyak memikirkan kelemahan-kelemahan manusia dari pada kekuatan-kekuatannya; spikologi semata-mata meneliti dosa-dosa dan mengabaikan kebajikan-kebajikan. Psikologi telah melihat hidup ini dari sudut individu yang berusaha mati-matian untuk menghindari perasaan sakit, bukan mengambil langkah-langkah aktif untuk mencapai kesenangan dan kebahagian. Maslow bertanya, dimanakah psikologi yang berbicara tentang kegirangan, kegembiraan, cinta, dan kesejahteraan sama tuntasnya sebagaimana ia berbicara tentang kesengsaraan, konflik, rasa malu, permusuhan? “telah dengan sengaja  membatasi dirinya pada hanyasetengah dari batas kekuasaannya yang sah, yakni sisi yang lebih gelap dan lebih kotor”. Maslow telah berusaha menyajikan sisi lain dari gambar, yakni paruh bagian yang lebih terang, lebih baik, untuk memberikan suatu potret sang keseluruhan pribadi secara utuh.
            Ia menulis sebagi berikut.
Sekarang biarlah saya mengemukakan singkat dan pertama-tama secara dogmatis hakikat dari konsepsi yang baru berkembang tentang manusia yang sehat secara spikiatris ini. Pertama dan yang paling penting dari semuanya adalah keyakinan yang kuat bahwa manusia memiliki kodratnya sendiri yang hakiki, suatu kerangka struktur psikologis yang dapat di pandang dan di bicarakan secara analog denganstuktur fisiknya, yakni ia memiliki kebtuhan-kebutuhan, kapasitas-kapsasitas, dan kecendrungan-kecendrungan yang besiftat genetik, beberapa diantaranya merupakan sifat-sifat khas dari seluruh spesis manusia, melintasi semua batas kebudayaan, dan beberapa lainnya adalah unik untuk masing-masing individu. Kebutuhan-kebutuhan ini pada dasarnya baik atau netral dan bukan jahat. Keduanyan, terkandung suatu konsepsi bahwa perkembangan yang benar-benar sehat, normal, dan yang di cita-citakan terjadi dalam bentuk mengaktualisasikan kodrat ini, memenuhi potensi-potensi ini, dan perkembangan   menuju kematangan mengikuti gais-garis yang diatur oleh kodrat yang tersembunyi samar-samar, dan yang dillihat kurang hakiki yang bertumbuh dari dalam dan bukan di bentuk dari luar. Ketiga, sekarang jelas kelihatan bahwa psikopatologi pada umumnya disebabkan oleh pengingkaran atau penelantaran, atau pembelokan kodrat manusiayang hakiki. Menurut konsepsi ini, apakah yang baik ? Segala sesuatu yang mengakibatkan perkembangan yang diinginkan kearah aktualisasi kodrat manusia ini baik. Apaka yang buruk atau tak normal ? Segala sesuatu yang mengakibatkan perkembangan yang diinginkan kearah aktualisasi kodrat manusia ini adalah baik.  Apakah yang buruk atau tak normal ? Segala sesuatu yang menggagalkan atau menghalangi atau menolak kodrat manusia yang hakiki adalah buruk atau tak normal. Apakah yang Psikopatologis? Segala sesuatu yang mengganggu atau menggagalkan  atau membelokan jalan aktualisasi-diri adala spikopatologis. Apakah itu spikoterapi atau untuk hal itu adaka suatu terapi khusus? Setiap cara manapun yang membantu mengarahkan orang-orang kejalan aktualisasi-diri dan perkembangan menurut garis-garis yang ditentukan oleh kodrat batinya adalah psikoterapi (1954, hlm. 340-341).
Dalam pertanyaan selanjutnya tentang asumsi-asumsi dasarnya, Maslow menambahkan sesuatu yang penting berikut ini :
Kodrat bati ini tidaklah sekuat  dan semaha kuasa dan tidak bisa salah seperti insting-insting binatang. Kodrat batin adalah lemah, lembut, serta halus dan mudah dikalahkan olehkebiasaan  tekanan kebudayaan, dan sikap-sikap yang salah terhadapnya. Meskipun lemah, namun ia jarang hilang pada orang normal mungkin tidak hilang pada orang sakit. Meskipun diingkari, namun tetap bertahan secara diam-diam dan selalu mendesak untuk aktualisasi (1968, hlm. 4).
Selanjutnya , Maslow menulis “Segala bukti yang kami peroleh (Kebanyakan dari bukti klinis, tetapi juga beberapa macam bukti penelitian lainnya) menunjukan bisa di asumsikan bahwa dalam hampir setipa manusia, dan sudah barang tentu dalam hampir setiap bayi yang baru lahir, terdapat kemauan yang aktif ke arah kesehatan, implus kearah pertumbuhan, atau kearah aktualisasi potensi-potensi manusia”(1976b).
Dalam kutipan-kutipan yang mengesankan dan representatif ini, Maslow telah mengemukakan sejumlah asumsiyang menunjukan tentang kodrat manusia. Oranr-orang yang memiliki kodrat bawaan yang pada hakikatnya adalah baik atau sekurang-kurangnya netral. Kodrat manusia menurut pembawaannya tidak jahat. Ini adalah suatu konsepsi baru soalnya banyak teoretikus beranggapan bahwa beberapa insting adalah buruk atau anti sosial yang harus dijinakan dengan latihan dan sosialisasi.
Karena kepribadian berkembang melalui pematangan dalam lingkungan yang menunjang dan usaha-usaha aktif pada pribadi untuk merealisasikaan kodratnya, maka daya-daya kreatif dalam manusia menyatakan dirinya dengan lebih  jelas lagi. Apa bila manusia menderita atau neurotik, maka hali itu di sebabkan karena lingkungan menyebabkan demikian lewat ketidaktauan dan patologi sosial, atau karena mereka telah mendistorsikan pikiran mereka.  Maslow juga berpendapat banyak orang takut akan dan megundurkan diri dari menjadi manusia sepenuhnya. (diri yang teraktualisasikan).  Sifat destruktif dan kekerasan, misalnya, bukan sifat asli manusia. Manusia menjadi destruktif kodrat batinya di belokan, atau disangkal atau dikecewakan.  Maslow (1968b) membedakan kekerasan patologi dan agresi sehat melawan ketidakadilan, prasangka, dan penyakit-penyakit sosial lainnya.
Maslow (1967a) telah mengemukakan suatu teori tentang motivasi manusia yang membedakan antara kebutuhan-kebutuhan dasar (basic needs) dan metakebutuhan-metakebutuhan (metaneeds). Kebutuhan-kebutuhan dasr meliputi lapar, kasih sayang (afeksi), rasa aman, harga diri, dan sebagainya. Metakebutuhan-metakebutuhan meliputi kadilan, kebaikan, keindahan, keteraturan, kesatua, dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan dasar adalah kebutuhan-kebutuhan akibat kekurangan, sedangkan metakebutuhan-metakebutuhan kebutuhan untuk pertumbuhan. Kebutuhan-kebuthan dasar pada umumnya  aneh lebih kuat dari pada metakebutuhan-metakebutuhan dan terssusun secara hirarki kebutuhan-kebutuhan itu sama kuat  dan agak mudah dapat disubstitusikan  satu sama lain. Meta kebutuhan-meta kebutuhan adalah instingtif atau melekat pada manusia seperti kebutuhan-kebutuhan dasar, dan apabila metakebutuhan-metakebutuhan tidak dipenuhi maka orang tersebut dapat menjadi sakit . Metapatologi-metapatologi ini meliputi keadaan-keadaan  seperti alienasi, penderitaan, apati, sinisme.
Malow yakin bahwa apabila para psikologi hanya mempelajari orang-orang yang lumpuh, kerdil, neurotik maka mereka hanya menghasilkan suatu psikologi yang lumpuh. Untuk mengembangkan suatu ilmu pengetahuan yang lebih lengkap dan luas. Tentang manusia maka para psikolog harus juga mempelajari orang-orang yang telah merealisasikan potensi-potensinya sampai sepenuh-penuhnya. Inilah yang dilakukan Maslow;  ia telah mengadakan penelitian yang intensifdan luas tentang sekelompok orang yang telah mengaktualisasikan-diri. Mereka adalah orang-orang langka sebagaimana didapati Maslow ketika ia mengumpulkan kelompok penelitinya ini. Setelah menemukan orang-orang yang cocok, beberapa di antarang tokoh-tokoh historis seperti Lincoln, Jefferson, Walt Whitman, Thoreau, dan Beethoven, sedangkan tokoh-tokoh lainnya masih hidup pada waktu di teliti, seperti Eleanor Roosevelt, Einstein, dan teman-temanserta kenalan-kenalan peneliti, maka mereka diteliti secara klinis untuk menemukan sifat-sifat man yang menbedakan mereka dari orang-orang biasa. Ternyata inilah ciri-ciri khas mereka :
(1) Mereka berorientasi secara realistik.
(2) Mereka menerima diri mereka sendiri, orang-orang lain, dunia kodrati seperti apa adanya.
(3) Mereka sangat spontan.
(4). Mereka memusatkan diri pada maslah bukan pada diri mereka sendiri.
(5) Mereka mapu membuat jarak dan memiliki kebutuhan akan privasi.
(6) Mereka adalah otonom dan independen atau berdiri sendiri.
(7) Apresiasi mereka terhadap orang-orang dan benda-benda adalah segar, bukan penuh prasangka.
(8) Kebanyakan diantara mereka memiliki pengalaman mistik atau spiritual yang dalam, meskipun  tidak bersifat religius.
(10) Hubungan mereka yang akrab dengan beberapa orang yang di cintai secara khas cendrung mendalam serta sangat emosional, tidak dangkal.
(11) Nilai dan sikap mereka adalah demokratik.
(12) Mereka tidak mencampurkan antara sarana dan tujuan.
(13) Perasaan humor mereka lebih bersifat filosofis dan bukan perasaan humor yang menimbulkan    permusuhan.
(14) Mereka sangat kreatif .
(15) Mereka menentang konformitas terhadap kebudayaan.
(16) Mereka mengatasi lingkungan bukan hanya mengahadapinya.
Maslow juga memiliki sifat dari apa yang disebut “Pengalaman-pengalaman puncak” (peak experiences). Laporan-laporan diperoleh dari jawaban atas permintaan untuk memikirkan pengalaman-pengalaman yang sangat indah dalam kehidupan seseorang. Ditemukan bahwa orang-orang yang mengalami pengalaman-pengalam puncak merasa lebih terintegrasi, lebih bersatu dengan dunia, lebih menjadi raja atas diri mereka sendiri, lebih spontan, kurang menyadari ruang dan waktu, lebih cepat dan mudah mencerap sesuatu dan sebagainya (1968a, Bab 6 dan 7).
Maslow (1966) bersikap kritis terhadap ilmu pengetahuan. Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan mekanistik klasik, seperti dikemukakan behaviorsme, tidak cocok untuk mempelajari seluruh pribadi. Ia menganjurkan suatu ilmu pengetahuan humanistik bukan sebagai alternatif untuk ilmu pengetahuan yang mekanistik, melainkan sebagai pelengkapnya. Ilmu pengetahuan humanistik semacam itu akan menggeluti pertanyaan-pertanyaan tentang nilai, individualitas, kesadaran, tujuan, etika, dan “jangkauan-jangkauan yang lebih tinggidari kodrat manusia”.
Kelihatannay sumbangan yang khas dari Maslow bagi sei pandangan organismik terletak pada perhatiaannya terhadap orang-orang yang sehat bukan orang-orang yang sakit,  dan pendapatnya bahwa penelitian-penelitian tentang dua kelompok ini akan mengahsilkan dua macam teori yang berbeda. Baik Goidstein maupun Angyal, sebagai ahli kedokteran dan psikoterapis, telah banyak mengahadpi orang-orang yang cacat dan kacau, namunwalaupun contoh ini berat sebelah, keduanya telah membuat suatu teori yang mencakupi seluruh organisme, dan yang berlaku baik bagi orang sakit maupun orang yang sehat. Maslow telah memilih jalan yang lebih langsung dengan meneliti orang-orang  sehat yang keseluruhan dan kesatuannya jelas kelihatan. Sebagai orang-orang yang mengaktualisasikan-diri, Orang-orang yang telah diamati Maslow ini merupakan Pengejewantahaan dari teori organismik.
Sumber:
Calvin s. Hall & Gardner Lindzey. (1993). Psikologi Kepribadian 2, Teori-teori Holistik (Organismik-Fenomenologis). Yogyakarta: Penerbit Kanisius
IV. ERICH FROMM
CIRI-CIRI KEPRIBADIAN SEHAT
Fromm lahir pada tanggal 23 Maret, 1900, di Frankurt, Jerman. Ia merupakan anak tunggal dari orang tua Yahudi Ortodoks kelas menengah. Ayahnya, Nafhtali Fromm, adalah anak seorang rabi dan cucu dari dua orang rabi. Ibunya,Rosa Krause Fromm, adalah keponakan Ludwig Krause, seorang ahli Talmud yang terpandang. Semasa kanak-kanak, Erich mempelajari Kesaksian Lama dengan beberapa ahli ternama, orang-orang yang dianggap sebagai “humanis dengan toleransi luar biasa” (Landis & Tauber, 1971, hlm, xi). Psikologi humanistis Fromm dapat dilacak melalui ayat-ayat ini, “dengan pandangan mereka akan perdamaian alam semesta dan harmoni serta ajaran mereka bahwa adanya aspek-aspek etis dalam sejarah─bahwa bangsa-bangsa dapat berbuat benar dan salah, dan bahwa sejarah memiliki moralnya sendiri” hlm. X).
            Masa kecil Fromm jauh dari kehidupan ideal. Ia ingat bahwa ia memiliki “orang tua neurotik” dan bahwa ia “kemungkinan seorang anak neurotik yang agak di luar batas” (Evans, 1966, hlm, 56). Ia melihat ayahnya dalam keadaan gusar dan ibunya yan rentan akan depresi. Kemudian, ia tumbuh di dua dunia yang sangat berbeda, salah satunya adalah dunia Yahudi Ortodoks, yang lainnya adalah dunia kapitalis Modern. Eksistensi terpisah itu menciptakan ketegangan yang hampir tak tertahankan lagi, namun mengakibatkan Fromm memiliki kecenderungan untuk melihat peristiwa lebih dari satu sudut pandang (Fromm, 1986; Hausdorff, 1972).
            Pembukaan bab ini menceritakan peristiwa mengejutkan dan membingungkan tentang seorang seniman wanita muda yang menarik yang bunuh diri sehingga ia dapat dikubur bersama ayahnya, yang baru saja meninggal dunia. Bagaimana mungkin wanita muda ini memilih kematian daripada “menikmati kehidupan dan melukis”? (Fromm, 1962, hlm, 4). Pertanyaan ini menghantui Fromm selama sepuluh tahun beriKutnya dan akhirnya membuat tertarik akan Sigmund Freud serta Psikoanalisis. Dengan membaca Freud, ia mulai mempelajari Oedipus Complex dan mengerti bahwa peristiwa bunuh diri tersebut mungkin saja terjadi. Kemudian, Fromm mengartikan ketergantungan irasional akan ayahnya tersebut sebagai hubungan simbiosis nonproduktif, namun pada awalnya ia puas dengan penjelasan Freud.
            Fromm berusia empat belas tahun pada saat pecahnya Perang Dunia I. Ia terlalu muda untuk ikut berjuang, namun tidak terlalu muda untuk terkesan pada irasionalitas nasionalisme bangsa jerman yang ia amati langsung. Ia yakin Inggris dan Prancis juga bertindak irasional dan sekali lagi ia dilanda oleh pertanyaan yang pelik: Bagaimana mungkn orang-orang yang biasanya berlaku rasional dan damai menjadi sangat tergerak oleh ideologi nasional, sangat berniat untuk membunuh, dan sangat siap untuk mati? “Ketika perang berakhir pada tahun 1918, saya adlah seoarang anak muda yang sangat terganggu dan terobsesi dengan pertanyaan bagaimana mungkin terjadi perang, dengan keinginan untuk mengerti irasionalitas tingkah laku manusia secara massal, dengan keinginan mendalam akan perdamaian dan saling pengertian dalam dunia Internasional” (Fromm, 1962, hlm, 9).
            Semasa remaja, Fromm sangat tergerak oleh tulisan Freud dan Karl Marx, namun ia juga terstimulasi oleh perbedaan di antara keduanya. Semakin ia mempelajarinya, ia mulai mempertanyakan validitas kedua sistem tertsebut. “Ketertarikan utama saya jelas terencana secara terperinci. Saya ingin mengerti hukum yang mengatur kehidupan manusia individu dan hukum masyarakat” (Fromm, 1962, hlm, 9).
            Setelah perang Fromm, menjadi seoarang sosialis, walaupun pada saat itu ia tidak mau bergabung dengan partai sosialis. Melainkan, ia berkonsentrasi pada sekolahnya di bidang psikologi, filosofi, dan sosiologi di Universitas Heidelberg di mana ia menerima  gelar Ph.D. dalam ilmu sosiologi saat berusia 22 atau 25 tahun. [Fromm adalah orang yang sangat tertutup sehingga penulis biografinya tisak dapat mencocokkan banyak fakta dalam hidupnya (Hornstein, 2000).]
            Oleh karena ia masih belum percaya diri bahwa pendidikannya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang begitu mengganggu, seperti kasus bunuh diri wanita muda dan kegilaan perang, maka Fromm beralih ke psikoanalis. Ia percaya bahwa psikoanalis menjanjikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaannya tentang motivasi manusia yang tak terjawab di bidang-bidang lain. Dari tahun 1925 sampai 1930, ia mempelajari psikoanalisis, pertama di Munich lalu di Farnkurt dan akhirnya di Berlin Psychoanalytic Institute, di mana ai dianalisis oleh Hanns Sachs, seorang murid Freud. Walaupun Fromm tidak pernah bertemu Freud, sebagian besar gurunya selama bertahun-tahun tersebut adalah pendukung setia teori Freud (Knapp, 1989).
            Pada tahun 1926, tahun yang sama di mana ia keluar dari agama Yahudi Ortodoks, Fromm menikahi Frieda Reichmann (analisanya) yang berusia lebih tua sepuluh tahun darinya. Di kemudian hari, Reichmann memperoleh reputasi internasional untuk hasil kerjanya dengan pasie-pasien skizoprenia. G. P. Knapp (1989) menyatakan bahwa Reichmann jelas figur seorang ibu bagi Fromm dan bahkan secara fisik pun mirip dengan ibunya. Gail Hornstein (2000) menambahkan bahwa Fromm tampak langsung beralih menjadi kesayangan ibunya ke hubungan-hubungan dengan beberapa wanita lebih tua yang menyayanginya. Bagaimanapun, pernikahan Fromm dan istrinya bukan pernikahan yang bahagia. Mereka berpisah pada tahu 1930, namun tidak langsung bercerai sampai tidak lama kemudian, setelah keduanya berhijrah ke Amerika Serikat.
            Pada tahun 1930, Fromm dan beberapa orang lainnya mendirikan South German Institute For Psychoanalytic di Frankurt. Akan tetapi, dengan ancaman Nazi yang semakin kuat, ia segera pindah ke Swiss di mana ia bergabung dengan International Institute of Social Research di Jenewa. Pada tahun 1933, ia menerima undangan untuk mengajar kuliah di Chicago Psychoanalytic Institute. Pada tahun berikutnya, ia hijrah ke Amerika Serikat dan membuka parktik pribadi di kota New York.
            Di Chicago dan New York, Fromm berteman dengan Karen Horney, yang ia kenal di Berlin Psychoanalytic Institute. Horney yang berusia lebih tua lima belas tahun dari Fromm, akhirnya menjadi figur ibu yang kuat dan guru baginya (Knapp, 1989). Pada tahun 1941, Fromm bergabung dengan Asosiasi untuk Perkembangan Psikoanalisis (Association for Advancement of Psychoanalisis-AAP). Walaupun ia dan Horney pernah menjadi sepasang kekasih, mereka menjadi lawan ketika terjadi perpecahan dalam asosiasi pada tahun 1943. Ketika para mahasiswa meminta Fromm, yang tidak bergelar MD, untuk mengajar mata kuliah klinis, organisasi terpecah ketika memutuskan kualifikasinya.
            Dengan Horney di sisi lawan, Fromm bersama Harry Stack Sullivan, Clara Tompson,  dan beberapa anggota lainnya berhenti dari asosiasi dan segera berencana untuk memulai organisasi alternatif (Quinn, 1987). Pada tahun 1946, kelompok orang-orang ini mendirikan William Alanson White Institute of Psychiatry, Psychoanalysis, and Psychology dengan Fromm sebagai dekan fakultas dan ketua komite pelatihan.
            Pada tahun 1944, Fromm menikahi Henny Gurland, seorang wanita yang dua tahun lebih muda darinya dan memiliki minat terhadap agama dan pikiran mistis yang kemudian pindah mendorong hasrat Fromm akan Budhisme Zen lebih jauh. Pada tahun 1951, pasangan ini pindah ke Meksiko, untuk iklim yang lebih bersahabat, demi Gurland yang menderita radang sendi (rheumatoid arthtritis). Fromm kemudian bekerja di National Autonomous University, Mexico City di mana ia mendirikan departemen psikoanalisis di sekolah kedokteran. Setelah istrinya meninggal pada tahun 1952, ia terus tinggal di Meksiko dan pulang pergi antar rumahnya di Cuernavaca dan Amerika Serikat, di mana ia memegang berbagai posisi akademis, termasuk Profesor psikologi di Michigan State University dari tahun 1957 sampai 1961 dan Profesor pembantu di New York University dari tahun 1962 sampai 1970. Di Meksiko dia bertemu Annis Freeman yang ia nikahi pada tahun 1953. Pada tahun 1968, Fromm menderita serangan jantung akut dan terpaksa mengurangi kesibukkannya. Di tahun 1974, dalam keadaan masih sakit, ia dan istrinya pindah ke Muralto, Swiss di mana ia meninggal dunia pada tanggal 18 Maret 1980, beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-80.
            Orang seperti apakah Erich Fromm itu? Ternyata, orang-orang melihatnya dengan cara yang berbeda-beda. Hornstein (2000) membuat daftar jumlah ciri kepribadian yang berlainan satu sama lainnya untuk menggambarkan kepribadian Fromm. Dalam daftar ini, Fromm adalah seorang yang ototriter, lembut, berambisi, arogan, saleh, otokratis, pemalu, tulus, palsu, dan brilian.
            Fromm memulai karier profesionalnya sebagai psikoterapis menggunakan teknik psikoanalisis ortodoks. Sepuluh tahun setelah ia “bosan” dengan pendekatan Freud, ia mengembangkan metodenya sendiri yang lebih aktif dan konfrontasional (Fromm, 1986, 1992; Sobel, 1980). Selama bertahun-tahun, gagasan-gagasannya mengenai budaya, sosial, ekonomi, psikologis telah menjadi perhatian banyak orang. Buku-buku terbaiknya diantaranya adalah Escape From Freedom (1941), Man for himSelf (1947), Psychoanalysis and Religion (1950), (The Sane Society (1955), The Art of Loving (1956), Marx’s Concept of Man (1961), The Hearth of Man (1964), The Anatomy of Human Destructiveness (1973), To Have or Be (1976), dan For The Love of Life (1986).
            Teori kepribadian Fromm di pinjam dari banyak sumber dan mungkin teori dengan dasar yang paling luas dalam buku ini. Landis dan Tauber (1971) membuat daftar lima pengaruh penting dalam pemikiran Fromm: (1) ajaran dari rabi-rabi humanistis; (2) semangat revolusioner Karl Marx; (3) gagasan yang juga revolusioner dari Sigmund Freud; (4) rasionalitas dari Budhisme Zen yang di dukung oleh D.T. Suzuki; dan (5) tulisan-tulisan Johann Jacob Bachofen (1851-1887) mengenai masyarakat matriarkal.
Asumsi dasar Fromm adalah kepribadian individu dapat di mengerti hanya dengan memahami sejarah manusia. “Diskusi mengenai keadaan manusia harus mendahulukan fakta bahwa kepribadian, [dan] psikologi harus di dasari oleh konsep antropologis-filosofis akan keberadaan manusia” (Fromm, 1947, hlm. 45)
            Fromm (1947) percaya bahwa manusia, tidak seperti binatang lainnya, telah “tercerai berai” dari kesatuan prasejarahnya dengan alam. Mereka tidak memiliki insting kuat untuk beradaptasi dengan dunia yang berubah, melainkan mereka telah memperoleh kemampuan bernalar-keadaan yang disebut Fromm sebagai dilema manusia. Manusia megalami dilema dasar ini karena mereka telah terpisah dengan alam, namun memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa diri mereka telah menjadi makhluk yang terasing. Oleh karenanya, kemampuan bernalar manusia adalah anugerah dan juga kutukan. Di satu sisi, kemampuan ini membiarkan manusia bertahan, namun di sisi lain, hal ini memaksa manusia berusaha untuk menyelesaikan dikotomi dasar yang tidak ada jalan keluarnya. Fromm menyebut hal tersebut sebagai “dikotomi eksistensial” (Existensial dichotomies) karena hal ini berakar dari keberadaan atau eksistensi manusia. Manusia tidak dapat menghapuskan dikotomi eksistensial ini. Mereka hanya bisa bereaksi terhadap dikotomi ini tergantung pada kultur dan kepribadian masing-masing individu.
            Dikotomi pertama dan paling fundamental adalah antara hidup dan mati. Realisasi diri dan nalar mengatakan bahwa kita akan mati, namun kita berusaha mengingkari hal ini dengan menganggap adanya kehidupan setelah kematian, usaha yang tidak merubah fakta bahwa hidup kita akan di akhiri dengan kematian.
            Dikotomi eksistensial kedua adalah bahwa manusia membentuk konsep tujuan dari realisasi diri utuh, namun kita juga menyadari bahwa hidup terlalu singkat untuk mencapai tujuan itu. “Hanya bila rentang kehidupan seorang individu sama panjangnya dengan rentang kehidupan seluruh umat manusia, maka ia berusaha berpartisipasi dalam perkembangan manusia yang terjadi dalam proses sejarah “(Fromm, 1947, hlm. 42). Beberapa orang mencoba mengatasi dikotomi ini dengan berasumsi bahwa masa lalu dalam sejarah mereka adalah pencapaian sempurna dalam kemanusiaan, sedangkan yang lain menganggap adanya kelanjutan hidup setelah kematian.
            Dikotomi eksistensial ketiga adalah bahwa manusia pada akhirnya hanya sendiri, namun kita tetap tidak bisa menerima pengucilan atau isolasi. Mereka sadar bahwa dirinya adalah individu yang terpisah, di saat yang bersamaan merek percaya bahwa kebahagiaan mereka bergantung pada ikatan mereka dengan manusia lain. Walaupun tidak dapat menyelesaikan permasalahan antara kesendirian atau ikatan kebersamaan, mereka harus berusaha atau mereka terancam menjadi gila.
            Dalam teori Fromm, kepribadian tercermin pada orientasi karakter seseorang, yaitu cara relatif manusia yang permansn untuk berhubungan dengan orang atau hal lain. Formm (1947) mendefinisikan kepribadian sebagai “keseluruhan kualitas psikis yang warisi dan di peroleh yang merupakan karakteristikindividu dan menjadikannya individu yang unik”. Kualitas yang diperoleh dan yang terpenting bagi kepribadian adalah karakter, yang didefinisikan sebagai ”sistem yang relatif permanen dari semua dorongan nonistingtif di mana melalui manusia menghubungkan dirinya dengan dunia manusia dan alam” (Fromm,1973, hlm.226). Fromm (1992) percaya bahwa karakter adalah pengganti kurangnya insting. Bukannya bertindak sesuai insting, manusia malah bertindak menurut karakter mereka. Apabila mereka harus berhenti dan memikirkan akibat dari perilaku mereka, maka tindakan mereka akan menjadi tidak efisien dan tidak konsisten.
Sumber:
Jess Feist, Gregory J. Feist. (2011). Teori Kepribadian, Edisi 7, Buku 1. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar