TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
I. ALLPORT
CIRI-CIRI KEPRIBADIAN YANG MATANG
Menurut Allport Watak atau karakter sama, walaupun
istilah kepribadian dan watak sering di pergunakn secara bertukar-tukar, namun
Allport menunjukan, bahwa biasanya kata watak menunjukan arti normative; dia menyatakan bahwa
character is personality evaluated and is charater devaluated’. (Allport 1951,
p 52). Sedangkan bagi
Allport temperament adalah bagian khusu dari kepribadian yang diberika definisi
demikian :
“ Tempramen adalah gejala karateristik dari pada sifat
emosi individu, termasuk juga mudah tidaknya kena rangsangan emosi, kekuatan
serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasana hatinya, segala dara
daripada fluktuasi dan intensitat Susana hati; gejala ini tergantung kepadsa
factor konstitusional, dan karenanya terutama berasal dari keturunan’.
(Allport, 1951, p. 54)
a.
Sifat
(Trait)
1.
Sifat
Sifat
adalah tendens determinasi atau predisposisi dan diberinya definisi
demikian :“Sifat adalah system
neudopsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk
menghadapi bermacam-macam perangsang secara sama, memulai serta membimbing
tingkah laku adaptif dan ekspresif secara sama” (Allport, 1951, p. 289)
Yang
perlu dicatat
mengenai definisi ini ialah tekanan terhadap individualitas dan kesimpulan
bahwa kencendrungan itu tidak ada hanya terikat kepada sejumlah perangsang atau
reaksi, melainkan denganseluruh pribadi manusia. Pernyataan “system
neuropsikis” menunjukan jawaban affirmative yang diberikan oleh Allport terhadap
pertanyaan apakah “trait” itu
benar-benar ada pada individu.
Dengan
mempertentangkan pendirian biososial (yang menganggap bahwa trait atau sifat
itu hanya ada dalam pengamatan yang dibuat oleh orang lain) dengan pendirian
biofisik (yang menganggap bahwa trait atau sifat itu tidak tergantung kepada
pengama tetapi benar-benar
mempunyai esksistensi di dalam pribadi ) nyata sekali Allport mengikuti
pendirian yang kedua. Dalam kuliah-kuliahnya dia selalu menyatakan bahwa trait
adalah kenyataan terakhir dari pada organisasi psikologis; dan dalam tulisannya
(Personality) dia menyatakan :
“Sesuatu
sifat….. mempunyai lebih dari hanya eksistensi nominal saja; sifat itu tak
tergantung kepada pengamat, tetapi nyata-nyata ada pada individu”. (Allport,
1951, p. 289). Jelasnya
: Pandangan ini
tidak beranggapan bahwa tiap nama sifat mesti
mencerminkan suatu sifat, tetapi maksudnya di belakang semua kekaburan istilah
itu, di belakang
ketidaksepakatan pendapat mengenainya, dan terpisah dari kekhilafan dan
kegagalan observasi empiris, ada struktur batin (mental structure) pada tiap
kepribadian yang mencerminkan keselarasan tingkah lakunya. Dalam pada itu perlu
pula di jelaskan perbedaan pengertian ini dengan beberapa pengertian lain yang
berhubungan.
2.
Perbedaan
sifat dengan beberapa pengertian yang lain
(a)
Kebiasaan (habit)
Sifat (trait) dan kebiasaan (habit) kedua-duanya
adalah tendens determinasi, akan tetapi sidat itu lebih umum, baik dalam
situasi yang dicocokinya, maupun dalam respone yang terjelma darinya.
(b)
Sikap (attitude)
Perbedaan pengertian sifat (trait) dan sikap
(attitude) sukar diberikan. Bagi Allport kedua-duanya itu adalah predisposisi
untuk merenspons, kedua-duanya adlah khas, kedua-duanya dapat memulai atau
mebimbing tingkah laku; kedua-duannya
adalah hasil dari factor genesis dan belajar. Namun kalau di teliti ada juga
perbedaan di antara kedua hal itu.
(1)
Sikap (attitude) itu berhubungan dengan sesuatu obyek,
sedangkan sifat (trait) tidak. Jadi sifat umum daripada sifat ialah bahwa sifat
itu hamper selalu lebih besar/luas dari pada sikap: dalam kenyataan nya makin besar jumlah objek
yang dikenai sikap it, maka sikap makin mirip dengansifat. Sikap dapat
berbeda-beda dari yang lebih khusus ke yang lebih umum, tetapi kalau sifat itu
selalu umum
(2)
Tipe
Allport Membedakan antar sifat dan tipe. Menurut dia
orang dapat
memiliki suatu sifat, tetapi tidak dapat memiliki sesuatu tipe. Tipe adalah
kontruksi ideal si pengamat, dan seseorang dapat disesuaikan dengan tipe itu
tetapi dengan konsekuensi di abaikan sifat-sifat khas individuinya. Sifat dapat
mencerminkan sifat khas pribadi sedangkan tipe menunjukan perbedaan-perbedaan
buatan yang tak begitu cocok dengan kenyataan, sedangkan sifat adalah refleksi
sebenarnya daripada yang sebenar-benar ada.
3.
Sifat-sifat umum (bersama) dan sifat-sifat individual
Suatu
hal yang sangat penting di dalam mempelajari teori Allport ini ialah berusaha
mengenai perbedaannya antara sifat-sifat umum (bersama) dan sifat-sifat individualnya. Dia
menyatakan bahwa di dalam kenyataan tidak pernah ada dua individu mempunyai
sifat-sifat yang benar-benar sama. Walaupun mungkin ada kemiripan dalam
struktur sifat namun ada selalu ada corak yang khas mengenai cara bekerjanya
sifat-sifat itu pada tiap individu yang yang menyebabkan adanya perbedaan
dengan sifat yang sama yang ada pada orang lain. Jadi sebenarnya semua sifat
itu adalah sifat individual, artinya khas dan hanya dapat dikenakan kepada satu
individu
Walau
tidak ada sesuatu sifat yang dapat di amati pada lebih dari satu individu,
namun Allport mengakui bahwa karena pengaruh-pengaruh yang sama dari masyarakat
dan kesamaan-kesamaan yang mempengaruhi perkembangan individu, ada sejumlah
kecil cara-cara penyesuaian diri yang secara kasar (garis besar) dapat
dibandingkan. Jadi penyelidik mungkin menyusun ketentuan-ketentuan
(ukuran-ukuran) yang menunjukan aspek-aspek yang sama daripada sifat-sifat
individual dan yang mempunyai nilai prediktif kasar – inilah sifat umum atau
sifat nomothetis. Cara demikian itu tidak dapat dipertahankan kalau dipandang
dari segi kekhususan individu tetapi kalau di pandang dari segi kegunaan dapat.
Secara singkat Allport menyatakan di atas itu demikian :
“Kalau diartikan secara teliti definisi sifat itu,
hanya sifat individuallah sifat yang sebenarnya, karena
(a)
Sifat-sifat
selalu ada pada individu-individu dan tidak dalam masyarakat, dan
(b)
Karena sifat-sifat itu berkembang dan mengumum menjadi
disposisi-disposisi dalam cara-cara yang khas sesuai dengan pengalaman
masing-masing individu. Sifat umum sama sekali bukanlah sifat yang sebenarnya,
melainkan hanyalah aspek-aspek yang dapat diukur dari pada sifat individu yang
kompleks”. (Allport, 1951, p.299).
Orang
yang mungkin berpendapat bawa sifat-sifat umum itu harus di beri nama yang
bebeda, supaya dapat dibedakan dengan sifat individual. Allport tidak dapat menerima pendapat yang
demikian itu karena istilah sifat itu sudah dipergunakan secara luas didalam
kedua arti itu serta penggunaan itu menunjukkan kepada penyelidik tentang
aspek-aspek kepribadian yang dapat di banding-bandingkan dengan istilah itu.
Jadi pada umumnya Allport mengakui bahwa penyelidikan mengenai sifat-sifat umum
itu akan berguna dalam konsepsi yang demikian itu mneggambarkan individu
setepat-setepatnya.
4.
Sifat
pokok, sifat sentral dan sifat sekunder
Di muka suadah dikatakan
bahwa sifat-sifat itu merupakan predisposisi-predisposisi umum bagi tingkah
laku. Dalam pada itu masih ada satu soal lagi mengenai hal ini, yakni apakah
semua sifat itu padapokonya mempunyai taraf keumuman yang sama, dan apabila
tidak bagaimanakah cara membedaka-bedakan antara sifat pokok, sifat sentral dan
sifat sekunder.
(a)
Sifat pokok
atau cardinal trait
Sifat pokok ini demikian menonjolnya
(dominannya) sehingga hanya sedikit saja kegiatan-kegiatan yang tak dapat di
cari, baik secara langsung maupun tidak langsung bahwa kegiatan itu berlangsung
karena pengaruhnya. Tidak ada sifat semacam itu yang lama tersembunyi; individu
dikenal dengan sifat itu dan bahwa mungkinmenjadi terkenal dalam sift itu.
Kualitas yang demikian dominan pada individu itu sering di sebut “the eminent
trait, the ruling passion, the master sentiment, atau the radix of alife”.
(Allport, 1951, p. 338). Macam sifat ini relative kurang biasa dan kurang
nampak pada tiap orang.
(b)
Sifat sentral (central trait)
Sifat-sifat ini lebih khas, dan merupakan
kecendrungan-kecendrungan individu yang sangat khas/karakteristik sering
berfungsi dan mudah di tandai.
(c)
Sifat sekunder (Secondary trait)
Sifat sekunder ini nampaknya berfungsinya lebih
terbatas kurang menetukan di dalam deskripsi kepribadian, dan lebih terpusat
atau khusus pada response-response yang di dasrnya serta perangsang-perangsang
yang d cocokinya
5.
Sifat-sifat
ekspresif
Kecuali
yang telah dikemukakan itu, masih ada sifat-sifat yang lain; yaitu yang di
sebut sifat-sifat ekspresif. Sifat-sifat ekspresif ini merupakan disposisi yang
memberi warna atau mempengaruhi bentuk tingkah laku, tetapi yang pada
kebanyakan orang tidak mempunyai sifat mendorong. Contoh sifat-sifat ekspresif
ini ialah melagak, ulet, dan sebagainya.
Adapun tujuan yang kejar orang sifat-sifat ini dapat bekerja, dapat memberi
warna kepada tingkah lakunya.
Persoalan
di atas itu menimbulkan persoalan /pertanyaan apakah sifat-sifat hanya
berfungsi membimbing dan memberikan arah tingkah laku. Pertanyan ini tidak
dapat di jawab dengan sederhana. Beberapa sifat terang lebih mendorong, lebih
mempunyai peranan sebagai pendorong yang menentukan daripada yang lain-lain.
Jadi, diantara sifat-sifat itu terdapat variasi dalam pengaruh mendorongnya
terhadap individu. Selanjutnya dapat dinyatakan
bahwa dalam arti tertentu selalu ada perangsang lebih dahulu yang berhubungan
dengan pengaktifan sesuatu sifat misalnya perangsang dari luar atau keadaan
dalam arti orang harus mendahului bekerjanya (berfungsinya) sesuatu sifat.
Namun jelas selkali bahwa kebanyakan sifat tidak merupaka refflektor dari
perangsang-perangsang luar. Dalam
kenyataanya individu aktif mencari perangsang-perangsang yang tepat untuk
membuat sifat berfungsi. Seseorang yang mempunyai sufat suka bergaul jelas
tidak akan menanti situasi untuk mengeskpresikan sifat itu, tetapi dia akan menciptakan situasi di man
dia dapat bergaul dengan orang-orang lain.
6.
Kebebasan
sifat-sifat
Sejauh
mana sifat-sifat itu ada sebagai system tingkah laku yang bekerja tanpa
mengingat system-sistem yang lain? Apakah bekerjanya sesuatu sifat tertentu itu
selalu di isyaratkan oleh sifat-sifat
yang lain ? Allport berpendapat bahwa sifat-sifat tu dapat di tandai bukan oleh
sifat bebasnya yang kaku tetapi terutama oleh kualitas memusatnya. Jadi sifat itu
cendrung untuk mempunyai pusat;
disekitar pusat itu lah pengaruhnya berfungsi; tetapi tingkah laku yang
di timbulkannya juga secara serempak (simultan) dipengaruhi oleh sifat-sifat
yang lainya. Kebebasan sifat-sifat umumnya yang ddefinisikan secara sekehendak
seperti dalam sementara penyelidik-penyelidik psikomatris, merupakan salah satu
dari kelemahan-kelemahannya sebagai representrasi yang tepat dari pada tingkah
laku. Saling pengaruh atau berhubungannya. Bermacam-macam sifat itu juga
merupaka salah satu sebab adanya kenyataan bahwa mungkin membuat metode-metode
klasifikasi yang benar-benar memuaskan.
7.
Konsintensi
(consistency) sifat-sifat
Jelas
bahwa kesimpulan-kesimpulan yang dipergunakan untuk menandai
sifat adalah konsistensinya. Jadi sifat itu tidak dapat dikenal hanya
keteraturan atau ketetapannya di dalam
individu bertingkah laku. Kenyataanya, bahwa ada banyak sifat-sifat yang saling
menutup satu sama lain. Yang serempak
aktif menunjukan, bahwa ketidaktetapan (inconsistency) yang jelas di dalam
tingkah laku individu relative akan sering ditemukan. Selanjutnya, kenyataan
bahwa sifat-sifat itu mungkin meliputi unsure-unsur yang nampaknya tidak tetap
apabila dipandang dari segi normative atau dari luar. Jadi, orang mungkin
menyaksikan ketidaktetapan tingkah laku yang sebenarnya mencerminkan batin yang
tetap terorganisasi secara khas. Hal ini tidak berarti, bahwa setiap
kepribadian itumempunyai integrasi sempurna. Disosiasi damn
pendesakan/penekanan mungkin ada dalam tiap kehidupan. Tetapi biasanya
ketetapan itu adanya yang sebenarnya lebih dari pada apa yang dapat dicari oleh
metode-metode psikologis.
8.
Intensi
(intension)
Lebih
penting dari penyelidikan mengenai masa lampau ialah penyelidikan mengenai
intense atau keinginan individu mengenai masa depannya. Istilah intense di
gunakan dalam arti yang meliputi pengertian : harapan-harapan,
keinginan-keinginan, ambisi, cita-cita seseorang. Menurut Allport intense ini
dapat disejajarkan dengan apa yang disebut Freud Ich ideal dan yang disebut C.
Buhler Bestimmung.
Dalam
hal inilah terlihat jelas perbedaan Allport dengan lain-lain teori kepribadian
dewasa ini. Teori Allport menunjukan
bahwa apa yang akan di coba dlakukan oleh seseorang merupakan kunci dan hal
yang akan di coba dilakukan oleh
seseorang merupakan kunci dan hal yang terpenting bagi apa yang dikerjakanya
sekarang. Jadi kalau dewasa ini banyak ahli yang mengutamakan masa lampau, maka pendapat Allport itu mirip
sekali dengan pendapat Aldler dan Jung;
Walaupun tidak ada alas an untuk mengatakan adanya pengaruh dari mereka ini.
Sumber
Sumadi
Suryabrata. (2011). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers
II. ROGERS
PERKEMBANGAN
KEPRIBADIAN
Rogers menyebutkan dirinya sebagai
orang yang berpandangan humanistik dlam psikologi kontemporer. Psikologi
humanistik dari satu pihak menentang apa yang disebut sebagai pesimisme suram
dan keputusasaan yang terkandung dalam pandangan psikoanalitik tentang manusia
dan di lain pihak menentang konsepsi robot tentang manusia yang digambarkan
dala behaviorisme. Psikogi humanistik lebih penuh harapan dan optimistik
tentang manusia. Ia yakin bahwa dalam diri setiap orang terdapat
potensi-potensi untuk menjadi sehat dan tumbuh secara kreatif. Kegagalan dalam
mewujudkan potensi-potensi ini disebabkan oleh pengaruh yang bersifat menjerat
dan keliru dari latihan yang diberikan oleh orangtua, serta pengaruh-pengaruh
sosial lainnya . Namun pengaruh-pengaruh yang merugikan ini dapat di atasi
apabila individu mau menerima tanggung jawab untuk hidupnya sendiri. Rogers yakin
apabila tanggung jawab ini diterima, kita segera akan melihat-kalau saja
represi dan perbudakan yang meliputi seluruh dunia dapat dicegah - munbculnya seorang pribadi baru ”yang penuh
kesadaran, mengarahkan dirinya sendiri, seorang penjelajah dunia batin lebih
daripad dunia luar, yang memandang rendah sikap serba tunduk pada
kebiasaan-kebiasaan dan dogma tentang autoritas” (Rogers 1974).
Struktur
Kepribadian
Walaupun Rogers nampaknya tidak mementingkan
kontruk-kontruk struktural, dan lebih
senang menaruh perhatian pada perubahan dan perkembangan kepribadian, namun ada
dua kontruk yang sangat penting dalam teorinya dan bahkan dapat dianggap
sebagai tempat berpijak bagi seluruh teorinya. Kedua kontruk tersebut teorinya
adalah organisme dan diri (self).
Organisme
Secara psikologis, organisme adalah
lokus atau tempat dari seluruh pengalaman. Pengalaman meliputi segala sesuatu
yang secara potensial terdapat dalam kesadaran organisme pada setiap saat.
Keseluruhan pengalama ini merupakan medan
fenomenal. Medan fenomenal adalah “frame of reference” dari individu yang
hanya dapat diketahui oleh orang itu sendiri. “Medan fenomenal tidak dapat
diketahui oleh orang lain kecuali melalui inferensi empatis dan selanjutnya
tidak dapat diketahui dengan sempurna” (Rogers, 1959, hlm. 210). Bagaimana
individu bertingkahlaku tergantung pada medan fenomenal itu (kenyataan
subjektif) dan bukan pada keadaan-keadaan perangsangnya (kenyataan luar).
Harus dicatat bahwa medan fenomenal
tidak indektik dengan medan kesadara. “Kesadaraan adalah perlambangan dan sebagaian pengalaman kita” (Rogers, 1959, hlm. 198). Dengan demikian
medan penomenal terdiri dari pengalaman sadar (dilambangkan) dan pengalaman tak
sadar (tidak dilambangkan). Akan tetapi organisme dapat menbedakan kedua jenis
pengalaman tersebut dan bereaksi dengan pengalaman yang tidak dilambangkan.
Mengikuti McCleary dan Lazarsus (1949), Rogers menyebutnya peristiwa subsepsi (subception).
Pengalaman mungkin tidak tepat
dilambangkan, akibatnya orang bertingkah laku secara tidak serasi. Akan tetapi
orang cendrung mencek pengalaman-pengalaman yang dilambangkandengan dunia
sebagimana adanya. Uji terhadap kenyataan ini memberiakn orang pengetahuan yang
dapat di andalkan tentang dunia sehingga dengan demikian orang dapat bertingkah
laku secara realistis. Akan tetapi, persepsi-persepsi tertentu tetap tidak
diuji atau diuji secara kurang memadai, dan pengalaman-pengalaman yang tidak
diuji adapat menyebabkan orang bertingkah laku secara tidak realistis, bahkan
merugiakn orang itu sendiri. Meskipun Rogers tidak menyinggung isu tentang
kenyataan ”sebenarnya” namun jelas bahwa orang-orang harus memiliki
suatu konsepsi tentang standar kenyataan luar atau impersonal, sebab kalau
tidak demikian mereka tidak akan dapat menguji gambar kenyataan kentaan batin
(subjektif) denga kenyataan “objektif”. Pertanyaan kemudian timbul, yakni
bagaiman orang-orang dapat membedakan antara gambaran sujektif yang tidak
merupakan representasi yang tepat dari kenyataan dan gambaran yang benar-benar
merupakn representasi dari kentaan. Apakah yang memungkinkan orang membedaka
antara fakta dan fiksi dalam dunia sujektinya? Inilah paradoks besar dalam
fenomenologi.
Rogers memecahkan paradoks tersebut
dengan menyimapang dari rangka pemikiran fenomenologi murni. Apakah yang
dialami atau dipikirkan orang sebenarnya buakanlah kenyataan bagi orang itu:
hal itu hanyalah hipotesis sementara
tentang kenyataan yang dapat benar atau salah. Orang menunda
keputusannya sampai ia menguji hipotesis tersebut. Apakah yang dimaksud
menguji? Menguji berati mencek ketepatan imformasi yang diterima dan yang
merupakan dasr dari hipotesisnya dengan sumber-sumber informasi lain. Misalnya,
seseorang akan mengarami makanannya berhadapan dengan dua tempat bumbu. Satu
diantaranya berisi garam dan yang lainnya berisi merica. Orang tersebut mengira
bahwa tempat yang berlubang besar berisi garam, tetapi karena tidak yakin maka
ia menuangkan sedikit isinya pada telapak tangannya. Apabila partkel-partikel
yang keluar adalah putih dan bukan hitam, maka orang tersebut boleh merasa
yakin bahwa itu garam. Orang yang sangat teliti mungkin merasa perlu
mencicipinya sedikit sebab bisa jadi itu merica putih, bukan garam. Apa yang di
kemukakan dengan contoh ini adalah suatu pengujian ide-ide orang dengan berbagi
data inderia. Pengujian tersebut berupa mencek imformasi yang kurangpasti
dengan pengetahuan yang lebih lansung. Dalam kasus garam, ujian terakhir adalah
rasanya; suatu cita rasa tertentu menetukan bahwa itu garam.
Tentu saja, contoh yang dkemukkan
tadi menggambarkan suatu kondisi ideal. Dalam banyak kasus, orang menerima
begitu saja pengalamannya sebagai representasi yang tepat tentang kenyataannya
sebagai hipotesis tentang kenyataan. Akibatnya, orang kerapkali menghasilkan
banyak komsepsi salah tentang dirinya dan tentang dunia luar. “Priadi yang
utuh”, baru-baru ini rogers menulis, “ adalah orang yang sepenuhnya terbuka
pada data yang dialami dalam dirinya dan data yang di alaminya dari dunia luar”
(1977, hlm. 250).
Diri (self)
Sebagian dari medan fenomenal lama
kelamaan menjadi terpisa. Ini adalah diri.
Diri atau konsep-diri merupaka :
Gestalt
konseptual yang terorganisasi dan konsisten yang terdiri dari konsepsi-konsepsi
tentang sifat-sifat dari ‘ diri subjek ’ atau ‘
diri objek ’ dan persepsi-persepsi tentang hubngan-hubungan antara ‘ diri subjek ’ atau ‘ diri objek ’ dengan orang0orang lain
dan dengan berbagai aspek kehidupan beserta nila-nilai yang melekat pad
persepsi-persepdi ini. Gestaltlah yang ada dalam kesadaran meskipun tidak harus
disadari. Gestalt tersebut bersifat lentur dan berubah-ubah, suatu proses,
tetapi pada setiap saat merupakan suatu entitas spesifik (Rogers, 1959), hlm.
200).
Diri merupakan salah satu konstruk
sentral dalam teori Rogers, dan ia telah memberika suatu penjelasan yang
menarik bagaimana ini terjadi.
Berbicara secara pribadi sya memulai
karya saya dengan keyakinan yasng mantap bahwa “diri” adalah suatu istilah yang
kabur, ambigu atau bermakna ganda, istilah yang tidak berarti secara ilmiah,
dan telah hilang dari kamus para psikolog bersama menghilangnya para
introspeksionis. Dari sebab iti, saya lambat menyadari bahwa apa bila
klien-klien diberi kesempatan untuk mengungkapkan masalah-masalahmereka dan
sikap-sikapmereka dalam istilah-istilah mereka sendiri, tampa suatu bimbingan
atau interprentasi, ternyata mereka cendrung berbicara tentang diri…..tampaknya jelas,…bahwa diri
merupakan suatu unsur penting dalam pengalaman klien, dan aneh karena tujuannya
adalah menjadi ‘ diri-sejati ’ –nya (1959, hlm. 200 – 201).
Disamping
“diri” sebagaimana adanya (struktur
diri), terdapat suatu diri ideal, yakni apa yang diinginkan orang tentang
dirinya.
Oragnisme dan Aku
: Keselarasan dan
ketidakselarasan
Pentingnya
konsep-konsep struktural, yakni organisme dan “diri”, dalam teori rogers
menjadi jelas dalam pembicaraannya tentang kongruensi dan inkongruensi antara
diri sebagaimana tentang kongrensi dan inkongruensi antara diri sebagaimana
dipersepsikan dan pengalaman aktual organisme (1959,hlm.203, 205-206.) Apabila
pengalaman-pengalaman yang dilambangkan yang membentuk diri benar-benar
mencerminkan pengalaman-pengalaman organisme. Maka orang yang bersangkutan
disebut berpenyesuain baik, matang, berfungsi sepenuhnya. Orang macam itu
menerima seluruh pengalaman organisme tampa merasakan ancaman atau kecemasa. Ia
mampu berfikir secara realitis. Inkongruensi antara diri dan organisme
menyebabkan individu-individu merasa terancam dan cemas. Mereka bertingkah laku
serba defensif dan cara berfikir mereka menjadi sempit dan kaku.
Dalam teori Rogers secara implisit
terdapat dua manifestasi lain dari kongruensi-inkongruensi. Pertama adalah
kongruensi atau inkongruensi antar kenyataan subjektif (medan fenomenal) dan
kenyataan luar (dunia sebagaimana adanya).
Kedua adalah tingkat kesesuaian antar diri dan diri idea. Apabila
perbedaan antara diri dan diri ideal adalah besar, maka oarng merasa tidak puas
dan tidak dapat menyesuaikan diri.
Bagaimana inkongruensi itu terjadi
dan bagaimana diri dan organisme dapat dibuat lebih kongruen merupakan
keprihatiana utama Rogers, dan untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang
sangat penting inilah maka ia telah mencurahkan begitu banyak kehidupan
profesionalnya. Bagaimana ia menjawab pertanyaan-pertanyaan ini akan
dibicarakan pada bagian tentang perkembangan kepribadian (untuk versi lain
tentang kontruk-kontruk stuktural dari teori Rogers, lihat krause, 1964).
Sumber:
Calvin
s. Hall & Gardner Lindzey. (1993). Psikologi Kepribadian 2, Teori-teori
Holistik (Organismik-Fenomenologis). Yogyakarta: Penerbit Kanisius
III. TEORI ABRAHAM MASLOW
HIRARKI KEBUTUHAN
MANUSIA (AKTUALISASI DIRI)
Abraham Maslow dalam banyak tulisan [ khususnya
lihat Motivation and personality ( 1954, edisi yang direvisi, 1970), Toward a
phsychology of being (1968a), dan the farther reaches of human nature (1971) ]
mendukung segi pandangan dinamik, holistik yang banyak kesamaan dengan
pandangan Goldtein dan angyal, temaN-teman sekerjanya di Universitas Brandeis.
Maslow beranggapan bahwa pendiriannya tergolong dalam bidan psikologi humanistik
yang luas yang disebutnya sebagai
“mazhab ketiga” dalam spikologi amerika, dua yang lain nya adalah behaviorisme
spikoanalisis.
Maslow dilahirkan di Brooklyn, New
york, pada tanggal 1 April 1908. Semua gelarnya diperoleh di Universitas
Wisconsin, tempat ia meneliti tingkah laku ker. Selama 14 tahun (1937 – 1951)
ia menjadi staf pengajar brooklyn College. Pada tahun 1951, Maslow pergi ke
Universitas Brandeis di mana ia tinggal sampai tahun 1969, ketika ianmenjadi
anggota tetap pada Laughlin Foundation di Menlo Park, California. Maslow
menderita serangan jantun yang menyebabkan kematiannya pada tanggal 8 juni,
tahun 1970.
Sejak kematiannya, sejumlah buku
tentang hidup dan karyanya di terbitkan. Diantaranya adalah sebuah buku
kenangan yang berisi kata-kata pujian, beberapa catatan Maslow yang tidak
diterbitkan, dan sebuah bibliografi lengkap dari tulisan-tulisannya (B.G.
Maslow, 1972) dan sebuah potret intelektual yang di kemukakan oleh pembantu
dekatnya (Lowry, 1972a). Lowry (1973b) juga telah menyusun menjadi satu buku,
makalah-makalah lepas yang di tulis oleh Maslow. Buku-buku lain tentang Maslow
telah ditulis oleh Goble(1970) dan Wilson (1972).
Kami memilih beberapa segi khusus
dari pandangan-pandangan Maslow mengenai kepribadian untuk d bawah. Penting
untuk di perhatikan bahwa tidak seperti Goldtein dan Angyal yang meletakan
dasar pandangan merekan pada penelitian tentang orang-orang yang mendapat
cedera otak dan gangguan jiwa, Maslow menggunakan hasil-hasil penelitian nya
tentang orang yang sehat dan kreatif untuk sampai pada perumusan-perumusan
tertentu tentang kepribadian.
Maslow mencela psikologi karena
“konsepsinya yang pesimistik, negatif, dan terbatas” tentang manusia. Ia
berpendapat bahwa psikolkogi lebih banyak memikirkan kelemahan-kelemahan
manusia dari pada kekuatan-kekuatannya; spikologi semata-mata meneliti
dosa-dosa dan mengabaikan kebajikan-kebajikan. Psikologi telah melihat hidup
ini dari sudut individu yang berusaha mati-matian untuk menghindari perasaan
sakit, bukan mengambil langkah-langkah aktif untuk mencapai kesenangan dan
kebahagian. Maslow bertanya, dimanakah psikologi yang berbicara tentang
kegirangan, kegembiraan, cinta, dan kesejahteraan sama tuntasnya sebagaimana ia
berbicara tentang kesengsaraan, konflik, rasa malu, permusuhan? “telah dengan
sengaja membatasi dirinya pada
hanyasetengah dari batas kekuasaannya yang sah, yakni sisi yang lebih gelap dan
lebih kotor”. Maslow telah berusaha menyajikan sisi lain dari gambar, yakni
paruh bagian yang lebih terang, lebih baik, untuk memberikan suatu potret sang
keseluruhan pribadi secara utuh.
Ia menulis sebagi berikut.
Sekarang
biarlah saya mengemukakan singkat dan pertama-tama secara dogmatis hakikat dari
konsepsi yang baru berkembang tentang manusia yang sehat secara spikiatris ini.
Pertama dan yang paling penting dari semuanya adalah keyakinan yang kuat bahwa
manusia memiliki kodratnya sendiri yang hakiki, suatu kerangka struktur
psikologis yang dapat di pandang dan di bicarakan secara analog denganstuktur
fisiknya, yakni ia memiliki kebtuhan-kebutuhan, kapasitas-kapsasitas, dan
kecendrungan-kecendrungan yang besiftat genetik, beberapa diantaranya merupakan
sifat-sifat khas dari seluruh spesis manusia, melintasi semua batas kebudayaan,
dan beberapa lainnya adalah unik untuk masing-masing individu.
Kebutuhan-kebutuhan ini pada dasarnya baik atau netral dan bukan jahat.
Keduanyan, terkandung suatu konsepsi bahwa perkembangan yang benar-benar sehat,
normal, dan yang di cita-citakan terjadi dalam bentuk mengaktualisasikan kodrat
ini, memenuhi potensi-potensi ini, dan perkembangan menuju kematangan mengikuti gais-garis yang
diatur oleh kodrat yang tersembunyi samar-samar, dan yang dillihat kurang
hakiki yang bertumbuh dari dalam dan bukan di bentuk dari luar. Ketiga,
sekarang jelas kelihatan bahwa psikopatologi pada umumnya disebabkan oleh
pengingkaran atau penelantaran, atau pembelokan kodrat manusiayang hakiki.
Menurut konsepsi ini, apakah yang baik ? Segala sesuatu yang mengakibatkan
perkembangan yang diinginkan kearah
aktualisasi kodrat manusia ini baik.
Apaka yang buruk atau tak normal ? Segala sesuatu yang mengakibatkan
perkembangan yang diinginkan kearah aktualisasi kodrat manusia ini adalah
baik. Apakah yang buruk atau tak normal
? Segala sesuatu yang menggagalkan atau menghalangi atau menolak kodrat manusia
yang hakiki adalah buruk atau tak normal. Apakah yang Psikopatologis? Segala
sesuatu yang mengganggu atau menggagalkan
atau membelokan jalan aktualisasi-diri adala spikopatologis. Apakah itu
spikoterapi atau untuk hal itu adaka suatu terapi khusus? Setiap cara manapun
yang membantu mengarahkan orang-orang kejalan aktualisasi-diri dan perkembangan
menurut garis-garis yang ditentukan oleh kodrat batinya adalah psikoterapi
(1954, hlm. 340-341).
Dalam pertanyaan selanjutnya tentang
asumsi-asumsi dasarnya, Maslow menambahkan sesuatu yang penting berikut ini :
Kodrat
bati ini tidaklah sekuat dan semaha
kuasa dan tidak bisa salah seperti insting-insting binatang. Kodrat batin
adalah lemah, lembut, serta halus dan mudah dikalahkan olehkebiasaan tekanan kebudayaan, dan sikap-sikap yang
salah terhadapnya. Meskipun lemah, namun ia jarang hilang pada orang normal
mungkin tidak hilang pada orang sakit. Meskipun diingkari, namun tetap bertahan
secara diam-diam dan selalu mendesak untuk aktualisasi (1968, hlm. 4).
Selanjutnya , Maslow menulis
“Segala bukti yang kami peroleh (Kebanyakan dari bukti klinis, tetapi juga
beberapa macam bukti penelitian lainnya) menunjukan bisa di asumsikan bahwa
dalam hampir setipa manusia, dan sudah barang tentu dalam hampir setiap bayi
yang baru lahir, terdapat kemauan yang aktif ke arah kesehatan, implus kearah
pertumbuhan, atau kearah aktualisasi potensi-potensi manusia”(1976b).
Dalam kutipan-kutipan yang
mengesankan dan representatif ini, Maslow telah mengemukakan sejumlah
asumsiyang menunjukan tentang kodrat manusia. Oranr-orang yang memiliki kodrat
bawaan yang pada hakikatnya adalah baik atau sekurang-kurangnya netral. Kodrat
manusia menurut pembawaannya tidak jahat. Ini adalah suatu konsepsi baru soalnya
banyak teoretikus beranggapan bahwa beberapa insting adalah buruk atau anti
sosial yang harus dijinakan dengan latihan dan sosialisasi.
Karena kepribadian berkembang
melalui pematangan dalam lingkungan yang menunjang dan usaha-usaha aktif pada
pribadi untuk merealisasikaan kodratnya, maka daya-daya kreatif dalam manusia
menyatakan dirinya dengan lebih jelas
lagi. Apa bila manusia menderita atau neurotik, maka hali itu di sebabkan
karena lingkungan menyebabkan demikian lewat ketidaktauan dan patologi sosial,
atau karena mereka telah mendistorsikan pikiran mereka. Maslow juga berpendapat banyak orang takut
akan dan megundurkan diri dari menjadi manusia sepenuhnya. (diri yang
teraktualisasikan). Sifat destruktif dan
kekerasan, misalnya, bukan sifat asli manusia. Manusia menjadi destruktif
kodrat batinya di belokan, atau disangkal atau dikecewakan. Maslow (1968b) membedakan kekerasan patologi
dan agresi sehat melawan ketidakadilan, prasangka, dan penyakit-penyakit sosial
lainnya.
Maslow (1967a) telah mengemukakan
suatu teori tentang motivasi manusia yang membedakan antara kebutuhan-kebutuhan
dasar (basic needs) dan metakebutuhan-metakebutuhan (metaneeds).
Kebutuhan-kebutuhan dasr meliputi lapar, kasih sayang (afeksi), rasa aman,
harga diri, dan sebagainya. Metakebutuhan-metakebutuhan meliputi kadilan,
kebaikan, keindahan, keteraturan, kesatua, dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan
dasar adalah kebutuhan-kebutuhan akibat kekurangan, sedangkan
metakebutuhan-metakebutuhan kebutuhan untuk pertumbuhan. Kebutuhan-kebuthan
dasar pada umumnya aneh lebih kuat dari
pada metakebutuhan-metakebutuhan dan terssusun secara hirarki
kebutuhan-kebutuhan itu sama kuat dan
agak mudah dapat disubstitusikan satu
sama lain. Meta kebutuhan-meta kebutuhan adalah instingtif atau melekat pada
manusia seperti kebutuhan-kebutuhan dasar, dan apabila
metakebutuhan-metakebutuhan tidak dipenuhi maka orang tersebut dapat menjadi
sakit . Metapatologi-metapatologi ini meliputi keadaan-keadaan seperti alienasi, penderitaan, apati,
sinisme.
Malow yakin bahwa apabila para
psikologi hanya mempelajari orang-orang yang lumpuh, kerdil, neurotik maka
mereka hanya menghasilkan suatu psikologi yang lumpuh. Untuk mengembangkan
suatu ilmu pengetahuan yang lebih lengkap dan luas. Tentang manusia maka para psikolog
harus juga mempelajari orang-orang yang telah merealisasikan potensi-potensinya
sampai sepenuh-penuhnya. Inilah yang dilakukan Maslow; ia telah mengadakan penelitian yang
intensifdan luas tentang sekelompok orang yang telah mengaktualisasikan-diri.
Mereka adalah orang-orang langka sebagaimana didapati Maslow ketika ia
mengumpulkan kelompok penelitinya ini. Setelah menemukan orang-orang yang
cocok, beberapa di antarang tokoh-tokoh historis seperti Lincoln, Jefferson,
Walt Whitman, Thoreau, dan Beethoven, sedangkan tokoh-tokoh lainnya masih hidup
pada waktu di teliti, seperti Eleanor Roosevelt, Einstein, dan teman-temanserta
kenalan-kenalan peneliti, maka mereka diteliti secara klinis untuk menemukan
sifat-sifat man yang menbedakan mereka dari orang-orang biasa. Ternyata inilah
ciri-ciri khas mereka :
(1)
Mereka berorientasi secara realistik.
(2)
Mereka menerima diri mereka sendiri, orang-orang lain, dunia kodrati seperti
apa adanya.
(3)
Mereka sangat spontan.
(4).
Mereka memusatkan diri pada maslah bukan pada diri mereka sendiri.
(5)
Mereka mapu membuat jarak dan memiliki kebutuhan akan privasi.
(6)
Mereka adalah otonom dan independen atau berdiri sendiri.
(7)
Apresiasi mereka terhadap orang-orang dan benda-benda adalah segar, bukan penuh
prasangka.
(8)
Kebanyakan diantara mereka memiliki pengalaman mistik atau spiritual yang
dalam, meskipun tidak bersifat religius.
(10)
Hubungan mereka yang akrab dengan beberapa orang yang di cintai secara khas
cendrung mendalam serta sangat emosional, tidak dangkal.
(11)
Nilai dan sikap mereka adalah demokratik.
(12)
Mereka tidak mencampurkan antara sarana dan tujuan.
(13)
Perasaan humor mereka lebih bersifat filosofis dan bukan perasaan humor yang
menimbulkan permusuhan.
(14)
Mereka sangat kreatif .
(15)
Mereka menentang konformitas terhadap kebudayaan.
(16)
Mereka mengatasi lingkungan bukan hanya mengahadapinya.
Maslow juga memiliki sifat dari
apa yang disebut “Pengalaman-pengalaman puncak” (peak experiences).
Laporan-laporan diperoleh dari jawaban atas permintaan untuk memikirkan
pengalaman-pengalaman yang sangat indah dalam kehidupan seseorang. Ditemukan
bahwa orang-orang yang mengalami pengalaman-pengalam puncak merasa lebih
terintegrasi, lebih bersatu dengan dunia, lebih menjadi raja atas diri mereka
sendiri, lebih spontan, kurang menyadari ruang dan waktu, lebih cepat dan mudah
mencerap sesuatu dan sebagainya (1968a, Bab 6 dan 7).
Maslow (1966) bersikap kritis
terhadap ilmu pengetahuan. Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan mekanistik
klasik, seperti dikemukakan behaviorsme, tidak cocok untuk mempelajari seluruh
pribadi. Ia menganjurkan suatu ilmu pengetahuan humanistik bukan sebagai
alternatif untuk ilmu pengetahuan yang mekanistik, melainkan sebagai
pelengkapnya. Ilmu pengetahuan humanistik semacam itu akan menggeluti
pertanyaan-pertanyaan tentang nilai, individualitas, kesadaran, tujuan, etika,
dan “jangkauan-jangkauan yang lebih tinggidari kodrat manusia”.
Kelihatannay sumbangan yang khas
dari Maslow bagi sei pandangan organismik terletak pada perhatiaannya terhadap
orang-orang yang sehat bukan orang-orang yang sakit, dan pendapatnya bahwa penelitian-penelitian
tentang dua kelompok ini akan mengahsilkan dua macam teori yang berbeda. Baik
Goidstein maupun Angyal, sebagai ahli kedokteran dan psikoterapis, telah banyak
mengahadpi orang-orang yang cacat dan kacau, namunwalaupun contoh ini berat
sebelah, keduanya telah membuat suatu teori yang mencakupi seluruh organisme,
dan yang berlaku baik bagi orang sakit maupun orang yang sehat. Maslow telah memilih
jalan yang lebih langsung dengan meneliti orang-orang sehat yang keseluruhan dan kesatuannya jelas
kelihatan. Sebagai orang-orang yang mengaktualisasikan-diri, Orang-orang yang
telah diamati Maslow ini merupakan Pengejewantahaan dari teori organismik.
Sumber:
Calvin
s. Hall & Gardner Lindzey. (1993). Psikologi Kepribadian 2, Teori-teori
Holistik (Organismik-Fenomenologis). Yogyakarta: Penerbit Kanisius
IV. ERICH FROMM
CIRI-CIRI
KEPRIBADIAN SEHAT
Fromm lahir pada tanggal 23
Maret, 1900, di Frankurt, Jerman. Ia merupakan anak tunggal dari orang tua
Yahudi Ortodoks kelas menengah. Ayahnya, Nafhtali Fromm, adalah anak seorang
rabi dan cucu dari dua orang rabi. Ibunya,Rosa Krause Fromm, adalah keponakan
Ludwig Krause, seorang ahli Talmud yang terpandang. Semasa kanak-kanak, Erich
mempelajari Kesaksian Lama dengan beberapa ahli ternama, orang-orang yang
dianggap sebagai “humanis dengan toleransi luar biasa” (Landis & Tauber,
1971, hlm, xi). Psikologi humanistis Fromm dapat dilacak melalui ayat-ayat ini,
“dengan pandangan mereka akan perdamaian alam semesta dan harmoni serta ajaran
mereka bahwa adanya aspek-aspek etis dalam sejarah─bahwa bangsa-bangsa dapat
berbuat benar dan salah, dan bahwa sejarah memiliki moralnya sendiri” hlm. X).
Masa kecil Fromm jauh dari kehidupan
ideal. Ia ingat bahwa ia memiliki “orang tua neurotik” dan bahwa ia
“kemungkinan seorang anak neurotik yang agak di luar batas” (Evans, 1966, hlm,
56). Ia melihat ayahnya dalam keadaan gusar dan ibunya yan rentan akan depresi.
Kemudian, ia tumbuh di dua dunia yang sangat berbeda, salah satunya adalah
dunia Yahudi Ortodoks, yang lainnya adalah dunia kapitalis Modern. Eksistensi
terpisah itu menciptakan ketegangan yang hampir tak tertahankan lagi, namun
mengakibatkan Fromm memiliki kecenderungan untuk melihat peristiwa lebih dari
satu sudut pandang (Fromm, 1986; Hausdorff, 1972).
Pembukaan bab ini menceritakan peristiwa
mengejutkan dan membingungkan tentang seorang seniman wanita muda yang menarik
yang bunuh diri sehingga ia dapat dikubur bersama ayahnya, yang baru saja
meninggal dunia. Bagaimana mungkin wanita muda ini memilih kematian daripada
“menikmati kehidupan dan melukis”? (Fromm, 1962, hlm, 4). Pertanyaan ini
menghantui Fromm selama sepuluh tahun beriKutnya dan akhirnya membuat tertarik
akan Sigmund Freud serta Psikoanalisis. Dengan membaca Freud, ia mulai
mempelajari Oedipus Complex dan
mengerti bahwa peristiwa bunuh diri tersebut mungkin saja terjadi. Kemudian,
Fromm mengartikan ketergantungan irasional akan ayahnya tersebut sebagai
hubungan simbiosis nonproduktif, namun pada awalnya ia puas dengan penjelasan
Freud.
Fromm berusia empat belas tahun pada
saat pecahnya Perang Dunia I. Ia terlalu muda untuk ikut berjuang, namun tidak
terlalu muda untuk terkesan pada irasionalitas nasionalisme bangsa jerman yang
ia amati langsung. Ia yakin Inggris dan Prancis juga bertindak irasional dan
sekali lagi ia dilanda oleh pertanyaan yang pelik: Bagaimana mungkn orang-orang
yang biasanya berlaku rasional dan damai menjadi sangat tergerak oleh ideologi
nasional, sangat berniat untuk membunuh, dan sangat siap untuk mati? “Ketika
perang berakhir pada tahun 1918, saya adlah seoarang anak muda yang sangat
terganggu dan terobsesi dengan pertanyaan bagaimana mungkin terjadi perang,
dengan keinginan untuk mengerti irasionalitas tingkah laku manusia secara
massal, dengan keinginan mendalam akan perdamaian dan saling pengertian dalam
dunia Internasional” (Fromm, 1962, hlm, 9).
Semasa remaja, Fromm sangat tergerak
oleh tulisan Freud dan Karl Marx, namun ia juga terstimulasi oleh perbedaan di
antara keduanya. Semakin ia mempelajarinya, ia mulai mempertanyakan validitas
kedua sistem tertsebut. “Ketertarikan utama saya jelas terencana secara
terperinci. Saya ingin mengerti hukum yang mengatur kehidupan manusia individu
dan hukum masyarakat” (Fromm, 1962, hlm, 9).
Setelah perang Fromm, menjadi
seoarang sosialis, walaupun pada saat itu ia tidak mau bergabung dengan partai
sosialis. Melainkan, ia berkonsentrasi pada sekolahnya di bidang psikologi,
filosofi, dan sosiologi di Universitas Heidelberg di mana ia menerima gelar Ph.D. dalam ilmu sosiologi saat berusia
22 atau 25 tahun. [Fromm adalah orang yang sangat tertutup sehingga penulis
biografinya tisak dapat mencocokkan banyak fakta dalam hidupnya (Hornstein,
2000).]
Oleh karena ia masih belum percaya
diri bahwa pendidikannya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang begitu
mengganggu, seperti kasus bunuh diri wanita muda dan kegilaan perang, maka
Fromm beralih ke psikoanalis. Ia percaya bahwa psikoanalis menjanjikan jawaban
untuk pertanyaan-pertanyaannya tentang motivasi manusia yang tak terjawab di
bidang-bidang lain. Dari tahun 1925 sampai 1930, ia mempelajari psikoanalisis,
pertama di Munich lalu di Farnkurt dan akhirnya di Berlin Psychoanalytic
Institute, di mana ai dianalisis oleh Hanns Sachs, seorang murid Freud.
Walaupun Fromm tidak pernah bertemu Freud, sebagian besar gurunya selama
bertahun-tahun tersebut adalah pendukung setia teori Freud (Knapp, 1989).
Pada tahun 1926, tahun yang sama di
mana ia keluar dari agama Yahudi Ortodoks, Fromm menikahi Frieda Reichmann
(analisanya) yang berusia lebih tua sepuluh tahun darinya. Di kemudian hari,
Reichmann memperoleh reputasi internasional untuk hasil kerjanya dengan
pasie-pasien skizoprenia. G. P. Knapp (1989) menyatakan bahwa Reichmann jelas
figur seorang ibu bagi Fromm dan bahkan secara fisik pun mirip dengan ibunya.
Gail Hornstein (2000) menambahkan bahwa Fromm tampak langsung beralih menjadi
kesayangan ibunya ke hubungan-hubungan dengan beberapa wanita lebih tua yang
menyayanginya. Bagaimanapun, pernikahan Fromm dan istrinya bukan pernikahan
yang bahagia. Mereka berpisah pada tahu 1930, namun tidak langsung bercerai
sampai tidak lama kemudian, setelah keduanya berhijrah ke Amerika Serikat.
Pada tahun 1930, Fromm dan beberapa
orang lainnya mendirikan South German Institute For Psychoanalytic di Frankurt.
Akan tetapi, dengan ancaman Nazi yang semakin kuat, ia segera pindah ke Swiss
di mana ia bergabung dengan International Institute of Social Research di
Jenewa. Pada tahun 1933, ia menerima undangan untuk mengajar kuliah di Chicago
Psychoanalytic Institute. Pada tahun berikutnya, ia hijrah ke Amerika Serikat
dan membuka parktik pribadi di kota New York.
Di Chicago dan New York, Fromm
berteman dengan Karen Horney, yang ia kenal di Berlin Psychoanalytic Institute.
Horney yang berusia lebih tua lima belas tahun dari Fromm, akhirnya menjadi
figur ibu yang kuat dan guru baginya (Knapp, 1989). Pada tahun 1941, Fromm
bergabung dengan Asosiasi untuk Perkembangan Psikoanalisis (Association for
Advancement of Psychoanalisis-AAP). Walaupun ia dan Horney pernah menjadi
sepasang kekasih, mereka menjadi lawan ketika terjadi perpecahan dalam asosiasi
pada tahun 1943. Ketika para mahasiswa meminta Fromm, yang tidak bergelar MD,
untuk mengajar mata kuliah klinis, organisasi terpecah ketika memutuskan
kualifikasinya.
Dengan Horney di sisi lawan, Fromm
bersama Harry Stack Sullivan, Clara Tompson,
dan beberapa anggota lainnya berhenti dari asosiasi dan segera berencana
untuk memulai organisasi alternatif (Quinn, 1987). Pada tahun 1946, kelompok
orang-orang ini mendirikan William Alanson White Institute of Psychiatry,
Psychoanalysis, and Psychology dengan Fromm sebagai dekan fakultas dan ketua
komite pelatihan.
Pada tahun 1944, Fromm menikahi
Henny Gurland, seorang wanita yang dua tahun lebih muda darinya dan memiliki
minat terhadap agama dan pikiran mistis yang kemudian pindah mendorong hasrat
Fromm akan Budhisme Zen lebih jauh. Pada tahun 1951, pasangan ini pindah ke
Meksiko, untuk iklim yang lebih bersahabat, demi Gurland yang menderita radang
sendi (rheumatoid arthtritis). Fromm
kemudian bekerja di National Autonomous University, Mexico City di mana ia
mendirikan departemen psikoanalisis di sekolah kedokteran. Setelah istrinya
meninggal pada tahun 1952, ia terus tinggal di Meksiko dan pulang pergi antar
rumahnya di Cuernavaca dan Amerika Serikat, di mana ia memegang berbagai posisi
akademis, termasuk Profesor psikologi di Michigan State University dari tahun
1957 sampai 1961 dan Profesor pembantu di New York University dari tahun 1962
sampai 1970. Di Meksiko dia bertemu Annis Freeman yang ia nikahi pada tahun
1953. Pada tahun 1968, Fromm menderita serangan jantung akut dan terpaksa
mengurangi kesibukkannya. Di tahun 1974, dalam keadaan masih sakit, ia dan
istrinya pindah ke Muralto, Swiss di mana ia meninggal dunia pada tanggal 18
Maret 1980, beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-80.
Orang seperti apakah Erich Fromm
itu? Ternyata, orang-orang melihatnya dengan cara yang berbeda-beda. Hornstein
(2000) membuat daftar jumlah ciri kepribadian yang berlainan satu sama lainnya
untuk menggambarkan kepribadian Fromm. Dalam daftar ini, Fromm adalah seorang
yang ototriter, lembut, berambisi, arogan, saleh, otokratis, pemalu, tulus,
palsu, dan brilian.
Fromm memulai karier profesionalnya
sebagai psikoterapis menggunakan teknik psikoanalisis ortodoks. Sepuluh tahun
setelah ia “bosan” dengan pendekatan Freud, ia mengembangkan metodenya sendiri
yang lebih aktif dan konfrontasional (Fromm, 1986, 1992; Sobel, 1980). Selama
bertahun-tahun, gagasan-gagasannya mengenai budaya, sosial, ekonomi, psikologis
telah menjadi perhatian banyak orang. Buku-buku terbaiknya diantaranya adalah Escape From Freedom (1941), Man for himSelf (1947), Psychoanalysis and Religion (1950), (The Sane Society (1955), The Art of Loving (1956), Marx’s Concept of Man (1961), The Hearth of
Man (1964), The Anatomy of Human Destructiveness (1973), To Have or Be (1976), dan For The Love of Life (1986).
Teori
kepribadian Fromm di pinjam dari banyak sumber dan mungkin teori dengan dasar
yang paling luas dalam buku ini. Landis dan Tauber (1971) membuat daftar lima
pengaruh penting dalam pemikiran Fromm: (1) ajaran dari rabi-rabi humanistis;
(2) semangat revolusioner Karl Marx; (3) gagasan yang juga revolusioner dari
Sigmund Freud; (4) rasionalitas dari Budhisme Zen yang di dukung oleh D.T.
Suzuki; dan (5) tulisan-tulisan Johann Jacob Bachofen (1851-1887) mengenai
masyarakat matriarkal.
Asumsi dasar Fromm
adalah kepribadian individu dapat di mengerti hanya dengan memahami sejarah
manusia. “Diskusi mengenai keadaan manusia harus mendahulukan fakta bahwa kepribadian,
[dan] psikologi harus di dasari oleh konsep antropologis-filosofis akan
keberadaan manusia” (Fromm, 1947, hlm. 45)
Fromm
(1947) percaya bahwa manusia, tidak seperti binatang lainnya, telah “tercerai
berai” dari kesatuan prasejarahnya dengan alam. Mereka tidak memiliki insting
kuat untuk beradaptasi dengan dunia yang berubah, melainkan mereka telah
memperoleh kemampuan bernalar-keadaan yang disebut Fromm sebagai dilema
manusia. Manusia megalami dilema dasar ini karena mereka telah terpisah dengan alam,
namun memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa diri mereka telah menjadi
makhluk yang terasing. Oleh karenanya, kemampuan bernalar manusia adalah
anugerah dan juga kutukan. Di satu sisi, kemampuan ini membiarkan manusia
bertahan, namun di sisi lain, hal ini memaksa manusia berusaha untuk
menyelesaikan dikotomi dasar yang tidak ada jalan keluarnya. Fromm menyebut hal
tersebut sebagai “dikotomi eksistensial” (Existensial
dichotomies) karena hal ini berakar dari keberadaan atau eksistensi
manusia. Manusia tidak dapat menghapuskan dikotomi eksistensial ini. Mereka
hanya bisa bereaksi terhadap dikotomi ini tergantung pada kultur dan
kepribadian masing-masing individu.
Dikotomi
pertama dan paling fundamental adalah antara hidup dan mati. Realisasi diri dan
nalar mengatakan bahwa kita akan mati, namun kita berusaha mengingkari hal ini
dengan menganggap adanya kehidupan setelah kematian, usaha yang tidak merubah
fakta bahwa hidup kita akan di akhiri dengan kematian.
Dikotomi
eksistensial kedua adalah bahwa manusia membentuk konsep tujuan dari realisasi
diri utuh, namun kita juga menyadari bahwa hidup terlalu singkat untuk mencapai
tujuan itu. “Hanya bila rentang kehidupan seorang individu sama panjangnya
dengan rentang kehidupan seluruh umat manusia, maka ia berusaha berpartisipasi
dalam perkembangan manusia yang terjadi dalam proses sejarah “(Fromm, 1947,
hlm. 42). Beberapa orang mencoba mengatasi dikotomi ini dengan berasumsi bahwa
masa lalu dalam sejarah mereka adalah pencapaian sempurna dalam kemanusiaan, sedangkan
yang lain menganggap adanya kelanjutan hidup setelah kematian.
Dikotomi
eksistensial ketiga adalah bahwa manusia pada akhirnya hanya sendiri, namun
kita tetap tidak bisa menerima pengucilan atau isolasi. Mereka sadar bahwa
dirinya adalah individu yang terpisah, di saat yang bersamaan merek percaya
bahwa kebahagiaan mereka bergantung pada ikatan mereka dengan manusia lain.
Walaupun tidak dapat menyelesaikan permasalahan antara kesendirian atau ikatan
kebersamaan, mereka harus berusaha atau mereka terancam menjadi gila.
Dalam
teori Fromm, kepribadian tercermin pada orientasi karakter seseorang, yaitu
cara relatif manusia yang permansn untuk berhubungan dengan orang atau hal
lain. Formm (1947) mendefinisikan kepribadian sebagai “keseluruhan kualitas psikis
yang warisi dan di peroleh yang merupakan karakteristikindividu dan
menjadikannya individu yang unik”. Kualitas yang diperoleh dan yang terpenting
bagi kepribadian adalah karakter, yang didefinisikan sebagai ”sistem yang
relatif permanen dari semua dorongan nonistingtif di mana melalui manusia
menghubungkan dirinya dengan dunia manusia dan alam” (Fromm,1973, hlm.226).
Fromm (1992) percaya bahwa karakter adalah pengganti kurangnya insting.
Bukannya bertindak sesuai insting, manusia malah bertindak menurut karakter
mereka. Apabila mereka harus berhenti dan memikirkan akibat dari perilaku
mereka, maka tindakan mereka akan menjadi tidak efisien dan tidak konsisten.
Sumber:
Jess
Feist, Gregory J. Feist. (2011). Teori Kepribadian, Edisi 7, Buku 1. Jakarta:
Penerbit Salemba Humanika

Tidak ada komentar:
Posting Komentar