Nama : Indar Ardiniansyah
NPM : 18511172
Kelas : 3 PA 07
Mata Kuliah : Psikologi Lintas Budaya
Dosen : Ibu Luh Mea Tegawati, Psi, M.Psi
INTELLIGENCE AND CULTURE PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA
Dalam dewasa ini tema kecerdasan sangat marak dibicarakan dalam setiap diskusi dan seminar-seminar keilmiahan, kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, dan lain-lain. Sesungguhnya kecerdasan sendiri merupakan sesuatu yang dibawa manusia sejak lahir dan dibentuk dalam lingkungan seiring dengan perkembangan hidup manusia. Setiap manusia memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda, dari tingkat kecerdasann yang Very Superior sampai Mental Defective.
Banyak teori yang telah dibangun para psikolog untuk menjelaskan intelegensi. Mulai dari yang klasik, piaget yang melihat intelegensi berkembang dalam tahapan-tahapan yang jelas hingga Stenberg (1986) yang membagi intelegensi dalam tiga komponen besar, yaitu kecerdasan contextual, experiential, dan componental. Kecerdasan contextual adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan suatu lingkungan, memecahkan masalah dalam suatu situasi yang sppesifik. Kecerdasan eksperential merujuk pada kemampuan untuk merumuskan ide-ide baru yang mengkombinasikan fakta-fakta yang saling tidak berhubungan. Sedangkan kecerdasan componential dipahami sebagai kemampuan berfikir abstrak, memproses informasi, atau memutuskan apa yang harus dilakukan. Dalam hubungan antara kecerdasan dan kebudayaan dapat dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu: sudut pandang relatifitas yang menyatakan bahwa intelegensi berasal dari dalam eksistensi yang spesifik dari satu konteks kebudayaan dan intelegensi dan kebudayaan hubungannya sangat erat sehingga ketika ada usaha untuk membandingkannya itu hanya sia-sia. Sudut pandang ke-dua yaitu absolut yang membahas bahwasanya secara global proses-proses konitif itu sama, yang menekankan kognitif berproses secara alami (tidak tergantung dengan satu apapun) dan proses dasar intelektual. Ke-tiga dari sudut pandang universal berpegangan bahwasanya dasar proses-proses kognitif adalah secara universal tetapi dibantah bahwasanya wujud dari proses-proses itu merupakan pertukaran yang terjadi secara baik antar kebudayaan-kebudayaan.
A. Pengertian
Menurut Edward Lee Thorndike intelegensi adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta (Wilson dalam Azwar, 2004: 6)
Menurut Alfred binet mendefinisikan intelegensi terdiri dari tiga komponen yaitu kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan itu telah dilaksanakan, dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autocraticism (Azwar, 2004: 5)
David Wechsler mula-mula mengatakan bahwa intelegensi intelegensi sebagai kapasitas untuk mengerti lingkungan dan kemampuan akal budi untuk mengatasi tantangan-tantangannya. pada kesempatan yang lain ia juga mengatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak sacara terarah, berfikir secara rasional dan menghadapi lingkungan secara efektif (Irwanto, 2002: 166-167).
B. Teori-Teori Kecerdasan
Alfred Binet termasuk salah satu ahli psikologi yang pertama kali berhasil merancang semacam alat ukur yang tujuan awalnya adalah untuk memperkirakan anak-anak mana yang sukses dan gagal pada sekolah dasar di Paris.
Thorndike mengatakan bahwa formulasi dari tiga kemampuan dalam intelegensi yaitu kemampuan abstraksi, mekanik dan social adalah tiga bagian yang tidak terpisahkan secara eksklusif dan juga tidak selalu berkolerasi satu sama lain dalam diri seseorang. Thorndike juga percaya bahwa tingkat kecerdasan seseorang bergantung pada banyaknya ikatan syaraf antara rangkaian stimulus dan respon dikarenakan penguatan yang dialami seseorang.
Howard Gardner memperkenalkan teori kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences ada delapan jenis kecerdasan yaitu sebagai berikut: Kecerdasan linguistic (word smart) yaitu kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif, kecerdasan logis-matematis (number smart) yaitu kemampuan untuk mengolah angka dan atau kemahiran menggunakan logika atau akal sehat, kecerdasan spasial (picture smart) yaitu kemungkinan memvisualisasi gambar di dalam kepala seseorang atau menciptakannya dalam bentuk dua atau tiga dimensi, kecerdasan kinestetik-jasmani (body smart) yaitu kemampuan seseorang untuk mengkoordinasikan kemampuan motorik tubuhnya, kecerdasan musical (music smart) yaitu kemampuan menyanyikan sebuah lagu, mengingat melodi musik, mempunyai kepekaan irama atau sekedar menikmati musik, kecerdasan antar-pribadi (people smart) yaitu kemampuan untuk memahami dan bekerja dengan orang lain, kecerdasan intra-pribadi (self smart) yaitu kemapuan memahami diri sendiri dan mengetahuai siapa diri yang sebenarnya, kecerdasan naturalis (nature smart) yaitu kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam sekitar kita dan mencakup kepekaan terhadap bentuk-bentuk alam yang lain.
C. Faktor-Faktor yang mempengaruhi kecerdasan
Menurut Irwanto ada dua factor yang mempengaruhi kecerdasan, yaitu:
1. Pengaruh factor bawaan
Faktor bawaan disebut juga factor keturunan atau factor herediter.
2. Pengaruh factor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejar lahir, tetapi ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Kecerdasan tentunya tidak lepas dari otak, dengan kata lain perkembangan organic otak akan sangat mempengaruhi tingkat intelegensi seseorang. Di pihak lain, perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi, oleh karena itu ada hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang. Pemberian makanan bergizi merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang sangat penting.
D. Perbedaan budaya dalam memahami intelegensi
Ketika kajian intelegensi dibawa melintas budaya masalah yang pertama diketemukan ternyata bahawa tidak semua budaya dalam bahasanya memiliki kosakata yang memiliki makna yang sama dengan makna intelegensi yang selama ini dipahami oleh psikolog barat. Diyakini perbedaan pengertian intelegensi ini merupakan refleksi dari nilai-nilai budaya tersebut dalam bahasa cina intelegensi dipahami sebagai otak yang baik dan bertalenta, kemampuan yang terlingkup didalamnya adalah kemampuan meniru, berusaha, dan bertanggung jawab secara social. Komponen-komponen ini dalam psikogi barat sering diabaikan dalam kompenen intelegensi. Contoh lain adalah apa yang ada di suku baganda di Afrika timur. Mereka menggunakan kata ‘abugezi’ yang merujuk pada kemampuan mental dan social yang menjadikan seseorang kokoh, berhati-hati, dan bersahabat.
Djerma/ Suhnai di Afrika barat menggunakan istilah yang memikili makna yang lebih luas, lakkal yang merupakan kombinasi dari pintar, mengetahui bagaimana, dan keterampilan sosial. Pada suku Baoule di Afrika barat, terdapat kosa kata yang memiliki arti paling dekat dengan intelegensi taitu nglouele yang dipahami sebagai seseorang yang bermental tajam (waspada) sekaligus sukarela memberikan pelayanan mereka tanpa diminta (Wobeer dalam Dayakisni, 2003: 200-201).
Perbedaan pemaknaan ini menjadikan usaha pengkajian dan perbandingan intelegensi dalam kerangka lingtas budaya menjadi sangat sulit. Apa yang dikatakan sebagai kecerdasan bagi orang barat adalah kemampuan matematika namun tidak bagi orang suku lain yang mungkin menganggap kecerdasan adalah kemampuan berburu atau melakukan adaptasi social. Kesulitan perumusan definisi kecerdasan ini juga berimplikasi pada kesulitan pengukuran intelegensi yang tepat. Sangat mungkin jika alat tes hanya cocok untuk dikatakan mengukur intelegensi pada suatu budaya tapi tidak pada budaya lain (Matsumoto, dalam Dayakisni 2003: 201).
Dengan demikian, adanya perbedaan dalam skor intelegensi diantara kelompok-kelompok budaya barangkali merupakan akibat atau hasil dari hasil:
- Perbedaan keyakinan tentang apa yang disebut dengan intelegensi itu, atau
- Ketidaktepatan pengukuran intelegensi terkait budaya.
Beberapa tes mungkin tidak mengukur motivasi, kreativitas, atau keterampilan sosial. yang mana hal ini adalah faktor-faktor yang penting dalam intelegensi menurut masyarakat cina.
Permasalahan yang kedua yang menarik perhatian para pemerhati psikologi lintas budaya adalah apakah perkembangan intelegensi manusia berlangsung dalam tahapan yang universal dalam tahapan lintas budaya. Salah satu teori yang menjelaskan perkembangan intelegensi manusia adalah teori Peageot. Berdasarkan teorinya pada observasi anak-anak Swiss. Peageot mengemukakan bahwa anak-anak mengalami kemajuan kognitif melalui empat tahapan sejak mereka bagi sampai dewasa, umumnya kajian yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan kedua di atas adalah berpandukan hasil penelitiannya pada masyarakat Eropa. Apakah teori Peageot juga dapat menjelaskan tahap perkembangan intelegensi pada anak-anak yang datang dari non Eropa adalah pertanyaan yang muncul dan merangsang Perez untuk melakukan penelitian. Penelitian Perez 1988 yang melakukan penetesan pada anak-anak di Inggris, australia, Yunani dan Pakistan, menunjukan bahwa anak-anak yang sekolah dalam masyarakat yang berbeda menampilkan mencapaian kemampuan direntang usia yang sama sampai tahap operasional konkrit. Meskipun demikian, berdasarkan studi kumparatif pada anak-anak suku Unuit di Kanada, Bau’ul di afrika dan Aranda di australia, ada variasi budaya dalam usia duimana anak-anak pada masyarakat yang berbeda mencapai tahap tertentu.
Kajian lintas budaya juga membuktikan bahwa kemampuan berfikir abstrak atau penalaran ilmiah yang diasumsikan oleha Peageot sebagai titik akhir perkembangan kognitif ternyata tidak berlaku secara universal. hal ini disebabkan perbedaan nilai dan pemberian penghargaan masyarakat pada skill dan perilaku tertentu.
Hubungan antara intelegensi dengan kajian lintas budaya adalah bahwasanya secara umum pengertiannya sama yaitu orang yang mempunyai kemampuan yang lebih jika dibandingkan dengan orang lain akan tetapi ketika kita lihat aplikasi di lapangan pada saat kita bersinggungan langsung dengan kebudayaan sebuah masyarakat bahwasanya kecerdasan itu bisa diartikan berbeda tergantung dari kebiasaan, adat dan norma dari kebudayaan tersebut, misalnya di kebudayaan orang Cina yang memandang seseorang yang memiliki kecerdasan adalah orang sukses dalam berbisnis namun berbeda bagi kebudayaan Barat yang menganggap kecerdasan adalah seseorang yang mempunyai kemampuan di bidang matematika yang tinggi.
Sumber:
http://ngobrolpsikologi.blogspot.com/2012/04/intelligence-and-culture-psikologi.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar